Kemendes PDTT Gandeng Komunitas Hong Lestarikan Permainan Tradisonal

oleh

Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) menjalin kerja sama dengan Komunitas Hong untuk melakukan kampanye pelestarian permainan anak-anak tradisional Indonesia mengingat keberadaan gawai yang semakin canggih dan masif di Indonesia, keberadaan gawai ini dinilai telah menggeser minat anak untuk bermain permainan tradisional.

“Kementrian Desa bersyukur Komunitas Hong mau berkolaborasi dengan kementrian desa untuk menghidupkan kembali dolanan atau permainan desa. Jadi banyak filosofi seperti kebersamaan, filosofi saling menghargai, filosofi kembali pada jati diri kita sebagai anak-anak bangsa,” kata Staf Khusus Kementrian Desa PDTT Syaiful Huda saat ditemui di Sekretariat Komunitas Hong, Dago Pakar Bandung, Kamis

Menurut dia, upaya Komunitas Hong dan Kementrian Desa PDTT menghidupkan kembali minat anak-anak bermain permainan tradisional dipastikan bakal memanfaatkan jaringan Gerakan Nasional Komunitas Desa yang dideklariskan hari ini di sekretariat Komunitas Hong.

“Kami mendorong mereka menjadi lokomotif penggerak penggalian tradisi daerahkami ingin kang Zaini Alif yakni pendiri Komunitas Hong menularkan virus penguatan permainan tradisional ini ke seluruh desa. Kami akan buat workshop-workshop kecil di seluruh desa di Indonesia yang sesuai dengan akar tradisi masing-masing,” ujar Huda.

Menurut dia, rencana menghidupkan kembali permainan anak tradisional akan direalisasikan Kementrian Desa PDTT pada tahun 2018 mendatang akan direalisasikan lewat alokasi dana desa dan dari Rp60 triliun anggaran dana desa 2018 dan sekitar 40 persennya bakal dimanfaatkan untuk pengembangan dan penguatan tradisi lokal desa yang didalamnya mengakomodir program-program pengembalian minat anak-anak desa bermain permainan tradisional.

“Sekitar 60 persen alokasi anggaran yang ada masih infrastruktur karena masih sangat dibutuhkan,” kata dia.

Oleh karena itu, ia berharap dengan upaya tersebut anak-anak Indonesia terutama sedikit demi sedikit bisa mengurangi penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.

“Harus diingat bahwa anak-anak hari ini sudah kehilangan dunia anak-anaknya yang berbasis tradisi akar budaya bangsa dan risikonya besar. Permainan tradisional sangat dibutuhkan bagi anak-anak kita disaat cara pandang kita berbeda, disaat kita susah bersatu dan sebagainya. Saya kira benteng itu ada di desa akan kita gali melalui Komunitas Hong,” kata dia.

Sementara itu, Pendiri Komunitas Hong Zaini Alif mengatakan, Indonesia adalah negara dengan permainan anak-anak tradisional terbanyak di dunia. “Hingga saat ini ada 2.600 permainan yang kita temukan dari seluruh Indonesia dan itu terbanyak di dunia. Negara lain paling banyak 800 permainan,” kata dia.

Zaini optimistis dengan menghidupkan kembali permainan anak tradisional, perekonomian desa di seluruh Indonesia bisa berkembang dengan cepat. “Kami melihat permainan hanya gerbangnya saja, tapi permainan itu nantinya akan tergali budaya-budaya lain untuk mendukung kemajuan desa itu sendiri,” kata dia.

(jabar.antaranews.)