Kemendikbud Bentuk Tim Nasional Gunung Padang

107955_situs-megalitikum-gunung-padang--cianjur--jawa-barat_663_382Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Tim Nasional Gunung Padang untuk menindaklanjuti temuan-temuan Tim Riset Terpadu atas lokasi itu, yang diinisiasi Staf Khusus Presiden Andi Arief. Tim Nasional ini akan melibatkan pakar lintas ilmu dan lintas instansi.

“Kami siap saja nanti diikutkan,” kata arkeolog Ali Akbar yang memimpin Tim Riset Terpadu Gunung Padang, saat dihubungi VIVAnews Minggu 12 Mei 2013. “Saya siap melaporkan semua hasil riset saya nanti,” kata arkeolog dari Universitas Indonesia itu.

Ali menyambut baik hasil pertemuan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, perwakilan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Riset dan Teknologi, serta ahli dari berbagai latar keilmuan pada 10 Mei lalu. Pertemuan itu sepakat membentuk Tim Nasional Gunung Padang. Situs itu berlokasi di Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Staf Khusus Presiden bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial, Andi Arief, menyampaikan, formatur tim dipimpin mantan Sekretaris Direktorat Jenderal Purbakala Soeroso yang juga seorang arkeolog. Formatur terdiri dari:
1. Drs. Soeroso MP, M.Hum;
2. Prof. Dr. Mundardjito;
3. Prof. Ris. Dr. Sutikno Bronto, M.Sc;
4. Dr. Bambang Sulistyanto;
5. Dr. Danny Hilman;
6. Dr. Budianto Ontowiryo;
7. Dr. Bambang Rudito, M.Sc;
8. Ir. Joko Nugroho, M.Sc; dan
9. Drs. Junus Satrio Atmojo, M.Hum.

Tim Formatur ini nanti menyiapkan Tim Nasional Gunung Padang, termasuk menyiapkan roadmap penelitian Gunung Padang yang dimasukkan dalam anggaran 2013 sehingga bisa dilaksanakan pada 2014. Penelitian yang dilakukan harus berwawasan pelestarian, sementara Tim Riset Terpadu yang sudah bekerja lebih dulu disilakan terus melakukan riset namun dengan koordinasi.

Sementara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional diberi kewenangan untuk merangkum hasil-hasil penelitian. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Pernuseuman diberi kewenangan untuk membuat masterplan. Kemudian situs Gunung Padang perlu segera ditetapkan statusnya oleh Tim Ahli cagar Budaya.

sumber+foto:vivanews

Sejak Awal 2013, Bencana Alam di Jabar Renggut 25 Korban Jiwa

peta lokasi rawan bencana alam longsor jawa baratSekitar 35 orang meninggal akibat bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah Jawa Barat (Jabar) pada 2013. Bencana alam tersebut disebabkan oleh pengrusakan dan penghancuran alam yang dilegalisasi aturan dan dilegitimasi para kepala daerah dan parlemen.

Demikian kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar Dadan Ramdan melalui pers rilisnya memperingati Hari Bumi, Minggu (21/4/13). Menurutnya, 35 korban jiwa akibat bencana alam tersebut berdasarkan catatan Walhi Jabar pada longsor dan banjir di Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Bogor, Tasikmalaya dan Garut.

“Sangat memprihatinkan, ketika setiap 22 April diperingati sebagai hari bumi, namun pengrusakan bumi, air, udara dan hutan terus berlangsung secara sistemastis, masif dan cepat setiap detik. Bumi sebagai tempat mahluk hidup tumbuh dan berkembang tidak lagi menjadi tempat yang selayaknya mahluk hidup tumbuh,” katanya.

Begitu pun yang terjadi di Jawa Barat, Dadan menuturkan, realitas pengrusakan bumi dan alam Jabar terus berlangsung. Walhi Jabar memandang bahwa aktor utama perusak lingkungan hidup adalah pengusaha dan pemerintahan.

Kenyataan pengrusakan yang nyata dan semakin kronis terjadi di Bumi Jabar diantaranya berupa pembuangan limbah pabrik terus menerus secara sembarangan ke sumber-sumber air, mata air, sungai, embung yang semestinya dijadikan sumber kehidupan,” katanya.

Selain itu, Dadan menambahkan penambangan mineral dilakukan terus menerus tanpa henti di kawasan pesisir, pantai, hutan dan kawasan geologi karst yang menimbulkan pencemaran. “Alih fungsi lahan di kawasan resapan dan lindung menjadi lahan industri serta sarana wisata dan pemukiman mewah skala besar dan pengrusakan dan penghancuran bumi lainnya di Jabar juga terus berlkangsung,” ucapnya.

Dikatakan Dadan, selama kurun waktu lima tahun, dari 2007- 2011, total produksi tambang mineral perak, emas, galena, pasir besi, karst dan pasir sudah mencapai 8,5 juta ton dengan kerugian lingkungan hidup mencapai Rp 1,58 Trilyun. “Artinya biaya pemulihan lingkungan hidup mencapai Rp 231, 56 milyar setiap tahun. Pertambangan panas bumi juga berdampak pada rusaknya ekosistem hutan,”ujarnya. (A-201/A-108)***

sumber:pikiran-rakyat.com

Disparbud Jabar Akan Pagari Gunung Padang

1003gunung_padangSitus megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur, tahun ini akan diberi pagar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat.

Pasca penelitian Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, tingkat kunjungan wisatawan maupun komunitas tertentu terus meningkat tanpa mengenal waktu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Drs. Nunung Sobari, M.M. mengatakan saat ini kondisi situs megalit yang masih diteliti Pusat Arkelogi Nasional maupun BP Katastropik Purba, dikhawatirkan banyak pihak.

“Aktivitas wisatawan yang terus meningkat dan aktivitas komunitas tertentu yang tidak mengenal waktu dikhawatirkan dapat merusak keberadaan situs Gunung Padang,” ujar Nunung, didampingi Kepala Seksi Kepurbakalaan Balai Kepurbakalaan,Sejarah dan Nilai Tradisi (BKSNT) Disparbud Jabar, Dra. Romlah, seusai melakukan kunjungan ke Gunung Padang bersama sejumlah media media cetak dan elektronik, Sabtu (9/3).

Sejumlah kerusakan yang terpantau pihaknya, menurut Nunung adalah dibeberapa bagian tangga utama menuju teras Gunung Padang yang batunya longgar dan bahkan terlepas.

Selain itu sejumlah batu beberapa bagian pada teras Gunung Padang juga sudah banyak yang bergeser atau berubah tempat. Karena khawatir kerusakan akan semakin tidak terkendali, pada tahun 2013 ini Disparbud Jabar setelah melakukan konsultasi dengan Balai Pelestarian Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, sepakat untuk melakukan pemagaran.

“Karena tidak masuk dalam program, maka untuk sementara pendanaan seadanya dan diupayakan untuk mendapatkan pendanaan dari perubahan anggaran 2013 mendatang,” ujar Nunung.

Sementara juru pelihara Situs Megalit Gunung Padang, Asep mengatakan bahwa pasca penelitian yang dilakukan Tim Peneliti Bencana Katastropik Purba Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, tingkat kunjungan setiap hari bisa mencapai 500 orang lebih dan pada hari Sabtu dan Minggu bisa mencapat dua hingga empat kali lipat.

“Untuk kawasan benda cagar budaya kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, karena semua pengunjung memaksa naik lewat tangga batu bukan lewat tangga yang disediakan, hingga pada musim penghujan saat ini mengakibatkan banyak batu tangga bergeser atau berubah posisi,” ujar Asep.

Kekhawatiran lainnya, menurut Asep adalah kunjungan yang dilakukan komunitas atau kelompok tertentu yang dilakukan sore atau malam menjelang tengah malam. Selain kunjungan tidak sepengetahuan pihaknya, juga dikhawatirkan mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan.

Berdasarkan pengamatan “PRLM” di lapangan, kawasan situs megalitikum Gunung Padang seluas 3 hektar yang diperkirakan berusia 14.500- hingga 25.000 tahun, selama musim penghujan di teras utama (teras lima), empat dan tiga terjadi genangan. Selain itu di beberapa titik tangga batu, susunan batu pada bagian sisi bergeser dan bahkan berubah posisi. (A-87/A-89)***

Sumber + Foto : pikiran-rakyat.com

Sejumlah Ruas Jalan Tergenang di Ciamis

December 28, 2012 by  
Filed under Ciamis, Jawa Barat Terkini

Foto : seputar-indonesia

Foto : seputar-indonesia

Hujan deras yang mengguyur Kawasan Ciamis dan sekitarnya membuat sejumlah ruas jalan di wilayah Kabupaten Ciamis digenangi banjir cileuncang, kemarin. Kondisi tersebut dikeluhkan pengguna jalan dan warga di sekitar genangan. Warga meminta Pemkab Ciamis segera melakukan perbaikan drainase di sejumlah lokasi, karena keberadaan drainase yang sudah tidak berfungsi optimal dinilai sebagai salah satu penyebab terjadinya banjir cileuncang setiap terjadi hujan deras.

”Terus terang, setiap turun hujan deras kami merasa direpotkan dengan banyaknya genangan air di sejumlah ruas jalan di wilayah Kabupaten Ciamis,” kata Hendi, 29,pengguna sepeda motor. Rahmat, 43, warga Jalan Jenderal Soedirman, mengaku, setiap turun hujan kawasan perempatan Tonjong antara perempatan Jalan Siliwangi dan Jalan Jenderal Soedirman kerap menimbulkan genangan banjir air cileuncang.

Sementara itu, berdasarkan pantauan SINDO, akibat hujan deras, sejumlah ruas jalan di wilayah Kabupaten Ciamis tergenang. Di antaranya di perempatan Jalan Siliwangi dan Jalan Jenderal Soedirman, Jalan Ahmad Yani Ciamis di kawasan Panoongan, di Jalan Raya Iwa Kusuma Soemantri depan PDAM Ciamis, di Jalan Cipto Mangunkusimo di Kawasan Gayam dan Perempatan dekat Makodim Ciamis.

Direktur Pemerhati Perkembangan Pembangunan dan Partisipasi Masyarakat Kabupaten Ciamis Indra Maulana mengaku, sudah bosan menyampaikan keluhan warga terkait cileuncang di sejumlah ruas jalan di Ciamis. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur menargetkan perbaikan infrastruktur yang rusak akibat bencana alam mencapai 67% pada 2013 dengan menggunakan anggaran sebesar Rp6,4 miliar.

Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Asep Suhara mengatakan, dalam pelaksanaannya nanti, pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas terkait. ”Untuk jumlah kasus bencana yang terjadi selama 2012 ini, memang banyak di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, skalanya kecil,”ujarnya. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD Cianjur, selama Januari – September 2012, tercatat telah terjadi 72 peristiwa bencana alam.

Di antaranya, enam peristiwa angin puting beliung, banjir dan banjir bandang empat kejadian serta kebakaran sekitar 49 kejadian. ”Sisanya merupakan bencana tanah longsor. Peristiwa ini merata terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Cianjur, yang menjadi titik rawan bencana, seperti daerah selatan dan utara Cianjur,”ungkapya. ujang marmuksinudin/ ricky susan

Sumber : seputar-indonesia.com

BPBD Bandung, Harus Segera Dibentuk

20121224 jbr hal 9Wakil Wali Kota Bandung Ayi Vivananda mendesak agar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera dibentuk. Lembaga ini dinilai sudah sangat dibutuhkan Kota Bandung terkait kondisi dan bencana yang sering terjadi. Ayi menyebutkan, keberadaan BPBP Kota Bandung dapat mensinergikan pro gram penanggulangan bencana secara terpadu. “Saat ini memang sudah ada Satlak (satuan pelaksana) di bawah koordinasi Asisten Daerah (Asda) 2.Tapi, BPBD juga harus segera dibentuk karena kebutuhan dan kondisi Kota Bandung sekarang ini,”ujar Ayi di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, kemarin.

Dia menjelaskan,selama ini penanggulangan bencana alam yang terjadi di Kota Bandung berada di bawah Asda Bidang Ekonomi. Penanganan bencana secara terpadu itu dilakukan bersama satuan kinerja perangkat daerah (SKPD) terkait. Di antaranya Dinas Bina Marga dan Pengairan(DBMP), Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH), Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda), Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip), Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Dinas Sosial (Dinsos).

Namun,kata dia,koordinasi tersebut belum tersinergi dengan baik,sehingga sebuah badan khusus sangat diperlukan. Meski demikian,dia belum dapat menanggapi kapan badan resmi penanganan bencana itu akan dirumuskan pembentukannya. Sebab, keberadaan dan kinerja Satlak Penanggulangan Bencana masih bisa dimaksimalkan. Di samping itu, dia akan mengajukan solusi mengatasi penyebab banjir dan longsor, yang dinilainya sangat krusial.

“Saya akan mengusulkan agar dilakukan moratorium izin pembangunan hunian di wilayah resapan air Kawasan Bandung Utara (KBU). Jika KBU berubah fungsi saya khawatir 10 tahun mendatang banjir di Kota Bandung akan semakin parah,jangan sampai Bandung mengalami nasib seperti Jakarta sekarang,”ucapnya. Dia menegaskan, banjir bandang yang terjadi bukanlah akibat dinding kirmir jebol.Tetapi sebailknya, dinding kirmir jebol itu karena banjir bandang. Menurut dia, banjir yang terjadi di Kota Bandung ini diakibatkan dua faktor yakni curah hujan tinggi dan kelalaian manusia.

Dia mencontohkan,perubahan fungsi lahan di kawasan hulu sungai dan resapan air menjadi daerah hunian, sangat signifkikan mempengaruhi fungsi hidrologi. “Karena itu terjadi penyempitan saluran air terbuka karena adanya warga maupun pengembang yang membangun pondasi di badan sungai, penyumpatan karena sampah yang menyangkut pada kebutuhan, pendangkalan karena sedimentasi dan berangkal,” kata Ayi.

Sementara itu, Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) Kota Bandung meninjau lokasi jebolnya kirmir yang berada di wilayah Kecamatan Cibeunying Kaler,kemarin. Kirmir atau tembok penahan tanah yang jebol ditinjau satu per satu,terutama di bagian yang roboh diterjang banjir. “Mudah-mudahan seterusnya seperti hari ini, curah hujan normal.

Kalau besar lagi, khawatir tidak akan selesai,rencananya setelah ditinjau kita akan pasang bronjong,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan, Iming Akhmad, kemarin. Seperti diketahui, dua hari terakhir hujan deras mengguyur Kota Bandung.Banjir menggenangi sejumlah jalan raya utama dengan ketinggian airnya di atas mata kaki orang dewasa.Bahkan banjir bandang terjadi di pemukiman padat hingga menghanyutkan benda dan merubuhkan bangunan. Hal itu terjadi di Kecamatan Cibeunying Kaler dan Batununggal.

Iming menampik hal itu disebabkan oleh drainase yang tidak berfungsi. Menurut dia,curah hujan yang cukup tinggi yang mengakibatkan volume air juga bertambah.“ Hujan deras itu secara langsung membuat air di sungai dan anak Sungai Cikapundung meluap.Volumenya itu yang sudah tidak bisa ditampung,” kata Iming. Di samping itu, kata Iming, drainase dipenuhi endapan tanah juga tumpukan sampah.

“Kita rutin mengeruk sampah, sampah itu dibuang sudah ada tempatnya. Tetapi tanah sedimen, susah sekali yang mau menampung, kalau ada yang mau harus dibayar,”ucap Iming. Camat Cibeunying Kaler Unjang Zainudin mengatakan, sejumlah kirmir jebol di beberapa kelurahan mulai diperbaiki.“ Kami masih meninjau dan akan memasang bronjong sesuai yang dibutuhkan,” kata Unjang. gita pratiwi

Sumber:seputar-indonesia.com

Banjir Cileuncang Sulit Teratasi-Tiga Kecamatan Rawan Bencana Alam

November 23, 2012 by  
Filed under Bandung, Berita Daerah, Jawa Barat Terkini

Foto:seputar-indonesia.com

Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku pesimistis bisa mengatasi banjir cileuncang. Banjir ini kerap menyergap beberapa lokasi setiap hujan deras mengguyur Kota Bandung dan sekitarnya. “Target kita bebas cileuncang, tetapi kan tidak mungkin. Banjir cileuncang sudah pasti tiap hujan. Pemerintah dan masyarakat juga beberes terus dengan saluran irigasi sekaligus pengairan.Dengan begitu, sumbatan di saluran selokan selalu teratasi dan tidak ada banjir besar,” ujar Dada,kemarin.

Dia segera mengedarkan surat ke camat agar kembali menanam pohon, membuat dan memerhatikan kondisi sumur resapan. Selain edaran itu, dia selalu menyampaikan pidato tentang antisipasi banjir cileuncang.Namun, tidak dipungkiri masih banyak masyarakat yang belum berperilaku sehat dan bersih. Soal informasi dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kota Bandung yakni penambahan titik- titik cileuncang seperti Jalan Supratman, Dada hanya menegaskan pemerintah terus berusaha mengatasinya.

“Kirmir yang rawan ambrol sudah dicek secara bertahap sesuai anggaran dan kebutuhan. Kalau pemerintah lambat untuk memperbaiki, masyarakat harus terlibat jadi mitranya,” katanya. Dia mengakui pengerukan sampah masih berlangsung sangat konvensional dan kekurangan alat modern. “Anggaran sebesar Rp1 triliun masih kurang, catatan DBMP harus lebih dari itu untuk cileuncang,”ujar Dada.

Ketua Paguyuban Camat se- Kota Bandung Dedi Supandi mengatakan, terdapat tiga kecamatan di Kota Bandung disinyalir kembali mengalami bencana sepertibanjirdanlongsor.Halitu melihat kejadian yang sama pada tahun sebelumnya.“Tiga kecamatan ini yakni Mandalajati, Arcamanik, dan Astana Anyar. Ke depannya harus diantisipasi hujan yang menyebabkan banjir atau longsor dan korsleting listrikyangmenyebabkankebakaran,” ujar Dedi.

Pihaknya telah merapatkan antisipasi banjir pada musim hujan. Takluputdariperhatianpara camat adalah banjir cileuncang yang menjadi langganan Kota Bandung.“Programpenanganan cileuncang di antaranya pengerukan, pengangkutan sampah, serta sedimentasi,”ucapnya. Program terbaru yang disosialisasikan, salah satunya menanam pohon di kecamatan.

“Kami mendapat drop pohon, setiap camat perlu mengajukan kebutuhannya masing-masing,” kata Dedi. Masalah lainnya, anggaran kebinamargaan di kecamatan masih menggunakan dana operasional kecamatan. Dia berharap tahun depan anggaran kebinamargaan kota bisa terserap dengan baik di tingkat kecamatan. Pihak kecamatan sudah meminta bantuan anggaran antisipasi banjir,namun sejauh ini dana belum dikucurkan.

Berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwal), pengerjaan di lapangan telah dilimpahkan ke camat.“Kami bukan siaga lagi,ketika hujan langsungfokuske wilayahsetempat terutama titik-titik bencana,” tuturnya. Rata-rata penyebab banjir di tiap kecamatan, yakni bangunan yang berdiri di atas drainase,penyempitan sungai, sedimentasi lumpur di sungai, dan penyumbatan sampah. gita pratiwi

Sumber:seputar-indonesia.com

Banjir Bandang Landa Green Canyon

November 7, 2012 by  
Filed under Berita Daerah, Ciamis, Jawa Barat Terkini

Foto:seputar-indonesia.com

Kawasan objek wisata alam Green Canyon di Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis dilanda bencana alam berupa banjir bandang, kemarin.

Akibat peristiwa itu, kawasan objek wisata alam tersebut terpaksa di tutup untuk sementara. Selain menggenangi kawasan wisata, banjir juga menggenagi Jalan Raya Cijulang yang menghubungkan Pangandaran menuju Cimerak. Genangan air di Jalan Raya Cijulang mencapai ketinggian hingga 60 centimeter (cm). Kondisi ini membuat banyak kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang mogok karena terjebak dalam genangan.

Kepala UPTD Pariwisata Cijulang Haryono membenarkan, akibat banjir bandang kawasan objek wisata Green Canyon untuk sementara ditutup untuk umum. Penutupan kawasan objek wisata alam tersebut dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada para wisatawan. ”Kalau aliran sungai meluap, jelas bisa membahayakan pengunjung. Dari pada berisiko terpaksa sementara kawasan Green Canyon di tutup,” terang Haryono.

Haryono menambahkan, kawasan Green Canyon akan dibuka kembali jika kondisi air sungai Cijulang kembali normal. Dari hasil pantauan di lapangan, saat ini kondisi air yang menggenangi lokasi tersebut masih cukup tinggi. ”Biasanya, banjir tidak berlangsung lama,hanya beberapa jam debit air kembali surut. Bahkan, jika dibanding banjir sebelumnya,sekarang tidak begitu tinggi dimungkinkan tidak akan lama,”terang Haryono.

Sementara itu, Andri, 34, warga setempat menjelaskan, banjir yang melanda kawasan Green Canyon dan sekitarnya berlangsung setelah hujan deras mengguyur kawasan Cijulang dan sekitarnya dalam dua hari terakhir ini.

”Pagi tadi (kemarin) hujan deras juga menguyur kawasan Cijulang. Saat hujan mulai mereda, tiba-tiba debit air di Sungai Cijulang naik.Di mungkinkan akibat aliran sungai kecil yang mengalir ke Sungai Cijulang,”kata Andri. ujang marmuksinudin

Sumber:seputar-indonesia.com

Seperlima Populasi AS Terkena Dampak Badai Sandy

Foto:seputar-indonesia.com

Amukan badai Sandy membuatkawasanpantai timur Amerika Serikat kacaubalau. New York dan New Jersey menjadi negara bagian paling parah terkena dampak. Jaringan listrik di dua wilayah itu padam dan transportasi publik dihentikan.

Sandy yang pada Jumat lalu (26/10) mengobrakabrik Karibia kini menyebabkan sedikitnya 16 orang tewas, 15 di AS dan seorang di Kanada. Perusahaan estimasi bencana alam Eqecat memperingatkan, dampak Sandy akan dirasakan lebih dari 60 juta warga atau seperlima populasi AS. Eqecat juga memperkirakan kerugian ekonomi akibat badai super (superstorm) yang dijuluki monster tersebut mencapai USD10 miliar–20 miliar dengan hanya setengahnya (USD5 miliar–10 miliar) yang ditanggung asuransi.

Presiden AS Barack Obama telah mendeklarasikan “bencana besar” di New York dan New Jersey,sebuah pernyataan yang dapat mengizinkan kucuran dana federal untuk membantu korban badai mendapatkan perumahan sementara dan ganti rugi kerusakan. Badai Sandy mengakibatkan gelombang air laut mencapai ketinggian 4,2 meter di pesisir Manhattan, rekor baru sejak badai Donna pada 1960 yang mengakibatkan gelombang laut setinggi 3 meter. Kekuatan angin yang dibawa Sandy mencapai 145 kilometer per jam.

Banjir kemarin terjadi di mana-mana, termasuk meluber hingga ke jaringan kereta bawah tanah dan terowongan di bawah sungai-sungai Manhattan.“Gelombang tinggi, ombak kuat, luapan sungai, dan angin terkencang, semua menerjang di saat terburuk,” papar Jeffrey Tongue,meteorologis di Brookhaven,New York, seperti dikutip Reuters. Pemadaman jaringan listrik dilakukan di sebagian besar New York City menyebabkan wilayah itu gelap gulita. Secara keseluruhan 6,8 juta orang di beberapa negara bagian AS mengalami pemadaman listrik. Pusat Badai Nasional (NHC) menyatakan jalur badai dari utara South Carolina ke perbatasan Kanada dan dari West Virginia ke Samudera Atlantik menuju Bermuda merupakan salah satu badai terbesar.

Sejauh ini,badai Sandy telah menewaskan 67 orang di sepanjang Karibia. Badai ini akan terus menerjang wilayah AS dan Kanada hingga beberapa hari mendatang. Sementara itu, estimasi kerugian akibat badai Sandy sebesar USD20 miliar dihitung berdasarkan perkiraan imbas bencana itu. “Sandy merupakan badai besar yang berdampak terhadap 20% dari penduduk AS,” ujar Wakil Presiden Senior Eqecat Tom Larsen dalam pernyataan resmi seperti dikutip AFPkemarin. ● syarifudin/chindya citra

Sumber:seputar-indonesia.com

Jabar harus Segera Bentuk BPBD Kabupaten/Kota

September 28, 2012 by  
Filed under Berita Jawa Barat, Jawa Barat Terkini

Provinsi Jabar baru memiliki 15 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat kab/kota.

Sementara 11 kab/kota lainnya belum membentuk badan ini dan beberapa di antaranya sedang dalam proses pembentukan. BPBD memiliki peranan penting dalam menanggulagi bencana baik bencana alam maupun bencana lainnya.

Kepala BPBD Prov Jabar Udjwalaprana Sigit kepada “PRLM” di Bandung, Kamis (27/9) mengatakan akan terus mendorong agar semua kab/kota memiliki BPBD. Namun, menurutnya political will dari bupati/walikota sangat dibutuhkan.

Daerah yang belum membentuk badan ini diharapkan Sigit, segera membentuk karena hal tersebut merupakan amanat UU yang ada.

Sebanyak 15 kab/kota yang sudah membentuk BPBD di antaranya, Kab. Bandung, Bandung Barat, Banjar, Bogor, Ciamis, Cianjur, Cimahi, Kota Cirebon, Garut, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Kab. Sukabumi, Kab. Tasikmalaya, dan Purwakarta.

“Sebenarnya sekarang ada yang sudah mulai bergerak (membentuk BPBD). Ini menyangkut perda sehingga harus ada studi banding untuk menganalisis pembentukan BPBD. Kota Bandung, Kab. Subang, Kab. Cirebon, dan Kab. Sumedang sudah mau. Mereka sedang mempercepat pembentukan perda, kalau perda sudah ada dalam waktu 4 bulan, 6 bulan, atau satu tahun BPBD bisa terbentuk,” kata Sigit.

Sigit mengingatkan, membentuk BPBD kab/kota tidak memiliki kerugian justru akan diuntungkan dengan adanya bantuan dana jika terjadi bencana. Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sekitar 42 juta jiwa penduduk Jabar tinggal di daerah yang terpapar rawan gempa bumi dan bencana lainnya.

“Kalau bicara kekeringan dan banjir, itu sepanjang Pantura bisa terkena. Kalau erupsi gunung ada G. Tangkubanparahu, G. Galunggung yang rawan. Kalau longsor, sebagian besar Jabar bagian Selatan itu daerah longsor semua. Sepanjang selatan mulai Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran, ancamannya tsunami,” katanya.

Sutopo mengatakan BNPB tidak bisa melakukan intervensi pembentukan BPBD. Namun, BNPB memberi stimulus, artinya BNPB tidak akan beri bantuan dana, dan bantuan lainnya seperti logistik peralatan kepada daerah yang belum terbentuk BPBD.

Terkecuali, ketika daerah tersebut terkena bencana yang besar, BNPB akan memberi dana ongkol (siap pakai) pada bupati/walikota. Namun, daerah itu tidak akan mendapat bantuan dalam hal pelatihan, rehabilitasi, rekonstruksi bangun rumah, irigasi, infrastruktur, dll.

“Karena memang UU menyatakan hal seperti itu. Malah kalau memberikan bantuan pada daerah tersebut, akan menjadi temuan. Kalau melihat ancaman, memang semua kab/kota di Jabar harus membentuk BPBD. BPBD provinsi yang pertama terbentuk memang Jabar, tetapi ternyata dalam perkembangannya level kab/kota Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih cepat,” kata Sutopo.

Masalah bencana di daerah menjadi prioritas atau tidak menurut Sutopo, pertama, terlihat melalui sudah atau terbentuknya BPBD. Kedua, BPBD setelah terbentuk difasilitasi atau tidak dari sisi pendanaan yang memadai.

“Pendanaan di BPBD itu lebih kecil dibanding pendanaan untuk dinas-dinas lain. Padahal secara nasional menjadi prioritas ke-9 dari 11 prioritas yang ada. Sebenarnya di daerah pun kita harapkan seperti itu apalagi Jabar,” katanya.

Sutopo mengatakan jika melihat keseluruhan bencana di Jabar 1815-2011, jenis kejadian paling banyak adalah banjir (29%) disusul longsor (26%), kekeringan (19%), puting beliung (11%), banjir dan tanah longsor (3%), kebakaran (3%), dll (9%).

Jika dilihat dari korban meninggal, paling banyak akibat letusan gunung api (67%), tanah longsor (8%), gempa bumi dan tsunami (8%), banjir dan tanah longsor (5%), kejadian luar biasa (KLB) (4%), gempa bumi (2%), dll (6%). Sedangkan korban luka paling banyak akibat banjir (84%), KLB (7%), gempa bumi (2%), dll (7%).

Khusus mengenai bencana tsunami, BNPB mempunya masterplan pengurangan resiko bencana tsunami dengan membantu daerah-daerah yang terpapar tsunami. Sutopo mengatakan punya skenario di wilayah selatan Jabar karena ada tersimpan energi maksimal 8,2 skala richter gempa bumi menurut para ahli.

BNPB akan mendorong agar daerah yang rawan tsunami, memiliki fasilitas sirine tsunami, fasilitas shelter atau tempat evakuasi sementara tsunami, dan memberikan pendidikan yang memadai pada masyarakat. (A-199/A-89)***

sumber:pikiran-rakyat.com