KEN Klaim Temukan Cadangan Migas Baru Sebesar 5,2 Miliar Barrel

7 October 2015

minyakKomite Eksplorasi Nasional (KEN), melalui ketuanya Andang Bachtiar, mengungkapkan telah mengidentifikasi potensi penambahan cadangan minyak dan gas nasional sebesar 5,2 miliar barrel minyak ekuivalen, setara dengan 2,7 miliar barrel minyak dan 14 TCF gas.

Potensi ini diperoleh dari 108 struktur sumur-sumur penemuan migas yang sudah terbukti berisi migas setelah lewat serangkaian pengujian. “Beberapa di antaranya ada yang sekitar 40-50 juta barrel. Juga ada yang 100 juta barrel. Contoh, di sebelah timur Indonesia ada beberapa. Kemudian di Blok Kasuri saja ada 1-3 TCF,” kata Andang di sela konvensi dan ekshibisi empat asosiasi migas seluruh Indonesia yang berlangsung di Balikpapan, Selasa (6/10/2015).

Temuan-temuan itu, kata Andang, belum bisa dimasukkan dalam struktur cadangan migas nasional. Pasalnya, banyak kendala masih dihadapi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). “Kami masih mendata masalah-masalah yang menghambat realisasi menjadi cadangan nasional ini,” kata Andang.

Pemerintah membentuk KEN pada 12 Juni 2015 lalu. Empat bulan berjalan, KEN mengemban mandat untuk meningkatkan Reserve Replacement Ratio (RRR) lebih dari 75 persen dalam lima tahun dengan menemukan cadangan migas baru. Selain itu, KEN juga ditugaskan mempercepat proses penemuan cadangan migas yang semula 6-10 tahun menjadi 3-5 tahun sejak blok award sampai discovery.

Andang mengklaim, selain temuan cadangan di 108 struktur dari sumur-sumur penemuan migas, juga terdapat banyak eksplorasi yang dikerjakan KKKS yang diyakini memiliki potensi temuan migas di dalamnya. Sejumlah 16,6 miliar minyak ekuivalen dari 120 struktur telah dieksplorasi. “Struktur ini tidak diprioritaskan KKKS yang bersangkutan untuk dieksplorasi lebih lanjut,” kata Andang.

“Dalam 1-4 tahun ke depan, masalah-masalah itu harus bisa kita atasi bersama pemerintah. Itu akan memberi manfaat ditemukannya cadangan-cadangan baru migas,” kata Andang.

Rumitnya perizinan di hulu menjadi salah satu dari hal yang diperkirakan menghalangi. Kendala itu kerap memerlukan proses waktu lama dan biaya besar. KEN terus mendesak terciptanya rasionalisasi izin.

Direktur Pembinaan Hulu Migas Joko Siswanto mengatakan, pemerintah telah melakukan penyederhanaan izin dari lebih dari 100 izin menjadi 42 izin. “Sekarang tinggal 42 izin dan satu pintu. Misal, kewajiban menggunakan LC, sekarang sudah dipangkas. Ini yang terbaru dipangkas pada September lalu,” kata Joko.

Andang dan Joko hadir di konvensi dan ekshibisi dalam pertemuan yang dinamai Joint Convention 2015. Konvensi ini diselenggarakan oleh Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Migas Indonesia (IAFMI), dan Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) yang berlangsung di Balikpapan pada 5-8 Oktober 2015.

Adapun pihak yang memenuhi konvensi yaitu sekitar 500 peserta dari akademisi dan profesional berbagai daerah di Indonesia. Konvensi dikemas dalam panel diskusi dengan panelis seperti Kementerian ESDM, KEN, SKK Migas, serta para ahli geologi dan produksi migas dari seluruh Indonesia.

(Kompas)

Ratusan Peternak Ikan Gulung Tikar

19 September 2015

lelePara peternak ikan di Kampung Nangela, Kelurahan Baros, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi, terancam gulung tikar. Aktivitas peternak terhenti sejak tiga bulan terakhir ini. Seiring memasuki musim kemarau, mereka mengaku merugi hampir ratusan juta rupiah.
Mereka memilih mengeringkan kolam-kolam ikan seiring pasokan air semakin berkurang. Bahkan ada sejumlah kolam ikan milik puluhan peternak kini kering kerontang tidak terairi. “Kami sudah lama tidak beternak ikan lagi alias bangkrut. Mudah-mudahan tidak lama lagi sumber mata air kembali terairi,” kata salah seorang peternak di Kampung Nanggela, Junaedi, kemarin. “Karena sangat tergantung pada sumber mata air, maka aktivitas warga Nanggela kini terhenti,” tegasnya.
Menurut Junaedi, puluhan sumber mata air yang berada tidak jauh pemukiman dan kolam warga kering kerontang. Mata air yang selama ini menjadi salah satu sumber aktivitas peternak ikan kering kerontang.
Selain pasokan dari sumber mata air kini kering kerontang, kata Junaedi, warga mendesak agar Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi untuk segera memperbaiki Daerah Aliran Sungai (DAS). Karena hampir sebagian besar DAS rusak berat karena tidak terpelihar. “Selain sungai kering, DAS yang ada disekitar pemukiman warga rusak berat karena tidak terpelihara,” katanya.

(Metropolitan.id)

Aramco Siap Masuk Pasar Indonesia, Pertamina Ketar-ketir

16 September 2015

kilang-minyak-ilustrasiMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyatakan perusahaan minyak Saudi Arabian Oil Company (Aramco) berminat berinvestasi di Indonesia.

Konkretnya Aramco ingin membidik embangun kilang, sekaligus storage dan secara langsung mempunyai distribusi di Indonesia.

Perusahaan milik pemerintah Saudi Arabia dikabarkan siap menggelontorkan 10 miliar dollar AS untuk membangun bisnis di Indonesia.

“Ada beberapa isu yang belum confirm misalnya soal skema antara Aramco dengan Pertamina. Kita harapannya di samping memang menjamin pasokan crude, juga mereka investasi,” tandasnya.

Pemerintah Arab Saudi berharap Aramco bisa masuk ke hilir, ke marketing dan distribusi.

Namun, Pertamina belum sepenuhnya sepakat, sementara secara regulasi dan secara arah pemerintah juga, Indonesia tidak membuka lebih lebar market untuk hilir. (jaringnews.com)

Beras dan Rokok Kretek Filter Penyebab Kenaikan Garis Kemiskinan

16 September 2015

beras-bulogKepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan kenaikan jumlah kemiskinan dipengaruhi oleh Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan ini merupakan suatu batas yang digunakan untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin.

Dia mengatakan komoditi makanan berkontribusi besar terhadap kenaikan Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan dari makanan menyumbang sebesar 73,23 persen terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2015.

“Pada Maret 2015, komoditas makanan memberikan sumbangan terbesar pada Garis Kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya sama, seperti beras dan rokok kretek filter,” ujar dia di Kantor BPS, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2015).

Dia menjelaskan komoditas beras memberikan sumbangan pada kenaikan Garis Kemiskinan sebesar 23,49 persen di perkotaan dan 32,88 persen di pedesaan. Sedangkan rokok kretek filter menyumbang 8,24 persen di perkotaan, dan 7,07 persen di pedesaan terhadap kenaikan Garis Kemiskinan.

“Komoditas lain yang juga memberikan sumbangan besar terhadap kenaikan Garis Kemiskinan adalah telur ayam ras, daging ayam ras, mi instan, gula pasir, roti manis, tempe, tahu dan kopi,” tambahnya.

Sementara komoditi bukan makanan yang memberikan sumbangan besar adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi. Serta angkutan yang memberi sumbangan besar di perkotaan dan kayu bakar yang memberi sumbangan besar di pedesaan.

Sebagai informasi, pada periode Maret 2014 hingga Maret 2015, Garis Kemiskinan naik sebesar 9,26 persen, yaitu dari Rp 302,735 per kapita per bulan pada Maret 2014 menjadi Rp 330,776 per kapita per bulan pada Maret 2015.(metrotvnews.com)

Pertamax Batal Naik, Perintah Langsung dari Dirut Pertamina

15 May 2015

spbu3aPT Pertamina (Persero) mendadak membatalkan kenaikan harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Dex dua jam sebelum diberlakukan. Hal ini kabarnya merupakan perintah langsung dari Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

“Kenaikan harga Pertamax mendadak dibatalkan. Saya dapat informasi, itu perintah langsung dari Dirut Pertamina,” kata Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi kepada detikFinance, Jumat (15/5/2015).

Eri mengakui, pada Kamis pagi (14/5/2015) seluruh pengusaha SPBU sudah diberikan surat keputusan kenaikan harga Pertamax. Namun, mendadak dibatalkan pada malam harinya.

“Kita sudah terima surat Kamis pagi dari Pertamina kalau Pertamax cs naik. Tapi, malam harinya 22.30 WIB kita dapat pemberitahuan singkat dari Pertamina. “Pak Eri harga BBK (bahan bakar khusus) ditunda pelaksanaannya, sehingga besok harga tetap tidak berubah, tolong bantu broadcast ke teman-teman SPBU. Tiba-tiba saja, katanya perintah Dirut,” ungkapnya.

Eri mengungkapkan, seingatnya penundaan kenaikan harga pertamax mendadak baru kali ini dialaminya, pasalnya naik-turunnya harga Pertamax merupakan hal yang biasa karena merupakan bahan bakar non subsidi.

“Seingat saya ini yang pertama kali terjadi. Pertamax ini kan bahan bakar non subsidi, harganya sesuai harga pasar yakni MOPS (Mean of Platts Singapore) dan kurs rupiah terhadap dolar,” tutup Eri.

Sebelumnya, Pertamina berencana menaikkan harga Pertamax jadi Rp 9.600/liter.

(detik.com)

Susi: Kelapa Sawit Terancam Diembargo Uni Eropa, “Seafood” Pun Sama..

31 March 2015

susiMenteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti kembali mengungkapkan kekhawatiran hasil perikanan Indonesia diboikot oleh dunia Internasional karena isu perbudakan. Hal itu kata dia sama persis dengan kasus embargo minyak kepala sawit Indonesia di pasar Eropa.

“Bapak ibu sudah dengar bahwa kelapa sawit sudah terancam untuk diembargo, untuk diboikot, hanya karena gajah mati, dan kebakaran hutan yang terus-menerus terjadi di Indonesia. Seafood pun sama, Uni Eropa udah semua berkomitmen akan tracebility. Amerika, 2 minggu yang lalu pun sudah bicara yang sama,” ujar Susi di Jakarta, Senin (30/3/2015).

Menurut Susi, saat ini semua pihak terkait di sektor perikanan harus bersama-sama menangkal dan membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia merupakan negara yang tak merestui praktik perbudakan. Apalagi hal tersebut terjadi di wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, dia meminta penegak hukum untuk segera bergerak membasmi praktik-praktik perbudakan tersebut. “Jadi kalau kita masih ragu-ragu menindak kapal-kapal asing atau kapal eks asing atau kapal yang langsung asing. Ini kesalahan besar, saya tidak mau ujungnya kita dianggap merestui perbudakan terjadi di illegal fishing yang dihukum produk seafood Indonesia,” kata dia.

Informasi perbudakan yang dilakukan PT Pusaka Benjina Resources diketahui Susi setelah membaca laporan investigasi Associated Press (AP). Dalam laporan yang dimuat oleh AP.org dengan judul “AP Investigation: Are slaves catching the fish you buy?” itu menuliskan adanya pemaksaan kerja selama 22 jam per hari tanpa hari libur kepada ABK di Kapal milik PT Pusaka Benjina Resources.

Bahkan, AP juga mengungkapkan para pekerja paksa yang banyak berasal dari Myanmar tersebut sampai harus mengonsumsi air kotor untuk minum. Hasil tangkapan ikan perusahaan tersebut sampai diekspor ke Amerika Serikat dan disalurkan ke toko retail besar di Amerika Serikat yaitu Wal Mart.

(Kompas)

Bulog: Stok Beras di Jawa Barat Aman

24 February 2015

berasKepala Divre Bulog Jabar Alif Affandi mengatakan stok beras di Jawa Barat, aman.

“Stok beras kita (Jabar) aman, stok beras kita sampai saat ini masih ada cukup untuk tiga bulan kedepan. Stok yang ada di Bandung saja ada sekitar 15 ribu ton, itu cukup,” kata Alif di Bandung, Senin, (23/2/2015).

Alif mengatakan, stok yang saat ini tersedia di Jabar ada 98 ribu ton beras. Sementara, kebutuhan Jabar mencapai 39 ribu ton. “Jadi, masih cukup untuk tiga bulan kedepan,” katanya.

DIa mengklaim, stok beras di Jawa Barat akan semakin aman, seiring dengan masa panen yang akan segera tiba. Disebutkan, daerah di Jawa Barat yang akan panen raya pada bulan mendatang, yakni, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang.

“Karena itu kan daerah-daerah panen kita, jadi Insya Allah stok kita akan berlipat,” katanya.

Alif mengatakan, pihaknya akan melakukan geser stok dari tiga wilayah itu ke wilayah yang tidak banyak panen, seperti ke Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur dan Kota Bandung. “Kita geser stok dari pantura ke daerah yang tidak panen banyak, seperti ke Bandung, Ciamis dan Cianjur,” katanya.

Jawa Barat menargetkan pada tahun ini bisa menyerap 400.000 ton beras. Berdasarkan pemantauan ke lahan-lahan sawah, padi yang tumbuh sangat bagus. “Dan kami sudah siap menampung,” pungkasnya.

(Kompas)

“Kalau Tak Bangun Smelter di Papua, Silakan Keluar dari Papua!”

30 January 2015

papuaGubernur Papua Lukas Enembe memimpin seluruh Bupati se-Papua bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2015) malam.

Kedatangannya dan seluruh Bupati menolak PT Freeport Indonesia membangun pabrik pengolahan atau smelter emas dan tembaga di luar Papua, yakni di Gresik.

“Semua elemen di Papua menolak smalter dibangun di Gresik. Papua ini bagian dari NKRI. Saya dampingi bupati-bupati di Papua bertemu presiden. Kita sepakat menolak smalter dibangun di Gresik! Dasarnya apa?” ujar Lukas usai bertemu Jokowi.

Gubernur Papua geram dengan sikap PT Freeport yang dinilainya aneh. “Kalau tak membangun di Papua, silakan keluar dari Papua. Seluruh SDA ada di Papua, hutan, ikan, tambang, semuanya untuk kesejahteraan rakyat Papua. Jadi hukumnya wajib bangun (smelter) di Papua,” ancamnya.

Dia mengingatkan semua industri harus dibangun di Papua agar terjadi pemerataan ekonomi. Soalnya kalau tidak demikian, imbuh Lukas, rakyat Papua akan tetap miskin. Terkait tuntutan tersebut, kata dia, Jokowi sangat setuju smelter dibangun di Papua, bukan di luar wilayah tersebut, yakni di Gresik.

“Kami katakan, kalau tak mau silakan keluar dari Papua,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat dengan PT Freeport Indonesia untuk membahas wacana renegosiasi kontrak dan pembangunan fasilitas peleburan serta pemurnian mineral (smelter).

Dalam rapat tersebut, anggota Dewan mencecar manajemen Freeport mengenai pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur.

Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai NasDem, Kurtubi, mengatakan tidak setuju jika smelter Freeport dibangun di Gresik. “Usaha mineral yang baik adalah yang terintegrasi. Kami meminta smelter dibangun di Papua,” ujarnya, Selasa (27/1/2015).

Kurtubi juga menganggap penandatanganan nota kesepahaman pemakaian lahan PT Petrokimia oleh Freeport terburu-buru. Bahkan belakangan diketahui, Freeport belum mengajukan izin ke Pemerintah Kabupaten Gresik.

Ramson Siagian dari Fraksi Partai Gerindra menanyai manajemen Freeport seputar perizinan smelter. Freeport diketahui belum memiliki izin apa pun yang berkaitan dengan proyek smelter.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoedin lebih banyak diam. “Kalau semua izin, belum. Ya jelas, masih awal, mending dipindah pembangunannya ke Papua, biar menguntungkan masyarakat sana,” ujar Ramson.

Sebelumnya. Chairman Board of Director Freeport McMoran Inc James R. Moffett mengklaim smelter di Gresik akan menjadi yang terbesar di dunia. Dia menyatakan lahan smelter seluas 80 hektare milik PT Petrokimia Gresik sudah berstatus sewa.

(tribunnews)

TNI AL Ledakkan Kapal Ber-ABK Thailand

22 December 2014

kapalKapal-kapal pencuri asing kini harus berpikir seribu kali jika ingin mencuri ikan (melakukan illegal fishing) di perairan Indonesia. Selain diburu dan ditembak jika melarikan diri, kapal yang tertangkap mendapat hukuman tak kalah tegas, yakni diledakkan dan ditenggelamkan.

Sanksi itu sekali lagi terbukti bukan gertak sambal. Ambon Ekspres (Jawa Pos Group) melaporkan, setelah lebih dari dua pekan berada dalam pengawasan Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) IX Ambon, akhirnya dua kapal yang melakukan illegal fishing berbendera Papua Nugini diledakkan.

Dua kapal tersebut bernama kapal mesin (KM) Century 4 dan KM Century 7.

Dua kapal itu ditangkap KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 di Laut Arafura bersama enam kapal lainnya pada 9 Desember 2014. Proses hukum hanya sembilan hari, pada 18 Desember, Pengadilan Negeri Ambon mengeluarkan penetapan kewenangan kepada Lantamal IX Ambon untuk memusnahkan dan menenggelamkan dua kapal tersebut. Kedua kapal dimusnahkan dengan cara diledakkan di perairan Teluk Ambon, sekitar 2 mil dari garis pantai Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, dengan kedalaman 500 meter dari permukaan laut, kemarin (21/12).

Berdasar pantauan Ambon Ekspres di lapangan, sebelum diledakkan, kedua kapal ditarik dengan dua kapal landen milik PT Pelindo dari Pelabuhan Lantamal IX dengan keadaan kosong tanpa muatan, anak buah kapal (ABK), dan BBM. Dua kapal dengan warna hijau muda bergaris biru di lambungnya itu tiba di lokasi peledakan sekitar pukul 09.00 WIT dengan posisi menghadap ke timur. Di kanan dan kiri kapal terlihat tiga buah perahu karet Pasukan Katak berputar-putar memeriksa kedua kapal. Sebuah pesawat jenis Hercules juga tampak memantau peledakan dari udara. Pemandangan itu berlangsung lebih dari 30 menit.

Pukul 10.11 WIT perahu karet Pasukan Katak dan kapal landen mulai menjauh dari kedua kapal. Asap mulai terlihat mengepul dari salah satu ruangan kapal. Seketika terjadi kebakaran hebat pada badan kapal. Kondisi tersebut juga terjadi pada kapal kedua yang jaraknya hanya beberapa meter. Akibatnya, asap hitam pekat membubung tinggi.

Tidak berselang lama, terdengar dentuman keras dua kali. Terlihat bola api besar membubung di atas kedua kapal. Serpihan badan kapal semburat ke udara hingga radius puluhan meter. Kedua kapal langsung luluh lantak dan perlahan tenggelam. Dari pantauan di desa sekitar lokasi peledakan, kerasnya ledakan membuat warga di tiga dusun kaget.

Penenggelaman KM Century 4 yang memiliki bobot 200 gross tonnage (GT) dan KM Century 7 dengan bobot 250 GT kemarin dipantau langsung Panglima Komando Armada Kawasan Timur Indonesia Laksamana Muda Arie Sembiring dan sejumlah petinggi TNI dari Mabes TNI-AL, kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, serta pejabat TNI/Polri dengan menggunakan KRI Panana 871.

Kepada wartawan, Laksamana Muda Sembiring menyatakan, dua kapal tersebut ditenggelamkan karena tertangkap saat menangkap ikan di Laut Arafura tanpa dokumen dan izin yang sah. “Ini merupakan tanda bahwa pemerintah tegas dalam memberantas illegal fishing. Kapal ini terbukti melakukan illegal fishing dan segera kita bakar dan musnahkan,” tegas dia.

Sembiring menjelaskan, muatan kedua kapal telah dilelang di badan pelelangan. “Kita telah amankan 243 ton ikan berbagai jenis hasil curian. Sekarang seluruh ikan itu ada di Pelabuhan Perikanan Tantui, Ambon, untuk dilelang,” ungkapnya.

Meski kapal berbendera Papua Nugini, seluruh ABK dua KM Century tersebut berkewarganegaraan Thailand. Century 4 membawa 45 ABK dengan nakhoda bernama Thanaphom Pamnisti dan Century 7 dinakhodai Thong Ma Lapho dengan ditumpangi 17 ABK. “Semua ABK dikarantina Kantor Imigrasi Ambon,” tandasnya.

Untuk memperketat pengawasan di perairan timur Indonesia, papar Sembiring, pihaknya telah melakukan berbagai langkah, misalnya menambah armada dan pasukan. Ditanya soal lima kapal yang masih diamankan di Lantamal IX, dia menerangkan bahwa kapal-kapal tersebut masih diproses, namun tidak dibakar karena merupakan kapal Indonesia. “Jadi, kapal yang kita bakar hanya kapal asing, bukan (kapal) Indonesia,” ucapnya.

(jpnn)

BBM Naik, Nelayan Muaragembong Merugi

27 November 2014

nelayanKENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ternyata mempengaruhi nelayan Muaragembong. Hampir tiga pekan pasokan solar bersubsidi untuk para nelayan belum sampai di SPBN 30.2.3.004 Solokan Gatet RT 01/06 Desa Pantaimekar, Muaragembong.

Akibatnya, harga solar melambung tinggi lantaran mereka harus membeli ke Batujaya Karawang dengan harga standar Rp8.500. Ini pun belum ditambah biaya transportasi yang menghabiskan hingga 50 liter setiap pembelian. ’’Kalau ke nelayan biasa harganya sampai Rp9.500, sebab ditambah biaya transportasi,” ucap Romli, salah satu nelayan di Desa Pantaibahagia.

Dikatakan Romli, dengan pengeluaran yang begitu besar, banyak nelayan yang enggan untuk melaut. Mereka lebih memilih untuk merapikan perahu dan jaring mereka, hingga harga yang ditetapkan pemerintah pusat sudah stabil dan pasokan solar sudah kembali normal.

Romli menyayangkan pemerintah yang tidak cepat tanggap dengan keadaan nelayan sekarang, ditambah kata dia harga penjualan ikan tangkapan justru turun dari sebelumnya. ’’Ada beberapa jenis ikan yang turun, padahal BBM naik, semakin merugi saja nelayan kalau begini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, perubahan musim juga mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan, sebab para nelayan tidak bisa memprediksi dimana tempat ikan yang memang sedang banyak, karena ikan sendiri juga mengikuti suhu air laut yang berubah-ubah. ’’Lihat saja kapal itu (sambil menunjuk ke arah laut), baru tadi pagi mereka berlayar siang-siang sudah pulang karena ikannya jarang,” pungkasnya.

(gobekasi)

Next Page »