web analytics

Menikmati Gemulai Tayub Bojonegoro

25 March 2014   65 views

tayubJANGAN lewatkan malam tanpa tayub di Bojonegoro, Jawa Timur. Mampirlah ke Desa Jono dan nikmatilah penari-penari cantik, gemulai bertayub ria, dengan suara merdu pula. Anda tentu saja boleh ikut menyandang sampur dan menari bersama mereka.

Malam terang bulan di Bojonegoro. Menembus gelap malam, melewati sawah dan hutan jati, akhirnya tiba juga di Desa Jono, Kecamatan Temayang, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro. Di pendopo balai desa yang terang benderang, gamelan bertalu-talu. Tujuh perempuan penari tayub, atau sindir, menyinden merdu sambil menari gemulai. Tubuh mereka dibalut kain kebaya warna merah jambu. Warna-warna yang menyegarkan malam. Ya, malam itu, Kamis Legi (13/3), Bojonegoro memperlihatkan salah satu sisi keindahannya dalam tayub.

Mbak Yun, salah seorang penari, dengan merdu ikut melantunkan tembang ”Caping Gunung”. Tak kurang dari Bupati Bojonegoro Suyoto atau Kang Yoto ikut tayuban. Bahkan Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga menjajal menari bersama lengkap dengan sampur tersampir di pundaknya. Tamu yang dipandang terhormat biasanya memang didaulat untuk ikut menari dengan ditandai dikalungkannya selendang.

Tetamu cukup duduk lesehan berteman camilan ndeso berupa jagung rebus, pisang rebus, ubi rebus, dan kacang rebus. Plus kopi panas dalam cangkir kecubung. Sementara itu, laron-laron beterbangan di pendopo mengitari terangnya sinar lampu.

Budaya agraris

Desa Jono terletak di tepian hutan jati di jalur Bojonegoro-Nganjuk. Desa Jono, atau n-Jono dalam lafal orang Jonegoro, adalah Desa Wisata Budaya. Di sini tumbuh seni tradisional, seperti jaranan, kethoprak, dan yang paling terkenal adalah tayub yang oleh warga sekitar disebut sindir. Disebut sindir atau sindiran karena lantunan syairnya bermuatan pesan atau sindiran.

Kepala Desa Jono, Dasuki, menuturkan, saat ini ada sedikitnya 22 sindir atau penari tayub. Menjadi sindir atau penari tayub merupakan profesi yang cukup menjanjikan di n-Jono. Dalam paket pergelaran lengkap, termasuk gamelan, penabuh, dan perangkat tata suara, kelompok tayub bisa mendapat bayaran Rp 10 juta-Rp 12 juta. Di luar tanggapan kelompok, para sindir tayub pun bisa ditanggap secara personal. Tarif untuk yunior atau petayub pemula sekitar Rp 500.000. Adapun petayub terkenal bisa mencapai Rp 8 juta per sindir. ”Setiap sindir bisa tanggapan 5-10 kali sebulan, apalagi pas musim wong duwe gawe,” kata Dasuki.

Sejumlah waranggana (sinden) tayub populer di antaranya Tegowati, Rasmi, Wariyati, Mujiati, Yuyun, Prihatini, Natipi, dan Hartini. Sekali pentas sedikitnya tarif mereka manggung Rp 2,5 juta. Dalam bertayub, penari tayub atau sindir bisa tampil berdua atau bisa juga sampai belasan penari. Penonton boleh menari bersama penari tayub. Acara akan semakin ramai dan hangat ketika sindir menyanyikan gending-gending populer. Malam itu, misalnya, tampil tujuh sindir membawakan tembang ”Gambir Sawit” serta ”Praon” atau ”Prau Layar”.

Hapus citra negatif

Tayub lahir dari kehidupan masyarakat agraris. Biasanya tayub digelar sebagai tanda syukur seusai panen atau menjadi hiburan pada acara hajatan seperti khitanan. Kelompok tayub kadang juga mbarang atau mengamen dengan mangkal di emperan toko sekitar Pasar Besar Kota Bojonegoro atau Pasar Kebo. Keberadaan Tayub Janggrung memang sudah lama menjadi ikon Bojonegoro sejak tahun 1980-an dan dinikmati masyarakat kalangan bawah. Hanya dengan Rp 5.000 sudah bisa menikmati lagu yang diminta.

Para seniman tayub di Bojonegoro berupaya menghapus sementara anggapan yang mengatakan bahwa tayub identik dengan foya-foya. Ada pula yang mengatakan tayub menjadi ajang main mata dengan perempuan (penari tayub). Pimpinan Sanggar Anugerah di Desa Jono, Kapri Prasetyo, menilai tayub banyak memiliki nilai positif meskipun ada segelintir orang yang menyalahgunakan seni tayub.

Bupati Bojonegoro Suyoto memaknakan tayub dalam konteks tata kehidupan sosial masyarakat. Ia menggunakan kerata basa atau semacam otak-atik kata tayub berasal dari kata ditata agar guyub. Artinya ’menari bersama-sama yang diatur sedemikian rupa agar lebih akrab’. Jika penari tidak mengikuti irama gending dan irama gerak, ia akan mengganggu kebersamaan. ”Kalau sudah bunyi dung, kaki sudah harus melangkah. Nanti yang tidak ikuti irama akan minggir dengan sendirinya karena dianggap tidak bisa,” tutur Kang Yoto.

Tayub Desa Jono adalah jenis tayub yang sudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Norma kesopanan menjadi kunci utamanya, dengan setiap penampilan antara waranggono dan pengibing selalu ada jarak. Penari menggunakan kebaya yang rapi tertutup. ”Dulu, zaman saya masih kecil, penari menggunakan kemben, bagian atas terbuka. Dulu norak. Orang pegang-pegang penari. Sekarang nyenggol saja tidak boleh,” kata Kang Yoto.

Penari tayub di Bojonegoro biasanya mengawali pementasan dengan membawakan tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lembut baru disusul irama-irama yang sedikit rancak dengan lagu-lagu campursari atau langgam jawa.

Sebelum dimainkan, tayub biasanya diawali dengan nguyu-uyu atau manghayu-hayu yang artinya penghormatan kepada semua tamu sebelum acara dimulai. Setelah itu, ada ritual bedhayan, berupa tarian pembuka sebelum pertunjukan tayub dimulai. Lantas disusul Talu Gending sebagai pengantar tayub akan segera dimulai.

Selanjutnya, ketika kendang memberi isyarat dengan bunyi dung, dan kaki melangkah untuk pertama kalinya, saat itulah penari dan tetamu yang ikut menari masuk dalam kehidupan yang gemulai…. (Sumber: Kompas.com)

Nyepi di Bali Tanpa Festival Ogoh-ogoh

19 March 2014   45 views

ogoh-ogohPemerintah kabupaten/kota di Bali tahun ini tak menggelar festival dan arak-arakan ogoh-ogoh (boneka kertas dengan berbagai karakter) yang biasanya berlangsung pada sore menjelang Nyepi.

Ini mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan warga karena perayaan Nyepi tahun ini, Senin (31/3/2014), bersamaan dengan jadwal kampanye pemilu.

Namun, pemerintah daerah memperbolehkan warga mengarak ogoh-ogoh di sekitar banjar atau desa asalkan tak memakai atribut partai.

”Ini terkait adat Bali. Oleh karena itu, kami tidak mau warga mencampurkannya dengan momen kampanye partai,” kata Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Badung I Gede Wijaya, pekan lalu.

Fera Leonidya, General Manager Secretary and Public Relations Hotel Santika Siligita, di Nusa Dua, Bali, pekan lalu, menambahkan, sejumlah wisatawan sengaja memesan kamar di Bali saat perayaan Nyepi untuk merasakan suasana berbeda.
(sumber: kompas.com)

Sabtu ke Bandung? Mampir di Braga Culinary Night

11 January 2014   106 views

jalan-bragaSabtu (11/1/2014) malam, Braga Culinary Night akan digelar untuk pertama kalinya di Bandung, Jawa Barat. Jalan yang penuh sejarah dan dielu-elukan ini akan ditutup mulai pukul 17.00-01.00 WIB. Rekayasa arus lalu lintas di sekitar Jalan Braga pun dilakukan.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Polisi Diki Budiman di Balaikota Bandung, Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/1/2014).

“Jalan Braga panjang kita tutup, kecuali Braga pendek, kita tidak mengganggu Jalan Braga pendek. Kemudian dua jalan kecil, yaitu Jalan Markoni dan Jalan Kejaksaan kita tutup juga,” kata Diki.

Diki menjelaskan, untuk rekayasa arus lalu lintas, yaitu meliputi kendaraan yang melaju dari arah Jalan Tamblong belok kanan menuju ke Jalan Naripan sifatnya buka tutup. Kemudian, kendaraan yang melaju dari arah Jalan ABC tidak bisa belok kiri melalui Jalan Braga, tetapi kendaraan hanya bisa lurus ke Jalan Naripan dan belok kanan ke Jalan Braga pendek.

“Kalau dari arah Jalan ABC kendaraan padat, kita akan tutup yang arah timur dan otomatis kita berlakukan satu arah. Kalau misalnya lancar, tetap kita berlakukan dua arah,” terang Diki.

Diki menambahkan, penutupan Jalan Braga panjang dan rekayasa beberapa ruas jalan di sekitar Jalan Braga diberlakukan setiap hari Sabtu, mulai pukul 17.00 dan kembali dibuka pukul 01.00 WIB.

“Ini kan instruksi Wali Kota yang meminta mengadakan event ini setiap malam minggu. Ya, ini (penutupan dan rekayasa jalan) kita berlakukan seminggu sekali,” kata Diki.
sumber: travel.kompas.com

Aceh Tuan Rumah Pemilihan Duta Wisata Nasional

23 October 2013   147 views

acehAceh menjadi tuan rumah penyelenggaraan pemilihan duta wisata nasional 2013 yang akan diikuti perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia.

“Momen pemilihan duta wisata nasional pertama kali di Aceh itu kita manfaatkan sebagai media mempromosikan pariwisata Aceh,” kata Kepala bidang Pemasaran Dinas Kabudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah di Banda Aceh, Selasa (22/10/2013).

Dijelaskan, sebanyak 66 orang dari 33 provinsi itu akan mengikuti ajang pemilihan duta wisata yang pertama kali digelar di Aceh pada 12 hingga 18 November 2013.

“Kegiatan itu terselenggara kerja sama yayasan Duta Wisata dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Kami berharap dukungan semua pihak untuk kesuksesan kegiatan nasional ini,” katanya.

Menurut Rasyidah, kegiatan pemilihan duta wisata tingkat nasional itu merupakan salah satu ajang mempromosikan potensi wisata Aceh kepada masyarakat seluruh provinsi di Indonesia dan juga internasional.

“Melalui kegiatan ini kita dapat mempromosikan budaya, dan obyek-obyek wisata potensial yang dimiliki Aceh sehingga dapat mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke wilayah ini di masa mendatang,” katanya.

Adapun kegiatan pemilihan duta wisata tingkat nasional itu masing-masing peserta juga akan menyaksikan langsung obyek-obyek wisata andalan di Aceh Besar, Kota Banda Aceh dan Sabang.

Aceh memiliki potensi wisata budaya, alam, situs tsunami dan spritual yang diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan internasional di masa mendatang.

“Kami berharap para duta wisata dari 33 provinsi di Tanah Air itu nantinya mampu menceritakan tentang potensi wisata yang dimiliki Aceh guna menarik minat warga di daerahnya masing-masing untuk berkunjung ke daerah ini,” tambah Rasyidah.

Sumber: kompas.com

Menikmati Senja di Sungai Cisadane

17 October 2013   214 views

senja di sungai cisadaneMATAHARI mulai meninggalkan peraduannya. Suasana yang semula terik menjadi semakin teduh dan semakin teduh lagi. Embusan angin khas tepi sungai pun semakin menyejukkan suasana di bantaran Sungai Cisadane.

Berkunjung ke Tangerang rasanya belum lengkap jika belum menyaksikan kemegahan Sungai Cisadane. Waktu berubah, manusia berubah, begitupun dengan Sungai Cisadane. Cisadane yang dulunya bersih dan jernih pun kini sudah berubah kecoklatan dengan sampah mengambang di mana-mana.

Ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran saya sore itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di tepi sungai yang membelah Tangerang itu. Sempat beberapa waktu saya memperhatikan seorang bapak yang sedang mendayung perahu. Ia bukan satu-satunya, ada beberapa lagi yang lain, namun letak mereka telalu jauh sehingga tak terlihat jelas.

Apakah bapak itu seorang nelayan pencari ikan? Tapi kenapa ia tidak membawa pancingan? Berbekal dayung besar yang terbuat dari kayu, ia pun mulai mulai menepi ke tempat saya berdiri.

“Neng, naik perahu aja tuh,” kata seorang bapak dari kejauhan memecah lamunan saya.

Beberapa pertanyaan langsung merangsek masuk ke dalam benak saya. Naik perahu? Apakah di Sungai Cisadane ada wisata perahu? Mengapa tidak terlihat? Sebelum timbul banyak pertanyaan lainnya, saya pun menyimpulkan untuk naik.

Pergi jauh-jauh ke Tangerang, hanya melihat Sungai Cisadane dari tepi, apa enaknya? Itulah satu pertanyaan yang meruntuhkan semua pertanyaan saya semula terpikirkan dalam benak saya.

Kehadiran seorang bapak yang langsung naik ke perahu ketika perahu baru saja menepi jugalah yang membuat saya yakin menaiki perahu itu juga. Kaki pun melangkah ke dalam perahu yang sempat sedikit terombang-ambing karena saya mencari keseimbangan. Untunglah bapak pendayung perahu ini membantu saya.

Bapak pendayung perahu ini ternyata bernama Akong. Setelah yakin penumpangnya sudah siap untuk memulai perjalanan, Pak Akong pun mulai mendayung. Berada di atas perahu sederhana mengarungi Sungai Cisadane yang dalam dan luas, tentu rasa takut sempat menyergap. Tapi semakin lama mendayung, semakin ketenangan menggantikan rasa takut.

Perahu pun langsung menuju tepi sungai yang satunya lagi. Ternyata, bapak yang menumpang perahu bersama saya memakai jasa Pak Akong untuk menyeberang. Ia merupakan warga sekitar sungai yang baru pulang kerja, begitu cerita Pak Akong.

Tujuan utama Pak Akong mendayung perahu memang untuk mencari uang dengan cara mengantarkan orang-orang yang ingin menyeberang. Pasalnya, untuk menyeberang melalui jembatan, jaraknya terlalu jauh. Itulah sebabnya mereka menggunakan jasa Pak Akong untuk menyeberang.

Untuk orang yang ingin menyeberang, Pak Akong tidak menetapkan tarif.

“Gak tentu. Kadang tiga ribu, empat ribu. Kebanyakan sih dua ribu,” tutur Pak Akong.

“Seikhlasnya aja,” tambah Pak Akong.

Selain dari jasa angkutan airnya, Pria berumur 52 tahun ini juga mencari tambahan uang dari wisatawan yang berkunjung di sekitar Sungai Cisadane.

Menyusuri Sungai Cisadane

Pak Akong membawa saya “tur” di Cisadane selama sepuluh menit. Baru menyusuri sebagian kecil dari Cisadane saja, sudah banyak hal baru yang bisa ditemukan. Dari atas sungai saya menyaksikan sekelumit kehidupan kampung bantaran Sungai Cisadane.

Dari atas perahu sederhana milik Pak Akong terdengar suara musik dan nyanyian dari gereja yang berada tidak jauh dari tepi sungai. Ada juga sekelompok anak yang berenang di tepi sungai. Padahal sungai begitu kotor dan tidak jauh dari posisi mereka berenang terdapat jamban. Seolah tidak memikirkan hal itu, mereka pun dengan riang bercanda dan tertawa.

Di sudut sungai yang lain terlihat seorang pemilik perahu sedang membetulkan kapalnya. Di sisi lain ada beberapa orang yang sedang memancing. Pak Akong bilang di sini memang terdapat beberapa ikan. Salah satunya gabus dan lele.

Tak terasa sepuluh menit pun berlalu. Matahari mulai meninggalkan peraduan dan langit pun mulai berkelir. Bias jingganya pun terpantul di atas air yang mengalir tenang. Seperti matahari, saya pun harus mengakhiri perjalanan singkat dengan Pak Akong dan perahunya. Sebuah wisata singkat dan berharga, penuh dengan perjalanan hidup.

Di luar kondisinya yang semakin menua, keinginan Cisadane tetap menjadi sumber penghidupan untuk segelintir orang yang bergantung padanya. Semoga majunya peradaban tak lantas memudarkan manfaat bagi umat manusia, Sungai Cisadane.

sumber : Kompas.com

Sanghyang Tikoro – Goa Alam di Waduk Saguling

10 October 2013   694 views

Shanghyang TikoroDi akhir pekan, Kota Bandung selalu disesaki oleh turis domestik. Di balik hiruk-pikuk suasana kemacetan di hari-hari libur, sebuah lokasi wisata yang tidak banyak orang ketahui akan memberi kesan tersendiri dengan mengarahkan hari libur Anda menuju kota Padalarang yang berjarak 30 menit perjalanan dari kota Bandung.

  

Dari Padalarang lanjut hingga Citatah Jalan Raya Rajamandala, lalu menuju ke sebuah pintu gerbang bertuliskan “Waduk Saguling”.

Sebuah pos penjagaan harus dilewati, karena tempat wisata ini agak tertutup. Pohon coklat menjadi pemandangan tersendiri disisi kanan dan kiri jalan yang naik turun. Dibutuhkan kendaraan yang handal untuk melewati jalan berliku, beberapa muda-mudi biasanya asyik berpacaran ditepian jalan yang tenang. Udara sejuk dan bebas polusi menjadi hiburan tersendiri.

Untuk menuju tempat tujuan wisata Shangyang Tikoro harus banyak bertanya, karena tidak ada papan penunjuk lokasi wisata di pertigaan jalan. Bahkan penduduk lokal sendiri kadang tidak tahu lokasi Sanghyang Tikoro, menakjubkan!

Perjuangan melalahkan Anda akan terbayar setelah tidak tidak berapa lama Anda menemukan sebuah pemandangan yang menarik. Sungai yang cukup lebar dengan arus kuat menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Untuk memastikan bahwa arah Anda memang benar, tanyalah kembali. And that’s the right way. 10 menit kemudian papan penunjuk yang sudah karatan “Sanghyang Tikoro” akan terlihat yang dapat membuat hati merasa senang dan lega.

Di tempat itu, Anda pun dapat memarkirkan kendaraan. Lalu, menuruni sebuah anak tangga dan jembatan kecil, dibalik tembok pagar setinggi 2 meter. Nah, di situlah Sanghyang Tikoro bermukim. Sanghyang Tikoro derived from two words…Sanghyang means God or Dewa and Tikoro means Throat or Kerongkongan. Jadi Sanghyang Tikoro berarti Kerongkongan Dewa. Kenapa tempat itu disebut kerongkongan dewa (Shangyang Tikoro)?.

Nama Sanghyang Tikoro sering dihubungkan dengan legenda Sangkuriang, khususnya berkaitan dengan Danau Bandung. Sangkuriang identik dengan asal muasal terciptanya Gunung Tangkuban Perahu, Danau Purba Bandung, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Sang Hyang Tikoro. Cerita tentang pangeran sakti mandraguna ini, dibalut kisah cinta terlarang antara seorang anak yang tidak lain adalah Sangkuriang dengan ibu kandungnya, Dewi Dayang Sumbi.

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik, yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut, ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Pulau Bali pada akhir abad ke-15.

Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi Kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya.

Melihat dari sisi geologis, sekitar 6000 tahun yang lalu Kota Bandung dulunya merupakan sebuah danau purba yang dinamakan sebagai Situ Hiang, yang terbentuk karena meletusnya Gunung Tangkuban Perahu dan menyumbat aliran sungai Citarum. Lama kelamaan air danau tersebut surut dan kemudian mengering hingga membentuk sebuah daratan yang kini menjadi Kota Bandung. Tidak heran apabila banyak ahli geologi yang mengatakan bahwa Kota Bandung adalah sebuah cekungan raksasa yang menyerupai mangkok. Dan pinggir mangkok tersebut merupakan dataran tinggi, yang kini beberapa area di Kota Bandung sering mengalami banjir.

Kembali ke Sanghyang Tikoro, melihat kawasan Padalarang yang terdiri dari pegunungan kapur tidak mengherankan apabila ada sungai bawah tanah yang cukup besar. Dan disinilah sebuah sungai bawah tanah dimulai, sebuah goa karst (batu gamping) setinggi 2,5 meter dengan lebar sekitar 7 – 10 meter. Konon panjang gua bawah tanah ini dengan aliran sungainya sepanjang 162 meter dan hingga saat ini belum ada yang memberanikan diri untuk mencari tahu kemana aliran sungai ini berakhir dan apa saja yang terdapat di dalamnya.

Di dekat mulut gua, bau air yang menyengat serta suasana yang spooky. Hanya berjarak sekitar 200 meter sebuah pintu air raksasa berada di lokasi ini. PLTA Saguling – Indonesia Power dan sebuah pipa air raksasa bak ular raksasa berada di atas kantor PLTA ini.

Alur sungai dan pintu waduk kemungkinan lokasi ini merupakan mulut terakhir dari pembangkit listrik tenaga air. Aliran sungai ini terbagi menjadi dua bagian, satu lagi menuju ke sungai besar dan satu lagi menuju ke sungai bawah tanah yang tidak diketahui kemana alirannya. Konon banyak orang yang datang ketempat ini untuk bersemedi setiap malam Selasa atau Kamis Kliwon. Memang cukup wingit lokasi ini.

Satu hal yang sangat disayangkan yaitu PLTA membangun pagar setinggi 2 meter sehingga tidak memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk langsung menikmati pemandangan alam yang menakjubkan ini. Lokasi ini berdekatan langsung dengan buangan air waduk untuk PLTA.

Tidak jauh dari lokasi ini ada sebuah batu karst yang menyerupai mulut harimau. Jalan yang menanjak dan suasana yang segar dan alami membuat Anda akan mencintai negri ini, Indonesia.

Jalan semakin menanjak dan berkelok, ada beberapa area yang rawan longsor di musim hujan. Namun aspal jalan di lokasi ini masih cukup baik dan terdapat sebuah pemandaian air panas.

Sekitar 10 menit dari pemandian air panas ini, terdapat beberapa air terjun mini dipinggir jalan. Dan salah satu yang cukup besar bernama “Curug Bedil”.

Sambil menikmati istirahat Anda, menanjaklah menikmati dinginnya air terjun.

Perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba di top of the top, pemandangan kota Bandung dan Padalarang sangat menakjubkan. Aliran sungai Citarum ibarat sebuah ular raksasa dan pantulan sinar matahari membuatnya semakin cantik. Sungguh sangat indah.

Dua buah bangunan mirip tugu berada didekat puncak bukit itu dan ternyata tangki pendingin turbin. Wow!! It’s a man made marvel!

Selepas dari puncak bukit yang berketinggian lebih dari 1.000 dpl., dengan menepuh waktu sekitar 20 menit dari puncak bukit Anda akan menikmati pemandangan Waduk Saguling yang mempunyai luas 6.176 hektar. Waduk ini dibangun pada bulan Agustus 1981 yang sempat menenggelamkan 31 desa. Peresmian waduk ini dilakukan oleh mantan Presiden RI, Soeharto tahun 1986. Waduk dan PLTA ini menjadi pemasok listrik untuk kota Bandung dan Jakarta setelah waduk Cirata dan Jatiluhur.

Sangat disayangkan tak ada wisatawan yang menikmati waduk yang cukup cantik ini.

Dari Saguling menuju arah pulang melewati jalur yang sama sekitar 17 km dari pintu gerbang utama. Namun, perjalanan pulang akan terasa cepat dari pemberangkatan karena jalanan menurun. Di tengah perjalanan akan terlihat sebuah jembatan cukup menarik dari atas bukit. Melewati jalanan berbatu, terdapat sebuah desa kecil dipinggir sungai Citarum.

Jembatan kecil ini menjadi penghubung dua buah desa terpencil, sementara arus air yang deras menjadi pemandangan yang luar biasa. Tempat ini sebenarnya cocok untuk lokasi rafting, karena lokasinya menawan melewati sungai kecil dengan dinding batu kapur hingga melebar dan jeram yang beragam. Seru pastinya, kalau lokasi wisata ini ada yang peduli untuk menjaga keindahan alamnya.

Sumber: Travel.Detik.Com dengan mendapat pengeditan

Yuk, Wisata Sejarah Bangunan Cagar Budaya Kota Bandung

9 October 2013   290 views

bandung heritage1Jabarmedia.com – Berkeliling melihat bangunan-bangunan bersejarah dapat menjadi pilihan wisata yang tak kalah menarik untuk mengisi akhir pekan di hari libur. Kali ini data bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bandung sengaja editor pilih, Kamis (10/10/2013) karena di Kota Bandung banyak bangunan-bangunan yang banyak mengandung nilai sejarah.

Wisata sejarah semacam ini cukup baik untuk anak-anak sekolah dalam rangka menambah wawasan sejarah melalui bimbingan guru. Anak-anak tidak hanya melihat gedung sebuah bangunan semata, tapi merupakan saksi bisu dalam perjalanan sejarah bangsa.

Bahkan, perlu menjelaskan kepada anak-anak nilai-nilai sejarah yang terdapat pada bangunan tersebut, misalnya arsitek, pendiri, peristiwa, dan nilai-nilai lain yang berkaitan dengan bangunan sejarah tersebut.

Sebelum berkeliling melihat-lihat bangunan sejarah, sebaiknya para tutor/guru menyiapkan daftar bangunan yang akan dikunjungi agar menghemat tenaga dan waktu. Selain, penting juga memperhatikan rute jalan yang akan dilewati.

Pada hari libur sebagian bangunan-bangunan tersebut tutup karena sudah menjadi gedung perkantoran atau pertokoan.

Karena itu, sebaiknya terlebih dahulu menyiapkan bahan dari buku, internet atau media masa lain mengenai gambaran sejarah objek bangunan yang akan dikunjungi.

Di akhir kegiatan, guru dapat menugaskan anak-anaknya untuk menjelaskan kembali sejarah bangunan yang mereka kunjungi sewaktu mengisi hari libur.

Wisatawan yang akan mengunjungi bangunan-bangunan sejarah di Kota Bandung, dapat menjadi ajang foto-foto melalui alat kamera khusus atau kamera ponsel.

Mengelilingi Kota Bandung dengan segudang bangunan sejarah akan menjadi kegiatan menarik dalam mengisi keindahan Anda bersama keluarga.

Bagi Anda yang hoby wisata sejarah, berikut data bangunan-bangunan bersejarah seperti dirilis bandungheritage.org.

Hasil Inventarisasai Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage)

Tahun 1997

No. Nama Bangunan Fungsi Arsitek Tahun Kelas
1 Pertokoan Kodros Ruko Gandeng belum diketahui 1910 A
2 Toko “Bandung Baru” Pertokoan belum diketahui 1910-1920 A
3 Kantor kotamadya DT II Bandung Kantor Pemerintah E.H. de Roo 1929 A
4 Toko Rumah belum diketahui 1915 A
5 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1920 A
6 Pendidikan Guru Olahraga Sekolah belum diketahui 1925 A
7 Perpustakaan UNPAR Perpustakaan belum diketahui 1930 A
8 Kologdam Jaarbeurs.(Trade Center) C.P Wolff Schoemaker 1920 A
9 Kodam III Siliwangi Kantor Staf Militer R.L.A & C.P Schoemaker 1918 A
10 Kawasan Kodam III Siliwangi Kantor Komandan Militer belum diketahui 1900 A
11 Bengkel Motor Toko belum diketahui 1900 A
12 Gudang Gudang belum diketahui 1905 A
13 Dinas Kebakaran Kantor belum diketahui 1925 A
14 Pabrik Tekstil Pabrik Tekstil belum diketahui 1930 A
15 Villa Villa Militer belum diketahui 1925 A
16 Providentia Asrama Putri belum diketahui 1935
17 Rumah Potong Hewan Varkenslachtuis Gemeente Bandung 1935 A
18 Pabrik Tekstil Pabrik Tekstil belum diketahui 1935 A
19 Sharp Building Pabrik belum diketahui 1925 A
20 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
21 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
22 Kimia Farma Toko belum diketahui 1910 A
23 Apotik Kimia Farma Toko belum diketahui 1930 A
24 Dezon NV/Bdg Promotion Centre Toko belum diketahui 1925 A
25 Kantor Pos Besar Posten Telegraf Kantor J. Van Gent 1928-1931 A
26 Bank Dagang Negara Kantor Bank belum diketahui 1915 A
27 P.T. Asuransi Jiwasraya Kantor Asuransi belum diketahui 1917-1920 A
28 Bank Exim Indonesia Nederlansche Handel Maatscchapij Bank Edward Cuypers 1912 A
29 Perusahaan Listrik Negara Gebeo C.P Wolff Schoemaker 1933 A
30 Gedung Merdeka Societeit Concordia C.P Wolff Schoemaker 1902 A
31 Kantor Pikiran Rakyat Kantor C.P Wolff Schoemaker 1925 A
32 Hotel Preanger Grand Hotel Preanger C.P.Wolf Schoemaker 1929 A
33 Toko Mebel Rotan LIDO Toko Mebel Erisa belum diketahui 1930 A
34 Bank International Indonesia Pertokoan belum diketahui 1940
35 Toko Padang Pertokoan Sewa A.F. Aalbers 1920 A
36 Savoy Homann Heritage Hotel Hotel belum diketahui 1939 A
37 P.D. Darawati Ruko belum diketahui 1940 A
38 Kantor Kantor belum diketahui 1930 A
39 Vigano Pertokoan Edward Cuypers 1910 A
40 Toko Toko belum diketahui 1935 A
41 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
42 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
43 Bank Umum Nasional Villa belum diketahui 1925 A
44 Toko Kopi Aroma Toko Kopi belum diketahui 1928 A
45 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
46 Gereja Katolik Bebas “St. Albanus Societeit Theosofie & Gereja F.J.L Ghijsels 1918 A
47 Perum Listrik Penyaluran Tenaga Listrik belum diketahui 1935 A
48 Gedung Rumentang Siang Sinema (Bioskop) belum diketahui 1935 A
49 Toko Hasil Bumin “Bintang” Ruko belum diketahui 1910 A
50 Pertokoan Cina Pertokoan (row building) belum diketahui 1910 A
51 Ruko Ruko belum diketahui 1910 A
52 Pertokoan Cina Pertokoan (row building) belum diketahui 1900
53 Ruko Ruko belum diketahui 1910 A
54 Ruko Ruko belum diketahui 1910 A
55 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
56 SMA 3 dan SMA 5 HBS C.P.Wolff Schoemaker 1927 A
57 Pemandian Centrum Pemandian C.P.Wolff Schoemaker 1920 A
58 Rumah Tinggal Rumah Tinggal 1935 A
59 Museum Asia Afrika Soceietiet Concordia AF. Aalbers 1940 A
60 Bioskop Mayestic Cinema (Bioskop) C.P. Wolff Schoemaker 1925 A
61 Apotik Kimia Farma Toko belum diketahui 1902 A
62 Gudang Kimia Farma Departemen Store Aubon Marche belum diketahui 1915 A
63 Hotel Braga Hotel Wilhemina belum diketahui 1928-1931 B
64 Sarinah Toko Onderling Belang belum diketahui 1937-1940 B
65 Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Bank Denis /De Ferste Nederlandsch Indische Spaarkas AF. Aalbers 1935 A
66 Dekranas Daerah Jawa Barat,Tenda Biru Kantor koran Algemeen Indisch Dagblad belum diketahui Sebelum 1919 A
67 Centre Point Ruko C.P. Wolff Schoemaker 1925 A
68 LKBN Antara Kantor A.F. Aalbers 1936 A
69 Toko Liling, Braga Mebel Toko belum diketahui 1925 B
70 Gedung Gas Negara Kantor R.L.A & C.P Schoemaker 1930
71 Forty Three Furniture Stocker,Toko arloji Swiss belum diketahui 1915 B
72 Ex Toko Populair Toko belum diketahui 1915 A
73 Bank Modern dan Toko Concurent De Tabaksplain dan Toko Emas Concurent R.L.A & C.P Schoemaker (Modern bank) 1919 A
74 Sibayak,Bank Sukapura,dll Pertokoan G.S. Bel 1920 A
75 Deretanh Sinsin, Tiffany S dan Sinar Mas Rukoko belum diketahui 1935 B
76 Deretan Kasoem Toko Hunian belum diketahui Sebelum 1923 A
77 Toko Merdeka, Meubel North Sea bar Toko Hunian belum diketahui Sebelum 1937 A
78 Deretan Cuero Toko Hunian belum diketahui 1928-1931 A
79 Deretan Elegance Toko Hunian belum diketahui 1950 A
80 Ex Permorin Assembling Mobil Mercedes, Fuchs & Rent P.J.C Van Kleef BNA 1924 A
81 Permorin Pintu Gerbang belum diketahui 1920 A
82 Deretan Sentral Billiard Toko Hunian belum diketahui Sebelum 1930 A
83 Bank Indonesia Javasche Bank Edward Cuypers 1917 A
84 Ega Kineta Kursus Komputer Toko Harapan (toko bahan pakaian) belum diketahui 1955 A
85 Leather Palace Toko Hunian belum diketahui 1955 A
86 Landmark Building Toko Buku dan Percetakan Van Dorp C.P Wolff Schoemaker 1922 A
87 MAPOLTABES Kantor Insulinde R.L.A. Scoemaker 25 Mei 1917 A
88 Klinik RSHS/Puskesmas Tamblong HBS belum diketahui 1925
89 Sekolah Dasar Negeri I -II Ting Hoa Tjun Ping belum diketahui 1915 A
90 SD Cibadak Cinema (Bioskop) belum diketahui 1925 A
91 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
92 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
93 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1915 B
94 Show Room Mobil Pertokoan belum diketahui 1930 A
95 Rumah Tinggal Toko belum diketahui 1930 A
96 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
97 Pabrik Kina Bandungsche Kuinnie Fabriek Gneling Mejling A.W 1910-1915 A
98 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
99 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1919 B
100 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 B
101 Kantor Rumah Tinggal belum diketahui 1920 B
102 Oncom Raos Rumah Tinggal belum diketahui 1915 A
103 Souvenir Shop Ruko belum diketahui 1905 A
104 Toko Rumah Tinggal Thomas Karsters 1915 A
105 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1890 A
106 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1915
107 Gereja Kristiani Gereja belum diketahui 1929 A
108 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
109 PT Perkebunan XIV Kantor belum diketahui 1930 A
110 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
111 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
112 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
113 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
114 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
115 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 B
116 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
117 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
118 Masjid Cipaganti Masjid C.P Wolff Schoemaker 1933 A
119 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
120 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 B
121 SMA Negeri 20 Sekolah belum diketahui 1930 A
122 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
123 PT Bita Enarcon Engineering Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
124 Komplek Militer Kantor belum diketahui 1955
125 Wisma Departemen Sosial Villa belum diketahui 1933 A
126 Wisma Siliwangi Villa belum diketahui 1935 A
127 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
128 Pendopo Kabupaten Kabupaten belum diketahui 1867 A
129 Rumah Resmi Walikota Rumah Bupati Bandung belum diketahui 1867 A
130 Kantor Hotel Homan Hotel belum diketahui 1880 A
131 Bioskop Dian Bioskop belum diketahui 1925 A
132 Gedung Sate Gouvernemensbedrijven J. Gerber 1920 A
133 Museum Geologi Museum Geologi Menalda Van Scouvburg 1929 A
134 Gedung Dwiwarna Indische Pensioen Fondsch belum diketahui 1935 A
135 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
136 Kantor Rumah Tinggal belum diketahui 1938 A
137 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
138 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
139 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
140 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1938 A
141 Bangunan Lima Pintu(Cirebonan) Ruko belum diketahui 1910 A
142 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935
143 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
144 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
145 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1920 A
146 Apotik Utari Rumah belum diketahui 1940 B
147 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
148 Institut Teknologi Bandung Kloninklijk Institut Vor Hooger Technich Onderwijs Maclaine Pont 1920 A
149 Panca Niaga Kantor belum diketahui 1920 A
150 Sekolah Pendidikan Guru Olahraga IEV Muloschool F.J.L. Ghijsels 1927 A
151 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1922 A
152 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
153 Villa Gruno Kantor belum diketahui 1920 A
154 Asrama Kantor Ir. Soekarno 1935 A
155 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
156 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 B
157 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
158 Gudang Militer Gudang Militer belum diketahui 1895 A
159 Gudang Militer Gudang Militer belum diketahui 1890 A
160 Kantor Notaris Villa belum diketahui 1930
161 PT Borsumij Wehry Indonesia Villa /Kantor belum diketahui 1925 B
162 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
163 SMPN 5 Sekolah belum diketahui 1917 A
164 Balai Kesehatan Kantor Brinkman en Voorhave 1920 A
165 Dinas Pendapatan Daerah Kantor A.F. Aalbers 1935 A
166 Rumah Tinggal Kantor belum diketahui 1920 A
167 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
168 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1930 A
169 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
170 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
171 Tiga Villa (Rumah Tinggal) 3 Villa’s A.F. Aalbers 1937 A
172 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1937 A
173 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
174 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
175 Bandung Pakar Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
176 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
177 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
178 Villa Villa belum diketahui 1938
179 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
180 Bank Umum Nasional Villa belum diketahui 1925 A
181 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
182 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
183 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
184 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1932 B
185 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1932 B
186 BPD Villa belum diketahui 1938 B
187 SMAN 1 dan SMAK Dago Christelijk Lyceum Y.S. Deyvis 1939 A
188 Pembangkit Listrik Tenaga Air Pakar Pembangkit Listrik Tenaga Air belum diketahui 1920 A
189 Rumah Tinggal Hunian Ir. Soekarno 1925 A
190 Hotel Surabaya Rumah Tinggal belum diketahui 1860 A
191 Ruko Kebonjati Ruko belum diketahui 1900 A
192 Kantor/Gudang PJKA Kantor PJKA belum diketahui 1925 A
193 Bandung Milk Centre Banduengsche Melk Centrale (BMC) belum diketahui 1925 A
194 Komando Daerah Militer III, Detesemen Markas Perkantoran Militer/Paleis van de Legercommandant R.L.A. Schoemaker 1915 A
195 Kelenteng/Vihara Setia Budhi Villa belum diketahui 1895 A
196 Rumah Tinggal Ruko belum diketahui 1925
197 Pertokoan Toko belum diketahui 1930 A
198 Pertokoan Toko belum diketahui 1928 B
199 Pertokoan Cina Pertokoan (row bulding) belum diketahui 1900 A
200 Pertokan Cina Pertokoan (row bulding) belum diketahui 1925 A
201 Pertokoan Ruko belum diketahui 1910 A
202 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
203 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
204 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1933 B
205 Hotel Istana Hotel belum diketahui 1930 A
206 Museum Mandala Wangsit Militaire Akademie Bandung belum diketahui 1910 A
207 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
208 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1920 A
209 GKPR-RI (Gabungan Koperasi RI Kantor Soekarno Rosseno 1940 A
210 Pusdiklat Kepolisian Sekolah Menak belum diketahui 1905 A
211 Overseas Express Bank Kantor belum diketahui 1935 A
212 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
213 British Institute Villa belum diketahui 1895 A
214 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1915
215 Kentucky Fried Chiken Rumah belum diketahui 1940 A
216 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
217 Pratikum SMP & Taruna Bakti Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
218 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1915 B
219 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
220 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
221 Kantor Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
222 Lux Vincent Rumah Ruko belum diketahui 1930 B
223 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
224 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
225 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
226 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
227 Guest House LAPAN Villa belum diketahui 1930 B
228 Kantor Militer Kodam III Siliwangi Kantor belum diketahui 1940 A
229 Direktorat Operasi Paket POS Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
230 Kanwil P&K Jawa Barat Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
231 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925 B
232 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930
233 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 B
234 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
235 Gereja St, Petrus Gereja Katolik / Roman katholiek Petruskerk C.P. Wolff Schumaker 1922 A
236 Kantor Gereja St, Petrus Rumah belum diketahui 1915 B
237 Polwiltabes Bandung Sekolah Raja belum diketahui 1895 A
238 Santa Angela Sekolah / Zusters Ursulinen Hulswit Fermont & Cuypers Dikstaal 1922 A
239 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 A
240 Hubdam III Siliwangi Sekolah Menak belum diketahui 1910 A
241 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
242 Rumah Tinggal Villa A.F. Aalbers 1935 A
243 Rumah / Kantor Pemerintah Rumah Tinggal A.F. Aalbers 1935 A
244 Gedung yayasan Pusat Kebudayaan (YPK) Societeit Ons Genoegen G.J. Bel 1930 A
245 Rumah Tinggal Rumah Tinggal Pang Sie Chiang 1932 B
246 Rumah Tinggal Rumah Tinggal Pang Sie Chiang 1932 B
247 Rumah Tinggal Rumah Tinggal Pang Sie Chiang 1932 A
248 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
249 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
250 Perkantoran Gandeng Pertokoan Gandeng belum diketahui 1930
251 Kediaman Gubernur Jawa Barat Rumah Asisten Wedana/Residen belum diketahui 1890 A
252 U.S.P. Kuveri Jabar Rumah Toko belum diketahui 1910 A
253 Pertokoan Ruko Gandeng belum diketahui 1910 A
254 Toko Madonna Jeans,dll Pertokoan belum diketahui 1930 A
255 Rumah Toko Rumah Toko belum diketahui 1910 A
256 Center Optical Ruko belum diketahui 1935 A
257 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
258 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
259 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1936 A
260 Rumah Tinggal Rumah Tinggal A.F. Aalbers 1939 A
261 Rumah Tinggal Rumah Tinggal A.F. Aalbers 1939 A
262 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
263 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1913 A
264 SMP Sandhy Putra Rumah Sakit Militer belum diketahui 1922 A
265 Rumah Tinggal Villa Ir. Soekarno (diperkirakan) 1931 B
266 Gereja Gereja Hulswit Fermont & Cuypers 1932-1937 A
267 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1932 A
268 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930
269 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
270 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
271 Ruko Ruko belum diketahui 1910 A
272 Ruko Ruko belum diketahui 1910 A
273 Harapan Bemas, Gotong Royong,Kiki,dll Ruko belum diketahui 1910 A
274 Ruko Ruko belum diketahui 1915 A
275 Pertokoan Jean belum diketahui 1910 A
276 Pertokoan Ruko belum diketahui 1900 A
277 Gudang PJKA Gudang belum diketahui 1920 A
278 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1920 B
279 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1928 B
280 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1920 B
281 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
282 SMP Pasundan 2 Sekolah belum diketahui 1922 A
283 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 B
284 Restoran Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
285 Yayasan Panti Asuhan Kristen “Dana Mulia” Villa C.P. Wolff Schoemaker 1922 A
286 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925
287 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
288 Institut Pasteur Institut Riset C.P. Wolff Schoemaker 1926 A
289 Bio Farma Lembaga Kedokteran UNPAD belum diketahui 1930 A
290 Rumah Sakit Hasan Sadikin Rumah sakit Gemeentelijk Juliana F.J.L. Ghijsels 1917 -1919 A
291 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
292 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
293 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
294 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
295 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1925 A
296 Kantor Kecamatan Ruko belum diketahui 1928 A
297 Pertokoan Pertokoan belum diketahui 1915 A
298 Kantor Pusat PJKA Hotel belum diketahui 1910 A
299 Masjid Masjid Soekarno Ir 1935 A
300 Kantor Metrologi Pengadilan / Landraad belum diketahui 1920 A
301 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1933 A
302 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
303 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
304 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940
305 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
306 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1910 A
307 Masjid Al Hikmah Villa belum diketahui 1910 A
308 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1910 A
309 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
310 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
311 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
312 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
313 Kantor Villa belum diketahui 1935 A
314 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
315 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
316 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1938 A
317 Guest House & Asrama Villa belum diketahui 1935 A
318 Psikologi Angkatan Darat Villa Ang Eng Khan F.W. Brinkman 1930 A
319 Pertokoan Perumahan belum diketahui 1910 A
320 Rumah Tinggal Villa C.P. Wolff Schoemaker 1935 A
321 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920 A
322 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1936
323 Guest House ITB Villa belum diketahui 1935 A
324 Reservoir Air Reservoir Air Bersih belum diketahui 1925 A
325 SMP Negeri 12 Sekolah belum diketahui 1940 A
326 Yayasan Sekolah Jepang Kantor Yayasan belum diketahui 1930 A
327 Perumahan Dosen IKIP Rumah Tinggal C.P. Wolff Schoemaker 1935 A
328 Komplek Perumahan Dosen IKIP Perumahan Isola C.P. Wolff Schoemaker 1933 A
329 Komplek Perumahan Dosen IKIP Perumahan Isola C.P. Wolff Schoemaker 1933 A
330 Rektorat IKIP Villa Isola C.P. Wolff Schoemaker 1932 A
331 Tangga Batu Tangga Batu C.P. Wolff Schoemaker 1932 A
332 Sekolah Ajudan Jenderal Villa belum diketahui 1930 A
333 Perumahan Dosen IKIP Rumah Tinggal C.P. Wolff Schoemaker 1935 A
334 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1938 A
335 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
336 Toko Pertokoan belum diketahui 1915 A
337 Ruko Pertokoan belum diketahui 1910 A
338 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1890 A
339 Gedung Persediaan Cikudapateuh Gedung Perumka belum diketahui 1920 A
340 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935
341 Ruko Ruko (raw building) belum diketahui 1925 A
342 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
343 Gedung Tiga Warna Rumah Tinggal A.F. Aalbers 1937 A
344 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
345 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 A
346 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
347 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
348 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1915 A
349 “Lucredia” Villa belum diketahui 1910 A
350 Kantor Militer Rumah Tinggal Militer belum diketahui 1915 A
351 Direktorat Keuangan Siliwangi Rumah Perwira Militer R.L.A. Schoemaker 1920 A
352 Paguyuban Pasundan Rumah Perwira Militer belum diketahui 1900 A
353 SMP Negeri 2 Sekolah Rakyat belum diketahui 1913 A
354 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 A
355 Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional Rumah Perwira Militer belum diketahui 1895 A
356 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
357 Toko Besi Pusaka Ruko belum diketahui 1935 B
358 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1920
359 Dewan Harian Daerah Angkatan 1945 Kantor belum diketahui 1940 A
360 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1935 A
361 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
362 Marabu Bioskop belum diketahui 1955 A
363 Bangunan Sudut Pembentuk Blok (Pecinan) Toko belum diketahui 1910-1920 A
364 Rumah Toko Deret Pertokoan belum diketahui 1905 A
365 Rumah Toko Sepatu Deret Pertokoan belum diketahui 1910 A
366 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B
367 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
368 Pabrik Tekstil Pabrik Tekstil belum diketahui 1930 A
369 PDAM Reservoir Reservoir belum diketahui 1925 A
370 Gereja Boromeus Komplek Rumah Sakit R.L.A. Schoemaker 1935 A
371 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
372 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
373 Kantor PJKA Kantor belum diketahui 1928 A
374 Stasion Kereta Api Stasion Kereta Api belum diketahui 1931 A
375 Bank Pembangunan Daerah Kantor belum diketahui 1930 A
376 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930
377 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 A
378 Rumah Tinggal Villa Adven belum diketahui 1930 B
379 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
380 Kantor Rektorat ITB Kantor belum diketahui 1925 A
381 Guest House Villa Merah Villa Merah R.L.A. Schoemaker 1918 A
382 Bukit Tinggi Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
383 SMP Providentia Sekolah belum diketahui 1925 A
384 Elfa Music Studio Rumah Tinggal belum diketahui 1933 C
385 Gereja Rumah Tinggal belum diketahui 1915 A
386 Rumah Tinggal “Laonie” Villa belum diketahui 1920 A
387 Toko Alat Olahraga “Celebes” Ruko belum diketahui 1930 A
388 Bank Pasific, Ruko belum diketahui 1925 A
389 Toko Buku “Kencana Agung” Pertokoan belum diketahui 1895 A
390 Binatu Waserji belum diketahui 1910 A
391 Ruko Ruko belum diketahui 1935 A
392 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1938 A
393 Rumah Tinggal Rumah belum diketahui 1920 B
394 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1920
395 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1940 B
396 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
397 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 A
398 Rumah Tinggal Villa Heuske belum diketahui 1940 B
399 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 B
400 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1915 A
401 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 A
402 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
403 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1913 A
404 Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Rumah Tinggal C.P. Wolff Schoemaker 1930 A
405 Gereja Bethel Gereja Protestan C.P. Wolff Schoemaker 1925 A
406 Interlink Rumah belum diketahui 1890 A
407 Toko Kembang Rumah Tinggal belum diketahui 1925 A
408 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
409 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1912 A
410 Rumah Dinas Pangdam Siliwangi Rumah Tinggal belum diketahui 1915 A
411 Departemen Tenaga Kerja Villa belum diketahui 1935 A
412 Komplek Gereja & Sekolah Gereja belum diketahui 1935
413 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1920 B
414 Rumah Tinggal Hotel Van Donk belum diketahui 1915 A
415 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 A
416 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1940 B
417 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1930 B
418 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1910 B
419 Rumah Tinggal Villa belum diketahui 1935 B
420 Rumah Tinggal Rumah Tinggal belum diketahui 1930 B

Pasar Baru Bandung Wisata Belanja Pakaian

29 September 2013   351 views

pasar baruPasar Baru Bandung adalah primadona wisata belanja pakaian orang dari luar Bandung. Bahkan wisatawan dari Malaysia dan Singapura kerapkali mondar-mandir cari pakaian di Pasar Baru Bandung.

Letaknya yang strategis ada di pusat kota menjadi incaran para pelancong. Apalagi dengan harga yang murah meriah, asalkan bisa nawar, pasti dapat barang harga bersaing. Adapun barang yang dijual di Pasar Baru Bandung mayoritas produk fashion, mulai dari Baju umum, baju anak, baju muslim, mukena, kerudung, sepatu, sandal, batik dan sebagainya.

Pasar Baru terdiri dari 8 lantai, namun jika anda membawa mobil dan berangkat agak siang, pasti bisanya dapat parkir di lantai 8 alias paling puncak, karena memang sudah penuh sesak. Di lantai 8 atau lantai paling atas kita bisa lihat kota Bandung dari segala penjuru, sangat asyik. Di lantai ini juga tersedia masjid, jadi cukup mudah untuk menunaikan sholat.

Berikutnya, lantai akan terbagi menjadi 8, lantai 7 ada food court dan mainan anak, jika capek jalan cari belanjaan bisa makan disini dan jika bawa anak-anak bisa main di game center.

Lantai-lantai bawah berjubel aneka dagangan produk fashion, yang mayoritas produk orang Bandung. Maklum, Bandung adalah ibukota fashion dan kaos oblong Indonesia, jadi semua produk fashion tumplek blek ada disini.

Karena luasnya dan padatnya pengunjung, seringkali kita kebingungan mau belanja apa, baiknya sebelum belanja dicatat dulu apa yang mau di beli, kalau ndak gitu bisa jadi dompet kesedot habis, karena barang yang disediakan menarik dompet kita.

Untuk mencapai Pasar Baru sangat mudah, karena Pasar Baru ada di jalan Otto Iskandar Dinata, atau jalan pusat kota.

Kalau dari stasiun kota, bisa dengan jalan kaki. Kalau dari terminal bis Cicaheum atau Leuwi Panjang bisa tinggal naik angkut atau bis kota sekali jalan.

Jika anda di Alun-Alun Masjid Agung, juga sangat mudah bisa jalan kaki sekitar 500-an meter sudah tampak pasar Baru.

Oiya, kalau bawa duit banyak, baiknya hati-hati, biar ndak kena copet. Kadang copet berkeliaran saat pasar penuh sesak.

Selain produk fasion, dilantai dasar dibagian luar bisa juga cari oleh2 khas Bandung seperti keripik, peyeum, dodol, basreng, sale pisang, wajik Cililin dan banyak lagi oleh-oleh khas Bandung. Pokoknya dijamin puas lapar mata dan perut.
Selamat menikmati wisata Belanja paling besar, heboh dan padat di Bandung. Oiya, perlu juga atur waktu, biasanya kalau sudah suka belanja, bisa jadi masuk jam 8 pagi pulang jam 5 sore.

Pasar Baru tutup mulai jam 5, jadi usahakan waktu diatur apalagi Pasar Baru termasuk area macet sehingga sulit diprediksi sampai kesana. Selamat berbelanja. (wisatakebandung.com)

Akhir Pekan di Wisata Kampoeng Cinangneng

29 September 2013   328 views

kampung cinangneng2Kesibukan dan kebisingan di kota-kota besar membuat masyarakat kota mencari tempat yang “lain” untuk sekedar refreshing, maka tidak sedikit masyarakat urban yang mencari tempat wisata dengan konsep kembali ke kampung. Di Bogor wisata seperti ini bisa ditemui di beberapa tempat, salah satunya di Cinangneng kabupaten Bogor.

Wisata yang bernama Kampoeng Wisata Cinangneng ini menawarkan wisata kembali ke desa dengan aktivitas berupa tour kampung dengan melintasi perkebunan dan mengunjungi home industry. Kalau ingin paket yang lengkap, dengan merogoh kantong lagi tentunya, wisatawan bisa mencoba paket Program Poelang Kampung.

Di program ini kita bisa belajar main angklung, belajar tari Sunda, belajar menanam padi, menyebrang kali, memandikan kerbau dll. Kalau mau menginap di sana juga ada penginapan beserta paket-paket wisatanya, seperti ronda keliling kampung, dll.

Ketika mengunjungi Wisata Cinangneng bersama teman-teman, saya mengambil paket Tour Kampung yang juga termasuk mendapatkan makan siang, berenang dan sesi poto dengan menggunakan pakaian Sunda. Walau hanya sekitar sejam lebih berjalan, ditemani oleh penduduk setempat yang menemani kami mengitari kampung, keluar masuk gang dan melintasi pesawahan, namun kami merasa lelah karena setelah itu kami langsung nyebur ke kolam renang yang berwarna biru bening yang sangat menggoda di siang terik saat itu. Untunglah sang guide menawarkan kepada kami untuk membawakan makan siang kami, berupa makanan khas Sunda, ke meja yang ada di sekitar kolam renang.

Tentunya wisata seperti ini sangat biasa bagi orang kampung seperti saya, tapi bisa menjadi pengalaman yang seru bagi anak-anak yang tidak pernah mengalami masa kecil di kampung. Wisata yang dimiliki oleh seorang mantan guide wisata ini juga baik untuk mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar dengan memperkenalkan industri yang mereka punya, walaupun sayangnya proses pembuatan industri tersebut tidak diperlihatkan kepada wisatawan. Sayangnya lagi ketenangan yang mungkin dicari oleh para wisatawan diganggu oleh suara musik hingar bingar yang datang dari kolam renang umum yang terletak persis di sebelah wisata Cinangneng.

Memang idealnya suasana pedesaan yang dihadirkan dibarengi dengan atmosfir yang menenangkan, misalnya adanya alunan suara seruling. Dan satu lagi, semoga setiap jengkal di tempat wisata ini mengandung nilai seni, termasuk sarana ibadah yang satu itu, yaitu musholla.

Semoga ke depannya wisata alam dan budaya ini akan semakin lebih baik.

Sumber: kompasiana.com

Wisata Seru Bersama Keluarga di Kampung Gajah Bandung

28 September 2013   202 views

Kampung GajahBerlibur bersama keluarga bisa tetap seru dan menyenangkan dengan hanya melipir ke Bandung. Traveler bisa bersenang-senang bersama keluarga di kawasan wisata Kampung Gajah.

“Alhamdulillah” dan “Subhanallah”, dua kata ini layak diucapkan, saat kami akhirnya tiba di tempat wisata Kampung Gajah di wilayah Kota Bandung pukul 08.30 waktu setempat. Kami tiba di Kampung Gajah setelah menempuh perjalanan dari tempat tinggal kami di Depok selama sekitar 3,5 jam perjalanan. Kami memulai perjalanan pukul 05.00 waktu setempat, dengan alasannya supaya tiba di tujuan lebih pagi, juga menghindari macet yang biasa terjadi di akhir pekan.

Setelah melalui jalan tol Cikampek-Purbaleunyi, kami keluar di pintu Tol Pasteur. Perjalanan dilanjutkan ke arah Terminal Ledeng. Tepat setelah Terminal Ledeng, mobil belok kiri ke Jalan Sersan Bajuri. Kira-kira 15 menit kemudian sampailah kami di tujuan kami Kampung Gajah.

Untuk masuk ke dalam tempat wisata Kampung Gajah, tiap orang dikenakan biaya Rp 10.000 per orang untuk hari kerja dan Rp 20.000 untuk hari libur. Biaya ini serta tambahan Rp 10.000 untuk mobil.

Kami mencoba mencari tahu fasilitas yang ada di tempat wisata ini. Dari informasi yang kami peroleh, ada Water Boom, Children Playground, Go Kart, dan Kebun Stroberi yang bisa dinikmati di tempat wisata ini.

Untuk bisa menikmati semua fasilitas dan permainan yang ada di kampung gajah, kita harus merogoh kocek sebesar Rp 200.000 per orang untuk tiket terusan. Dengan tiket terusan, kita bisa bebas menikmati semua fasilitas.

Ada beberapa fasilitas yang bisa dinikmati tanpa tiket terusan. Harganya lumayan mahal, namun cukup layak jika melihat keunikan yang ada. Ada bus mini yang siap mengantar kami berkeliling Kampung Gajah melihat fasilitas yang ada.

Pertama kami berkunjung ke Kebun Stroberi, kemudian bis berbalik dan lanjut ke arah Water Boom. Water Boom bisa dibilang fasilitas andalan dari Kampung Gajah, letaknya tepat di lembah. Sehingga kami harus melewati jalan turunan yang cukup curam dan berkelok.

Salah satu keunikan Water Boom di Kampung Gajah, menurut saya adalah latar belakangnya yang berbukit dan tebing. Tempat wisata ini memang terletak di lembah yang dikelilingi oleh tebing yang cukup indah.

Kami tidak membeli tiket terusan, sehingga hanya bisa melihat-lihat dan mengambil beberapa foto untuk diabadikan sebagai kenang-kenangan. Kami pun hanya bisa bengong melihat permainan air yang cukup menggiurkan ini.

Area food court juga tersedia di sekitar arena permainan Water Boom. Jadi, kalau perut terasa lapar, traveler bisa segera memesan makanan dengan menu yang tersedia, seperti ada gorengan, batagor, bakso, dan minuman ringan.

Bagi traveler yang tidak memiliki tiket terusan, ada beberapa arena yang bisa dinikmati, salah satunya Children Playground. Tiket untuk memasuki arena permainan ini sebesar Rp 20.000 per anak. Anak-anak bisa bermain flying fox, bersepeda keliling area, ayunan dan jungkat-jungkit, dan juga berlari-larian di sekeliling area bermain.

Selain arena bermain, banyak tempat makan tersebar di sini, mulai dari restoran Padang, tempat menikmati kopi dan roti, food court dengan berbagai macam menu makanan bisa menjadi pilihan untuk memanjakan lidah kita.

Secara umum, tempat wisata Kampung Gajah cukup menarik dan bisa menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang menarik untuk berlibur bersama keluarga. Tempat wisata ini menggabungkan pemandangan alam perbukitan dan lembah yang sejuk, disertai arena permainan beberapa fasilitas lain.

Sumber: Detik.com

« Previous PageNext Page »