web analytics

Bogor Krisis Identitas!

September 29, 2013 by  
Filed under Berita Daerah, Jawa Barat Terkini, Transportasi

angkot-bogor“Kota Sejuta Angkot” adalah stigma yang melekat erat pada Bogor. Belum lagi predikat ini hilang, kota hujan yang sudah tidak dingin ini bertambah julukannya sebagai “Kota Sejuta PKL” dan stigma negatif lain.

Wajah Bogor memang telah banyak berubah. Bukan lebih baik, melainkan sangat buruk. Kualitas perkotaan menurun drastis. Hal ini terlihat dari indikator tiga masalah mendasar yang membebani kota, yakni kemacetan terkait masalah transportasi, PKL yang berkorelasi dengan perekonomian, dan maraknya alih fungsi peruntukan yang terkait dengan tata ruang.

Pengamat perkotaan dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna, memaparkan hal tersebut kepada Kompas.com, Jumat (27/9/2013).

“Tiga masalah tersebut bersifat krusial, yang sifatnya harus diselesaikan segera, sebelum Bogor mengalami stagnasi dan ditinggalkan warganya. Tiga masalah ini telah mencerabut Bogor dari identitasnya semula sebagai kota dalam taman dan kualitas hidup baik sehingga dianggap kota layak huni,” jelas Yayat.

Betapa tidak krusial. Bayangkan saja, kemacetan akan selalu menjadi santapan sehari-hari mengingat Bogor saat ini masih disesaki oleh 3.412 angkot. Meski menurut Organisasi Angkutan Darat (Organda) mengalami penyusutan dari tahun-tahun sebelumnya, yakni 3.506 angkot, jumlahnya tetap melebihi kapasitas daya dukung infrastruktur jalan.

Seperti diketahui, Bogor dilintasi oleh tiga sarana jalan dengan status dan kualitas jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kota. Jalan negara dengan kondisi baik hanya sepanjang 17.633 kilometer dari total 30.199 kilometer. Sementara jalan provinsi yang bisa dilewati dengan mulus hanya 10.596 kilometer dari total 26.759 kilometer. Jalan kota dengan kondisi baik sepanjang 129.573 kilometer dari total 564.193 kilometer. Selebihnya justru dalam kondisi sedang dan buruk.

Menurut perhitungan Yayat, kapasitas jalan yang bisa dilalui oleh angkot hanya separuhnya. Jadi, rasio ideal adalah Bogor hanya bisa menampung sekitar 500 angkot untuk kepentingan mobilitas warganya. Namun, jauh lebih baik bila Bogor menyediakan sistem transportasi ramah lingkungan, memaksimalkan fungsi terminal yang ada, serta penyediaan ruang untuk pejalan kaki dan pengayuh sepeda.

Masalah lain yang sangat membebani kota yang pernah meraih Adipura Kencana adalah kehadiran PKL. Mereka memadati setiap sudut kota, terutama di pusat-pusat bisnis dan aktivitas, seperti Jl Kapten Muslihat, Jl Juanda, Jl Suryakencana, Jl Pajajaran, Jl Sukasari, dan Jl Merdeka. Para PKL ini membuka lapaknya mulai pagi hingga pagi kembali.

“PKL hadir karena pasar-pasar tradisional tidak berfungsi dengan baik. Mereka akhirnya kemudian memanfaatkan lahan-lahan di luar pasar menjadi tempat berusaha. Padahal, dari sejumlah PKL itu, banyak yang sudah memiliki kios di pasar-pasar tersebut. Hanya, karena pasar tidak lagi nyaman dan berfungsi dengan baik, tumpahnya PKL ke pinggir jalan tak terelakkan,” imbuh Yayat.

Masalah alih fungsi tata ruang, lanjut Yayat, lebih parah lagi. Telah terjadi praktik obral perizinan demi masuknya investasi atau arus modal besar-besaran. Padahal, izin-izin yang diberikan kerap melanggar tata ruang kota sehingga konversi dari peruntukan permukiman menjadi komersial semakin intensif.

Yayat menjelaskan, alih fungsi peruntukan sangat parah dan dibiarkan tanpa pengendalian dan pengawasan. Kawasan-kawasan permukiman, seperti Pajajaran, Sempur, Tajur, Warung Jambu, dan Empang, telah berubah menjadi pusat-pusat bisnis, seperti mal, ruko, factory outlet, dan perhotelan.

Melihat kondisi demikian, tak mengherankan bila Bogor mengalami krisis identitas multidimensi. Tidak jelas akan menjadi kota bisnis dan perdagangan, kota wisata, atau masih setia dengan predikat “Kota Sejuta Angkot”.

“Semua hal diperdagangkan. Mulai dari perizinan, peruntukan, hingga tata ruang keseluruhan. Bogor harus melakukan pembaruan, berubah ke arah lebih baik. Bogor gagap menghadapi kemajuan zaman. Semua hal diterima tanpa melalui proses seleksi apakah sesuai dengan karakter atau justru melenceng. Asal menguntungkan secara ekonomis diizinkan, kendati itu harus melabrak tata ruang. Pendek kata, Bogor tambah amburadul,” tandas Yayat.(kompas.com)

Bima-Ru’yat Beda Tipis

September 10, 2013 by  
Filed under Berita, Berita Daerah, Bogor, Jawa Barat Terkini, Politik

pilwalkotbogor1

photo: google

Sepekan jelang penyelenggaraan pesta demokrasi Kota Hujan, Radar Bogor kembali menggelar simulasi ‘coblosan’ pemilihan Walikota Bogor 2013-2018, kemarin. Simulasi ini kembali dilakukan untuk mengukur pengenalan masyarakat terhadap pasangan calon walikota (cawalkot) dan tingkat partisipasi masyarakat.

Tim simulasi pilwalkot periode kedua ini melibatkan kurang lebih 20 mahasiswa Universitas Ibn Khaldun (UIKA), dengan sistem pemilihan acak di pusat-pusat keramaian, di lima daerah pemilihan (dapil) Kota Bogor.

Berbekal 6.000 sampel kertas suara yang digunakan, tercatat hanya 2.600 masyarakat yang mau berpartisipasi. Suara yang masuk terbagi dari 2.351 suara sah, dan 249 suara yang dinyatakan tidak sah secara mekanisme pencoblosan.

Dari total suara sah, persaingan ketat hasil uji coba coblosan kedua ini masih berlangsung di dua pasangan calon. Yakni nomor urut 2 Bima Arya-Usmar Hariman dan nomor urut 3 Achmad Ru’yat-Aim Halim Hermana.

Gap hasil coblosan antar kedua pasangan cawalkot ini hanya 1,42 persen. Dimana Bima-Usmar mendapat coblosan 709 suara atau 27,27 persen dari total suara, sedangkan Ru’yat-Aim mendapat 746 suara atau 28,69 persen dari total suara yang masuk.

Sementara, masyarakat yang mencoblos pasangan Dody-Untung sebanyak 366 atau 14,08 persen dari total suara. Posisi keempat ditempati pasangan independen Firman-Gartono dengan 273 coblosan atau 10,50 persen dari total suara, disusul kemudian pasangan calon Syaiful-Muztahidin dengan 257 atau 9,88 persen dari total suara yang berhasil dijaring tim simulasi.

Terdapat perbedaan yang mencolok antara hasil simulasi pilwakot kemarin dengan hasil pada bulan lalu (29-31/8). Sebelumnya, dari hasil koreksi Tim Litbang Radar Bogor, co blosan terbanyak diraih Ru’yat-Aim dengan 653 suara (39,01%). Sedangkan Bima-Usmar mendapat coblosan 499 suara atau 29,81 persen.

Pasangan nomor urut tiga, Dody- Untung menyusul dengan mendapat coblosan sebanyak 197 (11,77%), disusul kemudian pasangan Syaiful- Muztahidin dengan 165 suara (9,86%) dan Firman-Gartono dengan 139 suara (8,30%). Dari total suara yang masuk sebanyak 1.674 suara, terdapa 21 suara atau 1,25 persen yang tercoblos tidak sah.

Melihat perbedaan hasil di dua simulasi itu, Kepala Proyek Simulasi Pilwalkot Bogor 2013, Hendra Sudrajat mengatakan, pemahaman politik di Kota Bogor berlangsung sangat dinamis. Simulasi ini, sambung Hendra, bisa dijadikan acuan dasar bagi para tim sukses cawalkot untuk melihat pemahaman masyarakat terhadap pilihannya.

“Partisipasinya meninggi. Kami berpendapat, kompetisi di pilwakot nanti bakal berlangsung seru,” jelasnya. Simulasi periode dua ini dilakukan sejak pukul 08:00. Tim simulasi bergerak ke titik-titik keramaian, dimulai dengan sejumlah pasar tradisional.

Pemilihan pasar sebagai lokasi pengambilan sampel dikarenakan jumlah pemilih cukup besar. Dengan membawa duplikat kotak suara, tim simulasi kemudian mempersilakan pemilih potensi untuk menggunakan hak suaranya secara sukarela. Tentunya para pemilih ditanya terlebih dahulu daerah domisili mereka. “Kami tanya, apakah pemilih adalah warga kota atau bukan,” ujarnya.

Pangambilan sampel suara di sejumlah pasar tradisional di lima Dapil menunjukkan angka yang cukup tinggi. Semisal di Dapil 1 atau kawasan Bogor Timur dan Tengah, masyarakat yang mencoblos foto pasangan calon Bima-Usmar sebesar 105 suara atau 14,94 persen dari total suara. Sedangkan coblosan untuk pasangan Ru’yat-Aim masih lebih unggul yakni 107 atau 15,22 persen.

Di dapil ini, perolehan suara untuk pasangan Ru’yat-Aim hanya unggul di pasar dan kantor-kantor pemerintahan. Sementara di sejumlah titik pengambilan sampel lainnya seperti perumahan, kampus, dan kelurahan, suara untuk pasangan calon Bima-Usmar masih lebih unggul. Di perumahan misalnya, perolehan suara untuk Bima-Usmar sebesar 25 atau 3,56 persen.

Bima-Usmar juga menang telak di kawasan kampus di Dapil 1, yakni sebesar 71 atau 10,10 persen dari total suara. Di lingkungan akademisi ini, pasangan Ru’yat- Aim hanya mendapat 39 suara atau 5,55 persen dari total suara Dapil 1. Secara akumulatif, Bima- Usmar unggul di Dapil 1 dengan perolehan 233 suara atau 33,14 persen, diikuti pasangan Ru’yat- Aim dengan 201 suara atau 28,59 persen dari total 703 suara yang masuk.

Sementara itu, jelas Hendra, fakta berbeda muncul pada perolehan suara di Dapil 4 atau kawasan Bogor Selatan. Sampel suara terbesar yang berhasil dijaring di Dapil ini mendukung pasangan calon nomor 4, Dody Rosadi- Untung Maryono sebanyak 46 suara atau 15,03 persen dari total 306 suara yang masuk di Dapil 2. Pasangan ini juga menguasai sejumlah titik pangambilan sampel seperti perumahan, kantor-kantor pemerintahan dan kampus. Dody- Untung unggul di Dapil 2 dengan perolehan 101 suara atau 33,01 persen, diikuti pasangan Ru’yat- Aim dengan 94 suara atau 30,72 persen dari total 306 suara yang masuk di Dapil 2.

Perolehan suara di Dapil 3 atau Bogor bagian Barat juga dikuasai pasangan Bima-Usmar. Sampel yang didapat tim simulasi dari pasar-pasar tradisional di kawasan ini, 44 suara atau 9,54 persen diraih Bima-Usmar. Ru’yat-Aim hanya memperoleh 37 suara atau 8,03 persen disusul pasangan Dody- Untung sebesar 16 suara atau 3,47 persen.

Secara akumulatif, pasangan Bima- Usmar unggul dengan 152 suara atau 32,97 persen, diikuti pasangan Ru’yat-Aim sebesar 142 suara atau 30,80 persen. Pasangan Dody- Untung memperoleh 46 suara atau 9,98 persen, sementara kedua pasangan calon dari independen Syaiful-Muztahidin dan Firman- Gartono mendapat suara yang sama yakni 27 suara atau 5,86 persen dari total 461 total suara yang masuk dari Dapil 3.

Sedangkan perolehan suara di Dapil 4 atau kawasan Tanahsareal, dikuasai pasangan Ru’yat-Aim dengan total 168 suara atau 36,84 persen. Bima-Usmar masih berada di posisi kedua dengan perolehan 150 suara atau 32,89 persen. Disusul kemudian dengan pasangan nomor 5 Syaiful-Muztahidin sebesar 44 suara atau sebesar 9,55 persen. Dody-Untung berada di posisi keempat dengan 43 suara atau 9,43 persen dan di posisi terakhir pasangan Firman-Gartono dengan 23 suara atau 5,04 persen dari total 456 suara yang masuk dari Dapil 4. Di Dapil ini, antusias masyarakat mengikuti simulasi masih terlihat besar di kawasan pasar dan perniagaan.

Hendra menambahkan, peta politik kembali berubah pada perolehan suara di Dapil 5 kawasan Bogor Utara. Di daerah pemilihan ini, pasangan independen Firman- Gartono menjadi raja dengan perolehan 148 suara atau 21,96 persen. Pasangan Ru’yat-Aim menyusul dengan 141 suara atau 20,92 persen, dan pasangan Bima- Usmar di peringkat ketiga dengan 123 suara atau 18,25 persen.

Di Dapil ini Dody-Untung mendapat 95 suara atau 14,09, dan Syaiful-Muztahidin dengan 88 suara atau 13,06 persen. Potensi pemilih terbesar di Bogor Utara masih di kawasan perniagaan dan pasar tradisional. Jumlah total pemilih di Dapil ini yang berhasil dirangkum sebanyak 674 suara.

Pemimpin Redaksi Radar Bogor, Nihrawati AS, menambahkan, melalui simulasi coblosan ini tercermin tipikal pemilih di Kota Bogor. Mereka yang mau diajak berpartisipasi lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Selain itu, tim simulasi lagi-lagi menemukan budaya politik uang dalam pesta demokrasi. Terbukti, Mahasiswi UIKA, Septiana, yang menjadi salah satu koordinator tim banyak mendapat pertanyaan dari pemilih potensi perihal imbalan yang akan didapat bila menggunakan hak suara.

“Ada anak muda yang mengharapkan imbalan dari kegiatan yang kami lakukan. Dia tanya, ‘ada uangnya tidak? Bahkan, parahnya ada masyarakat yang menyangka Pilwalkot sudah dilaksanakan Minggu (8/9). Padahal itu pilbup,” ungkapnya.

Temuan lainnya, masih banyak warga yang tidak mengetahui bahwa pada Sabtu 14 September 2013 akan diadakan pemilihan Walikota Bogor. “Ketika kami melakukan sosialisasi ke pasar, banyak masyarakat yang tidak tahu ada pemilihan. Mereka padahal warga yang memiliki hak suara,” jelas anggota tim, Fitri.

Kehati-hatian masyarakat dalam menggunakan hak suara juga patut diacungi jempol. Fitri menuturkan, ada kejadian unik ketika mereka melakukan simulasi di kawasan Bogor Selatan.

“Ada warga yang sampai menelepon Panwaslu dan PPK untuk memastikan kegiatan ini resmi dari KPU. Padahal kami sudah menjelaskan bahwa simulasi ini bentuk kerja sama dengan Radar Bogor. Dia bilang suaranya takut disalahgunakan,” jelasnya.

Sumber: radar-bogor.co.id

Pengerjaan Jalan Akan Ganggu Jalur Alternatif Ciamis-Cimaragas-Banjar

2107jalur_ciamis_banjar2Jalur alternatif arus lalulintas lebaran antara Kota Banjar dengan Kabupaten Ciamis lewat Kecamatan Cimaragas bakal terganggu dengan adanya projek pembangunan jalan.

Saat ini projek pembangunan jalan sepanjang dua kilometer tersebut masih dalam pengerjaan, diperkirakan selesai hingga paska lebaran.

Pantauan di lokasi jalan alternatif, tepatnya di Kecamatan Cimaragas, ruas jalan tersebut saat ini kondisinya cukup ramai dilintasi oleh kendaraan truk dengan tonase besar.

Saat tidak turun hujan, kawasan tersebut sangat kotor akibat debu beterbangan, terlebih ketika ada kendaraan besar melintas lokasi perbaikan jalan.

Beberapa titik tepi badan jalan sudah digali dan siap untuk di cor beton, sedangkan bagian lainnya masih dalam pembuatan lubang untuk pelebaran jalan. Termasuk juga pekerjaan mengikis tebing hingga badan jalan menjadi lebih lebar.

Disepanjang jalur yang sedang dalam perbaikan, juga beberapa tempat badan kondisi bandan jalan hancur, tidak hanya bergelombang tetapi juga banyak lubang di tengah jalan.

Adanya pengerjaan tersebut, beberapa titik ruas jalan tidak bisa dilewatai bersamaan dari dua arah, kendaraan harus lewat secara bergantian. Sejumlah tanda pengaman berupa patok bambu yang dipasang disepanjang lokasi pengerjaan tampak jatuh di lubang tempat pelebaran jalan.

Kemungkinan terjadinya ketidaklancaran arus lalulintas lebaran yang lewat jalur alternatif, juga diungkapkan Kapolresta Banjar Ajun Komisaris Besar (AKBP) Asep Saepudin.

Dia mengatakan bahwa selama ini jalan lingkar selatan tersebut yang merupakan jalur alternatif saat masa arus lalulintas lebaran, menghubungkan wilayah Kota Banjar menuju Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya, lewat Kecamatan Cimaragas. .

“Hasil survei, jalur alternatif yang masuk wilayah Kota Banjar, kondisinya lumayan bagus. Sedangkan untuk di wilayah Cimaragas, Kabupaten Ciamis memang ada yang dalam tahap pengerjaan. Jalur tersebut merupakan jalan alternatif jika terjadi kemacetan atau antrean panjang kendaraan di jalau utama,” tuturnya, Minggu (21/7/2013).

Didampingi Kepala Satuan lalulintas (Kasat Lantas) Polresta Banjar Ajun Komisaris Adi Widodo, ia mengatakan bahwa jalur utama arus lalulintas lebaran yang ada di wilayah kota paling ujung timur Provinsi Jawa Barat hanya sepanjang 15 kilometer, mulai dari perbatasan dengan Kota Ciamis di Kecamatan Cisaga sampai dengan Cijolang yang merupakan perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dengan Provinsi Jawa Tengah.

“Untuk jalur utama kondisinya mulus. Dan selama ini memang jarang terjadi antrean panjang kendaraan. Salah satu titik kemacetan ada di wilayah kecamatan Cisaga, untuk membantu kelancaran, kami juga mengirimkan anggota untuk bekerjasama dengan petugas dari Ciamis. Tempat tersebut merupakan simpang tiga yang padat kendaraan,” tambahnya.

Lebih lanjut Asep mengungkapkan dengan kondisi jalan yang relatif lurus, di wilayah Banjar tidak ada lokasi yang rawan kejahatan sperti bajing loncat. Namun, untuk pengamanan, Polresta Banjar bakal menerjunkan petembak jitu, yang berasal dari anggota sabhara.

“Kami minta bantuan personil ke Polda jabar, akan tetapi karena keterbatasan personil, akhirnya memakai anggota sendiri. Dan selama ini memang jalur yang kami awasi relatif aman,” jelasnya.

Berkenaan dengan pengamanan arus mudik lebaran, dia mengatakan Polresta Banjar akan mendirikan lima pos pengamanan, dua pos pelayanan, satu pos aju dan 15 pos gatur. untuk mendukung pos, dipersiapkan patugas tim pengurai.

Tim tersebut bergerak langsung ke lokasi kemacetan. “Tim pengurai naik sepedamotor, sehingga lebih cepat mencapai sasaran. Kami berharap arus mudik lebaran berjalan lancar,” tutur Kapolresta banjar Asep Saepudin.(pikiran-rakyat.com)

25 Rumah di Tasikmalaya Terkubur Longsor

July 12, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Tasikmalaya

ilustrasi

ilustrasi

Sedikitnya 25 rumah rusak tertimbun longsor di Kampung Sukasari, Desa Sundaweunang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (11/7/2013) malam kemarin. Longsor terjadi setelah guyuran hujan tak henti selama beberapa hari di Tasikmalaya dan sekitarnya.

“Sesuai data kami, 8 rumah rusak berat dan 17 lainnya hanya rusak ringan. Semua rumah rusak tertimpa longsoran tanah dari sebuah tebing di wilayah perkampungan,” jelas Ida Juanda, ketua Unit Cegah Siaga BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (12/7/2013) pagi.

Saat ini, lanjut Ida, beberapa warga yang rumahnya tertimpa longsor terpaksa mengungsi ke rumah saudaranya, yang lokasinya lebih aman. Beruntung, bencana ini tidak menyebabkan korban jiwa karena para penghuni rumah berhasil menyelematkan diri saat bencana longsor terjadi.

“Warga masih trauma ada longsor susulan. Soalnya, bencana longsor di perkampungan itu masih bisa mengancam 45 rumah lainnya,” tambah Ida.

Pagi ini, puluhan petugas gabungan dari BPBD, Polri, TNI dan para relawan, telah berada di lokasi membantu proses pengangkatan barang-barang warga yang rumahnya tertimpa longsor. (*)

sumber: Kompas.com

Korban Banjir Pangandaran Belum Terima Bantuan

1233028banjir-luap780x390Ratusan korban banjir di Desa Pananjung, Pangandaran, belum mendapatkan bantuan tanggap darurat dari pemerintah setempat sampai sekarang. Padahal, mereka belum bisa pulang ke rumah, dan masih mengungsi di penampungan karena banjir belum surut disertai hujan masih mengguyur wilayah tersebut.

“Sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah setempat, warga sebagai korban banjir masih mengungsi,” ujar Andi Sose, salah seorang warga Pangandaran, Kamis (11/7/2013).

Kepala BPBD Kabupaten Ciamis Diky Erwin, membenarkan pihaknya belum menyerahkan bantuan tanggap darurat. Pasalnya, pihaknya belum mendapatkan data pasti jumlah korban banjir di Pangandaran.

“Bagaimana kami menyalurkan bantuan, datanya kami belum mengetahui jumlah pastinya berapa?” tegas Diky saat dihubungi, Kamis sore.

Diberitakan sebelumnya, ratusan rumah di wilayah Pangandaran dan Cijulang, Ciamis, terendam banjir akibat Sungai Cikidang meluap setelah diguyur hujan selama tiga hari, mulai Selasa sampai Kamis (11/7/2013) pagi.

Sesuai data sementara dari kepolisian, tercatat sebanyak 269 rumah warga di Kecamatan Pangandaran terendam banjir. Luapan air mencapai ketinggian satu meter di dalam rumah warga.

Dari jumlah itu, sebanyak 239 rumah terendam air luapan sungai mencapai satu meter di wilayah Karang Salam, Desa Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran. Sedangkan 30 rumah lainnya terdapat di Dusun Bojongjati RT 01/06 Desa Pananjung, Pangandaran. (kompas)

Keluarga Samili Tinggal di Bekas Kandang Ayam

Samili (55), beserta keluarganya tinggal di bekas kandang ayam.

Samili (55), beserta keluarganya tinggal di bekas kandang ayam.

BANGUNAN itu berukuran 8×7 meter persegi. Dindingnya terbuat dari belahan bambu. Atapnya dari asbes. Jika hujan turun, air akan masuk ke ruangan itu. Bangunan itu rupanya bekas kandang ayam. Di dalam bangunan itulah Samili (55) bersama istri dan anaknya tinggal sejak tiga bulan lalu. Bekas kandang ayam milik Ajang Sutisna itu berada di Kampung Kiarapayung, RT 03/10, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.

“Kalau hujan air masuk dari dinding yang terbuka. Dingin sih sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi? Soalnya kami sudah tidak punya tempat tinggal. Ada orang yang membantu saja sudah sangat bersyukur,” ujar Samili, Rabu (12/6).

Di ruangan berlantai tanah itu terdapat dua tempat tidur sederhana yang terbuat dari kayu. Tempat tidur itu hanya dilapisi karpet dan tikar yang biasa dipakai oleh Samili dan istrinya. Satu lagi tempat tidur diisi oleh Yayan dan Rini, anak Samili. Anaknya yang lain terpaksa tidur di lantai tanah dengan beralaskan terpal dan tikar seadanya.

Penerangan rumah mereka pun hanya sebuah lampu bohlam berdaya lima watt. Untuk memasak, keluarga ini menggunakan tungku kayu bakar. Tungku tersebut disusun dari tumpukan batu bata.

“Ya, memang kami tinggal di tempat seadanya. Bisa berteduh saja saya sudah beryukur,” ujarnya.

Samili mengaku sudah tidak kuat mencari nafkah. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia mengandalkan anaknya yang bekerja sebagai buruh tani. Upah sebagai buruh tani rata-rata sebesar Rp 20.000 per hari. Karena ketidakmampuannya, anak-anak Samili pun tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

Samili dan keluarganya merupakan warga pendatang. Mereka berasal dari perkebunan Dewata, RT 01/11, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu. Samili sekeluarga bekerja sebagai buruh petik teh di Perkebunan Dewata, Ciwidey. Namun karena usia lanjut, Samili sudah tidak bisa lagi bekerja di perkebunan tersebut sehingga ia dan keluarganya harus meninggalkan rumah fasilitas perkebunan.

“Saya pernah bekerja di Dewata sejak 2001 hingga tahun kemarin. Karena sudah tidak bekerja lagi di sana, saya jadi tidak punya tempat tinggal. Saya pun diajak oleh mertua anak saya untuk tinggal di Kampung Kiarapayung,” katanya.

Sebelum menempati kandang ayam itu, Samili sempat tinggal bersama mertua dari anaknya bernama Adun (70). Namun karena rumah milik Adun sudah ditempati lima kepala keluarga, ia diajak pindah untuk menempati kandang ayam milik Ajang, Ketua RW di kampung tersebut.

“Saya sebenarnya sudah menyiapkan sebagian tanah saya untuk mendirikan rumah untuk keluarga ini. Tanah seluas 42 meter persegi tidak jauh dari rumah saya. Namun belum ada bahan bangunan untuk mendirikannya. Kalau sudah ada nanti sama warga gotong royong untuk membangunnya,” kata Ajang.

Kasubag Humas Pemkab Bandung, Asep Sahdiana, menjelaskan, Pemkab siap membantu keluarga Samili. Pihaknya sudah melakukan pendataan mengenai kebutuhan pembangunan rumah untuk keluarga ini.

“Tanahnya kan sudah ada. Jadi tinggal didata saja kebutuhannya. Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan pihak Desa Sukajadi,” kata Asep. (*)

Sumber+foto : Tribun Jabar

“Launching” Gelora Bandung Lautan Api Dilakukan Dada Tadi Malam

(Foto: FOKUSJabar.com)

(Foto: FOKUSJabar.com)

Sudah lama ditunggu-tunggu, akhirnya Stadion  Bandung Lautan Api resmi diresmikan oleh Walikota Bandung, Dada Rosada, Jumat (10/5) malam. Dalam sambutannya, Dada mengatakan, Stadion BLA ini merupakan kedua yang terbesar di Indonesia, setelah Stadion Gelora Bung Karno.

Hadir dalam pembukaan itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wakil Gubernur Jabar Yusuf Macan Effendi. Dada berharap, Stadion BLA ini akan bisa melahirkan atlet-atlet berprestasi di Kota Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya.

Dada mengatakan, pendanaan Stadion Gelora BLA ini berasal dari APBD Pemprov Jabar Rp285 milyar dan sisanya APBD Pemkot Bandung. Total Rp970 milyar.

Walaupun hujan mengguyur deras, peresmian tetap berlangsung meriah. Beberapa kesenian ditampilkan dalam acara itu. Gemuruh suara yang hadir menggema di stadion saat acara peresmian semalam. (wdj)

sumber+foto:fokusjabar.com

Gunung Papandayan – Enam Kecamatan Masuk Zona Rawan

mount-papandayan-trekking-5Sebanyak enam kecamatan di Kabupaten Garut dan Bandung masuk kategori wilayah terdampak letusan Gunung Api Papandayan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut Zatzat Munazat mengatakan, dari enam wilayah itu, lima kecamatan berada di Kabupaten Garut.

“Lima kecamatan di Garut yakni Kecamatan Bayongbong, Cisurupan, Sukaresmi, Pamulihan, dan Pakenjeng. Satu kecamatan lain berada di Kabupaten Bandung yaitu Kecamatan Pangalengan,” ujarnya, kemarin. Menurut dia, masuknya enam kecamatan tersebut berdasarkan pengalaman letusan Gunung Papandayan pada November 2002. Saat itu, letusan gunung menyebabkan longsoran di sekitar kawah gunung, aliran lahar dingin ke sejumlah sungai, hujan abu vulkanik, dan awan panas.

“Karakter Gunung Papandayan berbeda dengan gunung api lain misalnya Gunung Guntur di Garut. Jadi tidak ada lontaran batu pijar seperti ancaman Gunung Guntur. Dari pengalaman, letusan gunung di Kabupaten Garut mengakibatkan aliran lahar dingin pada beberapa sungai, hujan abu vulkanik, dan awan panas. Ke wilayah Bandung hanya abu vulkanik. Kami belum bisa memprediksi apa yang akan terjadi bila Papandayan meletus,” paparnya.

Pada Agustus 2011, status Gunung Papandayan sempat mengalami peningkatan dari level waspada menjadi siaga. Peningkatan aktivitas itu hanya berlangsung singkat hingga akhirnya status kembali diturunkan kembali ke level waspada. “Ketika itu, kami sudah mengambil beberapa kebijakan, mulai latihan evakuasi, jumlah data penduduk, luas wilayah, dan titik lokasi yang aman untuk para pengungsi.

Kami perlu kepastian mengenai data jumlah terbaru dan kondisi infrastruktur jalan untuk jalur evakuasi,” ujar Zatzat. Bila status meningkat ke level IV atau awas, Pemkab Garut telah menyiapkan beberapa titik aman untuk warga mengungsi. Beberapa wilayah ini terletak di Kecamatan Bayongbong dan Cikajang. “Kecamatan Bayongbong menjadi daerah terdampak, khususnya terkena aliran lahar dingin ke Sungai Cimanuk yang melintasi kecamatan ini,” katanya.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Papandayan Momon menambahkan hingga kini aktivitas kegempaan di Gunung Papandayan masih fluktuatif. Berdasarkan data yang terekam sejak pukul 00.00 hingga 06.00 WIB kemarin, tercatat 14 gempa vulkanik B, lima kali vulkanik A, empat kali gempa tektonik lokal, dan empat kali gempa tektonik jauh.

“Rekomendasi sementara saat ini adalah tidak beraktivitas di batas dua km dari puncak gunung. Di luar itu masih dinyatakan aman,” ucapnya. Suhu kawah terekam di kisaran 226 derajat celsius. Menurutnya, suhu ini masih terbilang wajar, karena suhu di status normal berada di kisaran 200-250 derajat celsius. “Ketika meletus, suhu kawah mencapai lebih dari 306 derajat celsius,” tandasnya. fani ferdiansyah

sumber:koran-sindo.com

Atasi Banjir Rancaekek – Gubernur Siapkan Tim Khusus Normalisasi Cikijing

20130427 jbr hal 1 (ATASI BANJIR RANCAEKEK)GubernurJawaBarat Ahmad Heryawan akan membentuk tim khusus (timsus) untuk mengatasi persoalan banjiryangkerapmelandaJalanRaya Rancaekek kilometer 23–25.

Tim khusus itu untuk mengkaji kemungkinan normalisasi Sungai Cikijing yang dinilainya merupakan solusi untuk mengatasi banjir di jalan yang menghubungkan Bandung–Garut–- Tasikmalaya itu, ketika hujan deras. “Karena luapan Sungai Cikijing ini sering menimbulkan banjir yang sampai menggenangi Jalan Raya Rancaekek sehingga menyebabkan kemacetan arus lalu lintas,

maka normalisasi Sungai Cikijing ini harus ada iktikad baik dan mendapat perhatian khusus dari semua pihak, termasuk pemerintah pusat sendiri,” kata Heryawan saat berkunjung ke PT Kahatex di Jalan Raya Rancaekek Km 23–25, kemarin. Gubernur mengaku diminta Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengecek langsung kondisi Sungai Cikijing yang melintas di areal PT Kahatex tersebut.

Dia mengatakan, Pemerintah Pusat telah menyiapkan anggaran hingga Rp10 triliun untuk normalisasi Sungai Citarum dan anak-anak sungainya. Dari dana sebesar itu sudah terealisasi sebesar Rp1,3 triliun di tahun 2012 dan 2011. “Selebihnya, akan direalisasikan tahun ini termasuk untuk proyek normalisasi Sungai Cikijing dan Sungai Cimande. Khusus untuk Sungai Cikijing yang melintasi Kahatex ini detail engeneering design (DED)-nya sudah disiapkan dan pelaksanaan normalisasinya diharapkan paling lambat awal tahun 2014,” kata Aher.

Gubernur mengatakan, selain akibat genangan banjir, kemacetan juga diakibatkan adanya penyempitan ruas jalan akibat banyaknya pedagang kaki lima. “Apalagi, sekarang juga sedang ada tahap perbaikan jalan sehingga makin terjadi bottleneck di depan pabrik Kahatex ini,” kata dia. Direktur PT Kahatex Hardian mengatakan, jika terjadi genangan banjir di depan Kahatex, pihaknya selalu melakukan penyedotan menggunakan pompa.

Bahkan, Hardian mengakui pihaknya secara rutin setiap enam bulan sekali melakukan pengerukan terhadap Sungai Cikijing yang melintas di areal Kahatex. Menurut dia, banjir yang menyebabkan kemacetan panjang kemarin itu terjadi karena ada tanggul yang jebol di hulu Sungai Cikijing. Akibatnya, luapan sungai tersebut lebih besar dari biasanya. “Kami ikuti saja yang diprogramkan pemerintah.

Kalau pemerintah akan melakukan normalisasi Sungai Cikijing, ya kami pun akan ikuti programtersebut,” ujarHardian. Ditanya soal adanya dugaan pelanggaran karena beberapa meter badan sungai ditutup dengan plat besi oleh pihaknya, Hardian menilai hal tersebut bukan pelanggaran karena telah mendapat izin dari Pemkab Sumedang maupun dari pemerintahan desa setempat karena areal Sungai Cikijing tersebut merupakan tanah carik desa. iwa ahmad sugriwa

sumber+foto:koran-sindo.com

Siswa SMP Rancaekek UN di Tengah Banjir

201627_ujian-nasional-2013_663_382Banjir menghantui pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP sederajat di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Siswa MTS Persis, Desa linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, terpaksa mengikuti UN di tengah kondisi banjir yang menggenangi sekolah itu sejak semalam.

Menurut salah satu siswa, Iwan Hamzah (16), dia terpaksa tidak menggunakan sepatu untuk mengiuti ujian hari kedua ini, Selasa, 22 April 2013. Hingga pagi tadi, air setinggi 20 cm masih menggenangi MTS yang berada di Desa Ligar, Kabupaten Bandung itu.

“Meski dalam keadaan banjir, kami tetap semangat melaksanakan ujian,” kata Iwan.

Roni , guru MTS Persis menyampaikan bahwa banjir memang selalu terjadi saat hujan deras. Air sungai yang berada di sekitar sekolah dengan cepat meluap dan masuk ke areal sekolah.

“Sekolah kami memang sudah jadi langgannan banjir di kawasan kecamatan Rancaekek ini, jadi siswa sudah terbiasa,” kata Roni.

Selain faktor banjir, saat pelaksanaan UN hari kedua di sekolah ini sempat terjadi kendala ketika pembagian naskah ujian. Siswa sempat kebingungan karena soal Bahasa Inggris yang mereka terima hanya soal halaman 4 dan 5 saja. Sedangkan halaman 1,2 dan 3 tidak ada.

“Kami sempat mencari soal halaman 1, 2, dan 3 ternyata ada di amplop lembar jawaban, jadi kami bagikan kembali sesuai urutan halaman soal yang diujikan,” ujar Roni. (umi)

sumber+foto:viva.co.id

Next Page »