Siswa SMP Rancaekek UN di Tengah Banjir

201627_ujian-nasional-2013_663_382Banjir menghantui pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP sederajat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Siswa MTS Persis, Desa linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, terpaksa mengikuti UN di tengah kondisi banjir yang menggenangi sekolah itu sejak semalam.

Menurut salah satu siswa, Iwan Hamzah (16), dia terpaksa tidak menggunakan sepatu untuk mengiuti ujian hari kedua ini, Selasa, 22 April 2013. Hingga pagi tadi, air setinggi 20 cm masih menggenangi MTS yang berada di Desa Ligar, Kabupaten Bandung itu.

“Meski dalam keadaan banjir, kami tetap semangat melaksanakan ujian,” kata Iwan.

Roni , guru MTS Persis menyampaikan bahwa banjir memang selalu terjadi saat hujan deras. Air sungai yang berada di sekitar sekolah dengan cepat meluap dan masuk ke areal sekolah.

“Sekolah kami memang sudah jadi langgannan banjir di kawasan kecamatan Rancaekek ini, jadi siswa sudah terbiasa,” kata Roni.

Selain faktor banjir, saat pelaksanaan UN hari kedua di sekolah ini sempat terjadi kendala ketika pembagian naskah ujian. Siswa sempat kebingungan karena soal Bahasa Inggris yang mereka terima hanya soal halaman 4 dan 5 saja. Sedangkan halaman 1,2 dan 3 tidak ada.

“Kami sempat mencari soal halaman 1, 2, dan 3 ternyata ada di amplop lembar jawaban, jadi kami bagikan kembali sesuai urutan halaman soal yang diujikan,” ujar Roni. (umi)

sumber+foto:viva.co.id

DPR Desak Pemerintah Setop Pembangunan Vila-vila di Kawasan Puncak

January 18, 2013 by  
Filed under Berita Nasional, Jawa Barat Terkini

villa-puncakMenjamurnya pembangunan vila di kawasan Puncak, Bogor secara langsung membuat daya resap air ke permukaan tanah menjadi tidak maksimal. Hal ini dianggap menjadi salah satu faktor banjir di Jakarta selama ini.

Anggota Komisi VIII DPR-RI Jazuli Juwaini mengungkapkan pembangunan vila tersebut menjadi salah satu faktor berkurangnya daya resap air ke tanah. Namun, menurutnya, tidaklah mungkin untuk menggusur bangunan yang telah ada.

“Vila ini menjadi tempat pariwisata juga, tinggal ditertibkan saja perizinannya, sehingga kita mencari solusi ini menjadi komprehensif, misalnya membuat sodetan dan sumur serapan,” katanya saat ditemui di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Jumat (18/1/2013)

Hal senada diungkapkan oleh Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio mengungkapkan, untuk menggusur bangunan-bangunan di puncak tidak akan menyelesaikan suatu masalah.

“Orang yang membuat vila itu legal. Kalau anda buat vila terus digusur anda bakal nuntut. Itu tidak akan menyelesaikan masalah, selesainya dengan membangun bendungan-bendungan, reboisasi,” tuturnya.

Seperti diketahui, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menyindir soal banyaknya pembangunan tak terencana di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pembangunan pemukiman atau villa yang banyak dilakukan ini membuat daerah serapan air berkurang, sehingga air cepat mengalir dan membanjiri Jabodetabek.

“Ini semua bagian-bagian yang tidak bisa ditambal sulam. Harus dipikirkan perencanaan yang sangat matang. Muaranya itukan ke laut. Belum sampai ke permukaan laut, dengan DKI ingat sangat kritis juga. Diperlukan pompa yang luar biasa untuk mengalirkan air karena permukaan laut sudah sangat tinggi. Ini semua adalah bagian yamg harus dibicarakan terprogram dengan baik,” ungkap Hatta.

Dia mengatakan, jajaran Kemenko Perekonomian bersama dengan Pemprov DKI akan melakukan pembicaraan yang komprehensif untuk penanganan banjir di Ibukota. Karena memang Pemprov DKI tak bisa bekerja sendirian.

sumber: http://finance.detik.com