7.000 Lahan Sawah di Karawang Kekeringan, Pasokan Beras Terancam Terganggu

7 August 2015

sawahLahan sawah seluas 7.000 hektare di 21 kecamatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat, berpotensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

“Areal sawah tersebut bisa dilanda kekeringan jika saluran irigasinya benar-benar kering,” kata Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan setempat Kadarisman, di Karawang, Jumat (7/8/2015).

Menurut dia, potensi kekeringan di areal sawah seluas sekitar 7.000 hektare perlu diperhatikan. Sebab kini sudah ada sekitar 1.600 hektare lahan pertanian Karawang yang gagal panen atau puso akibat kekeringan.

Untuk mengantisipasi semakin meluasnya kekeringan, para petani diimbau menggunakan pompa. Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan Karawang mengaku akan menyebar 25 unit pompa kepada petani.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga bekerja sama dengan Dinas Bina Marga dan Pengairan setempat melakukan pengerukan saluran pembuang yang mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Pengerukan saluran pembuang itu dilakukan di wilayah pesisir utara Karawang. Di antaranya di Pakisjaya, Batujaya, Cibuaya, Tirtajaya, dan Cibuaya.

“Wilayah pesisir utara Karawang rawan dilanda kekeringan, karena saluran airnya sudah banyak yang rusak,” katanya.

Kadarisman mengatakan, ancaman kekeringan pada musim kemarau bisa mempengaruhi target produksi padi pada tahun ini.

Apalagi sudah ada areal persawahan yang gagal panen seluas sekitar 1.600 hektare. Areal sawah itu tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru.

“Target produksi padi tahun ini mencapai 1,4 juta ton. Jika melihat kondisi kekeringan, pencapaian target produksi padi dikhawatirkan terganggu,” kata dia.

(Galamedia)

Pertamax Batal Naik, Perintah Langsung dari Dirut Pertamina

15 May 2015

spbu3aPT Pertamina (Persero) mendadak membatalkan kenaikan harga Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamax Dex dua jam sebelum diberlakukan. Hal ini kabarnya merupakan perintah langsung dari Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto.

“Kenaikan harga Pertamax mendadak dibatalkan. Saya dapat informasi, itu perintah langsung dari Dirut Pertamina,” kata Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi kepada detikFinance, Jumat (15/5/2015).

Eri mengakui, pada Kamis pagi (14/5/2015) seluruh pengusaha SPBU sudah diberikan surat keputusan kenaikan harga Pertamax. Namun, mendadak dibatalkan pada malam harinya.

“Kita sudah terima surat Kamis pagi dari Pertamina kalau Pertamax cs naik. Tapi, malam harinya 22.30 WIB kita dapat pemberitahuan singkat dari Pertamina. “Pak Eri harga BBK (bahan bakar khusus) ditunda pelaksanaannya, sehingga besok harga tetap tidak berubah, tolong bantu broadcast ke teman-teman SPBU. Tiba-tiba saja, katanya perintah Dirut,” ungkapnya.

Eri mengungkapkan, seingatnya penundaan kenaikan harga pertamax mendadak baru kali ini dialaminya, pasalnya naik-turunnya harga Pertamax merupakan hal yang biasa karena merupakan bahan bakar non subsidi.

“Seingat saya ini yang pertama kali terjadi. Pertamax ini kan bahan bakar non subsidi, harganya sesuai harga pasar yakni MOPS (Mean of Platts Singapore) dan kurs rupiah terhadap dolar,” tutup Eri.

Sebelumnya, Pertamina berencana menaikkan harga Pertamax jadi Rp 9.600/liter.

(detik.com)

Susi: Kelapa Sawit Terancam Diembargo Uni Eropa, “Seafood” Pun Sama..

31 March 2015

susiMenteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti kembali mengungkapkan kekhawatiran hasil perikanan Indonesia diboikot oleh dunia Internasional karena isu perbudakan. Hal itu kata dia sama persis dengan kasus embargo minyak kepala sawit Indonesia di pasar Eropa.

“Bapak ibu sudah dengar bahwa kelapa sawit sudah terancam untuk diembargo, untuk diboikot, hanya karena gajah mati, dan kebakaran hutan yang terus-menerus terjadi di Indonesia. Seafood pun sama, Uni Eropa udah semua berkomitmen akan tracebility. Amerika, 2 minggu yang lalu pun sudah bicara yang sama,” ujar Susi di Jakarta, Senin (30/3/2015).

Menurut Susi, saat ini semua pihak terkait di sektor perikanan harus bersama-sama menangkal dan membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia merupakan negara yang tak merestui praktik perbudakan. Apalagi hal tersebut terjadi di wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, dia meminta penegak hukum untuk segera bergerak membasmi praktik-praktik perbudakan tersebut. “Jadi kalau kita masih ragu-ragu menindak kapal-kapal asing atau kapal eks asing atau kapal yang langsung asing. Ini kesalahan besar, saya tidak mau ujungnya kita dianggap merestui perbudakan terjadi di illegal fishing yang dihukum produk seafood Indonesia,” kata dia.

Informasi perbudakan yang dilakukan PT Pusaka Benjina Resources diketahui Susi setelah membaca laporan investigasi Associated Press (AP). Dalam laporan yang dimuat oleh AP.org dengan judul “AP Investigation: Are slaves catching the fish you buy?” itu menuliskan adanya pemaksaan kerja selama 22 jam per hari tanpa hari libur kepada ABK di Kapal milik PT Pusaka Benjina Resources.

Bahkan, AP juga mengungkapkan para pekerja paksa yang banyak berasal dari Myanmar tersebut sampai harus mengonsumsi air kotor untuk minum. Hasil tangkapan ikan perusahaan tersebut sampai diekspor ke Amerika Serikat dan disalurkan ke toko retail besar di Amerika Serikat yaitu Wal Mart.

(Kompas)

Bulog: Stok Beras di Jawa Barat Aman

24 February 2015

berasKepala Divre Bulog Jabar Alif Affandi mengatakan stok beras di Jawa Barat, aman.

“Stok beras kita (Jabar) aman, stok beras kita sampai saat ini masih ada cukup untuk tiga bulan kedepan. Stok yang ada di Bandung saja ada sekitar 15 ribu ton, itu cukup,” kata Alif di Bandung, Senin, (23/2/2015).

Alif mengatakan, stok yang saat ini tersedia di Jabar ada 98 ribu ton beras. Sementara, kebutuhan Jabar mencapai 39 ribu ton. “Jadi, masih cukup untuk tiga bulan kedepan,” katanya.

DIa mengklaim, stok beras di Jawa Barat akan semakin aman, seiring dengan masa panen yang akan segera tiba. Disebutkan, daerah di Jawa Barat yang akan panen raya pada bulan mendatang, yakni, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang.

“Karena itu kan daerah-daerah panen kita, jadi Insya Allah stok kita akan berlipat,” katanya.

Alif mengatakan, pihaknya akan melakukan geser stok dari tiga wilayah itu ke wilayah yang tidak banyak panen, seperti ke Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cianjur dan Kota Bandung. “Kita geser stok dari pantura ke daerah yang tidak panen banyak, seperti ke Bandung, Ciamis dan Cianjur,” katanya.

Jawa Barat menargetkan pada tahun ini bisa menyerap 400.000 ton beras. Berdasarkan pemantauan ke lahan-lahan sawah, padi yang tumbuh sangat bagus. “Dan kami sudah siap menampung,” pungkasnya.

(Kompas)

“Kalau Tak Bangun Smelter di Papua, Silakan Keluar dari Papua!”

30 January 2015

papuaGubernur Papua Lukas Enembe memimpin seluruh Bupati se-Papua bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (29/1/2015) malam.

Kedatangannya dan seluruh Bupati menolak PT Freeport Indonesia membangun pabrik pengolahan atau smelter emas dan tembaga di luar Papua, yakni di Gresik.

“Semua elemen di Papua menolak smalter dibangun di Gresik. Papua ini bagian dari NKRI. Saya dampingi bupati-bupati di Papua bertemu presiden. Kita sepakat menolak smalter dibangun di Gresik! Dasarnya apa?” ujar Lukas usai bertemu Jokowi.

Gubernur Papua geram dengan sikap PT Freeport yang dinilainya aneh. “Kalau tak membangun di Papua, silakan keluar dari Papua. Seluruh SDA ada di Papua, hutan, ikan, tambang, semuanya untuk kesejahteraan rakyat Papua. Jadi hukumnya wajib bangun (smelter) di Papua,” ancamnya.

Dia mengingatkan semua industri harus dibangun di Papua agar terjadi pemerataan ekonomi. Soalnya kalau tidak demikian, imbuh Lukas, rakyat Papua akan tetap miskin. Terkait tuntutan tersebut, kata dia, Jokowi sangat setuju smelter dibangun di Papua, bukan di luar wilayah tersebut, yakni di Gresik.

“Kami katakan, kalau tak mau silakan keluar dari Papua,” tegasnya lagi.

Sebelumnya, Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat dengan PT Freeport Indonesia untuk membahas wacana renegosiasi kontrak dan pembangunan fasilitas peleburan serta pemurnian mineral (smelter).

Dalam rapat tersebut, anggota Dewan mencecar manajemen Freeport mengenai pembangunan smelter di Gresik, Jawa Timur.

Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai NasDem, Kurtubi, mengatakan tidak setuju jika smelter Freeport dibangun di Gresik. “Usaha mineral yang baik adalah yang terintegrasi. Kami meminta smelter dibangun di Papua,” ujarnya, Selasa (27/1/2015).

Kurtubi juga menganggap penandatanganan nota kesepahaman pemakaian lahan PT Petrokimia oleh Freeport terburu-buru. Bahkan belakangan diketahui, Freeport belum mengajukan izin ke Pemerintah Kabupaten Gresik.

Ramson Siagian dari Fraksi Partai Gerindra menanyai manajemen Freeport seputar perizinan smelter. Freeport diketahui belum memiliki izin apa pun yang berkaitan dengan proyek smelter.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoedin lebih banyak diam. “Kalau semua izin, belum. Ya jelas, masih awal, mending dipindah pembangunannya ke Papua, biar menguntungkan masyarakat sana,” ujar Ramson.

Sebelumnya. Chairman Board of Director Freeport McMoran Inc James R. Moffett mengklaim smelter di Gresik akan menjadi yang terbesar di dunia. Dia menyatakan lahan smelter seluas 80 hektare milik PT Petrokimia Gresik sudah berstatus sewa.

(tribunnews)

TNI AL Ledakkan Kapal Ber-ABK Thailand

22 December 2014

kapalKapal-kapal pencuri asing kini harus berpikir seribu kali jika ingin mencuri ikan (melakukan illegal fishing) di perairan Indonesia. Selain diburu dan ditembak jika melarikan diri, kapal yang tertangkap mendapat hukuman tak kalah tegas, yakni diledakkan dan ditenggelamkan.

Sanksi itu sekali lagi terbukti bukan gertak sambal. Ambon Ekspres (Jawa Pos Group) melaporkan, setelah lebih dari dua pekan berada dalam pengawasan Pangkalan Utama TNI-AL (Lantamal) IX Ambon, akhirnya dua kapal yang melakukan illegal fishing berbendera Papua Nugini diledakkan.

Dua kapal tersebut bernama kapal mesin (KM) Century 4 dan KM Century 7.

Dua kapal itu ditangkap KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 di Laut Arafura bersama enam kapal lainnya pada 9 Desember 2014. Proses hukum hanya sembilan hari, pada 18 Desember, Pengadilan Negeri Ambon mengeluarkan penetapan kewenangan kepada Lantamal IX Ambon untuk memusnahkan dan menenggelamkan dua kapal tersebut. Kedua kapal dimusnahkan dengan cara diledakkan di perairan Teluk Ambon, sekitar 2 mil dari garis pantai Desa Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe, dengan kedalaman 500 meter dari permukaan laut, kemarin (21/12).

Berdasar pantauan Ambon Ekspres di lapangan, sebelum diledakkan, kedua kapal ditarik dengan dua kapal landen milik PT Pelindo dari Pelabuhan Lantamal IX dengan keadaan kosong tanpa muatan, anak buah kapal (ABK), dan BBM. Dua kapal dengan warna hijau muda bergaris biru di lambungnya itu tiba di lokasi peledakan sekitar pukul 09.00 WIT dengan posisi menghadap ke timur. Di kanan dan kiri kapal terlihat tiga buah perahu karet Pasukan Katak berputar-putar memeriksa kedua kapal. Sebuah pesawat jenis Hercules juga tampak memantau peledakan dari udara. Pemandangan itu berlangsung lebih dari 30 menit.

Pukul 10.11 WIT perahu karet Pasukan Katak dan kapal landen mulai menjauh dari kedua kapal. Asap mulai terlihat mengepul dari salah satu ruangan kapal. Seketika terjadi kebakaran hebat pada badan kapal. Kondisi tersebut juga terjadi pada kapal kedua yang jaraknya hanya beberapa meter. Akibatnya, asap hitam pekat membubung tinggi.

Tidak berselang lama, terdengar dentuman keras dua kali. Terlihat bola api besar membubung di atas kedua kapal. Serpihan badan kapal semburat ke udara hingga radius puluhan meter. Kedua kapal langsung luluh lantak dan perlahan tenggelam. Dari pantauan di desa sekitar lokasi peledakan, kerasnya ledakan membuat warga di tiga dusun kaget.

Penenggelaman KM Century 4 yang memiliki bobot 200 gross tonnage (GT) dan KM Century 7 dengan bobot 250 GT kemarin dipantau langsung Panglima Komando Armada Kawasan Timur Indonesia Laksamana Muda Arie Sembiring dan sejumlah petinggi TNI dari Mabes TNI-AL, kepala Kejaksaan Tinggi Maluku, serta pejabat TNI/Polri dengan menggunakan KRI Panana 871.

Kepada wartawan, Laksamana Muda Sembiring menyatakan, dua kapal tersebut ditenggelamkan karena tertangkap saat menangkap ikan di Laut Arafura tanpa dokumen dan izin yang sah. “Ini merupakan tanda bahwa pemerintah tegas dalam memberantas illegal fishing. Kapal ini terbukti melakukan illegal fishing dan segera kita bakar dan musnahkan,” tegas dia.

Sembiring menjelaskan, muatan kedua kapal telah dilelang di badan pelelangan. “Kita telah amankan 243 ton ikan berbagai jenis hasil curian. Sekarang seluruh ikan itu ada di Pelabuhan Perikanan Tantui, Ambon, untuk dilelang,” ungkapnya.

Meski kapal berbendera Papua Nugini, seluruh ABK dua KM Century tersebut berkewarganegaraan Thailand. Century 4 membawa 45 ABK dengan nakhoda bernama Thanaphom Pamnisti dan Century 7 dinakhodai Thong Ma Lapho dengan ditumpangi 17 ABK. “Semua ABK dikarantina Kantor Imigrasi Ambon,” tandasnya.

Untuk memperketat pengawasan di perairan timur Indonesia, papar Sembiring, pihaknya telah melakukan berbagai langkah, misalnya menambah armada dan pasukan. Ditanya soal lima kapal yang masih diamankan di Lantamal IX, dia menerangkan bahwa kapal-kapal tersebut masih diproses, namun tidak dibakar karena merupakan kapal Indonesia. “Jadi, kapal yang kita bakar hanya kapal asing, bukan (kapal) Indonesia,” ucapnya.

(jpnn)

BBM Naik, Nelayan Muaragembong Merugi

27 November 2014

nelayanKENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ternyata mempengaruhi nelayan Muaragembong. Hampir tiga pekan pasokan solar bersubsidi untuk para nelayan belum sampai di SPBN 30.2.3.004 Solokan Gatet RT 01/06 Desa Pantaimekar, Muaragembong.

Akibatnya, harga solar melambung tinggi lantaran mereka harus membeli ke Batujaya Karawang dengan harga standar Rp8.500. Ini pun belum ditambah biaya transportasi yang menghabiskan hingga 50 liter setiap pembelian. ’’Kalau ke nelayan biasa harganya sampai Rp9.500, sebab ditambah biaya transportasi,” ucap Romli, salah satu nelayan di Desa Pantaibahagia.

Dikatakan Romli, dengan pengeluaran yang begitu besar, banyak nelayan yang enggan untuk melaut. Mereka lebih memilih untuk merapikan perahu dan jaring mereka, hingga harga yang ditetapkan pemerintah pusat sudah stabil dan pasokan solar sudah kembali normal.

Romli menyayangkan pemerintah yang tidak cepat tanggap dengan keadaan nelayan sekarang, ditambah kata dia harga penjualan ikan tangkapan justru turun dari sebelumnya. ’’Ada beberapa jenis ikan yang turun, padahal BBM naik, semakin merugi saja nelayan kalau begini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, perubahan musim juga mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan, sebab para nelayan tidak bisa memprediksi dimana tempat ikan yang memang sedang banyak, karena ikan sendiri juga mengikuti suhu air laut yang berubah-ubah. ’’Lihat saja kapal itu (sambil menunjuk ke arah laut), baru tadi pagi mereka berlayar siang-siang sudah pulang karena ikannya jarang,” pungkasnya.

(gobekasi)

Lima Pintu Air Situ Gede Tak Berfungsi

15 October 2014

pintu airObyek wisata Situ Gede, Kota Tasikmalaya, kekeringan parah di musim kemarau saat ini. Dari kondisi normal ketersediaan air yang mencapai 1,4 juta meter kubik, saat ini hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik saja.

Selain mengakibatkan ratusan hektare sawah kekeringan dan gagal panen, minat wisatawan berkunjung ke obyek wisata andalan Kota Tasikmalaya ini menurun drastis. Penyusutan air Situ Gede sudah berlangsung sejak sekitar empat bulan lalu.

Korwil Irigasi Wilayah Cibanjaran, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Kota Tasikmalaya, yang membawahi Situ Gede, Ade Yayat, mengatakan Situ Gede yang memiliki luas 47 hektare, nyaris tanpa air akibat musim kemarau. Lima pintu air yang tersedia, tak lagi mampu mengairi sawah.

“Dalam kondisi normal, Situ Gede mampu mengairi sekitar 223 hektare sawah yang berada di wilayah Linggajaya dan Mangkubumi. Dalam kondisi kekeringan seperti sekarang, entah ada sawah yang masih bisa dipasok air. Karena semua pintu air sudah kritis. Bahkan ada yang sudah kering,” kata Ade, Selasa (14/10/2014).

Menurut Ade, air yang masih menggenangi Situ Gede hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik dari kondisi normal yang mencapai 1,7 juta meter kubik.

“Ketinggian air situ saat ini mungkin hanya sekitar setengah meter. Padahal dalam kondisi normal mencapai tiga sampai lima meter. Jika kemarau terus berlangsung, air akan terus menyusut,” ujar Ade.

Pemantauan Tribun, Selasa siang kemarin, bagian barat situ kerontang. Menurut warga, air sudah mengering sejak empat bulan lalu. Di lokasi itu, warga bisa berjalan kaki menuju pulau di tengah situ. Di pulau itu juga ada makam keramat Prabu Dilaga yang kerap dikunjungi warga dari berbagai daerah. Area yang sudah mengering itu dan mulai ditumbuhi rerumputan.

Menyusutnya air situ juga membuat para pelaku usaha wisata kelimpungan. Puluhan perahu wisata menganggur. Begitu juga rakit dan sepeda air. Sebagian warung pun tampak tutup.

“Pengunjung menurun drastis, karena sudah tidak ada hal menarik lagi di sini. Paling kami menunggu warga yang biasa jogging mengelilingi situ, untuk sekadar membeli minuman atau jajanan,” kata Endang (45), seorang pemilik sepeda air serta warung.

(tribunnews)

135 Hektar Lahan Pertanian di Sukabumi Kekeringan

14 October 2014

pareSekitar 135 hektar areal pertanian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat kekeringan akibat dampak kemarau panjang. Akan tetapi, kesulitan air tersebut belum menyebabkan gagal panen (puso).

Kepala Seksi Perlidungan Tanaman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi, Sodikin menyebutkan seratusan hektar lahan pertanian tersebut masih mengalami kekeringan tingkat ringan. Belum ada laporan kasus kekeringan berat yang menyebabkan puso.

“Bila kekeringan menyebabkan puso kami segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Targetnya, lahan pertanian tersebut bisa segera ditangani khususnya penyediaan sarana pengairan,” jelas Sodikin.

Kepala DPTP Kabupaten Sukabumi Sudrajat menerangkan sebagian besar areal pertanian tadah hujan. Akibatnya, begitu musim kemarau panjang tak sedikit yang terkena imbasnya berupa kekeringan.

“Sebagian besar petani saat ini sudah beralih menanam palawija. Hal ini dikarenakan musim kemarau menyebabkan sarana pengairan bagi padi berkurang dibandingkan sebelumnya,” tandasnya.

(poskota)

Kemarau Tiba, Petani Merugi Ratusan Juta

23 September 2014

kemarauAkibat musim kemarau tanaman padi di areal seluas 20 hektar di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, gagal panen. Kondisi terparah terjadi di Desa Tegal Waru, keringnya areal pesawahan di desa ini, selain karena musim kemarau, kekeringan juga diakibatkan tak berfungsinya saluran irigasi.

Kekeringan yang melanda puluhan hektar sawah itu menyebabkan petani merugi ratusan juta rupiah. “Ya mau diapakan lagi semua sudah terjadi. Sekarang ini, kami hanya bisa pasrah menerima keadaan,” keluh Ketua Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Tegal Waru, Encep, Minggu (21/09).

Ia menambahkan, kekeringan yang melanda areal pesawahan di Desa Tegal Waru itu sebenarnya bisa dicegah, jika saja perbaikan bendung yang ada di hulu Sungai Ciampea rampung sebelum datangnya musim kemarau.

“Bendung atau dam irigasi yang ada di hulu Sungai Ciampae, tak berfungsi lantaran ambrol diterjang longsor dan sampai sekarang perbaikannya belum rampung,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan, bukan hanya sawah saja yang kering, tapi juga sumur-sumur warga. “50 persen warga yang tinggal di desa ini semuanya menggunakan sumur tanah sebagai sumber air bersih. Tapi sejak awal bulan lalu, sebagian besar sumurnya sudah mengering. Ini yang menyebabkan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Parahnya sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Kepala Desa Tegal Waru, Haerudin, membenarkan kalau desa ini mengalami kekeringan.”Kekeringan memang belum begitu parah. Tetapi dalam satu minggu ini hujan tak kunjung turun, dikhawatirkan kejadian krisis air bersih seperti tahun 2012 lalu akan terulang kembali,” ujar Haerudin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, kekeringan juga melanda sejumlah kecamatan lainya, diantaranya Cariu, Jonggol, Babakan Madang dan Klapanunggal. Kekeringan di wilayah timur Kabupaten Bogor ini terjadi, selain musim kemarau juga disebabkan rusaknya kawasan-kawasan resapan air, yang berada di hulu Sungai Cipamingkis dan Cibeet, akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.

(jurnal bogor)

Next Page »