14 Kecamatan di Kab. Bandung Terendam Banjir

April 24, 2013 by  
Filed under Bandung, Jawa Barat Terkini

Banjir-citarumSelama April 2013, bencana banjir di Kabupaten Bandung melanda sedikitnya 14 kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Baleendah, Bojongsoang, Dayeuhkolot, Cangkuang, Banjaran, Majalaya, Cicalengka, Arjasari, Rancaekek Ibun, Katapang, Ciparay, dan Pameungpeuk.

Kepala BPBD Kabupaten Bandung Marlan mengatakan, jumlah rumah yang terendam akibat banjirselamaApril2013sebanyak 20.459rumahyangdihunisekitar 50.589 jiwa (16.557 KK). “Dari jumlah rumah yang terendam itu, sebanyak 11 rumah mengalami rusak berat, 26 rumah rusak sedang, dan33rumahlainnya rusak ringan” kata Marlan kepada wartawan, kemarin. Keadaan cuaca selama enam hari ke depan menurut prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai kemarin, Selasa (23/4) sampai 28 April 2013, wilayah Kabupaten Bandung akan diguyur hujan pada malam hari.

Sementara Bupati Bandung Dadang M Naser meminta masyarakat terus waspadai banjir mengingat curah hujan di Kabupaten Bandung untuk enam hari ke depan masih cukup tinggi. “Jaga terus kewaspadaan di sekitar lingkungan kita, karena ancaman banjir masih tetap ada akibat cuaca akhir-akhir ini masih diliputi hujan di beberapa tempat yang berdampak terjadinya banjir,” kata Dadang saat meninjau beberapa lokasi banjir Desa Sukamanah, Rancaekek Kulon dan Desa Linggar Kecamatan Rancaekek, Senin (22/4). Bupati pun mengingatkan untuk mewaspadai penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) atau gatal-gatal yang kerap muncul pascabanjir.

“Segera periksakan ke puskesmas terdekat atau posko kesehatan yang ada di seputar lokasi banjir. Jika ditemukan gejala penyakit tersebut, tak usah bayar alias gratis” ujarnya. Camat Rancaekek Haris Taufik mengungkapkan, bencana banjir yang melanda Kecamatan Rancaekek meliputi Desa Sukamanah (1.300 KK), Desa Jelegong (700 KK), Desa Sukamulya (600 KK) dan desa Linggar sebanyak 1.200 KK.

“Yang terparah terjadi di Desa Linggar terjadi sejak 24 Maret lalu” ujar Haris. Haris menyebutkan, ketinggian banjir di keempat desa tersebut sekitar 30–120 sentimeter. iwa ahmad sugriwa

sumber:koran-sindo.com

Siswa UN SLTP Nginap di Sekolah Akibat Banjir

April 22, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Pendidikan

20130422 jbr hal 1 (Banjir, Siswa UN Nginap di Sekolah)Peserta Ujian Nasional (UN) tingkat SMP dan sederajat diizinkan menginap di sekolah jika akses menuju lokasi ujian terendam banjir. Hari ini, sebanyak 665.079 siswa di Jawa Barat mengikuti ujian.

“Seperti sebelumnya, kami masih khawatir terjadi musibah banjir di sejumlah titik di Kabupaten Bandung pada pelaksanaan UN kali ini. Sebab, banjir akan menghambat aksesibilitas para peserta UN,” ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung Juhana kemarin. Dia mengimbau para siswasiswi peserta UN menginap di sekolah atau menginap di rumah rekan maupun sanak saudara.

“Pihak sekolah harus menyediakan ruangan yang bisa dipakai untuk menampung siswa peserta UN,” katanya. Sebanyak 35.000 siswa dari 290 sekolah mengikuti ujian di Kabupaten Bandung. “Mudahmudahan dokumen Lembar Jawaban Komputer (LJK) akan lebih baik dari UN SMA sebelumnya,” ucapnya. Bupati Bandung Dadang M Naser menyarankan peserta UN dapat mengantisipasi sulitnya akses jalan karena banjir dan kemacetan.

“Bagi mereka yang ada di daerah rawan banjir agar menginap sementara di sekolah,” katanya. Menurut dia, bencana banjir sangat memungkinkan siswa terlambat datang ke sekolah karena jarak tempuh lebih jauh akibat harus menghindari genangan air. Di Kabupaten Sumedang, siswa peserta UN tingkat SMP yang mengalami kendala akan diusahakan tetap mengikuti ujian dengan cara dijemput.

Kendala terburuk diantisipasi oleh dinas pendidikan adalah peserta yang mengalami kecelakaan. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Herman Suryatman mengatakan, seperti yang telah dipelajari saat UN SMA dan sederajat, kemungkinan kendala yang akan dihadapi adalah kekurangan naskah soal atau salah distribusi soal. DPRD Kabupaten Cianjur meminta UN SMP tidak terulang lagi karut-marut seperti dalam pelaksanaan UN SMA beberapa waktu lalu.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur Jimmi Perkasa Has meminta dinas pendidikan benar-benar mengawasi dan bertanggung jawab penuh. Para peserta UN SMP agar tidak terpancing dengan oknum tidak bertanggung jawab yang memberikan kunci jawaban. “Yakin dan percaya diri saja ketika mengisi lembar jawaban, jangan sampai terpancing,” ucapnya. Kemarin, Disdik Kota Cirebon maupun Kabupaten Cirebon belum menerima naskah soal IPA.

Sementara, jumlah naskah soal untuk mata pelajaran Bahasa Inggris ternyata masih kurang. Selain naskah soal IPA untuk UN utama, Disdik Kota Cirebon belum menerima naskah soal IPA dan IPS untuk UN Paket B Setara SMP yang juga mulai digelar pada hari sama. Wakil Sekretaris I Panitia UN sekaligus Kepala Seksi Kurikulum Bidang Pendidikan Dasar Disdik Kota Cirebon Sarjana Al Suteja mengatakan,

untuk mengatasi kekurangan ini pihaknya akan memfotokopi naskah soal yang ada. “Berdasar pengalaman UN SMA, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sudah mengarahkan agar memfotokopi saja naskah soal ujian jika ditemukan kekurangan dengan pengawalan polisi dan tim pemantau independen,” ujarnya.

665.079 Siswa SMP Ikuti UN

Sebanyak 665.079 siswa tingkat SMP/ MTs di Jabar mengikuti UN hari ini. Kepala Dinas Pendidikan Jabar Wahyudin Zarkasyi mengatakan, persiapan UN SMP pada tahun ini sudah cukup maksimal. Pihaknya berupaya memberikan yang terbaik agar pelaksanaan UN SMP tidak seperti UN tingkat SMA dan sederajat yang agak kurang baik dalam penyelenggaraannya.

Kemarin, naskah soal UN sudah didistribusikan ke rayon dan subrayon kabupaten dan kota. Terkait keterlambatan pendistribusian soal IPA, tidak terlalu jadi masalah besar. “Kami memprioritaskan tiga soal yang akan diujikan terlebih dahulu. Karena soal IPA akan diujikan pada Kamis (25/4),” ucapnya. Sebanyak 996 dus berisi lembaran soal UN SMP untuk Kota Bandung dibongkar di SMPN 9 Bandung.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji, soal UN itu akan langsung didistribusikan ke masing-masing subrayon . Di Kota Bandung, terdapat 38.055 peserta UN yang terdiri dari 34.443 siswa SMP, 2.727 siswa MTs, dan 885 peserta Paket B. Sementara itu, setiap 10 personel kepolisian dari Polrestabes Bandung akan ditempatkan di setiap sekolah untuk menjaga penyelenggaraan UN tingkat SMP.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh memastikan ujian nasional (UN) SMP dan sederajat lebih siap dibandingkan pelaksanaan UN SMA. Naskah soal ujian sudah sampai di kabupaten/ kota. Pihaknya telah mengantisipasi keterlambatan pengiriman naskah soal ujian sebagaimana yang terjadi pada UN SMA kemarin. Oleh karena itu langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengalihkan pencetakan naskah soal dari PT Ghalia Indonesia Printing (GIP) ke tiga percetakan lain.

Dia mengaku pengalihan pencetakan itu membuat distribusi naskah soal ke 11 provinsi, yang pada UN SMA kemarin terkendala, sudah terlaksana dengan baik. “Alhamdulillah semuanya sudah terkirim ke 11 provinsi, terutama di NTB dan NTT, “ katanya. iwa ahmad sugriwa/ zulfikar/ricky susan/ erika lia/CR-1/ dila nashear/raden bagja mulyana/neneng zubaidah

sumber+foto:koran-sindo.com

Pemerintah didesak Tuntaskan Banjir Citarum

Banjir-citarumPemerintah didesak untuk serius menuntaskan persoalan banjir akibat luapan Sungai Citarum yang telah menyengsarakan ribuan warga Kabupaten Bandung.

Adapun berbagai pihak, seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Kabupaten Bandung harus bersinergi menyelesaikan persoalan ini. Jangan lantas saling lempar tanggung jawab.

“Artinya, ketika akan tiba musim banjir, sudah bisa diperkirakan sebelumnya. Namun sayangnya, banjir yang terus berulang setiap musim hujan itu, tidak pernah dijadikan pelajaran berharga bagi pemerintah. Akibatnya, warga semakin banyak yang menderita karena kerugian material di samping kerugian psikologis terhadap warga korban banjir, khususnya yang masih anak-anak,” ungkap Ketua DPC Taruna Merah Putih (TMP) Kabupaten Bandung Nia Purnakania di sela Bakti Sosial TMP Kabupaten Bandung di Kampung Cibadak, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, kemarin.

Nia menambahkan, setiap tahun ribuan warga menderita akibat kebanjiran seperti saat ini. Anehnya, bencana banjir selalu berulang. “Padahal, ratusan miliar uang rakyat maupun pinjaman negara sudah digelontorkan untuk proyek normalisasi Sungai Citarum,” ungkap Nia.

Nia yang juga menjabat anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Barat menganggap selama ini pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten Bandung seperti jalan sendiri, tanpa ada koordinasi dan pembagian tugas yang jelas. Padahal, penanganan masalah banjir maupun normalisasi Sungai Citarum ini tanggung jawab semua pihak.

Selain tidak saling lempar tanggung jawab, kata Nia, penanganan atau normalisasi Sungai Citarum tidak bisa dilakukan secara parsial. Namun, harus terintegrasi dari hulu hilir. Termasuk penanganan kerusakan lingkungan si hulu Sungai, seperti di daerah Gunung Wayang yang mana hutannya kian hari kian gundul akibat alih fungsi lahan.

Dari sebelumnya, hutan kini menjadi perkebunan sayuran. “Jadi, menangani masalah ini harus dilakukan terintegrasi. Kalau hanya sebagiansebagian, malah jadi percuma proyek yang digarap. Seperti menabur garam di lautan saja. Artinya, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa menyelesaikan masalah Citarum,” kata dia.

Baksos TMP Kabupaten Bandung itu pihaknya memberi ratusan bingkisan berisi beras, mi instan, sarung, selimut, buku, dan alat tulis. “Kita perhatikan juga anak-anak sekolah yang mungkin banyak kehilangan peralatan sekolahnya. Karena itu, kami bagikan juga buku dan alat tulisnya,” ucap Nia.

Sementara itu, DPRD Jabar diharapkan memberi dukungan politis demi suksesnya program revitalisasi daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Ketua Forum DAS Citarum Eka Santosa mengatakan, dukungan politis tersebut amat dibutuhkan.

Terlebih, pihak eksekutif melalui Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan pun sudah menyatakan dukungannya melalui Gerakan Citarum Bersih Tahun 2018. “Dengan adanya dukungan politis, DPRD diharapkan memberi dorongan penuh bagi pemberdayaan DAS Citarum,” kata Eka dalam audiensi Forum DAS Citarum dengan Komisi A dan Komisi D DPRD Jabar, Jumat, (12/4) lalu.

Menurut Eka, dukungan politis itu bisa berupa political will dari DPRD Jabar dalam penanganan DAS Citarum. Pihaknya berharap, DPRD mampu mengkoordinasikan seluruh pihak untuk mendukung program revitalisasi DAS Citarum seperti halnya perbaikan hulu sungai Citarum. “Kita ingin DPRD ikut memprioritaskan gerakan Citarum bersih, bukan hanya melalui anggaran, melainkan juga kebijakan politik,” jelas Eka.

Sementara Pemkab Bandung memperpanjang status tanggap darurat menjadi tujuh hari ke depan. Status yang seharusnya pada Jumat (12/4) habis, diperpanjang hingga Jumat (19/4). Bupati Bandung Dadang M Naser mengatakan, hal itu dilakukan karena bencana yang masih terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Bandung.

Selain banjir, longsor pun berpotensi terjadi. “Dengan kondisi yang seperti ini, kita menambah status tanggap darurat untuk tujuh hari ke depan lagi. Penambahan memang setiap tujuh hari,” kata Dadang, beberapa waktu lalu. Dadang mengatakan, banjir pada Jumat (12/4) dini hari kembali terjadi.

Sebagian wilayah di Kecamatan Baleendah, dan Kecamatan Dayeuhkolot kembali terendam banjir. Selain itu, longsor pun terjadi di Jalan Raya Pangalengan. Banjir akibat luapan Sungai Citarum di Kabupaten Bandung masih merendam ribuan rumah. iwa ahmad sugriwa/ agung bakti sarasa

Korban Banjir Garut Minta Sungai Cimanuk Diturap

February 6, 2013 by  
Filed under Berita Daerah, Jawa Barat Terkini

Foto : tribunnews

Foto : tribunnews

Warga korban banjir bandang di wilayah perkotaan Kabupaten Garut meminta Pemerintah Kabupaten Garut segera memasang turap atau benteng di pinggiran Sungai Cimanuk. Turap tersebut diharapkan tak membuat banjir bandang yang terjadi Minggu (3/2), terulang lagi.

Seorang korban banjir di Kampung Sudikaindah, Kelurahan Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Cacih (41) mengatakan, bencana banjir bandang terjadi akibat luapan aliran anak Sungai Cimanuk yang tidak mengalir lancar ke Sungai Cimanuk.
“Ini karena anak Sungai Cimanuk yang tidak dibatasi benteng penghalang meluap. Akhirnya air meluap masuk ke perumahan warga. Harusnya anak sungainya juga dibatasi benteng,” kata Cacih saat ditemui, Selasa (5/2).
Jika anak sungai itu tidak dibatasi turap pada kedua sisinya, ucapnya, banjir bandang kemungkinan akan kembali terjadi pada tahun depan.
Korban banjir lainnya, Ayat (45) mengatakan, bencana banjir yang merendam ratusan rumah di Kelurahan Haurpanggung merupakan banjir terbesar dibanding banjir tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Ayat, penyebab banjir tersebut karena pembangunan turap di pinggir sungai yang tidak merata. Dia mengatakan banjir selalu melanda kawasan yang tidak memiliki turap pada pinggiran sungai.
“Cuma sungai utamanya yang dibenteng. Anak-anak sungainya belum. Sungai Cimanuk sudah dibenteng setelah banjir tahun 2012. Tapi sekarang banjir datang dari sungai kecil, makanya perlu dibenteng supaya tidak banjir lagi,” katanya.
Lurah Paminggir, Maman Faryaman, mengatakan, banjir baru terjadi di Kampung Cipeujeuh tahun ini. Dia menuturkan, pihaknya akan mengajukan pembangunan turap pembatas sungai pada Pemerintah Kabupaten Garut.(*)
Sumber : tribunnews

Berhasil, Rekayasa Kurangi Curah Hujan di Jakarta

January 30, 2013 by  
Filed under IPTEK, Jawa Barat Terkini

Foto : vivanews

Foto : vivanews

Sepanjang lima hari terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), telah berhasl memodifikasi hujan di sekitar DKI Jakarta melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Rekayasa hujan ini bertujuan mengurangi curah hujan yang mengguyur Ibukota sehingga meminimalisir potensi bencana banjir.

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, Tri Handoko Set, mengatakan, rekayasa yang dilakukan selama lima hari terakhir berjalan lancar dan cukup baik.

“Sistem pertumbuhan awan lima hari lalu cocok sekali dengan kegiatan TMC, bisa mengurangi curah hujan dengan maksimal,” ujar Tri pada VIVAnews di Jakarta, Rabu 30 Januari 2013.

Selama percobaan TMC, dia menjelaskan, pertumbuhan gumpalan awan terjadi sejak pagi hari dari wilayah barat yaitu Selat Sunda. Dengan TMC, awan tersebut dihujankan sebelum sampai Jakarta. “Gumpalan awan itu dihujankan (dibuat hujan) dari wilayah Pandeglang dan sekitar perbatasan laut di sekitar situ,” jelasnya.

Pagi tadi, BPPT sudah melakukan aktivitas rekayasa hujan menggunakan alat darat. Tri Handoko berharap ke depannya, TMC bisa maksimal seperti lima hari yang lalu.

Pengembangan TMC
Meski rekayasa hujan melalui TMC sudah cukup baik, Tri Handoko mengatakan akan terus mengembangkan teknologi tersebut, agar rekayasa hujan bisa dilakukan setiap waktu.

Sebagaimana diketahui, TMC saat ini hanya digunakan pada siang sampai sore hari. Di malam hari, TMC tidak dapat digunakan. “Malam hari pesawat tidak memungkinkan melihat awan,” ujarnya.

Untuk itu, BPPT memaksimalkan rekayasa pertumbuhan awan jelang sore hari dan menganalisa apakah pertumbuhan awan pada waktu ini berbahaya atau tidak. “Jika berbahaya, kami segera operasikan peralatan darat,” tambahnya.

Mengingat curah hujan diprediksi masih tinggi hingga Maret mendatang, ke depannya BPPT menyiapkan alternatif teknologi rekayasa hujan, agar bisa berfungsi sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari.

BPPT berencana mengoperasikan pesawat nirawak serta roket untuk menyemai awan-awan di langit. “Kami menggunakan radar. Begitu radar melihat gumpalan awan, kami akan luncurkan roket ke awan,” katanya.

Pengoperasian pesawat nirawak sampai saat ini belum bisa dioperasikan karena penerapan TMC sendiri masih dikaji.

Sumber : viva.co.id

BPBD Jabar : Bencana Ini Baru Permulaan

November 21, 2012 by  
Filed under Bandung, Berita Daerah, Jawa Barat Terkini

Foto:seputar-indonesia.com

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menganggap bencana banjir dan longsor yang terjadi di beberapa daerah barulah sebuah permulaan. Rentetan banjir dan longsor pada Senin (19/11) lalu diprediksi akan terus berlanjut seiring mulai meratanya musim hujan di Jabar. Kepala BPBD Jabar Udjwalaprana Sigit menjelaskan, hujan bakal mengguyur seluruh wilayah Jabar pada minggu ketiga bulan ini dan intensitasnya terus meningkat hingga tiga bulan ke depan.

Intensitas hujan yang tinggi mengakibatkan tingkat kerawanan bencana semakin besar. “Ini baru permulaan, bencana diperkirakan terus terjadi.Karena itu, masyarakat harus selalu waspada,”ujar Sigit,kemarin. Selain mengimbau masyarakat, dia berharap kesiapsiagaan jajaran pemerintah kota dan kabupaten dalam menangani tanggap darurat bencana. Menurutnya, banjir dan longsor di daerah masih dalam batas normal jika dikaitkan dengan curah hujan yang terjadi belakangan ini. BPBD belum menerapkan status siaga darurat bencana.

“Status Jabar masih siaga bencana,” ucapnya. BPBD Jabar telah memberikan instruksi kepada setiap BPBD tingkat kota dan kabupaten untuk selalu siaga bencana. Sebagian besar petugas BPBD Jabar telah diperbantukan ke sejumlah daerah yang terkena bencana. Sigit mengatakan, banjir di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, lebih banyak disebabkan pola pembangunan yang tidak seimbang. Menjamurnya pembangunan perumahan di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi penyebab utama banjir Soreang.

“Daya serap air yang makin menurun akibat minimnya lahan serapan dan buruknya drainase membuat air meluap,”imbuhnya. Kondisi tanah yang masih labil menyebabkan longsor susulan di Jalan Raya Soreang-Ciwidey, Kampung Sungapan, Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, kemarin.Akibatnya, jalur Soreang- Ciwidey kembali terputus sekitar satu jam.Kendaraan dari dua arah mengalami kemacetan hingga 500 meter.

Kendaraan yang hendak melintasi area longsor kembali diputarbalikkan oleh petugas kepolisian di radius 100 meter baik untuk kendaraan dari Soreang menuju Ciwidey maupun sebaliknya. Longsor susulan ini akibat lokasi tersebut diguyur hujan deras. Alat berat kembali dikerahkan di lokasi untuk membersihkan longsoran yang menutupi jalan. Berdasarkan pantauan, longsor berupa material tanah terus turun ke badan jalan secara perlahan akibat hujan deras selama setengah jam.

Terlebih lagi dari bekas longsoran tersebut timbul beberapa titik mata air yang semakin menggemburkan tanah perbukitan. Sejumlah petugas BPBD Jabar, kepolisian, dan TNI berusaha membersihkan jalan sesegera mungkin. Puluhan korban banjir di RW 13 Kompleks Perumahan Cingcin Permata Indah (CPI), Desa Cingcin,Kecamatan Soreang, mulai mengeluhkan gatal- gatal.Ketua RW 13 Rahmat Setiawan mengatakan, pihaknya memerlukan obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan karena korban banjir mulai terserang gatal-gatal.

“Kami harap pemerintah daerah segera mendistribusikan obat-obatan,” ujarnya. Ratusan relawan dan instansi berbondong-bondong memberikan bantuan logistik dan perlengkapan untuk para korban banjir di CPI. Dapur umum mulai didirikan di posko banjir setempat. Namun, dia menyayangkan sikap pengembang perumahan yang tidak peduli atas musibah banjir yang menimpa warga kompleks. Hingga kemarin, masih banyak siswa yang tidak bisa sekolah karena perlengkapan sekolah mereka kebanjiran.

Bahkan, PNS Pemkab Bandung terpaksa meminta izin kepada pimpinannya akibat rumahnya kebanjiran. “Kalau izin boleh saja karena memang situasinya kurang memungkinkan,” kata Sekda Kabupaten Bandung Sofian Sulaeman. Warga korban banjir, Nani Sumarni mengatakan, banjir terparah kali ini menimbulkan trauma bagi anak-anak dan warga lainnya.“Anak-anak tidak bisa sekolah karena bukubuku, seragam habis terendam.

Anak-anak juga mengalami trauma,”ucapnya. Hujan deras yang mengguyur wilayah Cianjur selatan mengakibatkan tebing Cadas Hideung setinggi 30 meter di Kampung Cadas Hideung, Desa Sindangkerta,Kecamatan Pagelaran,Kabupaten Cianjur, longsor.Tidak ada korban jiwa, namun arus lalu lintas menuju Cidaun maupun Cianjur sempat tertutup. Longsor terjadi pukul 06.30 WIB,kemarin.Setelah petugas Dinas Bina Marga dibantu warga menyingkirkan bongkahan longsoran batu dan pohon yang menghalangi jalan, sekitar pukul 09.00 WIB arus lalu lintas kembali normal.

“Saat kejadian arus lalu lintas tidak padat dan tidak melukai pengguna jalan,” kata warga setempat, Ujang Dalu,43. Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Asep Ahmad Suhara mengimbau seluruh camat selalu waspada dan menggerakkan aparat linmas di setiap desa agar waspada longsor dan banjir. “Penanganan yang cepat terhadap longsor di Cadas Hideung ini tidak terlepas informasi cepat dan akurat, sehingga kesiapsiagaan bencana alam di musim penghujan bisa terus ditingkatkan,”katanya.

Di Kabupaten Tasikmalaya, tercatat sejak dua bulan lalu sebanyak 43 kejadian longsor di berbagai daerah dengan skala kecil hingga besar.Meski tidak menimbulkan korban jiwa, longsor berakibat kerugian material yang cukup besar. BPBD Kabupaten Tasikmalaya mencatat kerugian longsor mencapai Rp200 juta baik kerusakan rumah warga, lahan pertanian, dan saluran irigasi yang rusak. Longsor itu menimpa beberapa kecamatan seperti Salawu, Bojonggambir, Cigalontang, Taraju, dan Sodonghilir.

“Kami mempunyai alokasi dana tanggap bencana dan kepentingan lainnya dari APBD sebesar Rp725 juta,sedangkan kerugian bencana pada dua bulan terakhir rata-rata Rp6-20 juta.Dana itu masih kurang,tapi mudah-mudahan dari Pemprov Jabar dan APBN membantu jika bencana terjadi,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Tasikmalaya Kundang Sodikin. Sementara itu,sejumlah penyakit mengintai warga pascabanjir.

“ Dikhawatirkan timbulnya penyakit diare, batuk, dan pilek. Selain itu, ancaman penyakit kulit dan leptospirosis,” kata dokter anak RS Melinda dr Tetty Yuniati.Menurutnya, lingkungan yang kotor menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, apalagi saat kekebalan tubuh menurun.Anak-anak juga rentan terkena penyakit tangan,kaki,dan mulut. agung bakti sarasa/ ricky susan/ nanang kuswara/ masita ulfah/ iwa ahmad sugriwa

Sumber:seputar-indonesia.com

40 Desa Rawan Bencana Longsor dan Banjir

November 13, 2012 by  
Filed under Berita Daerah, Jawa Barat Terkini, Subang

Ilustrasi

Memasuki musim penghujan, lebih dari 40 desa yang tersebar di Kabupaten Subang dinyatakan kawasan rawan bencana banjir dan longsor. Kondisi ini membuat Dinas Sosial Kabupaten Subang berharap daerah tersebut segera memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kasi Bantuan Sosial Korban Bencana, Tito Purwanto mengatakan, pembentukan BPBD, bantuan pusat yakni dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bisa diterima oleh Pemkab Subang. Bahkan,Tito menyatakan lebih lanjut, dalam hasil rapat dengan pemerintah pusat terkait pemetaan permasalahan kawasan bencana, Subang sudah seharusnya memiliki BPBD.

“Dari hasil rapat yang dilakukan dengan Kemendagri,Ditjen Pemerintahan Umum,kami mendapatkan instruksi untuk melakukan upaya preventif terhadap potensi bencana yang ada di Kabupaten Subang.Oleh karena itu kami telah melakukan pemetaan sejumlah kawasan rawan Bencana di Subang,”ucap Tito .

Dari hasil penulusurannya, Dinas Sosial memprediksi sekitar enam Kecamatan sebagai kawasan rawan banjir yakni, Kecamatan Pamanukan, Ciasem, Pabuaran, Pusakanegara, Pusakajaya, danSukasari.Sedangkan untuk kawasan bencana longsor yakni Kecamatan Cijambe,Tanjungsiang, dan Sagalaherang. “Kawasan rawan bencana tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 40 desa,”Kata Tito.

Tito menambahkan jika anggaran yang diberikan Pemkab pada 2012 ini masih sangat minim yakni sebesar Rp55 juta.“ Ya, anggaran tersebut tentu sangat minim. Meskipun mengalami kenaikan anggaran pada tahun sebelumnya sebesar Rp50 juta, dan pada tahun sebelumnya lagi sebesar Rp 30 juta,”ucapnya.

Wakil Ketua DPRD Subang, Agus Masykur menyatakan jika Subang belum terlalu membutuhkan pembentukan BPBD. Menurutnya antisipasi penanganan bencana di Subang hingga saat ini masih bisa datangani oleh Tim Penanggulangan Bencana Daerah (TPBD) yang ada. heru muthahari

Sumber:seputar-indonesia.com