Kompetisi Balap Motor Sambil “Ngabuburit”

16 July 2014

BALAP mOTORBanyak orang beranggapan, bulan Ramadhan membuat segala kegiatan otomotif akan terhenti sejenak. Hal itu tidak berlaku bagi para pegiat dan penggemar olahraga otomotif road race di Jawa Barat. Mereka tetap konsisten untuk tetap menggelar berbagai aktifitas dalam menunjang hobi yang mereka jalani. Semangat serta keinginan yang begitu tinggi untuk bersama-sama menggelar kegiatan balap road race sekalipun sedang dalam keadaan menjalankan ibadah puasa. Maraknya serta suburnya jumlah pembalap, diperlukan sebuah wadah serta sarana untuk mengaplikasikan keinginan dalam menjalankan hobi berprestasi. Atas prakarsa klub event otomotif bernama Sumber production, akhirnya digelar perhelatan bertajuk “DRC Yamaha Ramadhan Race Sumber Production 2014”, yang berlangsung disirkuit Brigif 15 Kujang II Cimahi, Jum’at-Sabtu, 11-12 Juli 2014.

Perhelatan balap yang disupport oleh produk knalpot DRC Racing Exhaust dan Yamaha ini, Mampu menyedot animo starter hingga 350 starter yang terbagi kedalam beberapa nomor kelas. Hampir seluruh pembalap terbaik Jawa Barat dan juga pembalap wanita, tak ingin ketinggalan meramaikan jalannya persaingan.

“DRC Racing Development dengan produk unggulan knalpot DRC Victory khusus untuk balap, dalam hal ini ingin lebih mengenalkan produk kami ke wilayah Jabar dan ini event lokal yang pertama kita support, untuk nasional kita sudah support semua seri Kejurnas MotoPrix region Jawa. “Produk DRC Victory juga di riset beberapa tim, yaitu MKO Cendana AJM DRC Kyt D1, Madura Jaya DRC dan tim Vespa Nash Custom DRC Racing Team yang di event sekarang ketiga tim semuanya ikut balap,” kata, Uung selaku Marketing dari DRC Racing Development, yang tahun depan rencananya akan lebih fokus lagi mensupport event dan tim balap Jawa Barat.

Walaupun dalam keadaan puasa, para pembalap tetap semangat dan berlaga sejak pagi hingga sore hari. Serangkaian aktifitas yang di usung bukan hanya sebagai bentuk dalam rangka “Ngabuburit” di bulan ramadhan. Melainkan kegiatan ini untuk mencari bibit pembalap baru sebagai regenerasi dari para pembalap senior yang nantinya bisa mencetak segudang prestasi di dunia balap motor.

“Keinginan untuk berkumpul menjalin silaturahmi, hingga melakukan aktifitas bal motor tetap menggebu hingga menanti waktu berbuka puasa. “Ngabuburit” dengan cara menjalani balap road race ini menjadi sesuatu yang mempunyai arti lebih dari sekedar berkompetisi. Saya menaruh apresiasi ditengah jumlah peserta yang sangat membludak. Ramadhan race ini akan dijadikan agenda rutin setiap tahunnya. Intinya, kegiatan ini menjadi wadah untuk melahirkan para pembalap yang berprestasi dan tentunya memajukan dunia otomotif Jawa Barat,”kata, Sumber Agung Rizki, pentolan klub event balap Sumber production.

Untuk agenda final yang merupakan event pamungkas dari kegiatan balap road race yang diselenggarakan oleh Sumber Production ini, akan digelar pada bulan September 2014 mendatang, serta akan diisi pula oleh kontes modifikasi motor.
(bandungtv.co.id)

Ngabuburit Naik Bandros Keliling Bandung, Mau?

12 July 2014

buswisata badrosWarga Bandung yang ingin ngabuburit sambil merasakan sensasi naik bus wisata Bandros (Bandung Tour on Bus) kini bisa datang langsung ke Jalan Cilaki. Cukup membayar Rp 10 ribu, bisa langsung keliling Bandung dengan bus tingkat tersebut.

Menurut Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, program tersebut memang diadakan spesial selama bulan Ramadhan untuk ngabuburit.

“Kita memang ada program, bandros dipakai ngabuburit. Nangkring di Cisangkuy. Mulai dari menjelang buka saja, bada Ashar,” ujar Emil sapaan akrab Ridwan di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Jumat (11/7/2014).

Rutenya sendiri menurut Emil yakni jalur wisata yang sudah biasa dilalui Bandros.

“Rutenya ya jalur turis. Tinggal bayar saja sepuluh ribu, buat bensin,” tandasnya.
(detik.com)

Wisata Religi Ramadan, Ziarah ke Makam Wali Songo

10 July 2014

walisongoBanyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengisi Ramadan. Salah satunya dalah wisata religi. Kali ini, traveling ziarah ke makam Wali Songo. Seperti apa?

Di Pulau Jawa, penyebar Islam yang paling terkenal adalah Wali Songo. Kesembilan wali ini punya kisah yang bisa ditelusuri dengan wisata ziarah. Ada banyak paket tur yang menawarkan wisata ini, salah satunya tourwisata.com.

Menurut Hasan dari Tourwisata.com, Selasa (8/7/2014), paket ini biasanya berlangsung selama 6 hari 5 malam. Ditambah, kebanyakan yang mengambil paket ini pada bulan Maulud, sekitar Januari atau Februari.

Tapi, tak ada salahnya ziarah saat Ramadan. Tapi jangan lupa mencari teman, karena paket perjalanan ini akan lebih murah jika memiliki banyak peserta.

“Minimal 40 orang, kalau mau lebih sedikit bisa, tapi lebih mahal dibanding yang berkelompok 40 orang itu,” ujar Hasan.

Rutenya mulai dari Jakarta, menuju Cirebon untuk berziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Selain itu, traveler juga bisa melancong ke Masjid Kasepuhan Cirebon. Setelahnya, bus akan berlanjut ke Semarang untuk ke Demak, tepatnya ke Makam Sunan Kalijaga di Desa Daliangu.

Selesai dari Demak, berlanjut ke Kudus untuk berziarah di Makam Sunan Kudus lalu ke Makam Sunan Muria di Desa Colo Kudus. Perjalanan masih berlanjut ke Tuban untuk berziarah ke Makam Sunan Bonang-Tuban, lalu ke Makam Sunan Drajat di Lamongan.

Kemudian ke Gresik, untuk menengok Makam Sunan Maulana Malik Ibraim dan Sunan Giri. Pindah kota ke Surabaya, jadwal di sana adalah berziarah ke Makam Sunan Ampel dan berakhir di Masjid Agung Bangkalan Madura.

Selesai berziarah, masih bisa liburan seperti menengok Jembatan Suramadu dan ke Yogyakarta. Karena kebetulan rute pulangnya akan melewati Yogyakarta. Di sana, bisa melancong ke Keraton Yogyakarta dan belanja oleh-oleh di Malioboro.

“Total perjalanan ini 6 hari 5 malam, tergolong santai karena wisata ziarah tidak bisa diburu-buru,” lanjut Hasan.

Untuk mengambil paket ini, dengan minimal peserta 40 orang, traveler bisa membayar dengan harga Rp 1,8 juta. Harga tersebut sudah termasuk bus pariwisata yang AC dengan fasilitas DVD, toilet dan lainnya.

Selain itu, ada juga makan pagi, makan siang dan makan malam masing-masing sebanyak 5 kali. Harga tersebut juga sudah termasuk akomodasi menginap selama 4 malam di hotel atau penginapan, tiket masuk objek wisata, obat-obatan, parkir bus dan tol, dan tips untuk supir dan pemandu wisata.
(detik.com)

Pesona Kota Seribu Pantai…

3 July 2014

seribu pantaiTAK salah memang jika Ambon disebut dengan Kota Seribu Pantai. Karena letak kepulauan Ambon yang terbilang dikelilingi lautan, karena itu juga banyak pantai terhampar di sini dengan memiliki ciri khas masing-masing.

Kami pun sengaja mendatangi satu per satu pantai yang banyak digemari para wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara jika berkunjung ke Ambon. Salah satunya pantai Natsepa.

Pantai yang terletak di Desa Suli atau biasa disebut Negeri Suli, Kabupaten Maluku Tengah ini memiliki keunikan tersendiri. Di Pantai Natsepa jika air laut surut, bisa terlihat sepanjang 1 km pasir pantai dihiasi dengan karang-karang yang cukup menawan di Teluk Baguala. Biasanya para wisatawan pun senang bermain di pantai hingga ke tengah jauh dari daratan.
Tetapi sebaliknya, jika air laut pasang gelombang atau ombak yang tertiup angin mampu membuat air laut naik hingga perbatasan dataran. Tak hanya itu, angin pun bertiup dari lautan ke dataran rendah sangat kencang.

Nah, meninggalkan Pantai Natsepa, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai terpanjang di Ambon, yakni Pantai Hunimua atau yang akrab disebut Liang, di Negeri Liang, Maluku Tengah. Pantai dengan panjang 900 meter ini terdaftar sebagai pantai terpanjang dan terluas di Ambon.

Di sini terlihat warung-warung kelontong menjajakan berbagai macam makanan yang berjajar di sepanjang bibir pantai. Selain itu, ada juga pendopo atau auditorium tempat acara-acara musikal tradisional diadakan.
Tetapi sebaliknya, jika air laut pasang gelombang atau ombak yang tertiup angin mampu membuat air laut naik hingga perbatasan dataran. Tak hanya itu, angin pun bertiup dari lautan ke dataran rendah sangat kencang.

Nah, meninggalkan Pantai Natsepa, kami pun melanjutkan perjalanan menuju pantai terpanjang di Ambon, yakni Pantai Hunimua atau yang akrab disebut Liang, di Negeri Liang, Maluku Tengah. Pantai dengan panjang 900 meter ini terdaftar sebagai pantai terpanjang dan terluas di Ambon.

Di sini terlihat warung-warung kelontong menjajakan berbagai macam makanan yang berjajar di sepanjang bibir pantai. Selain itu, ada juga pendopo atau auditorium tempat acara-acara musikal tradisional diadakan.
Tak hanya itu, di pantai ini pun bebatuan yang terhampar mulai dari ukuran besar sampai kecil memiliki karakter warna cukup menarik. Biasanya batu-batuan ini sebagian orang membuat sebagai batu cincin, manik-manik ataupun aksesoris perhiasan lainnya. Tetapi sayangnya masyarakat di sekeliling Pantai Pintu Kota belum bisa memanfaatkan sebagai mata pencarian dibuat sebagai suvenir dari Pantai Pintu Kota ini.

Menempuh perjalanan sekitar 15 menit tak jauh dari Pantai Pintu Kota, kami pun melanjutkan menuju pantai Namalatu, Desa Latuhalat, Kota Ambon. Jika dari luar memang tampak layaknya pantai-pantai biasa di sini. Tetapi yang menarik bukan hanya pantai dengan panorama eksotis melainkan wisata bawah laut di sini pun patut diacungi jempol.
Terumbu karang di sini pun dilestarikan oleh dinas pariwisata setempat, juga sekumpulan ikan Nemo yang lucu dapat dilihat bermain di sekitar karang-karang. Bagus bukan!

Tak salah kan jika Kota Ambon dijadikan sebagai tujuan wisata bahari. Panorama memukau di setiap pantainya dan keindahan bawah lautnya menjadi primadona tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri. Selamat berlibur!
(kompas.com)

Kawah Ijen, dari Api Biru Sampai Negeri di Atas Awan

25 June 2014

kawah ijenKawah di puncak Gunung Ijen mampu membuat traveler mana saja jatuh cinta. Ada fenomena api biru, bebatuan besar yang seperti di film-film fiksi ilmiah, hingga pemandangan negeri di atas awan.

Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.433 mdpl dan merupakan ikon wisata Banyuwangi. Rombongan Explore Indonesia: Tour Banyuwangi beruntung bisa mendaki gunung tersebut dan menyaksikan keindahannya langsung.

Pendakian Gunung Ijen dilakukan Sabtu (21/6/2014) dini hari mulai pukul 02.30 WIB. Dengan perjalanan 3 km lebih, akhirnya 20 peserta berhasil mencapai bagian puncak Gunung Ijen. Mereka semua terpesona dengan pemandangan yang ada di depan mata.

“Keren, api biru di Kawah Ijen keren banget. Saya kira apinya hanya satu, tapi ternyata ada banyak dan menutupi bebatuan gitu,” ujar salah satu peserta, Rizki.

Sekitar pukul 04.30 WIB, beberapa rombongan telah tiba di dasar Kawah Ijen untuk melihat fenomena api biru. Mereka langsung mengeluarkan kamera dan memotretnya dari dekat. Walau, beberapa merasa kesulitan untuk memotretnya karena suasana gelap dan tertutup asap belerang.

“Harus professional nih yang foto, perlengkapannya harus canggih. Tapi lumayanlah, kalau di sekitar api diberi cahaya jadi hasilnya cukup bagus,” ujar salah satu peserta, Wirawan yang menunjukan hasil jepretannya.

Api biru mulai menghilang sekitar pukul 05.30 WIB kala matahari mulai muncul. Meski begitu, ada lagi pemandangan yang tak kalah ciamik. Rupanya, bebatuan di sekeliling Kawah Ijen begitu dahsyat dipandang.
“Batu-batunya besar-besar, kayak di setingan film-film fiksi saja,” kata Sheila Margretha.

Sheila yang bersama familinya yang masih ABG, Christoper terus asyik berfoto di sekitar Kawah Ijen. Sheila mengaku bukan perjuangan mudah untuk turun ke Kawah Ijen dan melihat api biru. Buktinya, baju dan celanaya kotor semua.

“Susah banget jalannya, harus nyerosot di batu-batu. Jadi kotor semua baju,” ucapnya.

Pemandangan di sekitar bagian puncak Gunung Ijen juga mempu membuat rombongan Explore Indonesia jatuh hati. Tepat di sebelah bagian puncak tersebut, ada pemandangan di atas awan

“Lihat deh, pemandangan awannya bagus. Kayak negeri di atas awan,” kata Cindy.

Semua rombongan tak hentinya memuji Gunung Ijen. Tak ada pemandangan yang tak cantik di sana. Cobalah buktikan sendiri. (detik.com)

Tips Liburan Edukatif Bagi Anak

17 June 2014

 

poto 1

Liburan sekolah bagi anak merupakan suatu moment yang sudah pasti sangat ditunggu – tunggu oleh anak sekolah pada umumnya, meninggalkan aktifitas sekolah sejenak untuk memberikan waktu luang yang dapat di isi oleh berbagai macam kegiatan diluar kegiatan sekolah tetapi kalau bisa kegiatan – kegiatan tersebut juga memiliki unsur yang edukatif bagi sang anak tersebut.

Jangan biarkan waktu libur anak anda terbuang sia – sia dan membiarkan sang anak hanya menghabiskan waktu liburnya untuk bermain tanpa ada unsur edukatifnya, karena hal tersebut dapat membuat anak menjadi suka malas di saat waktu sekolah telah tiba kembali. Ajaklah buah hati anda untuk pergi berlibur di saat liburan sekolah dengan tetap memberikan pendidikan dengan cara yang berbeda.

Berikut ada beberapa tips bermanfaat untuk mengisi waktu liburan anak anda :

Ajaklah anak anda untuk berlibur ke perkebunan, berkebun bukan lah hal yang membosankan bagi anak karena dengan mengajak anak anda berkebun anda dapat memberikan berbagai macam hal – hal baru seperti anak menjadi mengenal jenis – jenis tumbuhan dan lebih mencintai lingkungan, anak tetap dapat bermain di kebun yang luas dan juga mendapat pengetahuan baru.

Contoh tempat wisata berkebun yang menarik bagi anda dan anak anda, Taman bunga cihideung yang terletak di kota Bandung.

poto 2Selain perkebunan anda juga dapat membawa anak anda untuk berlibur ke kebun binatang, banyak hal menyenangkan yang akan menjadi pengetahuan baru dan langsung dapat disaksikan anak. Anak dapat mengenal berbagai macam jenis satwa termasuk satwa yang telah dilindungi.

Contoh tempat wisata kebun binatang yang dapat anda kunjungi selain kebun binatang di puncak anda juga dapat mencoba kebun binatang yang terletak di kota Malang, kebun binatang tersebut bernama Batu secret zoo.

poto 3

Berikan anak anda kegiatan yang menantang seperti outbound, outbound adalah kegiatan outdoor yang biasa dilakukan untuk salah satu tujuan wisata keluarga, kegiatan outbound ini dapat menghilangkan rasa jenuh pada anak terutama disaat mereka mencoba berbagai kegiatan dan permainan outbound tersebut.

Anda dapat mencoba wisata outbound di Yogyakarta yang bernama Dolandeso Boro yang memiliki pemandangan alam yang hijau dan di tempat ini anda dapat melakukan kegiatan outbound di alam bebas.

poto 4

Peternakan sapi dan kambing dengan nuansa perkebunan yang akan mengenalkan tentang peternakan sapi dan manfaat akan sehatnya susu sapi untuk kesehatan dan pertumbuhan. Di peternakan ini juga ada jenis sapi potong, sehinga anak – anak dapat membedakan mana jenis sapi yang biasanya mereka makan dan mana yang dapat diperah susunya. Nama tempat peternakan ini adalah Cibugary garden dairy yang berada di daerah cibubur.

poto 5

Sarana rekreasi dan belajar untuk anak – anak dan orang dewasa dengan alam dan udara yang sejuk daerah lembang, tempat yang sangat cocok untuk wisata keluarga mengenal alam. Di tempat ini selain rekreasi anak – anak juga dapat ikut melakukan kegiatan pertanian mulai dari pembibitan hingga memetik wortel & strawberry, selain kegiatan pertanian ada juga kegiatan seperti menungangi kuda poni, memberi makan ternak ayam, bebek, kambing, dan kelinci. Yang unik dari tempat ini juga ada pilihan untuk anak – anak belajar tentang daur ulang air limbah melalui cara – cara penjernihan air dan pemanfaatan air hujan, fasilitas tersebut jarang dimiliki oleh tempat – tempat wisata lainnya. Tempat ini bernama Jendela alam yang terletak di daerah lembang.

poto 6

Diatas adalah beberapa alternatif tempat berlibur bersama anak anda yang juga tetap memberikan unsur edukasi kepada anak. Sebaiknya sebelum memutuskan tempat tujuan berlibur bersama anak terlebih dahulu mendiskusikannya dengan anak anda sehingga perjalanan liburan tersebut akan berkesan dan bermanfaat bagi anda dan anak anda. Pendidikan untuk anak bukan lah hanya sekedar kegiatan pendidikan dari dalam sekolah melainkan juga masih banyak ilmu pendidikan yang dapat diajarkan kepada anak melalui liburan anak.

(Manulife Indonesia)

Menyambut Purnama di Desa Pasiragung

9 June 2014

kab(1)

warga kuninganKESENIAN merupakan cara penyampaian dari sebuah bentuk prinsip hidup, watak maupun sejarah singkat masa lampau yang terkadang diangkat dari akar kebudayaan. Penggambaran yang dituangkan dalam seni musikal dan tarian atau akrab disebut kebudayaan tak benda inilah yang menjadi satu-kesatuan nan indah dalam suatu pertunjukan.

Desa Pasiragung, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, merupakan salah satu desa budaya Pasundan yang terus dilestarikan dan akan menjadi ikon budaya Pasundan di Kabupaten Kuningan. Desa terpencil dengan kaya keunikan dan ragam kesenian seakan menarik untuk dikunjungi saat bulan purnama tiba.

Berbagai pertunjukan budaya yang selama ini tak tergerus oleh perkembangan zaman dan terus diwarisi dan dilestarikan oleh masyarakat desa Pasiragung secara rutin dilaksanakan sebagai tanda wujud syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan kepada junjungan luhur yakni Nabi Muhammad SAW dan para leluhur.

Di saat sang fajar mulai bersinar, masyarakat dengan rutinitas sehari-hari membajak sawah di mana yang biasanya memakai topi khas petani atau yang dikenal dengan sebutan caping, tetapi disini memakai ikat kepala khas pasundan. Para pembuat gula Aren tradisional juga memulai aktifitasnya pergi ke hutan untuk mencari air nira. Selain itu, permainan anak-anak yang mulai tidak dimainkan lagi karena mengikuti modernisasi yakni umpat batu dan Congklak atau Engklek disini terus dipermainkan.

Sang fajar yang bersiap mengakhiri tugasnya berganti sang rembulan kian diramaikan oleh aktifitas masyarakat dan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Para penari Kesatron atau tarian perang kesatria yang menceritakan tentang perjuangan, keberanian dan kegigihan masyarakat pasundan dalam membela tanah air tercinta bersiap untuk dipertunjukan.

Dengan ikat kepala khas pasundan, tombak, perisai dan seragam berwarna orange berlarian dan menari di tanah lapang. Dengan pijaran lampu obor yang terbuat dari bambu diiringi dengan alunan musik gamelan seakan pertunjukan semakin sakral dan dramatis.

Tak terhenti sampai disitu saja, usai penari Kesatron mempertunjukan kelihaiannya menari seorang seniman maju dan ikut unjuk aksi dalam tarian api yang sungguh mempesona. Dengan tongkat yang telah disulutkan api ia mulai menari dan mempertunjukan aksi yang luar biasa. Semburan dan lingkaran tarian api yang dibuat sangatlah unik untuk dinikmati.

Usai tarian kesatron dan kelihaian sang penari api, saatlah para tetua-tetua desa berkumpul. Mereka duduk bersila, memejamkan mata sejenak, menyatukan hati dan pikirannya untuk memulai menyatukan diri mereka kepada alam semesta dan dengan kerendahan hati mengucapkan wujud syukur kepada Tuhan YME dan mengagungkan junjungan tinggi manusia paling sempurna yakni Nabi Muhammad SAW.

Kertas-kertas yang bertuliskan penggalan ayat-ayat Alquran dan puji-pujian mulai dilantunkan. Seni musik Gambyung yang membuat suasana kian sakral dan khidmat mengiringi suara-suara para orang-orang tua yang terkesan dengan nada tinggi. Pukulan demi pukulan alat musik Gambyung bernada naik turun sampai membuat badan pun ikut bergoyang perlahan demi perlahan.

Memang, budaya Sunda dikenal dengan menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Cermin budaya dan kultur masyarakat yang diajarkan sebagaimana halus dalam berperilaku dan bertutur kata.

Sisi religius didampingi dengan seni kultur yang unik dan terus terwarisi, dan dijalankan dengan prinsip “silih asih, silih asah dan silih asuh” atau saling mengasihi, saling mempertajam diri dan saling melindungi dalam kehidupan sehari-hari sunggulah sebuah panutan kultur pasundan yang kelak menjadi manusia yang beretika.
(kompas.com)

Hidup Berbeda Khas Kampung di Dieng

30 May 2014

1744013EI-DIENG-Setiap-pagi-petani-Dieng-mendaki-bukit-menuju-ladang-kentang-foto-Anjas-PrawiokoDATARAN tinggi Dieng, di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, dikenal sebagai kawasan wisata yang menawarkan pemandangan alam yang indah dengan udara berhawa dingin. Kondisi alam Dieng yang berada di ketinggian 2.000 mdpl, membuat kehidupan masyarakatnya memiliki kehidupan yang berbeda, unik dan khas.

Cobalah datang ke Dieng dan menyelami kehidupan sehari-hari masyarakat di perkampungannya. Salah satunya di Desa Jojogan. Mampirlah ke salah satu rumah warga. Tamu akan diajak masuk dan duduk di belakang rumah, tepatnya bagian dapur. Ya, warga Dieng biasa menjamu tamunya bukan di ruang tamu, tetapi di depan tungku api dapur.

Hawa dingin membuat warga Dieng terbiasa menghangatkan diri di depan tungku api. Bahkan ketika sedang menjamu tamunya.

“Saking seringnya warga duduk menghangatkan diri di dekat api, membuat kaki warga Dieng memilikiciri khas yang disebut mongen,” kata Habib warga Jojogan.

Mongen adalah kulit kaki membekas menjadi kehitaman yang diakibatkan terlalu sering terkena panas. Karena hal ini pula, kebiasaan nongkrong di depan pawon atau tungku masak disebut juga dengan istilah mongen.

Pada sore hari warga kampung ini juga punya kebiasaan kumpul-kumpul dan nongkrong di pinggir jalan. Dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah karing. Hal berbeda dari nongkrong warga Dieng ini adalah kostum yang mereka kenakan. Karena udara dingin menusuk, saat nongkrong warga memakai pakaian tebal berupa jaket dan atribut penutup penutup kepala, sarung, syal, kaos tangan dan kaki.

Hidup di dataran tinggi dengan suhu dingin, berdampak pula secara alami pada ciri fisik orang Dieng. Perhatikan seksama wajah-wajah orang setempat, pada bagian pipi akan tampak merona kemerahan.

Rendahnya kadar oksigen di daerah dataran tinggi menjadi penyebab pembuluh darah manusia menjadi melebar, yang disebut vasodilatasi. Sehingga tubuh menjadi merah.

“Di Dieng ini bisa-bisa alat-alat kosmetik ini nggak laku loh. Nggak perlu lagi, ngapain gitu, karena cuacanya sudah bisa membuat kulit menjadi kemerahan. Jadi nggak perlu blush on di sini,” kata Kamga, pembawa acara program Explore Indonesia yang tayang di Kompas TV, saat berkunjung ke Desa Jojogan.

Di kampung ini juga masih bisa menjumpai sejumlah adat istiadat Jawa yang sudah mulai sulit dijumpai di kehidupan modern. Salah satunya tradisi ngemongi, yaitu sebuah tradisi memperingati hari lahir seorang anak.

Uniknya pesta ulang tahun anak ini digelar di depan pintu rumah. Makanan disajikan dalam sebuah tampah dengan menu sepiring nasi putih serta lauk pauk berupa mi goreng dan telor dadar. Meski menu sederhana, anak-anak menyantap bersama-sama dengan antusias dan penuh kebahagiaan.

Usai makan, masih ada satu ritual lagi, yaitu berdoa. Proses memanjatkan doa ini, lain dari biasanya, yaitu dengan cara melempar batu ke arah pintu rumah. Sementara bocah yang sedang merayakan ulang tahunnya, berada di dalam rumah.

Masih banyak cerita-cerita menarik dari sisi-sisi lain kehidupan warga Dieng yang dijumpai saat Kamga dan tim Explore Indonesia mengeksplorasi Dieng. Anda bisa menyaksikannya secara lengkap dalam program Explore Indonesia episode Dieng ’Khayangan di Jantung Jawa’ yang akan tayang Rabu, 28 Mei 2014, pukul 20.00 Wib.
(kompas.com)

Cibatu, Charlie Chaplin, dan Kereta Api

20 May 2014

cibatuuCHARLIE Chaplin pernah turun di Stasiun Cibatu, Garut, Jawa Barat, pada 1927 dan 1935. Ia menikmati keindahan alam Garut yang ketika itu disebut Switzerland van Java. Mari ke Cibatu, naik kereta api, tentu.

Gerimis tipis turun lembut di Stasiun Cibatu ketika Kereta Api Serayu yang kami tumpangi tiba dari Jakarta tepat pukul 14.20. Kereta ekonomi berpendingin ruangan itu berangkat dari Stasiun Jakarta Kota pukul 08.25 menuju stasiun akhir Purwokerto via Purwakarta, Bandung.

Terletak di ketinggian 612 meter di atas permukaan laut, Stasiun Cibatu terasa sejuk berlingkung bukit dan gunung. Di sebelah barat tampak Gunung Guntur yang ketika itu puncaknya diselimuti mega putih. Sementara setengah punggung gunung dirambati sinar matahari. Sebuah panorama yang mirip lukisan. Di kiri-kanan, sejauh mata memandang, tampak gunung-gunung indah, yaitu Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Kancil, dan Gunung Haruman.

Stasiun yang dibangun pada 1889 itu menunjukkan kerentaannya. Risplank sudah tampak agak keropos. Namun, stasiun ini menyimpan sejarah. Ada penumpang ”istimewa”, yaitu komedian Inggris legendaris, Charlie Chaplin, pada 1927. Mungkin hanya sebuah kebetulan jika Charlie Chaplin lahir pada 1889, tepat ketika Stasiun Cibatu dibangun.

Sampai sekarang memang belum ditemukan dokumen resmi yang menyebutkan aktivitas Chaplin dalam berkereta api menuju Garut. Kepala Pusat Pelestarian dan Desain Arsitek PT Kereta Api Indonesia (Persero) Ella Ubaidi mengatakan, sampai saat ini belum dijumpai bukti sejarah mengenai persinggahan Charlie Chaplin di Cibatu, Garut.

Kisah turun-temurun

Kisah kunjungan Chaplin ke Garut itu secara turun-menurun hidup dan tertanam di benak warga Garut. Antara lain menurun kepada Franz Limiart (47), warga Garut yang aktif sebagai pemerhati sejarah dan pelaku ekonomi kreatif Garut. Ia mendapat cerita dari mendiang sang ayah, Liem Boen San (1923- 1993). Ketika Chaplin datang untuk kedua kalinya pada 1935 di Garut, Liem Boen San berusia 12 tahun. Liem, seperti dituturkan Franz Limiart, melihat kehebohan besar di Garut tahun itu. Gara-garanya adalah kunjungan komedian berkumis ”Hitler”, yaitu Charlie Chaplin.

Liem Boen San kecil, seperti dituturkan Franz, begitu penasaran saat banyak orang berkumpul di Stasiun Garut Kota, berjarak 100 meter dari rumahnya. Beberapa orang yang ditemuinya, pribumi atau Eropa, membicarakan Charlie Chaplin. Siang yang panas tidak menyurutkan riuh rendah warga dari berbagai kalangan berdiri di muka Stasiun Garut Kota untuk melihat Chaplin turun di Stasiun Garut dari Stasiun Cibatu.

Komedian film bisu itu benar-benar menampakkan batang hidungnya tanpa riasan di Stasiun Garut Kota. Wajahnya tidak berhiaskan kumis petak. Ia tidak memakai jas sempit dan celana kedodoran. Topi tinggi warna hitam andalannya pun tidak ia bawa. Siang itu, ia berjas dan berdasi rapi dengan penutup kepala mirip yang lazim digunakan mandor perkebunan.

Lambaian tangan Chaplin disambut puluhan orang yang sudah menunggunya di Stasiun Garut Kota. Di stasiun yang kini mati suri itu, tubuh kecil Liem Boen San ikut merangsek maju berdesakan bersama warga lain yang penasaran. Iring-iringan itu terus mengekor 200-300 meter di belakang Chaplin. Antusiasme warga baru reda saat Chaplin dibawa pergi menuju Hotel Grand Ngamplang.

Hotel Grand Ngamplang adalah salah satu bukti bahwa Garut sudah menjadi idola wisatawan tempo dulu. Bersama Hotel Papandayan, Villa Dolce, Hotel Belvedere, Hotel Van Hengel, Hotel Bagendit, Villa Pautine, keberadaan Grand Ngamplang membuat Garut dikenal sebagai pionir resor wisata Hindia Belanda.

Dari Ngamplang yang berada di ketinggian 630 meter di atas permukaan laut, orang bisa melihat kemegahan Gunung Papandayan, Guntur, Cikuray, dan Karacak. Mungkin, pemandangan itu mengingatkan Chaplin pada tempat tinggalnya di Desa Corsier-sur-Vevey, Swiss.

”Di hotel itu diduga kuat julukan Switzerland van Java tercetus pertama kalinya. Namun, sayang tidak banyak jejak Chaplin yang bisa dilihat di Ngamplang,” kata Franz yang berprofesi sebagai pegiat wisata Garut.

Untung tidak semua jejak Chaplin hilang. Peran fotografer Thilly Weissenborn, keturunan Jerman yang lahir di Kediri, Jawa Timur, menyelamatkannya. Setidaknya, ada tiga foto yang diambil Thilly saat Chaplin tiba di Stasiun Garut Kota. Semuanya memperlihatkan keriaan masyarakat Garut menyambut kedatangan Chaplin. Foto-foto itu bisa dilihat di laman chaplin.pl yang banyak mengulas foto perjalanan Chaplin ke sejumlah negara.

Akan tetapi, jauh sebelum itu, karya Thilly kemungkinan besar yang mengundang Chaplin datang ke Garut. Thilly gemar mengabadikan pemandangan dan budaya Garut yang kemudian dipasang sebagai kartu pos yang dikirimkan ke beberapa negara. Bukan tidak mungkin, Chaplin datang setelah melihat Garut dari kartu pos Thilly.

”Thilly tidak sendiri. Sebagai daerah andalan wisata, profesi fotografer subur di Garut. Salah seorang di antaranya adalah Yo Liang Kie yang mengaku mengabadikan peristiwa di Garut, termasuk kedatangan Chaplin. Namun, entah terselip di mana foto jepretannya,” kata Franz.

Si Gombar

Stasiun Cibatu dulu memang menjadi perhentian wisatawan yang hendak pelesiran ke Garut. Haryoto Kunto dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997 mengatakan, banyak mobil mewah milik hotel ternama yang siap menjemput wisatawan mangkal di depan Stasiun Cibatu medio 1935-1940.

Hanya singgah sebentar di Cibatu, Chaplin kembali menggunakan kereta api menuju Stasiun Garut Kota. Ia menggunakan kereta api uap dengan kepala lokomotif yang dikenal warga dengan nama Si Gombar.

Cerita mengenai lokomotif juga tak kalah melegenda. Haryoto Kunto dalam bukunya yang lain, Wajah Bandung Tempo Doeloe, menyebutkan, Si Gombar adalah raja pegunungan selatan Jabar. Tangguh mengangkut manusia dan piawai membawa hasil perkebunan. Hingga saat ini, belum ada kereta api yang menyamai kekuatan Si Gombar, lokomotif hitam dan besar buatan Jerman. Rutenya dari dataran tinggi Ciwideuy, Kabupaten Bandung, Cikajang, Kabupaten Garut, hingga Pangandaran.

Wisata alam Garut terbilang lengkap untuk ukuran tahun 1920-an. Wisatawan bisa berkunjung ke Kawah Papandayan dan Kawah Kamojang. Ada juga wisata air, seperti Situ Bagendit hingga Santolo di pesisir selatan.

Terkepung tak kurang dari lima gunung, Garut memiliki situ atau telaga, curug atau air terjun, dan pemandian air panas.

Sejarah terus melaju. Kereta api dari Jakarta ke Cibatu tanpa lelah menyusuri. Sesekali, coba nyepur ke Garut lewat Cibatu. Charlie Chaplin pernah naik itu kereta.
(kompas.com)

Kawasan Cisangkuy Tetap Jadi Tempat Favorit Liburan

16 May 2014

taman-pustaka-bungaKawasan Jalan Cisangkuy, di sekitar Gedung Sate masih tetap menjadi favorit para pelancong dalam dan luar Kota Bandung untuk menghabiskan waktu liburan panjang.
Pantauan Tribun, kawasan Cisangkuy yang dikenal sebagai kawasan kuliner dan wisata berkuda, masih tetap dipenuhi warga yang menikmati libur terakhir long weekend ini. Bahkan saking penuhnya pengunjung, tak tersisa sedikitpun ruang untuk parkir kendaraan, baik roda dua maupun empat. Mereka yang baru saja datang dan hendak menikmati liburan di sini, terpaksa harus memutar kendaraan dan mencari tempat parkir yang jaraknya lebih jauh.
Pesona kawasan Cisangkuy yang dulu terkenal dengan Es Cisangkuy-nya memang tidak surut oleh pertumbuhan pariwisata di kawasan lain yang dewasa ini kian menggeliat. Buktinya, setiap libur panjang, kawasan Cisangkuy tetap menjadi primadona bagi mereka yang ingin menikmati jajanan khas Bandung dan wisata kuda.
Siska Mariska (31), seorang pelancong asal Kabupaten Bogor mengatakan bahwa kawasan Cisangkuy di Kota Bandung ini menjadi salah satu tujuan liburan selain menikmati belanja fesyen di beberapa factory outlet.
“Kalau ke Bandung ya sekalian aja, belanja dulu ke FO di Riau baru ke sini (Cisangkuy). Biasanya kalau ke sini buat makan aja sama nganter anak berkuda,” katanya beberapa saat lalu.
Menurut Siska, banyak obyek menarik yang ada di Kota Bandung untuk “dilahap” saat liburan panjang ini. Sehari sebelumnya, kata Siska, dia dan keluarganya juga menyempatkan diri mengunjungi sebuah wahana wisata di kawasan Gatot Subroto. (jabar.tribunnews.com)

« Previous PageNext Page »