web analytics

PT. Indonesia Power Akan Kelola Bendungan Rengrang

IMG_3597PT Indonesia Power (IP) selaku anak perusahaan PT PLN Persero, rencananya akan mengelola sumber daya air Bendung Rengrang di Kec. Paseh. Bahkan pengelolaan oleh IP, dinilai lebih baik ketimbang BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Kementerian Pekerjaan Umum yang akan membangun Bendung Rengrang tersebut.

Pasalnya, IP akan lebih menjaga kuantitas dan kualitas air bendung untuk kepentingan pengoperasian turbin PLTA. Jika PLTA jadi dibangun di Bendung Rengrang, akan menghasilkan tenaga listrik hingga 10 MW (Mega Watt).

“Memang, sumber daya air di Bendung Rengrang lebih baik dikelola oleh PT Indonesia Power ketimbang BBWS,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kab. Sumedang, Dr. Ir. Sujatmoko di kantornya, Senin (17/6/2013).

Menurut dia, kelebihan dan manfaat jika air Bendung Rengrang dikelola IP, ketersediaan dan kualitas airnya akan lebih terjaga dan terpelihara. Sebab, IP sangat membutuhkan kondisi air seperti itu untuk mengoptimalkan turbin PLTA hingga menghasilkan tenaga listrik yang maksimal.

“Kalau volume airnya kurang atau airnya kotor, tentunya akan mengganggu pengoperasian turbin sehingga akan memengaruhi pasokan listriknya. Oleh karena itu, IP akan memelihara kondisi air Bendung Rengrang,” ujarnya.

Sujatmoko menuturkan, selain berkepentingan untuk pengoperasian PLTA, IP juga akan menjaga kuantitas dan kualitas air untuk kepentingan pasokan air irigasi guna mengairi pesawahan para petani. Pengairan irigasi itu menjadi tujuan utama pembangunan Bendung Rengrang.

“Jadi, kalau air Bendung Rengrang ini dikelola oleh IP, akan memiliki efek domino. Selain bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, juga irigasi. Sedangkan oleh BBWS, kepentingannya hanya sebatas pengairan irigasi saja. Rencana pengelolaan air Bendung Rengrang oleh IP, hampir mendekati positif. Bahkan pihak IP sendiri sudah beberapakali mengikuti rapat,” tuturnya.

Terkait pembangunan Bendung Rengrang, lanjut dia, hingga kini masih proses pengkajian DED (Detail Enginering Design) oleh BBWS Kementerian PU. Bendung Rengrang akan membendung Sungai Cipeles di wilayah Kec. Paseh untuk mengairi 3.826 hektare areal pesawahan di Kec. Paseh, Conggeang dan Ujungjaya. Pembangunan fisiknya ditargetkan mulai tahun 2014 nanti.

“Mengingat Bendung Rengrang ini kompensasi dari pembangunan Waduk Jatigede, sehingga yang membangunnya pemerintah pusat yakni BBWS. Terlebih berdasarkan aturan, bendung yang mengairi pesawahan di atas 3.000 hektare menjadi kewenangan pusat. Oleh karena itu, pemerintah pusat harus serius membangun Bendung Rengrang,” tutur Sujatmoko. (A-67/A-89)***

sumber:pikiran-rakyat.com

Tembok Penahan Arus Anak Sungai Cisanggarung Kuningan Ambrol

February 1, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Kuningan

Bangunan tembok penahan gerusan air terhadap lahan permukiman warga Desa Mulyajaya, Kec. Cimahi, Kab. Kuningan di tepi anak Sungai Cisanggarung ambrol dihajar luapan arus air sungai tersebut. Akibatnya, beberapa rumah dan lahan permukiman penduduk di desa itu, kini kembali terancam tergusur gerusan arus sungai tersebut.

“Kalau tidak segera ditangani, saya memprediksi satu kali lagi terjadi luapan sungai saja, seluruh bangunan tembok penahan tebing (TPT) sepanjang 25 meter di sisi tekukan sungai itu akan habis,” ujar Kepala Desa Mulyajaya, Agus Priatna di kantor desa, Kamis (31/1/13).

Agus menyebutkan, bangunan TPT tersebut baru dibuat pada awal tahun 2012.

Agus Priatna dan Kepala Urusan Pembangunan Desa Mulyajaya Julius, menambahkan, sungai yang bermuara ke Sungai Cisanggarung itu, memiliki karakter selalu kering dalam musim kemarau. Sebaliknya pada musim hujan sering meluap dengan arus air kuat menerjang serta menggerus tanah tebing alur sungai hampir di setiap tekukan alurnya.

Malahan sejak beberapa tahun terakhir bagian alur sungai di sekitar lingkungan permukiman warga RT 05/01, di desanya itu secara berangsur-angsur telah beralih puluhan meter mengikis serta menyita lahan pekarangan rumah warga di lingkungan RT tersebut.

“Oleh karena itu, atas usulan kami, kecamatan, dan Pemkab Kuningan, pada awal tahun 2012 tebing tepi sungai yang sudah tersosok arus air itu ditanggulangi BBWS dengan membuat TPT sepanjang lebih kurang 25 meter,” kata Agus Priatna.

Namun, saat sungai itu meluap pada Minggu (27/1) awal pekan ini, arusnya menghajar serta menyosok tanah hingga mengakibatkan bagian hulu ujung TPT itu ambrol. Menyikapi masalah sungai tersebut, Agus Priatna menyatakan pihaknya telah meminta kepada pihak BBWS Cimanuk-Cisanggarung agar alur sungai di sekitar permukiman warga RT 5 tersebut, direlokasi ke alur semula disertai pembuatan bangunan penahan arus agar tidak kembali menyosok ke arah permukiman warganya. (A-91/A-88)***

Sumber : pikiran-rakyat