web analytics

Kawasan Cisangkuy Tetap Jadi Tempat Favorit Liburan

16 May 2014   63 views

taman-pustaka-bungaKawasan Jalan Cisangkuy, di sekitar Gedung Sate masih tetap menjadi favorit para pelancong dalam dan luar Kota Bandung untuk menghabiskan waktu liburan panjang.
Pantauan Tribun, kawasan Cisangkuy yang dikenal sebagai kawasan kuliner dan wisata berkuda, masih tetap dipenuhi warga yang menikmati libur terakhir long weekend ini. Bahkan saking penuhnya pengunjung, tak tersisa sedikitpun ruang untuk parkir kendaraan, baik roda dua maupun empat. Mereka yang baru saja datang dan hendak menikmati liburan di sini, terpaksa harus memutar kendaraan dan mencari tempat parkir yang jaraknya lebih jauh.
Pesona kawasan Cisangkuy yang dulu terkenal dengan Es Cisangkuy-nya memang tidak surut oleh pertumbuhan pariwisata di kawasan lain yang dewasa ini kian menggeliat. Buktinya, setiap libur panjang, kawasan Cisangkuy tetap menjadi primadona bagi mereka yang ingin menikmati jajanan khas Bandung dan wisata kuda.
Siska Mariska (31), seorang pelancong asal Kabupaten Bogor mengatakan bahwa kawasan Cisangkuy di Kota Bandung ini menjadi salah satu tujuan liburan selain menikmati belanja fesyen di beberapa factory outlet.
“Kalau ke Bandung ya sekalian aja, belanja dulu ke FO di Riau baru ke sini (Cisangkuy). Biasanya kalau ke sini buat makan aja sama nganter anak berkuda,” katanya beberapa saat lalu.
Menurut Siska, banyak obyek menarik yang ada di Kota Bandung untuk “dilahap” saat liburan panjang ini. Sehari sebelumnya, kata Siska, dia dan keluarganya juga menyempatkan diri mengunjungi sebuah wahana wisata di kawasan Gatot Subroto. (jabar.tribunnews.com)

Destinasi Selain Puncak untuk Libur Akhir Pekan

15 May 2014   48 views

cimoryKawasan Puncak yang selalu macet membuat orang enggan liburan ke sana saat akhir pekan. Jangan kuatir, masih ada destinasi lain yang bisa didatangi di sekitar Puncak yang tidak terlalu macet.

Sebenarnya kami tidak mempunyai rencana untuk ke Puncak di akhir pekan. Tujuan kami adalah Sentul. Kami pun berangkat pukul 7.30 WIB. Apabila melintasi tol Jagorawi, kami selalu menyempatkan diri untuk beristirahat di rest area setelah Sirkuit Sentul. Di sana kami menikmati tahu gejrot, ketan bakar, laksa, dan kerak telur, sambil ditemani teh poci dan udara yang cukup sejuk sambil menunggu teman yang belum sampai.

Setelah puas menikmati cemilan, kami pun melanjutkan perjalanan. Niat kami ingin ke Sentul Selatan, tetapi setelah melihat antrean di pintu keluar tol, kamipun berubah haluan ke Ciawi karena jam 9 sedang dibuka 1 way ke arah Puncak.

Kami hanya mampir ke Cimory Riverside untuk beli sosis, yogurt, dan makan siang sambil menikmati pemandangan sungai. Setelah selesai makan kami pun berencana turun ke Sentul pukul 1 siang.

Tetapi lagi-lagi kami berubah pikiran karena arah turun cukup tersendat, dan kami berpikir Sentul tidak terlalu sejuk. AKhirnya kami berbelok ke kiri sebelum Starbucks Ciawi. Tujuan kami berikutnya adalah menikmati cemilan di Restoran Alam Boriska.

Sampai di Alam Boriska kami memesan pisang bakar, colenak, kentang goreng, teh hangat, kopi hangat, dan wedang jahe. Sungguh nikmat sore hari menikmati pemandangan gunung sambil ditemani cemilan.

Karena kami penasaran ada apa di sekeliling Alam Boriska, akhirnya kami berjalan kaki menyusuri jalan menurun yang cukup terjal. Ternyata di bawah ada sungai yang cukup cantik dan dangkal. Akhirnya kami berfoto-foto di sungai itu, sambil menikmati air yang segar. Setelah puas kami kembali ke restoran, berganti baju dan bersiap pulang.

Malam hari kami melanjutkan perjalanan ke Bogor dan menikmati makan malam di saung lesehan Restoran De’Leuit dengan menu ikan gurame goreng dan bakar, udang telur asin, taoge cah ikan asin, pepes tahu, teh hangat, sambil menikmati suara musik Sunda.

Pukul 20.00 WIB pun kami pulang ke Jakarta. Akhir pekan yang menyenangkan. Bisa menikmati udara segar Puncak tanpa terjebak kemacetan yang berarti dan menikmati makanan yang lezat. (travel.detik.com)

Keajaiban Menakjubkan Danau Gunung Berapi

9 May 2014   105 views

SAMSUNG CSCDANAU Toba merupakan keajaiban alam menakjubkan di Pulau Sumatera. Sulit membayangkan ada tempat yang lebih indah untuk dikunjungi di Sumatera Utara selain danau ini.
Suasana sejuk menyegarkan, hamparan air jernih membiru, dan pemandangan memesona pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari imaji danau raksasa yang berada 900 meter di atas permukaan laut itu. Dilansir dari laman Indonesiatravel, Danau Toba adalah danau berkawah seluas 1.145 kilometer persegi. Di tengahnya berdiam sebuah pulau dengan luas yang hampir sebanding dengan luas negara Singapura.

Danau Toba sebenarnya lebih menyerupai lautan daripada danau mengingat ukurannya. Oleh karena itu, Danau Toba ditempatkan sebagai danau terluas di Asia Tenggara dan terbesar kedua di dunia sesudah Danau Victoria di Afrika. Danau Toba juga termasuk danau terdalam di dunia yaitu sekira 450 meter.

Danau Toba diperkirakan para ahli terbentuk setelah letusan gunung api super sekira 73.000-75.000 tahun lalu. Saat itu 2.800 km kubik bahan vulkanik dimuntahkan Gunung Toba yang meletus hingga debu vulkanik yang ditiup angin menyebar ke separuh wilayah Bumi. Letusannya terjadi selama sepekan dan lontaran debunya mencapai 10 kilometer di atas permukaan laut.

Akibat letusan gunung api super, Gunung Toba diperkirakan telah menyebabkan kematian massal dan kepunahan beberapa spesies mahluk hidup. Letusan Gunung Toba telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca bumi dan mulainya masuk ke zaman es sehingga mempengaruhi peradaban dunia.

Bagi masyarakat sekitar Danau Toba memiliki sejarah magis yang dipercayai sebagai tempat tinggal Namborru (tujuh dewi nenek moyang Suku Batak). Apabila suku Batak akan melakukan upacara di sekitar danau, maka mereka harus berdoa dan meminta izin Namborru terlebih dahulu.
Pulau Samosir adalah pulau yang unik karena merupakan pulau vulkanik di tengah Danau Toba. Ketinggiannya 1.000 meter di atas permukaan laut. Meskipun telah menjadi tempat tujuan wisata sejak lama, Samosir merupakan keindahan alam yang belum terjamah.

Di tengah Pulau Samosir ini masih ada lagi dua danau indah yang diberi nama Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Daerah sekitar Danau Toba memiliki hutan-hutan pinus yang tertata asri. Di pinggiran Danau Toba terdapat beberapa air terjun yang sangat mempesona. Di sekitar Danau Toba juga akan Anda dapati tempat pemandian air belarang.

Di Pulau Samosir Anda juga dapat menemukan pegunungan berkabut, air terjun yang jernih untuk berenang, dan masyarakat peladang. Keramahan masyarakat Batak pun akan memikat Anda karena kemanapun Anda pergi maka dengan segera dapat menemukan teman baru.

Di Kota Parapat yang merupakan semenanjung yang menonjol ke danau Anda dapat Anda nikmati pemandangan spektakuler Danau Toba. Parapat dihuni masyarakat Batak Toba dan Batak Simalungan yang dikenal memiliki sifat ceria dan mudah bergaul, terkenal pula senang mendendangkan lagu bertema cinta yang riang namun penuh perasaan.

Kini, Danau Toba menjadi salah satu tujuan wisata terbaik di Indonesia. Tempat dimana Anda dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk menikmati keindahan alam seperti mendaki gunung, berenang, atau berperahu layar. Udaranya bersih dan sejuk harmonis dengan suasana santai masyarakatnya yang ramah.

Banyak wisatawan lebih memilih tinggal di Pulau Samosir di tengah danau. Sebagai tempat tinggal asli masyarakat Batak Toba, Pulau Samosir memiliki bekas peninggalan zaman purbakala di antaranya ialah kuburan batu dan desa-desa tradisional. Di pulau ini Anda dapat menemukan kebudayaan Toba yang unik dan kuno. Amati juga arsitektur tradisional rumah Batak Toba yang majemuk.

Keindahan alam Pulau Samosir mengartikan bahwa pulau ini adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi dan menghindari kepenatan rutinitas. Samosir mudah dijangkau oleh kapal ferri dari Parapat. Di Tomok juga terdapat Makam Raja Sidabutar, yang usianya sudah 500 tahun. Juga terdapat Patung Sigale-Gale yang bisa menari.

Jika Anda merasa bersemangat di Parapat ada banyak fasilitas untuk berenang, bermain ski air, mengendarai motor boat, menaiki kano, memancing dan bermain golf. Dari Parapat Anda dapat berjalan-jalan santai di bukit Sungai Naborsahon dimana Anda akan melihat bunga bugenvil, pointetties, honey suckle yang spektakuler berbunga sepanjang tahun. Banyak pengunjung yang datang menghabiskan waktu di danau dengan berenang di air yang menyegarkan atau menyewa perahu layar mengelilingi danau yang besar tersebut.

Tidak perlu khawatir tersengat sinar matahari karena iklim di sini sejuk dan kering dengan pemandangan danau yang indah, tempat ini adalah tempat yang ideal untuk bersantai. Sambil melihat matahari terbenam di Danau Toba adalah cara yang sempurna untuk bersantai dan menghabuskan waktu bersama orang yang Anda sayangi.

Di Samosir, Anda juga dapat berjalan-jalan ke pedalaman dan menjelajahi dua danau yang lebih kecil, yaitu Danau Sididhoni dan Aek Natonang. Jika Anda masih belum merasa puas dengan suasana di Samosir, jelajahi pedalaman dengan trekking ke dataran tinggi. Sebaiknya tanya hotel atau masyarakat setempat tentang rutenya karena jalannya terkadang berlumpur dan licin tergantung cuaca.

Jika Anda tertarik dengan sejarah maka kunjungi komplek pemakaman Raja Sidabutar dimana dapat melihat peninggalan budaya megalit yang unik. Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan dan masyarakat Batak, kunjungilah desa tradisional Jangga penghasil kain ulos yang berjarak sekitar 24 km dari Parapat. Di tepi Danau Toba juga terlihat Wisma Soekarno, tempat Presiden pertama Indonesia diasingkan, dengan desain bangunan yang dicat warna putih nan megah.
(okezone.com)

Jabartravel: Mari Menantang Gelombang di Laut Tenang

29 April 2014   59 views

surfingSEBAGAI salah satu surga bagi para peselancar, Batu Karas merupakan campuran dari pantai Batu Hiu dan pantai Pangandaran. Pantai ini cocok untuk berenang dan berselancar, karena Batu Karas tidak hanya menawarkan air yang tenang tetapi juga gelombang yang menantang.
Merupakan perpaduan yang cantik dan harmonis. Beberapa orang menyebutnya sebagai Bali kecil, karena menawarkan pengalaman yang sama tetapi sedikit tantangan. Terletak sekitar 40 kilometer atau satu jam perjalanan dari Pangandaran, pantai berpasir hitam yang cantik ini merupakan tempat liburan yang sempurna karena suasananya yang sepi dibanding dengan Pangandaran atau bahkan Bali.

Seperti yang dilansir dari Indonesiatravel, Batu Karas sudah populer di kalangan para peselancar, nasional dan internasional. Selain pantainya yang relatif datar, Batu Karas juga memiliki teluk kecil, sehingga peselancar tidak perlu mendayung terlalu jauh ke titik awal gelombang datang. Untuk pemula ada banyak tempat penyewaan perlengkapan berselancar sekaligus dengan instruktur yang berpengalaman yang dapat mengajarkan segala hal yang harus Anda ketahui tentang berselancar. Jadi, tidak peduli apakah Anda seorang peselancar profesional atau tidak pernah berselancar atau tidak sama sekali, Anda masih bisa mencoba menangkap gelombang Batu Karas yang indah.

Umumnya, ada tiga tempat berselancar yang biasa dikenal di kalangan peselancar; Karang, Legok Pari dan Bulak Bendak. Karang, secara harfiah berarti batu, yang mungkin berasal dari banyak batu yang terletak pantai ini, kesempatan berselancar di pantai ini hanya didapat ketika air sedang pasang. Legok Pari adalah tempat berselancar paling favorit dan pantai yang sempurna untuk pemula karena pantai ini relatif aman dan ombak tidak terlalu tinggi. Untuk peselancar profesional, Bulak Bendak adalah tempat yang mereka pilih. Di sini, gelombang dapat menciptakan dinding panjang dan tinggi. Untuk sampai Bulak Bendak Anda harus naik perahu dengan biaya sekitar Rp200.000,00.

Batu Karas tidak hanya bisa dinikmati dengan berselancar saja, tapi tempat dimana Anda bisa menikmati Jet Ski, banana boat dan naik kereta kuda di tepi pantai. Namun itu hanya beberapa contoh yang bisa Anda lakukan di pantai ini. Bagi mereka yang suka berpetualang, Batu Karas menawarkan beberapa tempat yang cocok untuk berkemah dan hiking. Untuk petualangan lebih menantang, Anda dapat meminta penduduk lokal untuk membawa Anda ke Karang Nunggal, sebuah pantai terpencil dengan pemandangan spektakuler yang dihiasi oleh batu besar dan tinggi.

Batu Karas adalah tempat liburan yang tepat bagi siapa pun. Berjalan di pantai saat matahari terbenam, menikmati kopi di “warung” di sore hari, menghabiskan hari dengan menonton anak-anak Anda membangun istana pasir di pantai atau hanya sekedar berjemur sambil bermandikan cahaya matahari.

Berselancar mungkin yang pertama terlintas di benak Anda ketika mendengar Batu Karas, dan jika Anda tidak bisa berselancar, Anda bisa belajar di pantai ini. Dengan begitu banyak jenis gelombang dan tempat untuk dipilih, berselancar di Batu Karas tidak hanya menarik, tapi juga menyenangkan.

Ada beberapa jenis olahraga air dan aktivitas pantai yang juga dapat Anda lakukan di pantai seperti jet ski, naik banana boat, snorkeling, memancing, berenang, naik andong di tepi pantai dan bersenang-senang di pantai dangkal. Ada juga tempat di mana Anda bisa berkemah dan hiking atau melakukan sedikit jelajah hutan.

(Okezone)

Orang – Orang Australia yang Cinta Setengah Mati kepada Indonesia

29 April 2014   75 views

turisMakin banyak orang Australia yang mencintai Indonesia. Sebagian di antara mereka memosisikan Indonesia sebagai tanah air kedua. Berikut laporan wartawan Jawa Pos DWI SHINTIA IRIANTI yang mengikuti media visit program BRIDGE (Building Relation Through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) di Australia.

RAMBUT pirangnya yang panjang diikat dengan karet rambut warna senada. Senyumnya mengembang dengan ramah saat disapa. “Sangat senang bertemu Anda,” kata Charlotte Bowen sambil menjabat tangan Jawa Pos saat dijumpai di Tranby College di kawasan Baldivis, sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kota Perth, Australia Barat, awal pekan lalu

Bowen adalah alumnus Tranby College yang kini sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Asian studies di Universitas Murdock Perth.

Dalam pertemuan itu, Bowen tampak berusaha keras untuk membalas semua pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia. Tapi, dia kemudian menyerah setelah beberapa kali gagal menyelesaikan kalimat.

Mengenakan little black dress yang dilapisi coat batik, Bowen adalah warga Perth yang mengklaim mencintai Indonesia. Lebih spesifik, Surabaya. “Kalau punya kesempatan, saya akan tinggal di sana suatu hari nanti,” katanya berapi-api. Penggemar nasi pecel dengan lauk ayam goreng itu merupakan satu di antara seratus lebih siswa Tranby College yang memulai perkenalan dengan Indonesia lewat program BRIDGE antara Australia dan Indonesia. Memulai program belajar pada Desember 2012, Bowen langsung kembali ke Surabaya pada Maret 2013. Kecintaannya terhadap Surabaya kali pertama muncul gara-gara donat.

“Di dekat hotel tempat saya tinggal kali pertama di Surabaya, ada mal yang menjual donat yang amat sangat lezat. Bila membeli beberapa buah, saya bisa dapat gratis donat lainnya,” ceritanya sambil menyebut salah satu gerai donat berlabel asing, namun dimiliki pengusaha Indonesia tersebut.

Dengan donat itu dan hal-hal seru lain yang dialami selama tiga bulan di Surabaya, Bowen lalu menetapkan diri bahwa Surabaya adalah rumah keduanya.

Untuk itu pula, akhir tahun lalu dia memutuskan kembali ke Surabaya. “Saya menganggap sudah menghabiskan separo persediaan donat di Surabaya. Demikian pula dengan nasi pecel. Saya juga mendapatkan banyak kesenangan dari Surabaya. Karena itu, saya harus membalas kebaikan mereka itu,” katanya dengan gaya bercanda.

Karena itu, pada kedatangannya yang ketiga pada akhir 2013, Bowen memutuskan untuk terlibat dalam salah satu grup sosial yang ditemukannya via jejaring sosial. “Kami mengumpulkan donasi, kemudian donasi itu dibelikan berbagai keperluan untuk anak-anak jalanan. Dari situ, kecintaan saya kepada Surabaya semakin besar. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih,” ulasnya.

Begitu kembali ke Australia, Bowen semakin aktif terlibat dalam berbagai event yang berhubungan dengan budaya dan bahasa Indonesia. Termasuk membantu program BRIDGE yang berlangsung pada Maret ini.

Program BRIDGE yang didukung Kedutaan Besar Australia di Jakarta memang memungkinkan siswa-siswi Tranby Collage mencicipi pendidikan di SMA Negeri 5 Surabaya. Demikian pula sebaliknya, siswa-siswi SMA Negeri 5 Surabaya berkesempatan untuk bersekolah di sana.

“Ke depan saya bergabung dengan AIYA, Australia Indonesia Youth Association, Perth. Dua teman dekat saya, Fiona Bettesworth dan Michael Peck, lebih dulu bergabung,” katanya.

Kecintaan mereka terhadap Indonesia tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Vicky Richardson. Richardson yang lebih akrab dipanggil Ibu Vicky adalah guru bahasa Indonesia di Tranby Collage. Sama dengan Bowen, Vicky memulai kecintaannya pada Indonesia sejak pertama menginjakkan kaki di Bali pada 1982 alias 32 tahun silam. “Saya jatuh cinta kepada negara Anda,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Perempuan yang sudah dipenuhi keriput di wajah namun tetap semangat itu pun memutuskan akan menghabiskan masa pensiun di Surabaya. ”Tidak butuh waktu lama naik pesawat dari Perth ke Bali. Dalam 45 menit, bahkan kurang, anak dan cucu saya sudah bisa mengunjungi saya di Surabaya,” katanya berbinar.

Sampai sekarang Vicky sudah 60 kali melakukan perjalanan ke Indonesia, 12 kali di antaranya ke Surabaya. “Surabaya adalah rumah kedua saya. Saya punya sahabat di sana. Di sana pula nanti saya akan tinggal,” ujarnya, kemudian menyebut nama Ibu Anis sebagai sahabatnya. Anis adalah mantan wakil kepala SMA Negeri 5 Surabaya.

Kedekatan Vicky dengan Anis juga terjalin lewat program BRIDGE. Lewat program itu, dia mengenal dengan baik Abdul Latif, guru bahasa Indonesia dari SMA Negeri 5. Vicky dan Abdul Latif adalah dua pionir yang membuat program BRIDGE berlangsung sukses sejak 2010.

“Saya melakukan persiapan untuk menjalankan BRIDGE sejak 2008. Pada 2009 saya ketemu Latif. Lewat kerja keras, angkatan pertama BRIDGE SMAN 5 Surabaya-Tranby College berlangsung. Saat itu SMAN 5 yang pertama mengirim siswa ke Australia,” kenangnya. Setahun kemudian, pada 2010, giliran siswa Tranby yang belajar di Surabaya.

Menurut Vicky, tidak sedikit siswa Tranby yang tertarik mengikuti program BRIDGE untuk belajar di Surabaya. Namun, tidak semua diterima. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah siswa mesti mengikuti kelas bahasa Indonesia setelah kelas VIII. Memang bahasa Indonesia sudah masuk kurikulum di sekolah-sekolah Australia. Biasanya bahasa Indonesia diajarkan mulai kelas I sampai kelas VIII. Setelah itu, siswa boleh memilih mengambil bahasa Indonesia lagi atau tidak. Nah, untuk bisa mengikuti BRIDGE, siswa harus tetap mengambil mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IX hingga XII.

Mengapa Vicky begitu mencintai Indonesia? “Kita adalah tetangga yang paling dekat. Kita harus saling mengenal satu sama lain. Kalau tak kenal, maka tak sayang,” ujarnya bersemangat.

Pernyataan senada diucapkan Karen Baily saat menjadi keynote speaker dalam networking event yang diadakan di Konsulat Jenderal Indonesia di Perth. Baily adalah board member di Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP). Jawa Pos yang hadir bersama rombongan international media visit yang dihelat Kedutaan Besar Australia di Jakarta melihat semangat Baily yang menggebu-gebu dalam mengenalkan bahasa Indonesia di Australia.

“Kita adalah negara bertetangga yang paling dekat. Untuk memahami tetangga, kita harus mengenal mereka. Perkenalan itu bisa dimulai dari bahasa,” kata perempuan yang menjabat kepala bagian bahasa di Sekolah Pendidikan Jarak Jauh di Perth itu.

“Perth lebih dekat ke Bali daripada ke Sydney. Jadi, Indonesia adalah tetangga sebenarnya,” lanjutnya. Saking cintanya kepada Indonesia, Baily mengaku pernah dianggap gila.

Saat pemerintah Australia memutuskan untuk mengurangi jam pelajaran bahasa Indonesia yang semula hingga kelas XII sekarang cukup sampai kelas VIII, Baily sangat menyesalkan. Akibatnya, banyak sekolah yang tidak lagi menyelenggarakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa kelas VIII ke atas.

“Para kepala sekolah menganggap bahasa Indonesia tidak lagi penting diajarkan. Mereka berhenti mengajarkan bahasa Indonesia pada kelas VIII,” tuturnya.

Untuk meraih simpati para kepala sekolah lagi, Baily bersama BBIP kemudian membawa beberapa kepala sekolah untuk mengunjungi Indonesia. Di Indonesia mereka mengunjungi sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, seni, dan kebudayaan yang menunjukkan kekayaan Indonesia.

“Seusai program itu, pikiran para kepala sekolah terbuka. Beberapa di antara mereka akhirnya kembali mengadakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa di atas kelas VIII,” katanya.

Baily menambahkan, dengan mengenal satu sama lain, prasangka buruk yang terjadi antara Indonesia-Australia bisa terkurangi. “Kita harus menghilangkan kesan negatif tentang Indonesia. Indonesia pun demikan, harus menghapuskan kesan yang sama tentang kami,” ujarnya.

(JPNN)

Mengagumi Keindahan Pantai Sulamadaha

25 April 2014   48 views

pantai-ternateTERNATE, kota yang berada di atas pulau gunung berapi di Provinsi Maluku Utara, tidak hanya menyimpan kearifan budaya dan tradisinya. Kota yang masih memiliki Kesultanan ini pun ternyata memiliki keindahan alam yang menjadi ciri khas daerah Indonesia timur. Langit biru, air laut sebening kaca, keindahan terumbu karang dan pasir putihnya.

Pantai Sulamadaha di Ternate seakan menjadi rangkuman keindahan-keindahan tersebut. Berjarak sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kota Ternate, Pantai Sulamadaha kini menjadi obyek wisata favorit dan wajib dikunjungi bagi para pecinta bahari.

Pantai Sulamanda memiliki bentuk U. Pantainya tidak terlalu luas tapi memberi kesan private karena di sekeliling pantai ada tebing tinggi menjulang yang ditumbuhi pepohonan rindang. Dari tempat parkir pengunjung masih harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk mencapai pantai ini. Jadi pengunjung tidak akan menemukan mobil yang diparkir di pinggir pantai sehingga sungguh membuat pantai ini asri.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jalan menuju Pantai Sulamadaha sedikit menanjak dan sedikit menguras tenaga. Tapi semua itu terbayar ketika tiba di pantai ini. Pengunjung akan disambut dengan hamparan pasir putih, dan beningnya air laut yang bergadrasi warna hijau muda ke biru tua.

Jangan pernah ragu untuk berenang di pantai ini, kejernihan dan airnya nan sejuk membuat betah berlama-lama di dalam air. Yang menarik, di pantai ini pengunjung bisa berjalan hingga 20 meter ke tengah laut karena ada gugusan terumbu karang yang luas di pantai ini. Jika tidak bisa berenang, pengunjung bisa menyewa pelampung seharga Rp 10.000.

Malas berenang? Pengunjung tetap bisa menikmati kejernihan air laut dengan berperahu. Hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 30.000, pengunjung bisa menyewa perahu dengan kapasitas 3-4 orang dan mendayung ke tengah lautan. Jangan khawatir dengan gelombang, bentuk pantai yang seperti huruf U ini membuat air laut pantai ini tenang.

Pantai ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Ternate. Selain perairannya yang tenang, pantai ini juga memiliki keindahan terumbu karang dan ikan.
Jangan buru-buru pulang setelah mengagumi keindahan pantai Sulamadaha. Pengunjung bisa duduk sejenak di warung yang ada di pinggir pantai. Ayub (50) merupakan salah satu yang memiliki warung di pantai ini. Dia bersama sang istri menjual makanan dan minuman bagi pengunjung. Menurut Ayub, akhir pekan merupakan hari yang sibuk karena pantai ini akan dipadati pengunjung.

“Jadi selain jual makan saya juga buka fasilitas kamar mandi untuk bilas atau ganti baju. Jangan khawatir kalau lupa bawa celana pendek atau alat snorkeling, kita juga sewakan barang-barang macam itu,” kata Ayub.
(sumber:kompas.com)

Wahana Wisata Air Waterland Cicurug

21 April 2014   1,150 views

cicurugWahana Wisata Air Murah Meriah Waterland Cicurug Lantaran sedang diminati, tempat wisata air ini makin menjamur di berbagai wilayah. Salahsatunya Waterland Cicurug di Perum Griya Benda Asri, di jalur Bocimi, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Waterland Cicurug cukup strategis dan mudah dijangkau baik dari arah Sukabumi maupun dari arah Bogor dan Ciawi. Taman wisata ini memiliki luas lebih kurang 2 hektare, lengkap dengan sejumlah fasilitas yang nyaman untuk bersantai penuh keceriaan bagi keluarga dan semua usia.
“Waterland Cicurug merupakan waterpark pertama di Sukabumi, dilengkapi 24 saung santai atau gajebo, warung jajanan, petugas keamanan, papan seluncur, permainan bola air, kolam renang, live music, dan lain-lain. Bahkan ke depannya, kami akan membangun fasilitas karaoke dengan 8 room terbaik,” kata Manager Waterland Cicurug, Willi, kepada Jurnal Bogor.
Selain itu, Waterland Cicurug yang baru beroperasi 8 bulan ini menyediakan 7 kolam dan 3 wahana air seperti toddler pool (kolam anak), racer side (seluncur), futsal air, kiddy pool, dan sedang dibangun outbound, dan kolam air hangat.
Soal tariff juga cukup terjangkau. “Hari biasa Senin-Jumat 15.000 dan hari libur Sabtu-Minggu 25.000. Kemungkinan ke depan bila wahana baru makin lengkap tarifnya akan naik 5000 an,” pungkasnya.

(Jurnal Bogor)

Obyek Wisata Tradisonal yang Butuh Penataan Pemerintah

17 April 2014   76 views

wisata 1Di wilayah barat Kab. Sumedang, terdapat sejumlah objek wisata alam terbuka yang belakangan ini menjadi perhatian publik. Di antaranya di Kec. Cimanggung terdapat kawasan wisata rumah adat Cigumentong, yang berada di kawasan Gunung Kareumbi Masigit, Desa Sindulang. Kawasan kampung adat itu membutuhkan sentuhan dan penataan dari pemerintah.

Di wilayah barat lainnya, di Kec. Sukasari, juga menawarkan kawasan wisata alam terbuka. Di antaranya tempat wisata alam Waru Beureum di Desa Sindangsari. Bumi Kahiangan di Desa Sindangsari, Puncak dan Cipacet di Desa Genteg, Malaka di Desa Banyu Resmi, Guha tempat wisata rohani di Desa Mekarsari dan Kampung Bako di Desa Sukasari dan Kampung Maduhur, sebagai kawasan penghasil alat musik tradisional sunda Karinding.

Di Kec. Sukasari juga memiliki kawasan Bumi Perkemahan Kiara Payung, yang menjadi tempat konsentrasi kegiatan nasional. Selama ini daerah itu sering disebut-sebut kalangan publik masuk Kec. Jatinangor, namun secara teritorial masuk ke Kec. Sukasari. Tempat wisata alam terbuka itu menjadi kebanggaan warga setempat.

Camat Sukasari Atang Sutarno, menyatakan, pihaknya terus melakukan pembenahan dan penataan dalam berbagai pembangunan di kawasan wisata alam terbuka. Dengan harapan, melalui penataan itu dapat memajukan potensi daerah dan dapat mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) melalui objek wisata alam terbuka itu.

“Di wilayah kami banyak tempat wisata alam terbuka yang bisa dikunjung masyarakat,” kata Atang kepada wartawan di Sukasari, Jumat (7/3/14). Atang menyatakan, sebagai daya tarik wisata Sukasari itu karena memiliki daerah sebagai cikal bakal pengrajin alat kesenian tradisional Karinding.

“Desa Sukarapih sebagai pusat pembuatan alat musik tradisional karinding. Penjualannya sempat ke Singapura dan negara lainnya,” kata Atang.

Dengan adanya pembuatan karinding itu, kata dia, Sukasari sebagai tempat wisata seni dan rohani. Apalagi di wilayah tersebut ada lokasi goa yang bisa dikunjungi masyarakat.

“Goa itu dibuat pada zaman Jepang, sehingga keberadaanya perlu dilestarikan karena merupakan peninggalan sejarah,” katanya.

Ia mengatakan, penataan goa itu perlu dilakukan untuk menarik minat kunjungan wisatawan.

Sementara itu, Kepala Desa Sindulang, Edi Mulyana menyatakan, kawasan Kampung Wisata Cigumentong hingga kini masih minim sentuhan pembangunan dan penataan dari pemerintah terkait. Di lokasi itu terdapat rumah adat yang mencapai 17 unit dengan kondisi bangunan serba tradisional.

“Pemerintah terkait diharapkan bisa memperhatikan tempat wisata alam kampung adat tersebut. Selain melakukan penataan, juga dibarengi dengan pengguliran anggaran untuk pembangunan,” harap Edi.

Kampung Adat Cigumentong berada di pelosok Kec. Cimanggung. Dari kawasan Parakanmuncang, jaraknya sekitar 20 km dan berada di atas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

“Kampung Cigumentong sangat cocok dijadikan sebagai pusat kegiatan alam terbuka atau outbond,” katanya.

Menurutnya, pada 2005 Kampung Cigumentong mendapat bantuan listrik tenaga surya untuk penerangan di kawasan itu. Bantuan turbin pun sempat digulirkan ke kampung itu.

“Kampung Cigumentong mulai dihuni sejak 1884 saat penjajah Belanda membangun jalan ke perkebunan di Gunung Kareumbi Masigit yang ada di kawasan kampung itu,” katanya.

Ia juga menjelaskan wisatawan yang pernah berkunjung ke Kampung Cigumentong, tak hanya warga lokal. Dari mancanaga juga banyak yang datang. Di antaranya asal Swiss, Saudi Arabia, Jerman, Belanda, Palestina, Yugoslavia.

(Galamedia.com)

Wisata yang Beda Banget di Pangandaran, Hutan Mangrove

15 April 2014   82 views

mangrovePangandaran – Tidak jauh dari Pantai Pangandaran, ada objek wisata yang tidak kalah menarik yaitu hutan mangrove. Suasananya yang asri dan hijau membuat pengunjung betah di sini. Apalagi, ada pantai juga lho di ujung hutan!

Tahun 2006, Pangandaran disapu tsunami dan meninggalkan trauma cukup mendalam bagi para masyarakat maupun pengunjung. Tidak ingin terulang, beberapa kelompok membuat kawasan Bulak Sentra sebagai green belt.

STREAM (Sustainable Tourism trough Every Efficiency with Adaption and Mitigation Measures) yang mendapat bantuan dari UNWTO (United Nations World Tourism Organization) pun membuat Bulak Sentra sebagai hutan mangrove. Dahulu, kawasan ini masih ditinggali penduduk dan belum terlalu banyak pepohonan mangrovenya.

Tapi kini, tempat ini sudah bebas dari rumah penduduk, dan pohon mangrove pun sudah berjejer kokoh seakan siap melindungi Pangandaran. Kawasan yang berada di Desa Babakan, Pangandaran ini tidak hanya dijadikan area untuk meminimalisasi bencana alam saja, tapi juga wadah edukasi dan pariwisata.

Meski tidak bisa langsung didatangi, melainkan dengan reservasi, namun wisata ke hutan mangrove bisa menjadi opsi liburan beda saat di Pangandaran. Di sana, ada jembatan bambu yang bisa membawa Anda menjelajah hutan mangrove nan hijau. detikTravel menjelajah kawasan ini akhir pekan kemarin.

Jika ingin lebih seru, bisa juga turut menanam pohon mangrove lho! Namun, hanya 10 orang per hari yang bisa menanam ini. Bukan apa-apa, karena kawasan ini memang tidak untuk mass tourism. Sehingga, keasriannya bisa tetap terjaga.

Untuk menjelajah hutan, bisa dilakukan dengan menaiki perahu. Dari sana, Anda akan diantar ke trail jembatan bambu untuk menjelajah hutan, atau ke kawasan untuk menanam mangrove. Di sana, ada pula pantai cantik dengan bibir pantai lebar yang bisa dijadikan tempat bermain. Seru! (sumber:detik.com)

Curug Baligo Perlu Pengelolaan Profesional

13 April 2014   82 views

curugbaligoCurug Baligo, yang terletak di Blok Baligo, Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, adalah salah satu objek wisata air terjun di Kabupaten Majalengka, namun keberadaannya belum banyak dikenal masyarakat, bahkan masyarakat Majalengka itu sendiri.

Hal itu mungkin karena keberadaan objek wisata ini belum dikelola dengan baik dan profesional sehingga masyarakat tidak banyak yang tahu. Atau mungkin juga karena curug tersebut adanya di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai dan tanah milik masyarakat sehingga menyulitkan pengelolaan.

Menurut sejumlah warga di Desa Padaherang, sebetulnya bila objek wisata tersebut dikelola dengan baik dan profesional akan banyak pengunjung. Saat ini pun pada hari libur tidak kurang dari 300 hingga 500 orang per hari.

“Kunjungan hari libur lumayan banyak, kami bisa berjualan minuman dan makanan serta mi rebus,” ungkap Oneng salah seorang pedagang makanan di dekat curug.

Sementara ini pengunjung ke curug tersebut baru berasal dari kalangan remaja, seusia SMP, SMA atau mahasiswa, dan kebanyakan pengunjung anehnya bukan berasal dari warga Majalengka melainkan dari wilayah Cirebon dan Indramayu. Terlihat dari bahasa pengantar yang mereka gunakan pada umumnya bahasa Cirebon dan Indramayu.

Untuk menempuh ke Curug tersebut, bisa dijangkau dari Lengkong Wetan, kemudian menuju Bumi Perkemahan Cipancar. Dari arah tersebut belok kearah kiri menuju Desa Padaherang. Tidak banyak penunjuk arah menuju lokasi wisata tersebut malah nyaris tidak ada penunjuk arah, sehingga bagi pengunjung baru harus banyak bertanya, termasuk bila sudah sampai di Desa Padaherang.

Pengelola objek wisata Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) nampak hanya memungut retribusi masuk. Bagi pengunjung yang membawa kendaraan roda dua ataupun roda empat harus mencari lahan parkir sendiri di pekarangan warga, Karena berbagai keterbatasan tersebut tidak tampak bahwa di desa tersebut ada objek wisata.

Dari pemberhentian atau lokasi parkir, untuk mencapai ke lokasi curug harus menempuh jarak sekitar 700 meteran, pengunjung melintasi pekarangan penduduk, setelah itu menuruni tangga yang sudah di tembok kasar selebar kurang lebih 50 cm. Tangga tersebut menurut Oneng, Uci dan Inoh dibangun oleh salah seorang pengusaha dari Majalengka menjelang Pemilukada Bupati beberapa waktu lalu, itupun tidak sampai di lokasi hanya sekitar 500 meteran. Sebelumnya untuk menuju lokasi melintasi jalan setapak menyusiri pematang sawah dan kebun warga tak heran bila hujan jalanan licin.

Namun kondisi tersebut akan terobati setelah berada di sungai kecil di bawah curug yang ketinggiannya mencapai kurang lebih 100 meteran. Beberapa meter dari curug air sudah terasa seperti embun. Air curug megalir di sungai selebar 5 meteran.

Air sungai tersebut menurut warga setempat, meski hujan tak pernah kerung, air tetap bening, karena air berasal dari mata air pengunungan, selain itu di sungai banyak bebatuan yang mungkin bisa menjerihkan air sungai. Lokasi curug itu sendiri diapit oleh dua bukit yakni Bukit Baligo dan Bukit Padabeunghar yang arealnya masuk ke wilayah Kabupaten Kuningan. Dedahanan dari kiri dan kanan sungai rimbun menaungi sisi sungai.

Pengunjung yang ingin mandi menikmati jernihnya air sungai, bisa leluasa karena disana juga terdapat kubangan air yang besar (sunda:leuwi) yang dari kanan dikiri terdapat batu besar sehingga walapun mandi dengan setengah telanjang akan tertutup dari penglihatan orang.

Kepala Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Kabupaten Majalengka Hj.Suratih Puspa ketika dimintai konfirmasi hal tersebut membenarkan kalau Curug Baligo belum dikelola dengan baik, sehingga keberadaannya tak banyak dikenal. Pihaknya berjanji kedepan akan berupaya menata kawasan tersebut yang kemungkinan penataan dan pengelolaannya dikerjasamakan dengan TNGC dan Kompepar sehingga bsia saling bersinergi.

Sumber: pikiran-rakyat.com

« Previous PageNext Page »