web analytics

Bunga Edelweis Ciremai Berbunga Pada Lahan Bekas Galian Batu

13 July 2013   321 views

1207EdelweisKawasan lahan penuh batuan keropos miskin tanah bekas lokasi penambangan batu di Blok Sukageuri, Dusun Palutungan, Desa Cisantana, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, belakangan ini terungkap banyak ditumbuhi bunga edelweis. Bunga edelweis di lokasi tersebut diperkirakan satu jenis dengan edelweis jawa (javanese edelweiss/Anaphalis javanica) yang banyak terdapat di lereng puncak Gunung Ciremai, dan di sejumlah gunung tinggi lainnya di Pulau Jawa.

Lahan tempat ditemukannya tumbuhan edelweis itu, berada di bagian kaki Gunung Ciremai pada ketinggian sekitar 950 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Tumbuhan edelweis dalam kawasan lahan tanah Desa Cisantana itu, teramati Jumat (12/7/2013) jumlahnya mencapai ratusan.

Sebagian besar di antaranya masih kecil-kecil tumbuh pada sela-sela batuan keropos. Di beberapa lokasi terpisah, ada juga yang sudah tumbuh dewasa berketinggian puluhan centimeter, bahkan di antaranya ada yang sudah berbunga.

Ketua Komunitas Hijau Kab. Kuningan Avo Juhartono saat mengantar “PRLM” melihat keberadaan tumbuhan bunga langka tersebut, Jumat (12/7/2013), menyebutkan keberadaan edelweis di Sukageuri itu sebenarnya sudah sering terdengar disebut-sebut sejumlah warga sekitar.

“Akan tetapi, lokasi pastinya jarang ada yang mengetahui. Saya pun baru menemukan edelweis di sini beberapa pekan yang lalu,” ujar Avo yang sejak setahun terakhir aktif mendampingi masyarakat dan pemerintah Desa Cisantana, berupaya menghijaukan lahan bekas lokasi galian batu tersebut.

Keberadaan edelweis di lokasi tersebut, diharapkan Avo mendapat penelitian dari ahli tumbuhan, dan bisa terus dibudidayakan hingga bisa tumbuh subur di kawasan tersebut.

“Kalau memungkinkan, edelweis di sini sekalian dikembangbiakkan dan dibudidayakan. Supaya orang-orang yang penasaran ingin melihat tumbuhan bunga edelweis atau memiliki bunganya tidak ada lagi yang merusak edelweis di puncak Gunung Ciremai,” ujar Avo Juhartono yang juga aktivis lingkungan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Aktivitas Anak Rimba (Akar) Kuningan. (pikiran-rakyat)***

Lahan Pinggir Sungai Citamba Kuningan akan Ditata

11 July 2013   179 views

1107bangunan-citambaBagian aliran Sungai Citamba sekitar komplek Pasar Kepuh dan Pasar Baru, Kab. Kuningan direncanakan pemkab setempat akan mendapat penataan. Bagian Sungai Citamba yang kini dibelakangi deretan gedung kios kedua pasar itu, akan diubah menjadi alur sungai dihadapi atau di depan deretan bangunan.

Rencana penataan sungai tersebut dikemukakan Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kab. Kuningan H. Lili Suherli, kepada “PRLM” Rabu (10/7/13). “Selain itu, dalam penataan nanti kami juga akan menghentikan penyaluran buangan tinja baik dari MCK di komplek pasar maupun dari rumah-rumah penduduk sekitar ke Sungai Citamba,” ujar Lili Suherli.

Lili menerangkan, posisi alur bagian sungai sepanjang lebih kurang 1 kilo meter itu tidak diubah. Namun, yang akan di ubahnya adalah tata letak bangunan disertai penataan ruang lahan di pinggiran sungai tersebut.

“Untuk penataan itu, deretan bangunan kios di Pasar Kepuh dan Pasar Baru yang berada di pinggir Sungai Citamba, nanti akan dibongkar,” ujar Lili Suherli, seraya menyebutkan para pedagang atau pemilik kios tersebut oleh pihaknya akan diberi prioritas sebagai calon pengisi bangunan baru yang kini sedang dibangun di komplek Pasar Baru.

Tidak hanya itu, dalam konsep dan desainnya, penataan bagian sungai itu menurut Lili perlu disertai juga dengan pembebasan lahan dan bangunan milik masyarakat. Namun, sejauh ini Pemkab Kuningan belum memastikan waktu pelaksanaan penataan tersebut.

Lili Suherli dibenarkan Bupati Kuningan H. Aang Hamid Sugana, sebelumnya kepada “PR” menyebutkan penataan bagian sungai tersebut sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Penataan bangunan dan lahan di tepi aliran sungai tersebut beberapa tahun lalu bahkan telah diterapkan Pemkab Kuningan deretan pertokoan bagian barat perempatan pusat pertokoan Citamba.

Keberadaan aliran sungai dibelakangi bangunan itu, menurut Lili, selama ini telah menjadi salah satu penyebab banyak orang sembunyi-sembunyi membuang sampah ke sungai. “Kalau posisi sungainya dihadapi bangunan toko atau rumah apalagi lahan di sisi sungainya ditata sebagai taman seperti yang di sekitar pertigaan Citamba itu, orang akan malu membuang sampah ke sungai itu,” kata Lili.

Saat ditanya kapan rencana penataan itu akan dilaksanakan, Lili menyatakan untuk sementara ini pihaknya belum bisa menentukan waktunya. Dia memperkirakan, tahapan penataan tersebut paling cepat baru bisa diawali pihaknya setelah pembangunan Pasar Baru tuntas dan difungsikan sekitar tahun 2014.(pikiran-rakyat)***

Tembok Penahan Arus Anak Sungai Cisanggarung Kuningan Ambrol

1 February 2013   190 views

Bangunan tembok penahan gerusan air terhadap lahan permukiman warga Desa Mulyajaya, Kec. Cimahi, Kab. Kuningan di tepi anak Sungai Cisanggarung ambrol dihajar luapan arus air sungai tersebut. Akibatnya, beberapa rumah dan lahan permukiman penduduk di desa itu, kini kembali terancam tergusur gerusan arus sungai tersebut.

“Kalau tidak segera ditangani, saya memprediksi satu kali lagi terjadi luapan sungai saja, seluruh bangunan tembok penahan tebing (TPT) sepanjang 25 meter di sisi tekukan sungai itu akan habis,” ujar Kepala Desa Mulyajaya, Agus Priatna di kantor desa, Kamis (31/1/13).

Agus menyebutkan, bangunan TPT tersebut baru dibuat pada awal tahun 2012.

Agus Priatna dan Kepala Urusan Pembangunan Desa Mulyajaya Julius, menambahkan, sungai yang bermuara ke Sungai Cisanggarung itu, memiliki karakter selalu kering dalam musim kemarau. Sebaliknya pada musim hujan sering meluap dengan arus air kuat menerjang serta menggerus tanah tebing alur sungai hampir di setiap tekukan alurnya.

Malahan sejak beberapa tahun terakhir bagian alur sungai di sekitar lingkungan permukiman warga RT 05/01, di desanya itu secara berangsur-angsur telah beralih puluhan meter mengikis serta menyita lahan pekarangan rumah warga di lingkungan RT tersebut.

“Oleh karena itu, atas usulan kami, kecamatan, dan Pemkab Kuningan, pada awal tahun 2012 tebing tepi sungai yang sudah tersosok arus air itu ditanggulangi BBWS dengan membuat TPT sepanjang lebih kurang 25 meter,” kata Agus Priatna.

Namun, saat sungai itu meluap pada Minggu (27/1) awal pekan ini, arusnya menghajar serta menyosok tanah hingga mengakibatkan bagian hulu ujung TPT itu ambrol. Menyikapi masalah sungai tersebut, Agus Priatna menyatakan pihaknya telah meminta kepada pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung agar alur sungai di sekitar permukiman warga RT 5 tersebut, direlokasi ke alur semula disertai pembuatan bangunan penahan arus agar tidak kembali menyosok ke arah permukiman warganya. (A-91/A-88)***

Sumber : pikiran-rakyat

Kabupaten Konservasi Sebabkan Kuningan Berkabut

21 January 2013   270 views

Foto : PR

Foto : PR

Seringnya wilayah Kabupaten Kuningan berkabut dan berudara sejuk pada akhir-akhir ini, salah satu penyebabnya kawasan gundul di kaki Ciremai beberapa tahun lalu kini mulai menghijau setelah dilakukan penanaman pohon secara besar-besaran, termasuk dibuatkannya kebun raya seluas 171 Hektare di kaki Ciremai dan ditanami ribuan pohon.

Kabupaten Kuningan sudah menempatkan diri sebagai kabupaten konservasi dan menjadi pilot project di tingkat nasional, sehingga terus berupaya untuk menghijaukan setiap lahan kritis. “Pemulihan hutan serta lingkungan di Kuningan itu, sudah tentu mewujudkan iklim mikro yang sejuk dan nyaman,” tutur Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kuningan, Ukas Suharfaputra, MP, seusai mengikuti acara car free day, Minggu (20/1/13).

Ukas menjelaskan, tutupan lahan berupa hutan di Kabupaten Kuningan selama 5 tahun terakhir ini, meningkat drastis. Lahan rakyat mengalami penghutanan (aforestasi) sekitar 7.000 Hekatre. Kedepan pemulihan lingkungan di Kabupaten Kuningan akan lebih intensif lagi melalui program berbasis komuniti seperti pepeling (pengantin peduli lingkungan), siswa baru peduli lingkungan (seruling), kebun bibit rakyat, rehabilitasi hutan dan lahan serta pembuatan hutan kota yang diproyeksikan di setiap kecamatan.

“Melalui kerja bersama semua komponen, Kuningan dapat menjadi penyangga lingkungan terdepan di Jawa Barat bagian Timur,” kata Ukas.

Dia berpendapat, setiap kabupaten di Indonesia, idealnya memiliki kebun raya sehingga kelestarian lingkungan tetap bisa dijaga, polusi udara tidak tercemari dan setidaknya mampu mengurangi bahaya tanah longsor dan banjir yang bisa merugikan manusia. Kabupaten Kuningan sudah menempatkan diri sebagai kabupaten konservasi. Artinya, sekitar 45% luas lahan yang ada di Kabupaten Kuningan harus hijau. Sasaran ke depan, Kuningan bakal menjadi daerah penyedia udara bersih dan sejuk tanpa polusi, sehingga Kuningan harus secara konsisten menjadikan daerahnya sebagai konservasi.

Pada kesempatan itu, Ukas mengingatkan, memanfaatkan dan menghijaukan setiap jengkal tanah dalam tahun 2013, merupakan hal penting dan patut mendapat apresiasi dari segenap warga Kabupaten Kuningan mengingat masih terdapat sekitar 4.000 Hektare lahan yang ada kondisinya kritis dan bisa membahayakan, termasuk ancaman terjadinya bencana tanah longsor yang bias membahayakan warga sekitar.

Upaya-upaya pemulihan lingkungan telah dan sedang gencar dilaksanakan dengan kegiatan penanaman pohon di areal lahan kosong atau kurang produktif. Secara berlanjut program dan kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan juga bermaksud menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kegiatan serupa secara swadaya. “Sekarang ini sudah ada perubahan iklim yang menjadi fenomena alam, sehingga perlu upaya pelestarian lingkungan,” ujarnya. (A-164/A-108)***

Sumber : PR

61 Rumah Warga Dusun Bangbayang Terancam Longsor

16 December 2012   193 views

bangbayangSebanyak 61 rumah penduduk RT 11 dan 12 di lereng perbukitan Dusun Bangbayang, Desa Bungurberes, Kec. Cilebak, Kab. Kuningan, kini dalam kondisi terancam longsor. Pada lereng bukit bagian atas permukiman warga tersebut kini sudah diwarnai alur retakan membentuk tapal kuda sepajang lebih kurang 300 meter melingkupi area permukiman warga.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Kuningan H. Didi Kusdiana didampingi stafnya Sofyan, dan Kepala Desa Bungurberes Sudiana menyebutkan, alur retakan sepanjang itu terlihat mulai terbentuk sejak Jumat (14/2) pagi. “Posisi alur retakan ini berada pada bekas alur retakan yang terjadi pada tahun 2010,” ujar Sofyan, yang sempat menelusuri alur retakan tersebut bersama Kades Bungurberes dan tokoh masyarakat setempat, Minggu (16/12).

Alur retakan di atas permukiman warga dua RT tersebut, pada beberapa titik telah memisahkan permukaan tanah selebar puluhan centi meter hingga ada yang mencapai lebih dari 50 centi meter. Selain itu permukaan tanah di beberapa titik bagian bawah alur retakan itu sudah amblas sedalam lebih dari satu meter turun mengarah ke permukiman penduduk tersebut.

Menyikapi ancaman bencana longsor tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kab. Kuningan Hidayat, menyatakan pihaknya bersama Camat Cilebak dan pemerintah Desa Bungurberes, kini tengah melakukan tindakan antisipasi. “Di antaranya, menutup rapat lubang retakan disertai pembuatan saluran air supaya tidak ada aliran air masuk ke dalam retakan itu,” ujar Hidayat.

Para penghuni puluhan rumah di dua RT itu, kata Hidayat, juga telah telah diberi pengarahan serta disarankan pihaknya agar mengungsi sementara ke permukiman penduduk RT 9 dan 10 di sekitarnya yang dinilai aman dari ancaman longsor. Terutama pada saat-saat dan pasca turun hujan serta malam hari.

“Selain itu, kami bersama unsur Muspika Kec. Cilebak dan Pemerintah Desa Bungurberes, telah menyiagakan personel untuk terus memantau serta mengantisipasi perkembangan area terancam longsor itu,” kata H. Didi Kusdiana, seraya menambahkan untuk lebih amannya, permukiman warga dua RT di dusun itu direlokasi.

Sementara itu, hujan lebat yang hampir setiap hari mengguyur wilayah kab. Kuningan, pada akhir pekan kemarin juga telah mengakibatkan beberapa titik kejadian longsor menimpa ruas jalan. Bahkan menurut pantauan BPBD Kuningan, wilayah Kec. Cilebak pada hari Jumat akhir pekan kemarin sempat terisolasi ke ibu kota Kab. Kuningan. Pasalnya dua ruas jalan penghubung ibu kota Kab. Kuningan ke Cilebak, sempat terkubur beberapa titik longsor kecil di wilayah Kec. Ciwaru dan Subang.
sumber: pikiran-rakyat.com

BNN Kampanyekan Bahaya Narkoba lewat Konser Musik

18 November 2012   152 views

Foto:seputar-indonesia.com

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kuningan mengkampanyekan pencegahan dan pemberantasan narkoba di kalangan pemuda melalui konser musik di kampus Universitas Kuningan (Uniku),kemarin. Ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan memadati depan panggung sejak awal acara yang menampilkan band lokal, New Generation.

Kemeriahan semakin terasa saat band utama Souljah menggoyang penonton dengan musik reggae andalannya. Kepala BNN Kuningan Guruh Irawan Zulkarnaen mengatakan, Pagelaran Seni Budaya Kampus merupakan upaya mengkampanyekan bahaya penyalahgunaan narkoba kepada pelajar dan mahasiswa. Jaringan narkoba kerap memanfaatkan akses informasi dan komunikasi untuk bertransaksi narkoba dengan target para pelajar dan mahasiswa.

”Diharapkan akan menyadarkan mereka tentang bahaya narkoba, sehingga harus dijauhi. Selain itu juga untuk mengajak bersama-sama memerangi peredaran narkoba, karena bagaimana pun upaya pencegahan dan penanggulangan narkoba bukan hanya tanggung jawab BNN dan kepolisian melainkan juga seluruh masyarakat,” papar Guruh.

Menurutnya, masih banyak rencana program lain dalam upaya pencegahan narkoba seperti sosialisasi di pondok pesantren,sekolah,hingga masyarakat umum. ”Setiap tahun kami punya agenda rutin sosialisasi bahaya narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa serta masyarakat. Mudah-mudahan terealisasi demi tercapainya Indonesia Bebas Narkoba pada tahun 2015,”ujarnya. mohamad taufik

Areal Pertanian Sekitar Sungai Cijangkelok Kehilangan Sumber Air

15 October 2012   186 views

Foto:NURYAMAN/”PRLM”

Lahan areal persawahan dan ladang palawija di sekitar Sungai Cijangkelok di wilayah Kec. Cibingbin, sebagian besar kini sudah kehilangan sumber air. Sumur-sumur gali di tengah areal persawahan dan ladang yang dibuat setiap musim kemarau di sekitar sungai tersebut sudah kering kerontang.

Sementara, Sungai Cijangkelok yang bermuara ke pantai utara laut jawa itu, di sekitar wilayah Cibingbin sejak tiga pekan terakhir sudah tidak lagi diwarnai aliran air. Bahkan, titik-titik kubangan dan lubuk sumber air andalan petani pada musim kemarau di sungai tersebut saat ini sebagian besar sudah kering kerontang.

Akibatnya, lahan-lahan pertanian yang biasa mengandalkan air kubangan dan lubuk Sungai Cijangkelok di sejumlah desa wilayah kecamatan itu pun, kini kehilangan sumber air hingga tidak bisa diolah untuk tanaman pertanian.

Selain itu, dampak kemarau kali ini juga telah membuat sumur-sumur gali sumber air andalan kebutuhan rumah tangga penduduk Kec. Cibingbing di sejumlah desa sekitar sungai tersebut, kini banyak yang sudah kering kerontang. Sejumlah warga di Desa Dukuhbadag, di antarnya Ny. Sri (50) menyebutkan, sumur gali di rumahnya sudah dua bulan mengering sehingga terpaksa harus menyelang air dari sumur tetangga rumahnya.

Selain itu banyak juga warga di desa-desa sekitar Cijangkelok terpaksa memenuhi kebutuhan air jamban keluarganya dari kubangan-kubangan air tersisa di sungai tersebut. ”Untuk mencukupi kebutuhan air rumah tangga, terutama untuk mandi dan cuci, warga di desa kami sekarang banyak juga yang membuat sumur-sumur kecil di sungai seperti ini,” ujar Ny. Rusni (51) warga Dusun Wage, Desa dan Kec. Cibingbin, yang sedang mengambil air dari sumur kecil buatan warga di Sungai Cijangkelok sekitar dusunnya, Minggu (14/10/12) siang.

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan air minum dan masak warga yang sudah tidak memiliki sumber air bersih, terpaksa harus membeli air kemasan atau air bersih dari sumber air pedesaan. Namun, menurut warga beberapa desa di kecamatan tersebut, seperti di Desa Cibingbin, Dukuhbadag, Citenjo, dan Bantarpanjang, air untuk kebutuhan rumah tangga dan jamban keluarga sementara ini relatif masih cukup mudah diperoleh masyarakat.

Kecuali itu, air untuk keperluan olah tanam lahan pertanian di wilayah kecamatan itu, saat ini sudah benar-benar sangat sulit diperoleh petani. Kubangan-kubangan air di Sungai Cijangkelok yang setiap musim kemarau menjadi sumber air andalan lahan pertanian penduduk di kecamatan itu pun, sebagian besar sekarang sudah kering kerontang.

Sementara itu, beberapa wilayah kecamatan di Kab. Kuningan, termasuk di antaranya Kec. Cibingbin, dalam kurun waktu sepekan yang lalu sempat terguyur dua kali hujan lebat. Akan tetapi, hujan tersebut belum berpengaruh terhadap kondisi sumber air andalan para petani.(A-91/A-108)***

Sumber:pikiran-rakyat.com

Kematian 9 Warga Cibingbin Tergolong Kejadian Luar Biasa

17 September 2012   241 views

foto:pikiran-rakyat.com

Kematian 9 orang warga Kec. Cibingbin, Kab. Kuningan, akibat kecelakaan lalu lintas di Lampung Jumat pekan kemarin, dinilai Bupati Kuningan H. Aang Hamid Suganda, tergolong Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sangat memilukan. “Bapak (demikian Aang sambil mengusap dadanya dengan telapak tangan kanannya-red.), benar-benar merasa sangat terpukul atas meninggalnya warga Cibingbin dalam kecelakaan lalu lintas itu. Peristiwa ini menurut saya, kejadian luar biasa,” tutur Aang Hamid Suganda, sepulang melayat kepada keluarga 9 korban meninggal kasus kecelakaan tersebut di Kec. Cibingbin, Kuningan, Minggu (16/9) malam.

Pada Minggu (16/9) malam mulai sekitar pukul 18.30 WIB., hingga sekitar pukul 22.00 WIB., Aang Hamid Suganda disertai Dandim 0615 Kuningan Letnan Kolonel Kavaleri Sugeng Waskito Aji, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kab. Kuningan Hidayat Mumin, dan beberapa pejabat Pemkab Kuningan, datang ke Cibingbin. Bupati dan rombongan malam itu, berkunjung ke beberapa desa di kecamatan itu melayat dan sekaligus menyerahkan uang santunan duka cita kepada keluarga korban tewas serta korban luka dari kejadian itu.

Di samping itu, sebelumnya Pemkab Kuningan atas perintah Aang Hamid Suganda, juga telah memasilitasi dan membiayai penuh pemulangan dan pemulasaraan jenazah korban tewas tersebut. Bahkan, menurut Aang, Pemkab Kuningan juga akan membantu biayai pengobatan dan peratawan terhadap warga Kuningan korban luka dari kecelakaan lalu lintas tersebut.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 20 orang warga dari beberapa desa di Kec. Cibingbin Kuningan, berikut sopir dan kernet mobil mikrobus elf E 7585 Y pengangkutnya, berangkat untuk mencari nafkah di Provinsi Bengkulu, Pulau Sumatera. Namun, dalam perjalanan menuju provinsi tersebut, mobil pembawa rombongan calon kuli bangunan dari Cibingbin itu, pada Jumat (14/9) siang jatuh ke jurang sedalam lebih kurang 75 meter, di Jalan Lintas Barat sekitar KM 320, Kec. Lemong, Lampung Barat Lampung.

Akibat kecelakaan tersebut, 9 orang di antara mereka meninggal dunia, 4 luka berat, dan 7 orang mengalami luka-luka ringan. Delapan di antara korban tewas kecelakaan tersebut, diantarkan ambulans dari Bengkulu dan tiba di Rumah Sakit Umum Daerah “45 Kuningan, Sabtu (15/9) menjelang tengah malam. Sementara, satu korban tewas di antaranya dibawa serta dimakamkan keluarga anaknya di Jambi.(A-91/A-147)***

sumber:pikiran0rakyat.com

Kebakaran Hutan Ciremai-BTNGC Tutup Jalur Pendakian

7 September 2012   209 views

NURYAMAN/”PRLM”

Balai Taman NasionalGunungCiremai( BTNGC) Kabupaten Kuningan menutup semua jalur pendakian untuk umum ke Gunung Ciremai sejak kemarin.

Penutupan tersebut dampak dari kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Gunung Ciremai yang hingga saat ini masih terjadi. “Untuk sementara Gunung Ciremai ditutup untuk pendakian umum demi keselamatan para pendaki dan antisipasi kebakaran lebih meluas akibat pendaki yang ceroboh,” kata Kasatpolhut BTNGC Mufrizal, kemarin. Rizal mengungkapkan, surat larangan pendakian tersebut kini tinggal menunggu pengesahan dari Kepala BTNGC yang kini sedang rapat di Jakarta.

Meski demikian, larangan mendaki mulai disosialisasikan kepada seluruh petugas jaga pos pendakian agar tidak mengizinkan pendakian hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Kebakaran hutan Gunung Ciremai masih terjadi.Bahkan, cakupan kebakaran ini semakin meluas hingga menjangkau Blok Situmpuk yang masuk dalam wilayah Kabupaten Majalengka.Tim pemadam kebakaran yang terdiri dari Masyarakat Peduli Api (MPA) dan para simpatisan dari Pos Sadarehe, Majaelngka, sudah bergerak untuk mencegah kebakaran lebih luas.

“Kini jumlah kawasan hutan yang terbakar hingga mencapai 23 blok,sudah masuk ke wilayah Majalengka. Tiga blok baru yaitu Blok Tunjung Putih, Situmpuk, dan Blok Baru Suwita masih dalam upaya pemadaman tim kami,”kata Mufrizal. Mengenai jumlah total luas areal hutan yang terbakar,Rizal mengaku belum bisa menyebutkan karena kebakaran masih terus meluas. Pihaknya baru bisa menghitung keseluruhan lahan yang terbakar setelah api benar-benar dipastikan padam, kemudian baru bisa diukur dengan menggunakan alat GPS.

Sementara itu, Penjaga Pos Pendakian jalur Linggarjati Encup mengaku, hingga kemarin pihaknya belum mendapat pemberitahuan tentang larangan pendakiandariBTNGCsehingga jalur tersebut masih dibuka. mohamad taufik.

Sumber : www.seputar-indonesia.com

Kebakaran Hutan Ciremai-Api Menjalar hingga Puncak Gunung

6 September 2012   228 views

ilustrasi_kebakaran hutan

Kebakaran hutan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Kabupaten Kuningan hingga kemarin belum bisa dipadamkan.

Kondisinya terus meluas hingga menjangkau kawasan yang lebih tinggi. Kasi Pengelolaan TNGC Wilayah I Mokh Ridwan mengungkapkan, kebakaran kini mulai menjangkau kawasan hutan yang berada di ketinggian 1.800 Mdpl.Kawasan tersebut merupakan daerah hutan alam yang ditumbuhi pepohonan besar dan dihuni satwa khas Gunung Ciremai. “Untuk mengantisipasinya, kami telah memberangkatkan dua tim yang terdiri dari 15 orang yang terdiri dari anggota MPA, petugas TNGC dan relawan dari organisasi pecinta alam untuk menginap di sana dan melakukan tindakan pencegahan,” kata Ridwan,kemarin.

Mereka akan segera membuat sekat bakar di daerah yang berbatasan dengan hutan alam dengan maksud api tidak sampai menjangkau ke sana.Selain itu,mereka akan berjaga-jaga siang dan malam dengan perbekalan yang memadai hingga api dipastikan aman. Ridwan mengungkapkan, kebakaran hutan Ciremai kini telah menjangkau 20 blok dari sebelumnya hanya 11 blok saja. Namun sebagian besar kawasan tersebut sudah padam dan kini masih tersisa empat blok yang masih menyala dan sedang dalam upaya pemadaman.

“Yang masih menyala di Blok Cipari; Cikole; Gunung Dulang; dan Karang Dinding.Kami telah berkoordinasi dengan petugas dari Majalengka, karena api di Blok Cipari sudah mengarah ke sana,”kata Ridwan. Dia mengakui,proses pemadaman kebakaran kali ini tergolongsulitkarenakondisialangalang yang teramat kering ditambahanginkencangmembuat api mudah membesar.Upaya pemadaman pun masih menggunakan metode tradisional yaitu menggunakan sistem sekat bakar dan memadamkan dengan batang pohon basah dan gedebongpisang.

“ Tindakanutama yang kami lakukan adalah pengamanan daerah yang berbatasan dengan lahan milik warga dan hutan alam.Ini untuk mencegah kerugian yang lebih besar,” kata Ridwan. Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan Hidayat memastikan pihaknya telahmelakukankoordinasi dengan instansi terkait seperti Dinas Kehutanan dan Perkebunan, TNGC,Pol PP dan Dinsosnaker untuk menangani kebakaran tersebut. mohamad taufik.

Sumber : www.seputar-indonesia.com

Next Page »