web analytics

Bekasi Kekeringan, Penyakit kulit dan Tipus Meningkat

13 October 2014   1 views

bekasiSulit mendapatkan air bersih di sejumlah wilayah kekeringan membuat penyakit kulit dan diare serta tipus meningkat di Kabupaten Bekasi.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi mencatat, jumlah untuk penyakit Diare, Tipus dan Kulit mengalami peningkatan 30 persen.

“Selain faktor cuaca, meningkatnya ketiga penyakit tersebut terutama disebabkan sulitnya mendapatkan air bersih, sehingga warga terpaksa mengonsumsi air sungai serta jarang mandi. Hal ini membuat warga rentan terserang penyakit,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Moharmansyah Boestari kepada Gobekasi Minggu (12/10)

Moharmansyah mengimbau agar warga yang tinggal di wilayah terdampak kekeringan untuk tidak mengonsumsi air sungai.

“Sebab, kandungan zat serta kuman berbahaya yang kemungkinan besar ada dalam air sungai, dapat berimbas terhadap kesehatan. Mengonsumsi air sungai rentan menimbulkan penyakit, antara lain diare, kolera, maupun
tipus,” jelasnya

Secara mikrobiologis, air sungai bisa mengandung kuman e-coli maupun bakteri coliform.

Sedangkan secara kimia, bisa mengandung zat semacam arsen, nitrat, sianida, kadminum, selenium dan sebagainya. Sehingga jika dikonsumsi, akan ada dampaknya terhadap
kesehatan manusia.

“Kalau terpaksa harus mengonsumsi air sungai, lebih baik direbus dulu hingga mendidih agar kumannya mati. Tapi sebaiknya tetap hindari konsumsi air sungai,” pungkasnya.

(gobekasi)

Digarap Konsorsium BUMN, Monorel Cawang-Bekasi-Cibubur Rampung 2018

13 October 2014   3 views

monorelPembangunan jalur monorel Cawang-Bekasi-Cibubur, yang digarap oleh Konsorsium BUMN, diperkirakan akan rampung pada 2018.

“Pengerjaan kostruksi monorel Cawang-Bekasi-Cibubur dikabarkan berlangsung pada 2015 mendatang. Konstruksinya butuh waktu pengerjaan sekitar tiga tahun,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi Supandi Budiman di Bekasi, Jawa Barat, Minggu (12/10/2014).

Menurut dia, pengembangan monorel fase pertama akan mengambil rute Bekasi Timur-Cawang, Cibubur-Cawang, selanjutnya Cawang-Kuningan.

Pembangunan monorel tersebut telah diluncurkan Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan nama Jakarta Link Transportation (JLT).

Proyek itu tengah digarap konsorsium BUMN yang beranggotakan, PT Adhi Karya Tbk, PT Inka, PT LEN, PT Jasa Marga, dan PT Telkom dengan menelan dana Rp 7 triliun.

Menurut Supandi, sarana rasportasi itu akan melintasi tepian Kalimalang, Bekasi atau sejajar dengan jalur tol Bekasi, Cawang, Kampung Melayu (Becakayu).

Jalur monorel dimulai dari Cawang membentang sampai Bulak Kapal, Bekasi Timur, Kota Bekasi. “Monorel ini ditargetkan bisa digunakan masyarakat Kota Bekasi pada 2018,” katanya.

Armada tersebut juga akan terkoneksi dengan moda transpotasi di Jakarta seperti bus Transjakarta yang akan memudahkan masyarakat menjangkau daerah di Jakarta.

Supandi menambahkan, untuk mendukung tahap pertama pengerjaan monorel, pihaknya akan membangun dua stasiun di Bekasi Barat dan Bekasi Timur.

Nantinya, stasiun itu akan dilengkapi dengan area parkir kendaraan pribadi masyarakat agar mereka beralih ke moda trasnportasi massal. “Kami masih menunggu perkembangan dari pemerintah pusat,” katanya.

(kompas)

115 Pengembang di Kabupeten Bogor Diverivikasi

13 October 2014   1 views

jalanBanyak pengembang nakal tak menyerahkan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Catatan di Dinas Tata Bangunan dan Permukiman (DTBP) Kabupaten Bogor, 155 developer tengah diverifikasi.

Kepala DTBP Kabupaten Bogor, Yani Hasan, menyebutkan ada 63 pengembang yang menyerahkan fasos-fasum. Ia meyakini petugas tetap mengejar pengembang yang nakal.

“Kita kejar terus! Kini 155 pengembang sedang diverifikasi dan 92 lainnya masih dalam tahap penyiapan dokumen adimintrasi untuk penyerahan fasos dan fasum,” ujarnya, Minggu (12/10).

Menurut Yani Hasan, verifikasi ulang dilakukan karena banyak siteplan perumahan yang berubah seiring bertambah luas lahan yang dikuasai pengembang. “Misal, semula pengembang hanya menguasai 50 hektar lahan, seiring rumah yang dibangun laku keras, lahannya bertambah 20 hektar. Ini mengubah siteplan karena titik pembatas, lahan buat fasos-fasum ikut berubah,” katanya.

Kendala lainya, minimnya dana perawatan setelah fasos-fasum diserahkan, sebab pemkab tak menyediakan anggaran biaya perawatannya. Tak heran, masalah ini menjadi seperti buah simalakama.
“Kalau tidak diserahkan, menimbulkan masalah, diserahkan, pemkab tak punya duit buat perawatan,” tandasnya.

Masalah-masalah ini, lanjutnya akan dibahas secara intern lalu dirapatkan dengan dinas terkait. “Bisa saja nanti kita minta anggaran khusus dari pengembang buat biaya perawatan fasos dan fasum tersebut,” ujarnya.

(poskota)

Tak Bisa Berenang, Bocah SD Ditemukan Tewas Tenggalam di Citarum

11 October 2014   0 views

karawangfixHandika (10), seorang bocah SD warga Desa Kalangsari, Rengasdengklok, Karawang, ditemukan tewas di Sungai Citarum. Handika diduga tenggelam saat bermain dengan temannya.

Saksi mata kejadian, Nandang (40), menuturkan peristiwa tersebut bermula ketika korban dan empat orang temannya bermain di Sungai Citarum, Jumat (10/10) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kondisi air saat kejadian tersebut terpantau tenang. Kedalaman sungai yang dijadikan wahana bermain bocah sekitar 2,5 sampai 3 meter.

“Teman-temannya pada lompat dari pinggir sungai dan bisa berenang, tapi korban pas kejadian ternyata enggak bisa berenang dan enggak muncul lagi,” kata Nandang saat dihubungi detikcom, Sabtu (11/10/2014).

Teman-teman korban yang panik langsung menepi dari sungai dan menceritakan kejadian tersebut kepada warga sekitar.

“Warga langsung meminta bantuan SAR dan Tagana untuk pencarian korban,” ujar Nandang.

Tim pencari langsung menyusuri sungai sore itu juga. Namun karena terkendala jarak pandang, tengah malam upaya evakuasi dihentikan.

“Dilanjutkan pencarian tadi pagi sekitar pukul 6, dan ditemukan sekitar pukul 10,” katanya.

Jasad anak dari pasangan Sanin dan Enung ini dimakamkan di tempat pemakaman umum sekitar.

(detik.com)

Stik Jangkrik? Cobalah ke Soreang

11 October 2014   4 views

jangkrikNur Haqi Priadi (25) sudah setahun ini dikenal sebagai penjual jangkrik. Biasanya, ia menjual jangkrik ke pasar untuk pakan burung. Namun, seiring dengan harga jual jangkrik yang tak menentu dan bahkan kurang diminati lagi, dia pun memutar otak.

“Harga jangkrik hidup Rp 30.000-Rp 45.000 per kilogram. Kalau lagi bagus, keuntungannya 100 persen. Namun, ya tidak selamanya berjalan mulus. Karenanya, saya kurang berminat menjual jangkrik dalam bentuk mentah,” ujar Haqi di Bandung, Jumat (10/10/2014).

Akhirnya, terlintas ide di dalam benaknya untuk mengolah jangkrik menjadi makanan jadi. Ia langsung mengambil jangkrik dan menggorengnya. Begitu matang, dia mencoba memakannya. “Saya geli untuk memakannya, tetapi saya beranikan diri… dan wow, rasanya enak dan gurih,” ucap Haqi.

Ia pun meminta sejumlah teman untuk mencobanya. Begitu mendapat tanggapan positif, ia semakin yakin untuk memasarkannya. Akan tetapi, ia kembali ragu karena tidak semua orang mau memakan jangkrik. Ia pun sempat mengurungkan niatnya karena alasan itu.

Suatu hari, muncul ide untuk mengolah jangkrik menjadi stick. Namun, karena tak pandai dalam urusan dapur, ia kerap direpotkan dengan adonan yang tidak pas. Hasil olahannya kadang keasinan atau kepahitan karena kebanyakan jangkrik.

“Dua bulan saya coba meracik adonan hingga menemukan rasa yang pas. Resepnya sendiri saya ambil di internet,” imbuh dia.

Sebelum memasarkan, Haqi menyampaikan ide tersebut kepada temannya di Komunitas Nalusur Peradaban Kabupaten Bandung. Dua belas orang mendukung dan sepakat patungan Rp 200.000 sebagai modal awal.

“Dari uang rempugan ini, kami mulai serius dan memberi label produk ini Stick Jangkrik 4N (Nalusur, Naluntik, Nalar, dan Nalipak; atau menelusuri, meneliti, memikirkan, dan mengetahui). Nama ini memiliki makna yang dalam,” ucap dia.

Kini, setelah dua bulan beroperasi, stick ini sudah membuahkan hasil positif dan dicari banyak orang. Mereka yang penasaran dengan cara pengolahannya bisa langsung datang ke pabrik stick jangkrik di Soreang, dekat kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung.

(tribunnews)

Mitra Kukar vs Persib 2-3, Curi Poin Sempurna Dari Tenggarong

11 October 2014   0 views

persibHasil pertandingan Mitra Kukar vs Persib Bandung berakhir dengan skor 2-3 dalam lanjutan babak 8 besar ISL 2014. Laga Persib vs Mitra Kukar ini digelar di Stadion Aji Imbut, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Jumat, tanggal 10 Oktober 2014, malam. Persib sukses mencuri poin sempurna dari kandang tim Naga Mekes.

Kedua tim langsung jual-beli serangan begitu laga dimulai. Persib mendapatkan peluang melalui tendangan bebas Firman Utina pada menit 7. Semenit berselang, gantian pemain Mitra Kukar, Anindito Wahyu Erminanto, yang mengancam gawang I Made Wirawan.

Pada menit 18, Persib membuka keunggulan atas tuan rumah. Adalah Makan Konate yang sukses memanfaatkan umpan silang dan dengan cantik membobol gawang Mitra Kukar. Skor 0-1 untuk tim Maung Bandung.

Tim tamu semakin menjauh 10 menit berselang. Kali ini, Atep yang membuktikan tajinya. Umpan tarik dari Supardi berhasil dimaksimalkan pemain bernomor jersey 7 itu untuk menambah keunggulan Persib. Skor 0-2, Mitra Kukar tertinggal dua gol.

Tuan rumah yang ogah malu di depan publik sendiri langsung menggenjot serangan massal. Hasilnya pun positif. Menit 33, Diego Michiels menjebol gawang I Made Wirawan untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Hasil ini bertahan hingga turun minum.

Babak kedua tensi tetap tinggi. Mitra Kukar langsung menggeber serangan. Namun, justru Persib yang sukses menambah keunggulan di menit 73. Berawal dari aksi Tantan yang lolos dari sergapan Diego Michiels, bola lepas dari tangkapan Dian Agus Prasetyo mampu dicocor dengan kepala oleh Ferdinand Sinaga. Skor 1-3 untuk Persib.

Mitra Kukar tetap garang meskipun tertinggal. Menit 77, tendangan bebas keras mendatar Erick Weeks Lewis menembus pagar hidup Persib dan tak mampu ditangkal oleh I Made Wirawan. Skor kembali berubah menjadi 2-3 dan menjadi hasil akhir laga ini untuk kemenangan tim tamu Persib.

(sidomi)

Proyek Tanggul Raksasa Bakal Gusur Ribuan Warga

11 October 2014   1 views

tanggulRibuan warga yang bermukim di pesisir pantai utara Jakarta bakal tergusur. Menyusul rencana Pemprov DKI dan pemerintah pusat membangun tanggul raksasa bertajuk National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono mengatakan, warga yang bermukim di pesisir pantai Jakarta tersebut sebagian besar berasal dari Cirebon. “Warga termasuk yang ada di tambak-tambak kami harus fasilitasi (relokas) termasuk di dekat tembok Samudra Indonesia itu juga ada. Lokasi itu sebenarnya tidak layak jadi tempat huni. Tinggal di atas laut begitu,” kata Heru, kemarin.

Pihaknya saat ini tengah mendata jumlah warga yang akan direlokasi. Selain itu juga melihat ketersediaan hunian yakni rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Dirinya memperkirakan jumlah rusunawa yang ada di Jakarta tidak mencukupi dengan banyaknya warga. “Kalau tunggu rusun kan lama. Makanya kami harus pikirkan. Menkoperekonomian harus bantu pikirkan itu juga dong,” ucapnya.

Dikatakan Heru, pihaknya hanya akan mengakomodir bagi warga yang memiliki KTP DKI. Sementara untuk yang ber-KTP luar DKI akan diserahkan kepada pemerintah pusat. “Kalau itu warganya tidak ber-KTP DKI, pemerintah pusat bantu. Kebanyakan juga tidak ber-KTP DKI. Ini mesti dipikirkan pemerintah pusat juga,” katanya..

Menurut Heru, warga yang bermukim di lokasi tersebut pernah ditertibkan pada tahun 2009-2010. Namun warga kembali menempati lahan tersebut karena daya tariknya bagi nelayan. “Saya sudah pernah tertibkan itu. Tapi muncul lagi karena mereka kan nelayan. Tinggal di situ, kerja juga di deket situ. Ya itu kebutuhan hakiki,” pungkasnya.

(poskota)

Jamaah Haji Kloter 1 Jawa Barat Tiba

11 October 2014   1 views

hajiSebanyak 450 jamaah haji Kelompok Terbang (Kloter) pertama  asal Jawa Barat, tiba di asrama haji debarkasi Jakarta-Bekasi, Jumat (10/10) siang. Jamaah dengan 444 orang ditambah 6 petugas ini tiba dari Bandara Halim Perdana Kusuma pukul 13:20 dengan pesawat Saudi Arabia SV 5402.

Husen Edi Junaedi, Ketua Kloter 1 asal Kabupaten Tasikmalaya ini, mengatakan jamaah yang dibawanya utuh dan sehat.  “Alhamdulillah semua sehat dan nampak ceria,” kata Husen.

Dari 450 jamaah haji pada Kloter 1 ini, puluhan orang tidak dapat berjalan dan membutuhkan kursi roda. “Pegal dan capek seharian di pesawat,” kata Hj. Wasini, 68, jamaah haji asal Kecamatan Cipatuja, Tasikmalaya, yang terpaksa duduk menunggu kursi roda milik debarkasi yang jumlahnya hanya enam.

Shobirin, Kabid Penerimaan jamaah pada Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Jawa Barat, mengakui hal itu. “Ini baru pertama nanti akan dievaluasi,” katanya, sambil mengatakan hal yang baru memang masih jadi masalah termasuk parkir dan tenaga lainnya.

Sementara itu seorang jamaah haji terpaksa dilarikan ke RSUD Kota Bekasi,  karena sakit.  Keluarga jamaah haji yang bertemu terlihat gembira setelah ditinggal selama 40 hari. “Alhamdulillah, ibu saya selamat,” kata Hamdan, warga Bekasi yang menjemput ibunya.

(poskota)

Festival Seni Budaya Pesisiran Digelar di Cirebon

10 October 2014   2 views

cirebon 1Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi membuka Festival Seni dan Budaya Pesisiran, dan Haul Sunan Gunung Jati ke-461, di Bangsal Pagelaran, Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (8/10/2014). Festival Seni Budaya yang diikuti lima provinsi itu akan berlangsung selama lima hari.

Sebelum pembukaan, rombongan Kemenparekraf, Kesultanan Kasepuhan, perwakilan lima provinsi, serta Pemerintah Daerah Kota Cirebon, diarak dengan genjring Cirebon dari dalam Keraton, ke Bangsal Pagelaran. Mereka disambut dua tarian khas Cirebon, pakung wati, dan Tari Topeng Kelana.

Dalam sambutannya, Sultan Sepuh ke XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, menyebutkan, Festival Seni Dan Budaya Pesisiran yang diikuti lima provinsi sudah dinanti sejak lama. Festival Seni Budaya digelar untuk terus meningkatkan nilai seni dan budaya di Nusantara.

“Kami berusaha, potensi seni dan budaya yang dimiliki, dijadikan sebagai inspirasi untuk membangun kesatuan bangsa, menciptakan ekonomi kreatif, dan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan inilah sebagai tujuan dari bangsa Indonesia ini,” kata Arief.
Di depan hadirin, Arief berharap kepada Kemenparekraf agar Festival Seni dan Budaya Pesisiran dapat dijadikan agenda tahunan.

Dirjen Ekonomi Kreatif Seni Dan Budaya Kemenparekraf, Ahmansyah, menyampaikan pemilihan Cirebon sebagai tuan rumah, lantaran Cirebon memiliki banyak keraton, dan kekayaan seni, budaya, dan juga peninggalan sejarah yang cukup banyak.

Selain itu, beberapa unsur dari 15 kategori ekonomi kreatif juga dimiliki Cirebon. “Jadi kalau wisatawan, datang ke Cirebon, tidak mencoba empal gentong, tahu gejrot, dan terasi khas Cirebon, dijamin, akan menyesal seumur hidup,” katanya disambut riuh hadirin.

Secara esensi, Cirebon sejak dulu menjadi pusat perdagangan, dan asimilasi berbagai macam kebudayaan. Maka dari itu, kekayaaan nilai sejarah di Cirebon, dapat dijadikan parameter dari daerah-daerah lainnya.  Persoalannya adalah, bagaimana meneruskan budaya-budaya ini pada generasi penerus.

cirebon 2
Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan menjadi bahan pembahasan saresehan Festival Seni Budaya Pesisiran. “Termasuk di dalamnya reinventarisasi untuk memberikan edukasi kepada seluruh pihak, bahwa Cirebon memiliki kekayaan budaya yang tinggi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmansyah menyetujui permintaaan Sultan Kasepuhan untuk menjadikan Festival Seni Budaa Pesisiran sebagai agenda tahunan. Bahkan, tahun mendatang diagendakan lebih dari lima provinsi yang akan turut meramaikan festival seni dan budaya pesisiran.

Festival seni dan Budaya Pesisiran berlangsung selama empat hari, 7–10 Oktober 2014, yang berlokasi di Keraton Kasepuhan Cirebon. Lima provinsi yakni Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, akan menampilkan kesenian, kebudayaan, dan kreatifitas lokal setempat.

Beberapa penampilan Festival Seni Budaya Pesisiran yang dijadwalkan antara lain, Samba Sunda (Jawa Barat), Tari Ngancak Balo (Jawa Tengah), Ngamen Lenggeran (Jawa Timur), Tari Pamanah Rasa Pandeglang (Banten), dan lainnya. Festival pun diisi dengan lomba-lomba tradisional daerah.

(kompas)

Realisasikan Rebo Nyunda, Disbudpar Susun Perwali

10 October 2014   1 views

reboDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, tengah menyusun Peraturan Walikota (Perwali) untuk merealisasikan Rebo Nyunda atau setiap hari Rabu mengenakan pakaian sunda dan berbahasa sunda.

Kepala Disbudpar Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan, sebelum menuju ke arah penyusunan Perwali yang realisasinya dilaksanakan mulai tahun 2015  mendatang, Disbudpar  akan mengusulkan surat kepada Walikota Bogor agar diterbitkan surat edaran melalui bagian organisasi Sekretariat Daerah Kota Bogor.

“Saat ini kami sedang mengumpulkan masukan dari para seniman dan budayawan serta pihak-pihak yang berkompeten dengan program Rebo Nyunda,” ujar Shahlan. Rencana pada Senin (13/10) mendatang akan ada pertemuan dengan para seniman dan budayawan Bogor guna meminta masukan tentang pakaian yang akan digunakan, apakah semuanya menggunakan baju kampret, celana pangsi dengan totopong, atau ada pakaian Sunda khusus seperti beskap bagi Walikota, Wakil Walikota dan pimpinan SKPD.

Sementara itu, salah seorang pemerhati budaya dan penggagas Rebo Nyunda,  Dadang  HP, mengaku gembira dengan kemajuan program Rebo Nyunda yang digagas berkenaan dengan Harkitnas di Lapangan Sempur beberapa waktu lalu.

“Ini langkah maju, apalagi ada rencana untuk dibuatkan Perwali. Setahu saya yang sudah Perwali adalah Kota Bandung, yang sudah Perda di Kabupaten Purwakarta. Bahkan beberapa waktu lalu program Nyunda inipun sudah diterapkan di Kabupaten Sukabumi namun setiap hari Jumat,”urai  Dadang.

Mengenai pakaian yang digunakan, dia berharap semua menggunakan baju kampret, pangsi dan totopong saja. Hanya mungkin warnanya yang agak berbeda bagi Walikota dan Wakilnya serta eselon 2 warna bajunya putih dengan celana hitam. Sedang bagi eselon di bawahnya bisa bagian atas  dan  bawahnya hitam-hitam.

“Kalau pakai stelan beskap takutnya malah sulit bergerak dan terlihat kaku. Juga dari dahulu Kerajaan Pajajaran egaliter tidak terlalu menonjolkan perbedaan antara raja dengan rakyatnya,”pungkas Dadang.

(bogornews)

« Previous PageNext Page »