PERJUSAMI SAMBIL BERLIBUR DI PONDOK HALIMUN SUKABUMI

27 September 2014

pramuka alfatahnaik-naik ke puncak gunung
tinggi-tinggi sekali,
kiri kanan kulihat ada
banyak pohon cemara.

SUKABUMI – Kiranya nyanyian anak-anak yang pernah popular tempo dulu itu sangat tepat untuk menggambarkan keceriaan siswa-siswi Madrasah Tsanawiyah Al-Fatah Kota Sukabumi yang mengadakan Perkemahan Jum’at Sabtu Minggu (Perjusami) di kawasan Pondok Halimun, Jumat (22-24/08), kemarin.
Secara geografis Pondok Halimun (PH) memang berada di kaki bukit gunung Gede-Pangrango Jawa Barat yang membentang luas dan diapit tiga kabupaten yaitu kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi.
Di area Pondok Halimun ini terdapat beberapa bumi perkemahan, antara lain Bumi Perkemahan Elang Jawa, Bumi Perkemahan Cipelang, dan Bumi Perkemahan Pondok Halimun. Kondisi Bumi Perkemahan Pondok Halimun berupa lembah dan perbukitan dengan banyak pohon lebat dan sedikit bercuram. Di pinggir perkemahan terdapat aliran air sungai Cipelang yang masih jernih. Jadi, tidak perlu khawatir untuk masalah air minum.
Lokasi antara bumi perkemahan ini saling berdekatan. Di area itu terdapat area parkir kendaraan yang luas dengan deretan warung-warung yang menyediakan aneka sajian, khas nya tentu saja jagung bakar dan bandrek panas.
Di bumi perkemahan Pondok Halimun juga terdapat beberapa penginapan, yang bisa jadi alternatif menginap selain camping. Terdapat juga playing ground untuk anak-anak di sekitar aliran sungai Cipelang. Ciri khas Pondok Halimun adalah banyaknya batu gunung besar yang terserak di sepanjang jalur bumi perkemahan. Bebatuan besar dapat terlihat di kawasan Pondok Halimun sehingga membuat tempat ini sangat Asri.
Hal ini, menjadikan suasana perkemahan Pondok Halimun seperti berada di hutan belantara dengan sedikit improvisasi tata ruang seperti lapangan upacara dengan fasilitas tiang bendera dan MCK di sekitar padepokan perkemahan.
Ciri lain di sekitar Pondok Halimun terdapat pusat penangkaran burung Elang Jawa yang termasuk jenis burung langka dan dilindungi. Keberadaannya hampir terancam punah, karena di sekitar pusat penangkaran burung ini hanya ada tersisa sekitar 200 ekor burung Elang Jawa.
Selain penangkaran Elang Jawa, juga terdapat Taman Nasional sebagai tempat perkemahan dan rute pendakian ke puncak gunung Gede.
Letak perkemahan Pondok Halimun sangat strategis karena tidak jauh dari pusat keramaian kota, sekitar 12 kilometer dari arah Utara pusat pemerintahan kota Sukabumi melalui arah ke Selabintana.
Jalan menuju tempat perkemahan memang naik-turun dan berkelok-kelok. Kondisi jalan seperti itulah yang membuat perjalanan menuju Pondok Halimun membuat seru para pengunjung sambil menikmati indahnya pemandangan perkebunan teh hijau dan kawasan bukit yang dihiasi pohon-pohon besar di pinggir jalannya.
Tak ketinggalan pengunjung pun dapat melihat kera putih bergelayutan di atas pohon dan ranting yang tinggi beberapa puluh meter sebelum sampai di tempat tujuan.
Selain itu, kondisi alamnya yang masih ‘perawan’ membuat udara di Pondok Halimun sangat sejuk. Maka, tak diragukan lagi bukit Pondok Halimun menjadi salah satu pilihan yang tepat bagi pengunjung untuk memilih mengadakan acara perkemahan.
Bulan Agustus (22-24) kemarin sekitar 60 orang siswa/i MTs Al-Fatah sangat antusias menggelar kegiatan acara Perjusami di Pondok Halimun (PH).
“Kegiatan Perjusami ini merupakan rangkaian kegiatan pramuka dan Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) yang sebelumnya tertunda karena berbenturan dengan bulan puasa”, ujar Nana Suryana Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) Bidang Kurikulum dalam wawancara, Jumat (22/08).
Setiap tahun MTs Al-Fatah kota Sukabumi menggelar program kegiatan perkemahan dua kali, yaitu Perjusami (Perkemahan Jumat Sabtu Minggu) pada awal tahun, dan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) pada akhir semester satu.
Sementara guru pembina pramuka MTs Al-Fatah kota Sukabumi Asep Nurdiansyah S.IP. menuturkan, “kegiatan Perjusami MTs Al-Fatah diadakan bersamaan dengan MOPD dan Pelantikan Ramu (kelas tujuh) dan Rakit (kelas delapan) sebagai tanda kecakapan umum seorang penggalang dalam pramuka. Sementara Persami diadakan dalam rangka pelantikan pengurus OSIS dan Dewan Kerja Penggalang (DKG) untuk kelas delapan”, tuturnya, Jumat (22/08).
Dengan adannya Perjusami seperti itu siswa akan mampu memiliki sikap kemandirian. Pria kelahiran 1971 itu menegaskan, “meskipun anak sudah menempuh Syarat Kecakapan Umum (SKU), namun tetap saja masih diperlukan pengujian mental dan fisik mereka dalam bertahan hidup di alam bebas (survival)”, tambahnya disela-sela kegiatannya.
Perkemahan di alam terbuka ternyata lebih dinikmati siswa-siswi daripada yang digelar di tempat lain karena mengandung unsur hiburan petualangan dalam pembelajarannya.
Hal ini diakui Ainun Rahmah Hidayat (14) siswi kelas delapan MTs Al-Fatah, “Perkemahan di alam pegunungan lebih asyik daripada liburan di tempat-tempat lain”, imbuhnya.
Dalam kegiatan itu, siswa dibagi ke dalam dua kategori, yaitu peserta yang terdiri dari kelas tujuh dan delapan. Sementara panitia sengaja dipilih oleh pembina pramuka dari kelas sembilan.
Selain pembagian tugas panitia dan peserta, dalam kegiatan itu setiap anak dibagi menjadi 8 kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 6-7 siswa. Setiap
Banyak suguhan acara yang ditampilkan siswa MTs Al-Fatah pada kegiatan Perjusami tahun ini. Mulai dari mendirikan tenda, belajar morse sinar dan semapur sinar, lomba masak, hiking (empat pos), lomba keagamaan (seperti lomba adzan, qiraat al-Qur’an, tahfidz, pidato dan lain-lain), jurit malam sampai api ungun.
Selain diikuti para siswa, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu juga dihadiri dewan guru dan kepala sekolah. Bahkan, tampak sejumlah alumni ikut berpartisipasi membantu kegiatan itu agar tetap lancar.
Dengan kegiatan Perjusami seperti itu Nana mengharapakan, “siswa tidak hanya belajar secara teoritis di dalam kelas, tapi mampu mempraktekannya di alam bebas sekalipun”, ujarnya.
Kegiatan itu sangat membantu dalam memupuk kemandirian dan menambah kemampuan anak didik. Selama tiga hari mereka menaklukan ‘keperawanan’ Pondok Halimun untuk menjadi manusia sejati yang mengetahui jati dirinya sendiri.
“Siswa juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas akidah keimanan, kedisiplinan, kekompakan dan lebih mencintai alam dan manusia, khususnya sesama teman-temanya”, tambahnya.

Curug Seribu di Bogor, Kental dengan Nuansa Mistis

25 September 2014

Curug seribuWisata alam Curug Seribu di Gunung Bunder, Bogor terkenal mistis, namun eksotis. Banyak kisah tentang air terjun ini, namun pemandangan yang indah selalu mengundang wisatawan untuk datang.

Nuansa mistis tapi eksotis menggerakan kami untuk mengunjungi Curug Seribu. Hanya dengan membayar uang masuk Rp 15.000 di pintu masuk utama objek wisata Gunung Bunder, kami pun bisa melanjutkan perjalanan ke Curug Seribu.

Sesampainya di sana, sejenak saya dan teman-teman beristirahat untuk makan siang di sebuah warung dekat dengan pintu masuk sebelum melanjutkan tracking turun ke curug. Kami membayar lagi tiket masuk sebesar Rp 5.000 dan kami pun mulai tracking turun menuju curug.

Melewati jalan setapak yang mulanya masih bagus hingga jalan berbatu yang terjal, kami menikmati pemandangan indah di kiri kanan jalan yang cukup memanjakan mata. Di tengah perjalanan kami menemui beberapa mata air yang masih segar dan dapat langsung diminum dan juga air terjun kecil yang airnya sangat jernih. Sedikit kelelahan, kami pun mencoba meminum air tersebut dan memang airnya sangat segar.

Tidak hanya itu, kami pun berjumpa dengan segerombolan monyet hutan yang bergelantungan di sepanjang perjalanan. Kami sengaja tidak mengeluarkan ponsel dan makanan, karena takut kalau monyet tersebut menghampiri dan mengambil barang bawaan kami. Monyet di sana masih sangat liar.

40 Menit perjalanan kami lewati dan jalan bebatuan pun makin terjal dan gemuruh suara air terjun mulai terdengar. Ada pohon tumbang yang melintang menghalangi jalan. Kami harus sedikit menunduk agar bisa melewati pohon besar tersebut. Hampir satu jam perjalanan kami lewati dan kami pun sampai di Curug Seribu.

Kesan mistis mulai terasa ketika kami sampai di depan curug. Curug yang begitu besar dan dikelilingi lembah yang sangat terjal menambah kengerian suasana di sana. Memang sangat ngeri apabila ingin mendekati curug karena arus airnya yang sangat deras. Kami pun tidak mencoba mendekati atau mandi di bawah curug.

Bukan berwisata namanya kalau tidak menggali informasi seputar objek wisata. Saya berinisiatif untuk bertanya kepada pedagang warung kopi di sana. Dia bercerita mengenai Curug Seribu.

“Memang selalu ada korban di sini mas!” kata bapak penjaga warung tersebut.

Dia bercerita dulu ketika objek wisata ini dipegang pemerintah daerah, selalu saja ada korban karena tidak ada yang menjaga di sini. Tapi ketika objek wisakta ini diberikan dan dikelola oleh warga sekitar, sudah jarang ada korban.

“Sungguh amat mistis di sini. Tapi kalau kita sopan dan tidak sombong, tidak akan terjadi apa-apa,” ungkap bapak penjaga warung.

Tiba-tiba dia mengambil pengeras suara dan berteriak, “Hei! Jangan kesana, Mas. Lihat pembatasnya!”

Saya melihat ada seorang wisatawan yang mencoba mendekati curug dan melewati tali pembatas yang terpasang. Ternyata memang sudah ada batasan-batasan dimana saja kita boleh bermain dan melakukan aktivitas rekreasi. Ada tali panjang yang membentang membatasi curug dengan pengunjung dan kita tidak boleh melewati tali tersebut.

“Sebelum dibatasi, banyak wisatawan yang tenggelam di curug, Mas!” ujarnya.

Dia bercerita bahwa suatu ketika pernah ada wisatawan yang tenggelam dan tidak mengapung kembali. Harus dengan bantuan tim SAR, itu pun mereka tidak boleh lebih dari 5 menit menyelam, karena akan beku di dalam air.

Batasan berkunjung curug hanya sampai pukul 16.00 WIB sore. Tidak dianjurkan untuk para pengunjung berada di sana lebih dari pukul 16.00 WIB. Bahkan warga sekitar pun tidak ada yang berani. Semakin seru obrolah saya dengan penjaga warung, dan dia juga bercerita soal kejadian kesurupan.

“Sering terjadi kesurupan juga Mas di sini, sering kali yang kesurupan itu titip pesan ke saya agar menjaga tempat ini dan memperingati pengunjung agar tidak ke area yang dilarang. Ketika kita bertamu kita harus menghormati yang punya tempat, jangan masuk kalau tidak diizinkan, kalau tidak nanti yang punya tempat bisa marah,” ucap si bapak penjaga warung bercerita panjang lebar.

Traveling kali ini mengesankan untuk saya, tidak hanya menikmati pemandangan keindahan alam tetapi juga mendapat informasi tentang objek wisata tersebut.

(detik.com)

Bisnis Wisata Jabar Bakal Lesu

23 September 2014

ciwideyJawa Barat memiliki banyak wisata alam yang bisa menarik banyak wisatawan domestik dan mancanegara. Namun kunjungan wisatawan mancanegara ke berbagai objek wisata itu bakal menurun.

Seperti kluster Ciwidey dengan Kawah Putih, Patuha, dan Rancaupas. Meski terkenal dan  infrastruktur sudah mulai membaik, namun masih ada jalan-jalan yang kurang lebar untuk menuju kluster Ciwidey tersebut. Ditambah kondisi macet yang masih kerap terjadi.

Kondisi-kondisi tersebut cukup mempengaruhi realisasi pendatapan dari obyek wisata yang dikelola Perhutani yang hingga Agustus 2014 baru mencapai 60 persen.

Idealnya pada semester pertama sudah mencapai 63 hingga 65 persen dari target pendapatan  wisata yang diproyeksikan sebesar Rp 43 miliar. Nilai proyeksi tersebut dari obyek wisata Jabar dan Banten sebesar Rp 40 miliar dan Rp 3 miliar dari obyek wisata Jawa Tengah.

Apalagi Kementerian Kehutanan RI kemudian mengeluarkan edaran penyesuaian tarif bagi kawasan wisata alam di Indonesia. Kebijakan yang tertuang di PP No 12 Tahun 2014 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak di Kementerian Kehutanan ini, menaikkan tarif rata-rata mencapai 300 persen.

Adanya kebijakan tersebut diakui General Manager KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I Perum Perhutani Jawa Barat, Tri Lastono, sempat menurunkan tingkat kunjungan wisata hingga 30 persen. Kebijakan tersebut membuat pengelola mau tidak mau melakukan penyesuai tarif yang pastinya dirasakan oleh pengunjung terutama wisatawan domestik.

“Kita ingin mengenalkan wisata alam agar makin banyak pula pengunjung yang datang, tapi adanya kebijakan tersebut tentu berpengaruh karena ada penyesuaian harga tiket termasuk ada multiplier effect  lainnya,?” kata Tri, di Kantor Perum Perhutani KBM Wisata dan Jasa Lingkungan I,  Bandung, belum lama ini.

Di Cianjur, bisnis pariwisata juga terancam lesu. Sebab, selain Jalur Puncak terutama dari arah Ciawi, Bogor, aksesibilitas utama menuju Kabupaten Cianjur lainnya, yakni Jalan Raya Bandung dan Jalan Raya Cianjur-Sukabumi, kerap terjadi kemacetan.

“Aksesibilitas dari Jakarta maupun dari arah Bandung hanya bisa ditempuh melalui jalur darat, dengan roda dua atau roda empat. Tidak ada jalur kereta dan alternatif lainnya. Jelas kalau aksesbilitasnya terhambat, sektor pariwisata akan terasa dampak negatifnya karena untuk mencapai lokasi wisata tidak mudah,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cabang Cianjur, Satyawan Hambari, di Jalan Raya Cianjur-Puncak, Senin (22/9/2014).

Penyebab kemacetan di Jalan Raya Cianjur-Sukabumi dan Jalan Raya Bandung itu akibat banyaknya aktivitas pabrik yang berdiri di pinggir jalan. Sedangkan dari arah Ciawi, banyak kendaraan dari Jakarta yang berwisata di Puncak, Kabupaten Bogor terutama di akhir pekan. Namun kondisi jalur dari Ciawi tak kunjung melebar seiring bertambahnya volume kendaraan.

Dikatakan Satyawan, sekitar 70 persen perekonomian di Kabupaten Cianjur masih bertopang dari pariwisata dan agrobisnis. Sementara Kabupaten Cianjur mengandalkan wisatawan dari Bandung dan Jakarta. Itu mengapa bukan tak mungkin kemiskinan menghantui warga lantaran dikepung macet dari berbagai arah.

(tribunnews)

Penasaran dengan Situs Gunung Padang? Ini Rute yang Bisa Ditempuh

23 September 2014

gn padangBagi Anda yang suka dengan wisata sejarah atau kebudayaan, mungkin nama situs Gunung Padang bisa dicatat dalam buku rencana perjalanan Anda. Sebab, situs megalitikum itu kini ramai diperbincangkan. Baik dari sisi misteri sampai dengan berbagai interpretasi dan hipotesa tentang Gunung Padang. Salah satunya bahwa ada ‘piramida’ di dalam tubuh bukit Gunung Padang.

Situs Gunung Padang berada di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Ada 2 moda transportasi yang bisa ditempuh menuju situs yang berada di puncak bukit dengan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut.

Moda pertama mobil atau kendaraan pribadi Mungkin bisa mobil atau minibus atau dengan sepeda motor. Tentu jika dari Jakarta Anda bisa mengambil jalur menuju Puncak Bogor atau jalur alternatif Jonggol. Keduanya sama, harus menuju Cianjur Kota. Dari sini jarak ke Gunung Padang sekitar 45 kilometer. Jika dari Bandung, Anda juga tentunya harus sampai di Kota Cianjur dulu.

Dari Kota Cianjur, para pelancong dapat mengambil arah menuju Jalan Raya Cianjur-Sukabumi. Dari Jalan Raya Cianjur-Sukabumi ini Anda dapat memilih 2 rute menuju Gunung Padang, jalur Pal Dua dan Tegal Sereh.

Jika dari jalur Pal Dua, maka para wisatawan harus ke Desa Warungkondang. Dari desa ini Anda berbelok ke kanan, lalu ke Cipadang-Cibokor-Lampegan-Pal Dua-Ciwangin-Cimanggu dan berakhir di Dusun Gunung Padang.

Lalu kalau jalur Tegal Sereh, maka Anda mesti ke Desa Sukaraja kemudian belok kiri ke Cireungas-Cibanteng-Rawabesar-Sukamukti-Cipanggulan dan terakhir Dusun Gunung Padang.

Kedua jalur yang ditempuh akan sedikit menanjak dengan kondisi jalan yang kurang bagus. Khususnya jalur Pal Dua, di mana hampir sebagian di awal-awal perjalanan, jalan banyak bergelombang dan berlubang, bahkan rusak.

Sampai di Gunung Padang, Anda akan menemukan gapura atau gerbang menuju lokasi wisata situs Gunung Padang. Jika hari biasa kendaraan pribadi bisa langsung masuk dengan jalan yang cukup menanjak untuk tiba di kaki bukit. Namun, jika hari libur nasional atau akhir pekan, kendaraan pribadi biasanya harus diparkir di pintu gerbang ini. Dan Anda harus melanjutkan perjalanan ke kaki bukit, bisa dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojek motor seharga Rp 5 ribu.

Moda Transportasi Umum

Untuk transportasi umum para pengunjung bisa menggunakan bus atau kereta api. Sementara untuk bus rutenya sama dengan kendaraan pribadi. Tapi yang pasti, Anda tentunya harus mengambil bus dengan jurusan yang melewati Kota Cianjur, terutama Jalan Raya Cianjur-Sukabumi. Dari sana Anda kemudian dilanjutkan menggunakan angkutan kota (angkot).

Misalnya dari Warungkondang, Anda bisa menempuh dengan angkot seharga Rp 3 ribu per orang. Lalu turun di Cipanggulan dan menyambung lagi untuk bisa sampai Gunung Padang. Bisa dengan menyarter angkot dengan harga yang harus dinegosiasi lebih dulu. Atau dengan jasa ojek motor dengan tarif minimal Rp 50 ribu.

Jika menggunakan kereta api dan dari Jakarta. Anda tentunya harus berangkat dari Stasiun Bogor sebagai stasiun awal. Sebab, sejak 8 Februari 2014, PT Kereta Api Indonesia sudah meresmikan rute perjalanan Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Namun, Anda tentu harus mengecek perjalanan kereta api Bogor-Sukabumi-Cianjur. Sebab, jadwal keberangkatan kereta api rute ini hanya di jam-jam tertentu saja. Tidak seperti jadwal rute perjalanan kereta Bogor-Jakarta yang hampir 15 menit sekali.

Di Stasiun Bogor, Anda pilih Kereta Api Pangrango menuju Sukabumi. Tarif tiket KA Pangrango sekali perjalanan Rp 20 ribu untuk kelas ekonomi dan Rp 50 ribu untuk kelas eksekutif. Di sini Anda harus transit lalu berganti ke KA Siliwanggi dengan tarif Rp 20 ribu kelas ekonomi dan kelas eksekutif Rp 35 ribu.

Untuk menuju Gunung Padang, para pelancong harus turun di Stasiun Lampegan yang keberadaannya hanya 1 stasiun sebelum Stasiun Cianjur. Dari Stasiun Lampegan, jarak ke Gunung Padang masih kurang lebih 7 km lagi dan harus melanjutkan perjalanan dengan ojek.

Sampai di kaki bukit Gunung Padang, semua perjalanan para pengunjung kini dilakukan dengan melangkah. Tentu para wisatawan harus membeli tiket untuk bisa masuk ke situs yang kini telah menjadi cagar budaya tersebut. Harga tiket masuknya Rp 2 ribu per orang untuk wisatawan dalam negeri dan Rp 5 ribu untuk turis asing.

Dari loket tiket, pengunjung masuk melalui 1 pintu. Di mana sudah terlihat adanya 2 jalur dengan bentuk susunan anak tangga. Jalur di sebelah kanan setelah pintu masuk adalah jalur yang cukup landai dan membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke puncak bukit, tempat situs Gunung Padang berada. Sedangkan jalur yang satu lagi adalah jalur yang cukup terjal. Melalui jalur ini, pelancong hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit guna tiba di puncak.

Selanjutnya, Anda tinggal menikmati wisata di Situs Gunung Padang. Sebab, selain menghamparkan benda-benda cagar budaya peninggalan sejarah yang konon adalah sudah ada sejak tahun 500 sebelum Masehi, Anda juga dapat menikmati pemandangan dari puncak bukit. Di mana mata Anda akan disajikan pemandangan berupa lembah, perbukitan, pegunungan, dan gunung yang mengitari bukit Gunung Padang ini. Selamat menikmati wisata sejarah Anda.

(liputan 6)

Pulau Bungin, Hidup Sesak di Pulau Terpadat

18 September 2014

pulau-bunginPULAU Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, punya julukan sebagai pulau terdapat di dunia. Di pulau ini nyaris tidak ada lahan kosong, seluruh daratannya dipenuhi rumah-rumah penduduk.

Kepadatan penduduk pula membuat Pulau Bungin tidak memiliki garis pantai, karena sepanjang pesisir pulaunya seluruhnya dibangun menjadi tempat tinggal. Pulau ini memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa.

Warga yang hendak membangun rumah baru, harus mereklamasi pulau dengan menguruk lautan dengan karang. Akibat bertambahnya rumah, ukuran Pulau Bungin pun semakin bertambah luas dari waktu ke waktu.

Akibat lahan yang terbatas, ada beberapa keluarga yang terpaksa harus hidup dalam satu atap. Di rumah keluarga Bapak Mabsu, tinggal 12 orang dari 4 keluarga.

Pulau mungil di Barat Laut Pulau Sumbawa ini, menarik Program Explore Indonesia yang tayang di Kompas TV untuk mengekplorasinya. Lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa.

Di Bungin, host Explore Indonesia, Belda Zando, bertemu dengan pasangan muda, Zaenal dan istrinya, yang sedang membangun rumah di atas laut dengan cara reklamasi. Mereka memesan batu karang untuk pondasi kepada Majiu, warga yang pekerjaan sehari-harinya mencari karang di laut.

“Kalau membuat rumah di sini tidak perlu beli tanah. Tinggal pilih lokasi di laut, kemudian bikin gundukan lalu tandai dengan bendera. Selanjutnya uruk dengan batu karang dan bangun rumah di atasnya,” kata Zaenal.

Selanjutnya, Belda naik perahu mengikuti aktivitas Bapak Majiu, yang mencari batu karang di laut. Lokasinya di lautan dangkal sekitar 20 menit dari Pulau Bungin.

Berbekal palu dan linggis, Majiu turun ke air setinggi pinggangnya. Ia kemudian memukul linggisnya untuk memecah karang di dalam air.

“Ini karang yang sudah mati, bukan tempat ikan hidup. Pekerjaan ini sangat berat, tapi daripada tidak ada pekerjaan lain. Sementara anak-anak harus sekolah,” jelas Majiu yang sudah berusia sekitar 60 tahun.

Karang yang pecah diangkut ke perahunya. Batu karang satu perahu dijual Rp 50 ribu. Dalam sehari Majiu bisa 4 kali mengangkut karang.

Masyarakat Bungin mayoritas keturunan Suku Bajo, dari Sulawesi, yang dikenal sebagai suku pengembara laut dan penyelam ulung. Sejak bayi, anak-anak Bungin sudah dikenalkan pada dunia bahari melalui Upacara Toyah.

Dalam ritual Toyah, bayi dipangku 7 perempuan secara bergantian yang duduk di atas ayunan. Ayunan diibaratkan seperti gelombag lautan yang akan dihadapi sang anak saat besar nanti ketika menjadi pelaut.

“Biar dia terbiasa dengan ombak, dan selalu diberikan keselamatan,” kata Marsono, tetua adat di Pulau Bungin.

Sejak kecil, anak-anak Bungin sudah mahir bermain di lautan dan menyelam untuk berburu ikan. Mereka lazim bermain perahu di laut tanpa pengawasan orangtua. Bocah-bocah usia sekolah dasar sudah mampu mencari uang jajan dengan berburu ikan hias di laut.

Mayoritas penduduk Bungin bekerja sebagai nelayan. Sebagian mencari ikan dengan cara menyelam dan memanah. Ada juga yang memiliki keramba, serta mencari lobster dan teripang.

Jarang warga Bungin yang merantau, dan mereka kebanyakan memilih menikah dan tetap tinggal di Bungin. Kondisi ini yang membuat Pulau Bungin semakin kelebihan beban dan kehabisan lahan.

Satu-satunya lahan terbuka yang luas di Bungin adalah halaman Masjid setempat. Bahkan saking sesaknya, sama sekali tidak ada kebun dan sangat jarang pepohonan tumbuh. Karena tidak ada dedaunan untuk pakan, sampai-sampai kambing di Bungin punya kebiasaan makan kertas dan plastik.

(kompas.com)

Wisata Air Terjun Curug Nangka Bogor

12 September 2014

Curug Nangka Bogor 1jika Anda sedang kebingungan untuk menentukan tempat wisata mana yang akan dikunjungi di Bogor, maka salah satu alternatifnya ialah Curug Nangka. Curug ini bukan hanya menjadi lokasi favorit warga lokal namun juga banyak dikunjungi oleh warga ibukota yang datang dari Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Memang bisa dimafhumi mengingat cukup mudah untuk menjangkau curug ini karena tak begitu jauh dari kota Bogor. Curug ini berjarak sekitar 500-an meter dari loket tempat memarkir kendaraan bermotor. Tempat parkirannya tidaklah terlalu besar makanya sebaiknya Anda datang lebih pagi supaya kebagian tempat parkir.
Curug Nangka merupakan wisata yang berupa Air Terjun dibawah naungan RPH Gunung Bunder, BKPH Bogor KPH Kabupaten Bogor. Air terjun yang satu ini mempunyai 3 tahapan, dengan masing – masing memiliki ketinggian antara 10 – 20 m. Masih di kawasan yang sama terdapat juga dua buah curug lagi yaitu Curug Kawung dan Daun.

Tak jauh dari lokasi parkian Anda akan menemukan banyak warung yang menawarkan gorengan, kopi, atau mie rebus. Warungnya memang sederhana namun karena alam sekitarnya yang sangat indah dengan udaranya yang sejuk maka segala apapun yang disajikan terasa maknyus. Dari warung-warung tersebut pengunjung harus berjalan sekitar 40 menit untuk mencapai curug dengan kondisi jalan yang berkelok dan berbukit. Di sepanjang perjalanannya Anda bisa mengabadikan momen yang menakjubkan dan sangat mengesankan. Dan setelah sampai di curug maka rasa lelah dan capek seakan terbayar lunas oleh keeksotisan dan keindahan air terjunnya.

Pintu Gerbang Curug NangkaDari Gerbang untuk sampai di lokasi Curug melewati jalan yang luasnya tidak terlalu luas namun menyuguhkan pemandangan yang indah dan asri, bahkan tidak jarang kita akan menjumpai kera – kera yang berkeliaran.

Biasanya pengunjung yang datang kesini seakan tak mau membuang kesempatan untuk mandi bersama dibawah curug sembari bermain air. Sungguh akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bila Anda berkesempatan mengunjungi curug ini.

Info Lokasi
Alamat Lengkap Curug Nangka terletak di Desa Warung Loa, Kecamatan Tamansari, Bogor, Propinsi Jawa Barat – Indonesia. Berada pada titik Koordinat GPS: 6° 40′ 4.12″ S 106° 43′ 37.09″ E.
Harga tiket masuk Curug Nangka adalah Rp.10.000,-. (Tarif tersebut dapat berubah sewaktu – waktu).

Rute ke Curug Nangka Bogor
Akses menuju lokasi Curug ini sebenarnya sangat mudah diakses dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, namun yang paling asyik dan menyenangkan tentu berwisata dengan meggunakan kendaraan roda dua. Untuk lebih lengkapnya berikut petunjuk jalan menuju objek wisata Curug Nangka Bogor;
Cara ke Curug Nangka dengan Kendaraan Pribadi
Dari bogor menuju Jalan Raya Ciapus, kemudian di jalan Capus cari hotel The Highland Park Resort karena hotel ini sangat terkenal. Nanti didekat hotel The Highland Park Resort ada pertigaan jalan yang menuju Wana Wisata Curug Nangka, lihat saja plang petunjuk jalan disana tertera dengan ukuran tidak terlalu besar.
Menggunakan alat transportasi kendaraan Umum
Jika menggunakan angkutan umum anda bisa menggunakan angkot 03 jurusan Bogor – Ciapus yang berangkat dari terminal Ramayana Bogor. Kemudain berhenti di pertigaan sebelum pintu gerbang. Dilanjutkan dengan belok kiri kearah Curug Nangka, sedangkan ke sebalah kanan ialah menuju arah Curug Luhur. Selanjutnya dari pertigaan di atas (pemberhentian akhir angkot) perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menuju pintu gerbang yang jaraknya kurang lebih 700 meter.

(tempatwisatadijawabarat.com)

Meliuk di Antara Pinus Manglayang

9 September 2014

manglayangGunung Manglayang adalah salah satu jalur sepeda favorit yang berlokasi di Bandung Timur. Perpaduan antara hutan, lembah, dan medan ekstrem menjadi daya tarik kawasan ini.

Kami menjajal jalur sepeda di kawasan tersebut pada Ahad pagi, pada akhir Agustus 2014. Gunung setinggi 1.800 meter itu adalah tonggak paling timur dari rangkaian gunung di patahan Lembang. Di punggungannya terdapat banyak lintasan jalur setapak di hutan pinus milik Perhutani.

Untuk menuju ke sana ada dua akses yang paling mudah. Pertama adalah dari Kota Bandung, arahkan kendaraan menuju Ujungberung, lalu naik melalui Desa Palintang. Yang kedua dari arah Lembang bisa melalui Maribaya, Desa Cibodas dan diteruskan ke perkebunan kina Bukit Tunggul.

Pagi itu kami memulai perjalanan dari Bukit Tunggul. Sepeda langsung kami tancap memasuki areal perkebunan kina tertua di Indonesia ini. Jalan perkebunan yang berupa aspal terkelupas campur pasir membuat lintasan enak dilalui karena sepeda yang kami pakai bertipe all mountain atau AM dengan lebar ban di atas 2 inci.

Kami menyebutnya etape I, jalan menanjak landai menyusuri perbukitan di antara lembah Gunung Palasari. Sinar matahari pagi menyusup di antara tegakan pohon kina dan kayu putih, kilaunya berwarna emas menghangat tubuh yang sebelumnya kedinginan dibekap udara Lembang. Sesekali kami berpapasan dengan para pesepeda yang datang dari arah berlawanan. Seperti biasa salam dan sapaan selalu dilambaikan pada sesama goweser. Ini adalah tradisi yang terbangun begitu saja.

Tanjakan demi tanjakan terus kami libas selama satu jam hingga ujung dari etape I ini pada sebuah tanah lapang yang biasa disebut Karpet. Sebenarnya ini adalah puncak dari sebuah bukit di antara Gunung Manglayang dan Gunung Palasari. Di lapangan dengan ketinggiannya sekitar 1.600 mdpl ini penggowes bisa istirahat untuk menarik napas, sambil menikmati penganan sederhana dari sebuah warung dadakan.

Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan. Etape II adalah jalur single trek di dalam hutan, ini adalah jalur idaman yang banyak dicari para pesepeda gunung. Selepas lapangan Karpet jalur menurun melalui perkebunan sayur. Sepeda meluncur di antara pepohonan perdu sehingga wajah pun acap kali tertampar oleh dedaunan. Pesepeda wajib memakai kacamata untuk pelindung mata agar tidak tertusuk ranting. Sebelum memasuki hutan pinus ada sebuah turunan ekstrem yang berakhir di sebuah sungai kecil. Turunan ini sangat diminati para pesepeda dari kaum downhiller.

Selepas sungai, hutan pinus yang rapat menyambut pesepeda. Jalan setapak meliuk di antara batang pohon berumur puluhan tahun. Dibutuhkan kemampuan mengendalikan (handling) sepeda yang cukup mumpuni di trek ini. Menaklukkan turunan di tanah licin serta juluran akar pinus menjadi tantangan tersendiri bagi para pesepeda. Memang sebaiknya jangan terlalu cepat melintas di jalur ini, selain beresiko, pemandangan hutan yang eksotis terlalu sayang dilewatkan. Bila beruntung terkadang kabut turun menambah mistis suasana hutan. Sekitar dua jam waktu yang dihabiskan melalui trek di dalam hutan, itu sudah termasuk istirahat dan berfoto.

Selanjutnya jalur didominasi jalan setapak di lereng yang bersanding dengan jurang. Lagi-lagi pemandangan elok terhampar di depan mata, lembah kebiruan berpadu perbukitan memanjakan mata. Namun jangan sampai lengah jalan setapak tipis bisa memelesetkan sepeda ke dalam jurang. Di beberapa titik hampir tidak ada space yang tersisa antara jalan setapak dan gawir (jurang pendek). Adrenalin pun benar-benar membuncah di lintasan ini. Akhir dari etape II adalah batas hutan pinus dengan kebun warga. Nama daerah ini adalah Genteng.

Etape III atau terakhir tidak kalah menantang. Dimanjakan dengan jalan tanah yang cukup lebar dengan turunan-turunan panjang para penggowes akan diguncang sepanjang jalur kebun hingga ke perkampungan. Selepas kampung kecil lanskap berubah menjadi area pesawahan. Lagi-lagi kita disuguhi pemandangan yang indah, kombinasi antara sawah, lembah, dan kampung berlatar gunung. Di akhir jalur pesepeda akan bertemu kebun bambu dan meliuk-liuk melintasi pematang sawah. Lumayan untuk menguji keseimbangan.

Bumi Perkemahan Kiara Payung bisa dianggap garis finis dari etape III. Tapi masih ada satu lagi yang biasa disebut jalur bonus, yaitu menuruni bukit Kiara Payung sampai ke titik akhir di gerbang kampus IPDN. Berawal dari sebuah lapangan kemudian menyusuri jalan setapak di pemakaman lalu meluncur di kebun jagung, wuussh!! Jalur bonus tak kalah mengasyikkan karena di sini kita bisa memacu sepeda sekencangnya tanpa khawatir menyenggol warga yang melintas karena jauh dari permukiman.

Keluar dari kebun jagung jalur tanah pun berakhir, selanjutnya jalan aspal membawa pesepeda memasuki kawasan kampus IPDN. Total jarak dari Bukit Tunggul hingga ke Jatinangor sekitar 30 kilometer yang ditempuh selama 6 jam, dengan penurunan elevasi 900 meter (dari ketinggian 1.600 mdpl ke 700 mdpl). Sungguh perjalanan gowes yang menyenangkan.(tempo.co)

Enam Wisata Populer di Kuningan

4 September 2014

kota-kuninganJalan-jalan ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, seakan kurang lengkap apabila tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa wisata populer yang ramai disambangi oleh setiap wisatawan yang datang ke sini.

1. Gedung Perundingan Linggarjati

Bangunan bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Di mana letak gedung ini tepat di kaki Gunung Ciremai bagian tenggara, ke arah Utara dari kota kuningan atau kearah selatan dari kota Cirebon.

Pada zaman pendudukan Jepang, gedung ini direbut dan dijadikan Hokai Ryokai pada 1942. Lalu pada 1945 pejuang kita berhasil merebutnya dan dijadikan sebagai markas BKR dan diubah namanya menjadi Hotel Merdeka.

Pada 1985, sang anak pemilik rumah yaitu Dr Willem Van Os dan Joty Kulve-Van Os berhasil memperjuangkannya untuk dikukuhkan sebagai cagar budaya dan memiliki nama Gedung Perundingan Linggarjati.

Di antara isi pokok perjanjian Linggarjati yakni, Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara Indonesia Serikat, yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia. Dan Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya.

2. Sangkanhurip Alami

Daya tarik Sangkanhurip Alami yakni pada pemandian air panas beryodium yang menyehatkan dan menyegarkan. Para pengunjung dapat berendam dalam air hangat diruangan khusus atau di kolam terbuka. Selain pemandian air hangatnya, di sini anak-anak juga dapat berenang dan berseluncur di kolam yang dilengkapi luncuran naga.

Karena letaknya yang strategis pada kawasan wisata di Kabupaten Kuningan, wisatawan tak perlu repot-repot untuk mencari hotel ataupun kios-kios makanan. Karena hotel-hotel mulai dari harga menengah hingga kalangan atas pun berjajar dekat di daerah desa Sangkanhurip ini.

3. Ikan Dewa dan Sumur 7 Cibulan

Kolam ikan Dewa dan Sumur Tujuh Cibulan dapat dikunjungi di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana. Obyek wisata yang menyajikan suasana alam berpadu dengan keunikan Ikan Dewa dan Sumur Tujuh-nya. Cibulan memiliki kekhasan pada kolam ikannya yang dihuni oleh Kanra Bodas (Labeobarbus doumensis) atau akrab disebut Ikan Dewa.

Konon ikan-ikan ini dibawa oleh murid Walisongo saat datang ke Cibulan. Para murid pun meninggalkan 7 Sumur yang mereka gunakan untuk berwudhu pada saat itu. Posisi tujuh sumur itu mengelilingi petilasan yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai bekas bersemedi Prabu Siliwangi.

4. Air Terjun Putri

Nah, jika ingin berkunjung ke Taman Nasional Gunung Ciremai bukan untuk mendaki gunung, Anda bisa menikmati wisata alam di Palutungan. Menikmati segarnya air terjun Putri yang terdapat dikawasan ini merupakan hal yang menarik untuk dicoba. Bersama keluarga, teman ataupun kerabat dekat berenang bermain sejuknya air nan jernih alami.

Dengan waktu tempuh hanya 10 menit dari pintu masuk Palutungan, melewati beberapa anak tangga menurun Anda pun tak lama akan tiba. Jika Anda ingin berenang disekitar air terjun besarnya, Anda bisa menyeberang sungai kecil dan menanjak sedikit untuk menikmati sejuknya air yang turun langsung dari ketinggian hampir 12 meter.

5. Taman Purbakala Cipari

Selain spot wisata menarik, Kuningan juga menyimpan sebuah cerita dari zaman purbakala. Lintasan kehidupan manusia prasejarah di zaman megalitikum bisa kita kunjungi sebagai tempat wisata menarik serta bahan edukasi yang mendidik.

Taman bercorak megalitikum yang terletak di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, merupakan salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan. Dengan luas 6.364 meter persegi, ditemukan tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa kapak batu, gelang batu, dan gerabah.

Di sini juga kita bisa melihat tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap. Batu Temu Gelang, dimana dahulu dipercaya sebagai lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

6. Kuliner Lezat Ala Kuningan

Bukan hanya tempat wisatanya saja yang asik untuk dikunjungi saat berlibur di Kuningan, tetapi kurang lengkap apabila tidak bergoyang lidah menikmati lezatnya kuliner di Kuningan yang patut direkomendasikan.

Nasi Kasreng. Keunikan, cita rasa dan atmosfer saat menyantap hidangan sangat beragam dan menggoda. Seperti salah satu makanan khas Kabupaten Kuningan yakni Nasi Kasreng, terletak di Jalan Raya Luragung, Cibingbin. Makanan sederhana ala petani yang mulai disuguhkan kepada masyarakat luar ini kian poluler di Kuningan.

Warung-warung yang berjajar di wilayah Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan menjajakan panganan sederhana yang sudah mengalami perubahan pelengkap suguhan tanpa menghilangkan khasnya menjadi salah satu makanan primadona. Atmosfer alam persawahan, udara nan sejuk berpadu dengan nikmatnya cita rasa makanan bermacam macam lauk pauk, diantaranya goreng ikan paray, pepes ikan, sambel, lalapan, gorengan, rebon dan lainnya akan membawa kenikmatan yang menggoda.

Tapai Ketan Kuningan. Meskipun namanya lebih dikenal tapai ketan kuningan, namun tapai ketan sendiri sudah menjadi makanan tradisional di sejumlah daerah tetangganya. Seperti Cirebon, Indramayu, maupun Majalengka.

Tapai ketan ini memang lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan, terutama bagi para wisatawan yang berlibur ke Kuningan bisa main dan membeli oleh produsennya langsung di Jalan Raya Cigugur.

Terbuat dari beras ketan putih yang dimasak dan dibungkus dengan daun serta ditaburi ragi sehingga menjadi sebuah tapai ketan yang lezat dan legit dengan dibuat melalui proses fermentasi atau peragian. Jika di daerah lain tapa ketan kuningan tampil dalam kemasan daun jambu air.

Di sini juga kita bisa melihat tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap. Batu Temu Gelang, dimana dahulu dipercaya sebagai lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

6. Kuliner Lezat Ala Kuningan

Bukan hanya tempat wisatanya saja yang asik untuk dikunjungi saat berlibur di Kuningan, tetapi kurang lengkap apabila tidak bergoyang lidah menikmati lezatnya kuliner di Kuningan yang patut direkomendasikan.

Nasi Kasreng. Keunikan, cita rasa dan atmosfer saat menyantap hidangan sangat beragam dan menggoda. Seperti salah satu makanan khas Kabupaten Kuningan yakni Nasi Kasreng, terletak di Jalan Raya Luragung, Cibingbin. Makanan sederhana ala petani yang mulai disuguhkan kepada masyarakat luar ini kian poluler di Kuningan.

Warung-warung yang berjajar di wilayah Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan menjajakan panganan sederhana yang sudah mengalami perubahan pelengkap suguhan tanpa menghilangkan khasnya menjadi salah satu makanan primadona. Atmosfer alam persawahan, udara nan sejuk berpadu dengan nikmatnya cita rasa makanan bermacam macam lauk pauk, diantaranya goreng ikan paray, pepes ikan, sambel, lalapan, gorengan, rebon dan lainnya akan membawa kenikmatan yang menggoda.

Tapai Ketan Kuningan. Meskipun namanya lebih dikenal tapai ketan kuningan, namun tapai ketan sendiri sudah menjadi makanan tradisional di sejumlah daerah tetangganya. Seperti Cirebon, Indramayu, maupun Majalengka.

Tapai ketan ini memang lebih dikenal sebagai oleh-oleh khas dari Kuningan, terutama bagi para wisatawan yang berlibur ke Kuningan bisa main dan membeli oleh produsennya langsung di Jalan Raya Cigugur.

Terbuat dari beras ketan putih yang dimasak dan dibungkus dengan daun serta ditaburi ragi sehingga menjadi sebuah tapai ketan yang lezat dan legit dengan dibuat melalui proses fermentasi atau peragian. Jika di daerah lain tapa ketan kuningan tampil dalam kemasan daun jambu air.

Atmosfer saung-saung terbuat dari bambu yang berdiri di atas kolam-kolam ikan diwarnai dengan pepohonan rindang nan hijau yang membawa kesejukan saat santap makan, menjadi lebih nikmat terasa.

Tahu Kopeci. Tahu Kopeci atau Tahu Lumping ini biasa dapat ditemukan di Jalan Veteran Jagabaya. Di sepanjang jalan ini kedai-kedai kecil menjajakan Tahu Kopeci di sisi jalan yang sangat ramai apabila minggu akhir tiba.

Tampak luar memang Tahu Kopeci seperti layaknya tahu biasa. Namun ketika digigit, tahu ini bisa terasa kekhasannya. Gurihnya rasa tahu dan berisi padat tidak seperti tahu pong, menjadi salah satu kekhasan dari Tahu Kopeci ini.

Rekomendasi Hotel di Kuningan

1. Hotel Grage Sangkan Hotel & Spa, di Jalan Raya Sangkanhurip No. 1
2. Prima Hotel Sangkanhurip, di Jalan Raya Panawuan No. 121
3. Tirta Sanita Spa & Resort, di Jalan Raya Panawuan No. 98
4. Hotel Ayong, Jalan Linggarjati Indah No. 4 Linggasana, Cilimus
5. Grand Purnama, Jalan Siliwangi No. 91 Kuningan.

(kompas.com)

Ini Alasan Taman Nasional Gunung Rinjani Menarik untuk Dikunjungi

2 September 2014

rinjani 1

Gunung Rinjani yang ada di Kepulauan Lombok sangat sayang dilewatkan sebagai salah satu lokasi pendakian. Taman Nasional Gunung Rinjani juga menyimpan keindahan tersendiri. Gunung ini adalah gunung api dan gunung tertinggi kedua di Indonesia.

Hutannya sangat lebat. Banyak ditemukan flora dan fauna yang khas ada di Asia Tenggara dan Australia. Dengan ketinggian 3.726 meter, Taman Nasional Gunung Rinjani berada di zona transisi Garis Wallacea. Tidak heran jika flora dan faunanya beragam.

rinjani 2

Jika tidak sempat untuk naik ke puncak Rinjani, Anda bisa melakukan hiking atau trekking. Salah satu yang menarik adlah trekking selama 3 hari. Jalurnya yaitu dari Lereng kawah Senaru berlanjut turun ke kawah danau. Perjalanan diteruskan ke Sembalun Lawang. Jika punya nyali, trekking bisa diteruskan ke puncak gunung.

Mengunjungi Rinjani tidak lengkap jika belum mendatangi Segara Anak. Ini adalah danau sulfur (belerang) yang lokasinya sekitar 600 meter di bawah lereng. Setiap tahun diadakan tradisi pekelan oleh masyarakat Bali dengan member persembahan perhiasan yang diperuntukkan untuk roh gunung. Persembahan ini ditaruh pada danau. Sementara itu, setiap bulan purnama, warga Wetu Telu melakukan ritual berdoa di danau.

Sebelum berkunjung ke sana, pastikan membawa perbekalan yang cukup. Kondisi badan juga mesti fit agar tidak terjadi hal tidak diinginkan.Tetap hormati alam dengan tidak melakukan perusakan lingkungan selama berada di Taman Nasional Gunung Rinjani.
rinjani 3

(sidomi)

 

Menikmati Keindahan Bawah Laut di Ujung Timur Pulau Jawa

26 August 2014

pantai timur jawaSiapa yang menyangka jika Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur yang berjuluk “The Sunrise of Java” memiliki dunia bawah laut yang cukup indah. Anda cukup datang ke Pantai Bangsring yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Banyuwangi dan nikmati terumbu karang bersama Bangsring Under Water yang dikelola oleh kelompok nelayan tradisional setempat.

Ada beberapa spot yang bisa memuaskan petualangan di bawah laut yang dipenuhi dengan keindahan terumbu karang dan tebing yang curam secara alami. Keunikan apartemen ikan, soft coral di terumbu karang buatan akan semakin membuat anda lupa waktu untuk snorkeling dan diving.

“Terumbu karang buatan merupakan transplantasi dari para donasi. Termasuk juga apartemen ikan yang sengaja diletakkan di perairan Bangsring untuk tempat tinggal ikan, baik ikan hias maupun ikan konsumsi,” jelas Ikhwan Arief, pengelola Bangsring Under Water kepada Kompas.com beberapa waktu yang lalu.

Ikhwan mengatakan selain menikmati pemandangan bawah laut, pengunjung bisa melakukan aktivitas konservasi seperti penanaman mangrove dan tranplantasi terumbu karang. “Banyak yang datang ke sini, selain snorkeling dan diving mereka kita ajak untuk melakukan tranplantasi. Satu bulan bisa seribu orang yang berkunjung. Jadi bukan hanya berwisata tapi juga ikut melestarikan lingkungan bawah laut,” jelas Ikhwan Arief.

Menurut Ikhwan, nelayan Bangsring sudah melakukan aktivitas konservasi sejak 2008. Awalnya kerusakan sudah cukup parah karena penangkapan ikan banyak menggunakan bom ikan. “Sekarang terumbu karang sudah mulai pulih 80 persen dan nelayan sekitar sini juga sudah tidak menggunakan potas dan bom karena kita sudah tahu pentingnya terumbu karang bagi kelangsungan potensi laut di wilayah Banyuwangi,” jelasnya.

Untuk mereka yang melakukan snorkeling dan diving akan didampingi oleh pemandu profesional dari kalangan nelayan yang sudah dilatih. “Jadi keselamatan terjamin. Banyak yang tidak bisa berenang juga tidak masalah karena menggunakan pelampung dan terumbu karang sudah bisa dinikmati di kedalaman 1 sampai 3 meter untuk snorkeling pemula,” ungkapnya.

Sedangkan untuk penyelam ahli bisa menikmati sampai di kedalaman 15-20 meter. “Yang penting jangan lupa gunakan tabir surya agar kulit nggak gosong,” kelakar Ikhwan.

Pulau Tabuhan, “The Hidden Paradise”

Jika sudah menikmati keindahan bawah laut di Pantai Bangsring, anda harus melengkapi petualangan dengan menyeberang ke Pulau Tabuhan dengan menumpang perahu nelayan. Cukup membayar Rp 500.000 untuk satu perahu berisi 10 penumpang akan mengantar anda ke pulau yang terkenal dengan sebutan “The Hidden Paradise”.

Hanya sekitar 30 menit melintas Selat Bali, anda akan sampai di sisi selatan Pulau Tabuhan yang mempunyai luas sekitar 5 hektar. Hamparan pasir putih, dan air laut bening berwarna hijau tosca menyapa mata yang memandang. Buat anda yang suka wisata air pasti tidak akan sabar untuk menyeburkan diri ke dalam air yang tenang dan berlama-lama untuk bermain air di hamparan pasir yang putih. Termasuk juga melihat berbagai jenis ikan hias yang berenang bebas.

Jika kebetulan, maka anda juga akan bertemu dengan nelayan yang sedang menangkap ikan hias langsung dengan tangan dibantu dengan alat sederhana. “Di sini memang ombaknya tidak terlalu kuat dan sering digunakan untuk snorkeling dan diving. Pemandangannya memang sangat memesona. Disebut Pulau Tabuhan karena angin di sini cukup kencang terutama di sisi selatan sehingga terdengar seperti tetabuhan musik,” jelas Surip, nelayan setempat yang juga berprofesi sebagai pemandu wisata (guide).

Karena pulau tersebut tidak berpenghuni dan tidak tersedia mata air tawar, kepada pengunjung Surip, selalu mengatakan agar membawa perbekalan dari Pantai Bangsring. “Biasanya habis renang dan bermain kan gampang lapar jadi bawa bekal dari daratan termasuk air minum. Dan nanti sampah akan kami bawa kembali ke daratan agar kebersihan tempat ini terjaga,” jelas Surip.

Untuk berkeliling Pulau Tabuhan anda cukup membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Anda juga akan menemukan reruntuhan bangunan yang konon merupakan mercu suar yang dibangun zaman Belanda. Hamparan pasir putih, air yang bersih dan jernih serta burung-burung yang terbang rendah akan membuat anda merasa di pulau pribadi dan betah berlama-lama di pulau yang jarang di kunjungi tersebut.

“Pemandangan bagus banget. Pasirnya putih, masih alami. Cocok buat yang suka wisata pantai. Bisa berenang sepuasnya di sini seperti pulau pribadi,” jelas Sumarsono, warga Banyuwangi yang saat itu berkunjung bersama dengan rekan-rekannya.

“Memang sih kalau ke sini enakan rombongan biar seru dan rame,” tambahnya.

Penasaran? Segera berkunjung ke Banyuwangi dan masukkan agenda untuk menikmati pemandangan bawah laut di Pantai Bangsring dan menjelajah Pulau Tabuhan alias “The Hidden Pradise”. Dijamin anda akan ingin berkunjung lagi dan lagi. (kompas.com)

« Previous PageNext Page »