web analytics

Tekad Tati Haryati, Kembangkan Ekonomi Daerah dengan Eceng Gondok

Tati Haryati (60) menampilkan produk daerah dari kerajinan tangan eceng gondok pada Pekan Seni Budaya Jawa Barat 2013 di Bandung, Jum'at (13/09/2013)

Tati Haryati (60) menampilkan produk daerah dari kerajinan tangan eceng gondok pada Pekan Seni Budaya Jawa Barat 2013 di Bandung, Jum’at (13/09/2013)

Bandung (JABARMEDIA) – Tekad Tati Haryati (60)  untuk menumbuh-kembangkan ekonomi daerah sangat tinggi. Hal ini terlihat dari kegigihannya mempromosikan berbagai jenis produk hasil kerajinan unit Usaha Kecil Menengah (UKM) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Bakti desa Walahar kecamatan Klari kabupaten Karawang pada acara Pekan Seni Budaya Jawa Barat yang dipusatkan di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat mulai tanggal 7 hingga 13 September 2013.

UKM PKBM Bina Bakti membawahi 12 kelompok UKM dan setiap kelompoknya terdiri dari 10 orang peserta. UKM Bina Bakti berkesempatan mendapat binaan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) kabupaten Karawang sehingga sering mendapat undangan dari pemerintah daerah untuk mempromosikan produknya di berbagai event berbagai daerah.

Haryati dengan para pengrajin di UKM PKBM Bina Bakti lainnya telah menghasilkan berbagai jenis makanan khas daerah yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi produk makanan yang siap jual, di antarnya; Sale Pisang Ambon, Keripik Pisang, Opak Unyil dan Lumpia Abon Gulung.

Selain makanan, Haryati juga mempromosikan berbagai jenis produk kerajinan tangan yang tidak kalah menarik perhatian pengunjung pada acara Pekan Seni Budaya Jawa Barat 2013, yaitu kerajinan tangan dari eceng gondok. Berkat keulatan Hartati dan kawan-kawannya di UKM PKBM Bina Bakti, eceng gondok yang sering diangap sebagai tanaman pengganggu disulap menjadi produk kreatif yang dapat mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Jenis-jenis produk anyaman yang dihasilkan dari bahan baku eceng gondok, di antaranya; alas piring (pismet), bungkus botol, tatak gelas dan tas dengan berbagai corak dan tempat tisu. Tapi, untuk membentuk tiap-tiap wadah sudah menggunakan mesin cetak (mal).

Kekuatan jenis produk dari bahan eceng gondok ini mampu bertahan hingga 20 tahun.

Ia pun mengembangkan usaha kreatif dari bahan baku rotan untuk pembuatan jenis produk seperti kursi.

Untuk menambah keindahan pesona anyaman eceng gondok dan rotan dihiasi berbagai aksesoris seperti bunga dari plastik yang didapatkan dari daerah lain.

Harga tiap jenis produk berbeda, mulai harga Rp. 10 ribu, seperti tatak gelas sampai Rp. 500 ribu untuk jenis kursi. Bahkan untuk kursi yang berbahan baku campuran harganya mencapai Rp. 1 juta.

Produksi kerajinan dari eceng gondok, rotan dan makanan daerah yang diproduksi Haryati dapat dikatakan belum seperti pengrajin-pengrajin lainnya yang sudah menembus pasaran ekspor luar negeri. Tapi, ia akan selalu melakukan inovasi dalam mengembangkan produk daerah untuk membantu masyarakat dalam peningkatan ekonomi.

Menenai modal yang sering dikeluhkan pengusaha lain, Haryati tidak kuatir, karena saat ini ada bank yang bisa memberikan modal bagi usaha kreatif. Jika sudah ada usaha kreatifitas seperti ini, modal bisa dibilang tidak ada masalah. Untuk meminjam pun tidak terlalu sulit. Sekarang bank sudah mulai percaya pada kerajinan enceng gondok, jadi agak mudah kalau mau meminjam. “Kemajuan itu tergantung kreatifitas kita, kalau mau silahkan siapa saja”, ajaknya.

SDM memang banyak, tapi yang kreatif sangat sulit, karena itu Haryati merasa perlu mendapatkan pelajaran banyak dari pengrajin-pengrajin lain untuk pengembangan inovasi produk yang sedang ia tekuni.

“Besok saya akan mengunjungi pengrajin eceng gondok di Djogjakarta untuk studi banding dalam pengembangan kerajinan eceng gondok, setelah melihat kondisi pengembangan rotan di Cirebon”, ujar Haryati.

Usaha eceng gondok ia lakoni setelah melihat di desanya banyak eceng gondok yang menutupi rawa, sungai, dan kolam-kolam warga, tapi ia mengaku masih perlu mendapat pembinaan mengenai cara pengolahannya sehingga menjadi produk ekonomi yang tidak menganggu lingkungan.

“Bahan bakunya (eceng gondok) di daerah saya banyak, jadi saya akan terus melakukan pengembangan inovasi ke berbagai produk dari eceng gondok”, katanya sambil menunggu stand di akhir kegiatan Pekan Seni Budaya Jawa Barat, Jum’at (13/9/2013).

Mencari enceng gondok tidak sulit, karena dapat mempekerjakan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan eceng gondok yang biasa dibeli seharga Rp 3.500/kg enceng gondok kering atau Rp 1.500/kg untuk enceng gondok basah.

Agar enceng gondok bisa dipakai, enceng gondok harus dalam kondisi kering. Jika ingin ecneng gondok yang berbentuk lembaran, maka pertama-tama kupas enceng gondok untuk dibuang isinya. Setelah itu baru kemudian dijemur.

Proses pengeringan biasanya memakan waktu selama 3 hari. Perlu diingat dalam proses pengeringan jangan sampai enceng gondok bersentuhan dengan tanah karena akan menimbulkan jamur. Jika sudah demikian, maka enceng gondok tidak bisa dipakai lagi.

Isi enceng gondok ternyata juga tak kalah bermanfaat dibanding kulitnya. Isi enceng gondok yang telah dihancurkan kemudian dicampur dengan lem ternyata juga bisa bermanfaat untuk membuat produk kreatif.

Haryati berharap agar usaha kreatif enceng gondok semakin berkembang sehingga diharapkan dapat mengurangi jumlah pengangguran.

Jika Anda mempunyai ide kreatif, munculkan ide Anda dalam bentuk sebuah produk. Jika sudah demikian, maka Anda akan mendulang kesuksesan yang sama seperti Haryati dan para pengrajin sukses lainnya.

Info lebih lanjut hubungi:

Putra Karawang Production

a.n/ Gusman T

E-mail : gusmantauf[email protected]

Telp. : 081381687112

PKBM Bina Bakti RT./RW. 17/02 Desa Walahar Kec. Klari Karawang