Ferdinand Sinaga Cs Wajib Habis-habisan Lawan Korut Usai Dicukur Thailand 6-0

23 September 2014   2 views

timnas 23Pelatih Timnas Indonesia U-23, Aji Santoso, meminta anak asuhnya untuk melupakan kekalahan 0-6 dari Thailand pada pertandingan terakhir penyisihan Grup E cabang sepak bola Asian Games 2014, di Incheon Football Stadium, Senin (22/9/2014).

Aji mengaku berharap timnya tetap fokus untuk laga 16 besar melawan Korea Utara, di Goyang Stadium, Jumat (26/9/2014).

Gol-gol Thailand diciptakan Pombubpha Chananan (6), Kraisorn Adisak (17, 90+1), Chanathip (57), Kroekrit (76), Pinyo (82). Hasil ini tidak terlepas dari keputusan Aji menurunkan pemain pelapis karena Ramdani Lestaluhu, Dedi Kusnandar, dan Andritany mengalami cedera. Sementara Alfin Tuasalamony dan Manahati Lestusen tidak dimainkan untuk menghindari akumulasi kartu kuning.

“Saya sudah mengumpulkan pemain untuk mengambil pelajaran dan pengalaman, serta segera melupakan kekalahan ini karena masih ada pertandingan yang lebih penting melawan Korea Utara,” kata Aji melalui pesan singkat kepada wartawan, Senin malam.

Hasil ini membuat Garuda Muda lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup. Indonesia pun harus melawan Korea Utara sebagai juara Grup F.

“Lawan Korut, kami harus tampil habis-habisan untuk tampil maksimal,” tegas Aji.

(tribunnews)

Bisnis Wisata Jabar Bakal Lesu

23 September 2014   2 views

ciwideyJawa Barat memiliki banyak wisata alam yang bisa menarik banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Namun kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai objek wisata itu bakal menurun.

Seperti kluster Ciwidey dengan Kawah Putih, Patuha, dan Rancaupas. Meski terkenal dan  infrastruktur sudah mulai membaik, namun masih ada jalan-jalan yang kurang lebar untuk menuju kluster Ciwidey tersebut. Ditambah kondisi macet yang masih kerap terjadi.

Kondisi-kondisi tersebut cukup mempengaruhi realisasi pendatapan dari obyek wisata yang dikelola Perhutani yang hingga Agustus 2014 baru mencapai 60 persen.

Idealnya pada semester pertama sudah mencapai 63 hingga 65 persen dari target pendapatan  wisata yang diproyeksikan sebesar Rp 43 miliar. Nilai proyeksi tersebut dari obyek wisata Jabar dan Banten sebesar Rp 40 miliar dan Rp 3 miliar dari obyek wisata Jawa Tengah.

Apalagi Kementerian Kehutanan RI kemudian mengeluarkan edaran penyesuaian tarif bagi kawasan wisata alam di Indonesia. Kebijakan yang tertuang di PP No 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Kementerian Kehutanan ini, menaikkan tarif rata-rata mencapai 300 persen.

Adanya kebijakan tersebut diakui General Manager KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I Perum Perhutani Jawa Barat, Tri Lastono, sempat menurunkan tingkat kunjungan wisata hingga 30 persen. Kebijakan tersebut membuat pengelola mau tidak mau melakukan penyesuai tarif yang pastinya dirasakan oleh pengunjung terutama wisatawan domestik.

“Kita ingin mengenalkan wisata alam agar makin banyak pula pengunjung yang datang, tapi adanya kebijakan tersebut tentu berpengaruh karena ada penyesuaian harga tiket termasuk ada multiplier effect  lainnya,?” kata Tri, di Kantor Perum Perhutani KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I,  Bandung, belum lama ini.

Di Cianjur, bisnis pariwisata juga terancam lesu. Sebab, selain Jalur Puncak terutama dari arah Ciawi, Bogor, aksesibilitas utama menuju Kabupaten Cianjur lainnya, yakni Jalan Raya Bandung dan Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, kerap terjadi kemacetan.

“Aksesibilitas dari Jakarta maupun dari arah Bandung hanya bisa ditempuh melalui jalur darat, dengan roda dua atau roda empat. Tidak ada jalur kereta dan alternatif lainnya. Jelas kalau aksesbilitasnya terhambat, sektor pariwisata akan terasa dampak negatifnya karena untuk mencapai lokasi wisata tidak mudah,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Cianjur, Satyawan Hambari, di Jalan Raya Cianjur-Puncak, Senin (22/9/2014).

Penyebab kemacetan di Jalan Raya Cianjur-Sukabumi dan Jalan Raya Bandung itu akibat banyaknya aktivitas pabrik yang berdiri di pinggir jalan. Sedangkan dari arah Ciawi, banyak kendaraan dari Jakarta yang berwisata di Puncak, Kabupaten Bogor terutama di akhir pekan. Namun kondisi jalur dari Ciawi tak kunjung melebar seiring bertambahnya volume kendaraan.

Dikatakan Satyawan, sekitar 70 persen perekonomian di Kabupaten Cianjur masih bertopang dari pariwisata dan agrobisnis. Sementara Kabupaten Cianjur mengandalkan wisatawan dari Bandung dan Jakarta. Itu mengapa bukan tak mungkin kemiskinan menghantui warga lantaran dikepung macet dari berbagai arah.

(tribunnews)

Ratusan Warga Garut Wilayah Selatan Siap Sujud Syukur 3 Hari

23 September 2014   11 views

sujudRatusan warga Kabupaten Garut wilayah selatan akan bersujud syukur dan berdoa selama tiga hari berturut-turut. Ungkapan syukur dan doa terbentuknya Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Garut Selatan tersebut, rencananya digelar sampai Rapat Paripurna DPR RI mengenai pengesahan DOB di Indonesia, Kamis (25/9).

Ketua Forum Masyarakat Jawa Barat Selatan, Suryaman Anang, mengatakan masyarakat di 142 desa dari 16 kecamatan di kawasan selatan Garut yang tercatat akan masuk ke DOB Kabupaten Garut Selatan sangat antusias menyambut Rapat Paripurna tersebut. Sujud dan doa dalam bentuk istigazah atau pengajian itu digelar di 16 kecamatan tersebut.

“Selama 3 hari berturut turut, masyarakat Garut Selatan akan melakukan sujud syukur dan doa bersama, sampai hari penetapan dilakukan nanti di Jakarta,” ujar Suryaman, Senin (22/9).

Menurut Suryaman, kegiatan tersebut dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasih warga kepada Pemerintah dan DPR RI. Warga, katanya, berharap pemerintahan baru di selatan Garut ini terhindar dari bencana sosial, bencana alam, serta diberikan kemudahan menjalani pemerintahan baru.

Puluhan pemuka masyarakat pun, kata Suryaman, akan berbondong-bondong mendatangi Gedung DPR RI di Jakarta untuk mengikuti sidang.

“Kami menjalani proses pembentukan DOB Garut Selatan selama bertahun-tahun. Kekecewaan dan kemarahan masyarakat sudah terbayang akan muncul jika aspirasinya mengenai pembentukan DOB Kabupaten Garut Selatan tidak dikabulkan,” katanya.

Penentuan gagal atau berhasilnya pengesahan DOB Kabupaten Garut Selatan sebagai (DOB) rencanya dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPR RI bersama dua DOB Jawa Barat, yaitu Bogor Barat dan Sukabumi Utara.

Rapat paripurna tersebut adalah penentuan atau hasil akhir proses pembentukan DOB Kabupaten Garut Selatan yang sebelumnya dikaji oleh Komite I DOB Non-Papua di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Kementerian Dalam Negeri, dan DPR RI.

Awalnya Presidium Masyarakat Garut Selatan memprediksi sidang paripurna tersebut digelar akhir Agustus 2013. Walaupun meleset, Suryaman mengatakan pihaknya bersyukur karena masih dilakukan dalam masa jabatan anggota DPR RI periode 2009-2014 dan di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Jika Garut Selatan terbentuk, kecamatan yang akan bergabung dengan DOB baru itu adalah Kecamatan Cikajang, Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy, Cihurip, Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Caringin, Taleging, Cisewu, Bungbulang, Pakenjeng, Pamulihan, dan Cisompet.

(tribunnews)

Kemarau Tiba, Petani Merugi Ratusan Juta

23 September 2014   9 views

kemarauAkibat musim kemarau tanaman padi di areal seluas 20 hektar di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, gagal panen. Kondisi terparah terjadi di Desa Tegal Waru, keringnya areal pesawahan di desa ini, selain karena musim kemarau, kekeringan juga diakibatkan tak berfungsinya saluran irigasi.

Kekeringan yang melanda puluhan hektar sawah itu menyebabkan petani merugi ratusan juta rupiah. “Ya mau diapakan lagi semua sudah terjadi. Sekarang ini, kami hanya bisa pasrah menerima keadaan,” keluh Ketua Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Tegal Waru, Encep, Minggu (21/09).

Ia menambahkan, kekeringan yang melanda areal pesawahan di Desa Tegal Waru itu sebenarnya bisa dicegah, jika saja perbaikan bendung yang ada di hulu Sungai Ciampea rampung sebelum datangnya musim kemarau.

“Bendung atau dam irigasi yang ada di hulu Sungai Ciampae, tak berfungsi lantaran ambrol diterjang longsor dan sampai sekarang perbaikannya belum rampung,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan, bukan hanya sawah saja yang kering, tapi juga sumur-sumur warga. “50 persen warga yang tinggal di desa ini semuanya menggunakan sumur tanah sebagai sumber air bersih. Tapi sejak awal bulan lalu, sebagian besar sumurnya sudah mengering. Ini yang menyebabkan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Parahnya sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Kepala Desa Tegal Waru, Haerudin, membenarkan kalau desa ini mengalami kekeringan.”Kekeringan memang belum begitu parah. Tetapi dalam satu minggu ini hujan tak kunjung turun, dikhawatirkan kejadian krisis air bersih seperti tahun 2012 lalu akan terulang kembali,” ujar Haerudin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, kekeringan juga melanda sejumlah kecamatan lainya, diantaranya Cariu, Jonggol, Babakan Madang dan Klapanunggal. Kekeringan di wilayah timur Kabupaten Bogor ini terjadi, selain musim kemarau juga disebabkan rusaknya kawasan-kawasan resapan air, yang berada di hulu Sungai Cipamingkis dan Cibeet, akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.

(jurnal bogor)

Setelah 10 Hari Kabur, 4 Tahanan Polsek Pondok Gede Dibekuk

23 September 2014   4 views

sel4 Dari 6 tahanan kabur dari Mapolsek Pondok Gede pada Jumat 12 September lalu, dibekuk tim Reskrim Polsek Pondok Gede di 3 tempat berbeda. Sedangkan 2 tahanan lainnya masih dalam pengejaran.

“4 Dari 6 tahanan Polsek Pondok gede yang kabur kini sudah ditangkap, sedangkan 2 tahanan yang belum tertangkap kini masih diburu petugas,” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota AKP Siswo kepada Liputan6.com di Mapolresta Bekasi Kota, Senin (22/9/2014).

4 Tahanan tersebut yaitu Edi Saputra alias Aceh dan Andi Ali alias Ketel ditangkap di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, saat sedang duduk di warung pada Sabtu 20 September. Arif Setiawan ditangkap di warnet di daerah Pondok Melati, Pondok gede, Bekasi. Sedangkan Fitri alias Petruk ditangkap di Pademangan, Jakarta Utara pada Senin 22 September.

“Keduanya ditangkap di wilayah Kabupaten Purwakarta. Mereka ditangkap tim yang dipimpin Kanit Reksrim Pondok Gede, Iptu Untung Riswaji saat berada di warung,” sambung Siswo.

Hari ini juga, sambung Siswo, tim pemburu tahanan kabur itu juga baru saja menangkap tersangka Arif Setiawan di Warnet Chandra Baru, Pondok Melati, Kota Bekasi. “Tersangka Arif Setiawan ini baru saja ditangkap sekitar pukul 12.30. Satu tersangka lagi, yaitu Fitri alias Petruk di Pademangan Timur, Jakarta Utara ditangkap pagi sekitar pukul 09.00,” terang dia.

Menurut Siswo, 2 tahanan yang masih diburu jajarannya adalah Pandiaman Situmorang dan Alindra alias Hendra. Keduanya merupakan tahanan kasus narkoba. Alindra sempat kabur bertiga bersama Edi Saputra dan Andi Ali.

Setelah Kabur dari Mapolsek Pondok Gede, sambung Siswo, mereka bertiga langsung ke rumah salah satu rekan mereka di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi. Karena rekannya tidak bersedia ditumpangi, mereka bertiga langsung ke Solo, Jawa Tengah.

Dari Solo, kata Siswo, mereka melanjutkan pelarian ke Purbalingga, Jawa Tengah dan terus ke Purwakarta dengan menumpangi bus. Di wilayah Purwakarta, Hendra memisahkan diri. Sementara Edi Saputra bersama Andi Ali bertandang ke rumah rekannya.

“Tersangka Edi Saputra dan Andi Ali alias Ketel ini ditangkap di warung, di dekat rumah rekannya,” kata Siswo.

Siswo mengimbau kepada keluarga Pandiaman Situmorang dan Alindra alias Hendra, yang kini masih buron, agar segera menyerahkan diri ke kepolisian terdekat.”Hal ini dilakukan untuk tidak menyulitkan proses penyelidikan,” pungkas Siswo.

(liputan 6)

Mencicipi kuliner khas Gang Aut Bogor yang melegenda

20 September 2014   7 views

kulinerTak ada yang menyangsikan sebutan Bogor sebagai kota hujan, sebab hampir tiap hari kota ini diguyur hujan. Tak ada pula yang menyangsikan Jalan Surya Kencana sebagai surganya kuliner yang wajib dikunjungi saat menyinggahi kota yang juga dikenal sebagai kota angkot.

Meski malam mulai beranjak, kepenatan usai menyinggahi beberapa tempat wisata di Kota Bogor mulai terasa, namun rasa-rasanya kaki enggan pulang sebelum menyinggahi tempat yang dijuluki sebagai Chinatown-nya Bogor itu.

Jalan Surya Kencana letaknya tak jauh dari pintu utama Kebun Raya Bogor. Cukup untuk menyeberangi jalan, Anda akan temukan Jalan Surya Kencana.

Saat malam beranjak, menelusuri jalanan yang hanya dilalui satu arah kendaraan itu, kernyitan dahi melihat pertokoan yang sudah banyak tutup, sembari berkata di dalam hati, ‘mana oase yang dibicarakan banyak orang itu?’

Eureka! Oase itu ditemukan saat berada di perempatan gang Aut, beberapa rumah makan dan gerobak makanan terlihat. Namun sayangnya, hujan tiba-tiba turun, memaksa langkah memilih berdiri di depan toko yang tertutup rapat.

Ditemani Feri, pelayan salah satu warung soto kuning di Gang Aut, merdeka.com mulai membuka perbincangan mengenai kuliner yang ada di kawasan ini.

Dengan semangat, pria yang sedang off dari pekerjaannya mulai menuturkan bahwa berbagai ragam makanan dapat dijumpai, sayangnya beberapa sudah tutup. “Di sini ada yang buka dari pagi sampai malam, namun beberapa buka sampai sore saja,” jelasnya.

Mulai dari asinan, nasi goreng, soto mie, wedang ronde, bakso, mie, sate, bir kocok, dan banyak lainnya. Namun, perlu dicatat untuk muslim, beberapa makanan di area ini berlabel tidak halal.

Menurut Feri, yang paling sering dikunjungi orang adalah bakso kikil Pak Jaka, bakso ini disajikan di gerobak pinggir jalan. Terdapat bangku-bangku plastik telah disediakan untuk tempat duduk bagi para pembeli. Persis di sebelah bakso kikil Pak Jaka terdapat Soto Kuning Pa Yusup, soto kuning khas Bogor yang selalu dibicarakan banyak orang. Isinya jeroan dan daging sapi disajikan dalam bentuk yang sudah digoreng ataupun rebusan bumbu kuning.

“Masih banyak lagi. Kalau yang nggak halal, di sana ada namanya Ngohiang. Itu terkenal banget,” ujarnya menunjuk salah satu rumah makan di area gang Aut itu.

Ngohiang khas Bogor memang sangat terkenal. Santapan yang merupakan campuran acar lobak dan wortel, tahu, rolade ayam/babi, dan kentang rebus. Bahan ini lalu disirami saus kacang yang dicampur dengan tepung sagu.

Menurut Feri, Surya Kencana selalu padat di saat week end, mulai dari pagi sampai malam hari. Geliat pedagang makanan di Surya Kencana dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB.

Hujan perlahan mulai reda, langkah kembali ingin dilanjutkan. Sebelum berpisah, Feri menyarankan untuk menyantap wedang ronde yang persis berada di depan pangkas rambut.

“Lumayan buat menghangatkan tubuh,” ujarnya dengan senyum ramah.

(merdeka)

Dampak Kekeringan di Cianjur Semakin Meluas

20 September 2014   4 views

cianjurSetelah Kecamatan Sukaluyu dan Ciranjang, Kabupaten Cianjur yang mulai menunjukan adanya gejala kekeringan pada musim kemarau tahun ini, dampak kekeringan meluas hingga di Kec. Cianjur dan Cugenang. Warga mulai mengeluh dengan berkurangnya debit air sumur bor.

Surutnya air sumur bor di rumahnya sudah terjadi sejak sebulan lalu. “Sejak memasuki musim kemarau saja air jadi berkurang. Saya dan keluarga untuk kebutuhan mandi sampai mengungsi ke tetangga yang sumurnya masih cukup air,” ucap Uuss (42), warga Pamoyanan, Cianjur.

Bahkan, Uus sudah menggali sumur bor yang dimilikinya lebih dalam lagi hampir 12 meter dan air belum juga keluar.”Tapi tak semua sumur di rumah warga kering. Masih ada sumur yang tak kering, namun airnya tak begitu melimpah,” ujarnya.

Menyusutnya debit air sumur bor juga dirasakan Yaya Rohaya (49). Warga Gang Harapan I RT 02/12 Kelurahan Sayang Kecamatan Cianjur itu mengaku, debit air sumur di rumahnya mulai menyusut. “Saya kan pakai jet pump. Tarikan air saat ini sangat kecil. Malahan terkadang sulit naik airnya,” katanya.

Meskipun tak terlalu mengganggu aktivitas kebutuhan sehari-hari, seperti mandi cuci dan kakus, tapi Yaya khawatir, kemarau akan berkepanjangan. “Mudah-mudahan saja hujan cepat turun. Kalau tahun ini kemaraunya tidak terlalu panjang, suka diselingi hujan juga. Kalau tahun lalu mah kemaraunya panjang,” ujarnya.

Kurangnya debit air dirasakan juga untuk mengairi sawah warga. Pasalnya, beberapa sumber air seperti sungai dan saluran irigasi juga sudah mulai mengering. “Mungkin panen kali ini tak akan terlalu banyak jika melihat kondisi kemarau dan kurang air seperti ini,” tutur salah seorang petani di Cugenang, Yaya (50).

Sementara itu, Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Kabupaten Cianjur Yoni Raleda mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi bencana kekeringan bersamaan prediksi memasukinya musim kemarau. Terutama antisipasi di daerah-daerah tadah hujan.

“Bentuk antisipasinya misalnya,menjaga sumber-sumber air yang ada di setiap wilayah. Seperti di Desa Babakan Caringin Kecamatan Sukaluyu, Dinas Tarkim yang memasang pemipaan ke rumah-rumah penduduk.Pemipaan itu tidak hanya untuk suplai ke Babakan Caringin saja, tapi juga hingga ke Desa Tanjungsari dan Hegarmanah,” ucapnya.

Sebenarnya, kata Yoni, wilayah di Cianjur tidak ada yang mengalami krisis air bersih. Hanya, kondisi di lapangan antara sumber air dan permukiman penduduk berjauhan. “Kalaupun terjadi kekeringan, itu karena memang terjadi di wilayah-wilayah tadah hujan,” ujarnya.

Dari hasil pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur, setidaknya ada 18 kecamatan dan total 32 kecamatan di Cianjur yang dinyatakan siaga kekeringan.

Sejumlah kecamatan tersebut, antara lain Kec. Agrabinta, Kec. Cidaun, Kec. Tanggeung, Kec. Kadupandak, Kec. Pasirkuda, Kec. Cijati, Kec. Pagelaran, Kec. Sukanagara, Kec. Campaka, Kec. Campakamulya, Kec. Cibeber, Kec. Cilaku, Kec. Bojongpicung, Kec. Ciranjang, Kec. Cianjur, Kec. Karangtengah, Kec. Sukaluyu, dan Kec. Haurwangi.

“Sepuluh kecamatan di antaranya berada di wilayah Cianjur selatan. Tiap tahun setidaknya di beberapa kecamatan memang sudah menjadi wilayah rawan kekeringan. Namun ada kecamatan yang biasanya tidak pernah kekurangan air, namun tahun lalu mengalami kekeringan dan masuk dalam pemetaan kekeringan yang kami buat,” ujar Kepala BPBD Cianjur, Asep Suhara.

(pikiran rakyat)

Pemkot Bekasi Mulai Pelebaran Jembatan Tol Timur

20 September 2014   8 views

Gerbang_Tol_Bekasi_TimurPEMERINTAH Kota Bekasi mulai melebarkan jembatan tol Bekasi Timur. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air (Disbimarta) Kota Bekasi, Tri Adhianto.

Menurut Tri, anggaran pelebaran jembatan tersebut berasal dari Bantuan Provinsi (Banprov) Jawa Barat. Pengerjaannya, akan memakan anggaran sebesar Rp30 milyar. Sedangkan lahan yang dipergunakan dalam pelebaran badan jembatan adalah milik Jasamarga.

“Jadi kita manfaatkan lahan milik Jasamarga, saat ini dalam tahap pengerukan,” ujarnya kepada Gobekasi Jumat (19/9)

Pelebaran akan memakan 12 meter sisi sebelah timur Jembatan dari lebar saat ini 8 meter panjang 800 meter. Pihaknya memastikan, tidak akan ada rumah warga yang terkena penggusuran. Lantaran pengerjaan ini hanya menggunakan lahan sisa di sisi tol Jakarta- Cikampek milik Jasamarga.

“Pelebaran tahap pertama akan selesai akhir bulan September ini, dan tidak akan memakan tanah warga,  kecuali nanti saat pengerjaan tahap kedua barulah dibutuhkan pembebasan lahan milik warga,” tambahnya.

Setelah pelebaran Jembatan Tol Bekasi Timur akan diikuti pelebaran jalan sekitarnya. Pada tahap kedua, pihaknya akan melebarkan badan jalan Joyomartono hingga Jalan Jatimulya-Pengasinan.

“Rencananya, badan jalan ini akan dilebarkan sebanyak 5 meter di sisi timur dan 3 meter di sisi sebelah barat,” paparnya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Sopandi BUdiman mengatakan, pelebaran jembatan Tol Bekasi Timur akan mengurai kemacetan dari dan ke arah Bulak Kapal dan Jatimulya-Pengasinan.

“Soalnya, kemacetan parah di depan pintu keluar tol Bekasi Timur kerap terjadi pada jam berangkat-pulang kerja dan pada saat weekend,” imbuhnya ketika dikonfirmasi Gobekasi, Jumat (19/9).

(gobekasi)

Kecelakaan Maut di Jagorawi : Sopir Truk Fuso Diduga Mengantuk

20 September 2014   3 views

truckPenyidik dari Satuan Lalu Lintas Polres Bogor belum bisa memastikan penyebab tabrakan maut di tol Jagorawi KM 26.500, Citeureup, Kabupaten Bogor yang menyebabkan 4 orang tewas dan 29 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kasat Lantas Polres Bogor, AKP Muh Chaniago mengatakan, ada dua dugaan yang menyebabkan terjadinya tabrakan tersebut.

“Pertama sopir truk fuso mengantuk, atau pecah ban depan sehingga menabrak pembatas jalan dan masuk ke jalur berlawanan,” ujarnya kepada wartawan, di RS Sentra Medika, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (19/9/2014).

Menurutnya, truk Fuso yang saat itu melaju dari arah Bogor menuju Jakarta, secara tiba-tiba berbelok ke jalur cepat dan menabrak pembatas (median) jalan. Truk yang terus melaju, kemudian menyeberang ke jalur berlawanan dan dihantam bus Karunia Bhakti yang melaju dari arah Jakarta menuju Bogor.

“Searah dengan truk, sopir mobil Pajero yang melihat truk oleng ke kanan, kaget dan ikut membanting stir ke kanan, makanya mobilnya nyangkut di besi pembatas jalan,” katanya.

Dalam kecelakaan maut itu, melibatkan tiga kendaraan sekaligus yakni Truk Fuso, Mitsubishi Pajero Sport, dan Bus Karunia Bakti. Empat orang meninggal dalam kejadian tersebut, yakni sopir truk Fuso atas nama Wasjan, sopir bus
Karunia Bakti Endang Bahrudin, dan dua penumpang bus atas nama Khairunisa (3) dan Kandar (51).

Hingga malam ini, sopir truk fuso dan tiga korban tewas lainnya masih berada di rumah duka RS Sentra Medika. Sejumlah kerabat dan keluarga Wasjan, sopir truk dan kerabat Endang, sopir Karunia Bakti sudah berdatangan ke rumah duka untuk melihat dan mengurus jenazah keduanya.

(tribunnews)

Peresmian Tanpa Lokomotif Monorel

20 September 2014   3 views

aherGubernur Jabar Ahmad Heryawan secara simbolis meresmikan proyek pembangunan alat transportasi massal Monorel Bandung Raya di depan Gedung Sate, Bandung, Jumat (19/9/2014). Dengan peresmian proyek senilai Rp 10 triliun itu, Jabar bertekad menjadi provinsi yang memelopori pembangunan monorel di Indonesia.

Proyek Monorel Bandung Raya ini menghubungkan lima kabupaten/kota di Jabar, yakni Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Membentang dari Tanjungsari di Kabupaten Sumedang hingga Padalarang di Kabupaten Bandung Barat dan menyambungkan Soreang di Kabupaten Bandung hingga ke kawasan Ciumbuleuit di Kota Bandung.

Kalau proyek ini jadi, ini (monorel) akan menjadi satu-satunya di Indonesia. Jadi Jabar menjadi pelopor pembangunan monorel,” kata Heryawan, di sela acara, kemarin.

Menurut Gubernur, peresmian kali ini sifatnya soft launching dengan ditandai peresmian secara administratif sekaligus penugasan kepada PT Jabar Moda Transportasi (JMT) untuk membangun monorel. Perusahaan patungan ini merupakan gabungan dari Panghegar Group yang diwakili oleh PT Sarana Infrastruktur Indonesia (SII) dengan BUMD PT Jasa Sarana (JS).

Heryawan berharap, pembangunan fisik proyek Monorel Bandung Raya atau ground breaking bisa dimulai enam bulan dari sekarang atau pada Maret 2015. Target keseluruhan proyek ini bisa rampung pada 2025.

Pemprov Jabar tampaknya serius menggarap proyek ini. Namun rencana Pemprov Jabar untuk menghadirkan lokomotif sekaligus satu gerbong monorel di halaman Gedung Sate, pada puncak acara Hari Jadi Provinsi Jawa Barat, Jumat (19/9) pagi, tertunda. Hingga kemarin sore, lokomotif dan gerbong monorel yang dibangga-banggakan itu belum sampai di Bandung.

“Mohon maaf hari ini gerbong monorelnya belum sampai di Bandung karena ada kesalahan teknis sistem kelistrikannya. Insya Allah nanti malam (Jumat, malam) gerbong monorelnya sudah bisa dihadirkan di Gedung Sate,” kata Penanggung Jawab Proyek Monorel Bandung Raya yang juga Asda IV Pemprov Jabar, Iwa Karniwa, di Gedung Sate, Bandung, kemarin.

Sedianya, gerbong monorel itu akan dihadirkan mulai Jumat pagi. Menurut Iwa, warga pun bisa melihat dan masuk ke gerbong monorel tersebut. Tak hanya itu, semua kelengkapan yang terdapat pada monorel juga bakal didatangkan, seperti sistem pembayaran tiket hingga pramugari dan pramugaranya.

Wakil Ketua Sementara DPRD Jabar Irianto MS Syafiuddin alias Yance mengatakan, kehadiran transportasi massal seperti monorel mutlak diperlukan di Bandung Raya. Sebab, kata Yance, tingkat kemacetan di lima kabupaten/kota ini sudah memprihatinkan. “Harus segera dilaksanakan, untuk mengurangi kemacetan,” kata Yance.

Bahkan, menurut Yance, pembangunan monorel di Jabar itu tergolong telat. Yance mengatakan, dengan tingkat kemacetan dan jumlah penduduk yang tinggi, seharusnya sudah sejak lama Jabar memiliki sarana transportasi massal yang representatif. “Harus segera dilaksanakan untuk mengantisipasi kepadatan penduduk. Dewan tentu sangat mendukung, termasuk dari sisi anggaran. Ini untuk pembangunan,” kata Yance.

(tribunnews)

« Previous PageNext Page »