Tips Liburan Edukatif Bagi Anak

17 June 2014

 

poto 1

Liburan sekolah bagi anak merupakan suatu moment yang sudah pasti sangat ditunggu – tunggu oleh anak sekolah pada umumnya, meninggalkan aktifitas sekolah sejenak untuk memberikan waktu luang yang dapat di isi oleh berbagai macam kegiatan diluar kegiatan sekolah tetapi kalau bisa kegiatan – kegiatan tersebut juga memiliki unsur yang edukatif bagi sang anak tersebut.

Jangan biarkan waktu libur anak anda terbuang sia – sia dan membiarkan sang anak hanya menghabiskan waktu liburnya untuk bermain tanpa ada unsur edukatifnya, karena hal tersebut dapat membuat anak menjadi suka malas di saat waktu sekolah telah tiba kembali. Ajaklah buah hati anda untuk pergi berlibur di saat liburan sekolah dengan tetap memberikan pendidikan dengan cara yang berbeda.

Berikut ada beberapa tips bermanfaat untuk mengisi waktu liburan anak anda :

Ajaklah anak anda untuk berlibur ke perkebunan, berkebun bukan lah hal yang membosankan bagi anak karena dengan mengajak anak anda berkebun anda dapat memberikan berbagai macam hal – hal baru seperti anak menjadi mengenal jenis – jenis tumbuhan dan lebih mencintai lingkungan, anak tetap dapat bermain di kebun yang luas dan juga mendapat pengetahuan baru.

Contoh tempat wisata berkebun yang menarik bagi anda dan anak anda, Taman bunga cihideung yang terletak di kota Bandung.

poto 2Selain perkebunan anda juga dapat membawa anak anda untuk berlibur ke kebun binatang, banyak hal menyenangkan yang akan menjadi pengetahuan baru dan langsung dapat disaksikan anak. Anak dapat mengenal berbagai macam jenis satwa termasuk satwa yang telah dilindungi.

Contoh tempat wisata kebun binatang yang dapat anda kunjungi selain kebun binatang di puncak anda juga dapat mencoba kebun binatang yang terletak di kota Malang, kebun binatang tersebut bernama Batu secret zoo.

poto 3

Berikan anak anda kegiatan yang menantang seperti outbound, outbound adalah kegiatan outdoor yang biasa dilakukan untuk salah satu tujuan wisata keluarga, kegiatan outbound ini dapat menghilangkan rasa jenuh pada anak terutama disaat mereka mencoba berbagai kegiatan dan permainan outbound tersebut.

Anda dapat mencoba wisata outbound di Yogyakarta yang bernama Dolandeso Boro yang memiliki pemandangan alam yang hijau dan di tempat ini anda dapat melakukan kegiatan outbound di alam bebas.

poto 4

Peternakan sapi dan kambing dengan nuansa perkebunan yang akan mengenalkan tentang peternakan sapi dan manfaat akan sehatnya susu sapi untuk kesehatan dan pertumbuhan. Di peternakan ini juga ada jenis sapi potong, sehinga anak – anak dapat membedakan mana jenis sapi yang biasanya mereka makan dan mana yang dapat diperah susunya. Nama tempat peternakan ini adalah Cibugary garden dairy yang berada di daerah cibubur.

poto 5

Sarana rekreasi dan belajar untuk anak – anak dan orang dewasa dengan alam dan udara yang sejuk daerah lembang, tempat yang sangat cocok untuk wisata keluarga mengenal alam. Di tempat ini selain rekreasi anak – anak juga dapat ikut melakukan kegiatan pertanian mulai dari pembibitan hingga memetik wortel & strawberry, selain kegiatan pertanian ada juga kegiatan seperti menungangi kuda poni, memberi makan ternak ayam, bebek, kambing, dan kelinci. Yang unik dari tempat ini juga ada pilihan untuk anak – anak belajar tentang daur ulang air limbah melalui cara – cara penjernihan air dan pemanfaatan air hujan, fasilitas tersebut jarang dimiliki oleh tempat – tempat wisata lainnya. Tempat ini bernama Jendela alam yang terletak di daerah lembang.

poto 6

Diatas adalah beberapa alternatif tempat berlibur bersama anak anda yang juga tetap memberikan unsur edukasi kepada anak. Sebaiknya sebelum memutuskan tempat tujuan berlibur bersama anak terlebih dahulu mendiskusikannya dengan anak anda sehingga perjalanan liburan tersebut akan berkesan dan bermanfaat bagi anda dan anak anda. Pendidikan untuk anak bukan lah hanya sekedar kegiatan pendidikan dari dalam sekolah melainkan juga masih banyak ilmu pendidikan yang dapat diajarkan kepada anak melalui liburan anak.

(Manulife Indonesia)

Menyambut Purnama di Desa Pasiragung

9 June 2014

kab(1)

warga kuninganKESENIAN merupakan cara penyampaian dari sebuah bentuk prinsip hidup, watak maupun sejarah singkat masa lampau yang terkadang diangkat dari akar kebudayaan. Penggambaran yang dituangkan dalam seni musikal dan tarian atau akrab disebut kebudayaan tak benda inilah yang menjadi satu-kesatuan nan indah dalam suatu pertunjukan.

Desa Pasiragung, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merupakan salah satu desa budaya Pasundan yang terus dilestarikan dan akan menjadi ikon budaya Pasundan di Kabupaten Kuningan. Desa terpencil dengan kaya keunikan dan ragam kesenian seakan menarik untuk dikunjungi saat bulan purnama tiba.

Berbagai pertunjukan budaya yang selama ini tak tergerus oleh perkembangan zaman dan terus diwarisi dan dilestarikan oleh masyarakat desa Pasiragung secara rutin dilaksanakan sebagai tanda wujud syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan kepada junjungan luhur yakni Nabi Muhammad SAW dan para leluhur.

Di saat sang fajar mulai bersinar, masyarakat dengan rutinitas sehari-hari membajak sawah di mana yang biasanya memakai topi khas petani atau yang dikenal dengan sebutan caping, tetapi disini memakai ikat kepala khas pasundan. Para pembuat gula Aren tradisional juga memulai aktifitasnya pergi ke hutan untuk mencari air nira. Selain itu, permainan anak-anak yang mulai tidak dimainkan lagi karena mengikuti modernisasi yakni umpat batu dan Congklak atau Engklek disini terus dipermainkan.

Sang fajar yang bersiap mengakhiri tugasnya berganti sang rembulan kian diramaikan oleh aktifitas masyarakat dan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Para penari Kesatron atau tarian perang kesatria yang menceritakan tentang perjuangan, keberanian dan kegigihan masyarakat pasundan dalam membela tanah air tercinta bersiap untuk dipertunjukan.

Dengan ikat kepala khas pasundan, tombak, perisai dan seragam berwarna orange berlarian dan menari di tanah lapang. Dengan pijaran lampu obor yang terbuat dari bambu diiringi dengan alunan musik gamelan seakan pertunjukan semakin sakral dan dramatis.

Tak terhenti sampai disitu saja, usai penari Kesatron mempertunjukan kelihaiannya menari seorang seniman maju dan ikut unjuk aksi dalam tarian api yang sungguh mempesona. Dengan tongkat yang telah disulutkan api ia mulai menari dan mempertunjukan aksi yang luar biasa. Semburan dan lingkaran tarian api yang dibuat sangatlah unik untuk dinikmati.

Usai tarian kesatron dan kelihaian sang penari api, saatlah para tetua-tetua desa berkumpul. Mereka duduk bersila, memejamkan mata sejenak, menyatukan hati dan pikirannya untuk memulai menyatukan diri mereka kepada alam semesta dan dengan kerendahan hati mengucapkan wujud syukur kepada Tuhan YME dan mengagungkan junjungan tinggi manusia paling sempurna yakni Nabi Muhammad SAW.

Kertas-kertas yang bertuliskan penggalan ayat-ayat Alquran dan puji-pujian mulai dilantunkan. Seni musik Gambyung yang membuat suasana kian sakral dan khidmat mengiringi suara-suara para orang-orang tua yang terkesan dengan nada tinggi. Pukulan demi pukulan alat musik Gambyung bernada naik turun sampai membuat badan pun ikut bergoyang perlahan demi perlahan.

Memang, budaya Sunda dikenal dengan menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Cermin budaya dan kultur masyarakat yang diajarkan sebagaimana halus dalam berperilaku dan bertutur kata.

Sisi religius didampingi dengan seni kultur yang unik dan terus terwarisi, dan dijalankan dengan prinsip “silih asih, silih asah dan silih asuh” atau saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling melindungi dalam kehidupan sehari-hari sunggulah sebuah panutan kultur pasundan yang kelak menjadi manusia yang beretika.
(kompas.com)

Hidup Berbeda Khas Kampung di Dieng

30 May 2014

1744013EI-DIENG-Setiap-pagi-petani-Dieng-mendaki-bukit-menuju-ladang-kentang-foto-Anjas-PrawiokoDATARAN tinggi Dieng, di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, dikenal sebagai kawasan wisata yang menawarkan pemandangan alam yang indah dengan udara berhawa dingin. Kondisi alam Dieng yang berada di ketinggian 2.000 mdpl, membuat kehidupan masyarakatnya memiliki kehidupan yang berbeda, unik dan khas.

Cobalah datang ke Dieng dan menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat di perkampungannya. Salah satunya di Desa Jojogan. Mampirlah ke salah satu rumah warga. Tamu akan diajak masuk dan duduk di belakang rumah, tepatnya bagian dapur. Ya, warga Dieng biasa menjamu tamunya bukan di ruang tamu, tetapi di depan tungku api dapur.

Hawa dingin membuat warga Dieng terbiasa menghangatkan diri di depan tungku api. Bahkan ketika sedang menjamu tamunya.

“Saking seringnya warga duduk menghangatkan diri di dekat api, membuat kaki warga Dieng memilikiciri khas yang disebut mongen,” kata Habib warga Jojogan.

Mongen adalah kulit kaki membekas menjadi kehitaman yang diakibatkan terlalu sering terkena panas. Karena hal ini pula, kebiasaan nongkrong di depan pawon atau tungku masak disebut juga dengan istilah mongen.

Pada sore hari warga kampung ini juga punya kebiasaan kumpul-kumpul dan nongkrong di pinggir jalan. Dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah karing. Hal berbeda dari nongkrong warga Dieng ini adalah kostum yang mereka kenakan. Karena udara dingin menusuk, saat nongkrong warga memakai pakaian tebal berupa jaket dan atribut penutup penutup kepala, sarung, syal, kaos tangan dan kaki.

Hidup di dataran tinggi dengan suhu dingin, berdampak pula secara alami pada ciri fisik orang Dieng. Perhatikan seksama wajah-wajah orang setempat, pada bagian pipi akan tampak merona kemerahan.

Rendahnya kadar oksigen di daerah dataran tinggi menjadi penyebab pembuluh darah manusia menjadi melebar, yang disebut vasodilatasi. Sehingga tubuh menjadi merah.

“Di Dieng ini bisa-bisa alat-alat kosmetik ini nggak laku loh. Nggak perlu lagi, ngapain gitu, karena cuacanya sudah bisa membuat kulit menjadi kemerahan. Jadi nggak perlu blush on di sini,” kata Kamga, pembawa acara program Explore Indonesia yang tayang di Kompas TV, saat berkunjung ke Desa Jojogan.

Di kampung ini juga masih bisa menjumpai sejumlah adat istiadat Jawa yang sudah mulai sulit dijumpai di kehidupan modern. Salah satunya tradisi ngemongi, yaitu sebuah tradisi memperingati hari lahir seorang anak.

Uniknya pesta ulang tahun anak ini digelar di depan pintu rumah. Makanan disajikan dalam sebuah tampah dengan menu sepiring nasi putih serta lauk pauk berupa mi goreng dan telor dadar. Meski menu sederhana, anak-anak menyantap bersama-sama dengan antusias dan penuh kebahagiaan.

Usai makan, masih ada satu ritual lagi, yaitu berdoa. Proses memanjatkan doa ini, lain dari biasanya, yaitu dengan cara melempar batu ke arah pintu rumah. Sementara bocah yang sedang merayakan ulang tahunnya, berada di dalam rumah.

Masih banyak cerita-cerita menarik dari sisi-sisi lain kehidupan warga Dieng yang dijumpai saat Kamga dan tim Explore Indonesia mengeksplorasi Dieng. Anda bisa menyaksikannya secara lengkap dalam program Explore Indonesia episode Dieng ’Khayangan di Jantung Jawa’ yang akan tayang Rabu, 28 Mei 2014, pukul 20.00 Wib.
(kompas.com)

Cibatu, Charlie Chaplin, dan Kereta Api

20 May 2014

cibatuuCHARLIE Chaplin pernah turun di Stasiun Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada 1927 dan 1935. Ia menikmati keindahan alam Garut yang ketika itu disebut Switzerland van Java. Mari ke Cibatu, naik kereta api, tentu.

Gerimis tipis turun lembut di Stasiun Cibatu ketika Kereta Api Serayu yang kami tumpangi tiba dari Jakarta tepat pukul 14.20. Kereta ekonomi berpendingin ruangan itu berangkat dari Stasiun Jakarta Kota pukul 08.25 menuju stasiun akhir Purwokerto via Purwakarta, Bandung.

Terletak di ketinggian 612 meter di atas permukaan laut, Stasiun Cibatu terasa sejuk berlingkung bukit dan gunung. Di sebelah barat tampak Gunung Guntur yang ketika itu puncaknya diselimuti mega putih. Sementara setengah punggung gunung dirambati sinar matahari. Sebuah panorama yang mirip lukisan. Di kiri-kanan, sejauh mata memandang, tampak gunung-gunung indah, yaitu Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Kancil, dan Gunung Haruman.

Stasiun yang dibangun pada 1889 itu menunjukkan kerentaannya. Risplank sudah tampak agak keropos. Namun, stasiun ini menyimpan sejarah. Ada penumpang ”istimewa”, yaitu komedian Inggris legendaris, Charlie Chaplin, pada 1927. Mungkin hanya sebuah kebetulan jika Charlie Chaplin lahir pada 1889, tepat ketika Stasiun Cibatu dibangun.

Sampai sekarang memang belum ditemukan dokumen resmi yang menyebutkan aktivitas Chaplin dalam berkereta api menuju Garut. Kepala Pusat Pelestarian dan Desain Arsitek PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ella Ubaidi mengatakan, sampai saat ini belum dijumpai bukti sejarah mengenai persinggahan Charlie Chaplin di Cibatu, Garut.

Kisah turun-temurun

Kisah kunjungan Chaplin ke Garut itu secara turun-menurun hidup dan tertanam di benak warga Garut. Antara lain menurun kepada Franz Limiart (47), warga Garut yang aktif sebagai pemerhati sejarah dan pelaku ekonomi kreatif Garut. Ia mendapat cerita dari mendiang sang ayah, Liem Boen San (1923- 1993). Ketika Chaplin datang untuk kedua kalinya pada 1935 di Garut, Liem Boen San berusia 12 tahun. Liem, seperti dituturkan Franz Limiart, melihat kehebohan besar di Garut tahun itu. Gara-garanya adalah kunjungan komedian berkumis ”Hitler”, yaitu Charlie Chaplin.

Liem Boen San kecil, seperti dituturkan Franz, begitu penasaran saat banyak orang berkumpul di Stasiun Garut Kota, berjarak 100 meter dari rumahnya. Beberapa orang yang ditemuinya, pribumi atau Eropa, membicarakan Charlie Chaplin. Siang yang panas tidak menyurutkan riuh rendah warga dari berbagai kalangan berdiri di muka Stasiun Garut Kota untuk melihat Chaplin turun di Stasiun Garut dari Stasiun Cibatu.

Komedian film bisu itu benar-benar menampakkan batang hidungnya tanpa riasan di Stasiun Garut Kota. Wajahnya tidak berhiaskan kumis petak. Ia tidak memakai jas sempit dan celana kedodoran. Topi tinggi warna hitam andalannya pun tidak ia bawa. Siang itu, ia berjas dan berdasi rapi dengan penutup kepala mirip yang lazim digunakan mandor perkebunan.

Lambaian tangan Chaplin disambut puluhan orang yang sudah menunggunya di Stasiun Garut Kota. Di stasiun yang kini mati suri itu, tubuh kecil Liem Boen San ikut merangsek maju berdesakan bersama warga lain yang penasaran. Iring-iringan itu terus mengekor 200-300 meter di belakang Chaplin. Antusiasme warga baru reda saat Chaplin dibawa pergi menuju Hotel Grand Ngamplang.

Hotel Grand Ngamplang adalah salah satu bukti bahwa Garut sudah menjadi idola wisatawan tempo dulu. Bersama Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, keberadaan Grand Ngamplang membuat Garut dikenal sebagai pionir resor wisata Hindia Belanda.

Dari Ngamplang yang berada di ketinggian 630 meter di atas permukaan laut, orang bisa melihat kemegahan Gunung Papandayan, Guntur, Cikuray, dan Karacak. Mungkin, pemandangan itu mengingatkan Chaplin pada tempat tinggalnya di Desa Corsier-sur-Vevey, Swiss.

”Di hotel itu diduga kuat julukan Switzerland van Java tercetus pertama kalinya. Namun, sayang tidak banyak jejak Chaplin yang bisa dilihat di Ngamplang,” kata Franz yang berprofesi sebagai pegiat wisata Garut.

Untung tidak semua jejak Chaplin hilang. Peran fotografer Thilly Weissenborn, keturunan Jerman yang lahir di Kediri, Jawa Timur, menyelamatkannya. Setidaknya, ada tiga foto yang diambil Thilly saat Chaplin tiba di Stasiun Garut Kota. Semuanya memperlihatkan keriaan masyarakat Garut menyambut kedatangan Chaplin. Foto-foto itu bisa dilihat di laman chaplin.pl yang banyak mengulas foto perjalanan Chaplin ke sejumlah negara.

Akan tetapi, jauh sebelum itu, karya Thilly kemungkinan besar yang mengundang Chaplin datang ke Garut. Thilly gemar mengabadikan pemandangan dan budaya Garut yang kemudian dipasang sebagai kartu pos yang dikirimkan ke beberapa negara. Bukan tidak mungkin, Chaplin datang setelah melihat Garut dari kartu pos Thilly.

”Thilly tidak sendiri. Sebagai daerah andalan wisata, profesi fotografer subur di Garut. Salah seorang di antaranya adalah Yo Liang Kie yang mengaku mengabadikan peristiwa di Garut, termasuk kedatangan Chaplin. Namun, entah terselip di mana foto jepretannya,” kata Franz.

Si Gombar

Stasiun Cibatu dulu memang menjadi perhentian wisatawan yang hendak pelesiran ke Garut. Haryoto Kunto dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997 mengatakan, banyak mobil mewah milik hotel ternama yang siap menjemput wisatawan mangkal di depan Stasiun Cibatu medio 1935-1940.

Hanya singgah sebentar di Cibatu, Chaplin kembali menggunakan kereta api menuju Stasiun Garut Kota. Ia menggunakan kereta api uap dengan kepala lokomotif yang dikenal warga dengan nama Si Gombar.

Cerita mengenai lokomotif juga tak kalah melegenda. Haryoto Kunto dalam bukunya yang lain, Wajah Bandung Tempo Doeloe, menyebutkan, Si Gombar adalah raja pegunungan selatan Jabar. Tangguh mengangkut manusia dan piawai membawa hasil perkebunan. Hingga saat ini, belum ada kereta api yang menyamai kekuatan Si Gombar, lokomotif hitam dan besar buatan Jerman. Rutenya dari dataran tinggi Ciwideuy, Kabupaten Bandung, Cikajang, Kabupaten Garut, hingga Pangandaran.

Wisata alam Garut terbilang lengkap untuk ukuran tahun 1920-an. Wisatawan bisa berkunjung ke Kawah Papandayan dan Kawah Kamojang. Ada juga wisata air, seperti Situ Bagendit hingga Santolo di pesisir selatan.

Terkepung tak kurang dari lima gunung, Garut memiliki situ atau telaga, curug atau air terjun, dan pemandian air panas.

Sejarah terus melaju. Kereta api dari Jakarta ke Cibatu tanpa lelah menyusuri. Sesekali, coba nyepur ke Garut lewat Cibatu. Charlie Chaplin pernah naik itu kereta.
(kompas.com)

Kawasan Cisangkuy Tetap Jadi Tempat Favorit Liburan

16 May 2014

taman-pustaka-bungaKawasan Jalan Cisangkuy, di sekitar Gedung Sate masih tetap menjadi favorit para pelancong dalam dan luar Kota Bandung untuk menghabiskan waktu liburan panjang.
Pantauan Tribun, kawasan Cisangkuy yang dikenal sebagai kawasan kuliner dan wisata berkuda, masih tetap dipenuhi warga yang menikmati libur terakhir long weekend ini. Bahkan saking penuhnya pengunjung, tak tersisa sedikitpun ruang untuk parkir kendaraan, baik roda dua maupun empat. Mereka yang baru saja datang dan hendak menikmati liburan di sini, terpaksa harus memutar kendaraan dan mencari tempat parkir yang jaraknya lebih jauh.
Pesona kawasan Cisangkuy yang dulu terkenal dengan Es Cisangkuy-nya memang tidak surut oleh pertumbuhan pariwisata di kawasan lain yang dewasa ini kian menggeliat. Buktinya, setiap libur panjang, kawasan Cisangkuy tetap menjadi primadona bagi mereka yang ingin menikmati jajanan khas Bandung dan wisata kuda.
Siska Mariska (31), seorang pelancong asal Kabupaten Bogor mengatakan bahwa kawasan Cisangkuy di Kota Bandung ini menjadi salah satu tujuan liburan selain menikmati belanja fesyen di beberapa factory outlet.
“Kalau ke Bandung ya sekalian aja, belanja dulu ke FO di Riau baru ke sini (Cisangkuy). Biasanya kalau ke sini buat makan aja sama nganter anak berkuda,” katanya beberapa saat lalu.
Menurut Siska, banyak obyek menarik yang ada di Kota Bandung untuk “dilahap” saat liburan panjang ini. Sehari sebelumnya, kata Siska, dia dan keluarganya juga menyempatkan diri mengunjungi sebuah wahana wisata di kawasan Gatot Subroto. (jabar.tribunnews.com)

Destinasi Selain Puncak untuk Libur Akhir Pekan

15 May 2014

cimoryKawasan Puncak yang selalu macet membuat orang enggan liburan ke sana saat akhir pekan. Jangan kuatir, masih ada destinasi lain yang bisa didatangi di sekitar Puncak yang tidak terlalu macet.

Sebenarnya kami tidak mempunyai rencana untuk ke Puncak di akhir pekan. Tujuan kami adalah Sentul. Kami pun berangkat pukul 7.30 WIB. Apabila melintasi tol Jagorawi, kami selalu menyempatkan diri untuk beristirahat di rest area setelah Sirkuit Sentul. Di sana kami menikmati tahu gejrot, ketan bakar, laksa, dan kerak telur, sambil ditemani teh poci dan udara yang cukup sejuk sambil menunggu teman yang belum sampai.

Setelah puas menikmati cemilan, kami pun melanjutkan perjalanan. Niat kami ingin ke Sentul Selatan, tetapi setelah melihat antrean di pintu keluar tol, kamipun berubah haluan ke Ciawi karena jam 9 sedang dibuka 1 way ke arah Puncak.

Kami hanya mampir ke Cimory Riverside untuk beli sosis, yogurt, dan makan siang sambil menikmati pemandangan sungai. Setelah selesai makan kami pun berencana turun ke Sentul pukul 1 siang.

Tetapi lagi-lagi kami berubah pikiran karena arah turun cukup tersendat, dan kami berpikir Sentul tidak terlalu sejuk. AKhirnya kami berbelok ke kiri sebelum Starbucks Ciawi. Tujuan kami berikutnya adalah menikmati cemilan di Restoran Alam Boriska.

Sampai di Alam Boriska kami memesan pisang bakar, colenak, kentang goreng, teh hangat, kopi hangat, dan wedang jahe. Sungguh nikmat sore hari menikmati pemandangan gunung sambil ditemani cemilan.

Karena kami penasaran ada apa di sekeliling Alam Boriska, akhirnya kami berjalan kaki menyusuri jalan menurun yang cukup terjal. Ternyata di bawah ada sungai yang cukup cantik dan dangkal. Akhirnya kami berfoto-foto di sungai itu, sambil menikmati air yang segar. Setelah puas kami kembali ke restoran, berganti baju dan bersiap pulang.

Malam hari kami melanjutkan perjalanan ke Bogor dan menikmati makan malam di saung lesehan Restoran De’Leuit dengan menu ikan gurame goreng dan bakar, udang telur asin, taoge cah ikan asin, pepes tahu, teh hangat, sambil menikmati suara musik Sunda.

Pukul 20.00 WIB pun kami pulang ke Jakarta. Akhir pekan yang menyenangkan. Bisa menikmati udara segar Puncak tanpa terjebak kemacetan yang berarti dan menikmati makanan yang lezat. (travel.detik.com)

Keajaiban Menakjubkan Danau Gunung Berapi

9 May 2014

SAMSUNG CSCDANAU Toba merupakan keajaiban alam menakjubkan di Pulau Sumatera. Sulit membayangkan ada tempat yang lebih indah untuk dikunjungi di Sumatera Utara selain danau ini.
Suasana sejuk menyegarkan, hamparan air jernih membiru, dan pemandangan memesona pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari imaji danau raksasa yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu. Dilansir dari laman Indonesiatravel, Danau Toba adalah danau berkawah seluas 1.145 kilometer persegi. Di tengahnya berdiam sebuah pulau dengan luas yang hampir sebanding dengan luas negara Singapura.

Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau mengingat ukurannya. Oleh karena itu, Danau Toba ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Danau Toba juga termasuk danau terdalam di dunia yaitu sekira 450 meter.

Danau Toba diperkirakan para ahli terbentuk setelah letusan gunung api super sekira 73.000-75.000 tahun lalu. Saat itu 2.800 km kubik bahan vulkanik dimuntahkan Gunung Toba yang meletus hingga debu vulkanik yang ditiup angin menyebar ke separuh wilayah Bumi. Letusannya terjadi selama sepekan dan lontaran debunya mencapai 10 kilometer di atas permukaan laut.

Akibat letusan gunung api super, Gunung Toba diperkirakan telah menyebabkan kematian massal dan kepunahan beberapa spesies mahluk hidup. Letusan Gunung Toba telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca bumi dan mulainya masuk ke zaman es sehingga mempengaruhi peradaban dunia.

Bagi masyarakat sekitar Danau Toba memiliki sejarah magis yang dipercayai sebagai tempat tinggal Namborru (tujuh dewi nenek moyang Suku Batak). Apabila suku Batak akan melakukan upacara di sekitar danau, maka mereka harus berdoa dan meminta izin Namborru terlebih dahulu.
Pulau Samosir adalah pulau yang unik karena merupakan pulau vulkanik di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Meskipun telah menjadi tempat tujuan wisata sejak lama, Samosir merupakan keindahan alam yang belum terjamah.

Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Di sekitar Danau Toba juga akan Anda dapati tempat pemandian air belarang.

Di Pulau Samosir Anda juga dapat menemukan pegunungan berkabut, air terjun yang jernih untuk berenang, dan masyarakat peladang. Keramahan masyarakat Batak pun akan memikat Anda karena kemanapun Anda pergi maka dengan segera dapat menemukan teman baru.

Di Kota Parapat yang merupakan semenanjung yang menonjol ke danau Anda dapat Anda nikmati pemandangan spektakuler Danau Toba. Parapat dihuni masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungan yang dikenal memiliki sifat ceria dan mudah bergaul, terkenal pula senang mendendangkan lagu bertema cinta yang riang namun penuh perasaan.

Kini, Danau Toba menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia. Tempat dimana Anda dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk menikmati keindahan alam seperti mendaki gunung, berenang, atau berperahu layar. Udaranya bersih dan sejuk harmonis dengan suasana santai masyarakatnya yang ramah.

Banyak wisatawan lebih memilih tinggal di Pulau Samosir di tengah danau. Sebagai tempat tinggal asli masyarakat Batak Toba, Pulau Samosir memiliki bekas peninggalan zaman purbakala di antaranya ialah kuburan batu dan desa-desa tradisional. Di pulau ini Anda dapat menemukan kebudayaan Toba yang unik dan kuno. Amati juga arsitektur tradisional rumah Batak Toba yang majemuk.

Keindahan alam Pulau Samosir mengartikan bahwa pulau ini adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi dan menghindari kepenatan rutinitas. Samosir mudah dijangkau oleh kapal ferri dari Parapat. Di Tomok juga terdapat Makam Raja Sidabutar, yang usianya sudah 500 tahun. Juga terdapat Patung Sigale-Gale yang bisa menari.

Jika Anda merasa bersemangat di Parapat ada banyak fasilitas untuk berenang, bermain ski air, mengendarai motor boat, menaiki kano, memancing dan bermain golf. Dari Parapat Anda dapat berjalan-jalan santai di bukit Sungai Naborsahon dimana Anda akan melihat bunga bugenvil, pointetties, honey suckle yang spektakuler berbunga sepanjang tahun. Banyak pengunjung yang datang menghabiskan waktu di danau dengan berenang di air yang menyegarkan atau menyewa perahu layar mengelilingi danau yang besar tersebut.

Tidak perlu khawatir tersengat sinar matahari karena iklim di sini sejuk dan kering dengan pemandangan danau yang indah, tempat ini adalah tempat yang ideal untuk bersantai. Sambil melihat matahari terbenam di Danau Toba adalah cara yang sempurna untuk bersantai dan menghabuskan waktu bersama orang yang Anda sayangi.

Di Samosir, Anda juga dapat berjalan-jalan ke pedalaman dan menjelajahi dua danau yang lebih kecil, yaitu Danau Sididhoni dan Aek Natonang. Jika Anda masih belum merasa puas dengan suasana di Samosir, jelajahi pedalaman dengan trekking ke dataran tinggi. Sebaiknya tanya hotel atau masyarakat setempat tentang rutenya karena jalannya terkadang berlumpur dan licin tergantung cuaca.

Jika Anda tertarik dengan sejarah maka kunjungi komplek pemakaman Raja Sidabutar dimana dapat melihat peninggalan budaya megalit yang unik. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan dan masyarakat Batak, kunjungilah desa tradisional Jangga penghasil kain ulos yang berjarak sekitar 24 km dari Parapat. Di tepi Danau Toba juga terlihat Wisma Soekarno, tempat Presiden pertama Indonesia diasingkan, dengan desain bangunan yang dicat warna putih nan megah.
(okezone.com)

Jabartravel: Mari Menantang Gelombang di Laut Tenang

29 April 2014

surfingSEBAGAI salah satu surga bagi para peselancar, Batu Karas merupakan campuran dari pantai Batu Hiu dan pantai Pangandaran. Pantai ini cocok untuk berenang dan berselancar, karena Batu Karas tidak hanya menawarkan air yang tenang tetapi juga gelombang yang menantang.
Merupakan perpaduan yang cantik dan harmonis. Beberapa orang menyebutnya sebagai Bali kecil, karena menawarkan pengalaman yang sama tetapi sedikit tantangan. Terletak sekitar 40 kilometer atau satu jam perjalanan dari Pangandaran, pantai berpasir hitam yang cantik ini merupakan tempat liburan yang sempurna karena suasananya yang sepi dibanding dengan Pangandaran atau bahkan Bali.

Seperti yang dilansir dari Indonesiatravel, Batu Karas sudah populer di kalangan para peselancar, nasional dan internasional. Selain pantainya yang relatif datar, Batu Karas juga memiliki teluk kecil, sehingga peselancar tidak perlu mendayung terlalu jauh ke titik awal gelombang datang. Untuk pemula ada banyak tempat penyewaan perlengkapan berselancar sekaligus dengan instruktur yang berpengalaman yang dapat mengajarkan segala hal yang harus Anda ketahui tentang berselancar. Jadi, tidak peduli apakah Anda seorang peselancar profesional atau tidak pernah berselancar atau tidak sama sekali, Anda masih bisa mencoba menangkap gelombang Batu Karas yang indah.

Umumnya, ada tiga tempat berselancar yang biasa dikenal di kalangan peselancar; Karang, Legok Pari dan Bulak Bendak. Karang, secara harfiah berarti batu, yang mungkin berasal dari banyak batu yang terletak pantai ini, kesempatan berselancar di pantai ini hanya didapat ketika air sedang pasang. Legok Pari adalah tempat berselancar paling favorit dan pantai yang sempurna untuk pemula karena pantai ini relatif aman dan ombak tidak terlalu tinggi. Untuk peselancar profesional, Bulak Bendak adalah tempat yang mereka pilih. Di sini, gelombang dapat menciptakan dinding panjang dan tinggi. Untuk sampai Bulak Bendak Anda harus naik perahu dengan biaya sekitar Rp200.000,00.

Batu Karas tidak hanya bisa dinikmati dengan berselancar saja, tapi tempat dimana Anda bisa menikmati Jet Ski, banana boat dan naik kereta kuda di tepi pantai. Namun itu hanya beberapa contoh yang bisa Anda lakukan di pantai ini. Bagi mereka yang suka berpetualang, Batu Karas menawarkan beberapa tempat yang cocok untuk berkemah dan hiking. Untuk petualangan lebih menantang, Anda dapat meminta penduduk lokal untuk membawa Anda ke Karang Nunggal, sebuah pantai terpencil dengan pemandangan spektakuler yang dihiasi oleh batu besar dan tinggi.

Batu Karas adalah tempat liburan yang tepat bagi siapa pun. Berjalan di pantai saat matahari terbenam, menikmati kopi di “warung” di sore hari, menghabiskan hari dengan menonton anak-anak Anda membangun istana pasir di pantai atau hanya sekedar berjemur sambil bermandikan cahaya matahari.

Berselancar mungkin yang pertama terlintas di benak Anda ketika mendengar Batu Karas, dan jika Anda tidak bisa berselancar, Anda bisa belajar di pantai ini. Dengan begitu banyak jenis gelombang dan tempat untuk dipilih, berselancar di Batu Karas tidak hanya menarik, tapi juga menyenangkan.

Ada beberapa jenis olahraga air dan aktivitas pantai yang juga dapat Anda lakukan di pantai seperti jet ski, naik banana boat, snorkeling, memancing, berenang, naik andong di tepi pantai dan bersenang-senang di pantai dangkal. Ada juga tempat di mana Anda bisa berkemah dan hiking atau melakukan sedikit jelajah hutan.

(Okezone)

Orang – Orang Australia yang Cinta Setengah Mati kepada Indonesia

29 April 2014

turisMakin banyak orang Australia yang mencintai Indonesia. Sebagian di antara mereka memosisikan Indonesia sebagai tanah air kedua. Berikut laporan wartawan Jawa Pos DWI SHINTIA IRIANTI yang mengikuti media visit program BRIDGE (Building Relation Through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) di Australia.

RAMBUT pirangnya yang panjang diikat dengan karet rambut warna senada. Senyumnya mengembang dengan ramah saat disapa. “Sangat senang bertemu Anda,” kata Charlotte Bowen sambil menjabat tangan Jawa Pos saat dijumpai di Tranby College di kawasan Baldivis, sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kota Perth, Australia Barat, awal pekan lalu

Bowen adalah alumnus Tranby College yang kini sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Asian studies di Universitas Murdock Perth.

Dalam pertemuan itu, Bowen tampak berusaha keras untuk membalas semua pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia. Tapi, dia kemudian menyerah setelah beberapa kali gagal menyelesaikan kalimat.

Mengenakan little black dress yang dilapisi coat batik, Bowen adalah warga Perth yang mengklaim mencintai Indonesia. Lebih spesifik, Surabaya. “Kalau punya kesempatan, saya akan tinggal di sana suatu hari nanti,” katanya berapi-api. Penggemar nasi pecel dengan lauk ayam goreng itu merupakan satu di antara seratus lebih siswa Tranby College yang memulai perkenalan dengan Indonesia lewat program BRIDGE antara Australia dan Indonesia. Memulai program belajar pada Desember 2012, Bowen langsung kembali ke Surabaya pada Maret 2013. Kecintaannya terhadap Surabaya kali pertama muncul gara-gara donat.

“Di dekat hotel tempat saya tinggal kali pertama di Surabaya, ada mal yang menjual donat yang amat sangat lezat. Bila membeli beberapa buah, saya bisa dapat gratis donat lainnya,” ceritanya sambil menyebut salah satu gerai donat berlabel asing, namun dimiliki pengusaha Indonesia tersebut.

Dengan donat itu dan hal-hal seru lain yang dialami selama tiga bulan di Surabaya, Bowen lalu menetapkan diri bahwa Surabaya adalah rumah keduanya.

Untuk itu pula, akhir tahun lalu dia memutuskan kembali ke Surabaya. “Saya menganggap sudah menghabiskan separo persediaan donat di Surabaya. Demikian pula dengan nasi pecel. Saya juga mendapatkan banyak kesenangan dari Surabaya. Karena itu, saya harus membalas kebaikan mereka itu,” katanya dengan gaya bercanda.

Karena itu, pada kedatangannya yang ketiga pada akhir 2013, Bowen memutuskan untuk terlibat dalam salah satu grup sosial yang ditemukannya via jejaring sosial. “Kami mengumpulkan donasi, kemudian donasi itu dibelikan berbagai keperluan untuk anak-anak jalanan. Dari situ, kecintaan saya kepada Surabaya semakin besar. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih,” ulasnya.

Begitu kembali ke Australia, Bowen semakin aktif terlibat dalam berbagai event yang berhubungan dengan budaya dan bahasa Indonesia. Termasuk membantu program BRIDGE yang berlangsung pada Maret ini.

Program BRIDGE yang didukung Kedutaan Besar Australia di Jakarta memang memungkinkan siswa-siswi Tranby Collage mencicipi pendidikan di SMA Negeri 5 Surabaya. Demikian pula sebaliknya, siswa-siswi SMA Negeri 5 Surabaya berkesempatan untuk bersekolah di sana.

“Ke depan saya bergabung dengan AIYA, Australia Indonesia Youth Association, Perth. Dua teman dekat saya, Fiona Bettesworth dan Michael Peck, lebih dulu bergabung,” katanya.

Kecintaan mereka terhadap Indonesia tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Vicky Richardson. Richardson yang lebih akrab dipanggil Ibu Vicky adalah guru bahasa Indonesia di Tranby Collage. Sama dengan Bowen, Vicky memulai kecintaannya pada Indonesia sejak pertama menginjakkan kaki di Bali pada 1982 alias 32 tahun silam. “Saya jatuh cinta kepada negara Anda,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Perempuan yang sudah dipenuhi keriput di wajah namun tetap semangat itu pun memutuskan akan menghabiskan masa pensiun di Surabaya. ”Tidak butuh waktu lama naik pesawat dari Perth ke Bali. Dalam 45 menit, bahkan kurang, anak dan cucu saya sudah bisa mengunjungi saya di Surabaya,” katanya berbinar.

Sampai sekarang Vicky sudah 60 kali melakukan perjalanan ke Indonesia, 12 kali di antaranya ke Surabaya. “Surabaya adalah rumah kedua saya. Saya punya sahabat di sana. Di sana pula nanti saya akan tinggal,” ujarnya, kemudian menyebut nama Ibu Anis sebagai sahabatnya. Anis adalah mantan wakil kepala SMA Negeri 5 Surabaya.

Kedekatan Vicky dengan Anis juga terjalin lewat program BRIDGE. Lewat program itu, dia mengenal dengan baik Abdul Latif, guru bahasa Indonesia dari SMA Negeri 5. Vicky dan Abdul Latif adalah dua pionir yang membuat program BRIDGE berlangsung sukses sejak 2010.

“Saya melakukan persiapan untuk menjalankan BRIDGE sejak 2008. Pada 2009 saya ketemu Latif. Lewat kerja keras, angkatan pertama BRIDGE SMAN 5 Surabaya-Tranby College berlangsung. Saat itu SMAN 5 yang pertama mengirim siswa ke Australia,” kenangnya. Setahun kemudian, pada 2010, giliran siswa Tranby yang belajar di Surabaya.

Menurut Vicky, tidak sedikit siswa Tranby yang tertarik mengikuti program BRIDGE untuk belajar di Surabaya. Namun, tidak semua diterima. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah siswa mesti mengikuti kelas bahasa Indonesia setelah kelas VIII. Memang bahasa Indonesia sudah masuk kurikulum di sekolah-sekolah Australia. Biasanya bahasa Indonesia diajarkan mulai kelas I sampai kelas VIII. Setelah itu, siswa boleh memilih mengambil bahasa Indonesia lagi atau tidak. Nah, untuk bisa mengikuti BRIDGE, siswa harus tetap mengambil mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IX hingga XII.

Mengapa Vicky begitu mencintai Indonesia? “Kita adalah tetangga yang paling dekat. Kita harus saling mengenal satu sama lain. Kalau tak kenal, maka tak sayang,” ujarnya bersemangat.

Pernyataan senada diucapkan Karen Baily saat menjadi keynote speaker dalam networking event yang diadakan di Konsulat Jenderal Indonesia di Perth. Baily adalah board member di Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP). Jawa Pos yang hadir bersama rombongan international media visit yang dihelat Kedutaan Besar Australia di Jakarta melihat semangat Baily yang menggebu-gebu dalam mengenalkan bahasa Indonesia di Australia.

“Kita adalah negara bertetangga yang paling dekat. Untuk memahami tetangga, kita harus mengenal mereka. Perkenalan itu bisa dimulai dari bahasa,” kata perempuan yang menjabat kepala bagian bahasa di Sekolah Pendidikan Jarak Jauh di Perth itu.

“Perth lebih dekat ke Bali daripada ke Sydney. Jadi, Indonesia adalah tetangga sebenarnya,” lanjutnya. Saking cintanya kepada Indonesia, Baily mengaku pernah dianggap gila.

Saat pemerintah Australia memutuskan untuk mengurangi jam pelajaran bahasa Indonesia yang semula hingga kelas XII sekarang cukup sampai kelas VIII, Baily sangat menyesalkan. Akibatnya, banyak sekolah yang tidak lagi menyelenggarakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa kelas VIII ke atas.

“Para kepala sekolah menganggap bahasa Indonesia tidak lagi penting diajarkan. Mereka berhenti mengajarkan bahasa Indonesia pada kelas VIII,” tuturnya.

Untuk meraih simpati para kepala sekolah lagi, Baily bersama BBIP kemudian membawa beberapa kepala sekolah untuk mengunjungi Indonesia. Di Indonesia mereka mengunjungi sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, seni, dan kebudayaan yang menunjukkan kekayaan Indonesia.

“Seusai program itu, pikiran para kepala sekolah terbuka. Beberapa di antara mereka akhirnya kembali mengadakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa di atas kelas VIII,” katanya.

Baily menambahkan, dengan mengenal satu sama lain, prasangka buruk yang terjadi antara Indonesia-Australia bisa terkurangi. “Kita harus menghilangkan kesan negatif tentang Indonesia. Indonesia pun demikan, harus menghapuskan kesan yang sama tentang kami,” ujarnya.

(JPNN)

Mengagumi Keindahan Pantai Sulamadaha

25 April 2014

pantai-ternateTERNATE, kota yang berada di atas pulau gunung berapi di Provinsi Maluku Utara, tidak hanya menyimpan kearifan budaya dan tradisinya. Kota yang masih memiliki Kesultanan ini pun ternyata memiliki keindahan alam yang menjadi ciri khas daerah Indonesia timur. Langit biru, air laut sebening kaca, keindahan terumbu karang dan pasir putihnya.

Pantai Sulamadaha di Ternate seakan menjadi rangkuman keindahan-keindahan tersebut. Berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kota Ternate, Pantai Sulamadaha kini menjadi obyek wisata favorit dan wajib dikunjungi bagi para pecinta bahari.

Pantai Sulamanda memiliki bentuk U. Pantainya tidak terlalu luas tapi memberi kesan private karena di sekeliling pantai ada tebing tinggi menjulang yang ditumbuhi pepohonan rindang. Dari tempat parkir pengunjung masih harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk mencapai pantai ini. Jadi pengunjung tidak akan menemukan mobil yang diparkir di pinggir pantai sehingga sungguh membuat pantai ini asri.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jalan menuju Pantai Sulamadaha sedikit menanjak dan sedikit menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika tiba di pantai ini. Pengunjung akan disambut dengan hamparan pasir putih, dan beningnya air laut yang bergadrasi warna hijau muda ke biru tua.

Jangan pernah ragu untuk berenang di pantai ini, kejernihan dan airnya nan sejuk membuat betah berlama-lama di dalam air. Yang menarik, di pantai ini pengunjung bisa berjalan hingga 20 meter ke tengah laut karena ada gugusan terumbu karang yang luas di pantai ini. Jika tidak bisa berenang, pengunjung bisa menyewa pelampung seharga Rp 10.000.

Malas berenang? Pengunjung tetap bisa menikmati kejernihan air laut dengan berperahu. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 30.000, pengunjung bisa menyewa perahu dengan kapasitas 3-4 orang dan mendayung ke tengah lautan. Jangan khawatir dengan gelombang, bentuk pantai yang seperti huruf U ini membuat air laut pantai ini tenang.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jangan buru-buru pulang setelah mengagumi keindahan pantai Sulamadaha. Pengunjung bisa duduk sejenak di warung yang ada di pinggir pantai. Ayub (50) merupakan salah satu yang memiliki warung di pantai ini. Dia bersama sang istri menjual makanan dan minuman bagi pengunjung. Menurut Ayub, akhir pekan merupakan hari yang sibuk karena pantai ini akan dipadati pengunjung.

“Jadi selain jual makan saya juga buka fasilitas kamar mandi untuk bilas atau ganti baju. Jangan khawatir kalau lupa bawa celana pendek atau alat snorkeling, kita juga sewakan barang-barang macam itu,” kata Ayub.
(sumber:kompas.com)

« Previous PageNext Page »