Ini Dia 3 Tempat Pemandian Air Panas di Bogor

11 February 2015

Ada tiga tempat pemandian air panas Bogor yang dapat Anda pilih di Bogor. Ketiga tempat mandi air panas ini kerap didatangi pengunjung, terlebih di akhir pekan dengan arus kedatangan pengunjung dari Jakarta.

Sebagai salah satu tujuan wisata akhir pekan warga Jakarta, tempat pemandian air panas Bogor adalah kegiatan wisata berbiaya murah dan menyegarkan.

Berendam di air panas adalah sebuah terapi alami yang sangat ampuh mengembalikan kesegaran tubuh dan memperlancar sirkulasi darah. Setelah bekerja keras mencari nafkah, maka akhir pekan adalah saat yang tepat untuk mendapatkan kembali kebugaran badan melalui mandi air panas.

Selain kawasan Puncak Bogor dan sejumlah tempat wisata di Bogor favorit lainnya, ada juga tempat pemandian air panas di Bogor yang dapat menyegarkan tubuh Anda. Berikut ini adalah 3 tempat air panas di Bogor yang patut Anda kunjungi:
1. Wisata Air Panas Gunung Pancar Bogor

Tempat pemandian air panas Bogor yang satu ini adalah kolam air panas alami yang bersumber dari Gunung Pancar. Lokasi pemandian air panas Gunung Pancar ini berada di daerah Babakan Madang, berjarak sekitar 45 menit dari Sirkuit Sentul. Pemandian air panas di Bogor ini berada dalam kawasan hutan lindung pinus Gunung Pancar.

Air-Panas-Gunung-Pancar-BogorOleh karena itu, untuk dapat masuk ke dalam kawasan hutan lindung ini, Anda akan dikenai tiket masuk sebesar Rp 2 ribu per orang untuk wisatawan domestik, dan Rp 5 ribu untuk wisatawan mancanegara. Jika Anda membawa kendaraan sendiri, maka tarif parkir di kawasan wisata Gunung Pancar adalah sebesar Rp 1000 untuk mobil ataupun motor.

Tiket masuk di atas belumlah termasuk biaya untuk berendam air panas. Untuk dapat menikmati air panas Gunung Pancar Bogor ini, maka Anda harus membayar tiket masuk kolam pemandian di sana. Harga tiket masuk air panas Gunung Pancar adalah sebesar Rp 10 ribu per orang. Untuk tarif parkir kendaraan di area pemandian air panas, Anda harus membayar sebesar Rp 2 ribu untuk motor dan Rp 4 ribu untuk mobil.

Wisata air panas Gunung Pancar Bogor memiliki sejumlah fasilitas publik yang cukup baik. Tersedia kolam-kolam pemandian air panas, yakni kolam umum, kolam keluarga, dan kolam 3 rasa.

Anda tidak perlu khawatir, sebab kolam umum ini terbagi lagi untuk pengunjung laki-laki dan pengunjung perempuan. Ada juga kolam air panas yang tertutup dan menjaga privasi Anda, ini diperuntukkan bagi Anda yang memang menginginkan suasana yang lebih pribadi. Anda dapat menggunakan kolam air panas tertutup ini untuk Anda sendiri, bersama pasangan, atau bersama dengan anggota keluarga Anda.

Jika ingin privasi, Anda harus membayar biaya untuk mendapatkan kolam privat di sana, yakni sebesar Rp 25 ribu per orang selama satu jam atau Rp 100 ribu per keluarga selama satu jam.

Tempat pemandian air panas Gunung Pancar Bogor dikenal juga dengan khasiat air panasnya yang mampu menyembuhkan penyakit. Oleh sebab itu, terdapat fasilitas terapi air panas di tempat wisata ini. Kapanpun Anda ingin mandi air panas, kolam air panas Gunung Pancar terbuka 24 jam untuk Anda.
2. Wisata Air Panas Tirta Sanita Ciseeng Bogor

Lokasi tempat pemandian air panas di Bogor ini terletak di Desa Ciseeng, Parung. Oleh karenanya, tempat wisata ini lebih sering disebut sebagai tempat air panas Ciseeng di Bogor. Untuk dapat masuk ke kawasan air panas Tirta Sanita di Ciseeng ini Anda akan dikenakan tiket masuk sebesar Rp 8 ribu untuk orang dewasa dan Rp 6 ribu untuk anak-anak.

Tirta-Sanita-Ciseeng-BogorSementara itu, untuk dapat berendam di kolam air panas Ciseeng maka Anda wajib membayar lagi untuk dapat berendam. Harga berendam di kolam air panas Ciseeng bervariasi, dari harga Rp 10 ribu hingga 50 ribu per orang. Di tempat wisata air panas Ciseeng ini, juga tersedia aneka kegiatan menarik lainnya. Di antaranya adalah wahana permainan anak-anak, penginapan, water park mini, serta tempat makan.

Air panas Ciseeng ini bersumber dari Gunung Kapur Ciseeng. Kandungan air panas di tempat ini juga berkhasiat menyembuhkan penyakit, seperti rematik dan pegal-pegal. Tempat wisata air panas Tirta Sanita Ciseeng terbuka untuk umum, dibuka dari pukul 7 pagi hingga 8 malam setiap hari.
3. Wisata Air Panas Gunung Salak Endah, Ciparay Bogor

Air-panas-Gunung-Salak-Endah-BogorDi antara wisata pemandian air panas di Bogor, kolam air panas Ciparay adalah yang paling murah. Lokasi air panas Ciparay ini terletak di Desa Ciparay, Kecamatan Pamijahan, Gunung Salak Endah, Bogor. Untuk dapat berendam di kolam air panas Ciparay, Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar Rp 4 ribu per orang.

Anda harus menuruni sekitar 400 anak tangga untuk dapat sampai ke tempat pemandian ini. Salah satu tempat pemandian air panas favorit di Bogor ini diminati pengunjung karena suasananya yang masih alami.

Juga, tersedia saung untuk bersantai serta warung-warung penduduk lokal yang menyediakan menu kopi, teh manis, indomie rebus, dan makanan ringan lainnya. (initempatsiwata.com)

Melihat Wisata Alam Situ Gede di Dramaga Bogor

11 February 2015

situ-gede-kampus-dramagaSitu Gede adalah sebuah obyek wisata berupa danau seluas 6 hektar yang terletak di Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, sekitar 10 kilometer dari Kota Bogor, Jawa Barat. Oleh karena lokasinya yang dekat dengan Kota Bogor, maka untuk mencapai obyek wisata ini relatif mudah. Bagi pengunjung yang datang dari arah Jakarta dapat melalui Jalan Sholeh Iskandar-Yasmin-Terminal Bubulak-Situ Gede. Sedangkan, bagi pengunjung yang datang dari arah Kota Bogor dapat melalui Jalan Gunung Batu-Terminal Bubulak-Situ Gede.

Kondisi Danau Situ Gede merupakan sebuah danau dengan luas sekitar enam hektar yang dikelilingi oleh hutan penelitian milik Badan Litbang Kehutanan yang digunakan sebagai lokasi Pusat Penelitian Kehutanan Internasional atau Cifor (Center for International Forestry Research). Pasokan air di Situ Gede berasal dari mata air yang bermuara di Situ Burung, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Setelah terkumpul di danau, air tersebut sebagian digunakan untuk irigasi sawah dan perkebunan di sekitar Kelurahan Situ Gede yang luasnya sekitar 70 hektar.

Selain berfungsi sebagai penampung air, Situ Gede juga dijadikan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Panorama di sekitar danau, terutama pada saat matahari akan tenggelam, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang datang ke danau itu. Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil yang ada di tengah-tengah danau.

Apabila belum puas, tidak jauh dari lokasi Situ Gede terdapat dua buah anak danau lagi, yaitu Situ Leutik (kini sudah menghilang) dan Situ Panjang. Warga sekitar beranggapan bahwa ketiga situ tersebut apabila diamati secara saksama akan berbentuk menyerupai sebilah kujang, senjata tradisional khas masyarakat Jawa Barat.

Namun sayang, obyek wisata ini belum bisa memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan asli Pemkot Bogor, karena tidak banyak memiliki fasilitas hiburan dan tempat bermain. Saat ini baru tersedia tempat duduk untuk menikmati udara dan pemandangan di sekitar danau serta beberapa buah perahu yang diantaranya berasal dari sumbangan Gubernur Jawa Barat waktu itu, Danny Setiawan.

Apabila fasilitas hiburan dan tempat bermain ditambah dan atau diperbaiki, bukan tidak mungkin pengunjung di Situ Gede akan bertambah beberapa kali lipat dari sebelumnya. Dengan penambahan beberapa fasilitas hiburan, maka pemasukan dana pun bukan hanya dari retribusi masuk saja, tetapi juga dari fasilitas-fasilitas tersebut. Dan, hal ini tentu saja akan meningkatkan pendapatan asli daerah, sama seperti tempat-tempat wisata lainnya di Kabupaten Bogor.

Akses Menuju Lokasi:
Dari Stasiun Kota Bogor : Naik angkutan umum nomor 03(BS-Bubulak) turun di Sindang Barang Jero(SBJ),
kemudian naik angkutan umum 15(SBJ-Ps.Anyar), Turun di situ gede.
Dari Terminal Baranangsiang Bogor : nomor 03 turun di Sindang Barang Jero(SBJ),
kemudian naik angkutan umum 15(SBJ-Bubulak). Turun di situ gede. (kotabogor.go.id)

Banyak Taman, Bahagiakah Warga Bandung?

5 February 2015

tamanKehadiran taman-taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Fotografi, dan Taman Film, di Kota Bandung dengan tujuan besar menjadi “kota bahagia”, dinilai berbagai kalangan sebagai hal yang positif. Meskipun demikian, apakah warganya bahagia?

Masih terlalu dini memang menilai “kebahagiaan” warga Bandung berdasarkan index of happiness. Pasalnya, baru seumur jagung taman-taman sebagai salah satu ciri “kota bahagia” itu bisa dimanfaatkan publik.

Namun begitu, ungkapan-ungkapan perasaan spontan warga Bandung yang diwawancarai Kompas.com, pada Rabu (4/2/2015), menunjukkan antusiasme tinggi. Salah satunya Miriam Fajria.

Menurut dia, taman-taman tematik menjadi salah satu magnet baru dan mengundang masyarakat untuk beraktivitas di sana.

“Karena bertema, orang-orang sekarang jadi makin tertarik buat ke taman kota. Apalagi sekarang ke taman itu jadi gaya hidup. Jadi sehat kan dibandingkan pergi ke pusat belanja atau kafe,” ujar Miriam.

Selain itu, tambah Miriam, kehadiran taman tematik mampu mewadahi hobi warga Bandung. Mereka yang punya kesamaan hobi bisa berkumpul di taman dengan temanya masing-masing.

“Baiknya juga, orang-orang kan punya hobi yg berbeda. Komunitas dengan hobi yg berbeda itu difasilitasi. Jadi mereka yang datang ke taman punya tujuan yang sama, dan bisa memperluas jaringan komunitas itu sendiri,” lanjut Miriam.

Kurang perawatan

Warga lainnya, Adithya Asprilla, mengatakan taman tematik patut diapresiasi karena menjadikan Bandung lebih sedap dipandang mata. Sehingga mengubah pandangan warga yang sebelumnya ragu untuk ke alun-alun masjid, misalnya, menjadi pengunjung tetap.

“Orang-orang jadi senang buat acara di taman kota. Itu menarik juga, setiap minggu bisa liat acara yang sesuai dengan tema taman. Tamannya juga jadi bagus karena ditata secara unik tapi sayangnya kurang perawatan,” ujar Adithya.

Hal senada dikatakan Olfi Fitri. Menurut Olfi, taman kota sudah cukup nyaman untuk didatangi. Sayangnya, beberapa taman masih belum optimal perawatannya.

“Cukup nyaman untuk main di taman kota, tapi semakin ke sini ada fasilitas yang kurang terawat. Kesadaran pengunjung taman juga masih kurang, masih ada yang buang sampah sembarangan,” ujar Olfi.

Adithya menambahkan, sebenarnya akan lebih baik jika pengunjung mampu menjaga kebersihan taman-taman tematik yang ada. Hal ini ia maksudkan agar taman kota lebih nyaman untuk dipakai sebagai sarana publik.

“Ya ini kan sarana publik, memang harusnya dijaga sama-sama. Di beberapa acara sih, biasanya suka ngeliat sampah berserakan. Harusnya bisa lebih menjaga kebersihan, tempat sampah kan sudah disediakan,” tandas Adithya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Penataan dan Pembangunan Taman, Rikke Siti Fatimah, mengatakan, sebenarnya telah ada tiga pihak yang turut mengurus pemeliharaan taman di Kota Bandung, antara lain petugas Dinas Pertamanan, pegawai harian lepas, serta pihak ketiga. Namun, tak semata-mata pemeliharaan dilepaskan kepada tiga pihak tersebut.

Menurut Rikke, meskipun telah ada petugas pemeliharaan, masyarakat juga harus terlibat langsung dalam pemeliharaannya.

“Kita melibatkan masyarakat dalam mengelola taman. Masyarakat bukan hanya jadi pengguna tapi juga sebagai pemelihara. Setelah taman digunakan, masyarakat wajib membersihkan kembali sampah yang berserakan. Jangan bergantung pada Dinas Pertamanan,” ujar Rikke.

Saat ini, telah ada sepuluh taman yang dibuat di Kota Bandung: Taman Musik Centrum, Taman Fotografi, Taman Film, Taman Pustaka Bunga, Taman Anak Tongkeng, Taman Persib, Taman Pasupati, Taman Fitness, skate park, dan pet park.

Pada 2015 ini, Pemerintah Kota Bandung berencana menambah tiga taman tematik, yaitu Taman Piknik, Taman Caang Baranang, dan Study Park. Selain taman tematik, program “Satu RW, Satu Taman Bermain” juga akan dilaksanakan pada tahun ini.

(Kompas)

Duh, Kotornya Pantai Pangandaran

3 February 2015

pantaiPantai Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata Jawa Barat. Namun sayang keberadaannya kurang diperhatikan Pemerintah Kabupaten Pangandaran, terutama masalah kebersihan pantai.

Dari pantauan galamedianews, Selasa (3/2/2015), sampah nampak berserakan disepanjang pantai, sehingga mengganggu kenyamanan para pengunjung.

Menurut Ratna, salah seorang warga setempat, sampah itu berasal dari laut dan pengunjung , bukan dari warga. Namun kata dia sampah akan semakin banyak apabila musim hujan seperti sekarang ini.

“Warga mencoba membersihkan sampah, tapi tetap saja sampah masih mengotori pantai Pangandaran,” tambahnya.

Dikatakannya, warga Pangandaran bukan tidak peduli akan kebersihan.

“Tapi sampah-sampah itu memang sangat sulit dibersihkan,” katanya lagi.

Pantauan galamedianews.com, sampah mengotori sepanjang pantai Pangandaran (pantai Barat) sejauh kurang lebih 3 km. Kebanyakan adalah sampah rumah tangga maupun alam yang terbawa arus air laut.

(Galamedia)

Liburan, Mandi Embun di Curug Malela

28 January 2015

curug malelaKEINDAHAN alam Jawa Barat memang tidak ada duanya, salah satunya Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat. Sebuah air terjun yang memiliki keindahan dan panorama alam yang menjanjikan kesegaran dan kesejukan, walaupun belum digarap maksimal oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Banyak orang menyebut Curug Malela sebagai Niagara kecil. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 30 – 50 m dan lebar 50 m. Air terjun ini hulu sungainya berasal dari lereng utara Gunung Kendeng yang mengalir membentuk jaringan sungai Cidadap dan bermuara ke Cisokan.

Aliran airnya sangat deras namun menyejukan bagi siapa saja yang mengunjungi curug tersebut. Terutama cipratan air yang jatuh ke dasar sungai sehingga membentuk kabut atau embun air terhempas angin. Jika menerpa wajah dan badan kita, rasa sejuk akan terasa hingga tembus ke tulang. Apabila kita berada di dekat air terjun, serasa mandi. Karena dalam waktu sekejap, badan kita akan kuyup terkena embun curug yang sejuk dan menyegarkan.

Apabila sedang beruntung kita dapat menyaksikan ratusan ekor monyet ekor panjang (macaca pasciscularis) sedang minum air di bawah Curug Malela. Suatu pemandangan yang mengasyikan. Sayang, saat penulis ke sana, tidak ada satu ekor pun monyet ekor panjang yang menampakkan batang hidungnya.

Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian tujuh air terjun sepanjang 1 km di sungai Cidadap. Urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk. Semua curug ini terletak di desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

Setiap air terjun yang ada disana memiliki kekhasan tersendiri. Seperti Curug Malela memiliki air terjun yang terpisah saat jatuh dengan 5 jalur yang ada. Curug Katumiri pada pukul 8-9 pagi bisa memperlihatkan pelangi di badan air terjun. Curug Ngebul adalah kebalikan dari Curug Malela, yaitu air yang jatuh justru berkumpul sehingga menimbulkan efek kabut dan suara yang menggelegar.
Sementara Curug Manglid memiliki goa di belakang air terjunnya. Curug Sumpel memiliki daerah di bawah air terjun yang lebar meski terlihat sempit dari kejauhan.Sedangkan Curug Palisir mirip Curug Malela meski dengan ketinggian yang lebih rendah. Terakhir, Curug Pameungpeuk adalah air terjun dengan muara antara Sungai Cidadap dan Cisoka yang terletak tidak jauh dari air terjunnya.

Aksesibilitas menuju lokasi menjadi kendala utama yang menjadi hambatan pengembangan kawasan wisata ini. Sekalipun pada tahun 2009 – 2010, pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar menggelontorkan dana sekitar Rp 1,2 miliar untuk penataan dan pembuatan jalan setapak ke curug Malela. Namun sayang, aksesibilitas ke sana tidak diurus dan dikelola dengan baik, sehingga kondisinya saat ini hancur tak karuan. Sehingga membuat para pengunjung harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke curug yang menawan ini.

Untuk bisa mencapai Curug Malela relatif mudah. Setelah tiba di Ds. Cicadas, sejumlah warga setempat siap memandu Anda menuju ke lokasi air terjun. Jarak sekitar 80 km arah barat daya dari Kota Bandung, Ds. Cicadas ini terbilang desa “paling ujung” dari Kab. Bandung Barat yang berbatasan langsung dengan Kab. Cianjur. Untuk bisa mengunjungi desa ini dari Kota Bandung, diperlukan waktu sekitar 4 jam, dengan melewati beberapa kecamatan, yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, hingga Kec. Rongga.

Jika ingin menggunakan kendaraan umum, angkutan minibus dari Cimahi atau dari Bandung bisa menjadi pilihan. Hanya saja, angkutan ini hanya bisa sampai Sindangkerta. Sisa perjalanan harus ditempuh dengan ojek serta berjalan kaki.

Kendaraan pribadi pun bisa juga digunakan. Namun kendaraan yang digunakan haruslah kendaraan tinggi atau jenis 4 x 4. Pasalnya, sekitar 10 km jalan menuju Desa Cicadas berada dalam kondisi rusak parah. Itu pun hanya bisa digunakan hingga Ds Cicadas, tidak sampai Curug Malela. Selanjutnya Anda harus jalan kaki atau naik ojeg.

Perjalanan menuju pusat curug berjarak sekitar 2 km, dengan medan yang sangat curam. Walaupun kini telaj dibangun jalan setapak serta sejumlah tempat istirahat, tetap saja diperlukan energi yang lebih agar Anda bisa kembali lagi ke Ds. Cicadas.

Melewati semak belukar yang tinggi, jurang, serta sawah tadah hujan milik penduduk setempat. Namun, kondisi udara kawasan itu sangat bersih dan sejuk sehingga perjalanan tetap menyenangkan dan menyegarkan. Apalagi, selama perjalanan terdengar suara deburan air terjun dari kejauhan.
Meski potensinya luar biasa, infrastruktur yang dimiliki masih sangat minim. Badan jalan cukup sempit. Bahkan, tidak satu pun papan petunjuk terpasang guna memandu pengunjung menuju Curug Malela. Papan penunjuk arah hanya ada di Desa Cicadas. Padahal, dari kantor desa setempat menuju lokasi wisata masih 3 kilometer lagi.

Sebenarnya di kawasan ini (Kecamatan Rongga masih ada beberapa curug yang indah dan layak dikunjungi. Seperti Curug Buana, Curug Cilinggapayung dan Curug Nyandung. Sayangnya untuk mencapai kedua tempat itu harus melalui medan yang berat dan rusak.

(Galamedia)

Ritual Pemberkatan Mobil Jadi Destinasi Wisata di Jepang

27 January 2015

jepang-Shiofune-Kannon-jiLOKASI wisata di Jepang umumnya terkait agama Buddha atau aliran kepercayaan Shinto. Sebuah tempat wisata di pinggiran kota Tokyo, yang lokasinya sekitar 20 menit jalan kaki dari stasiun Higashi Ome ini merupakan tempat wisata sekaligus tempat pemberkatan bagi motor dan mobil agar selamat di jalan raya.

Itulah kuil Shiofune Kannon-ji bersama dengan taman Fukiage Shobu. Taman ini adalah taman bunga Iris yang warna warni umumnya violet sebanyak 100.000 tumbuhan dan mekar sempurna setiap Juni.

Tempat yang saya kunjungi di awal tahun 2015 ini juga memiliki 20.000 pohon Azalea yang warna warni cantik. Sedangkan kuil di sana memilkiki riwayat ribuan tahun lalu. Dilengkapi patung Buddha yang tingginya sekitar 8 meter itu, dan apabila kita berada di patung tersebut dan melihat ke arah Timur, apabila cuaca cerah, terlihatlah gunung Fuji yang cantik pula.

Di situ juga ada taman Kasumi Kyuryo Shizen (Natural Hill Park) di sebelah utara kuil tersebut serta dapat juga jalan-jalan di antara pohon pinus di sekitarnya.Tempat ini didirikan di jaman Taika (645-650), oleh Yaobikuni, kelompok pengikut agama Buddha wanita yang berusia 800 tahunan yang semula berasal dari Wakasa, kini bernama Obama, di perfektur Fukui (dekat Kyoto), Jepang.

Seorang pendeta Buddha, Gyoki Bosatsu (668–749) juga ikut membantu mengembangkan tempat kuil tersebut sampai kepada taman-tamannya. Kuil di sana itu ternyata juga bagian dari Kanto 88 Kannon Pilgrimage. Salah satu dari kuil di Kanto (Tokyo dan sekitarnya) yang menjadi bagian dari 88 kuil yang harus diziarahi oleh penganutnya.

Antara kuil dan patung Buddha itulah ada lokasi untuk pemberkatan mobil dan motor bagi umum. Siapa saja silakan datang dan dapat meminta untuk diberkati. Tentu harus bayar dengan biaya sekitar 1000 yen untuk mobil dan harga sepatuhnya untuk motor. Untuk masuk wilayah wisata itu pun juga dikenakan 300 yen per orang. Terbuka 24 jam sehari bagi yang ingin melihat tempat wisata ini.

Pemberkatan sekitar 15 menit dan bersama pengendara berdiri sambil berdoa di samping kendaraannya dan pendeta kuil yang bersangkutan akan memberkati kendaraan kita (motor atau pun mobil). Termasuk pencipratan air suci kepada kita dan kendaraan yang bersangkutan.

Cara menuju ke sana dari Tokyo menggunakan jalur Japan Railways (JR) Chuo Line Rapid menuju stasiun Ome, lalu pindah kereta lokal dan berhenti di stasiun Kabe atau stasiun Higashi-?me Station. Kira-kira 80 menit sampai tempat itu dari Tokyo dengan biaya kereta api 918 yen sekali jalan. Apabila berhenti si stasiun Kabe jalan kaki sekitar 30 menit.

(kompas.com)

Sensasi Tubing di Aliran Irigasi Lereng Merapi

14 January 2015

belan-river-tubingTubing atau single rafting memakai ban dalam mobil truk menyusuri sungai menjadi salah satu alternatif wisata yang kian digemari. Di kawasan lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Krogowanan, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah terdapat wahana tubing menyusuri aliran irigasi. Ya, aliran irigasi yang biasanya dimanfaatkan warga untuk pengairan kebun dan sawah itu kini dimanfaatkan untuk wahana wisata tubing.

Siapa pun yang mencobanya akan merasakan sensasi dan tantangan berbeda ketimbang tubing menyusuri sungai. Betapa tidak, kita akan merasakan sensasi menyusuri derasnya debit air saluran irigasi bendung tlatar daerah irigasi Krogawanan dengan yang lebih sempit ketimbang sungai, sekitar 1-2 meter saja. Sama halnya di sungai, kita pun akan menemui sejumlah jeram yang memompa adrenalin.

Keseruan bertambah ketika kita harus melewati beberapa jembatan kecil yang rendah sehingga butuh teknik tertentu agar berhasil melewati tanpa membantur kepala. Mbelan River Tubing adalah nama satu-satunya kelompok penyedia jasa wisata tubing irigasi tersebut. Kelompok ini beranggotakan sekumpulan pemuda Dusun Krogowanan yang cukup kreatif membuat wahana wisata alternatif selain obyek wisata gardu pandang Gunung Merapi, Ketep Pass.

Sutejo (40), Ketua Kelompok Mbelan River Tubing, menjelaskan ada dua rute yang bisa dipilih oleh wisatawan. Rute pertama merupakan rute bagi pemula karena jarak lebih pendek sekitar 2 kilometer, kedalaman sekitar 1 meter dan dapat ditempuh sekitar 30 menit. Rute ini dimulai dari bawah Jembatan Tlatar menyusuri beberapa dusun antara lain Dusun Karangrejo-Nglumut, lalu melingkari Dusun Krogowanan dan berakhir di Dusun Talaman. “Sepanjang menikmati tubing, wisatawan akan menikmati keindahan alam lereng Merapi dan tentu keramahtamahan penduduk sekitar yang akan senantiasa menyapa,” ujar Tejo, panggilan akrab Sutejo, Selasa (13/1/2015).

Sedangkan rute kedua, merupakan rute ekstrem, lokasinya berada di bawah Sungai Pabelan. Sungai ini merupakan salah satu sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Jarak rute ekstrem sekitar 2,5 kilometer yang dapat ditempuh sekitar 1 jam. Mengapa disebut rute ekstrem, karena arus rute ini lebih kencang berikut tantangan yang lebih banyak dibanding rute pemula. Dimulai dari bawah jembatan Tlatar, melawati Dusun Talaman dan berakhir di Pasar Tumpang.

“Wisatawan tidak perlu khawatir karena kami mengutamakan keselamatan. Selama tubing akan dipandu oleh beberapa kru profesional. Wisatawan harus melakukan pemanasan serta wajib memakai perlengkapan keamanan seperti helm, pengaman siku dan lutut,” jelas Tejo.

Wisatawan juga tidak perlu takut akan biaya mahal. Pasalnya, Mbelan River Tubing mematok harga yang cukup terjangkau, hanya Rp 30.000 per orang untuk tubing rute pemula dan Rp 50.000 per orang untuk rute ekstrem. Wisatawan akan mendapatan sejumlah fasilitas seperti pemandu profesional, snack, makanan, minuman hangat dan jamu tradisional. Tejo menuturkan, seluruh kru yang memandu tubing merupakan para pemuda dusun setempat. Mereka berasal dari bermacam-macam latar belakang, ada pelajar, petani, pedagang, karyawan dan sebagainya. Kendati demikian mereka telah terlatih untuk menjadi pemandu tubing profesional.

MBelan River Tubing berdiri pada November 2014. Ide awal pendirian wahana ini bermula ketika Sutejo menyaksikan Youtube terdapat wahana serupa di Bali. Menurut Tejo, Krowonanan memiliki potensi besar untuk diangkat menjadi desa wisata dan tidak kalah menarik dari Bali. Apalagi, desa ini menjadi jalur wisata utama menuju gardu pandang Gunung Merapi, Ketep Pass. “Respon masyarakat sangat bagus. Kepala desa kami juga sangat mendukung,” ucap Tejo.

Kepala Desa Krogowanan, Sugiyono, mengaku mendukung penuh adanya Mbelan Riber Tubing yang dikelola oleh Karang Taruna Krogowanan ini. Wahana ini menjadi salah satu upaya untuk mendukung jalur wisata Ketep Pass, serta diharapkan dapat menopang perekonomian penduduk setempat dan menambah pendapatan asli dusun maupun desa Krogowanan. “Dengan wahana ini pula kami ingin menumbuhkan kesadaran warga agar menjaga kelesatarian sungai ataupun irigasi, agar mereka tidak lagi membuang sampah di aliran irigasi,” kata Sugiyono.
(kompas.com)

Jakarta Punya Hutan Mangrove

7 January 2015

hutan mangrove Muara AngkeTERNYATA di daerah Jakarta Utara kita bisa menemukan sebuah hutan mangrove atau hutan bakau. Inilah satu-satunya hutan yang tersisa di Jakarta.

Hutan Mangrove yang dinamakan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) ini terletak di Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. SMAA sangat mudah dijangkau. Banyak kendaraan umum yang melalui jalur ini.

Saat masuk ke SMAA kita akan disambut oleh kera-kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Kera-kera ini bisa membuat kita ragu-ragu untuk masuk ke SMAA, tapi kera-kera itu sudah jinak, kok.

Setelah melapor di pos jaga, kita mulai petualangan di hutan mangrove. Kita berjalan menyusuri board walk sepanjang 800-an meter. Board walk itu terbuat dari kayu. Alat ini dibuat karena daerah berawa tak bisa dilalui orang.

Berjalan di board walk sambil memandang tanaman bakau yang berwarna hijau serta rimbunnya pohon pidada sangat menyenangkan. Pohon bakau memiliki akar tunjang yang bercabang-cabang. Tinggi akar itu bisa mencapai 0,5 sampai 2 meter.

Pohon Pidada juga unik. Ia memiliki akar napas. Akar ini bentuknya seperti tombak, muncul dari dalam lumpur di sekeliling pohon.

Buah pidada berbentuk bulat. Bagian tengahnya ada semacam tangkai. Kalau kita beruntung, di rawa kita bisa melihat hewan-hewan liar seperti biawak, kadal, dan ikan-ikan rawa.

Dalam perjalanan itu kita akan melewati menara pengamatan burung. Tingginya sekitar 20 meter dari atas tanah. Kalau berani naik, silakan. Enaknya, sih, mengamati burung itu pagi hari sebelum burung-burung pergi mencari makan atau sore setelah mereka kembali lagi.

Meneruskan perjalanan, kita akan menemukan tempat peristirahatan. Dari sini kita bisa mendengarkan suara burung yang berada di dalam ilalang. Beberapa jenis burung pun bisa terlihat. Kebanyakan yang terlihat adalah burung kuntul.

Perjalanan berakhir di ujung board walk yang buntu, tertutup hutan bakau yang cukup lebat. Kita harus kembali ke pos. Menikmati hutan mangrove bisa juga dengan naik perahu menyusuri sungai Angke. Jika mau, kita harus menghubungi petugas di pos.

Izin Dulu

Mau jalan-jalan ke SANA? Boleh saja, tapi harus minta izin dulu ke Departemen Kehutanan-Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam – Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta – Jalan Salemba Raya Nomor 9 Jakarta Pusat, Telp: 021-3908771/3158142.
(kompas.com)

Menikmati Taman Tertua Di Indonesia

24 December 2014

krbTAHUN ini usia Kebun Raya Bogor atau Kebun Botani Bogor mencapai usia ke-196 tahun. Tidak banyak perubahan dari Kebun Raya Bogor(KRB) disaat usia akan menginjak dua abad ini.

KRB merupakan sebuah kebun botani besar yang terletak di Kota Bogor, Jawa Barat. Luasnya mencapai 87 hektare dan memiliki lebih dari 15.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan. Rata-rata tanaman yang ada di sana sudah berusia tua atau seumur dengan KRB yang didrikan tanggal 18 Mei 1817 oleh Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen yang menunjuk Prof. Dr. C. G. C. Reindwart, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman.

Kala itu nama KRB dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).

Kini, usianya mau mencapai dua abad. Dan kini KRB sudah menjadi daerah tujuan wisata bagi para wisatawan yang datang ke Kota Bogor, terutama hari Sabtu dan Minggu. Di sekitar Kebun Raya Bogor tersebar pusat-pusat keilmuan yaitu Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi Bogor, dan pustaka.
Misi pendidikan diusung oleh KRB ini, terlebih dalam pengelolaannya dibawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Makanya KRB – LIPI akan terus mengemban misi untuk menjadi rujukan dan percontohan melalui pembinaan juga dukungan terhadap pembangunan kebun raya di seluruh daerah di Indonesia. Bahkan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor juga telah sepakat bekerjasama dengan Universitas Kyoto, Jepang. Kerja sama ini dalam rangka melakukan konservasi tumbuhan yang terancam punah yaitu bunga bangkai (Amorphophallus titanium), yang selama ini menjadi kebanggaan Kebun Raya Bogor.

Berlokasi di jantung Kota Bogor atau sekitar 80 km Kota Bandung, yakni di Jln Ir. H. Juanda No.13 Bogor. Karena berada di pusat kota, keberadaan KRB menjadi sesuatu hal yang mencolok diantara bangunan megah, hotel, dan mall. Jalanan macet menjadi pemandangan yang lumrah dalam keseharian. Ratusan angkot menjadi pemanis KRB yang melintas di jantung Kota Bogor.

Untuk bisa masuk ke dalam KRB, Anda bisa membeli tiket dipintu I KRB yang berada dibagian utara. Harga tiket yang terjangkau cukup bagi Anda untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, terutama ilmu botani Selain bisa menikmati aneka tanaman langka dan berusia tua, Anda pun bisa menikmati berbagai fasilitas yang berkaitan dengan tanaman yang ada di Herbarium Bogoriensi, museum Zoologi, dan perpustakaan, serta aneka bangunan tua.

Dari kejauhan, Anda pun bisa menikmati megahnya Istana Bogor walaupun hanya bagian belakangnya. Sebuah kolam yang luas dengan aneka tanaman Bunga Teratai menjadi pemisah antara Istana Bogor dengan KRB. Sebuah patung perempuan yang tengah duduk di pinggir kolam menjadi penghias halaman belakang Istana Bogor. Konon, patung perempuan ini salah satu karya Presiden Pertama Indonesia, Soekarno yang merefresentasikan keindahan alam Indonesia (Sunda, red) dengan sebuah patung perempuan.

Keberadaan kolam pemisah ini menjadi objek menarik bagi siapapun yang ingin mengambil gambar (foto, red) dengan latar belakang Istana Bogor. Saat kita berada di pinggir kolam, kita serasa di sebuah castel (Istana, red) di negeri seribu kerajaan.

KRB memiliki beberapa koleksi menarik yang diminati masyarakat, seperti Bunga Titan Arum (Amorphophallus titanum Becc.) salah satu bunga yang langka. Bunga dengan perbungaan terbesar di dunia ini tingginya bisa mencapai 3 meter. Pada saat mekar, bunga tersebut menebarkan bau bangkai sehingga mengundang serangga untuk membantu penyerbukannya.

Tidak hanya itu, lebih dari sekitar 10.000 spesimen anggrek koleksi Kebun Raya Bogor ditampilkan di rumah anggrek yang dilengkapi sistem fogging sebagai pengatur kelembaban. Selanjutnya, terdapat pohon palem (Arecaceae), tanaman obat, buah-buahan langka, meranti (Dipterocarpaceae) dan kantung semar (Nephentaceae).

Koleksi unik lainnya, seperti pohon raja (Koompassia excelsa), teratai raksasa (Victoria amazonica) dan pohon-pohon tua seperti leci, randu dan jati, semakin melengkapi keragaman koleksi yang ada.

Selain koleksi tanaman tropis, Kebun Raya Bogor juga memiliki beberapa tempat dan bangunan bersejarah yang menarik untuk dikunjungi. Begitu memasuki gerbang utama Kebun Raya Bogor, tampak deretan pohon kenari (Canarium vulgare) di sebelah kiri dan kanan jalan. Pohon yang ditanam tahun 1831, 1834, dan 1835, berasal dari Sulawesi dan Maluku ini menimbulkan kesan tersendiri.

Kemudian Taman Teysmann, sebuah taman bergaya formal yang dibangun tahun 1889 sebagai penghargaan kepada Johannes Teysmann, salah seorang kurator Kebun Raya Bogor yang banyak berkarya dalam bidang lansekap. Masih banyak tempat lain yang menarik, yaitu Taman Lebak Sudjana Kasan, Jalan Astrid, Taman Kaktus, juga Monumen J. J. Smith, Jembatan Gantung, Pohon Kalong, Kuburan Belanda, serta Monumen Lady Raffles adalah tempat yang jarang dilewatkan begitu saja.

Monumen Lady Raffles memang menjadi daya tarik lain, selain koleksi tanaman. Namun sayang, para pengunjung jarang bahkan tidak pernah mengunjungi sebuah kompleks makam tua di Kebun Raya Bogor. Terletak dibagian belakang Kebun Raya Bogor, kompleks makam tua ini konon merupakan makam pendiri dan para pekerja ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg serta para tentara Belanda serta para pejabat Belanda pada masa itu.

Berbagai macam batu nisan dan prasasti dengan berbagai ukuran yang diukir menggunakan bahasa Belanda menjadi daya tari tersendiri. Namun sayang, tidak banyak yang mengungkap sejarah dari makam tua tersebut.

Luas area sekitar 87 hektar, Kebun Raya Bogor memiliki koleksi tumbuhan lebih dari 15 ribu spesimen, yang dikelompokkan ke dalam 3.441 jenis, 1.265 marga, dan 220 keluarga. Sebagai kebun raya yang memiliki tipe habitat dataran rendah basah, Kebun Raya Bogor terletak pada ketinggian 260 m d.p.l., dengan kelembaban udara 80 – 90% dan curah hujan 3.000 – 4.300 mm/tahun.

Setiap pengunjung yang membutuhkan informasi tentang Kebun Raya Bogor dapat menghubungi Pusat Informasi. Beragan fasilitas sengaja disediakan untuk melayani pengunjung, seperti Cafe de daunan, guest house, penjualan tanaman, juga perpustakaan.

Kemudian Gedung Laboratorium Pendidikan Konservasi, Garden’s Gifts, wartel, herbarium dan koleksi biji serta sarana ibadah mesjid dan musola. Setiap pengunjung yang memiliki karcis masuk mendapat layanan asuransi jiwa.

(galamedia)

Setiap Akhir Pekan 2000 Orang Kunjungi Gunung Padang

20 December 2014

gn padangSalah seorang pengelola situs Gunung Padang, Jajang (35) menyebutkan, setiap Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai 1000 – 2000 orang. Sangat berbeda dengan hari biasa yang hanya mencapai 100-500 orang.

“Hari ini, jumlah pengunjung memcapai 1000 orang. Jumlah ini akan bertambah menjelang siang, apalagi cuaca bagus,” kata Jajang yang ditemui di Situs Megalitikum Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Sabtu (20/12/2014).

Dikatakannya, pihak pengelola menerjunkan sebanyak 30 orang untuk mengawasi para pengunjung. Para pengunjung, kata dia, diperbolehkan menginjak-nginjak zona inti situs gunung Padang.

“Selama ini belum ada intruksi dari pemerintah, jika zona inti tidak boleh diinjak pengunjung. Kalau ada perintah, kami siap melaksanakannya,” tandasnya.

Untuk kenyamanan para pengunjung di puncak gunung Padang, lanjut dia, pemerintah telah menyediakan tempat atau menara pandang. Mereka bisa menikmati pemandangan Sekeliling gunung padang sambil menikmati makanan.

“Pengunjung dilarang makan di zona inti. Kami sudah menyiapkan tempat,” katanya.

Jajang menyebutkan, harga tiket masuk ke Gunung Padang Rp 2000 per orang. Tiket tersebut tanpa ada fasilitas apapun dari pengelola maupun asuransi kecelakaan.

“Tiket ini dikeluarkan oleh Perdes bukan Peraturan Kabupaten. Jadi kami tidak menyediakan fasilitas apapun dan asuransi kesehatan ” katanya.

Untuk masalah keselamatan pengunjung, kata dia, 30 orang juru pelihara siap membantu para pengunjung. “Mereka sudah siap jika terjadi apa-apa yang menimpa para pengunjung,” tanbahnya.

Untuk mencapai puncak situs Gunung Padang, ada dua jalur totian tangga. Pertama adalah tangga batu yang dibangun oleh para leluhur Sunda kala itu sejauh 150 meter. Jalur satu lagi adalah jalur tangga landai sejauh 350 meter.

(galamedia)

« Previous PageNext Page »