Sado sebagai Alat Transportasi Tradisional di Cianjur Tetap Bertahan

by

Di tengah arus alat transportasi modern, apalagi dengan kehadiran alat transportasi berbasis online, sejumlah penarik sado di perkotaan Kabupaten Cianjur masih tetap bertahan.

Mereka mangkal di sejumlah titik di Kecamatan Cianjur, seperti di Joglo, perempatan Sianghai, perempatan Toko Lili. Kereta beroda dua yang muat hanya untuk empat orang berikut kusir itu ditarik oleh kuda-kuda yang tidak terlalu besar.

Banyak alasan para kusir masih bertahan dengan sado mereka. Selain sado adalah warisan dari ayah atau kakek mereka, penumpang setia juga membuat mereka berbesar hati untuk mendapatkan muatan setiap hari.

“Kadang anak sekolah atau ibu-ibu yang mau berbelanja di toko-toko. Saya tunggu sampai diantar lagi ke rumahnya,” ujar Ade Ali (57), salah satu kusir sado asal Desa Nagrak Kecamatan Cianjur yang mangkal di Joglo, Kamis (27/4/2017).

Ade mewarisi sado dari almarhum ayahnya Upay bin Suwarjo (80) yang meninggal 9 tahun lalu. Sejak tahun 1978 waktu usianya 18 tahun, Ade sudah menarik sado.

“Dari kecil sudah ikut narik-narik sado sama almarhum Bapak. Dulu uang Rp 25.000 begitu berharga, bisa beli beras sekilogram Rp 200, dan masih ada banyak sisanya. Sekarang, uang besar tapi buat beli beras saja pas-pasan,” ujar Ade seraya menyebut sehari hanya mendapat uang Rp 40 ribu.

Saat ini, peminat sado tidak begitu banyak. Dalam sehari, paling tiga penumpang yang didapatkan Ade. Biaya sekali berangkat kadang Rp 15 ribu atau Rp 20 ribu. Ade pemilik kuda bernama “Boy” itu turun ke jalan sekitar pukul 08.00 dan akan pulang sekitar pukul 12.00.

Uang yang didapatkan Ade tentu tidak cukup untuk sehari-hari. Jika yang didapat Rp 40 ribu, makan harus dipotong Rp 10 ribu untuk membeli ampas penggilingan padi sebagai pakan kuda. “Senang saja dan tidak merasa tersaingi dengan kendaraan modern,” ujarnya.

(TRIBUNJABAR.CO.ID)