Ada yang Seru di Subang Bulan Oktober Ini

6 October 2015

subangSelama ini, Subang dikenal dengan destinasi air panasnya saja. Selain itu, ada juga Festival Wisata Bahari 2015 di bulan Oktober ini yang tak kalah seru.

Apakah nelayan atau petani, selalu ada waktu untuk panen yang kemudian disambung dengan upacara syukur. Seperti di kebanyakan kawasan pesisir, Subang juga punya upacara syukur yang dilakukan oleh para nelayan.

Ditengok dari rilis Pemkab Subang yang diterima detikTravel, Selasa (6/10/2015) kegiatan ini merupakan rasa syukur para nelayan kepada Tuhan. Dari uang yang dikumpulkan para nelayan, mereka membuat upacara Nadran. Tahun ini, upacaranya dibalut dalam acara Pesta Wisata Bahari 2015.

Cukup panjang, acara ini sudah mulai dari tanggal 1 Oktober kemarin dan puncaknya akan berlangsung pada tanggal 11 Oktober 2015 besok. Selama 12 hari tersebut, beragam kegiatan ramai dilakukan.

Mulai dari pawai perahu, melepas dongdang, pagelaran seni khas Pantura sampai panggung dangdut digelar di sini. Acara puncaknya dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2015.

Tepatnya di Pantai Blanakan yang bisa dibilang Ancol-nya Subang. Pada tanggal tersebut, akan diadakan upacara Nadran yang merupakan iring-iringan perahu meriah di perairan pantai.

Tak hanya beriringan, tapi juga ada kegiatan lain. Yaitu tradisi penyerahan kepala kerbau hitam ke laut sebagai simbol sesaji untuk laut. Setelah itu acara akan dilanjutkan dengan beragam kegiatan seru. Tertarik ke Subang?

(detik.com)

Jangan Lupa, Mulai Besok Tebing Keraton Ditutup

30 September 2015

tebing keratonMulai besok, 1 Oktober 2015, Tebing Keraton di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) ditutup untuk umum. Selama sebulan, kawasan konservasi itu akan dibenahi.

Selain pembenahan fasilitas di kawasan itu, pemulihan juga untuk pemulihan konservasi. Penutupan diberlakukan mulai tanggal 1 hingga 31 Oktober. “Besok jadi ditutup, sesuai rencana semula,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Tahura Imam Santoso dihubungi melalui telepon, Selasa (30/9/2015).

Menurut Imam sejumlah fasilitas akan diperbaiki seperti jogging track, pembangunan toilet dan musola, serta perbaikan jalan akses menuju Tebing Keraton.

Selain itu, kawasan Tebing Keraton merupakan daerah migrasi elang. Sekitar Oktober-November, biasanya Elang dari Asia ke Australia melintasi daerah itu. Jumlahnya ratusan. Sekitar April, elang dari Australia kembali lagi ke Asia.

“Kami ingin memantau apakah banyaknya pengunjung selama satu tahun terakhir mengganggu habitat mereka atau tidak,” ujarnya.

Menurut Imam rencana penutupan sudah disosialisasikan jauh hari melalui media sosial maupun pemberitaan di media. “Weekend kemarin jelang penutupan besok, jumlah pengunjung biasa saja, enggak ada peningkatan. Mungkin kalau orang Bandung udah sering ke sini, jadi bosan,” pungkasnya.

(Detik)

Berpetualang Ke Situs Arkeologi “STONE GARDEN”

29 September 2015

stone gardenMungkin teman-teman traveler bosan dengan Tebing Keraton atau tempat wisata lain di Bandung yang sudah banyak dikunjungi orang. Nah, untungnya tidak terlalu jauh dari Bandung masih ada satu tempat lagi yang bisa kalian jelajahi. Namanya Stone Garden yang masih berada di Kawasan Bandung namun sedikit agak keluar kota.
Dinamai Stone Garden karena tempat ini mirip taman yang dipenuhi batu-batu yang tersebar di setiap sudutnya. Lokasi tepatnya Stone Garden ini adalah di kawasan konservasi arkeologi. Jika teman-teman traveler pernah mendengar yang namanya Goa Pawon, Stone Garden ini persis berada di atasnya. Sayangya, Stone Garden ini selain sebagi situs arkeologi yang perlu dilindungi, tidak jauh dari tempat itu terjadi banyak eksploitasi penambangan batu kapur secara massal di daerah Tagog Apu, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Puncak bukit Stone Garden sendiri masuk ke kawasan Cipatat, Padalarang, Bandung, Jawa Barat. Dari puncaknya, tempat ini punya pemandangan mengagumkan untuk dikunjungi. Ketinggian puncak Stone Garden sendiri 907 meter di atas permukaan laut. Siapkan saja kondisi stamina dan tenaga prima untuk bisa mendaki hingga puncak bukit ini. Pun tidak terlalu tinggi rute yang dilalui cukup terjal dan menanjak hingga 1,5 km.
Teman-teman traveler sekalian mungkin tidak percaya, namun bebatuan di Stone Garden ini sebenarnya hamparan parade batuan purba yang unik dan menawan. Di mana lagi bisa ditemukan hiasan alami berupa batu-batu yang muncul secara teratur dan alami. Penempatan bebatuan di Stone Garden ini unik dan alamiah. Ukuran batu juga berbeda-beda, mulai dari kecil hingga besar tersebar di kawasan ini. Tidak hanya itu, saking tingginya dibandingkan dataran sekitar, jalur Tol Purbaleunyi yang menghubungkan Bandung–Jakarta terlihat jelas dari Ston Garden.
Jalan untuk menuju Stone Garden sendiri tidak terlalu susah. Teman-teman traveler harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Kota Bandung. Kalian harus melewati Tol Purbaleunyi dengan kondisi terburuk adalah 1 jam perjalan apabila kondisi macet di Padalarang. Keluarlah Tol Padalarang cari ke arah Cianjur. Setelah di daerah Tagog Apu dengan jalan berkelok-kelok, kalian bisa melihat di sebelah kanan ada gerbang menuju Goa Pawon. Nah, di sanalah Stone Garden itu berada.
Setelah itu, dari tempat parkir kendaraan menuju Stone Garden hanya bisa dicapai dengan trekking ringan selama 30-45 menit. Tentunya teman-teman traveler juga harus melewati tanjakan dan medan cukup menantang. Memang biasanya jalan setapak yang akan dilewati ini biasanya dipakai penduduk untuk pergi berkebun di dekat area Stone Garden, bukan jalur resmi untuk turis. Untungnya, pemandangan di jalur perjalanan sangatlah bagus dengan gunung batu yang berada di sekitarnya.

(Metropolitan.id)

Sempat Dikritik, Paviliun Indonesia di Milan Expo Kini Curi Perhatian

18 September 2015

milsn 1Di awal-awal pembukaan Milan Expo 2015, pameran terbesar sedunia, Paviliun Indonesia sempat mendapat kritikan karena dianggap tidak siap. Namun kini, Indonesia berhasil mencuri perhatian pengunjung dan wisatawan.

Hingga pertengahan September 2015 atau kurang lebih 18 minggu expo terbesar di dunia ini berjalan, Indonesia sudah mendapat lebih dari 1,7 juta pengunjung.

“Target kita sampai akhir pameran 2 juta pengunjung, kita optimis akan tercapai,” ujar Direktur Paviliun Indonesia Budiman Muhammad kepada detikTravel di Paviliun Indonesia di Milan Expo 2015, Kamis (17/9/2015).

milan 2
Budiman mengaku terkejut dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak tersebut. Padahal di awal-awal pameran, Paviliun Indonesia paling banter hanya mendapat 4 ribu pengunjung per hari.

Namun kini, jumlah rata-rata pengunjung per hari mencapai 20 ribu orang. Bahkan di saat akhir pekan, jumlah pengunjung sangat membludak hingga 42 ribu orang.

“Antreannya panjang sampai ke jalan di arena pameran,” kata Budiman.

milan 3
Lalu apa yang membuat Pavilun Indonesia diminati? Menurut Budiman, para pengunjung suka karena Paviliun Indonesia menawarkan suguhan yang berbeda dari paviliun lain.

Kebanyakan paviliun di Milan Expo justru hanya memberi tontonan dari layar saja. Sementara di Paviliun Indonesia, pengunjung dimanjakan panca inderanya.

“Mereka bisa melihat, memegang, ataupun mencium langsung. Contohnya berbagai rempah-rempah yang kita pamerkan, mereka bisa mencium bagaimana aromanya,” kata Budiman.

milan 4
Budiman mengatakan, di awal pameran sebenarnya Indonesia juga memakai televisi untuk pameran. Namun dibanding negara-negara lain, teknologi yang dipakai kalah. Karena itu Budiman dan tim-nya merombak Pavilun Indonesia.

“Jadi secara teknologi kita minimal, tapi kita punya keunggulan yang ternyata diminati pengunjung,” lanjut Budiman.

(Detik.com)

Menilik Suaka Elang di Bogor

10 September 2015

suakan-elang di bogorKeindahan Jawa Barat tak sebatas pesona gunung, pantai, dan sungainya, melainkan juga keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Salah satu kekayaan faunanya adalah keberadaan burung pemangsa (raptor) yang ternyata jumlahnya makin menyusut. Untunglah ada wilayah khusus di daerah Bogor yang dijadikan suaka bagi para raptor, khususnya burung elang.

Berada di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, Kampung Loji, Kecamatan Cigombong, Suaka Elang dibangun dengan model kemitraan yang terdiri dari pemerintah, LSM, swasta, dan masyarakat yang saling menguntungkan untuk pelestarian habitat dan konservasi spesies pada tanggal 25 November 2008.

Untuk calon pengunjung yang belum terlalu hafal dengan jalan di sekitarnya, sebaiknya hati-hati karena bisa tersesat. Masyarakat di sekitarnya juga tak banyak yang tahu keberadaan Suaka Elang ini. Untuk mudahnya, dari mana pun arahnya, jadikan Kota Bogor sebagai awal kebarangkatan.

Kemudian dari Kota Bogor arahkan kendaraan ke Lawang Gintung, dan melewati stasiun kereta Batutulis. Tak jauh dari stasiun akan ditemui pertigaan, ambil ke kanan ke arah Cijeruk. Selanjutnya terus jalan melewati Pamoyanan, Cihideung, Cibadak, Pasir Jaya, dan Loji.

Setelah menyimpan kendaraan, pengunjung harus berjalan kaki dari gerbang menuju Suaka Elang sekitar 15 menit. Di gerbang petugas Suaka Elang akan menyambut tamu dan meminta mengisi buku tamu.

Pengunjung pun akan bertemu kawasan hutan yang teduh dan sejuk. Di sanalah terdapat sebuah konservasi spesies raptor terancam punah seperti Elang Jawa dan jenis burung pemangsa lainnya. Di Suaka Elang inilah dilakukan upaya penyelamatan dan pelepasliaran raptor hasil sitaan atau kiriman dari masyarakat.

Pengunjung bisa melihat beberapa elang di dalam kandang. Kandang pertama terletak tidak jauh dari kantor Suaka Elang. Umumnya elang tersebut belum lama diambil dari masyarakat, jadi tidak takut dengan manusia.

Pengunjung kemudian harus menyeberangi jembatan gantung yang sekilas mengerikan, tapi ternyata tidak. Ya anggap saja sedang melakukan petualangan ala Indiana Jones. Silakan berfoto-foto karena pemandangan di suaka ini sangat indah dikelilingi pohon pinus.

Setelah melewati jembatan gantung pengunjung akan tiba di kandang kedua. Di sinilah bisa ditemukan beberapa elang yang sudah agak lama dirawat sehingga beberapa agak terganggu dengan kehadiran manusia.

Kandang untuk elang yang sudah siap dilepaskan berada lebih jauh lagi. Kandang tersebut tidak boleh dikunjungi lagi. Elang-elang tersebut dibiasakan untuk puasa dan hanya diberi makan dua kali seminggu. Hal ini dilakukan supaya naluri berburu mereka tumbuh dan saat dilepaskan dari suaka mereka bisa berburu. (Benny Rhamdani)

(kompas.com)

Curug Panjang, Serasa Curug Milik Sendiri

5 September 2015

curug panjangSetelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Kota Bogor, saya dan teman-teman akhirnya sampai di Curug Panjang. Udara segar dan pemandangan indah kawasan Puncak, seolah menjadi teman perjalanan.

Curug Panjang merupakan salah satu obyek wisata alam di Kota Hujan. Jika dibandingkan dengan curug lainnya di Kota Bogor, nama Curug Panjang mungkin tak sesohor Curug Nangka atau Curug Cilember. Namun, tempat ini bisa menjadi alternatif di akhir pekan. Lokasinya yang tak begitu jauh, bisa ditempuh dengan sekali jalan.

Minggu lalu, saya coba untuk ke Curug Panjang melewati Jalan Raya Bogor Puncak. Berhubung saya dari Ciawi, saya belok kiri di pertigaan Megamendung atau sebelah Masjid Jami Nurul Huda. Dari belokan itulah udara sejuk langsung menerpa.

Jalur dari pertigaan Megamendung ke Curug Panjang tergolong cukup jauh, sekitar 8 km. Medan beraspal perlahan berganti dengan tanah, tanjakan, hingga bebatuan yang cukup membuat perut terkoyak.

Salah satu hambatan perjalanan ke Curug Panjang adalah petunjuk arah yang cukup minim. Beberapa kali saya dan teman kesasar karena tak begitu jelas—ditambah lagi tak banyak penduduk sekitar di sana, terlebih lagi saat memasuki kawasan Curug Panjang.

Yang saya ingat, setelah pertigaan Megamendung, saya melewati Unilever Learning Center, mengambil arah kanan saat melewati Mega Training Center, lalu bertemu Pusdik Reskrim Polri.

Dari sanalah, saya terus berjalan melewati hutan pinus hingga menemukan rumah besar bewarna biru di sisi kanan. Perlu hati-hati saat melewati jalan. Lama-lama medan jalanan menanjak dan mengecil hingga hanya muat satu mobil sementara di sisi kanan jurang dan rumah penduduk.

Kedalaman 7 Meter

Tak mahal untuk menikmati Curug Panjang. Hanya mengeluarkan kocek Rp 12.000 dan Rp 3.000 untuk kendaraan bermotor, pengunjung bisa menikmati dinginnya air Curug Panjang. Dari gerbang masuk, pengunjung harus kembali jalan kaki untuk ke dasar curug, kurang lebih perjalanan 300-400 meter.

Untuk Anda yang jarang olahraga seperti saya, jalan ke Curug Panjang sedikit melelahkan. Jalanan bertanah yang sedikit licin dan tangga yang harus ditapaki sedikit menguras tenaga.

Namun, begitu tiba rasa lelah seolah meluap. Sesuai dengan namanya, Curug Panjang bukanlah air terjun vertikal seperti pada umumnya, melainkan berbentuk slope sepanjang kurang lebih 20 meter dengan debit air yang cukup deras.

Curug Panjang berasal dari Sungai Cirangrang yang membentuk 4 air terjun. Nah, Curug Panjang salah satunya, selain Curug Blao, Curug Bunder, dan Curug Barong.

Yang saya ingat, setelah pertigaan Megamendung, saya melewati Unilever Learning Center, mengambil arah kanan saat melewati Mega Training Center, lalu bertemu Pusdik Reskrim Polri.

Dari sanalah, saya terus berjalan melewati hutan pinus hingga menemukan rumah besar bewarna biru di sisi kanan. Perlu hati-hati saat melewati jalan. Lama-lama medan jalanan menanjak dan mengecil hingga hanya muat satu mobil sementara di sisi kanan jurang dan rumah penduduk.

Kedalaman 7 Meter

Tak mahal untuk menikmati Curug Panjang. Hanya mengeluarkan kocek Rp 12.000 dan Rp 3.000 untuk kendaraan bermotor, pengunjung bisa menikmati dinginnya air Curug Panjang. Dari gerbang masuk, pengunjung harus kembali jalan kaki untuk ke dasar curug, kurang lebih perjalanan 300-400 meter.

Untuk Anda yang jarang olahraga seperti saya, jalan ke Curug Panjang sedikit melelahkan. Jalanan bertanah yang sedikit licin dan tangga yang harus ditapaki sedikit menguras tenaga.

Namun, begitu tiba rasa lelah seolah meluap. Sesuai dengan namanya, Curug Panjang bukanlah air terjun vertikal seperti pada umumnya, melainkan berbentuk slope sepanjang kurang lebih 20 meter dengan debit air yang cukup deras.

Curug Panjang berasal dari Sungai Cirangrang yang membentuk 4 air terjun. Nah, Curug Panjang salah satunya, selain Curug Blao, Curug Bunder, dan Curug Barong. (Herti Annisa)

(kompas.com)

Menyusuri Hutan Bakau dan Nikmatnya Mi Kepiting Langsa

27 August 2015

hutan-bakauuUdara sejuk membekap tubuh setiap pengunjung yang datang ke hutan bakau Langsa, Aceh. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya Kuala Langsa. Ya, letaknya memang di kuala tersebut. Obyek wisata ini mencari destinasi paling memesona di kota itu.

Obyek wisata itu seakan tak pernah mati. Dari pagi hingga sore hari selalu ramai pengunjung. Kaum muda dan keluarga melebur jadi satu menikmati semilir angin di sela-sela hutan bakau. Pondok-pondok kecil dibuka untuk mereka rehat sejenak sembari menyesap aneka minuman ringan.

Bukan hanya minuman berupa aneka jus, minuman kaleng, di sini juga tersedia minuman berupa air tebu yang diperas secara manual (batang tebu dihimpit pakai kayu hingga mengeluarkan air). Sebagian besar masyarakat lebih gemar meminum air tebu yang diproses secara manual dibanding menggunakan mesin pengepres.

Sembari duduk menyantap makanan dan minuman, puluhan moyet terlihat bermain riang. Sebagian warga melemparkan kacang, pisang dan makanan lainnya untuk hewan itu. Moyet itu akrab dengan pengunjung. Bahkan, pengunjung bisa memegang moyet-monyet tersebut.

“Saya dan anak-anak kerap kemari untuk berakhir pekan. Udaranya bersih, dan dekat dengan kota. Kelebihannya adalah fasilitasnya lengkap dan anak-anak bisa akrab dengan alam,” sebut Saniyati, salah seorang pengunjung kepada KompasTravel, Sabtu (23/8/2015).

Tidak hanya sampai di situ, Anda juga bisa menyusuri hutan bakau itu. Pemerintah Kota Langsa telah membangun jembatan untuk wisatawan yang ingin melihat berbagai jenis bakau di kawasan itu.

Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Langsa mencatat sebanyak 22 spesies bakau tumbuh subur di kawasan itu. Pemerintah telah membangun 250 meter jalan setapak untuk wisatawan. Targetnya, pemerintah kota itu membangun 1 kilometer jalan di kawasan hutan bakau. Sehingga, semakin ramai pengunjung bisa melintasi jalan itu.

Sesekali bangau putih terbang rendah di antara pucuk bakau. Tidak berhenti sampai di situ, jika Anda penggemar kuliner, maka pesanlah mi kepiting di warung yang berada di kawasan itu. Rasanya sungguh nikmat. Paduan mi aceh ditumis dengan kepiting sungguh membuat lidah tergoda.

“Setiap hari ratusan orang berkunjung ke kawasan ini. Kami harap ke depan semakin ramai lagi, sehingga pedagang seperti kami bisa meraup rezeki,” ujar Amin, salah seorang pemilik warung di lokasi itu.

Dia menyebutkan, pengunjung yang datang ke kawasan itu berasal dari Aceh Tamiang, Langsa dan Aceh Timur. Terkadang pengunjung dari Medan, Sumatera Utara juga singgah ke kawasan itu. “Tamu Pemerintah Langsa atau Aceh Timur juga sering diajak kemari,” sebut Amin.

Kini, saatnya menikmati pesona alam dan nikmatnya kuliner sekaligus di Langsa. Anda penasaran, silakan berkunjung.

(KOMPAS.COM)

Wisata Beri Makan Rusa Jadi Pengalaman Menarik Bagi Anak

11 August 2015

istanaTak hanya akhir pekan, objek wisata memberi makan rusa di Istana Bogor menjadi tradisi tersendiri bagi warga yang ingin mengajak serta keluarganya.

Pantauan heibogor.com, banyak warga Bogor maupun luar Bogor, yang sengaja datang untuk memberi makan rusa-rusa yang jumlahnya ratusan ekor.

Beberapa pedagang juga terlihat di sekitar lokasi, Jalan Ir. Djuanda. Seperti pedagang wortel yang menawarkan pangan rusa. Empat wortel kecil yang diikat dijual seharga Rp 2000.

“Gak Cuma Sabtu dan Minggu saja, yang beli wortel untuk makanan rusa memang meningkat. Kalau libur akhir pekan, per hari sekitar 10 kg wortel. Tapi hari ini Alhamdulillah bisa habis 20 kg wortel,” ujar Solihat, penjual wortel di sekitar Istana Bogor, Senin (10/08/15) sore.

Ahyari, seorang pengunjung asal Leuwiliang yang datang dengan istri dan anaknya mengaku datang ke Bogor untuk berwisata ke Kebun Raya sekaligus memberi makan rusa-rusa di sekitar Istana.

“Ini dari Kebun Raya, sebelum pulang mampir ke sini buat ngasih makan rusa. Bagi anak-anak, ngasih makan rusa seperti ini menjadi pengalaman yang menarik,” tambahnya.

Cuaca Kota Bogor yang panas terik tidak mengganggu aktivitas memberi makan rusa. Arus lalu lintas di sekitar lokasi pun terpantu ramai lancar di kedua arah, sesekali tersendat karena warga yang melintas, memperlambat laju kendaraannya serta memarkir kendaraan mereka di bahu jalan.

(Heibogor)

Masjid-Masjid Paling Bersejarah Di Jawa Barat

14 July 2015

Bagi Anda penyuka wisata sejarah, saatnya Anda menjambangi masjid-masjid bersejarah di Jawa Barat. Selain beribadah, tentunya Anda akan mengetahui ihwal sejarah yang melingkupi, dan berikut adalah 5 Masjid Bersejarah di Jabar berikut ini:

 

1. Masjid Raya Bandung

Masjid baru ini menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda. Pada saat Konfrensi Asia-Afrika pada tahun 1955, Masjid ini menjadi tempat beribadahnya peserta konfrensi yang beragama Islam. Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat selesai dibangun kembali pada 13 Januari 2006. Pembangunan itu termasuk dengan penataan ulang Alun-alun Bandung, pembangunan dua lantai basement dan taman kota sekaligus halaman masjid yang dapat dipergunakan untuk kegiatan seni budaya serta salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Mesjid-Raya-Bandung

Secara resmi pembangunan fisik masjid, membutuhkan waktu : 829 hari atau 2 tahun 99 hari, sejak peletakan batu pertama 25 Februari 2001 sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jabar saat itu: H.R. Nuriana. Biasanya di bulan Ramadhan seperti ini, menara masjid menjadi lokasi menarik untuk ngabuburit, sekaligus menikmati pemandangan Bandung di waktu menjelang malam.
2. Masjid Manonjaya, Tasikmalaya

Masjid Manonjaya yang dibangun pada tahun 1832 berkaitan erat dengan sejarah Kerajaan Sukapura dan proses berdirinya Ibukota Tasikmalaya. Hingga saat ini, masjid atau disebut juga dengan “kaum” masih berdiri dengan megahnya. Kondisi keaslian bangunannya pun masih tetap terjaga dan terawat.

Mesjid-Manonjaya-Tasikmalaya

Anda akan mendengar sebuah cerita yang menyebutkan bahwa kedua menara atau kubah (menara pelangan/laki-laki dan menara pawadonan/perempuan) dengan mahkota antiknya masih seperti bentuk aslinya. Kedua mahkota yang pada puncaknya berbentuk kuncup bunga ini merupakan hasil pemberian Syeikh Abdul Muhyi dari Goa Pamijahan sekitar abad ke-18 M. Kedua kubah “kaum” ini mempunyai makna tersendiri. Bagian bawah Kubah Pelangan ditujukan untuk tempat beribadah kaum laki-laki, sedang di bawah Kubah Pawadonan untuk tempat ibadah perempuan. Bahan kedua kubah terbuat dari keramik yang berasal dari Kawasem, Jawa Tengah.

Selain itu, Anda juga akan melihat dengan konnstruksi beton masjid yang kokoh dan berarsitektur campuran budaya Islam (Timur Tengah) dan Eropa. Masjid ini mampu menampung jamaah sebanyak 5.000 orang. Denah bangunannya berupa persegi panjang dengan serambi depan yang luas dan memiliki banyak tiang penyangga. Dindingnya terbuat dari beton dengan motif hias bergalur dan bermotif flora.
Bangunan masjid ini beratap genteng dan tampak seperti 2 bagian karena serambi yang bertiang 61 tiang diapit oleh 2 menara beton berjendela dan berpintu. Bentuk tiang penyangganya membulat dengan diameter ± 1,5 m dan tinggi 5m. Menara memiliki 6 jendela rangkap berdaun ganda berukuran ± 2 m x 1 m, terbuat dari kayu dan kaca. Pintu masjid terbuat dari kacandan kayu berukuran 3 m x 1,20 m dengan daun ganda dan berventilasi pada bagian atasnya. Jendela masjid berdaun ganda terbuat dari kayu berkisi-kisi dengan ukuan 2m x 1,5m. Bangunan didirikan di atas sebuah halaman yang cukup luas dengan taman dan bangunan tambahan.
3. Masjid Besar Tegal kalong, Sumedang

Decak kagum mungkin akan keluar dari mulut Anda ketika melihat Masjid Besar Tegal Kalong. Masjid pusaka yang dibangun oleh R. Suriadiwangsa sekitar tahun 1600-an ini memiliki ukuran 22 x 8 m. Ruang utamanya dilengkapi dengan pintu-pintu dan jendela-jendela. Masjid ini beratap tumpang yang disangga empat tiang utama atau saka guru dengan puncaknya dilengkapi dengan mustaka. Selain ruang utama, masjid dilengkapi juga dengan teras dan tempat wudhu. Pada bagian masjid terdapat halaman yang dilengkapi dengan pagar keliling dengan dua pintu.

Masjid-Besar-Tegal-kalong-Sumedang

Tegal Kalong dalam sejarah Sumedang merupakan ibu kota Kerajaan Sumedanglarang setelah dipindahkan dari Dayeuh Luhur pada tahun 1600-an. Pemindahan ini terjadi pada waktu R. Suriadiwangsa menggantikan ayahnya, Prabu Geusan Ulun. Setelah Kerajaan Sumedanglarang menjadi daerah kekuasaan Mataram Islam, tempat ini oleh R. Suriadiwangsa dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang. Salah satu peristiwa sejarah yang cukup penting di masjid ini adalah ketika pada tahun 1786 terjadi serangan tentara Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Cilik Widara. Serangan dilakukan ketika Bupati dan para pejabat serta masyarakat sedang menjalankan shalat Hari Raya Idul Fitri, yang mengakibatkan banyak jatuh korban di pihak Sumedang. Setelah peristiwa tersebut, pusat pemerintahan dipindahkan ke pusat kota yang sekarang. Peristiwa yang memilukan tersebut juga berakibat lain adalah tabu bagi para bupati selanjutnya bila shalat Idul Fitri jatuh pada hari Jumat untuk shalat di ibu kota Sumedang.
4. Masjid Cipari Wanaraja, Garut

Masjid ini didirikan pada masa Kolonial Hindia Belanda, tepatnya tahun 1936. Pendirinya adalah K.H. Yusuf Taudziri. Masjid ini selain berfungsi sebagai masjid dan pesantren, pada zaman kolonial digunakan sebagai tempat latihan perang, pertahanan, dan berdirinya PSII cabang Garut; Pada zaman kemerdekaan sebagai basis latihan tentara pejuang dan dapur umum; zaman pemberontakan DI/TII dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya, dapur umum, serta latihan perang; Pada zaman G30S/PKI dijadikan tempat perjuangan melawan PKI, tempat pertemuan para ulama, pertahanan dan perlindungan, serta dapur umum. Sekarang berfungsi sebagai masjid dan madrasah.

Masjid-Cipari-Wanaraja-Garut

Masjid Cipari Wanaraja berdenah persegi panjang berukuran 30 m x 10 m dengan lantai ditinggikan ± 1 m. Memiliki atap genteng dengan dinding tembok beton; 3 pintu kaca dan kayu bagian bawahnya berukuran 2 m x 1 m; 5 anak tangga menuju pintu masuk; 40 jendela kaca berkuran 120 cm x 60 cm (bawah) dan 100 cm x 60 cm (atas) dalam façade bagunan berjejer di samping kiri-kanannya dengan ventilasi beton; menara beton di atas atap; dan tangga menuju menara berada dalam 2 ruangan di bagian belakang bangunan.
5. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon

Untuk memudahkan penyebaran agama Islam, para wali mendirikan masjid bagi masyarakat Cirebon. Masjid ini diberi nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa, didirikan pada tahun 1498 M. ‘Sang’ artinya keagungan, ‘cipta’ artinya yang dibangun dan ‘rasa’ artinya digunakan. Secara arsitektur, masjid ini bercorak seperti candi Hindu. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitar di mana agama dan budaya Hindu masih kental di Cirebon saat abad 15 itu.

Masjid-Agung-Sang-Cipta-Rasa-Cirebon
Bagian pondasi bangunan terdiri dari batu bata merah yang disusun rapi dengan tiang penopang dari kayu jati. Secara umum, masjid ini terdiri dari 2 bagian ruangan salat, luar dan dalam atau ruangan utama. Bagian luar berbentuk seperti teras keraton/kesultanan. Bangunan ini tidak terasa aneh, karena Cirebon memiliki dua kesultanan yaitu Kanoman dan Kasepuhan. Di bagian luar masjid nampak berdiri tiang-tiang penyangga dari kayu jati berwarna coklat kehitaman. Bahkan satu tiang kayu jati yang ditanam oleh Sunan Kalijaga masih kokoh berdiri sampai sekarang. (**) (Berbagai Sumber/fokusjabar.com)

Masjid Katangka, Saksi Perjalanan Islam di Sulawesi

13 July 2015

masjidNUANSA teduh nan sakral seketika menyergap saat langkah kaki mengayun memasuki sebuah masjid di tepi Jalan Syekh Yusuf di garis batas Kota Makassar-Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (1/7/2015).

Di balik penampilannya yang bersahaja, masjid tua itu telah menjadi saksi perjalanan Islam di tanah Sulawesi selama lebih dari empat abad.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka adalah nama resmi yang tercantum di plang halaman masjid yang berlokasi di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa, itu. Namun, masyarakat luas lebih mengenal masjid tersebut dengan nama singkatnya: Masjid Katangka.

Katangka adalah jenis pohon yang dahulu kala banyak tumbuh di lingkungan sekitar masjid itu. Kayu katangka pula yang menjadi bahan pembuatan masjid yang berdiri tahun 1603 tersebut. Namun, pohon endemis yang kayunya dianggap sebagai kayu kehormatan oleh orang Makassar itu kini sudah sangat langka.

Masjid Katangka dibangun pada masa pemerintahan Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabbia atau yang kemudian bergelar Sultan Alauddin. Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk Islam dan mendukung penyebarannya ke seluruh Sulawesi Selatan.

Syiar Islam di Sulsel saat itu juga tak terlepas dari peran tiga sosok ulama asal Minangkabau, yakni Dato Ri Bandang, Dato Patimang, dan Dato Ri Tiro. Ketiganya mengislamkan banyak kerajaan di jazirah selatan Sulawesi, termasuk Gowa.

Pengurus Masjid Katangka, Harun Daeng Ngella (38), mengatakan, Masjid Katangka didirikan di lingkungan yang dulu masuk dalam kawasan benteng Istana Tamalate, pusat Kerajaan Gowa. “Letak masjid berdekatan dengan istana raja dan wilayah ini dikelilingi tembok benteng. Namun, bangunan istana dan benteng sudah tak tersisa lagi,” katanya.

Di sekeliling bangunan masjid juga terdapat makam sejumlah Raja Gowa dan keturunannya. Sekitar 500 meter arah selatan masjid terdapat pula kompleks makam Sultan Hasanuddin. Raja Gowa XVI yang merupakan cucu Sultan Alauddin itu adalah pahlawan nasional yang gigih melawan penjajahan Belanda pada abad ke-17.

Harun menambahkan, karena berada di “jantung” kerajaan, Masjid Katangka juga dibekali dengan “fitur” khusus, yakni dinding yang berketebalan 1,2 meter. “Pada masa itu, selain sebagai pusat peribadatan dan syiar Islam, masjid ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan semasa perang,” ujarnya.

Pintu masuk bangunan utama masjid seluas 144 meter persegi tersebut terletak di sisi timur. Terdapat dua pintu, tetapi hanya satu yang sehari-hari difungsikan. Di sisi pintu utama itu tercantum prasasti kecil yang bisa dengan jelas terlihat oleh siapa pun yang memasuki masjid. Di bagian atas prasasti bertuliskan “Masjid Tertua di Sulsel”, sementara di bagian bawahnya tertulis “1603”.

Satu hal lain yang unik adalah sebuah ornamen kaligrafi di gapura kecil mimbar. Kaligrafi berhuruf Arab itu menggunakan bahasa Makassar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Harun sebagai berikut: “Mimbar ini dibuat pada hari Jumat tanggal 2 Muharam tahun 1303 Hijriah. Diukir oleh Karaeng Katangka bersama Tumailalang Lolo. Apabila khatib sudah berada di atas mimbar, kita tidak diperkenankan lagi berbicara masalah dunia”.

Selain mimbar, bagian menarik lainnya adalah empat pilar utama masjid yang berbentuk silinder cembung. Harun mengatakan, pilar itu mengadopsi gaya bangunan Eropa. “Jadi, masjid ini memadukan berbagai gaya arsitektur, mulai dari Tiongkok, Eropa, Jawa, hingga lokal,” katanya.

Masjid Katangka menarik minat masyarakat dari sejumlah daerah untuk beribadah di sana. Salah satunya Baharuddin Nae (40), warga Makassar yang kerap mampir untuk menunaikan shalat di masjid itu meskipun rumahnya berjarak sekitar 3 kilometer dari masjid.

Baharuddin mengaku bisa lebih merasakan kekhusyukan saat beribadah di masjid tersebut. “Karena itu, setiap kali berkesempatan lewat masjid ini, saya selalu usahakan mampir untuk shalat,” kata wiraswasta ini.

Ia juga mengaku takjub dengan usia Masjid Katangka yang telah mencapai empat abad tersebut. Awalnya, saat pertama kali mengunjungi masjid tersebut untuk shalat Jumat enam tahun lalu, ia tak menduga usia masjid sudah setua itu.

Kekaguman terhadap Masjid Katangka juga diungkapkan Rudwin (35), pegawai badan usaha milik negara asal Jakarta yang telah tiga bulan bertugas di Makassar. Menurut Rudwin, ada aura dan nuansa yang berbeda dari masjid tua yang penuh sejarah seperti Masjid Katangka.

“Ada kenyamanan tersendiri saat memasuki masjid tua ini untuk beribadah,” ujarnya.

(kompas.com)

« Previous PageNext Page »