Banjir Genangi 10 RW di Andir Baleendah

20 November 2014

banjir balaendahBanjir kembali menggenangi wilayah Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang. Air mulai menggenangi pemukiman warga pada Rabu (19/11) malam.

Di Kecamatan Dayeuhkolot banjir melanda dua RW di Kampung Leuwibandung, Desa Dayeuhkolot. Sedangkan di Kecamatan Bojongsoang menimpa Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang. Sementara di Kecamatan Baleendah banjir menggenangi Kampung Cieunteung, Kelurahan Baleendah dan Kelurahan Andir.

Di Kelurahan Andir terdapat 10 RW yang terendam. Empat RW diantaranya cukup parah terendam banjir, yakni RW 6, 7, 9 dan 13. Ketinggian air mulai dari 10 sentimeter hingga 1,5 meter. Akibatnya Jalan Andir-Rancamanyar tertutup. Yusron (55), warga Kampung Jembatan RT 2/9, Kelurahan Andir mengatakan, air datang menggenangi rumah warga sejak pukul 21.00. Telah dua hari banjir mulai menimpa Kelurahan Andir. Namun hari ini merupakan banjir yang cukup besar.

“Kalau kemarin belum besar. Cuma sebetis orang dewasa. Jalan Andir juga belum terendam. Cuma di gang saja banjirnya,” ujar Yusron,(http://jabar.tribunnews.com)

Pejalan Kaki Berebut Trotoar dengan Puluhan Pot Bunga di Jalan Patriot

17 November 2014

pot-di-trotoar-garutPara pejalan kaki kian dipersulit untuk berjalan di sepanjang trotoar di Jalan Patriot di kawasan Pemerintahan Kabupaten Garut. Hal ini disebabkan puluhan pot bunga yang ditempatkan berjejer di trotoar.

Pot bunga berwarna hitam ini memiliki corak ukiran naga dan memiliki cap DLHKP, kepanjangan dari Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Garut.

Warga sekitar Jalan Patriot, Kelurahan Sukagalih di Kecamatan Tarogongkidul, Wiwin mengatakan pot bunga tersebut ditempatkan sekitar dua minggu lalu. Penempatan pot tersebut dinilai kurang tepat.

“Soalnya di depan kantor-kantornya sudah ada taman juga. Ini ditambah potdi trotoar. Jadi makin sempit jalan buat pejalan kaki,” kata Wiwin, Senin (17/11).

Pohon di dalam pot tersebut merupakan pohon palem dengan daun yang bercabang keluar pot. Hal ini kian menyulitkan para pejalan kaki dan menyebabkan beberapa pejalan kaki berjalan di tengah jalan karena bahu jalan dipakai parkir mobil. (http://jabar.tribunnews.com)

Ini Temuan Unik di Gunung Padang, Rolling Stone

10 November 2014

Batu gunung padangTim peneliti Gunung Padang menemukan sebuah batu unik. Batu bulat itu ditemukan di kedalaman 10 meter. Tim peneliti masih mempelajari apa kegunaan batu yang dinamakan rolling stone itu.

“Batu itu pada bagian sekelilingnya berwarna keabu-abuan. Namun pada satu bagian pecah atau seperti terpangkas dan terlihatlah bagian dalamnya. Bagian dalam juga berbentuk bulat, sehingga seperti batu di dalam batu. Uniknya lagi, batu di bagian dalam tersebut dapat diputar-putar,” kata tim peneliti yang juga arkeolog UI, Ali Akbar, Senin (10/11/2014).

Tim peneliti dibantu personel TNI AD melakukan penggalian sejak tahun 2012 di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Banyak pengetahuan yang dihasilkan dari situs megalitikum Gunung Padang. Tidak sedikit pertanyaan yang belum terjawab. Seperti misalnya batu bulat yang ditemukan pada kedalaman 10 meter itu.

“Batu bagian dalam itu berwarna hitam mengkilat, seperti ada kristal yang membuatnya mengkilat. Sampai saat ini batuan tersebut belum dapat diidentifikasi. Sambil menunggu identifikasi, beberapa orang menyebutnya Rolling Stone. Ada juga yang menyebutnya mirip Hajarul Aswad,” jelas dia.

“Apa sesungguhnya itu, mari kita tunggu analisis terhadap batuan tersebut. Para peneliti juga membuka diri bagi semua ahli dan anak bangsa yang ingin berpartisipasi menyumbangkan pengetahuannya untuk mengidentifikasi batuan tersebut. Saatnya para ahli Indonesia bergabung di Gunung Padang. Kerja sama dan saling melengkapi tentu akan lebih bermanfaat untuk mengungkap peradaban agung di Situs Gunung Padang,” tutupnya.
(detik.com)

Anggaran Besar, Sampah Bertebar

4 November 2014

sampahPERSOALAN sampah di wilayah Kabupaten Bekasi lagi-lagi mendapat sorotan dari sejumlah kalangan. Meskipun ‘dihadiahi’ anggaran yang lumayan besar, namun pada praktiknya penanganan sampah malah terkesan jalan di tempat.
Bahkan, sang Wakil Bupati (Wabup) pun sempat menyampaikan kekhawatirannya kalau Kabupaten Bekasi akan masuk status darurat sampah dalam dua atau tiga tahun lagi, jika persoalan sampah tidak segera diatasi.

Yang lebih ironis, bagaikan pepatah semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak, Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (DKPPK) kerap mempertontonkan berbagai program penanganan sampah di sejumlah titik di wilayah Kabupaten bekasi, sementara sampah di lingkungan Pemkab Bekasi sendiri seperti kurang mendapat perhatian.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Daris, menyesalkan lemahnya kinerja instansi terkait dalam menyelesaikan persoalan sampah di wilayah Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi, kata Politisi Partai Gerindra tersebut, akan sulit meraih Piala Adipura jika persoalan sampah tidak segera menemukan solusi.

Kendala apapun seperti minimnya personel ataupun armada pengangkut sampah, menurut Daris, seharusnya disampaikan ke DPRD Kabupaten Bekasi. ’’Dengan anggaran yang ada, seharusnya instansi terkait dapat menyelesaikan persoalan sampah. Kalau kurang mobil beli, kalau kurang personel atau SDM ya disampaikan. Kalau dibilang SDM-nya kurang harusnya dicari SDM yang benar dan tepat. Apalagi dinas terkait sering studi banding lihat daerah yang lain,” tegasnya kepada Radar Bekasi.

Kepala DKPPK Kabupaten Bekasi, sambung pria berkumis ini, harus memiliki konsep kerja yang baik dan keinginan yang besar terkait penanggulangan sampah di Kabupaten Bekasi. Pengguna anggaran seharusnya mengajukan anggaran melalui DPRD, dan hal teknis seperti persoalan personel dan armada semestinya tidak menjadi masalah yang besar. ’’Nah dengan mengajukan anggaran harusnya sudah ada rancangan dan pengajuannya. Harusnya mudah dan tidak susah,” paparnya.

Diakuinya, Kabupaten Bekasi akan sulit untuk memperoleh Piala Adipura. Namun, kata dia, yang terpenting bukan hanya memperoleh Adipura, tetapi bagaimana akhirnya Kabupaten Bekasi ini dapat bersih. ’’Minimal bersih saja dulu, di pemda saja masih kotor,” katanya.

Saat ini, sambung dia, pihaknya tengah berusaha semaksimal mungkin untuk terus mengawasi kinerja SKPD. Supaya persoalan kebersihan dapat segera diselesaikan oleh Pemkab Bekasi. ’’Saya sedang membenahi semua pengguna anggaran yang ada di Kabupaten Bekasi. Kita akan sedikit maksimalkan kinerja SKPD, akan diperketat,” tandasnya.

Kepala DKPPK Kabupaten Bekasi, Dewi Tisnawati sendiri masih belum mengklarifikasi mengenai hal tersebut. Yang bersangkutan pun tidak membalas pesan singkat ataupun mengangkat telepon ketika dihubungi.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemadam Kebakaran (DKPPK), Dody Agus Suprianto, mengakui anggaran yang digelontorkan untuk dinasnya memang terbilang besar di tahun 2014 ini, namun kata dia anggaran tersebut sudah dialokasikan untuk sarana dan prasana dinasnya, mulai pembelian enam belas mobil operasional sampah, pembelian dua mobil tinja, motor bak sampah, hingga beberapa kegiatan lainnya yang memang menyerap anggaran.

Begitu juga dengan penataan TPA Burangkeng, sambung dia, akan dilakukan. Sebab selama ini keadannya sudah sangat semerawut dan tidak tertata dengan rapi. “Kita buat beberapa zonase, dan dari sini sampah yang ada dirapikan sehingga ada ruang untuk membuang sampah kembali,” terangnya.

Selain perapihan kata Dody, TPA Burangkeng juga akan dibuat jembatan timbang, untuk mengetahui sampah apa saja yang masuk ke TPA Burangkeng, begitu juga muatan yang ada di jembatan timbang ini akan diketahui.

“Nanti ada perapihan jalan lingkungan untuk masuk kezona baru yang sudah dirapikan, dan beberapa pembangunan lagi seperti pembuatan gapura dan kantor yang ada di dalam TPA Burangkeng, artinya semua anggaran yang ada akan dialokasikan, begitu juga pemagaran beton disekitaran TPA juga akan dilakukan dan pembuatan pupuk kompos,” terangnya.

Untuk tahun ini kata dia memang lebih memfokuskan kepada TPA Burangkeng. Sebab bila TPA tertata dengan rapi, maka persoalan sampah yang ada disekitar bisa terangkut. Disinggung untuk  Tempat pembuangan Sementara (TPS) yang memang diperlukan, Dody mengaku hal itu perlu tahapan yang sangat panjang perizinannya terutama kepada warga sekitar.

Sedangkan ditahun 2015 nanti, kata Dody, konsentrasi pihaknya akan mengarah pada persoalan sampah yang ada dilingkungan masyarakat.

“Bertahaplah untuk pengerjaannya, selesai satu baru mengerjakan yang lainnya, dan ini menjadi skala prioritas dalam bekerja,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bekasi, Rohim Mintareja, meminta DKPPK memperbanyak sosialisasi kepada masyarakat. Ia pun mengungkapkan anggaran untuk DKPPK sebesar Rp10 miliar setiap tahunnya selalu habis digunakan. ’’Anggarannya masih kurang. Aturannya Rp30 miliar,” ungkap warga Desa Sukaresmi, Cikarang Selatan ini.

Pemkab Bekasi, kata dia, baru menambah armada truk dan alat berat untuk penanganan kebersihan, sehingga tidak ada alasan jika instansi terkait mengeluhkan kurangnya sarana prasarana.

’’Kalau sarana prasarana selalu diberikan. Bidang Kebersihan makanya membuat rencana kerja ke depan. Apa yang dibutuhkan ke depannya. Jangan yang tidak penting malah dibeli, kalau kurang SDM ya tinggal diajukan saja,” paparnya.

Ia pun memperkirakan kemungkinan besar di tahun mendatang Kabupaten Bekasi akan mengalami status darurat sampah, karena saat ini masyarakat di perumahan sudah menjerit mengenai sampah yang telat diangkut oleh Bidang Kebersihan. Akhirnya warga pun memilih untuk membuang sampah sembarangan.

’’Sudah kesadaran masyarakat membuang sampah masih kurang, ditambah lagi dinasnya kurang kreatif dan tidak tepat dalam menggunakan anggaran, ya sudah persoalan sampah menjadi semakin kompleks,” tandasnya.

(gobekasi)

Sopir Truk Penabrak Gapura ‘Selamat Datang’ Sumedang Jadi Tersangka

21 October 2014

gapurasumedangPolisi menetapkan sopir truk, Dahlan Junaedi, sebagai tersangka pada insiden kecelakaan di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pria tersebut dianggap lalai mengemudikan truk sehingga menabrak gapura ‘Selamat Datang’ Sumedang.

“Status sopir jadi tersangka,” kata Kanit Lakalantas Polres Sumedang Ipda Sudirianto via pesan singkat, Selasa (21/10/2014).

Dahlan sempat menjalani pemeriksaan intensif di Mapolres Sumedang usai kecelakaan yang mengakibatkan gapura rusak berat. Penetapan status tersangka setelah polisi melaksanakan serangkaian penyelidikan berdasarkan alat bukti. Kasus ini ditangani Satlantas Polres Sumedang.

Akibat peristiwa itu Dahlan dijerat pasal berlapis. “Tersangka melanggar Pasal 310 ayat 1 dan Pasal 274 ayat 1 dan 2 Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” kata Sudirianto.

Pasal 310 ayat 1 menerangkan setiap orang mengemudikan kendaraan bermotor karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan kerusakan kendaraan atau barang. Pasal 274 ayat 1 perbuatan mengakibatkan kerusakan atau gangguan fungsi jalan, ayat 2 menerangkan perbuatan mengakibatkan gangguan pada fungsi perlengkapan jalan.
(detik.com)

Ada Mayat Wanita di Dalam Avanza, Warga Geger

20 October 2014

Penemuan mayat wanita di dalam bagasi mobil Toyota Avanza warna putih bernopol F 1641 KG, menggegerkan warga Kampung Cibogo, Desa mekargalih, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (19/10/2014).

Hasil pemeriksaan petugas dari Tim Identifikasi Polres Cianjur, yang datang ke lokasi setelah mendapat laporaan dari masyarakat, ditemukan sejumlah luka lebam akibat benda tumpul di sekujur tubuh mayat. Juga ditemukan, mulut wanita itu mengeluarkan darah.

“Awalnya kami curiga dengan mobil jenis minibus yang terparkir sejak Sabtu malam hingga siang menjelang di pinggir jalan desa itu. Beberapa orang warga dan aparat desa, sempat melihat bagian dalam mobil dan menemukan jasad wanita di bagian belakang mobil tersebut,” kata Apip saksi mata warga sekitar.

Mendapati hal tersebut, warga melaporkan temuan mayat dalam mobil tersebut kepada pihak berwajib. Petugas yang mendapat laporan langsung memasang garis polisi dan melakukan identifikasi.

Sebelumnya petugas terpaksa mencongkel kaca mobil yang terkunci dan melakukan pemeriksaan terhadap jasad. Bahkan petugas sempat membubarkan warga yang terus berbondong-bondong datang ke lokasi untuk menyaksikan temuan mayat wanita yang sengaja dibuang di lokasi guna menghilangkan jejak pelaku.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan olah TKP, jasad korban dibawa ke RSUD Cianjur, guna otopsi. Selanjutnya, kasus ini masih dalam pengembangan guna mengungkap pelaku. Kami mengamankan sejumlah surat-surat dari dalam mobil,” kata Kapolres Cianjur AKBP Dedy Kusuma Bakti.

Dia menjelaskan, temuan mayat tersebut berawal dari laporan warga yang curiga terhadap kendaraan yang terparkir sejak Sabtu malam di wilayah tersebut. Hingga akhirnya warga bersama aparat desa memastikan keberadaan kendaraan tersebut dan mendapati mayat wanita dengan sejumlah luka di sekujur tubuh.
(kompas.com)

Belasan Motor Berknalpot Bising Terjaring Razia di Bogor

16 October 2014

motord

motord Razia kendaraan digelar di Jalan Raya Pajajaran Kota Bogor. Belasan motor berknalpot bising diamankan. Pemotor mengaku tidak tahu jika knalpot jenis tersebut dilarang.

“Sudah 2 bulan pakai (knalpot bising), tidak pernah terjaring razia,” kata Robi, pemotor yang terjaring razia, Kamis (16/10/2014).

Apakah dia setuju knalpot bising dilarang? “Ya setuju saja, tapi kita kan nggak tahu kalau di sini (Bogor) dilarang,” kata warga Cilendek Bogor Barat ini.

Razia digelar selama 2 jam. Sebanyak 15 motor diamankan. Tak hanya motor berknalpot bising yang diamankan, tapi juga pemotor yang tidak memiliki surat-surat kendaraan dan melanggar lalin. Termasuk beberapa pelajar yang tidak menggunakan helm dan berboncengan tiga.

“Ini instruksi dari Dirlantas Polda Jabar, bahwa di Kota Bogor dilarang menggunakan knalpot bising atau di luar standar,” kata Kanit Patroli Satlantas Polres Bogor Kota, Iptu Subandi.

Motor berknalpot bising ke Polresta Bogor. Pemilik diwajibkan membawa knalpot standar saat mengambil.

Selain melakukan razia, Satlantas Polres Bogor Kota yang bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Kota Bogor, Dinas Lalulintas dan Angkuta Jalan (DLLAJ) Kota Bogor juga melakukan uji emisi terhadap kendaraan roda empat yang melintas di lokasi. Uji emisi dilakukan untuk mengendalikan polusi udara di Kota Bogor.

(detik.com)

115 Pengembang di Kabupeten Bogor Diverivikasi

13 October 2014

jalanBanyak pengembang nakal tak menyerahkan fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum). Catatan di Dinas Tata Bangunan dan Permukiman (DTBP) Kabupaten Bogor, 155 developer tengah diverifikasi.

Kepala DTBP Kabupaten Bogor, Yani Hasan, menyebutkan ada 63 pengembang yang menyerahkan fasos-fasum. Ia meyakini petugas tetap mengejar pengembang yang nakal.

“Kita kejar terus! Kini 155 pengembang sedang diverifikasi dan 92 lainnya masih dalam tahap penyiapan dokumen adimintrasi untuk penyerahan fasos dan fasum,” ujarnya, Minggu (12/10).

Menurut Yani Hasan, verifikasi ulang dilakukan karena banyak siteplan perumahan yang berubah seiring bertambah luas lahan yang dikuasai pengembang. “Misal, semula pengembang hanya menguasai 50 hektar lahan, seiring rumah yang dibangun laku keras, lahannya bertambah 20 hektar. Ini mengubah siteplan karena titik pembatas, lahan buat fasos-fasum ikut berubah,” katanya.

Kendala lainya, minimnya dana perawatan setelah fasos-fasum diserahkan, sebab pemkab tak menyediakan anggaran biaya perawatannya. Tak heran, masalah ini menjadi seperti buah simalakama.
“Kalau tidak diserahkan, menimbulkan masalah, diserahkan, pemkab tak punya duit buat perawatan,” tandasnya.

Masalah-masalah ini, lanjutnya akan dibahas secara intern lalu dirapatkan dengan dinas terkait. “Bisa saja nanti kita minta anggaran khusus dari pengembang buat biaya perawatan fasos dan fasum tersebut,” ujarnya.

(poskota)

Tak Bisa Berenang, Bocah SD Ditemukan Tewas Tenggalam di Citarum

11 October 2014

karawangfixHandika (10), seorang bocah SD warga Desa Kalangsari, Rengasdengklok, Karawang, ditemukan tewas di Sungai Citarum. Handika diduga tenggelam saat bermain dengan temannya.

Saksi mata kejadian, Nandang (40), menuturkan peristiwa tersebut bermula ketika korban dan empat orang temannya bermain di Sungai Citarum, Jumat (10/10) sekitar pukul 15.00 WIB.

Kondisi air saat kejadian tersebut terpantau tenang. Kedalaman sungai yang dijadikan wahana bermain bocah sekitar 2,5 sampai 3 meter.

“Teman-temannya pada lompat dari pinggir sungai dan bisa berenang, tapi korban pas kejadian ternyata enggak bisa berenang dan enggak muncul lagi,” kata Nandang saat dihubungi detikcom, Sabtu (11/10/2014).

Teman-teman korban yang panik langsung menepi dari sungai dan menceritakan kejadian tersebut kepada warga sekitar.

“Warga langsung meminta bantuan SAR dan Tagana untuk pencarian korban,” ujar Nandang.

Tim pencari langsung menyusuri sungai sore itu juga. Namun karena terkendala jarak pandang, tengah malam upaya evakuasi dihentikan.

“Dilanjutkan pencarian tadi pagi sekitar pukul 6, dan ditemukan sekitar pukul 10,” katanya.

Jasad anak dari pasangan Sanin dan Enung ini dimakamkan di tempat pemakaman umum sekitar.

(detik.com)

22 Pilkades di Kabupaten Bogor Terancam Batal

7 October 2014

pilkadesPemilihan kepala desa (pilkades) di 22 desa di 19 kecamatan di Kabupaten Bogor yang direncanakan pada 7 November terancam batal. Pasalnya selain rancangan Peraturan  Menteri Dalam Negeri (Permendgari)  baru yang mengatur pilkades belun disahkan juga persiapan tahapan pilkades juga mepet.

Kasubag Pemerintah Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pembanguan desa (BPMP) kabuapten Bogor  Evi Nurlatifa mengungkapkan, belum adanya kepastian Permendagri  terhadap perubahan UU No.6  Tahun 2014 tentang Desa dan Pilkades, maka akan mempengaruhi pelaksanaan pilkades di 22 desa pada 7 Nopember mendatang.

“Kami juga  was-was sebab sampai kini Permendagri itu yang menjadi acuan pilkades belum tuntas dibahas, sementara masa jabatan 22 Kades  itu bakal berakhir pada Nopember mendatang,” katanya, Senin.

Dia menyebutkan UU No.6  Tahun 204 disahkan pada Januari lalu, sedangkan Peraturan Pemerintah No.43 baru keluar Juni lalu. “Sesuai intruksi Kemendagri boleh saja pilkades menggunakan UU No.32  tahun 2004  PP No.72 Tahun 2005 dan Peraturan Daerah sebagai acuan. Hanya saja  waktu untuk tahapan pilkades sudah mepet ditambah tata cara yang menggunakan cara lama tergolong ribet termasuk anggaran  yang dikeluarkan buat pilkades,” jelasnya.

Sepanjang 2014 ini,  Pemkab Bogor telah melaksanan pilkades  di 63 desa di 32 kecamatan  pada 9 Maret lalu. “Kala itu kita masih menggunakan peraturan dan perundang-undangan lama sehingga tidak menemui masalah,” katanya.

(poskota)

Next Page »