web analytics

Museum Antonio Blanco Paling Banyak Dikunjungi Turis

5 April 2014   45 views

museum-antonio-blancoJumlah kunjungan wisatawan ke Museum Antonio Blanco di Ubud, Kabupaten Gianyar, tak bisa ditandingi oleh museum-museum lainnya di Bali. Museum ini berada di pinggir Sungai Campuhan, sekitar 25 kilometer sebelah timur laut Kota Denpasar.

Museum lukisan tersebut mencatat jumlah kunjungan sebanyak 44.637 orang selama 2013. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kunjungan pada 2012 yang hanya 41.311 orang.

“Wisatawan dalam maupun luar negeri paling banyak meminta untuk bisa menyaksikan aneka ragam lukisan yang tersimpan di Museum Antonio Blanco,” kata Made Badra, pramuwisata yang kerap mengantarkan wisatawan ke museum tersebut.

Di Bali ada sedikitnya 11 Museum yang menyimpan berbagai benda seni dan bersejarah, baik yang dikelola pihak swasta maupun pemerintah. Selain Antonio Blanco, beberapa museum yang ada di Ubud juga kerap dikunjungi wisatawan, seperti Pande Wayan Sutedja Neka, Ratna Warta, Arma, dan Rudana.

Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat jumlah pengunjung museum pada 2013 sebanyak 192.105 orang, 135.279 di antaranya turis asing. Jumlah pengunjung tersebut berkurang jika dibandingkan periode yang sama 2012 yang mencapai 368.857 orang terdiri atas 59.111 orang wisatawan dalam negeri dan 309.754 pelancong mancanegara.

Selama 2013, Museum Neka dikunjungi 42.003 orang dari sebelumnya hanya 39.335 orang. Lalu Museum Ratna Warta sebanyak 36.746 orang atau bertambah dari sebelumnya hanya 31.051 orang.

“Para kolektor dan pencinta seni lukis mancanegara paling senang mendatangi para seniman di Ubud untuk bisa menyaksikan hasil karya seni seniman tempo dulu maupun yang ada sekarang,” kata Made Badra.

Sementara itu Museum Bali di Denpasar yang menyimpan aneka barang etnografi sering menjadi lokasi penelitian mahasiswa. (sumber:kompas.com)

Melihat Keberadaan Curik Bali

4 April 2014   36 views

jalak-baliCURIK Bali (Leucopsar rothschildi) telah menjadi simbol atau perlambang yang sering diperlihatkan di Bali. Burung yang memiliki warna elok, kombinasi putih dan hitam pada ekornya, sering disebut oleh masyarakat Bali sebagai sebutan Kedis Putih atau Jalak Bali. Populasinya yang kian sedikit membuat upaya pemerintah lebih serius mempertahankan keberadaannya.

Penangkaran Tegal Bunder sering kali dijadikan sebagai kepentingan penelitian serta obyek pengenalan lingkungan oleh kalangan siswa dan mahasiswa. Selain itu, ada juga wisatawan yang menyukai kegiatan pengamatan burung di areal penangkaran ini.

Burung ini dapat disaksikan secara langsung dengan berjalan mengelilingi beberapa sangkar besar. Aktifitas ini seringkali dijadikan sebagai salah satu kegiatan wisata eco-tourism di Taman Nasional Bali Barat.

Di sini, sedikitnya terdapat ada dua lokasi penangkaran yakni di Kawasan Pura Segara Rupek dan Tegal Bunder di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Yang paling mudah dijangkau adalah tempat penangkaran di Tegal Bunder. Lokasinya bisa ditempuh dari Cekik hanya berjarak 8 kilometer melewati jalan utama dan jalan kawasan hutan.

Kawasan penangkaran tidak jauh dari perkampungan penduduk ini berdiri di atas lahan hutan rimbun yang memiliki luas sekitar 1 hektar hutan konservasi. Di sini bisa dijumpai berbagai bentuk kandang dan ukuran sebagai tempat kembang biak Curik Bali sebelum akhirnya dilepasliarkan ke alam bebas.

Kandang terbuka ini bisa dilihat menjadi beberapa perbedaan, antaranya bisa dijumpai kandang pembiakan, kandang penyapihan, kandang karantina, dan kandang pra-pelepasan. Untuk kandang pembiakan sendiri memiliki ukuran 2,5 meter sampai 3 meter serta mempunyai tinggi sekitar 2 meter sampai 3 meter.

Di dalam kandang pembiakan akan ada satu sampai empat pasang burung. Di kandang pembiakan inilah, anakan (piyik) yang telah dihasilkan secara alami oleh induknya kemudian dipisah untuk selanjutnya dibawa ke kandang penyapihan.

Kandang penyapihan berfungsi sebagai tempat memisahkan anakan (piyik) yang dihasilkan oleh setiap pasang curik bali di kandang pembiakan setelah sebelumnya dipelihara secara alami oleh induknya.

Telur yang menetas di dalam kandang pembiakan rata–rata bisa berjumlah antara 1-2 ekor anakan. Dalam pembiakan sangat dihindari perkawinan yang sedarah, apabila hal ini terjadi akan menghasilkan anakan yang tidak normal.

Di areal ini, Curik Bali sendiri juga bisa melakukan perjodohan secara alami, yakni bertemunya individu jantan dan betina yang bisa dilihat melalui perilaku seperti mereka bermesraan antara keduanya. Setelah terlihat cocok, oleh petugas yang merawat burung kemudian dimasukkan ke dalam kandang biakan.

Untuk pakan sendiri, petugas yang merawat burung hanya menyediakan pakan berupa sentrat, ulat, jangkrik, dan buah. Buah pisang dan papaya di upayakan sebagai pakan yang rutin diberikan oleh petugas agar burung tetap dalam keadaan sehat. Tempat makan dan minum diupayakan selalu tetap bersih agar tidak mudah didatangi oleh semut atau serangga sebagai pengganggu.

Saat ini, sudah terdapat jumlah keseluruhan 103 ekor curik bali khusus di penangkaran Tegal Bunder. Sedangkan untuk program pelepasliaran ke alam bebas hanya dapat dilakukan setahun sekali.

Meskipun letaknya telah dipagari besi dan kawat, gangguan tetap saja datang menghampiri kandang. Gangguan yang paling sering terjadi, adanya ular yang berhasil masuk di dalam kandang pembiakan untuk mencari anak (piyik) atau telor dalam sangkarnya. Hal ini sering terjadi di malam hari.

“Burung kerap memberi isyarat kalau ada gangguan, biasanya mereka ribut, kami sering melihat ada ular masuk terutamanya di malam hari. Bahkan, ada yang berhasil kami tangkap sambil memangsa burung,” ungkap Ketut Sukarta, petugas polisi hutan yang tengah berjaga.

Tiap hari, kawasan kandang dijaga oleh 4 orang personel polisi hutan. Dalam seminggu mereka bertugas secara bergiliran. Setiap bertugas mereka berjaga selama 2 x 24 jam. Selain petugas keamanan dari polisi hutan, tiap harinya kandang juga dirawat oleh petugas kebersihan yang sekaligus merawat keberadaan burung di penangkaran.

Apabila ada kunjungan ataupun penelitian, para petugas membatasi jumlah kunjungan yang dilakukan secara terbagi. Hal ini bertujuan agar keberadaan burung yang sebagian besar karakternya tidak jinak measa nyaman dan tidak terganggu oleh kehadiran pengunjung.

Karena menjadi bagian wilayah konservasi yang mutlak dilindungi oleh Taman Nasional Bali Barat, pengunjung hendaknya memperhatikan ketentuan–ketentuan memasuki lokasi. Misalnya, harus melapor terlebih dahulu ke pos petugas dan minta untuk didampingi oleh petugas atau pemandu dari Balai Taman Nasional Bali Barat.
(sumber: kompas.com)

Aneh Tapi Nyata, Ada Pemandian Air Soda Alami di Sumut

3 April 2014   44 views

kolam sodaPemandian air panas itu sudah biasa. Tapi di Desa Parbubu, Tapanuli Utara, Sumut Anda bisa mandi di Pemandian Air Soda. Airnya memang mirip soda, aneh tapi nyata dan hanya ada dua di dunia!

Bicara soal pemandian, di pikiran Anda pasti terlintas pemandian air panas di atas perbukitan yang sejuk. Tapi, Sumatera Utara punya Pemandian Air Soda yang bisa didatangi wisatawan untuk berendam dan bermain air di sana.

Dilongok dari situs resmi Kabupaten Tapanuli Utara, Kamis (3/4/2014) Pemandian Air Soda berada di Desa Parbubu, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara. Pemandian yang airnya seperti soda hanya ada di dunia, yakni di Venezuela, Amerika Selatan dan Sumatera Utara, Indonesia. Bangga bukan?

Pemandian Air Soda ini juga disebut Aek Rara. Sensasi mandi di air soda tentu berbeda dengan pemandian pada umumnya. Saat menyeburkan diri ke dalam airnya, tubuh Anda akan berasa seperti berbusa. Airnya juga tidak lengket saat tersentuh dengan kulit, terasa sedikit asin dan badan Anda seolah berasa halus dan ringan. Tapi ingat, cipratan airnya bakal membuat mata sedikit perih.

Sejarahnya air soda di sana pertama kali ditemukan oleh seorang bidan di Tapanuli Utara, O Tobing Sihite. Saat itu dia sedang mencangkul tanah dan tanpa sengaja keluar air dari dalam tanah. Begitu dirasa, ternyata air ini berbeda dengan rasa dan aroma yang mirip dengan soda. Kemudian di tahun 2004, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara meresmikan kolam air soda ini menjadi salah satu objek wisata.

Selain meraskaan mandi di air soda, Pemandian Air Soda ini juga berbatasan langsung dengan hamparan persawahan yang dikelilingi perbukitan Rura Silindung (Lembah Silindung). Artinya, ada pemandangan serba hijau yang menyejukan pandangan di depan mata!

Tiket masuk ke Pemandian Air Soda sekitar Rp 7.000. Jadi, kapan Anda bakal berendam di air soda yang hanya ada dua di dunia ini?
(sumber:detik.com)

Yuk, Ajak Si Kecil Naik Gunung

1 April 2014   39 views

trekking-anakMengenalkan alam sejak dini merupakan pilihan terbaik terutama jika si kecil dibesarkan di lingkungan perkotaan. Coba menjauh sejenak dari hiruk pikuk kota. Lalu, “puasa” dulu dari kunjungan akhir pekan ke mal.

Agendakan liburan bersama si kecil naik gunung. Walaupun anak Anda masih balita, tak masalah mengajaknya menjajaki sejuknya hawa gunung dan rindangnya pepohonan hutan di gunung.

Pilih gunung yang biasa dijajal oleh pendaki pemula. Untuk warga Jakarta dan sekitarnya, bisa ajak ke Taman Nasional Gede Pangrango atau Taman Nasional Halimun. Di Taman Nasional Halimun, lokasinya bisa Citalahab yang berada di Sukabumi atau Gunung Bunder di Bogor.

Pertama-tama, ajak si kecil melakukan trekking di lereng gunung. Sesuaikan dengan kemampuan si kecil sejauh mana ia bisa menjalajahi gunung. Tak perlu terburu-buru, karena yang terpenting adalah si kecil bisa mengenali alam di sekitarnya.

Nah, sudah menjajal lereng gunung? Perjalanan berikutnya bisa lebih jauh lagi. Di perjalanan pertama kali, jangan langsung naik ke puncak. Pelan-pelan saja, mulai dari lereng lalu di perjalanan berikutnya lebih naik lagi.

Jangan paksakan si balita untuk berjalan jauh. Biarkan ia berjalan semampunya. Lalu sisanya bisa Anda gendong mengunakan ransel khusus untuk membawa bayi atau baby backpack. Walau ia tidak berjalan, si kecil tetap bisa melihat panorama dari balik gendongan.

Sambil berjalan, jangan lupa ceritakan benda-benda yang ditemui di jalan. Begitu juga suara-suara yang ia dengar. Biarkan ia menyentuh benda-benda sepanjang perjalanan, seperti air yang mengalir di sungai, daun-daun, dan batu. Tentu tetap dalam pengawasan Anda.

Jika si kecil sudah terbiasa Anda ajak menjelajahi gunung, saatnya untuk berkemah bersama si kecil. Biarkan ia merasakan tidur dalam tenda di alam bebas. Lalu terbangun di pagi hari sambil mendengar suara-suara alam.

Tertarik mengajak si kecil naik gunung? Terlebih dahulu ketahuilah riwayat kesehatan anak. Lalu, ada baiknya mengajak si kecil berkemah ketika sudah mulai makan makanan yang sama dengan orang tuanya. Hal ini untuk memudahkan perbekalan ketika berkemah. (sumber: kompas.com)

Menikmati Gemulai Tayub Bojonegoro

25 March 2014   65 views

tayubJANGAN lewatkan malam tanpa tayub di Bojonegoro, Jawa Timur. Mampirlah ke Desa Jono dan nikmatilah penari-penari cantik, gemulai bertayub ria, dengan suara merdu pula. Anda tentu saja boleh ikut menyandang sampur dan menari bersama mereka.

Malam terang bulan di Bojonegoro. Menembus gelap malam, melewati sawah dan hutan jati, akhirnya tiba juga di Desa Jono, Kecamatan Temayang, sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Bojonegoro. Di pendopo balai desa yang terang benderang, gamelan bertalu-talu. Tujuh perempuan penari tayub, atau sindir, menyinden merdu sambil menari gemulai. Tubuh mereka dibalut kain kebaya warna merah jambu. Warna-warna yang menyegarkan malam. Ya, malam itu, Kamis Legi (13/3), Bojonegoro memperlihatkan salah satu sisi keindahannya dalam tayub.

Mbak Yun, salah seorang penari, dengan merdu ikut melantunkan tembang ”Caping Gunung”. Tak kurang dari Bupati Bojonegoro Suyoto atau Kang Yoto ikut tayuban. Bahkan Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga menjajal menari bersama lengkap dengan sampur tersampir di pundaknya. Tamu yang dipandang terhormat biasanya memang didaulat untuk ikut menari dengan ditandai dikalungkannya selendang.

Tetamu cukup duduk lesehan berteman camilan ndeso berupa jagung rebus, pisang rebus, ubi rebus, dan kacang rebus. Plus kopi panas dalam cangkir kecubung. Sementara itu, laron-laron beterbangan di pendopo mengitari terangnya sinar lampu.

Budaya agraris

Desa Jono terletak di tepian hutan jati di jalur Bojonegoro-Nganjuk. Desa Jono, atau n-Jono dalam lafal orang Jonegoro, adalah Desa Wisata Budaya. Di sini tumbuh seni tradisional, seperti jaranan, kethoprak, dan yang paling terkenal adalah tayub yang oleh warga sekitar disebut sindir. Disebut sindir atau sindiran karena lantunan syairnya bermuatan pesan atau sindiran.

Kepala Desa Jono, Dasuki, menuturkan, saat ini ada sedikitnya 22 sindir atau penari tayub. Menjadi sindir atau penari tayub merupakan profesi yang cukup menjanjikan di n-Jono. Dalam paket pergelaran lengkap, termasuk gamelan, penabuh, dan perangkat tata suara, kelompok tayub bisa mendapat bayaran Rp 10 juta-Rp 12 juta. Di luar tanggapan kelompok, para sindir tayub pun bisa ditanggap secara personal. Tarif untuk yunior atau petayub pemula sekitar Rp 500.000. Adapun petayub terkenal bisa mencapai Rp 8 juta per sindir. ”Setiap sindir bisa tanggapan 5-10 kali sebulan, apalagi pas musim wong duwe gawe,” kata Dasuki.

Sejumlah waranggana (sinden) tayub populer di antaranya Tegowati, Rasmi, Wariyati, Mujiati, Yuyun, Prihatini, Natipi, dan Hartini. Sekali pentas sedikitnya tarif mereka manggung Rp 2,5 juta. Dalam bertayub, penari tayub atau sindir bisa tampil berdua atau bisa juga sampai belasan penari. Penonton boleh menari bersama penari tayub. Acara akan semakin ramai dan hangat ketika sindir menyanyikan gending-gending populer. Malam itu, misalnya, tampil tujuh sindir membawakan tembang ”Gambir Sawit” serta ”Praon” atau ”Prau Layar”.

Hapus citra negatif

Tayub lahir dari kehidupan masyarakat agraris. Biasanya tayub digelar sebagai tanda syukur seusai panen atau menjadi hiburan pada acara hajatan seperti khitanan. Kelompok tayub kadang juga mbarang atau mengamen dengan mangkal di emperan toko sekitar Pasar Besar Kota Bojonegoro atau Pasar Kebo. Keberadaan Tayub Janggrung memang sudah lama menjadi ikon Bojonegoro sejak tahun 1980-an dan dinikmati masyarakat kalangan bawah. Hanya dengan Rp 5.000 sudah bisa menikmati lagu yang diminta.

Para seniman tayub di Bojonegoro berupaya menghapus sementara anggapan yang mengatakan bahwa tayub identik dengan foya-foya. Ada pula yang mengatakan tayub menjadi ajang main mata dengan perempuan (penari tayub). Pimpinan Sanggar Anugerah di Desa Jono, Kapri Prasetyo, menilai tayub banyak memiliki nilai positif meskipun ada segelintir orang yang menyalahgunakan seni tayub.

Bupati Bojonegoro Suyoto memaknakan tayub dalam konteks tata kehidupan sosial masyarakat. Ia menggunakan kerata basa atau semacam otak-atik kata tayub berasal dari kata ditata agar guyub. Artinya ’menari bersama-sama yang diatur sedemikian rupa agar lebih akrab’. Jika penari tidak mengikuti irama gending dan irama gerak, ia akan mengganggu kebersamaan. ”Kalau sudah bunyi dung, kaki sudah harus melangkah. Nanti yang tidak ikuti irama akan minggir dengan sendirinya karena dianggap tidak bisa,” tutur Kang Yoto.

Tayub Desa Jono adalah jenis tayub yang sudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini. Norma kesopanan menjadi kunci utamanya, dengan setiap penampilan antara waranggono dan pengibing selalu ada jarak. Penari menggunakan kebaya yang rapi tertutup. ”Dulu, zaman saya masih kecil, penari menggunakan kemben, bagian atas terbuka. Dulu norak. Orang pegang-pegang penari. Sekarang nyenggol saja tidak boleh,” kata Kang Yoto.

Penari tayub di Bojonegoro biasanya mengawali pementasan dengan membawakan tari Gambir Anom, sebuah tarian klasik dengan gaya lembut baru disusul irama-irama yang sedikit rancak dengan lagu-lagu campursari atau langgam jawa.

Sebelum dimainkan, tayub biasanya diawali dengan nguyu-uyu atau manghayu-hayu yang artinya penghormatan kepada semua tamu sebelum acara dimulai. Setelah itu, ada ritual bedhayan, berupa tarian pembuka sebelum pertunjukan tayub dimulai. Lantas disusul Talu Gending sebagai pengantar tayub akan segera dimulai.

Selanjutnya, ketika kendang memberi isyarat dengan bunyi dung, dan kaki melangkah untuk pertama kalinya, saat itulah penari dan tetamu yang ikut menari masuk dalam kehidupan yang gemulai…. (Sumber: Kompas.com)

Nyepi di Bali Tanpa Festival Ogoh-ogoh

19 March 2014   45 views

ogoh-ogohPemerintah kabupaten/kota di Bali tahun ini tak menggelar festival dan arak-arakan ogoh-ogoh (boneka kertas dengan berbagai karakter) yang biasanya berlangsung pada sore menjelang Nyepi.

Ini mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan warga karena perayaan Nyepi tahun ini, Senin (31/3/2014), bersamaan dengan jadwal kampanye pemilu.

Namun, pemerintah daerah memperbolehkan warga mengarak ogoh-ogoh di sekitar banjar atau desa asalkan tak memakai atribut partai.

”Ini terkait adat Bali. Oleh karena itu, kami tidak mau warga mencampurkannya dengan momen kampanye partai,” kata Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Badung I Gede Wijaya, pekan lalu.

Fera Leonidya, General Manager Secretary and Public Relations Hotel Santika Siligita, di Nusa Dua, Bali, pekan lalu, menambahkan, sejumlah wisatawan sengaja memesan kamar di Bali saat perayaan Nyepi untuk merasakan suasana berbeda.
(sumber: kompas.com)

Sabtu ke Bandung? Mampir di Braga Culinary Night

11 January 2014   108 views

jalan-bragaSabtu (11/1/2014) malam, Braga Culinary Night akan digelar untuk pertama kalinya di Bandung, Jawa Barat. Jalan yang penuh sejarah dan dielu-elukan ini akan ditutup mulai pukul 17.00-01.00 WIB. Rekayasa arus lalu lintas di sekitar Jalan Braga pun dilakukan.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Polisi Diki Budiman di Balaikota Bandung, Jalan Wastukencana, Bandung, Jawa Barat, Jumat (10/1/2014).

“Jalan Braga panjang kita tutup, kecuali Braga pendek, kita tidak mengganggu Jalan Braga pendek. Kemudian dua jalan kecil, yaitu Jalan Markoni dan Jalan Kejaksaan kita tutup juga,” kata Diki.

Diki menjelaskan, untuk rekayasa arus lalu lintas, yaitu meliputi kendaraan yang melaju dari arah Jalan Tamblong belok kanan menuju ke Jalan Naripan sifatnya buka tutup. Kemudian, kendaraan yang melaju dari arah Jalan ABC tidak bisa belok kiri melalui Jalan Braga, tetapi kendaraan hanya bisa lurus ke Jalan Naripan dan belok kanan ke Jalan Braga pendek.

“Kalau dari arah Jalan ABC kendaraan padat, kita akan tutup yang arah timur dan otomatis kita berlakukan satu arah. Kalau misalnya lancar, tetap kita berlakukan dua arah,” terang Diki.

Diki menambahkan, penutupan Jalan Braga panjang dan rekayasa beberapa ruas jalan di sekitar Jalan Braga diberlakukan setiap hari Sabtu, mulai pukul 17.00 dan kembali dibuka pukul 01.00 WIB.

“Ini kan instruksi Wali Kota yang meminta mengadakan event ini setiap malam minggu. Ya, ini (penutupan dan rekayasa jalan) kita berlakukan seminggu sekali,” kata Diki.
sumber: travel.kompas.com

Aceh Tuan Rumah Pemilihan Duta Wisata Nasional

23 October 2013   147 views

acehAceh menjadi tuan rumah penyelenggaraan pemilihan duta wisata nasional 2013 yang akan diikuti perwakilan dari 33 provinsi di Indonesia.

“Momen pemilihan duta wisata nasional pertama kali di Aceh itu kita manfaatkan sebagai media mempromosikan pariwisata Aceh,” kata Kepala bidang Pemasaran Dinas Kabudayaan dan Pariwisata Aceh, Rasyidah M Dallah di Banda Aceh, Selasa (22/10/2013).

Dijelaskan, sebanyak 66 orang dari 33 provinsi itu akan mengikuti ajang pemilihan duta wisata yang pertama kali digelar di Aceh pada 12 hingga 18 November 2013.

“Kegiatan itu terselenggara kerja sama yayasan Duta Wisata dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Kami berharap dukungan semua pihak untuk kesuksesan kegiatan nasional ini,” katanya.

Menurut Rasyidah, kegiatan pemilihan duta wisata tingkat nasional itu merupakan salah satu ajang mempromosikan potensi wisata Aceh kepada masyarakat seluruh provinsi di Indonesia dan juga internasional.

“Melalui kegiatan ini kita dapat mempromosikan budaya, dan obyek-obyek wisata potensial yang dimiliki Aceh sehingga dapat mendongkrak arus kunjungan wisatawan ke wilayah ini di masa mendatang,” katanya.

Adapun kegiatan pemilihan duta wisata tingkat nasional itu masing-masing peserta juga akan menyaksikan langsung obyek-obyek wisata andalan di Aceh Besar, Kota Banda Aceh dan Sabang.

Aceh memiliki potensi wisata budaya, alam, situs tsunami dan spritual yang diharapkan mampu menjadi daya tarik wisatawan nusantara dan internasional di masa mendatang.

“Kami berharap para duta wisata dari 33 provinsi di Tanah Air itu nantinya mampu menceritakan tentang potensi wisata yang dimiliki Aceh guna menarik minat warga di daerahnya masing-masing untuk berkunjung ke daerah ini,” tambah Rasyidah.

Sumber: kompas.com

Menikmati Senja di Sungai Cisadane

17 October 2013   214 views

senja di sungai cisadaneMATAHARI mulai meninggalkan peraduannya. Suasana yang semula terik menjadi semakin teduh dan semakin teduh lagi. Embusan angin khas tepi sungai pun semakin menyejukkan suasana di bantaran Sungai Cisadane.

Berkunjung ke Tangerang rasanya belum lengkap jika belum menyaksikan kemegahan Sungai Cisadane. Waktu berubah, manusia berubah, begitupun dengan Sungai Cisadane. Cisadane yang dulunya bersih dan jernih pun kini sudah berubah kecoklatan dengan sampah mengambang di mana-mana.

Ada satu hal yang menggelitik rasa penasaran saya sore itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di tepi sungai yang membelah Tangerang itu. Sempat beberapa waktu saya memperhatikan seorang bapak yang sedang mendayung perahu. Ia bukan satu-satunya, ada beberapa lagi yang lain, namun letak mereka telalu jauh sehingga tak terlihat jelas.

Apakah bapak itu seorang nelayan pencari ikan? Tapi kenapa ia tidak membawa pancingan? Berbekal dayung besar yang terbuat dari kayu, ia pun mulai mulai menepi ke tempat saya berdiri.

“Neng, naik perahu aja tuh,” kata seorang bapak dari kejauhan memecah lamunan saya.

Beberapa pertanyaan langsung merangsek masuk ke dalam benak saya. Naik perahu? Apakah di Sungai Cisadane ada wisata perahu? Mengapa tidak terlihat? Sebelum timbul banyak pertanyaan lainnya, saya pun menyimpulkan untuk naik.

Pergi jauh-jauh ke Tangerang, hanya melihat Sungai Cisadane dari tepi, apa enaknya? Itulah satu pertanyaan yang meruntuhkan semua pertanyaan saya semula terpikirkan dalam benak saya.

Kehadiran seorang bapak yang langsung naik ke perahu ketika perahu baru saja menepi jugalah yang membuat saya yakin menaiki perahu itu juga. Kaki pun melangkah ke dalam perahu yang sempat sedikit terombang-ambing karena saya mencari keseimbangan. Untunglah bapak pendayung perahu ini membantu saya.

Bapak pendayung perahu ini ternyata bernama Akong. Setelah yakin penumpangnya sudah siap untuk memulai perjalanan, Pak Akong pun mulai mendayung. Berada di atas perahu sederhana mengarungi Sungai Cisadane yang dalam dan luas, tentu rasa takut sempat menyergap. Tapi semakin lama mendayung, semakin ketenangan menggantikan rasa takut.

Perahu pun langsung menuju tepi sungai yang satunya lagi. Ternyata, bapak yang menumpang perahu bersama saya memakai jasa Pak Akong untuk menyeberang. Ia merupakan warga sekitar sungai yang baru pulang kerja, begitu cerita Pak Akong.

Tujuan utama Pak Akong mendayung perahu memang untuk mencari uang dengan cara mengantarkan orang-orang yang ingin menyeberang. Pasalnya, untuk menyeberang melalui jembatan, jaraknya terlalu jauh. Itulah sebabnya mereka menggunakan jasa Pak Akong untuk menyeberang.

Untuk orang yang ingin menyeberang, Pak Akong tidak menetapkan tarif.

“Gak tentu. Kadang tiga ribu, empat ribu. Kebanyakan sih dua ribu,” tutur Pak Akong.

“Seikhlasnya aja,” tambah Pak Akong.

Selain dari jasa angkutan airnya, Pria berumur 52 tahun ini juga mencari tambahan uang dari wisatawan yang berkunjung di sekitar Sungai Cisadane.

Menyusuri Sungai Cisadane

Pak Akong membawa saya “tur” di Cisadane selama sepuluh menit. Baru menyusuri sebagian kecil dari Cisadane saja, sudah banyak hal baru yang bisa ditemukan. Dari atas sungai saya menyaksikan sekelumit kehidupan kampung bantaran Sungai Cisadane.

Dari atas perahu sederhana milik Pak Akong terdengar suara musik dan nyanyian dari gereja yang berada tidak jauh dari tepi sungai. Ada juga sekelompok anak yang berenang di tepi sungai. Padahal sungai begitu kotor dan tidak jauh dari posisi mereka berenang terdapat jamban. Seolah tidak memikirkan hal itu, mereka pun dengan riang bercanda dan tertawa.

Di sudut sungai yang lain terlihat seorang pemilik perahu sedang membetulkan kapalnya. Di sisi lain ada beberapa orang yang sedang memancing. Pak Akong bilang di sini memang terdapat beberapa ikan. Salah satunya gabus dan lele.

Tak terasa sepuluh menit pun berlalu. Matahari mulai meninggalkan peraduan dan langit pun mulai berkelir. Bias jingganya pun terpantul di atas air yang mengalir tenang. Seperti matahari, saya pun harus mengakhiri perjalanan singkat dengan Pak Akong dan perahunya. Sebuah wisata singkat dan berharga, penuh dengan perjalanan hidup.

Di luar kondisinya yang semakin menua, keinginan Cisadane tetap menjadi sumber penghidupan untuk segelintir orang yang bergantung padanya. Semoga majunya peradaban tak lantas memudarkan manfaat bagi umat manusia, Sungai Cisadane.

sumber : Kompas.com

Sanghyang Tikoro – Goa Alam di Waduk Saguling

10 October 2013   715 views

Shanghyang TikoroDi akhir pekan, Kota Bandung selalu disesaki oleh turis domestik. Di balik hiruk-pikuk suasana kemacetan di hari-hari libur, sebuah lokasi wisata yang tidak banyak orang ketahui akan memberi kesan tersendiri dengan mengarahkan hari libur Anda menuju kota Padalarang yang berjarak 30 menit perjalanan dari kota Bandung.

  

Dari Padalarang lanjut hingga Citatah Jalan Raya Rajamandala, lalu menuju ke sebuah pintu gerbang bertuliskan “Waduk Saguling”.

Sebuah pos penjagaan harus dilewati, karena tempat wisata ini agak tertutup. Pohon coklat menjadi pemandangan tersendiri disisi kanan dan kiri jalan yang naik turun. Dibutuhkan kendaraan yang handal untuk melewati jalan berliku, beberapa muda-mudi biasanya asyik berpacaran ditepian jalan yang tenang. Udara sejuk dan bebas polusi menjadi hiburan tersendiri.

Untuk menuju tempat tujuan wisata Shangyang Tikoro harus banyak bertanya, karena tidak ada papan penunjuk lokasi wisata di pertigaan jalan. Bahkan penduduk lokal sendiri kadang tidak tahu lokasi Sanghyang Tikoro, menakjubkan!

Perjuangan melalahkan Anda akan terbayar setelah tidak tidak berapa lama Anda menemukan sebuah pemandangan yang menarik. Sungai yang cukup lebar dengan arus kuat menjadi pemandangan yang menakjubkan.

Untuk memastikan bahwa arah Anda memang benar, tanyalah kembali. And that’s the right way. 10 menit kemudian papan penunjuk yang sudah karatan “Sanghyang Tikoro” akan terlihat yang dapat membuat hati merasa senang dan lega.

Di tempat itu, Anda pun dapat memarkirkan kendaraan. Lalu, menuruni sebuah anak tangga dan jembatan kecil, dibalik tembok pagar setinggi 2 meter. Nah, di situlah Sanghyang Tikoro bermukim. Sanghyang Tikoro derived from two words…Sanghyang means God or Dewa and Tikoro means Throat or Kerongkongan. Jadi Sanghyang Tikoro berarti Kerongkongan Dewa. Kenapa tempat itu disebut kerongkongan dewa (Shangyang Tikoro)?.

Nama Sanghyang Tikoro sering dihubungkan dengan legenda Sangkuriang, khususnya berkaitan dengan Danau Bandung. Sangkuriang identik dengan asal muasal terciptanya Gunung Tangkuban Perahu, Danau Purba Bandung, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Sang Hyang Tikoro. Cerita tentang pangeran sakti mandraguna ini, dibalut kisah cinta terlarang antara seorang anak yang tidak lain adalah Sangkuriang dengan ibu kandungnya, Dewi Dayang Sumbi.

Legenda Sangkuriang awalnya merupakan tradisi lisan. Rujukan tertulis mengenai legenda ini ada pada naskah Bujangga Manik, yang ditulis pada daun palem yang berasal dari akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16 Masehi. Dalam naskah tersebut, ditulis bahwa Pangeran Jaya Pakuan alias Pangeran Bujangga Manik atau Ameng Layaran mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Pulau Bali pada akhir abad ke-15.

Setelah melakukan perjalanan panjang, Bujangga Manik tiba di tempat yang sekarang menjadi Kota Bandung. Dia menjadi saksi mata yang pertama kali menuliskan nama tempat ini beserta legendanya.

Melihat dari sisi geologis, sekitar 6000 tahun yang lalu Kota Bandung dulunya merupakan sebuah danau purba yang dinamakan sebagai Situ Hiang, yang terbentuk karena meletusnya Gunung Tangkuban Perahu dan menyumbat aliran sungai Citarum. Lama kelamaan air danau tersebut surut dan kemudian mengering hingga membentuk sebuah daratan yang kini menjadi Kota Bandung. Tidak heran apabila banyak ahli geologi yang mengatakan bahwa Kota Bandung adalah sebuah cekungan raksasa yang menyerupai mangkok. Dan pinggir mangkok tersebut merupakan dataran tinggi, yang kini beberapa area di Kota Bandung sering mengalami banjir.

Kembali ke Sanghyang Tikoro, melihat kawasan Padalarang yang terdiri dari pegunungan kapur tidak mengherankan apabila ada sungai bawah tanah yang cukup besar. Dan disinilah sebuah sungai bawah tanah dimulai, sebuah goa karst (batu gamping) setinggi 2,5 meter dengan lebar sekitar 7 – 10 meter. Konon panjang gua bawah tanah ini dengan aliran sungainya sepanjang 162 meter dan hingga saat ini belum ada yang memberanikan diri untuk mencari tahu kemana aliran sungai ini berakhir dan apa saja yang terdapat di dalamnya.

Di dekat mulut gua, bau air yang menyengat serta suasana yang spooky. Hanya berjarak sekitar 200 meter sebuah pintu air raksasa berada di lokasi ini. PLTA Saguling – Indonesia Power dan sebuah pipa air raksasa bak ular raksasa berada di atas kantor PLTA ini.

Alur sungai dan pintu waduk kemungkinan lokasi ini merupakan mulut terakhir dari pembangkit listrik tenaga air. Aliran sungai ini terbagi menjadi dua bagian, satu lagi menuju ke sungai besar dan satu lagi menuju ke sungai bawah tanah yang tidak diketahui kemana alirannya. Konon banyak orang yang datang ketempat ini untuk bersemedi setiap malam Selasa atau Kamis Kliwon. Memang cukup wingit lokasi ini.

Satu hal yang sangat disayangkan yaitu PLTA membangun pagar setinggi 2 meter sehingga tidak memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk langsung menikmati pemandangan alam yang menakjubkan ini. Lokasi ini berdekatan langsung dengan buangan air waduk untuk PLTA.

Tidak jauh dari lokasi ini ada sebuah batu karst yang menyerupai mulut harimau. Jalan yang menanjak dan suasana yang segar dan alami membuat Anda akan mencintai negri ini, Indonesia.

Jalan semakin menanjak dan berkelok, ada beberapa area yang rawan longsor di musim hujan. Namun aspal jalan di lokasi ini masih cukup baik dan terdapat sebuah pemandaian air panas.

Sekitar 10 menit dari pemandian air panas ini, terdapat beberapa air terjun mini dipinggir jalan. Dan salah satu yang cukup besar bernama “Curug Bedil”.

Sambil menikmati istirahat Anda, menanjaklah menikmati dinginnya air terjun.

Perjalanan kembali dilanjutkan hingga tiba di top of the top, pemandangan kota Bandung dan Padalarang sangat menakjubkan. Aliran sungai Citarum ibarat sebuah ular raksasa dan pantulan sinar matahari membuatnya semakin cantik. Sungguh sangat indah.

Dua buah bangunan mirip tugu berada didekat puncak bukit itu dan ternyata tangki pendingin turbin. Wow!! It’s a man made marvel!

Selepas dari puncak bukit yang berketinggian lebih dari 1.000 dpl., dengan menepuh waktu sekitar 20 menit dari puncak bukit Anda akan menikmati pemandangan Waduk Saguling yang mempunyai luas 6.176 hektar. Waduk ini dibangun pada bulan Agustus 1981 yang sempat menenggelamkan 31 desa. Peresmian waduk ini dilakukan oleh mantan Presiden RI, Soeharto tahun 1986. Waduk dan PLTA ini menjadi pemasok listrik untuk kota Bandung dan Jakarta setelah waduk Cirata dan Jatiluhur.

Sangat disayangkan tak ada wisatawan yang menikmati waduk yang cukup cantik ini.

Dari Saguling menuju arah pulang melewati jalur yang sama sekitar 17 km dari pintu gerbang utama. Namun, perjalanan pulang akan terasa cepat dari pemberangkatan karena jalanan menurun. Di tengah perjalanan akan terlihat sebuah jembatan cukup menarik dari atas bukit. Melewati jalanan berbatu, terdapat sebuah desa kecil dipinggir sungai Citarum.

Jembatan kecil ini menjadi penghubung dua buah desa terpencil, sementara arus air yang deras menjadi pemandangan yang luar biasa. Tempat ini sebenarnya cocok untuk lokasi rafting, karena lokasinya menawan melewati sungai kecil dengan dinding batu kapur hingga melebar dan jeram yang beragam. Seru pastinya, kalau lokasi wisata ini ada yang peduli untuk menjaga keindahan alamnya.

Sumber: Travel.Detik.Com dengan mendapat pengeditan

« Previous PageNext Page »