BBM Naik, Nelayan Muaragembong Merugi

27 November 2014

nelayanKENAIKAN harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi ternyata mempengaruhi nelayan Muaragembong. Hampir tiga pekan pasokan solar bersubsidi untuk para nelayan belum sampai di SPBN 30.2.3.004 Solokan Gatet RT 01/06 Desa Pantaimekar, Muaragembong.

Akibatnya, harga solar melambung tinggi lantaran mereka harus membeli ke Batujaya Karawang dengan harga standar Rp8.500. Ini pun belum ditambah biaya transportasi yang menghabiskan hingga 50 liter setiap pembelian. ’’Kalau ke nelayan biasa harganya sampai Rp9.500, sebab ditambah biaya transportasi,” ucap Romli, salah satu nelayan di Desa Pantaibahagia.

Dikatakan Romli, dengan pengeluaran yang begitu besar, banyak nelayan yang enggan untuk melaut. Mereka lebih memilih untuk merapikan perahu dan jaring mereka, hingga harga yang ditetapkan pemerintah pusat sudah stabil dan pasokan solar sudah kembali normal.

Romli menyayangkan pemerintah yang tidak cepat tanggap dengan keadaan nelayan sekarang, ditambah kata dia harga penjualan ikan tangkapan justru turun dari sebelumnya. ’’Ada beberapa jenis ikan yang turun, padahal BBM naik, semakin merugi saja nelayan kalau begini,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, perubahan musim juga mempengaruhi hasil tangkapan para nelayan, sebab para nelayan tidak bisa memprediksi dimana tempat ikan yang memang sedang banyak, karena ikan sendiri juga mengikuti suhu air laut yang berubah-ubah. ’’Lihat saja kapal itu (sambil menunjuk ke arah laut), baru tadi pagi mereka berlayar siang-siang sudah pulang karena ikannya jarang,” pungkasnya.

(gobekasi)

Lima Pintu Air Situ Gede Tak Berfungsi

15 October 2014

pintu airObyek wisata Situ Gede, Kota Tasikmalaya, kekeringan parah di musim kemarau saat ini. Dari kondisi normal ketersediaan air yang mencapai 1,4 juta meter kubik, saat ini hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik saja.

Selain mengakibatkan ratusan hektare sawah kekeringan dan gagal panen, minat wisatawan berkunjung ke obyek wisata andalan Kota Tasikmalaya ini menurun drastis. Penyusutan air Situ Gede sudah berlangsung sejak sekitar empat bulan lalu.

Korwil Irigasi Wilayah Cibanjaran, Dinas Bina Marga dan Pengairan, Kota Tasikmalaya, yang membawahi Situ Gede, Ade Yayat, mengatakan Situ Gede yang memiliki luas 47 hektare, nyaris tanpa air akibat musim kemarau. Lima pintu air yang tersedia, tak lagi mampu mengairi sawah.

“Dalam kondisi normal, Situ Gede mampu mengairi sekitar 223 hektare sawah yang berada di wilayah Linggajaya dan Mangkubumi. Dalam kondisi kekeringan seperti sekarang, entah ada sawah yang masih bisa dipasok air. Karena semua pintu air sudah kritis. Bahkan ada yang sudah kering,” kata Ade, Selasa (14/10/2014).

Menurut Ade, air yang masih menggenangi Situ Gede hanya tinggal sekitar 50 ribu meter kubik dari kondisi normal yang mencapai 1,7 juta meter kubik.

“Ketinggian air situ saat ini mungkin hanya sekitar setengah meter. Padahal dalam kondisi normal mencapai tiga sampai lima meter. Jika kemarau terus berlangsung, air akan terus menyusut,” ujar Ade.

Pemantauan Tribun, Selasa siang kemarin, bagian barat situ kerontang. Menurut warga, air sudah mengering sejak empat bulan lalu. Di lokasi itu, warga bisa berjalan kaki menuju pulau di tengah situ. Di pulau itu juga ada makam keramat Prabu Dilaga yang kerap dikunjungi warga dari berbagai daerah. Area yang sudah mengering itu dan mulai ditumbuhi rerumputan.

Menyusutnya air situ juga membuat para pelaku usaha wisata kelimpungan. Puluhan perahu wisata menganggur. Begitu juga rakit dan sepeda air. Sebagian warung pun tampak tutup.

“Pengunjung menurun drastis, karena sudah tidak ada hal menarik lagi di sini. Paling kami menunggu warga yang biasa jogging mengelilingi situ, untuk sekadar membeli minuman atau jajanan,” kata Endang (45), seorang pemilik sepeda air serta warung.

(tribunnews)

135 Hektar Lahan Pertanian di Sukabumi Kekeringan

14 October 2014

pareSekitar 135 hektar areal pertanian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat kekeringan akibat dampak kemarau panjang. Akan tetapi, kesulitan air tersebut belum menyebabkan gagal panen (puso).

Kepala Seksi Perlidungan Tanaman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan (DPTP) Kabupaten Sukabumi, Sodikin menyebutkan seratusan hektar lahan pertanian tersebut masih mengalami kekeringan tingkat ringan. Belum ada laporan kasus kekeringan berat yang menyebabkan puso.

“Bila kekeringan menyebabkan puso kami segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Targetnya, lahan pertanian tersebut bisa segera ditangani khususnya penyediaan sarana pengairan,” jelas Sodikin.

Kepala DPTP Kabupaten Sukabumi Sudrajat menerangkan sebagian besar areal pertanian tadah hujan. Akibatnya, begitu musim kemarau panjang tak sedikit yang terkena imbasnya berupa kekeringan.

“Sebagian besar petani saat ini sudah beralih menanam palawija. Hal ini dikarenakan musim kemarau menyebabkan sarana pengairan bagi padi berkurang dibandingkan sebelumnya,” tandasnya.

(poskota)

Kemarau Tiba, Petani Merugi Ratusan Juta

23 September 2014

kemarauAkibat musim kemarau tanaman padi di areal seluas 20 hektar di Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, gagal panen. Kondisi terparah terjadi di Desa Tegal Waru, keringnya areal pesawahan di desa ini, selain karena musim kemarau, kekeringan juga diakibatkan tak berfungsinya saluran irigasi.

Kekeringan yang melanda puluhan hektar sawah itu menyebabkan petani merugi ratusan juta rupiah. “Ya mau diapakan lagi semua sudah terjadi. Sekarang ini, kami hanya bisa pasrah menerima keadaan,” keluh Ketua Gabungan Kelompok Tani atau Gapoktan Tegal Waru, Encep, Minggu (21/09).

Ia menambahkan, kekeringan yang melanda areal pesawahan di Desa Tegal Waru itu sebenarnya bisa dicegah, jika saja perbaikan bendung yang ada di hulu Sungai Ciampea rampung sebelum datangnya musim kemarau.

“Bendung atau dam irigasi yang ada di hulu Sungai Ciampae, tak berfungsi lantaran ambrol diterjang longsor dan sampai sekarang perbaikannya belum rampung,” tambahnya.

Tak hanya itu, ia menjelaskan, bukan hanya sawah saja yang kering, tapi juga sumur-sumur warga. “50 persen warga yang tinggal di desa ini semuanya menggunakan sumur tanah sebagai sumber air bersih. Tapi sejak awal bulan lalu, sebagian besar sumurnya sudah mengering. Ini yang menyebabkan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Parahnya sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Bogor,” jelasnya.

Kepala Desa Tegal Waru, Haerudin, membenarkan kalau desa ini mengalami kekeringan.”Kekeringan memang belum begitu parah. Tetapi dalam satu minggu ini hujan tak kunjung turun, dikhawatirkan kejadian krisis air bersih seperti tahun 2012 lalu akan terulang kembali,” ujar Haerudin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnal Bogor, kekeringan juga melanda sejumlah kecamatan lainya, diantaranya Cariu, Jonggol, Babakan Madang dan Klapanunggal. Kekeringan di wilayah timur Kabupaten Bogor ini terjadi, selain musim kemarau juga disebabkan rusaknya kawasan-kawasan resapan air, yang berada di hulu Sungai Cipamingkis dan Cibeet, akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.

(jurnal bogor)

Di Tasik Sapi Sehat Diberi Segel

19 September 2014

susan-dan-sapinyaTim pemeriksan kesehatan hewan kurban Kota Tasikmalaya melakukan pemeriksaan terhadap ratusan sapi dan domba, Kamis (18/9/2014). Dari hasil pemeriksaan terhadap lima pedagang besar, pada umumnya kondisi sapi dan domba dalam keadaan baik.

Saat melakukan pemeriksaan ratusan sapi kurban milik H Nunu di Jalan Sutsen, petugas dari Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya, melakukan pemeriksaan suhu tubuh, detak jantung serta kondisi sapi secara kasat mata.
Suhu tubuh normal antara 37-40 derajat celcius, sedangkan detak jantung antara 55-70 kali dalam satu menit.

“Hasil pemeriksaan di lokasi penjualan Jalan Sutsen ini, rata-rata sapi dalam kondisi baik. Kondisi bulu bersih dan mulut basah menandakan sapi sehat,” ungkap Cecep, seorang petugas pemeriksa.

Menurut Cecep, hasil pemeriksaan di empat pedagang lainnya juga, tidak menemukan adanya hewan kurban yang sakit atau cacat. Yaitu tiga tempat penjualan hewan di Jalan A Yani, serta satu di Perumahan Bumi Resik Indah, Cipedes.

“Jadi para calon pembeli hewan kurban, tidak usah cemas jika hendak membeli hewan kurban. Tapi sebaiknya tetap jeli memeriksa dulu kondisi kesehatan serta fisiknya. Hewan yang sudah diperiksa dan dinyatakan sehat diberi ciri semacam segel yang mudah dikenali,” kata Cecep.

Sementara itu, pedagang hewan korban, H Nunu, mengatakan, omzet penjualan sapi kurban dari tahun ke tahun terus menurun. Selain karena pasokan sapi berkurang, disebabkan juga minat membeli hewan kurban yang menurun karena harga jual sapi yang selalu naik.

Menurutnya, tahun 2012 lalu ia bisa menjual 200 ekor sapi and tahun 2013 menurun jadi 150 ekor. Tahun 2014 ini, H Nunu hanya menyediakan 100 ekor sapi saja karena kalau menyetok terlalu banyak khawatir tidak laku. Dia membeli sapi dari para peternak di Kecamatan Cipatujah dan Cikalong Tasikmalaya.

(tribunnews)

Harga Singkong Naik Hampir 100 Persen

16 September 2014

truk-singkongIndustri kecil rumahan atau home industri mulai terusik dengan naiknya harga singkong sebagai bahan baku. Selain naik, keberadaan jenis penganan ringan yang sering dibuat combro dan keripik ini juga semakin langka.

“Sejak musim kemarau sebulan terakhir, harga singkong naik drastis hampir seratus persen dari Rp 1.500/kg jadi Rp 2.500/kg. Biasanya saya beli di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, sekarang singkong agak sulit didapat, kadang terpaksa nyarinya sampai ke Kawali Ciamis,” ujar Dadang, pengelola usaha rumah tangga pembuatan combro aneka rasa ‘Nungki Snack’ di Dusun Sukamaju, Desa/Kecamatan Sindangkasih, Ciamis, Senin (15/9/2014).

Setiap hari, kata Dadang, ia membutuhkan 25 kilogram singkong. Tiga pekerja dengan menggunakan mesin parut listrik, mengolah 25 kilogram singkong jadi 300 buah comro aneka rasa seperti rasa pedas, rasa gurih, dan rasa manis renyah. Ke-300 butir comro tersebut setiap hari terjual habis dititipkan di 10 warung/kios dengan harga jual Rp 500/biji comro.

Saat harga singkong masih tinggi, kata Dadang dalam seminggu terakhir muncul persoalan gas elpiji. “Harga gas tabung 3 kg naik drastis jadi Rp 19.000/tabung. Tapi barangnya susah di peroleh. Gara-gara barangnya sulit, gas elpiji beragam sekali harganya. Saya pernah beli Rp 20.000/tabung, bahkan sampai Rp 24.000/tabung juga pernah,” keluh Dadang.

Untuk menggoreng comro buatannya menurut Dadang setiap hari ia butuh 2 tabung gas elpiji 3 kg untuk dua kompor gas. “Gara-gara gas semakin sulit dan makin mahal, dua hari terakhir saya terpaksa banting stir terpaksa pakai kayu bakar. Menggoreng comronya pakai tungku (hawu),” katanya.

Ditengah naiknya harga singkong dan gas elpiji tersebut menurut Dadang, ia tidak menaikan harga jual comro. “Cuma ukuran comronya dikecil  sedikit. Habis mau bagaimana lagi, usaha harus tetap jalan dan mudah-mudahan ada untungnya,” ujar Dadang.

(tribunnews)

415 Hektare Sawah di Bandung Tercemar Limbah Industri

10 September 2014

kaliSeluas 415 hektare sawah ditemukan rusak dan sudah tidak produktif lagi diantaranya, di Desa Jelegong, di Desa Ciherang, Desa Najung Mekar dan di Desa Linggar Kabupaten Bandung.

Lokasi-lokasi tersebut terletak di empat Kabupaten kota, yakni, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Rusaknya ratusan hektare sawah itu disebabkan limbah industri (B3) yang mengalir ke sawah dan meracuni air dan hewan air yang hidup di kawasan tersebut.

“Kita temukan 415 hektar area sawah rusak dan sudah tidak produktif lagi karena dampak pembuangan limbah B3,” kata Kapolda Jabar Irjen Mochamad Iriawan di Mapolda Jabar Selasa (9/9/2014).

Iriawan mengatakan, hal itu diketahui setelah tim Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Polda Jabar melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada tanggal 8-9 Mei 2014 di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat.

“Ya, jelas ini sangat membahayakan masyarakat. Masyarakat kan menggunakan air sumur (tanah), makan ikan yang hidup di air yang terkena limbah, juga memakan nasi dari hasil panen yang terkena limbah,” katanya.

Selain itu, hasil sidak saat itu, lanjut Iriawan, ditemukan dokumen-dokumen perijinan perusahaan yang terkait dengan lingkungan tidak lengkap.

“Ijin perusahaan, terutama tentang lingkungan ternyata tidak lengkap,” katanya.

Selain itu, beberapa perusahaan atau industri memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bocor.

Sementara itu, Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jabar AKBP Ade Arianto menambahkan,  ada 14 perusahaan atau industri yang diperiksa. “Ada 14 yang perusahaan yang kita periksa, namun, yang kita konsen penyelidikan hanya 5 perusahaan,” katanya.

Beberapa perusahaan tersebut diantaranya, PT Kahatex, PT Tri Bakti, PT Hatori Indonesia, PT Jin Myong, PT Lotus Jingga Pratama, PT Sinar Baskara Sejati, PT Indah Jaya, PT Oriental Embroidery, PT Papyrus Sakti, PT Setiatex, Kusmajaya, PT Ateja, PT Cibaligo Indah, dan PT Holy Farma.

(tribunnews)

Digugat Newmont, Mendag Lempar “Bola” ke Menteri ESDM

2 July 2014

newmontPemerintah nampaknya harus serius menanggapi langkah PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) dan pemegang saham mayoritas Nusa Tenggara Partnership B.V (NTPBV) yang mengajukan gugatan arbitrase internasional, terkait pelarang ekspor sesuai dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 mengenai hilirisasi mineral.

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfhi mengaku tidak ikut membantu persoalan arbitrase tersebut. Menurutnya, ini merupakan ranah kebijakan dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). “Saya masih menteri perdagangan, bukan menteri ESDM,” kata Lutfhi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (2/7/2014).

Lutfhi menuturkan, yang pantas memberikan komentar mengenai aksi atau gugatan NNT mengenai arbitrase internasional adalah kementerian yang terkait. “Soal Newmont, tanya ke ESDM,” tutupnya.

Sekadar informasi, PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) dan pemegang saham mayoritasnya, Nusa Tenggara Partnership B.V. (NTPBV), suatu badan usaha yang berbadan hukum Belanda, mengumumkan pengajuan gugatan arbitrase internasional terhadap Pemerintah Indonesia.

Hal ini terkait dengan larangan ekspor yang telah mengakibatkan dihentikannya kegiatan produksi di tambang Batu Hijau. Penghentian produksi tersebut menimbulkan kesulitan dan kerugian ekonomi terhadap para karyawan PT NNT, kontraktor, dan para pemangku kepentingan lainnya.

Pengenaan ketentuan baru terkait ekspor, bea keluar, serta larangan ekspor konsentrat tembaga yang akan dimulai Januari 2017, yang diterapkan kepada PTNNT oleh Pemerintah tidak sesuai dengan Kontrak Karya (KK) dan perjanjian investasi bilateral antara Indonesia dan Belanda.

(Okezone)

CT: Perpanjangan Kontrak Freeport Tidak Bisa Hanya dengan MoU

26 June 2014

PABRIK-PENGOLAHAN FREPOTMenteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung, mengatakan, perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia tetap berdasarkan aturan yang berlaku, yakni dua tahun sebelum masa kontrak berakhir.

Adapun kontrak Freeport akan berakhir pada 2021. Dengan demikian, urusan perpanjangan kontrak praktis ditentukan oleh pemerintahan mendatang atau pada 2019. CT pun menegaskan bahwa perpanjangan kontrak Freeport tidak boleh dijamin dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).

“Enggak boleh. Itu bertentangan langsung,” katanya kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (25/6/2014).

Sebagai informasi, kontrak Freeport akan berakhir 2021. Belakangan beredar kabar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan jaminan bahwa kontrak Freeport bisa diperpanjang hingga 2041 dalam sebuah nota kesepahaman, meskipun nantinya yang meneken kontrak baru adalah pemerintahan 2014-2019.

Di sisi lain, renegosiasi kontrak karya Freeport hingga saat ini pun masih menemui jalan buntu. “Perundingan belum bisa tercapai karena masih ada hal-hal prinsip yang belum disepakati oleh pemerintah,” kata CT.

Sementara itu, ditanya soal hal prinsip apa dari keenam poin yang belum bisa disepakati, CT enggan membeberkan. Misalnya, terkait divestasi, CT hanya bilang bahwa pemerintah tidak ingin melanggar undang-undang.

“Terserah. Artinya kita membuka diri, dan dari mereka membuka. Kita akan percepat. Tapi kalau engga bisa, ya kita enggak bisa. Kita enggak mungkin melanggar Undang-undang dan peraturan pemerintah yang ada,” ujarnya.
(kompas.com)

Satpol PP Segel Galian Liar di Rumpin

8 May 2014

galian liarRumpin | Unit Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor, dibantu Polsek Rumpin kembali melakukan penutupan galian liar di wilayahnya. Kali ini aktifitas eksplorasi tanah di Kampung Cimanceri, RT 03/RW 02, Desa Sukasari, yang menjadi sasaran.
Galian yang terletak di atas lahan 5 ribu meter persegi ini diketahui dijadikan pengusaha galian untuk mengeruk hasil bumi tanpa dibekali perizinan.
“Dua accu dan alat berat kami sita, serta jalan masuk ke lokasi galian kami bentangkan tali peringatan agar kendaraan galian tidak lagi boleh masuk, jika setelah hari ini dilakukan penyegelan dan besok mereka kembali beraktivitas, tindakan lebih tegas lagi akan kami lakukan,” ujar Hasan Soleh Ka Unit Pol PP.
Lebih jauh ia mengatakan, setelah aksi pemantauan dan berujung pada penutupan, kini keberadaan galian illegal sudah semakin berkurang, tapi ia mengakui, masih saja ada para pengelola dan pekerja yang membandel, seperti melakukan kegiatan di malam hari.
“Penutupan ini akan terus kami lakukan. Kami sudah memiliki data lengkap, dan memang jika nantinya kami membutuhkan personil yang lebih banyak, saya akan minta Pol-PP kabupaten Bogor untuk membantu,” tambah Hasan Soleh.
Seperti diketahui, Kabupaten Bogor memang akan kaya Sumber Daya Alam (SDA). Hampir disetiap pelosok wilayah Bumi Tegar Beriman memiliki potensi surplus akan sektor ini. Dari Barat hingga Timur, di Selatan sampai Utara. Wajar jika kemudian banyak perusahaan baik lokal maupuan mancanegara yang bergerak di bidang hasil bumi berebut menjalankan roda bisnisnya di Bumi Tegar Beriman.

(Jurnal Bogor)

Next Page »