Analisis Pakar: Gempa Aceh karena Pergeseran Patahan Semangko

patahansemangkojurnaldannyhilmandAceh digoyang gempa 6,2 Skala Richter (SR) yang berpusat di 35 km dari Kabupaten Bener Meriah, Aceh, dengan kedalaman 10 km. Pakar gempa menganalisa bahwa gempa itu terjadi karena pergeseran Patahan Sumatera atau Semangko.

Pakar gempa LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaja mengatakan ada 2 patahan besar yang sejajar memanjang di Pulau Sumatera. Patahan pertama adalah Zona Subduksi yang memanjang di laut Samudera Hindia sepanjang bagian barat Sumatera. Pergeseran Zona Subduksi ini yang menyebabkan gempa dan tsunami di Aceh tahun 2004.

Patahan kedua adalah Patahan Sumatera atau Semangko yang memanjang di tengah daratan Sumatera. Dari informasi bahwa pusat gempa 6,2 SR berada di daratan sekitar Bener Meriah dan Aceh Tengah, Danny menduga kemungkinan besar hal itu karena pergeseran Patahan Sumatera ini.

“Yang jelas secara umum gempa itu bukan hal yang istimewa. Di situ sudah ratusan tahun nggak ada gempa besar, skala gempanya sekitar 6 SR. Apakah memang tipikalnya begitu atau energinya belum keluar ya belum tahu,” kata Danny yang meneliti mengenai Patahan Sumatera dan Zona Subduksi ini.

Yang dimaksud gempa besar adalah 6,5 – 8 SR ke atas, sedangkan yang terjadi di Aceh hari ini adalah gempa sedang yang kisarannya 5-6,5 SR. Lebih dari 8 SR maka digolongkan gempa sangat besar.

“Kalau yang segmen Takengon (Aceh Tengah) ini sampai di daerah dekat-dekat Danau Toba itu,” jelas Danny yang dihubungi, Selasa (2/7/2013).

Penjelasan Danny Hilman ini juga dibenarkan Kabid Gempa Bumi BMKG Wandono saat dihubungi terpisah. “Itu aktivitas besar dari Patahan Sumatera,” kata Wandono singkat karena sedang rapat tersebut.

Sumber+foto:detik.com

Gempa Iran, 37 Tewas dan 850 Terluka

20130411 berita utama (Gempa Iran,37 Tewas dan 850 Terluka)bGempa bumi kuat yang melanda Provinsi Bushehr, kawasan dengan satu-satunya fasilitas nuklir di Iran, Selasa (9/4) menewaskan 37 orang dan melukai 850 lainnya.

Pencarian korban dihentikan setelah Tim Bulan Sabit Merah Iran menemukan semua laporan orang hilang. “Tidak ada lagi korban yang terjebak di bawah reruntuhan,” ujar Kepala Tim Bulan Sabit Merah Iran Mahmoud Mozafar, dikutip kantor berita Fars. Mozafar menambahkan, saat ini dukungan difokuskan untuk membantu para korban yang kehilangan tempat tinggalnya. Seribu tenda telah didirikan. Selimut dan makanan juga sudah dikirim ke daerah yang terkena gempa.

Gempa berkekuatan 6,3 pada Skala Richter (SR) tersebut berdampak langsung terhadap 50 desa dengan jumlah penduduk sekitar 10.000 orang. Dua desa di antaranya rata dengan tanah. Dilansir dari Reuters, mayoritas rumah di beberapa desa di provinsi itu terbuat dari batu bata sehingga mudah ambruk bila terjadi gempa. “Karena intensitas yang begitu kuat akibat gempa ini, banyak rumah yang hancur, 37 orang tewas dan lebih dari 850 orang terluka,” ujar Gubernur Provinsi Bushehr Fereydoun Hassanvand kepada kantor berita Mehr.

Terkait fasilitas nuklir, Kepala Badan Energi Atom Fereydoon Abbasi Davani, dikutip AFP, melaporkan tidak ada dampak yang harus dikhawatirkan. Ini lantaran fasilitas nuklir itu tidak beroperasi karena sedang diperbaiki ketika gempa terjadi. Dia juga menekankan tidak ada kebocoran radioaktif. Gempa ini terjadi bertepatan dengan peluncuran sebuah fasilitas produksi uranium dan dua tambang ekstraksi.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan IRNA, menyampaikan belasungkawa atas terjadinya bencana besar itu. Dia juga meminta para pejabat di sejumlah badan-badan bantuan untuk mengerahkan semua kemampuan dan kemungkinan untuk membantu para korbandiProvinsiBushehr. Ahmadinejad mengimbau pengurusan yang baik bagi korban meninggal serta perawatan kesehatan bagi yang terluka.

Komentar senada juga dilontarkan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatollah Ali Khamenei. Sementara itu, gempa besar ini juga terasa hingga wilayah lainnya, seperti Dubai, Qatar, dan Bahrain. Bahkan di Dubai, ratusan orang keluar dari rumah lantaran panik. Menurut laporan media setempat, beberapa gedung pencakar langit langsung mengevakuasi seluruh isi gedung. Gempa hebat yang melanda Iran bukan pertama kali terjadi. Letak Iran yang melintasi garis patahan geologi besar sehingga rentan terhadap aktivitas seismik. Beberapa di antaranya masuk dalam kategori gempa yang sangat berbahaya dan menghancurkan.

Pada Agustus tahun lalu, dua gempa besar yakni 6,2 SR dan 6,0 SR mengguncang barat laut Iran. Lebih dari 300 tewas dan 3.000 lainnya terluka. Sebelumnya, Desember 2010, gempa besar melanda selatan Kota Bam. Saat itu 31.000 orang tewas serta menghancurkan benteng kuno yang dibangun dengan lumpur. susi susanti
Sumber + Foto : koran-sindo.com

Museum Geologi Pilihan Seru Weekend

December 24, 2012 by  
Filed under Pariwisata

Jika memiliki waktu berlibur cukup panjang di Kota Bandung, tidak ada salahnya berkunjung ke Museum Geologi. Sebab di museum tersebut masih menyimpan kerangka Tyranosaurus Rex. Bahkan, museum tersebut tak hanya tempat untuk menyimpan benda antik atau kuno, tetapi berperan sebagai sarana pendidikan, informasi, rekreasi, dan wisata.

Museum Geologi yang didirikan tanggal 16 Mei 1928 di Jalan Diponegoro 57 Bandung ini adalah merupakan museum bersejarah yang menyimmpan materi-materi geologi, seperti fosil, batuan, serta mineral. Museum ini telah mengalami renovasi dan dibuka lagi pada tanggal 23 agustus 2000.

Museum Geologi terbagi dalam beberapa ruang pamer yang terdiri atas 2 lantai. Kurang lebih ada 60.000 koleksi fosil, dan 250.000 koleksi batuan serta mineral. Di museum ini juga ada kerangka tiruan T-Rex (Tyranosaurus Rex) yang dibuat di Kanada pada tahun 1998.

Di museum ini juga terdapat fosil-fosil hewan maupun manusia purba yang ditemukan di tanah air. Para pengunjung juga dapat mempelajari tentang kegiatan di bumi. Seperti mengapa terjadi tanah longsor, gunung meletus, mengapa ada gempa bumi dan pergeseran lapisan bumi.

Selain itu pengunjung akan mengetahui tentang perkembangan sejarah bumi. Hal itu mulai dari pembentukan bumi, hingga munculnya berbagai macam makhluk hidup seperti, dinosaurus, manusia purba, hingga manusia seperti kita saat ini.

Sejarah museum geologi

Museum Geologi Bandung berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi, dan pertambangan di Indonesia yang telah dimulai sejak abad ke 17. Untuk mewadahi penyelidikan tersebut pemerintah Belanda membentuk suatu badan yang bernama “Diens van het Mijnwezen” pada tahun 1850. Tahun 1922, lembaga ini berubah menjadi “Diens van het Mijnbouw”. Dalam perkembangannya, lembaga tersebut memerlukan tempat menyimpan hasil analisis dan penyelidikan, sehingga dibangunlah gedung untuk lembaga tersebut yang terletak di Rembradnt Straat (sekarang Jalan Diponegoro Bandung).

Gedung ini dirancang dengan gaya Art Deco oleh Ir. Menalda van Schouvbug, seorang arsitek berkebangsaan Belanda diresmikan pada tanggal 16 Mei 1929 yang bertepatan dengan pembukaan kongres ke-IV Ilmu Pengetahuan Pasifik yang di selenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Gedung ini pun di fungsikan sebagai perkantoran yang dilengkapi dengan sarana laboratorium geologi. Ada juga museum untuk menyimpan dan memperagakan hasil penelitian geologi dan kebumian dengan nama “Geologisch Laboratorium”, yang kemudian lebih dikenal dengan “Geologisch Museum”

Museum Geologi tidak lepas dari sejarah perkembangan dunia, saat perang dunia ke-2 sekitar tahun 1941, perkembangan museum terkena dampak langsung. Gedung tersebut dijadikan markas Angkatan Udara oleh Belanda. Sehingga berbagai koleksi dipindahkan ke Gedung Pensioen Fonds (Gedung Dwiwarna) dan tak sedikit koleksi yang rusak maupun hilang.

Sempat terabaikan

Pada masa pendudukan jepang 1942, Museum Geologi difungsikan kembali dengan nama “Kogyo Zimusho”, dan kemudian berganti menjadi “Chisitsu Chosasho”. Namun, pengelolaannya kurang mendapat perhatian, dan terkesan diabaikan. Keadaan seperti ini terus berlangsung selama perang kemerdekaan.

Usai kemerdekaan Republik Indonesia, Museum Geologi mulai bergeliat. Tepatnya pada 22 Februari 1952, saat museum geologi dikelola Djawatan Pertambangan Republik Indonesia. Namun penataan secara meyeluruh baru dilakukan pada tahun 1998, melalui kerjasama pemerintah RI dengan Jepang. Museum Geologi pun sempat ditutup hingga tahun 2000. Baru pada Agustus 2000 Museum Geologi kembali dibuka. Pembukaan secara resmi dilakukan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Koleksi museum geologi

Museum Geologi Bandung bukan hanya memiliki ratusan ribu batuan dan puluhan ribu fosil purba berumur puluhan jutaan tahun, tetapi juga memiliki koleksi langka yang tidak dimiliki museum lain di dunia seperti museum di Amerika atau di Eropa. Museum Geologi memiliki berbagai fosil hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berasal dari Indonesia.

Fosil-fosil tersebutdi antaranya fosil gajah purba “inomastodon bumiayuensis”, gajah purba berumur 1,2 hingga 1,5 juta tahun lalu yang bentuk badannya lebih kecil dan gading lurus. Gajah purba generasi berikutnya “stegodon trigonocephaus” yang hidup sekitar 1 hingga 1,2 juta tahun lalu, dengan ukuran lebih besar dan gadingnya melengkung.

Gajah purba “elephus lysudrindicus” yang hidup sekitar 800 ribu tahun lalu, dengan bentuk badan lebih besar dan gading melengkung serta “elephus maximum” kelompok gajah yang masih ada saat ini. Selain memiliki koleksi fosil gajah purba, Museum Geologi juga memiliki berbagai koleksi hewan purba lainnya, seperti Dinosaurus, yang menguasai daratan pada zaman “Mesozoikum”, jauh sebelum manusia ada. Dinosaurus muncul pada zaman Trias, berkembang pada zaman Jura, dan punah pada zaman Kapur.

museum-geologiKoleksi lainnya adalah Badak Sunda “Rhinoceros Sondaicus”, Kuda Nil “Hippopotamus Simplex”, Kerbau “Bubalus Palaeokeraba” dan kura-kura raksasa “Geochelone Atlasi”. Fosil-fosil ini sebagian besar ditemukan di situs sekitar aliran Bengawan Solo.

Fosil lain yang tak kalah menarik adalah babi rusa “Celebochoerus Heekereni”, Komodo “Varanus Komodoensis”, gajah kerdil “Stagodon Sompoensis, Stegodon Sondari”, dan “Eleephas Celebeensis”, semuanya hidup di luar Palau Jawa.

Berbagai fosil manusia purba juga meghiasi ruang pamer Museum Geologi, di antaranya fosil manusia yang ditemukan di sepanjang aliran Bengawan Solo, yakni fosil “Pithecanthroupus Erectus” yang disebur-sebut sebagai “The Missing Lin” oleh penemunya Eugine Dubois yang melakukan eskavasi tahun 1891-1893.

Pengunjung juga bisa menikmati fosil kekayaan alam Indonesia berupa aneka bebatuan yang disimpan secara terbuka di halaman Gedung Museum Geologi dan diberi nama Taman Situs Batu, yang baru diresmikan sekitar dua bulan lalu. Di taman ini dipamerkan aneka fosil batu, di antaranya fosil batu lumba-lumba asal Kasui, Waykambas, dan Lampung seberat 3,6 ton. Fosil batu Indian Berdoa, berumur 2 sampai 3 juta tahun dan fosil batu tangan, serta fosil evolusi bebatuan.
sumber: disparbud.jabargov.go.id

Gempa Cianjur, Petugas Kesulitan ke Lokasi

November 2, 2012 by  
Filed under Berita Daerah, Cianjur, Jawa Barat Terkini

Ilustrasi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur belum menerima laporan adanya kerusakan akibat gempa berkekuatan 5,8 skala richter yang terjadi Kamis, 1 November 2012 sekitar pukul 21.12 WIB.

“Kami masih mendapatkan laporan warga masih panik akibat gempa Cianjur Selatan. Mereka berkerumun dibagian luar rumah karena takut gempa susulan. Namun belum ada laporan korban jiwa maupun rumah yang rusak,” ungkap Kepala BPBD Kabupaten Cianjur Asep Suhara saat dihubungi VIVAnews.

Asep mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan semua unsur dari TNI, polri Camat hingga Lurah yang bertugas di Cianjur Selatan. Hingga saat ini laporan yang sudah masuk baru berasal dari tiga kecamatan yaitu Cibinong, Leles, dan Agrabinta.

“Tapi hingga kini belum ada laporan kerusakan. Ketiga wilayah ini bagian dari Sembilan wikayah yang rawan longsor,” katanya.

Menurut Asep, petugas kemungkinan baru akan mengecek ke lokasi pusat gempat pada esok pagi. Beratnya medan yang harus dilalui membuat petugas sulit mencapai lokasi.

Namun, BPBD Cianjur memastikan akan terus memantau perkembangannya Gempa Bumi, terutama di wilayah selatan. Sebab, berdasarkan laporan, getaran gempa dirasakan cukup besar di wilayah itu.

Pemantauan terutama diarahkan pada enam wilayah yang rawan mengalami longsor dan berdekatan dengan titik pusat gempa. “Saya menunggu laporan yang harus masuk. Saya akan tunggu terus hinga besok,” tuturnya.

Dihubungi secara terpisah Ketua Satgana PMI Kabupaten Cianjur Ruddi Syachdiar Hidajath mengaku, sedang menerjunkan tim relawan Satgana ke wilayah selatan.

“Dari laporan sementara belum ada kerusakan apapun. Kita masih memantau dan melihat perkembangannya,” kata Rudi melalui telepon selulernya.

Sumber:viva.co.id

Jabar harus Segera Bentuk BPBD Kabupaten/Kota

September 28, 2012 by  
Filed under Berita Jawa Barat, Jawa Barat Terkini

Provinsi Jabar baru memiliki 15 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tingkat kab/kota.

Sementara 11 kab/kota lainnya belum membentuk badan ini dan beberapa di antaranya sedang dalam proses pembentukan. BPBD memiliki peranan penting dalam menanggulagi bencana baik bencana alam maupun bencana lainnya.

Kepala BPBD Prov Jabar Udjwalaprana Sigit kepada “PRLM” di Bandung, Kamis (27/9) mengatakan akan terus mendorong agar semua kab/kota memiliki BPBD. Namun, menurutnya political will dari bupati/walikota sangat dibutuhkan.

Daerah yang belum membentuk badan ini diharapkan Sigit, segera membentuk karena hal tersebut merupakan amanat UU yang ada.

Sebanyak 15 kab/kota yang sudah membentuk BPBD di antaranya, Kab. Bandung, Bandung Barat, Banjar, Bogor, Ciamis, Cianjur, Cimahi, Kota Cirebon, Garut, Indramayu, Kuningan, Majalengka, Kab. Sukabumi, Kab. Tasikmalaya, dan Purwakarta.

“Sebenarnya sekarang ada yang sudah mulai bergerak (membentuk BPBD). Ini menyangkut perda sehingga harus ada studi banding untuk menganalisis pembentukan BPBD. Kota Bandung, Kab. Subang, Kab. Cirebon, dan Kab. Sumedang sudah mau. Mereka sedang mempercepat pembentukan perda, kalau perda sudah ada dalam waktu 4 bulan, 6 bulan, atau satu tahun BPBD bisa terbentuk,” kata Sigit.

Sigit mengingatkan, membentuk BPBD kab/kota tidak memiliki kerugian justru akan diuntungkan dengan adanya bantuan dana jika terjadi bencana. Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan sekitar 42 juta jiwa penduduk Jabar tinggal di daerah yang terpapar rawan gempa bumi dan bencana lainnya.

“Kalau bicara kekeringan dan banjir, itu sepanjang Pantura bisa terkena. Kalau erupsi gunung ada G. Tangkubanparahu, G. Galunggung yang rawan. Kalau longsor, sebagian besar Jabar bagian Selatan itu daerah longsor semua. Sepanjang selatan mulai Cianjur, Sukabumi, Ciamis, Tasikmalaya, Pangandaran, ancamannya tsunami,” katanya.

Sutopo mengatakan BNPB tidak bisa melakukan intervensi pembentukan BPBD. Namun, BNPB memberi stimulus, artinya BNPB tidak akan beri bantuan dana, dan bantuan lainnya seperti logistik peralatan kepada daerah yang belum terbentuk BPBD.

Terkecuali, ketika daerah tersebut terkena bencana yang besar, BNPB akan memberi dana ongkol (siap pakai) pada bupati/walikota. Namun, daerah itu tidak akan mendapat bantuan dalam hal pelatihan, rehabilitasi, rekonstruksi bangun rumah, irigasi, infrastruktur, dll.

“Karena memang UU menyatakan hal seperti itu. Malah kalau memberikan bantuan pada daerah tersebut, akan menjadi temuan. Kalau melihat ancaman, memang semua kab/kota di Jabar harus membentuk BPBD. BPBD provinsi yang pertama terbentuk memang Jabar, tetapi ternyata dalam perkembangannya level kab/kota Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih cepat,” kata Sutopo.

Masalah bencana di daerah menjadi prioritas atau tidak menurut Sutopo, pertama, terlihat melalui sudah atau terbentuknya BPBD. Kedua, BPBD setelah terbentuk difasilitasi atau tidak dari sisi pendanaan yang memadai.

“Pendanaan di BPBD itu lebih kecil dibanding pendanaan untuk dinas-dinas lain. Padahal secara nasional menjadi prioritas ke-9 dari 11 prioritas yang ada. Sebenarnya di daerah pun kita harapkan seperti itu apalagi Jabar,” katanya.

Sutopo mengatakan jika melihat keseluruhan bencana di Jabar 1815-2011, jenis kejadian paling banyak adalah banjir (29%) disusul longsor (26%), kekeringan (19%), puting beliung (11%), banjir dan tanah longsor (3%), kebakaran (3%), dll (9%).

Jika dilihat dari korban meninggal, paling banyak akibat letusan gunung api (67%), tanah longsor (8%), gempa bumi dan tsunami (8%), banjir dan tanah longsor (5%), kejadian luar biasa (KLB) (4%), gempa bumi (2%), dll (6%). Sedangkan korban luka paling banyak akibat banjir (84%), KLB (7%), gempa bumi (2%), dll (7%).

Khusus mengenai bencana tsunami, BNPB mempunya masterplan pengurangan resiko bencana tsunami dengan membantu daerah-daerah yang terpapar tsunami. Sutopo mengatakan punya skenario di wilayah selatan Jabar karena ada tersimpan energi maksimal 8,2 skala richter gempa bumi menurut para ahli.

BNPB akan mendorong agar daerah yang rawan tsunami, memiliki fasilitas sirine tsunami, fasilitas shelter atau tempat evakuasi sementara tsunami, dan memberikan pendidikan yang memadai pada masyarakat. (A-199/A-89)***

sumber:pikiran-rakyat.com

Gempa Bogor Akibat Peningkatan Aktivitas Kawah Ratu

ilustrasi

Gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter yang berpusat di 31 kilometer barat daya Kabupaten Bogor, pada Minggu (8/9), yang getarannya dirasakan sampai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi, diduga akibat peningkatan aktivitas Kawah Ratu di Gunung Salak.

“Kami menduga adanya peningkatan aktivitas di Kawah Ratu, tetapi kami belum meneliti sejauh mana peningkatan aktivitas tersebut,” kata Kepala Taman Nasional Gunung Halimun Salak Sukabumi (TNGHS) Agus Priambudi, Minggu.

Menurut Agus, Gunung Salak memang salah satu gunung berapi yang masih aktif dan keaktifan gunung tersebut bisa dilihat dari akrtivitas Kawah Ratu. Maka dari itu, pihaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Kawah Ratu dan terus memantau perkembangan ativitas kawah yang selalu dijadikan objek wisata oleh para pendaki.

Dia mengatakan, dalam kondisi normal Kawah Ratu kerap mengeluarkan kepulan asap beracun yang bersumber dari lava kawah tersebut. Maka dari itu, pihaknya melarang keras saat ini ada pendakian menuju Kawah Ratu dan ditutup sampai 1 Oktober mendatang.

“Untungnya pada saat kejadian gempa, aktivitas pendakian menuju Gunung Salak dan Halimun ditutup khususnya menuju Kawah Ratu sehingga tidak menyebabkan adanya korban dari pihak pendaki. Kawah Ratu merupakan kawah yang paling aktif dan kerap mengeluarkan kepulan asap beracun, maka dari itu kami larang untuk sementara warga maupun siapapun mendekat Kawah Ratu,” katanya.

Dikatakannya, penutupan aktivitas pendakian ini awalnya beralasan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan, tetapi di sisi lain dengan kondisi cuaca yang kemarau ini dikhawatirkan ada peningkatan aktivitas di Gunung Salak khususnya Kawah Ratu.

“Peningkatan aktivitas di Kawah Ratu bisa terjadi kapan saja, karena kawah tersebut masih aktif dan kami tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi peningkatan aktivitas tersebut, maka dari itu kami terus melakukan pemantauan terhadap kedua gunung ini,” kata Agus. [TMA, Ant]

Sumber : www.gatra.com

Kerusakan Akibat Gempa Bumi di Kab.Sukabumi Terus Bertambah

Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Senin (19/9) mengungkapkan jumlah kerusakan gempa bumi lokal di Kecamatan Kabandungan, kabupaten Sukabumi masih terus bertambah. Gempa bumi yang memporak-porandakan rumah warga, mushola, fasilutas umum (fasum) dan fasilitan sosial (Fasos) telah mencapai 348 unit.

Kerusakan tersebut tersebar di Desa Cipeuteuy, Tugu Bandung, Cihamerang, Mekarjaya, dan Desa Kabandungan. “Dari hasil tim yang melakukan penelusuran tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah, seiring pendataan dilokasi pelosok daerah masih terus dilakukan,” kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) Kabupaten sukabumi, Usman Susilo kepada “PRLM”, Senin (10\9).

Walaupun pihaknya masih belum menyiapkan tenda, kata Usman Susilo, pihaknya memastikan sebagian besar rumah yang rusak masih bisa ditempati. Hanya saja ada beberapa rumah warga yang rusak berat.

“Tapi mereka telah berada ditempat aman. Mereka telah dievakuasi dirumah warga yang berada jauh dari titik kerusakan bencana,” kata Usman. (A-162/A-107)***

Sumber : www.pikiran-rakyat.com

Gempa Bumi di Bogor dan Sukabumi Rusak 425 Rumah

Warta Kota/Soewidia Henaldi

Gempa berkekuatan 4,8 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Bogor dan Sukabumi,Jawa Barat,dini hari kemarin mengakibatkan 425 mengalami kerusakan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), gempa di Bogor merusak 250 rumah, sementara di Sukabumi merusak 175 rumah.

Sekretaris BPBD Kabupaten Bogor Makmur Razak mengatakan, pihaknya masih terus melakukan pendataan dan evakuasi terhadap warga yang rumahnya mengalami kerusakan parah.“Sebagian warga sudah diungsikan ke rumah tetangga yang lebih aman dan kita sudah mendirikan posko bencana tak jauh dari lokasi,” katanya. Dia menjelaskan, data sementara kerusakan terparah sebagian besar berada di dua desa yakni Desa Pura Bakti 65 rumah dan Desa Cibunian 185 rumah.

“Tiga orang mengalami luka akibat tertimpa puing rumah,” ungkapnya. Selain rumah, kerusakan juga banyak terjadi pada musala dan sekolah di Kampung Panday, Kampung Cisalak, Desa Cibunian, dan Kampung Cikudamulya, Desa Purabakti. Di Sukabumi sebanyak 175 bangunan di Kecamatan Kabandungan mengalami kerusakan.

Berdasarkan data petugas Kecamatan Kabandungan, bangunan yang mengalami kerusakan mencapai 175 unit terdiri atas rumah dan fasilitas keagamaan dan pendidikan. Seluruh bangunan itu tersebar di empat desa yakni Desa Tugu Bada, Cihamerang, Kabandungan, dan Cipeuteuy. Rinciannya meliputi 135 rumah dan satu bangunan majelis taklim di Desa Cipeuteuy, dan 40 rumah di Desa Tugu Badak, serta puluhan rumah lainnya di Desa Cihamerang dan Kabandungan.

Umumnya seluruh bangunan itu mengalami kerusakan dalam kategori ringan. “Pendataannya masih terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah. Sebab belum seluruhnya terlaporkan dari tingkat pemerintah desa, seperti di Desa Kabandungan yang telah terlaporkan baru dua rumah rusak,” kata petugas Satpol PP Kecamatan Kabandungan, Nurdin Sopiyan. Selain merusak rumah dan fasilitas keagamaan, gempa bumi 4,8 SR ini juga telah merusak sarana pertanian.

Saluran irigasi yang terletak di Desa Cipeuteuy mengalami rusak sehingga infrastruktur pertanian tidak bisa berfungsi. “Irigasi ini untuk mengaliri areal persawahan seluas 72 hektare. Namun, kini kondisinya rusak,” kata Kepala Desa Cipeuteuy Ujang Supriatna. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya mengatakan, berdasarkan data dari BMKG, pusat gempa bumi di darat yaitu 6.70 LS,106.64 BT (31 km barat daya Kabupaten Bogor) dengan kedalaman 10 km.

“Gempa tidak menimbulkan potensi tsunami. Intensitas gempa yang dirasakan II MMI di Bogor dan Sukabumi,” katanya. Sementara itu, Balai Taman Nasional Gunung Salak- Halimun (TNGHS) menduga gempa bumi berkekuatan 4,8 SR yang berpusat di 31 km barat daya, Kabupaten Bogor itu diduga akibat dipicu terjadinya peningkatan aktivitas kawah Gunung Salak atau dikenal dengan sebutan Kawah Ratu. “Ini baru dugaan sementara. Diduga gempa akibat peningkatan aktivitas Kawah Ratu. Untuk memastikannya, kami akan masih melakukan penelitian,” ujar Kepala TNGHS Agus Priambudi. haryudi/ toni kamajay.

Sumber : www.seputar-indonesia.com