web analytics

39 Kontainer Bawang Putih Dilepas ke Pasar

19 March 2013   173 views

bawangSebanyak 39 dari 332 kontainer berisi bawang putih yang tertahan di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) dikeluarkan untuk menekan harga bawang putih di pasaran.

Pelepasan ini seiring disepakatinya harga bawang putih di tingkat distributor yakni Rp15.000 per kilogram. Pelepasan bawang putih disaksikan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan pada saat inspeksi mendadak (sidak) di Tanjung Perak Surabaya. Di dalam TPS Surabaya, saat ini tersisa 293 kontainer (setara 8.790 ton) bawang putih yang mayoritas berasal dari China.

Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan menambahkan, selain kesepakatan harga, pelepasan 39 kontainer bawang putih di Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Perak Surabaya, akhir pekan lalu juga telah berhasil menekan harga. Saat ini, di Pelabuhan Tanjung Perak masih terdapat 293 kontainer berisi bawang putih. “Yang 293 kontainer tersebut akan dilepas secara bertahap mulai hari ini (19/3),” kata Gita di Jakarta, kemarin.

Dengan dikeluarkannya 293 kontainer tersebut, diharapkan harga bawang di pasar akan kembali normal. Seperti diketahui, beberapa waktu lalu terdapat ratusan kontainer di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang berisi bawang putih dan tidak memiliki izin. Ratusan kontainer tersebut terdiri dari 293 kontainer bawang putih (setara 8.790 ton), 30 kontainer bawang bombay (setara 900 ton), 41 kontainer yang telah dikeluarkan oleh Karantina Tanjung Perak, serta 167 kontainer sisanya belum teridentifikasi.

Gita mengatakan saat ini proses pengeluaran kontainer sisa yang telah memiliki izin rekomendasi impor produk hortikultura (RPIH) sedang dalam tahap uji lab. Uji lab tersebut bertujuan mencegah masuknya organisme penyakit tumbuhan. “Memang ada prosedur yang harus dipenuhi. Saya sudah perintahkan kepada karantina dalam kontrol ini harus betul-betul cermat,” kata dia.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengaku, lambannya pengeluaran izin RIPH karena banyaknya dokumen yang harus ditandatangani. Dia menjelaskan dalam lampiran Permentan setiap komoditas yang diimpor harus menggunakan satu surat. “Ada 3.300 dokumen yang harus ditandatangani, dan itu memakan waktu. Apalagi ada proses verifikasi dari perusahaan importir terdaftar (IT),” kata Suswono.

Dia menegaskan akan tetap mengeluarkan izin supaya komoditas yang memang jatah semester I/2013 bisa keluar ke pasar, selama perusahaan importir memang telah mengajukan rekomendasi impor untuk periode tersebut. Setelah izin keluar, Mentan berharap importir tidak menahan komoditas di pelabuhan.

Dia akan melakukan tindakan tegas apabila ada upaya importir untuk menahan distribusi. Suswono juga akan merevisi lampiran supaya satu perusahaan cukup satu surat, tidak per komoditas. Saat ini Kementan sedang menyiapkan draft tersebut. Suswono optimistis revisi ini akan mempersingkat proses.

Sementara itu, terkait harga bawang merah, Gita akan menggunakan mekanisme penyelesaian harga yang sama. Karena, konsumsi nasional masih bertumpu pada impor dari luar. “Saat ini memang kita harus impor bawang merah. Tapi dalam waktu dekat, Brebes dan daerah lain akan panen,” tutur Gita.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan menambahkan, 323 kontainer yang sekarang akan dilepas semuanya dengan syarat semua dokumen perizinan sudah terpenuhi. Selama tidak ada dokumen, kontainer tersebut tidak bisa dikeluarkan.

Kendati sudah mengantongi persyaratan, komoditas impor yang masuk harus terlebih dahulu diverifikasi oleh Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya. ”Yang penting semua persyaratan terpenuhi. Kami akan mengambil inisiatif dengan mengambil sampel walaupun kelengkapan persyaratan belum terpenuhi. Saat ini, semua kontainer sudah memiliki surat, tinggal bagaimana importir menunjukkan surat-surat itu,” katanya.

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya Purwo Widiarto mengaku, telah bertemu dengan sejumlah importir bawang putih yang komoditasnya tertahan di TPS. Pemanggilan ini bertujuan untuk membantu percepatan proses perizinan agar bawang putih yang tertahan tersebut bisa segera keluar. “Saat ini, kami masih melakukan verifikasi. Nanti, hasilnya seburuk apapun harus diterima (oleh importir), apakah akan dilakukan penahanan atau penolakan (komoditas impor) terkait dokumen itu,” urainya.

Salah satu importir bawang putih Indra mengatakan, pihaknya saat ini sudah mengantongi semua persyaratan agar barang impornya bisa keluar dari TPS. Namun, dia masih akan mengurus sampel dulu ke Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya.

Biasanya, mengurus sampel ini butuh waktu selama satu hingga dua hari. “Saat ini mengurus perizinan memakan waktu agak lama. Mungkin karena banyak importir baru yang mendaftar,” ujar pemilik 20 kontainer bawang putih yang enggan disebut namanya ini.

Waspadai Krisis Pangan

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mengingatkan, kenaikan harga sejumlah komoditas pertanian seperti halnya harga bawang, dan kenaikan harga daging sapi harus diwaspadai serta mampu dicarikan jalan keluar secepatnya.

“Tidak hanya bawang saja, nantinya semua bahan pokok untuk pangan masyarakat dunia akan mengalami kenaikan. Pemerintah harus hati-hati,” tegas Prabowo dalam seminar nasional yang digelar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Peduli Malang Raya di Hotel Montana II, Kota Malang, kemarin.

Menurut dia, solusi yang bisa dilakukan pemerintah adalah memacu produktivitas pertanian, dan memperbaiki tata kelola pertaniannya. ”Saya sudah menyarankan presiden agar membesarkan peran Bulog. Kalau perlu ada gerai-gerai dari Bulog untuk distribusi bahan-bahan pertanian termasuk bawang,” tegasnya.

Terpisah, mantan Menteri Koordinator Perekonomian di era Presiden KH Abdurrahman Wahid Rizal Ramli menilai, tingginya harga bawang merah dan bawang putih disebabkan dua hal yang luput diperhatikan pemerintah. Menurut dia, penyumbang persoalan hingga melonjaknya harga bawang karena pemerintah tidak memiliki strategi serta kebijakan sektor pangan.

Ketergantungan impor inilah yang menjadi pemantik terjadinya kebijakan impor yang salah. Selama ini, sistem impor pangan lebih menitikberatkan pada kuota impor yang tidak transparan. “Inilah pemicu munculnya permainan patgulipat para pengusaha importir pangan yang diberi kewenangan dan pejabat,” kata dia, kemarin.

Rizal meminta Kementerian Perdagangan mengubah pola impor pangan dengan cara kuota menjadi sistem tarif. Selain itu, pemerintah juga diminta membuka pengusaha mana saja yang menerima kuota impor selama ini, dan seberapa besar kuota yang diterima, serta berapa keuntungannya. lukman hakim/ akhmad nur huda/ vitrianda siregar/ yuswantoro

Sumber + Foto ; koran-sindo.com

Areal Pertanian Sekitar Sungai Cijangkelok Kehilangan Sumber Air

15 October 2012   185 views

Foto:NURYAMAN/”PRLM”

Lahan areal persawahan dan ladang palawija di sekitar Sungai Cijangkelok di wilayah Kec. Cibingbin, sebagian besar kini sudah kehilangan sumber air. Sumur-sumur gali di tengah areal persawahan dan ladang yang dibuat setiap musim kemarau di sekitar sungai tersebut sudah kering kerontang.

Sementara, Sungai Cijangkelok yang bermuara ke pantai utara laut jawa itu, di sekitar wilayah Cibingbin sejak tiga pekan terakhir sudah tidak lagi diwarnai aliran air. Bahkan, titik-titik kubangan dan lubuk sumber air andalan petani pada musim kemarau di sungai tersebut saat ini sebagian besar sudah kering kerontang.

Akibatnya, lahan-lahan pertanian yang biasa mengandalkan air kubangan dan lubuk Sungai Cijangkelok di sejumlah desa wilayah kecamatan itu pun, kini kehilangan sumber air hingga tidak bisa diolah untuk tanaman pertanian.

Selain itu, dampak kemarau kali ini juga telah membuat sumur-sumur gali sumber air andalan kebutuhan rumah tangga penduduk Kec. Cibingbing di sejumlah desa sekitar sungai tersebut, kini banyak yang sudah kering kerontang. Sejumlah warga di Desa Dukuhbadag, di antarnya Ny. Sri (50) menyebutkan, sumur gali di rumahnya sudah dua bulan mengering sehingga terpaksa harus menyelang air dari sumur tetangga rumahnya.

Selain itu banyak juga warga di desa-desa sekitar Cijangkelok terpaksa memenuhi kebutuhan air jamban keluarganya dari kubangan-kubangan air tersisa di sungai tersebut. ”Untuk mencukupi kebutuhan air rumah tangga, terutama untuk mandi dan cuci, warga di desa kami sekarang banyak juga yang membuat sumur-sumur kecil di sungai seperti ini,” ujar Ny. Rusni (51) warga Dusun Wage, Desa dan Kec. Cibingbin, yang sedang mengambil air dari sumur kecil buatan warga di Sungai Cijangkelok sekitar dusunnya, Minggu (14/10/12) siang.

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan air minum dan masak warga yang sudah tidak memiliki sumber air bersih, terpaksa harus membeli air kemasan atau air bersih dari sumber air pedesaan. Namun, menurut warga beberapa desa di kecamatan tersebut, seperti di Desa Cibingbin, Dukuhbadag, Citenjo, dan Bantarpanjang, air untuk kebutuhan rumah tangga dan jamban keluarga sementara ini relatif masih cukup mudah diperoleh masyarakat.

Kecuali itu, air untuk keperluan olah tanam lahan pertanian di wilayah kecamatan itu, saat ini sudah benar-benar sangat sulit diperoleh petani. Kubangan-kubangan air di Sungai Cijangkelok yang setiap musim kemarau menjadi sumber air andalan lahan pertanian penduduk di kecamatan itu pun, sebagian besar sekarang sudah kering kerontang.

Sementara itu, beberapa wilayah kecamatan di Kab. Kuningan, termasuk di antaranya Kec. Cibingbin, dalam kurun waktu sepekan yang lalu sempat terguyur dua kali hujan lebat. Akan tetapi, hujan tersebut belum berpengaruh terhadap kondisi sumber air andalan para petani.(A-91/A-108)***

Sumber:pikiran-rakyat.com

Dampak dari Kekeringan, Petani Ciamis Rugi Rp144 M

6 September 2012   238 views

foto:antara

Kerugian yang ditanggung petani akibat musim kemarau yang berkepanjangan mencapai Rp144 miliar.

Kepala Bidang (Kabid) Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian (Distan) Ciamis Yayat Sudaryat didampingi Kabid SDM Tini Lastiniwati mengatakan, luas lahan pertanian yang dilanda kekeringan di Ciamis mencapai 6.936 hektare. Adapun lahan yang mengalami gagal panen dan puso akibat kekeringan mencapai 4.793 hektare. “Kalau diasumsikan ratarata produksi padi di Ciamis 65,32 kuintal/hektare maka kehilangan produksi padi mencapai 31.308 ton.Kalau dinilai dengan uang, dengan harga gabah Rp4.600 per kilogram maka petani mengalami kerugian hingga Rp144 miliar,” ungkap Yayat.

Adapun upaya yang dilakukan saat ini, tambah Yayat, pihaknya sudah membagikan bantuan pompa air kepada petani untuk digunakan menyedot air bagi daerah yang dilanda kekeringan, namun masih ada air alternatif seperti di Padaherang.“ Jumlah mesin pompa yang sudah disebar melalui kelompok berjumlah 191 unit,”ujarYayat. Menurut Yayat, sebagai antisipasi kekeringan pihaknya juga sudah menawarkan alternatif kepada petani untuk menanam kedelai jauh hari sebelum kemarau melanda Ciamis dan sekitarnya.Namun,sebagian besar petani menolaknya karena pesimistis dan tidak terbiasa menanam kedelai.

“Karena banyak petani yang menolak, bantuan kedelai yang dikembalikan kepada pemerintah pusat yaitu penyediaan bibit untuk 3.000 hektare,” tandasnya. Sementara itu, petani di wilayah Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis memanfaatkan aliran pembuangan Sungai Ciseel menggunakan mesin pompa air untuk mengaliri area persawahan yang kondisinya mengering. Langkah ini berhasil menyelamatkan 150 hektare tanaman padi di Dusun Sindangkerta, Desa Karangpawitan,Kecamatan Padaherang, Kabupaten Ciamis.

“Kesulitan air untuk mengairi persawahan di Padaherang Ciamis sudah berlangsung sejak dua bulan terakhir. Sejak itu, warga sangat bergantung dengan mesin pompa memanfaatkan apur (aliran pembuangan) dari Sungai Ciseel yang masih ada airnya,” ungkap Pardianto,petani. ujang marmuksinudin.

Sumber : www.seputar-indonesia.com

230 Hektare Sawah di Majalengka Puso

5 September 2012   183 views

ilustrasi

Sekitar 230 hektare sawah di Kabupaten Majalengka tahun 2012 ini dinyatakan puso, serta seluas 900 hektare lainnya mengalami kekeringan sedang, berat, dan ringan sehingga dinyatakan gagal panen. Akibat hal tersebut Kabupaten Majalengka akan diperkirakan akan mengalami penurunan target produksi sebesar 0,01 persen. Jumlah areal kekeringan tersebut tidak termasuk areal sawah milik petani yang memaksakan tanam di lahan yang dinyatakan pemerintah tidak ada jaminan pengairannya atau maksa tanam.

Menurut keterangan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka H. Wawan Suwandi disertai Kepala Bidang Tanaman Pangan Nana Supriana areal lahan sawah yang mengalami puso tersebut seluas 219 hektare berada di Kecamatan Ligung yang tersebar di sejumlah desa seperti Desa Kedungsari, Kedungkancana, Kodasari, Sukawera, Majasari dan Leuweunghapit dan sejumlah desa lainnya serta sisanya seluas 11 hektaran berada di Kecamatan Cingambul. “Areal kekeringan di Kecamatan Ligung ini mencapai 2/3 dari laus total kekeringan yang ada,” kata Nana. Untuk areal sawah yang mengalami kekeringan berat mencapai seluas 296 ha, sedang 242 ha dan kekeringan ringan seluas 154 ha.

Arealnya tersebar di sejumlah kecamatan, masing-masing Jatitujuh, Kertajati, Ligung, Lemahsugih dan Cingambul. Jumlah kerugian akibat kekeringan tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. “Kalau setiap hektar rata-rata menghasilkan 5 ton kali 230 hektar yang mengalami puso kerugiannya mencapai sekitar 1150 tonan. Jumlah tersebut belum, termasuk yang mengalami kekeringan sedang dan berat,” ungkap Nana. Sementara itu areal sawah di sejumlah daerah seperti sebagian Kecamatan Sumberjaya, Panyingkiran, Majalengka serta Cigasong yang kondisi tanamannya baru berumur sekitar satu bulan setengah kini terancam kekeringan. Kondisi tanahnya mulai retak-retak dan tanamannya mulai pirang. Dan persi pemerintah areal tanaman di wilayah tersebut tidak etrmasuk yang direkomendasikan untuk ditanami sehingga tidak tercatat sebagai kerugian walapun puso. (C-28/A-88)***

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Petani Bojongsari Menunda Bercocok Tanam

4 September 2012   201 views

TIA KOMALASARI/”PRLM”

Petani padi Bojongsari menunda bercocok tanam kembali akibat adanya kekeringan. Sementara di Limo, kekeringan juga melanda petani sayuran sehingga dikhwatirkan gagal panen. Minimnya sumber daya air menyebabkan petani memberlakukan sistem shift dalam penyaluran air ke berbagai wilayah.

Petani penggarap di Bojongsari, Ajliun (65) mengaku, kesulitan dalam memperoleh air untuk mengairi sawahnya. Dirinya terpaksa menunggu untuk bercocok tanam kembali sampai persediaan air mencukupi. “Kalau sekarang ini ya sulit air. Apalagi musim kering kayak gini,” ujarnya, Selasa (4/9).

Ajliun mengatakan, dirinya merupakan petani terakhir yang melakukan panen di wilayahnya. Sementara petani lainnya sudah melakukan panen mulai dari sebelum bulan puasa. Namun tidak ada satu pun diantara mereka yang sudah merencanakan untuk menanam padi kembali.

Hal senada diutarakan petani lainnya, Asman (63) mengaku petani di wilayahnya melakukan pembagian shift dalam pengairan. Pada siang hari, aliran air diarahkan pada empang atau kolam ikan. Sementara pada malam hari, dialirkan untuk sawah.
Pembagian air juga dilakukan per wilayah. Misalnya saja setiap malam Sabtu dan malam Minggu, air dialirkan ke daerah Bojongsari, sementara hari lainnya ke Kecamatan Sawangan. Asman mengatakan, pembagian air berdasarkan waktu tersebut bertujuan untuk pemerataan air bagi petani di Depok. Meski agak sulit mendapatkan air, namun dengan pembagian air pada malam hari untuk sawah menurutnya cukup membantu petani.

Dia memprediksi kekeringan atau kesulitan air tersebut tidak berlangsung lama, seperti biasa saat musim penghujan air akan melimpah. “Ya memang sekarang air sulit, tapi nanti saat musim hujan air akan melimpah,” terangnya.

Meski begitu, ia tetap berharap agar sawah di Depok tidak tergerus oleh perumahan. Menurutnya, sebgai petani penggarap dia prihatin dengan alih fungsi lahan menjadi perumahan. “Ya ini memang pekerjaan kita satu-satunya, kalau sawah digusur kita mau kerja di mana lagi,” ujarnya.

Tidak hanya di Bojongsari, kekeringan juga mulai melanda petani sayur di Limo. Menurut salah satu petani sayur, Rojak, mengatakan sebanyak dua hektar lahan di Limo juga mengalami kekeringan. Menurut dia, kekeringan menyebabkan para petani sayuran mengalami gagal panen.

Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Pertanian Kota Depok Zalfinus Irwan mengatakan pihaknya sudah menyalurkan bantuan untuk pengadaan pompa air. Pompa air tersebut merupakan bantuan dari pemeirntah pusat dalam menanggulangi kekeringan. Untuk itu dirinya mempertanyakan bantuan pengadaan pompa air tersebut sudah digunakan apa belum. “Kalau ditanya kesulitan air. Kan sudah ada bantuan dari APBN, pengadaan pompa air sudah dipakai kelompok tani belum,” ujarnya. (A-185/A-147)***

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Bulog Divre Ciamis Siap Cairkan BCP Untuk Bantu Korban Kekeringan

3 September 2012   227 views

Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Ciamis siap mencairkan beras cadangan pemerintah (BCP), untuk membantu mengatasi kesulitan pangan bagi masyarakat korban kekeringan atau kemarau panjang.

Hanya saja penyaluran beras cadangan tersebut baru bisa dilaksanakan apbila sudah ada keterangan resmi dari pemerintah daerah yang menyatakan bahwa kekeringan sudah masuk dalam kategori bencana alam.

“Prinsipnya kami siap untuk meyalurkan beras cadangan pemerintah (BCP) untuk penanggulangan darurat. Keterangan keadaan darurat itu terlebih dahulu harus diputuskan oleh pemerintah setelah menilai akibat gagal panen atau tanam sehingga masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan,” kata Kepala Bulog Divre Ciamis Ali Hardi, Minggu (2/9).

Dia mengungkapkan untuk memutuskan kondisi atau status tersebut pemerintah kabupaten atau kota melakukan rapat koordinasi yang melibatkan instansi terkait, seperti pihak kecamatan, Dinas Pertanian, Bagian Sosial dan lainnya.

Dari hasil rapat kordinasi nantinya dapat menentukan langkah berikut, termasuk menentukan berat ringannya kondisi bencana.

“Yang penting harus terlebih dahulu ditentukan statusnya,sebagai bencana alam. Bencana alam itu bisa akibat kemarau atau yang lainnya, sehingga perlu penanganan darurat. Sekali lagi kami siap untuk mencairkan,” ujarnya.

Beberapa hal yang harus dijelaskan dalam menghadapi keadaan tersebut, Ali Hardi menambahkan, perlu ada kriteria mengenai pihak penerima, berapa banyak BCP yang akan disalurkan.

Kemudian berapa lama bantuan didistribusikan, dan lainnya. Dengan demikian, ia mengatakan penyaluran bakal tepat sasaran, tepat waktu.

“Kami membutuhkan data berapa banyak yang harus dibantu. yang mengetahui detil ada di kecamatan, hal itu juga tidak bisa dilepaskan peran dari Dinas Pertanian. Selanjutnya Bupati atau wali kota mengajukan permintaan pencarian BCP melalui Dinas Sosial. Kami segera layani dan gratis,” katanya.

Kepala Bulog Divre Ciamis yang membawahi lima wilayah Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten garut dan Kota Banjar, mengatakan bantuan tersebut biasanya berlangsung hingga masyarakat bisa kembali mengakses pangan seperti sebelumnya, atau sebelum ditetapkan kondisi bencana.

“Dengan demikian perlu ketentuan jelas berapa lama bantuan itu disalurkan, itu diputusakan dalam rapat koordinasi. Sebenarnya kami sudah cukup lama menyampaikan mekanisme tersebut kepada seluruh wilayah. Pemerintah kabupaten atau kota yang membutuhkan segera membuat permintaan,sampai saat ini belum ada yang mengajukan,” tuturnya.

Sebelumnya Ketua Komisi 2 DPRD Kota Tasikmalaya Ade Ruhimat menilai bahwa kekeringan akibat kemarau sudah masuk dalam kategori bencana alam. Dengan keadaan atau status tersebut, maka pemerintah secepatnya turun tangan mengatasi keadaan.

Ia menambahkan bahwa yang menjadikan dasar kondisi saat ini sebagai bencana di antaranya karena kemarau panjang mengakibatkan banyak sawah puso dan gagal panen serta ancaman terjadinya rawan pangan.

“Hasil pemantauan lapangan hampir seluruh kecamatan, khsusunya Tamansari dan Kawalu banyak areal persawahan yang kekeringan. Kondisi terseut bisa berdampak pada ancaman kemungkinan rawan pangan, khususnya beras. Selain itu juga berdasar hasil dialog dengan gabungan kelompok tani yang mengeluh akibat kemarau panjang,” ujarnya.

Untuk membantu meringankan petani, Ade Ruhimat menambahkan sudah saatnya pemerintah Kota Tasikmalaya segera mencairkan BCP yang disimpan di Bulog. Selanjutnya BCP disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya petani. Untuk mencairkan BCP, baru bisa dilaksanakan melalui Surat keputusan (SK) Wali Kota Tasikmalaya.

“Kami secepatnya minta pemerintah kota segera membuat SK pencairan BCP. Saat ini masyarakat sudah membutuhkan, di lain sisi ada BCP. Sayang jika tidak dimanfaatkan, apalagi untuk membantu masyarakat,” ujarnya.(A-101/A-89)***

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Pakar Tempe Inggris: Hati-Hati Tempe Diklaim Malaysia

28 July 2012   185 views

Jakarta – Beberapa hari terakhir tempe-tahu hampir hilang di pasaran, khususnya di Jakarta akibat harga kedelai melambung mencapai Rp 8.000/kg. Jika kejadian ini tidak cepat diatasi, negara lain bisa mengincar tempe sebagai makanan khasnya dikarenakan sulitnya mencari tempe di Indonesia.

Pakar Tempe asal Inggris Jonathan Agranoff mengatakan, masalah kedelai mahal yang membuat produsen berhenti produksi jangan sampai terulang kembali.

“Sayang, tempe ini warisan Indonesia, panganan tradisional, jangan sampai orang di Indonesia sulit cari tempe, ini berbahaya,” kata Jonathan di dalam acara Polemik ‘Memble Tanpa Tempe’ di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (28/7/2012).

Berbahayanya, kata Jonathan, karena tempe bisa diklaim oleh negara lain. Karena di negara lain sangat mudah mendapatkan tempe.

“Kalau di Indonesia saja susah cari tempe, ini membuat negara lain bisa saja seperti Malaysia, Australia bisa mengklaim tempe adalah asli dari negara mereka,” ucapnya.

Apalagi Amerika Serikat saat ini sudah mematenkan tempe jenis mereka sendiri. Sama halnya juga di Jepang ada tempe khas mereka sendiri yang diproduksi secara besar-besaran.

“Padahal semua negara yang membuat tempe, itu belajarnya dari orang Indonesia, terutama dari orang Jawa, tidak ada orang di dunia yang bisa buat tempe seenak buatan orang Jawa atau orang Indonesia,” ungkapnya lagi.

Untuk itu Jonathan meminta, pemerintah dan setiap stakeholder menyadari betapa pentingnya panganan asli Indonesia ini.

“Petani kedelai lokal harus diberdayakan, produsen tempe-tahu lokal diberdayakan, tingkatkan teknologinya, patenkan caranya, produknya, untuk apa? agar tempe yang warisan Indonesia ini diakui dunia dan asal tempe hanya di Indonesia bukan di negara lain. Apalagi saat ini saya jujur sedang merindukan tempe yang digoreng dengan bumbu dan aroma bawang putih dan ketumbar, di mana saat ini khususnya di Jakarta sulit didapatkan karena tempe langka,” tandas Jonathan.

Sumber : www.detik.com

Indonesia Diharapkan Kirim Tenaga Ahli Pertanian ke Gambia

22 July 2012   154 views

Dubes Andradjati (kanan) dan Presiden Zambia

Jakarta Presiden Gambia Sheikh Alhajj Yahya AJJ Jammeh berharap pemerintah Indonesia dapat membantu mengatasi persoalan pertanian yang tengah mereka hadapi. Pengiriman tenaga ahli pertanian merupakan salah satu jenis bantuan yang diharapkan.

Pernyataan itu disampaikan Presiden Yahya Jammeh saat bertemu dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Gambia, Andradjati. Pertemuan itu merupakan bagian dari kegiatan penyerahan credentials atau surat-surat kepercayaan atas penunjukan Andradjati selaku Dubes RI untuk Gambia.

“Gambia saat ini berupaya memperbaiki sistem pertaniannya setelah mengalami kegagalan panen pada tahun 2011. Untuk itu, Presiden Gambia mengharapkan Indonesia dapat membantu,” kata Dubes Andradjati dalam surat elektroniknya kepada detikcom, Sabtu (21/7/2012).

Disebutkan Andradjati, Indonesia dan Gambia telah memiliki hubungan yang telah terjalin baik sejak lama. Pada tahun 2005 lalu, Presiden Yahya Jammeh juga sempat berkunjung ke Indonesia. Diharapkan hubungan tersebut dapat terus ditingkatkan, khususnya di bidang pertanian dan perdagangan bilateral.

“Presiden Yahya Jammeh juga menekankan pentingnya peningkatan perdagangan langsung antara kedua negara yang masih rendah. Gambia mengakui kualitas produk-produk buatan Indonesia, namun sayangnya saat ini produk Indonesia sebagian besar masih diimpor dari negara ketiga,” tukas Andradjati.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis (19/7/2012) waktu Gambia tersebut, Andrajati berpendapat senada tentang pentingnya penguatan kerjasama dalam banyak hal antara kedua negara. Pada pada tahun 2011, Pemerintah Indonesia telah mengirim tiga tenaga ahli pertanian ke Agriculture Rural Farmer Training Center (ARFTC) di Jenoi guna memberikan pelatihan dan penyuluhan bagi petani Gambia.

“Sementara pada tahun ajaran 2012, Pemerintah Indonesia telah menyetujui beasiswa bagi dua WN Gambia yang akan mengambil program pasca sarjana di Indonesia,” kata Andradjati.

Sumber : www.detik.com

Petani Jabar Bidik Ekspor Tembakau

17 July 2012   303 views

BANDUNG – Tingginya hasil produksi tembakau di Jawa Barat membuat Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat membidik peluang ekspor yang ada.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jabar Nana Suryana mengatakan,pihaknya akan fokus menggarap potensi ekspor tembakau nasional ke sejumlah negara yang memproduksi rokok di dunia. Menurut dia, permintaan pasar tembakau jenis hijau dan hitam sangat tinggi.Pada 2011, permintaan tembakau hijau mencapai 2.000 ton sedangkan tembakau hitam sebanyak 3.000 ton. “Kami akan fokus menggarap pasar ekspor.

Ini untuk mengantisipasi pengaruh atas pemberlakuan aturan pemerintah tentang pengamanan produk tembakau,” jelas Nana Suryana di Bandung,kemarin. Dia menyebutkan,produksi tembakau hijau nasional hanya mencapai 196 ton atau hanya terpenuhi sekitar 9%. Sementara produksi tembakau hitam 313 ton atau hanya terpenuhi sekitar 11%.

Menurut dia, petani tembakau Jawa Barat berpotensi menggarap peluang tersebut. Apalagi, produksi tembakau Jabar cukup besar. Rata-rata, produksi petani tembakau di Jawa Barat mencapai 8.800 ton/tahun. Dihasilkan dari besaran luas lahan tembakau sekitar 9.618 hektare.Sementara jumlah petani tembakau di Jabar mencapai 89.000 kepala keluarga

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com

Sawah di Sekitar Aliran Sungai Cijangkelok Mulai Kering dan Sulit Diolah

11 July 2012   264 views

KUNINGAN, (PRLM).- Areal sawah dan ladang pertanian di desa-desa sekitar aliran Sungai Cijangkelok wilayah Kec. Cibingbin, Kab. Kuningan, kini sudah mulai kering serta sulit diolah petani untuk ditanami padi maupun tanaman palawija. Di balik itu, Sungai Cijangkelok yang biasa dijadikan andalan pengairan areal sawah dan ladang palawija oleh para petani, saat ini juga sudah mulai surut dan nyaris mengering akibat kemarau.

Menurut sejumlah penduduk di kecamatan sekitar perbatasaan wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut, wilayah Kec. Cibingbin dan sekitarnya sudah hampir dua bulan penuh tidak terguyur hujan. Namun masih beruntung, menurut para petani, tanaman padi pada areal sawah tersebut tidak ada yang mengalami puso kekeringan.

“Kebetulan, pada saat-saat kemarau tiba, tanaman padi pada areal sawah di sepanjang sungai ini, sudah mendekati usia panen sehingga tidak ada yang sampai mengalami kekeringan dan gagal panen,” ujar seorang petani di Desa dan Kec. Cibingbin Tarjo (61) yang sedang mengairi ladang tanaman palawinya menggunakan mesin pompa air dari Sungai Cijangkelok, Selasa (10/7/12).

Namun, pascapanen padi, areal sawah di desa-desa di Kec. Cibingbin, seperti di antaranya di Desa Sindangjawa, Cibingbin, Citenjo, Dukuhbadag, dan Batarpanjang, sebagian besar kini terancam menganggur karena tidak ada sumber air. Terlebih lagi untuk areal sawah dan lahan darat tanaman pertanian yang jauh dari aliran Sungai Cijangkelok.

Petani penggarap dan pemilik lahan pertanian di desa tersebut, sekarang memang cukup banyak juga yang masih berusaha memanfaatkan lahan keringnya diolah serta ditanami tanaman palawija, seperti jagung dan kacang kedelai. Namun, upaya pemanfaatan lahan kering di musim kemarau, menurut Tarjo dan sejumlah petani lainnya di desa-desa tersebut, memerlukan tenaga dan biaya ekstra khusus untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan tanamannya.

“Untuk memenuhi kebutuhan air tanaman palawijanya, sebagian besar petani di desa-desa sekitar sungai ini, termasuk saya, biasa memanfaatkan air dari sungai ini dipompa menggunakan mesin pompa air seperti ini,” kata Daslam (40) yang sedang merapikan selang penyalur air dari mesin pompa air bersama dua petani lainnya di tepi Sungai Cijangkelok di sekitar perbatasan Desa Cibingbin dan Citenjo.

Sementara itu, areal sawah dan ladang pertanian serta desa-desa di wilayah Kec. Cibingbin sebagian besar berada di daerah dataran rendah bervariasi perbukitan kawasan hutan jati Perhutani. Di wilayah kecamatan yang berbatasan dengan wilayah Kec. Banjarharjo, Kab. Brebes, Jawa Tengah itu, terdapat aliran sungai besar, yaitu Sungai Cijangkelok yang bermuara ke daerah pantai utara melalui Kec. Banjarharjo.

Sungai tersebut, menurut penduduk di desa-desa di wilayah Kec. Cibingbin, memiliki karakter cukup drastis dalam hal perubahan volume dan arus airnya. Kalau datang musim hujan, menurut warga sekitar, volume air sungai tersebut sangat cepat meningkat bahkan sering kali meluap dahsyat.

Sebaliknya, jika di daerah hulu dan sekitarnya tidak terguyur hujan selama satu bulan saja, volume dan aliran air di sungai tersebut langsung menyurut drastis. Berdasarkan pengalaman pada musim-musim kemarau sebelumnya, para petani di desa-desa sekitar sungai tersebut, memperkirakan jika dalam sebulan ke depan tidak ada hujan, sungai tersebut bakal kering kerontang. (A-91/A-108)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/195450

« Previous PageNext Page »