Bulog: Stok Beras di Jawa Barat Aman

24 February 2015

berasKepala Divre Bulog Jabar Alif Affandi mengatakan stok beras di Jawa Barat, aman.

“Stok beras kita (Jabar) aman, stok beras kita sampai saat ini masih ada cukup untuk tiga bulan kedepan. Stok yang ada di Bandung saja ada sekitar 15 ribu ton, itu cukup,” kata Alif di Bandung, Senin, (23/2/2015).

Alif mengatakan, stok yang saat ini tersedia di Jabar ada 98 ribu ton beras. Sementara, kebutuhan Jabar mencapai 39 ribu ton. “Jadi, masih cukup untuk tiga bulan kedepan,” katanya.

DIa mengklaim, stok beras di Jawa Barat akan semakin aman, seiring dengan masa panen yang akan segera tiba. Disebutkan, daerah di Jawa Barat yang akan panen raya pada bulan mendatang, yakni, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang.

“Karena itu kan daerah-daerah panen kita, jadi Insya Allah stok kita akan berlipat,” katanya.

Alif mengatakan, pihaknya akan melakukan geser stok dari tiga wilayah itu ke wilayah yang tidak banyak panen, seperti ke Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur dan Kota Bandung. “Kita geser stok dari pantura ke daerah yang tidak panen banyak, seperti ke Bandung, Ciamis dan Cianjur,” katanya.

Jawa Barat menargetkan pada tahun ini bisa menyerap 400.000 ton beras. Berdasarkan pemantauan ke lahan-lahan sawah, padi yang tumbuh sangat bagus. “Dan kami sudah siap menampung,” pungkasnya.

(Kompas)

Hasil Pencarian:

“Kalau Tak Bangun Smelter di Papua, Silakan Keluar dari Papua!”

30 January 2015

papuaGubernur Papua Lukas Enembe memimpin seluruh Bupati se-Papua bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2015) malam.

Kedatangannya dan seluruh Bupati menolak PT Freeport Indonesia membangun pabrik pengolahan atau smelter emas dan tembaga di luar Papua, yakni di Gresik.

“Semua elemen di Papua menolak smalter dibangun di Gresik. Papua ini bagian dari NKRI. Saya dampingi bupati-bupati di Papua bertemu presiden. Kita sepakat menolak smalter dibangun di Gresik! Dasarnya apa?” ujar Lukas usai bertemu Jokowi.

Gubernur Papua geram dengan sikap PT Freeport yang dinilainya aneh. “Kalau tak membangun di Papua, silakan keluar dari Papua. Seluruh SDA ada di Papua, hutan, ikan, tambang, semuanya untuk kesejahteraan rakyat Papua. Jadi hukumnya wajib bangun (smelter) di Papua,” ancamnya.

Dia mengingatkan semua industri harus dibangun di Papua agar terjadi pemerataan ekonomi. Soalnya kalau tidak demikian, imbuh Lukas, rakyat Papua akan tetap miskin. Terkait tuntutan tersebut, kata dia, Jokowi sangat setuju smelter dibangun di Papua, bukan di luar wilayah tersebut, yakni di Gresik.

“Kami katakan, kalau tak mau silakan keluar dari Papua,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat dengan PT Freeport Indonesia untuk membahas wacana renegosiasi kontrak dan pembangunan fasilitas peleburan serta pemurnian mineral (smelter).

Dalam rapat tersebut, anggota Dewan mencecar manajemen Freeport mengenai pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur.

Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai NasDem, Kurtubi, mengatakan tidak setuju jika smelter Freeport dibangun di Gresik. “Usaha mineral yang baik adalah yang terintegrasi. Kami meminta smelter dibangun di Papua,” ujarnya, Selasa (27/1/2015).

Kurtubi juga menganggap penandatanganan nota kesepahaman pemakaian lahan PT Petrokimia oleh Freeport terburu-buru. Bahkan belakangan diketahui, Freeport belum mengajukan izin ke Pemerintah Kabupaten Gresik.

Ramson Siagian dari Fraksi Partai Gerindra menanyai manajemen Freeport seputar perizinan smelter. Freeport diketahui belum memiliki izin apa pun yang berkaitan dengan proyek smelter.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoedin lebih banyak diam. “Kalau semua izin, belum. Ya jelas, masih awal, mending dipindah pembangunannya ke Papua, biar menguntungkan masyarakat sana,” ujar Ramson.

Sebelumnya. Chairman Board of Director Freeport McMoran Inc James R. Moffett mengklaim smelter di Gresik akan menjadi yang terbesar di dunia. Dia menyatakan lahan smelter seluas 80 hektare milik PT Petrokimia Gresik sudah berstatus sewa.

(tribunnews)

TNI AL Ledakkan Kapal Ber-ABK Thailand

22 December 2014

kapalKapal-kapal pencuri asing kini harus berpikir seribu kali jika ingin mencuri ikan (melakukan illegal fishing) di perairan Indonesia. Selain diburu dan ditembak jika melarikan diri, kapal yang tertangkap mendapat hukuman tak kalah tegas, yakni diledakkan dan ditenggelamkan.

Sanksi itu sekali lagi terbukti bukan gertak sambal. Ambon Ekspres (Jawa Pos Group) melaporkan, setelah lebih dari dua pekan berada dalam pengawasan Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) IX Ambon, akhirnya dua kapal yang melakukan illegal fishing berbendera Papua Nugini diledakkan.

Dua kapal tersebut bernama kapal mesin (KM) Century 4 dan KM Century 7.

Dua kapal itu ditangkap KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 di Laut Arafura bersama enam kapal lainnya pada 9 Desember 2014. Proses hukum hanya sembilan hari, pada 18 Desember, Pengadilan Negeri Ambon mengeluarkan penetapan kewenangan kepada Lantamal IX Ambon untuk memusnahkan dan menenggelamkan dua kapal tersebut. Kedua kapal dimusnahkan dengan cara diledakkan di perairan Teluk Ambon, sekitar 2 mil dari garis pantai Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, dengan kedalaman 500 meter dari permukaan laut, kemarin (21/12).

Berdasar pantauan Ambon Ekspres di lapangan, sebelum diledakkan, kedua kapal ditarik dengan dua kapal landen milik PT Pelindo dari Pelabuhan Lantamal IX dengan keadaan kosong tanpa muatan, anak buah kapal (ABK), dan BBM. Dua kapal dengan warna hijau muda bergaris biru di lambungnya itu tiba di lokasi peledakan sekitar pukul 09.00 WIT dengan posisi menghadap ke timur. Di kanan dan kiri kapal terlihat tiga buah perahu karet Pasukan Katak berputar-putar memeriksa kedua kapal. Sebuah pesawat jenis Hercules juga tampak memantau peledakan dari udara. Pemandangan itu berlangsung lebih dari 30 menit.

Pukul 10.11 WIT perahu karet Pasukan Katak dan kapal landen mulai menjauh dari kedua kapal. Asap mulai terlihat mengepul dari salah satu ruangan kapal. Seketika terjadi kebakaran hebat pada badan kapal. Kondisi tersebut juga terjadi pada kapal kedua yang jaraknya hanya beberapa meter. Akibatnya, asap hitam pekat membubung tinggi.

Tidak berselang lama, terdengar dentuman keras dua kali. Terlihat bola api besar membubung di atas kedua kapal. Serpihan badan kapal semburat ke udara hingga radius puluhan meter. Kedua kapal langsung luluh lantak dan perlahan tenggelam. Dari pantauan di desa sekitar lokasi peledakan, kerasnya ledakan membuat warga di tiga dusun kaget.

Penenggelaman KM Century 4 yang memiliki bobot 200 gross tonnage (GT) dan KM Century 7 dengan bobot 250 GT kemarin dipantau langsung Panglima Komando Armada Kawasan Timur Indonesia Laksamana Muda Arie Sembiring dan sejumlah petinggi TNI dari Mabes TNI-AL, kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, serta pejabat TNI/Polri dengan menggunakan KRI Panana 871.

Kepada wartawan, Laksamana Muda Sembiring menyatakan, dua kapal tersebut ditenggelamkan karena tertangkap saat menangkap ikan di Laut Arafura tanpa dokumen dan izin yang sah. “Ini merupakan tanda bahwa pemerintah tegas dalam memberantas illegal fishing. Kapal ini terbukti melakukan illegal fishing dan segera kita bakar dan musnahkan,” tegas dia.

Sembiring menjelaskan, muatan kedua kapal telah dilelang di badan pelelangan. “Kita telah amankan 243 ton ikan berbagai jenis hasil curian. Sekarang seluruh ikan itu ada di Pelabuhan Perikanan Tantui, Ambon, untuk dilelang,” ungkapnya.

Meski kapal berbendera Papua Nugini, seluruh ABK dua KM Century tersebut berkewarganegaraan Thailand. Century 4 membawa 45 ABK dengan nakhoda bernama Thanaphom Pamnisti dan Century 7 dinakhodai Thong Ma Lapho dengan ditumpangi 17 ABK. “Semua ABK dikarantina Kantor Imigrasi Ambon,” tandasnya.

Untuk memperketat pengawasan di perairan timur Indonesia, papar Sembiring, pihaknya telah melakukan berbagai langkah, misalnya menambah armada dan pasukan. Ditanya soal lima kapal yang masih diamankan di Lantamal IX, dia menerangkan bahwa kapal-kapal tersebut masih diproses, namun tidak dibakar karena merupakan kapal Indonesia. “Jadi, kapal yang kita bakar hanya kapal asing, bukan (kapal) Indonesia,” ucapnya.

(jpnn)

BBM Naik, Nelayan Muaragembong Merugi

27 November 2014

nelayanKENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ternyata mempengaruhi nelayan Muaragembong. Hampir tiga pekan pasokan solar bersubsidi untuk para nelayan belum sampai di SPBN 30.2.3.004 Solokan Gatet RT 01/06 Desa Pantaimekar, Muaragembong.

Akibatnya, harga solar melambung tinggi lantaran mereka harus membeli ke Batujaya Karawang dengan harga standar Rp8.500. Ini pun belum ditambah biaya transportasi yang menghabiskan hingga 50 liter setiap pembelian. ’’Kalau ke nelayan biasa harganya sampai Rp9.500, sebab ditambah biaya transportasi,” ucap Romli, salah satu nelayan di Desa Pantaibahagia.

Dikatakan Romli, dengan pengeluaran yang begitu besar, banyak nelayan yang enggan untuk melaut. Mereka lebih memilih untuk merapikan perahu dan jaring mereka, hingga harga yang ditetapkan pemerintah pusat sudah stabil dan pasokan solar sudah kembali normal.

Romli menyayangkan pemerintah yang tidak cepat tanggap dengan keadaan nelayan sekarang, ditambah kata dia harga penjualan ikan tangkapan justru turun dari sebelumnya. ’’Ada beberapa jenis ikan yang turun, padahal BBM naik, semakin merugi saja nelayan kalau begini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, perubahan musim juga mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan, sebab para nelayan tidak bisa memprediksi dimana tempat ikan yang memang sedang banyak, karena ikan sendiri juga mengikuti suhu air laut yang berubah-ubah. ’’Lihat saja kapal itu (sambil menunjuk ke arah laut), baru tadi pagi mereka berlayar siang-siang sudah pulang karena ikannya jarang,” pungkasnya.

(gobekasi)

Lima Pintu Air Situ Gede Tak Berfungsi

15 October 2014

pintu airObyek wisata Situ Gede, Kota Tasikmalaya, kekeringan parah di musim kemarau saat ini. Dari kondisi normal ketersediaan air yang mencapai 1,4 juta meter kubik, saat ini hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik saja.

Selain mengakibatkan ratusan hektare sawah kekeringan dan gagal panen, minat wisatawan berkunjung ke obyek wisata andalan Kota Tasikmalaya ini menurun drastis. Penyusutan air Situ Gede sudah berlangsung sejak sekitar empat bulan lalu.

Korwil Irigasi Wilayah Cibanjaran, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Kota Tasikmalaya, yang membawahi Situ Gede, Ade Yayat, mengatakan Situ Gede yang memiliki luas 47 hektare, nyaris tanpa air akibat musim kemarau. Lima pintu air yang tersedia, tak lagi mampu mengairi sawah.

“Dalam kondisi normal, Situ Gede mampu mengairi sekitar 223 hektare sawah yang berada di wilayah Linggajaya dan Mangkubumi. Dalam kondisi kekeringan seperti sekarang, entah ada sawah yang masih bisa dipasok air. Karena semua pintu air sudah kritis. Bahkan ada yang sudah kering,” kata Ade, Selasa (14/10/2014).

Menurut Ade, air yang masih menggenangi Situ Gede hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik dari kondisi normal yang mencapai 1,7 juta meter kubik.

“Ketinggian air situ saat ini mungkin hanya sekitar setengah meter. Padahal dalam kondisi normal mencapai tiga sampai lima meter. Jika kemarau terus berlangsung, air akan terus menyusut,” ujar Ade.

Pemantauan Tribun, Selasa siang kemarin, bagian barat situ kerontang. Menurut warga, air sudah mengering sejak empat bulan lalu. Di lokasi itu, warga bisa berjalan kaki menuju pulau di tengah situ. Di pulau itu juga ada makam keramat Prabu Dilaga yang kerap dikunjungi warga dari berbagai daerah. Area yang sudah mengering itu dan mulai ditumbuhi rerumputan.

Menyusutnya air situ juga membuat para pelaku usaha wisata kelimpungan. Puluhan perahu wisata menganggur. Begitu juga rakit dan sepeda air. Sebagian warung pun tampak tutup.

“Pengunjung menurun drastis, karena sudah tidak ada hal menarik lagi di sini. Paling kami menunggu warga yang biasa jogging mengelilingi situ, untuk sekadar membeli minuman atau jajanan,” kata Endang (45), seorang pemilik sepeda air serta warung.

(tribunnews)

135 Hektar Lahan Pertanian di Sukabumi Kekeringan

14 October 2014

pareSekitar 135 hektar areal pertanian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat kekeringan akibat dampak kemarau panjang. Akan tetapi, kesulitan air tersebut belum menyebabkan gagal panen (puso).

Kepala Seksi Perlidungan Tanaman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi, Sodikin menyebutkan seratusan hektar lahan pertanian tersebut masih mengalami kekeringan tingkat ringan. Belum ada laporan kasus kekeringan berat yang menyebabkan puso.

“Bila kekeringan menyebabkan puso kami segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Targetnya, lahan pertanian tersebut bisa segera ditangani khususnya penyediaan sarana pengairan,” jelas Sodikin.

Kepala DPTP Kabupaten Sukabumi Sudrajat menerangkan sebagian besar areal pertanian tadah hujan. Akibatnya, begitu musim kemarau panjang tak sedikit yang terkena imbasnya berupa kekeringan.

“Sebagian besar petani saat ini sudah beralih menanam palawija. Hal ini dikarenakan musim kemarau menyebabkan sarana pengairan bagi padi berkurang dibandingkan sebelumnya,” tandasnya.

(poskota)

Kemarau Tiba, Petani Merugi Ratusan Juta

23 September 2014

kemarauAkibat musim kemarau tanaman padi di areal seluas 20 hektar di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, gagal panen. Kondisi terparah terjadi di Desa Tegal Waru, keringnya areal pesawahan di desa ini, selain karena musim kemarau, kekeringan juga diakibatkan tak berfungsinya saluran irigasi.

Kekeringan yang melanda puluhan hektar sawah itu menyebabkan petani merugi ratusan juta rupiah. “Ya mau diapakan lagi semua sudah terjadi. Sekarang ini, kami hanya bisa pasrah menerima keadaan,” keluh Ketua Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Tegal Waru, Encep, Minggu (21/09).

Ia menambahkan, kekeringan yang melanda areal pesawahan di Desa Tegal Waru itu sebenarnya bisa dicegah, jika saja perbaikan bendung yang ada di hulu Sungai Ciampea rampung sebelum datangnya musim kemarau.

“Bendung atau dam irigasi yang ada di hulu Sungai Ciampae, tak berfungsi lantaran ambrol diterjang longsor dan sampai sekarang perbaikannya belum rampung,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan, bukan hanya sawah saja yang kering, tapi juga sumur-sumur warga. “50 persen warga yang tinggal di desa ini semuanya menggunakan sumur tanah sebagai sumber air bersih. Tapi sejak awal bulan lalu, sebagian besar sumurnya sudah mengering. Ini yang menyebabkan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Parahnya sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Kepala Desa Tegal Waru, Haerudin, membenarkan kalau desa ini mengalami kekeringan.”Kekeringan memang belum begitu parah. Tetapi dalam satu minggu ini hujan tak kunjung turun, dikhawatirkan kejadian krisis air bersih seperti tahun 2012 lalu akan terulang kembali,” ujar Haerudin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, kekeringan juga melanda sejumlah kecamatan lainya, diantaranya Cariu, Jonggol, Babakan Madang dan Klapanunggal. Kekeringan di wilayah timur Kabupaten Bogor ini terjadi, selain musim kemarau juga disebabkan rusaknya kawasan-kawasan resapan air, yang berada di hulu Sungai Cipamingkis dan Cibeet, akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.

(jurnal bogor)

Di Tasik Sapi Sehat Diberi Segel

19 September 2014

susan-dan-sapinyaTim pemeriksan kesehatan hewan kurban Kota Tasikmalaya melakukan pemeriksaan terhadap ratusan sapi dan domba, Kamis (18/9/2014). Dari hasil pemeriksaan terhadap lima pedagang besar, pada umumnya kondisi sapi dan domba dalam keadaan baik.

Saat melakukan pemeriksaan ratusan sapi kurban milik H Nunu di Jalan Sutsen, petugas dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya, melakukan pemeriksaan suhu tubuh, detak jantung serta kondisi sapi secara kasat mata.
Suhu tubuh normal antara 37-40 derajat celcius, sedangkan detak jantung antara 55-70 kali dalam satu menit.

“Hasil pemeriksaan di lokasi penjualan Jalan Sutsen ini, rata-rata sapi dalam kondisi baik. Kondisi bulu bersih dan mulut basah menandakan sapi sehat,” ungkap Cecep, seorang petugas pemeriksa.

Menurut Cecep, hasil pemeriksaan di empat pedagang lainnya juga, tidak menemukan adanya hewan kurban yang sakit atau cacat. Yaitu tiga tempat penjualan hewan di Jalan A Yani, serta satu di Perumahan Bumi Resik Indah, Cipedes.

“Jadi para calon pembeli hewan kurban, tidak usah cemas jika hendak membeli hewan kurban. Tapi sebaiknya tetap jeli memeriksa dulu kondisi kesehatan serta fisiknya. Hewan yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat diberi ciri semacam segel yang mudah dikenali,” kata Cecep.

Sementara itu, pedagang hewan korban, H Nunu, mengatakan, omzet penjualan sapi kurban dari tahun ke tahun terus menurun. Selain karena pasokan sapi berkurang, disebabkan juga minat membeli hewan kurban yang menurun karena harga jual sapi yang selalu naik.

Menurutnya, tahun 2012 lalu ia bisa menjual 200 ekor sapi and tahun 2013 menurun jadi 150 ekor. Tahun 2014 ini, H Nunu hanya menyediakan 100 ekor sapi saja karena kalau menyetok terlalu banyak khawatir tidak laku. Dia membeli sapi dari para peternak di Kecamatan Cipatujah dan Cikalong Tasikmalaya.

(tribunnews)

Harga Singkong Naik Hampir 100 Persen

16 September 2014

truk-singkongIndustri kecil rumahan atau home industri mulai terusik dengan naiknya harga singkong sebagai bahan baku. Selain naik, keberadaan jenis penganan ringan yang sering dibuat combro dan keripik ini juga semakin langka.

“Sejak musim kemarau sebulan terakhir, harga singkong naik drastis hampir seratus persen dari Rp 1.500/kg jadi Rp 2.500/kg. Biasanya saya beli di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, sekarang singkong agak sulit didapat, kadang terpaksa nyarinya sampai ke Kawali Ciamis,” ujar Dadang, pengelola usaha rumah tangga pembuatan combro aneka rasa ‘Nungki Snack’ di Dusun Sukamaju, Desa/Kecamatan Sindangkasih, Ciamis, Senin (15/9/2014).

Setiap hari, kata Dadang, ia membutuhkan 25 kilogram singkong. Tiga pekerja dengan menggunakan mesin parut listrik, mengolah 25 kilogram singkong jadi 300 buah comro aneka rasa seperti rasa pedas, rasa gurih, dan rasa manis renyah. Ke-300 butir comro tersebut setiap hari terjual habis dititipkan di 10 warung/kios dengan harga jual Rp 500/biji comro.

Saat harga singkong masih tinggi, kata Dadang dalam seminggu terakhir muncul persoalan gas elpiji. “Harga gas tabung 3 kg naik drastis jadi Rp 19.000/tabung. Tapi barangnya susah di peroleh. Gara-gara barangnya sulit, gas elpiji beragam sekali harganya. Saya pernah beli Rp 20.000/tabung, bahkan sampai Rp 24.000/tabung juga pernah,” keluh Dadang.

Untuk menggoreng comro buatannya menurut Dadang setiap hari ia butuh 2 tabung gas elpiji 3 kg untuk dua kompor gas. “Gara-gara gas semakin sulit dan makin mahal, dua hari terakhir saya terpaksa banting stir terpaksa pakai kayu bakar. Menggoreng comronya pakai tungku (hawu),” katanya.

Ditengah naiknya harga singkong dan gas elpiji tersebut menurut Dadang, ia tidak menaikan harga jual comro. “Cuma ukuran comronya dikecil  sedikit. Habis mau bagaimana lagi, usaha harus tetap jalan dan mudah-mudahan ada untungnya,” ujar Dadang.

(tribunnews)

415 Hektare Sawah di Bandung Tercemar Limbah Industri

10 September 2014

kaliSeluas 415 hektare sawah ditemukan rusak dan sudah tidak produktif lagi diantaranya, di Desa Jelegong, di Desa Ciherang, Desa Najung Mekar dan di Desa Linggar Kabupaten Bandung.

Lokasi-lokasi tersebut terletak di empat Kabupaten kota, yakni, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Rusaknya ratusan hektare sawah itu disebabkan limbah industri (B3) yang mengalir ke sawah dan meracuni air dan hewan air yang hidup di kawasan tersebut.

“Kita temukan 415 hektar area sawah rusak dan sudah tidak produktif lagi karena dampak pembuangan limbah B3,” kata Kapolda Jabar Irjen Mochamad Iriawan di Mapolda Jabar Selasa (9/9/2014).

Iriawan mengatakan, hal itu diketahui setelah tim Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Polda Jabar melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada tanggal 8-9 Mei 2014 di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

“Ya, jelas ini sangat membahayakan masyarakat. Masyarakat kan menggunakan air sumur (tanah), makan ikan yang hidup di air yang terkena limbah, juga memakan nasi dari hasil panen yang terkena limbah,” katanya.

Selain itu, hasil sidak saat itu, lanjut Iriawan, ditemukan dokumen-dokumen perijinan perusahaan yang terkait dengan lingkungan tidak lengkap.

“Ijin perusahaan, terutama tentang lingkungan ternyata tidak lengkap,” katanya.

Selain itu, beberapa perusahaan atau industri memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bocor.

Sementara itu, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jabar AKBP Ade Arianto menambahkan,  ada 14 perusahaan atau industri yang diperiksa. “Ada 14 yang perusahaan yang kita periksa, namun, yang kita konsen penyelidikan hanya 5 perusahaan,” katanya.

Beberapa perusahaan tersebut diantaranya, PT Kahatex, PT Tri Bakti, PT Hatori Indonesia, PT Jin Myong, PT Lotus Jingga Pratama, PT Sinar Baskara Sejati, PT Indah Jaya, PT Oriental Embroidery, PT Papyrus Sakti, PT Setiatex, Kusmajaya, PT Ateja, PT Cibaligo Indah, dan PT Holy Farma.

(tribunnews)

Next Page »