Akademi Kimia Analis Bogor Gelar Jurnalika Fair

13 November 2014

kimiaAkademi Kimia Analisis Bogor menggelar Jurnalika Fair yang ke-10 dan puncaknya  dilaksanakan Sabtu (13/12) di aula lantai 3 Kampus Akademi Kimia Analisis Bogor, Jl. Pangeran Sogiri No. 283 Bogor Utara.

Ketua Panitia Jurnalika Fair 10th, Tania, Kamis (13/11), menjelaskan, tema Jurnalika Fair kali ini adalah “Let’s Speak The Truth Even if The World Rejects”. Pada acara puncak akan diumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan.

Untuk suksesnya kegiatan itu, panitia bekerjasama dengan sejumlah pihak, di antaranya Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Disebutkan Tania, acara puncak Jurnalika Fair 10th diisi dengan kegiatan talkshow interaktif bersama news anchor dan penyiar radio Tanah Air. Talkshow kali ini akan membahas mengenai dunia jurnalistik dalam bidang publik speaking melalui siaran radio maupun televisi.

Ditambahkan Tania, acara ini diharapkan mampu membuat pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas mengetahui lebih dalam tentang dunia jurnalistik, yang tidak hanya sebatas kepenulisan berita. Pengolahan berita dalam bentuk visual sampai publikasi ke masyarakat juga bagian dari jurnalistik.

“Pelajar dan mahasiswa juga dapat mengasah kemampuan mereka dalam bidang jurnalistik dari lomba-lomba yang diselenggarakan Jurnalika Fair 10,” kata Tania dalam siaran persnya ke poskotanews.com.

(poskota)

Ada yang Kecewa dengan Pesta Kemenangan Persib, Ridwan Kamil Minta Maaf

11 November 2014

Ridwad kamilPesta kemenangan Persib yang dilakukan dengan arak-arakan bersama jutaan bobotoh yang memadati seluruh bagian Kota Bandung memang sudah usai. Namun, akhir pesta tersebut meninggalkan sedikit kesan kurang enak di masyarakat, seperti kemacetan, kesemrawutan, serta kerusakan fasilitas umum dan kendaraan.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengaku telah meminta maaf sejak awal. Dia paham betul akan timbul banyak kekecewaan akibat euforia tersebut.

“Ini sebuah momentum 19 tahun yang ditunggu-tunggu. Dari awal saya sudah minta maaf, 3.000 polisi sudah dikeluarkan untuk antisipasi,” kata pria yang akrab disapa Emil ini saat ditemui di Pendopo Kota Bandung, Senin (10/11/2014).

Emil menambahkan, dia sulit menindak oknum bobotoh yang jumlahnya jutaan orang. Menurut dia, tidak semua bobotoh yang datang ke pesta tersebut berasal dari Kota Bandung. Menurut dia, kampanye “Urang Bandung Someah (Ramah)” yang sudah dilakukan sejak lama menjadi kurang efektif karena ada oknum bobotoh yang melakukan perbuatan anarkistis di tengah-tengah pesta rakyat.

“Yang jadi masalah itu bobotoh yang datang bukan hanya dari Bandung. Kita sudah kampanye someah, ramah. Jadi agak susah membedakan oknum-oknum bobotoh,” ujarnya.

Emil meyakini bahwa oknum-oknum bobotoh yang bertindak anarkistis bukan warga Kota Bandung.

“Kalau orang Bandung menurut saya yakin bararageur (baik-baik). Kalau memang ada oknum-oknum (bobotoh), itu mungkin yang bukan datang dari Bandung. Jadi kampanye Bandung someah tidak sampai ke mereka,” tuturnya.

Emil pun mengaku telah meminta kepada pihak kepolisian untuk tidak segan-segan menindak oknum bobotoh yang bertindak anarkistis.

“Sudah saya sampaikan untuk ditangkap kalau tertangkap tangan karena itu kriminal,” tuturnya.
(kompas.com)

Ini Temuan Unik di Gunung Padang, Rolling Stone

10 November 2014

Batu gunung padangTim peneliti Gunung Padang menemukan sebuah batu unik. Batu bulat itu ditemukan di kedalaman 10 meter. Tim peneliti masih mempelajari apa kegunaan batu yang dinamakan rolling stone itu.

“Batu itu pada bagian sekelilingnya berwarna keabu-abuan. Namun pada satu bagian pecah atau seperti terpangkas dan terlihatlah bagian dalamnya. Bagian dalam juga berbentuk bulat, sehingga seperti batu di dalam batu. Uniknya lagi, batu di bagian dalam tersebut dapat diputar-putar,” kata tim peneliti yang juga arkeolog UI, Ali Akbar, Senin (10/11/2014).

Tim peneliti dibantu personel TNI AD melakukan penggalian sejak tahun 2012 di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Banyak pengetahuan yang dihasilkan dari situs megalitikum Gunung Padang. Tidak sedikit pertanyaan yang belum terjawab. Seperti misalnya batu bulat yang ditemukan pada kedalaman 10 meter itu.

“Batu bagian dalam itu berwarna hitam mengkilat, seperti ada kristal yang membuatnya mengkilat. Sampai saat ini batuan tersebut belum dapat diidentifikasi. Sambil menunggu identifikasi, beberapa orang menyebutnya Rolling Stone. Ada juga yang menyebutnya mirip Hajarul Aswad,” jelas dia.

“Apa sesungguhnya itu, mari kita tunggu analisis terhadap batuan tersebut. Para peneliti juga membuka diri bagi semua ahli dan anak bangsa yang ingin berpartisipasi menyumbangkan pengetahuannya untuk mengidentifikasi batuan tersebut. Saatnya para ahli Indonesia bergabung di Gunung Padang. Kerja sama dan saling melengkapi tentu akan lebih bermanfaat untuk mengungkap peradaban agung di Situs Gunung Padang,” tutupnya.
(detik.com)

Di Bekasi 1.700 Angkot Bodong Didesak Dikandangkan

6 November 2014

angkotWAJAR saja jika target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dinas Perhubungan (Dishub) jeblok tahun ini. Ini setelah Dishub tidak berhasil mengoptimalkan potensi pendapatan dari izin trayek angkot.

Dari 3.200 unit angkutan umum (Angkot) di Kota Bekasi ternyata sebagian besar tak memiliki izin trayek. Data Dishub menyebutkan 1.700 angkot bodong karena tak mengurus izin trayek.

Selain potensi kebocoran pendapatan, Dishub mengaku banyaknya angkot yang beredar membuat lalu lintas menjadi semrawut. Demikian dikatakan Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub), Edi Setiawan.

’’Ya memang dalam hal ini begitu luar biasa. Ada 1.700 unit angkot yang tidak mengantongi izin trayek.  Memang hal itu menjadi pekerjaan rumah bagi Dishub,” ucapnya pada Radar Bekasi.

Sebagai bentuk penegakan aturan, Edi berencana melakukan operasi gabungan terhadap angkot yang tidak memiliki izin trayek. ’’Ya untuk mengantisipasi masalah kemacetan, akibat angkot yang sering ngetem, kita akan melakukan penertiban,” janjinya.

Terpisah, Anggota Komisi B, Arwis Sembiring mengaku, prihatin dengan kinerja Dishub. Dengan kondisi 60 persen angkot di Kota Bekasi tak miliki izin trayek, maka menunjukkan kinerja Dishub tak maksimal. Politisi Demokrat ini juga mengakui, selain kemacetan, situasi itu juga menyebabkan potensi kebocoran PAD yang besar.

’’Oleh sebab itu, Dishub harus melakukan gebrakan. Yakni dengan mengandangkan 1.700 angkot yang bodong tersebut. Selain bikin macet, angkot tersebut juga merugikan pendapatan, karena tidak mengurus izin,” ucapnya.

Karena kinerjanya kurang baik, maka Komisi B berniat untuk memanggil pihak Dishub. ’’Kita akan melakukan pemanggilan kepada Dishub untuk mengetahui apakah ada oknum Dishub yang memberi perlindungan pada pengusaha maupun angkot tersebut. Sebab angkot yang ada saat ini juga memicu kemacetan lalu lintas,” pungkasnya.

(gobekasi)

Tiap RW di Bandung Wajib Gelar Nobar Persib vs Persipura

6 November 2014

persibEuforia kemenangan Persib Bandung di semifinal Indonesia Super League (ISL) atas Arema Cronus dengan skor akhir 3-1 disambut meriah oleh warga Kota Bandung. Dengan kemenangan tersebut, Persib melaju ke babak final ISL dan akan ditantang Persipura Jayapura.

Demi memfasilitasi warga Kota Bandung yang tidak bisa menyaksikan langsung tim kebanggaan Jawa Barat itu bertanding di Stadion Jakabaring, Palembang, Jumat (7/11), Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mewajibkan semua RW untuk menggelar kegiatan menonton bareng.

“Jumat nanti seluruh RW wajib bikin nobar (nonton bareng). Semua camat, lurah, harap pergunakan ruang publik untuk nonton bareng. Kita hebohkan lagi,” kata pria yang akrab disapa Emil ini saat ditemui seusai peresmian Gedung Elisabeth RS Santo Boromeus, Bandung, Rabu (5/11).

Pemkot, kata Emil, akan menggelar nonton bareng di Balai Kota dan Taman Film. Sedangkan untuk bobotoh yang ingin nonton ke Palembang, Emil akan menyiapkan sepuluh bus gratis.

Emil menjelaskan, Persib perlu dukungan penuh dari seluruh bobotoh. Sebab, sudah 19 tahun sudah para pencinta klub berjuluk Maung Bandung itu menantikan klub kesayangannya kembali mengangkat trofi juara Liga Indonesia setelah pada tahun 1995 pernah menjadi juara pertama.

“Sembilan belas tahun itu penantian yang panjang,” ujar Emil.

(tribunnews)

Ruang Kelas Tergerus Longsor, Puluhan Pelajar SD Ini Belajar Beralas Tikar

6 November 2014

pensilPuluhan siswa Sekolah Dasar Negeri Purabaya harus belajar beralas tikar. Tiga ruangan sekolah di Desa Ciroyong, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini baru dibangun setelah kelas yang lama tergerus longsor.

“Kami terpaksa belajar di lantai di depan kelas dulu, karena ruang kelas tidak mampu menampung puluhan siswa yang diungsikan. Tiga ruang kelas nyaris ambruk akibat longsor, sementara pembangunan kelas baru sedang berjalan,” tutur Kepala SDN Purabaya,Yayat Dahiat, Rabu (5/11/2014).

Menurut Yayat, para muridnya belajar beralas tikar ini sudah berlangsung selama dua pekan. Tiga ruang kelas yang rusak dan sedang dibangun kembali adalah untuk kelas 1, 2, dan 3.
Yayat mengatakan cara lain menangani situasi ini adalah dengan membuat jadwal giliran masuk sekolah, dengan sebagian siswa masuk siang.

Tantangan belajar dengan beralas tikar ini juga adalah cuaca. Ketika hujan, para siswa yang belajar di selasar ini pun harus dipindahkan ke dalam kelas. Yayat mengatakan pembangunan kembali ruang kelas yang rusak memakai dana alokasi khusus (DAK) tetapi belum dapat dipastikan kapan bakal rampung penggarapannya.

(kompas)

PKL MA Salmun Minta Wali Kota Izinkan Lagi Berjualan

5 November 2014

salmunRatusan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tergabung dalam wadah Paguyuban pedagang M.A Salmun, mereka berunjuk Rasa di Balaikota. Mereka menuntut  agar bisa  berjualan kembali di tempat semula dengan Satu Baris diatas Trotoar dan akan menjaga ketertiban,nyaman  dan kebersihan di lokasi tersebut Kepada Pemerintah Kota Bogor.

Keinginan tersebut disampaikan dalam bentuk proposal kepada Walikota Bogor Bima Arya oleh Ketua Paguyuban, Ahmad Hapid didampingi Sekretarisnya Tico., Selasa (5/11/2014).

Dalam proposal yang diajukannya mereka meminta kepada Wali Kota Bogor untuk bisa berjualan lagi di Jalan MA Salmun.  “ Kami mohon Pak Wali Kota memberikan izin satu jalur Jalan MA Salmun untuk berjualan, “ kata Ahmad Hapid

Wali Kota Bogor Bima Arya pada kesempatan itu didampingi Wakil Walikota Bogor Usmar Hariman dan sejumlah pejabat terkait lainnya.

Ia menjelakan, bahwa pihaknya akan mengkaji tentang akurasi data yang disampaikan melalui proposal tersebut.  Selain itu, pihaknya akan memberi jalan keluar dengan menempatkan mereka secara permanen di lokasi yang akan ditunjuk.

Wali Kota Bima Arya juga minta sinkronisasikan antara keinginan Warga Ciwaringin Kecamatan Bogor Tengah dengan PKL MA Salmun. Sebab, selama ini yang merasa terganggu atas keberadaan PKL adalah warga  Ciwaringin Gang Ardio.

“ Saya  sudah mendengar langsung keluhan mereka atas keberadaan PKL di lokasi tersebut, dan para warga tidak ingin lagi ada PKL di lokasi tersebut. Inilah yang perlu adanya sinkronisasi antara pedagang dan warga setempat.” kata Bima Arya.

Sementara itu,  Sekretaris Paguyuban PKL MA.Salmun, Tico, menjelaskan bahwa aksi ini dipicu kekesalaan pedagang yang sudah lama tidak bisa berdagang, sementara tuntutan kebutuhan hidup tidak bisa dihindari.“ Kami juga sebenarnya tidak mau aksi-aksi seperti ini, sebab mengganggu ketertiban dan membuat macet jalan” kata Tico.

(bogornews)

Bayi Yang “Disandera” Rumah Sakit Akhirnya Meninggal

5 November 2014

bayiBayi malang penderita gizi buruk, warga RT 001/018 Desa Mangunjaya, Tambun Selatan, akhirnya meninggal dunia, Selasa malam (4/11) , setelah beberapa jam keluar dari RS Adam Thalib.

Bayi tersebut sempat “disandera” pihak rumah sakit karena tidak mampu bayar Rp 7,5 juta uang perawatan satu hari.

Azahra Wulandari, 1, oleh Dirman, 27 dan Nurhayati, orang tuanya yang miskin itu,  terpaksa pulang paksar dari rumah sakit, karena tidak sanggup membayar biaya perawatan, lebih lanjut.

Bahkan putri pertama keluarga yang tinggal di rumah petakan dan tergolong pra sejahtera ini diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah pihak Kades Mangunjaya menjaminkan mobil dinas desa.

“Kami berupaya membantu warga, namun pihak rumah sakit masih mementingkan segi komersil,” tutur Idi Rohidi, Kades. Namun upayanya untuk membahagiakan keluarga kecil ini tidak berhasil, “Azahra, meninggal pukul 21;30, setelah 4  jam pulang ke rumah,” kata Idi, dengan wajah sedih.

Kedua orang tuanya nampak pasrah, uang yang dikumpulkan dari meminjam ternyata tidak bermanfaat, “Mau apalagi, inilah derita orang miskin seperti kami,” keluh Dirman.

Seperti menyesalkan kondisi ekonominya Dirman, berujar “Kalau saja saya orang kaya, mungkin anak saya selamat dan sehat ,” lirihnya.

SEMPAT DISANDERA

Diberitakan sebelumnya, bayi penderita gizi buruk, disandera pihak RS Adam Thalib, Cibitung, karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya perawatan dalam sehari Rp 7,5 juta.

Dirman terpaksa membawa pulang anaknya, meski kondisinya belum sehat, “Sehari aja sudah segitu, bagaimana kalau lama,” katanya.

Azahra Wulandari, berhasil dikeluarkan dari rumah sakit setelah  pamong desa dan tokoh masyarakat mendatangi rumah sakit yang berada di Pertigaan Tol Cibitung, Kades menjaminkan mobil dinasnya, setelah kedua orang tua kekurangan biaya Rp 4,5 juta.

(poskota)

Anggaran Besar, Sampah Bertebar

4 November 2014

sampahPERSOALAN sampah di wilayah Kabupaten Bekasi lagi-lagi mendapat sorotan dari sejumlah kalangan. Meskipun ‘dihadiahi’ anggaran yang lumayan besar, namun pada praktiknya penanganan sampah malah terkesan jalan di tempat.
Bahkan, sang Wakil Bupati (Wabup) pun sempat menyampaikan kekhawatirannya kalau Kabupaten Bekasi akan masuk status darurat sampah dalam dua atau tiga tahun lagi, jika persoalan sampah tidak segera diatasi.

Yang lebih ironis, bagaikan pepatah semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (DKPPK) kerap mempertontonkan berbagai program penanganan sampah di sejumlah titik di wilayah Kabupaten bekasi, sementara sampah di lingkungan Pemkab Bekasi sendiri seperti kurang mendapat perhatian.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Daris, menyesalkan lemahnya kinerja instansi terkait dalam menyelesaikan persoalan sampah di wilayah Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi, kata Politisi Partai Gerindra tersebut, akan sulit meraih Piala Adipura jika persoalan sampah tidak segera menemukan solusi.

Kendala apapun seperti minimnya personel ataupun armada pengangkut sampah, menurut Daris, seharusnya disampaikan ke DPRD Kabupaten Bekasi. ’’Dengan anggaran yang ada, seharusnya instansi terkait dapat menyelesaikan persoalan sampah. Kalau kurang mobil beli, kalau kurang personel atau SDM ya disampaikan. Kalau dibilang SDM-nya kurang harusnya dicari SDM yang benar dan tepat. Apalagi dinas terkait sering studi banding lihat daerah yang lain,” tegasnya kepada Radar Bekasi.

Kepala DKPPK Kabupaten Bekasi, sambung pria berkumis ini, harus memiliki konsep kerja yang baik dan keinginan yang besar terkait penanggulangan sampah di Kabupaten Bekasi. Pengguna anggaran seharusnya mengajukan anggaran melalui DPRD, dan hal teknis seperti persoalan personel dan armada semestinya tidak menjadi masalah yang besar. ’’Nah dengan mengajukan anggaran harusnya sudah ada rancangan dan pengajuannya. Harusnya mudah dan tidak susah,” paparnya.

Diakuinya, Kabupaten Bekasi akan sulit untuk memperoleh Piala Adipura. Namun, kata dia, yang terpenting bukan hanya memperoleh Adipura, tetapi bagaimana akhirnya Kabupaten Bekasi ini dapat bersih. ’’Minimal bersih saja dulu, di pemda saja masih kotor,” katanya.

Saat ini, sambung dia, pihaknya tengah berusaha semaksimal mungkin untuk terus mengawasi kinerja SKPD. Supaya persoalan kebersihan dapat segera diselesaikan oleh Pemkab Bekasi. ’’Saya sedang membenahi semua pengguna anggaran yang ada di Kabupaten Bekasi. Kita akan sedikit maksimalkan kinerja SKPD, akan diperketat,” tandasnya.

Kepala DKPPK Kabupaten Bekasi, Dewi Tisnawati sendiri masih belum mengklarifikasi mengenai hal tersebut. Yang bersangkutan pun tidak membalas pesan singkat ataupun mengangkat telepon ketika dihubungi.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (DKPPK), Dody Agus Suprianto, mengakui anggaran yang digelontorkan untuk dinasnya memang terbilang besar di tahun 2014 ini, namun kata dia anggaran tersebut sudah dialokasikan untuk sarana dan prasana dinasnya, mulai pembelian enam belas mobil operasional sampah, pembelian dua mobil tinja, motor bak sampah, hingga beberapa kegiatan lainnya yang memang menyerap anggaran.

Begitu juga dengan penataan TPA Burangkeng, sambung dia, akan dilakukan. Sebab selama ini keadannya sudah sangat semerawut dan tidak tertata dengan rapi. “Kita buat beberapa zonase, dan dari sini sampah yang ada dirapikan sehingga ada ruang untuk membuang sampah kembali,” terangnya.

Selain perapihan kata Dody, TPA Burangkeng juga akan dibuat jembatan timbang, untuk mengetahui sampah apa saja yang masuk ke TPA Burangkeng, begitu juga muatan yang ada di jembatan timbang ini akan diketahui.

“Nanti ada perapihan jalan lingkungan untuk masuk kezona baru yang sudah dirapikan, dan beberapa pembangunan lagi seperti pembuatan gapura dan kantor yang ada di dalam TPA Burangkeng, artinya semua anggaran yang ada akan dialokasikan, begitu juga pemagaran beton disekitaran TPA juga akan dilakukan dan pembuatan pupuk kompos,” terangnya.

Untuk tahun ini kata dia memang lebih memfokuskan kepada TPA Burangkeng. Sebab bila TPA tertata dengan rapi, maka persoalan sampah yang ada disekitar bisa terangkut. Disinggung untuk  Tempat pembuangan Sementara (TPS) yang memang diperlukan, Dody mengaku hal itu perlu tahapan yang sangat panjang perizinannya terutama kepada warga sekitar.

Sedangkan ditahun 2015 nanti, kata Dody, konsentrasi pihaknya akan mengarah pada persoalan sampah yang ada dilingkungan masyarakat.

“Bertahaplah untuk pengerjaannya, selesai satu baru mengerjakan yang lainnya, dan ini menjadi skala prioritas dalam bekerja,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bekasi, Rohim Mintareja, meminta DKPPK memperbanyak sosialisasi kepada masyarakat. Ia pun mengungkapkan anggaran untuk DKPPK sebesar Rp10 miliar setiap tahunnya selalu habis digunakan. ’’Anggarannya masih kurang. Aturannya Rp30 miliar,” ungkap warga Desa Sukaresmi, Cikarang Selatan ini.

Pemkab Bekasi, kata dia, baru menambah armada truk dan alat berat untuk penanganan kebersihan, sehingga tidak ada alasan jika instansi terkait mengeluhkan kurangnya sarana prasarana.

’’Kalau sarana prasarana selalu diberikan. Bidang Kebersihan makanya membuat rencana kerja ke depan. Apa yang dibutuhkan ke depannya. Jangan yang tidak penting malah dibeli, kalau kurang SDM ya tinggal diajukan saja,” paparnya.

Ia pun memperkirakan kemungkinan besar di tahun mendatang Kabupaten Bekasi akan mengalami status darurat sampah, karena saat ini masyarakat di perumahan sudah menjerit mengenai sampah yang telat diangkut oleh Bidang Kebersihan. Akhirnya warga pun memilih untuk membuang sampah sembarangan.

’’Sudah kesadaran masyarakat membuang sampah masih kurang, ditambah lagi dinasnya kurang kreatif dan tidak tepat dalam menggunakan anggaran, ya sudah persoalan sampah menjadi semakin kompleks,” tandasnya.

(gobekasi)

Bogor Bisa Lakukan Revolusi Mental, Apa Bandung Bisa?

2 November 2014

Kedekatan personal antara Menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi dan Wali Kota Bogor Bima Arya bisa menjadi jembatan dalam menjalankan terobosan.
Antara lain merealisasikan dan menterjemahkan jargon politik revolusi mental di program-program pemerintahan.
“Bisa jadi hubungan kedekatan ini akan sangat memudahkan mentransfer dan mengimplementasikan konsep-konsep revolusi mental. Kota Bogor bisa menjadi pilot project-nya,” kata Yuddy, saat berkunjung ke Rumah Dinas Wali Kota Bogor, Jabar, Sabtu (1/11/2014) malam.
Terlebih, lanjut Yuddy, Bima Arya memiliki kemampuan yang baik sebagai kepala daerah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih.
“Salah satunya menjadikan Kota Bogor sebagai zona Integritas, di mana dalam program tersebut mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi dan transparansi dalam anggaran,” tutur Yuddy.
Yuddy optimistis bahwa revolusi mental dapat diwujudkan, seperti halnya dalam kunjungan yang dilaksanakannya hari ini. Wali Kota Bogor mengundang juga Wakil Wali Kota Usmar Hariman, Sekretaris Daerah Ade Sarip Hidayat, perwakilan anggota dewan, dan pejabat SKPD.
“Dalam kunjungan ini, Wali Kota tidak sendiri tapi juga mengundang semua jajarannya, jadi ada transfer gagasan ke jajaran di bawahnya bagian dari percepatan revolusi mental,” ucap Yuddy.
Yuddy menambahkan, revolusi mental dimulai dari cara berpikir dan paradigma untuk seluruh birokrat yang selama ini berpikir secara priyayi sekarang berubah menjadi pelayan masyarakat.
“Jadi birokrat di daerah itu tidak lagi jadi priyayi, mereka harus berpikir untuk melayani masyarakat, turun ke lapangan, menemui warganya, tanpa ada protokoler, langsung turun meninjau, jadi kelihatan apa yang sesungguhnya telah dijalankan,” ujar Yuddy.
Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyambut positif apa yang disampaikan oleh Menteri PAN-RB, dan siap untuk menjalankannya secara bertahap.
“Ini menarik, karena sudah saatnya pejabat pemerintahan yang dulunya berpikir priyayi, kini berpikir sebagai pelayan masyarakat. Turun langsung ke rakyat,” tukas Bima.
Bima mengatakan, pihaknya telah memulai birokrasi reformasi dari awal pemerintahannya. Termasuk menjadikan Bogor sebagai Kota Zona Integritas, di mana pemerintahannya menjalin kerja sama dengan KPK dalam pemberantasan korupsi.
“Kita sudah mengeluarkan kebijakan untuk seluruh pejabat eselon II melaporkan harga kekayaannya kepada negara, termasuk juga kedepan pejabat eselon III, hingga camat dan lurah wajib melaporkan kekayaannya,” jelas Bima Arya.
“Kita akan minta bimbingan dari KPK karena untuk mengisi laporan tersebut cukup sulit,” pungkas Bima.(kompas)

« Previous PageNext Page »