web analytics

Mau Punya Wakil Bermoral di DPR? Semua Tergantung Anda

(VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

(VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

Rakyat Indonesia bersiap menyongsong Pemilihan Umum 2014 untuk memilih wakil-wakil di legislatif, DPD, hingga presiden. Ingin anggota DPR yang benar-benar bekerja, bermoral, serta tidak korupsi? Semua tergantung Anda sebagai pemilih.

Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari, Jumat 24 Mei 2013 mengingatkan masyarakat Indonesia untuk menggunakan hak pilih mereka sebaik-baiknya. Seseorang itu bisa masuk jadi anggota dewan tergantung, menurut dia, tergantung dari partai politik dan masyarakat.

“Sehingga, yang menentukan moral anggota dewan adalah partai politik dan masyarakat,” kata Eva yang juga anggota Komisi III DPR ini.

Partai politik menyaring orang-orang untuk masuk daftar calon legislatif dengan berbagai kriteria yang seharusnya akuntabel. Misalkan kemampuan, rekam jejak, dan komitmen terhadap isu publik. “Ada tidak kriteria parpol seperti itu? Atau hanya populer?” kata Eva.

Penentu kedua dan paling penting adalah masyarakat, dalam hal ini pemilih. Menurut Eva, masyarakat perlu tahu bagaimana kapasitas, kapabilitas, integritas dan moral calon anggota dewan itu. “Kuncinya itu justru ada di pemilih.”

Parpol boleh saja mencalonkan penyanyi dangdut, atau orang tenar lainnya. “Tapi mau menang atau tidak, tergantung pemilih. Sudah saatnya, Anda jadi pemilih yang bertanggung jawab dan pintar. Jadi, ini jadi PR masyarakat untuk memastikan ada pemilih yang smart.”

Namun, dia mengakui, anggota Dewan pun seharusnya bisa menjaga tabiat. Menjaga moral ini tidak hanya urusan bolos dan korupsi, tapi yang lain juga.

“Parpol sekali lagi, jangan hanya memilih orang asal ngetop. Dikhawatirkan berdampak tidak positif dengan kinerja parlemen. Jadi, dilihat komitmen parpol, kemudian kualitas,” kata dia.

DPR periode ini kerap disorot dalam kasus korupsi, pelanggaran susila. Beberapa anggota DPR aktif masuk bui karena kasus korupsi. Tak hanya itu, belakangan Badan Kehormatan DPR pun mengumumkan sejumlah anggota yang absensinya di bawah 50 persen. (umi)

sumber+foto:vivanews

Rhoma Irama Capres Alternatif Terpopuler

20130214_Rhoma_Irama_Tausyiah_di_Benteng_Kuto_Besak_8444Sekian calon presiden berasal dari partai politik, publik tetap mendambakan munculnya capres alternatif non partai. Nama Rhoma Irama melejit menjadi calon presiden terpopuler.

Menyusul berikutnya, nama Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.

Temuan respon publik ini terekam dalam hasil survei Lembaga Survei Jakarta yang diadakan pada 4 sampai 16 Maret 2013 di 33 provinsi, mengambil sampel sebanyak 1225 dengan margin error kurang lebih 2.8 persen dan tingkat kepercayaan publik 95 persen.

“Menurut survei LSJ, Rhoma Irama merupakan capres alternatif paling populer yakni 89.9 persen. Di peringkat kedua Dahlan Iskan dengan tingkat popularitas sebesar 65.3 persen, disusul Mahfud MD 63.2 persen,” ujar Direktur LSJ Rendy Kurnia di Jakarta, Kamis (28/3/2013).

Kendati begitu, untuk akseptabilitas dan elektabilitas, Dahlan di posisi teratas menurut responden yakni 44.2 persen, disusul Mahfud MD 42.8 persen, dan Rhoma Irama yang mendapat juluka si raja dangdut dengan perolehan suara 40.1 persen.

Secara elektabilitas, lanjut Rendy, Dahlan berada di angka 17.2 persen, mengungguli Mahfud 13.1 persen, disusul Rhoma 10.8 persen, Abraham Samad 5.2 persen, Sri Mulyani 3.9 persen, Chairul Tandjung 3.6 persen.

Disusul selanjutnya nama Menteri Kooordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto 2.8 persen, Rizal Ramli 2.5 persen, Pramono Edhie Wibowo 1.9 persen, Irma Gusman 1.4 persen, Gita Wirjawan 1.3 persen, dan Anies Baswedan 1.1 persen.

Peneliti senior LSJ Igor Dirgantara menambahkan, Dahlan paling banyak dipilih karena dinilai sederhana, responsif, jujur, dan merakyat. Dahlan dikenal karena sering nampang di publik menyosialisasikan kebijakannya di berbagai wilayah di Indonesia.

Igor mengakui, elektabilitas yang diraih Dahlan sedikit banyak mendapat pengaruh kuat dengan jaringan medianya di bawah Grup Jawa Pos. Jaringan media yang ada hampir di seluruh Indonesia memperkuat alasan publik memilih Dahlan, kata Igor.

Pakar psikologi politik Hamdi Muluk menilai meski elektabilitas Dahlan tertinggi, muncul persoalan karena pencalonan presiden tetap harus lewat partai politik. Sementara ini Dahlan tidak memiliki afiliasi ke partai politik yang lolos peserta pemilu.

“Kalau capres alternatif mau serius maju karena ada harapan yang disandangkan publik kepadanya, maka harus memiliki kendaraan politik,” ujar Hamdi sambil menambahkan, munculnya Dahlan karena kerap hadir dalam kebijakan politik sebagai menteri.

Sumber + Foto : tribunnews.com

Rhoma Irama Sudah Layak Jadi Capres 2014?

Foto : viva.co.id

Pengamat politik dari LIPI, J Kristiadi, mengatakan Rhoma Irama berhak mendeklarasikan diri sebagai calon presiden untuk bertarung pada pemilu 2014. Namun, dia menilai raja dangdut itu belum layak menjadi calon presiden.

“Itu hak Rhoma dan hak yang mencalonkan, tapi belum patut karena pemilihan presiden ukurannya berbeda,” Kata J Kristiade, usai menghadiri acara seminar di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Selasa 4 Desember 2012.

Dia menambahkan, Rhoma akan banyak mendapatkan kesulitan untuk pencalonannya. Meskipun sejumlah partai, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), telah melakukan penjajakan, pencalonan Rhoma tidak akan mudah. “Apalagi belum ada survei yang menunjukkan elektabilitasnya,” kata dia.

Selain itu, lanjut Kristiadi, meski pernah tercatat sebagai pengurus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), pengalaman Rhoma di dunia politik belum cukup untuk maju dalam pemilihan presiden 2014. “Rhoma belum masuk ke ranah itu,” kata dia.

Sebelumnya, Rhoma bertemu dengan para petinggi PKB di Jakarta. Dalam pertemuan itu, PKB melakukan penjajakan kemungkinan mencalonkan Rhoma sebagai capres 2014. Selain Rhoma, PKB juga menjajaki tokoh lain untuk dicalonkan. Sementara itu, Rhoma menyatakan telah siap jika dicalonkan pada pemilu 2014.

Sumber:viva.co.id