web analytics

Warga Situ Gede Kesal Jalan Rusak dan PJU Gelap dibiarkan

13 September 2014   6 views

angkotJalan rusak menjadi sumber kekesalan masyarakat pada pemerintah. Seperti yang dialami warga Kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor mengaku kesal kepada Pemerintah Kota Bogor yang belum juga memperbaiki jalan Cifor yang rusak parah. Kerusakan jalan Cifor diperparah dengan minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU)

“Pengendara sepeda motor kalau melintas jalan Cifor malam hari harus berhati – hati karena banyak lubang yang menganga. Kerusakan jalan disini juga diperparah dengan minimnya PJU,“ kata Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kota Bogor Eman Sulaeman Sabtu (13/9/2014).

Menurut Eman, ada puluhan lubang menganga di jalan Cifor mulai dari Terminal Bubulak hingga wilayah Situ Gede.  “Sudah sangat banyak pengguna jalan terutama pengendara  sepeda motor mengalami kecelakaan, (terjatuh, dan terperosok), “ kata dia.

Oleh karena itu. Kata Eman, warga Situ Gede mendesak pemerintah Kota Bogor untuk segera memperbaiki akses jalan Cifor tersebut. “ Beberapa bulan lalu memang sudah ada penambalan jalan oleh Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, tapi sayangnya penambalan jalan tidak tuntas, karena baru dilakukan disekitar Terminal Bubulak. “ kata dia.

Eman  menyesalkan sikap pemerintah yang lamban dalam menangani kerusakan jalan termasuk memberikan fasilitas penerangan jalan. “ Bukankah Walikota Bogor telah mencanangkan Bogor terang, tapi pada kenyataan dilapangan masih banyak yang gelap. Semoga saja para pemangku kepentingan tak diam saja melihat warganya menjadi korban karena jalan berlubang, “ tutur Eman.

(bogornews)

Santi Menampakkan Diri jika Matahari Sudah Tinggi

13 September 2014   14 views

santiTim Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Wilayah 1 Bogor, Jawa Barat, memberi nama Santi untuk seekor buaya air tawar. Buaya betina ini ditemukan di Desa Mekarsari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Santi adalah salah satu jenis buaya yang dilindungi. Berbobot 80 kilogram dan memiliki panjang lebih dari 2 meter. Aktivitas harian buaya betina ini berjemur di kebun yang lokasinya tak jauh dari permukiman warga.

Sebuah lubang bekas galian pasir sedalam 50 meter di kawasan seluas 1 hektare, menjadi “rumah” Santi. Saat matahari sudah tinggi, Santi baru akan menampakkan diri, setiap hari, berjemur dengan mulut menganga.

Dipindahkan

Kehadiran buaya betina ini sempat meresahkan warga. Hewan ternak seperti itik kerap dia santap. Bila hewan sudah habis, warga khawatir Santi memangsa manusia.

Saat dipindahkan dari sarangnya selama ini, Santi tak banyak melakukan perlawanan. “Kalau saya amati, buaya ini memang sudah mengenali lingkungan di sana. Jadi ketika ditangkap, kami tidak kesulitan. Dugaan saya, ia sengaja dilepas oleh pemiliknya,” kata polisi kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat Wilayah 1 Bogor, Sudrajat, Jumat.

Menurut Sudrajat, buaa ini diduga sudah menjadi peliharaan orang. Santi sekarang sudah berada di pusat rehabilitasi hewan di wilayah Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor. Di sana, Santi akan dirawat sebelum dilepas ke habitatnya.

(tribunnews)

Empat Pimpinan DPRD Kota Bogor disumpah

13 September 2014   11 views

35Empat_PimpDPRD_beritaEmpat pimpinan DPRD Kota Bogor masa bakti 2014 -2019 dilantik dan diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Negeri Bogor Hj. Nirwana SH di Ruang Sidang DPRD Jalan Kapten Muslihat, Kota Bogor Jum’at (12/9/2014)

Pelantikan dan pengambilan  sumpah pimpinan DPRD  tersebut dihadiri Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto, dan Wakilnya Usmar Hariman, Jajaran Muspida, pimpinan SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) serta organisasi masyarakat.

Empat pimpinan DPRD yakni Ketua DPRD Untung W Maryono, Wakil Ketua Hery Cahyono, Sopian SE dan Jajat Sudrajat mengucapkan sumpah dan janjinya  yang dipandu oleh Ketua Pengadilan Negeri Kota Bogor Hj. Nirwana SH.

Ketua DPRD Untung W Maryono  berjanji akan melakukan perubahan dan menciptakan sinergi antara Pemerintah Kota Bogor dengan DPRD dan menjadikan tombak utama dalam kebersamaan membangun Kota Bogor

Selain itu,  pihaknya juga berjanji akan meningkatkan kinerja DPRD Kota Bogor. “Program yang sudah berjalan baik, akan terus ditingkatkan. “Kami juga  mengajak seluruh kepada seluruh masyarakat Kota Bogor untuk berperan aktif membangun Kota Bogor, “ kata Untng.

Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya menyampaikan selamat kepada para pemimpin DPRD yang baru dilantik dan diambil sumpahnya.  “Kita membutuhkan kerja sama dalam membangun Kota Bogor, “ kata Bima.

(bogornews)

Api Membakar Belasan Kios di Pasar Sederhana Bandung

12 September 2014   7 views

kebakaranpasarsederhanaKebakaran melanda belasan kios di Pasar Sederhana, Jalan Sederhana, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, sekitar pukul 12.45 WIB, Jumat (12/9/2014). Api sempat berkobar hebat hingga memicu asap tebal menjulang langit.

Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Meski begitu, kebakaran ini membuat panik para pedagang dan konsumen.

“Ada 16 kios yang ludes terbakar,” ucap Dirut PD Pasar Bermartabat Rinal Siswadi di lokasi kejadian.

Lokasi kebakaran tepatnya berada di bagian belakang pasar. Di lahan ini berdiri bangunan kios yang menjual sembako, ayam dan ikan.

“Tadi staf unit Pasar Sederhana bergerak sigap menahan api agar tidak menjalar ke kios dan jongko lainnya. Kami habiskan 24 alat pemadam api ringan (APAR),” ucap Rinal.

Sekitar pukul 12.55 WIB, Rinal mengontak petugas Dinas Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Kota Bandung. “Sepuluh menit kemudian petugas pemadam datang. Tak lama atau 15 menit, api berhasil dipadamkan,” kata Rinaldi.

Lebih dari lima unit mobil pemadam kebakaran diterjunkan ke tempat kejadian. Hingga pukul 14.00 WIB, petugas pemadam masih melakukan pendinginan.

“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” kata Kapolsek Sukajadi Kompol Sumi.
(detik.com)

Ketahuan Nyopet, Pria Ini Dipajang di Stasiun Bekasi

12 September 2014   6 views

copet bekasiSeorang pencopet tertangkap di Stasiun Bekasi, Jawa Barat. Copet tersebut kini dipajang di depan Peron Stasiun supaya mengingatkan penumpang untuk waspada. Penumpang juga bisa sigap bila bertemu pencopet ini.

“Itu foto saya ambil pukul 08.00 WIB, sekarang lagi dipajang,” ucap Triaji, saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (12/9/2014).

Triaji mengatakan, pencopet itu dipajang seperti anak SD yang nakal. Pria tersebut disuruh berdiri dengan pose hormat dan salah satu kakinya diangkat.

“Saya melihat dia jadinya ketawa-ketawa. Semua penumpang juga seneng melihat kayak gini,” ucapnya.

Menurutnya, langkah yang dilakukan pihak pengamanan stasiun sangat baik. Dengan demikian, penumpang bisa mengingat muka pencopet.

“Kayaknya semua stasiun harus kayak begini, biar si copet tahu rasa,” ujarnya.
(detik.com)

Lima Tahun Deti Sekeluarga Tinggal di Kandang Kambing

12 September 2014   7 views

kambingMIRIS saat mata melihat sebuah bangunan berukuran 2 x 3 meter yang ditinggali satu keluarga. Yang lebih miris lagi, mereka tinggal di bekas kandang kambing yang bersatu dengan kandang ayam milik warga sekitar.

Keluarga tersebut tinggal di Kp. Rancapateuh RT 02/RW 13, Desa Pangauban, Kec. Katapang, Kab. Bandung, atau tak jauh dari pusat ibu kota Kab. Bandung, Soreang. Sudah lima tahun mereka tinggal di bekas kandang kambing tersebut.

Namun selama lima tahun itulah, Hidayat (46) dan Deti Sumiati (38) beserta tiga anaknya, belum juga mendapat bantuan dari pemerintah setempat.

Kepada wartawan, Deti menceritakan kisah pahit hidupnya. Deti dan suaminya awalnya tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kp. Gamblok, Desa Mekarsari, Katapang. Namun karena tidak memiliki pekerjaan, pasangan ini kemudian pindah ke Kp. Rancapateuh, Pangauban, Katapang. Beruntung, kakak Hidayat memberikan sebuah bangunan untuk ditinggali, sekalipun bangunan itu bekas kandang kambing dan kandang ayam.

“Ya, mau diapakan lagi. Kami tidak punya pekerjaan dan uang lebih untuk menyewa rumah kontrakan. Kakak ipar memberi bangunan bekas kandang kambing untuk tempat tinggal,” ujar Deti kepada wartawan, Kamis (11/9).

Sehari-hari, Deti bekerja mencari kayu bakar. Dia menyusuri kampung ke kampung dan proyek bangunan, untuk mendapat kayu bakar yang nantinya dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara suaminya, Hidayat menjadi tukang rongsokan yang mengumpulkan botol dan gelas plastik.

Sehari, paling kami hanya mendapat dua puluh ribu. Itu pun seringkali habis untuk makan sehari-hari,” tambahnya.

Tidak tampak raut sedih pada wajah Deti, sekalipun dirinya bersama keluarganya harus tinggal di bekas kandang kambing.

Di dalam bangunan itu, hanya ada ruangan, yakni ruang tempat tidur ukuran 2,5 x 2 meter yang dipenuhi perabot bekas dan lemari pakaian serta tempat tidur.

Sementara ruangan lainya dibuat dapur berupa tungku api (hawu) dengan ukuran 0,5 meter. Di dapur sempit itulah, Deti menyiapkan makanan untuk keluarganya. Sedangkan untuk berkumpul keluarga, mereka menggunakan ruang tidur.

Bagian atap kandang kambing terbuat dari asbes sisa-sisa dari bangunan lain. Namun sayang, tidak tertutupi semua. Sebab itu, Deti menutupinya dengan terpal bekas spanduk.

Bocor di mana-mana

Dinding bangunan tempat tinggal keluarga Deti menggunakan papan bekas yang dipasang asal-asalan, sehingga angin dengan mudah masuk. “Kalau hujan, bocor di sana-sini. Bahkan lantai tanah pun tergenang air. Dibilang sedih ya sedih. Tapi harus bagaimana lagi,” katanya.

Sedangkan kandang ayam di bagian belakang, menurut Deti, hanya dipisahkan oleh kertas kardus. Setiap hari Deti bersama keluarga harus berjuang melawan bau dari kotoran ayam.

“Sebagai pemisah, saya penggal saja pakai kardus. Yang penting bau ayam tidak terlalu menyengat. Kalau kutu mah, pasti ada aja. Buktinya anak-anak saya sering terkena gatal-gatal,” tambahnya.

Sekalipun hidup serbaterbatas, namun tidak membuat Deti ngarasula. Dia tetap tegar menjalani hidup. Buktinya, Deti bisa menyekolahkan anak ketiganya, dan kini duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

Sedangkan anak pertama dan kedua sudah menikah dan memilih pindah rumah. “Saya tidak pernah meminta-minta, apalagi menyusahkan orang lain. Lebih baik hidup begini,” katanya.

Pasalnya, Deti mengaku sudah bosan meminta bantuan kepada pemerintah, namun usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Deti hanya berharap, dirinya bersama keluarganya bisa tinggal di rumah yang layak huni.

“Inginnya pindah dari sini, tapi siapa yang akan membantu,” katanya.

(galamedia)

Emil Menolak, Oded Setuju

12 September 2014   2 views

emilWALI Kota Bandung, Ridwan Kamil menyatakan penolakannya terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) oleh DPRD. Dia memutuskan bergabung dengan ratusan bupati dan wali kota se-Indonesia yang menolak RUU Pilkada.

“Kami (bupati dan wali kota) objek penderita apabila RUU tersebut disahkan. Ini kebijakan yang mempertaruhkan masa depan seperti saya,” ujar wali kota yang akrab disapa Emil ini.

Untuk mempertegas penolakannya, Emil pun membuat surat pernyataan. Surat itu ditandatangani dan dilengkapi sketsa wajahnya. Isi surat tersebut berbunyi, “Secara resmi saya menyatakan mendukung pilkada langsung oleh rakyat. UUD 1945 nyatakan, kedaulatan ada di tangan rakyat.”

Jika Ridwan Kamil secara tegas menyatakan menolak Rancangan Undang-undang Pilkada oleh legislatif, pendapat berbeda justru dilontarkan Wakil Wali Kota Bandung, Oded M. Danial. Oded menyatakan akan menerima hasil keputusan dari DPR RI tentang RUU tersebut.

“Itu konstelasi politik. Saya melihatnya sebagai ranah politik. Biarkanlah. Nanti juga akan ketahuan ke mana (hasilnya, red),” katanya di Balai Kota Bandung, Jln. Wastukancana, Kamis (11/9).

Selain sebagai Wakil Wali Kota Bandung, Oded juga merupakan Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bandung. PKS merupakan salah satu partai yang mendukung RUU Pilkada bersama dengan Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Salah satu poin penting dalam RUU ini adalah pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD, tidak dipilih langsung oleh rakyat.Sebagai salah satu kader partai pendukung RUU tersebut, Oded menegaskan akan tunduk terhadap keputusan partai. “Saya akan taat dan fatsun terhadap partai,” tegasnya.

Oded sepertinya memang tidak terlalu memikirkan arah RUU Pilkada tersebut. Oded bahkan menyebut kegaduhan yang terjadi di Jakarta atas RUU tersebut sebagai akrobat politik.

“Itu ‘kan akrobat saja,” singkatnya.”Karena ini soal politik, maka ini sikap partai, bukan sikap pribadi,” lanjutnya.

Enggan berkomentar

Sementara itu, Wali Kota Cimahi Atty Suharti Tochija berharap, RUU Pilkada mengenai pemilihan kepala daerah oleh DPRD bukan untuk kepentingan pribadi saja.

Namun orang nomor satu di Kota Cimahi ini enggan berkomentar banyak dan lebih menyerahkannya pada Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) dan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi).

“Itu ‘kan baru wacana dan masih digodok. Kita serahkan pada Apeksi dan Apkasi saja. Mudah-mudahan saja RUU ini bukan hanya untuk kepentingan pribadi,” katanya di sela-sela peresmian Rusunawa Leuwigajah.

Namun Atty berpendapat, jika wali kota atau bupati dipilih rakyat, secara tidak langsung memberikan hak demokrasi pada masyarakat. Mereka bisa melihat dan memilih langsung pemimpinnya.

“Kalau dipilih rakyat, berarti rakyat yang memilih langsung pemimpinnya. Mereka juga bisa mengenal sosok pemimpinnya dan tahu visi dan misinya,” katanya.

Disinggung apakah hal ini menandakan pemilihan langsung oleh rakyat lebih baik dengan dipilih DPRD, Atty tidak mau berkomentar. “Saya tidak mau ngomong itu,” ujarnya singkat.

Rencananya, RUU Pilkada akan disahkan pada 25 September 2014 melalui Rapat Paripurna DPRD RI. Sebelumnya akan dilakukan penyempurnaan oleh Panitia Kerja (Panja) dan Tim Perumus (Timus) DPR RI hingga 23 September mendatang. Apa pun keputusannya, kita tunggu saja.

(galamedia)

Terkumpul Dana Rp1 Miliar Untuk Kontingen Porda Kota Bogor

12 September 2014   1 views

porda bogorAcara penggalangan dana untuk kontingen Pekan Olahraga Daerah (Porda) XII Kota Bogor yang akan berlaga  di Bekasi terkumpul dana sebesar Rp1 miliar. Dalam acara yang berlangsung di Balaikota Rabu (10/9/2014 para pengusaha se-Kota Bogor diundang oleh Walikota Bogor Bima Arya.

Walikota Bima Arya memulai penggalangan dana dengan melelang lukisan istrinya, Yane Ardian. Tidak lama, lukisan itu berhasil dibeli dengan harga Rp201 juta oleh pengusaha Olympic Furniture yang bernama AU Bintoro.

Kemudian, coretan karya komunitas grafiti Kota Bogor yang ditandatangani Bima Arya berhasil membuat pengusaha MH Ages tertarik. Ia berani membayarnya coretan itu seharga Rp270 juta.

 “Saya mau menyumbang karena anak saya juga atlet Taekwondo. Saya harap sumbangan ini bisa menambah semangat para atlet sehingga tahun ini bisa lebih baik dan semua targetnya tercapai,” kata Ages.

Bukan hanya lukisan, suara Bima Arya juga pun berhasil dilelang. Dengan membawakan lagu Indonesia Jaya, nyanyian orang nomor satu di Kota Bogor itu berhasil mendapat sumbangan senilai Rp30 juta.

Selain itu, banyak perusahaan yang juga berkontribusi dalam acara penggalangan dana ini, seperti Pahala Kencana, Bank Jabar Banten, PT Angga Cendekia, PT Graha Wita, PT Murni Motor, PT Propindo Mulia, PT Rifatih, Husdi PT Agis, BTN dan pengusaha yang juga Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Kota Bogor Erik Suganda.

Sementara itu, Walikota Bogor Bima Arya mengatakan terkumpulnya dana Rp1 miliar bukan nilai yang sedikit. “Saya terharu dan bangga, masih banyak warga Bogor yang cinta kotanya dan rindu akan prestasi,” kata Bima Arya

Pengumpulan dana untuk kepentingan Kontingen Kota Bogor tidak akan berhenti sampai disini saja. Bima meminta agar pihak kontingen bersikap terbuka dengan mencantumkan nomor rekening, kepada masyarakat yang juga ingin memberikan bantuannya.

Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman yang juga Ketua Kontingen Prda Kota Bogor  mengungkapkan, Porda Jabar XII yang akan diselenggarakan di Bekasi tanggal 12 s/d 23 November 2014 adalah awal baik untuk membawa Kota Bogor ke tingkat Nasional.
Kontingen Kota Bogor akan mengirimkan 343 atlit, yang didampingi 66 orang pengurus kontingen, 33 orang manager, 73 orang pelatih dan mengikuti 33 cabang olahraga dari 45 cabang olahraga yang akan dipertandingkan.

“Prestasi atlit Kota Bogor yang ikut Porda XII menjadi momentum penting untuk mengukur keberhasilan pembinaan olahraga di Kota Bogor dan akan menjadi kebanggaan yang tidak hanya milik Pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat Kota Bogor”, jelas Usmar.

“Harus ada upaya sinergi antara peran yang dilakukan Pemerintah Kota Bogor, KONI Kota Bogor selaku pembina olahraga dan seluruh stakeholders baik pemerintah maupun swasta dalam mendorong perbaikan prestasi olahraga di Kota Bogor”, lanjut Usmar.

Menurut Usmar keberhasilan kontingen PORDA XII Kota Bogor sangat tergantung dari komitmen semua pihak untuk berbagi peran sesuai kemampuan yang dimiliki. “ Kami berharap semua pihak bisa berpartisipasi memberikan dukungan teknis maupun nonteknis untuk suksesnya keikutsertaan kontingen Kota Bogor meraih prestasi dalam ajang Porda Jawa Barat XII 2014”, pungkasnya.

(bogornews)

Harga Sapi Kurban Melonjak Naik Hingga Rp 3 Juta

12 September 2014   2 views

sapiMenjelang hari raya kurban (Iduladha) harga sapi layak kurban terus melejit naik. Seperti sapi lokal  Ciamis dengan taksiran berat karkas 125 kg (bobot kotor 3 kuintal) sudah mencapai Rp 15 juta per ekor.

Sementara sapi peranakan simental dengan taksiran berat karkas 160 kg  sudah mencapai Rp 18 juta per ekor. Sedangkan sapi jenis limusin lebih mahal lagi dengan berat karkas kisaran 2 kuintal hingga 2,5 kuintal harganya sudah menembus Rp 20 juta per ekor.

“Itu harga hari ini. Harga sapi kurban  akan terus bergerak naik sampai hari H Iduladha nanti,” ujar Kusnandang, peternak sapi potong di Dusun Pasir Peutey, Desa Sidamulya, Kecamatan Cisaga, Ciamis kepada Tribun, Kamis (11/9/2014).

Dibandingkan dengan hari raya kurban (lebaran haji) tahun lalu menurut Kusnadang, ada kenaikan harga antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta tiap ekornya,.

Dari 47 ekor sapi potong yang sudah menjalani penggemukan di kandang milik Kusnandang di Dusun Pasir Peuteuy sejak tujuh bulan lalu, hanya ada enam ekor jenis sapi limosin dan tujuh ekor sapi simental. “Lebihnya adalah sapi lokal Ciamis, termasuk sapi khas Rancah. Dari 34  ekor sapi lokal layak kurban yang ada di kandang saat ini, 25 ekor sudah dipesan panitia kurban, bahkan di antaranya sudah ada yang bayar uang muka (DP),” katanya.

Untuk sapi lokal Ciamis ini, kata Kusnadang, sekitar tujuh bulan lalu ia membeli bakalannya dengan kisaran harga Rp 8 juta sampai Rp 9 juta per ekor. “Sekarang menjelang lebaran haji ini harganya sudah mencapai kisaran Rp 14 juta hingga Rp 15 juta per ekor dengan bobot kotor sekitar 3 kuintal atau taksiran berat karkasnya sekitar 125 kilo,” ujar Kusnandang.

Pada lebaran haji tahun 2013 lalu, Kusnandang berhasil menjual 100 ekor sapi kurban. Sebagian besar merupakan sapi lokal. Sementara sapi berbobot besar, seperti sapi limusin dan sapi simental, peminatnya terbatas.

Menjelang Iduladha tahun ini, daerah Jabar mulai dibanjiri sapi lokal dari Madura. “Menurut informasi yang saya peroleh, tiap hari ada sekitar  5 truk dan tronton yang mengangkut sapi asal Madura masuk Jawa Barat lewat Banjar (melintas lewat cek poin banjar),” ujar Kusnandang.

Tiap truk mengangkut sekitar 15 ekor sapi Madura, sementara yang tronton mengangkut sekitar 23 ekor sapi Madura. “Tiap hari ada saja truk yang lewat mengangkut sapi Madura,” ujarnya.
Meskipun katanya tidak membuat permintaan sapi lokal Ciamis berkurang. “Panitia kurban lebih suka dengan sapi lokal Ciamis. Itu yang saya rasakan sendiri,” ungkap Kusnandang.

(tribunnews)

Kasus Terbakarnya Tari, Polisi: Korban Mengaku Sempat Dipukul Orang Gila

11 September 2014   12 views

tkptariTari Handayani (21) warga Bogor Barat, Kota Bogor, ditemukan terbakar di belakang rumah kosong. Hingga saat ini, polisi belum bisa menyimpulkan apakah Tari mencoba bunuh diri dengan cara membakar tubuhnya atau orang lain mencoba membunuhnya.

Kanit Reskrim Polsek Sukaraja, AKP Sarjiman mengatakan, korban mengaku sempat dipukul orang gila yang biasa tinggal di rumah kosong tersebut.

“Sampai Subuh tadi kita bergerak, tapi orang tidak waras itu belum bisa ditemukan,” kata Sarjiman, Kamis (11/9/2014).

“Keterangan korban memang belum bisa dipastikan, karena kemungkinan perkataan itu keluar saat korban masih dalam kondisi trauma. Tapi ini tetap kita telusuri,” imbuhnya.

Tari ditemukan terbakar di bawah rumpun pohon bambu di belakang rumah kosong di Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Rabu (10/9) sekitar pukul 13.00 WIB. Sekujur tubuh korban terbakar. Berdasarkan olah TKP, barang-barang korban tidak hilang. Dipastikan, kejadian itu bukan perampokan.

Oleh warga, lokasi kejadian ditinggali orang gila. Juga dikenal sebagai tempat remaja berpacaran.

Saat ini, Tari dirawat intensif di RS PMI Bogor. Tim medis belum memberikan keterangan rinci soal kondisi korban.
(detik.com)

« Previous PageNext Page »