web analytics

Indonesia Bisa Kalahkan Cina Dalam Bidang Ini

tenaga-kerja-indonesia-tki-_120413102432-706Indonesia berpotensi mengalahkan raksasa ekonomi dunia, Cina, dalam lima tahun ke depan. Demikian diungkapkan President Boston Institute for Developing Economies Profesor Gustav Papanek.

Menurut Papanek, saat ini Cina memang mendominasi lapangan kerja. Namun jumlah penduduk usia produktif tidak sebanyak Indonesia. “Nantinya Cina tidak memiliki daya saing lagi dalam tenaga kerja,” katanya dalam Seminar di Hotel JS Luwansa, Jakarta Pusat, Rabu (19/3).

Upah akan kian meninggi, usia pekerja semakin menua, sehingga jumlah pekerja semakin sedikit. Gustav menjelaskan, pemerintah Indonesia hanya membelanjakan kurang dari satu persen untuk infrastruktur. Keadaan ini perlu ditingkatkan kembali menjadi lima persen.

Sumber pendanaan bisa diperoleh dari subsidi bahan bakar. Kegiatan ekspor Indonesia juga meningkat sebanyak 34 persen per tahunnya. Dalam hal ini, peranan penting pemerintah memberikan kebijakan ekspor.

Pemerintah Indonesia, lanjut Papanek, bisa membangun industri cluster di luar Jakarta. Sebab harga tanah dan upah bisa lebih rendah.

Menurutnya, penduduk Indonesia lebih cerdas dari Bangladesh atau Vietnam. “Kedua negara tersebut mampu membuat pabrik yang berada di dekat pelabuhan. Sehingga tidak perlu terkendala jalan dalam proses distribusi. Apabila kedua negara tersebut mampu melakukan hal demikian, seharusnya Indonesia juga bisa. Bahkan lebih di atas negara tersebut,” papar Papanek.(republika.co.id)

Angka Pengangguran Berkurang di Indonesia

May 8, 2013 by  
Filed under Ekbis, Jawa Barat Terkini

20130507ekobis2Selama setahun terakhir (Februari 2012– Februari 2013), jumlah pengangguran di Indonesia berkurang 440.000 orang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah angkatan kerja pada Februari 2013 mencapai 121,2 juta, meningkat 780.000 orang atau 0,66% dibandingkan Februari 2012 (120,4 juta). Pada periode yang sama jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 114,02 juta orang atau naik 1,2 juta dibandingkan Februari 2012 (112,8 juta). Dengan demikian, jumlah pengangguran di Indonesia yang pada Februari 2013 mencapai 7,17 juta orang turun 440.000 dari jumlah yang tercatat pada Februari 2012 (7,61 juta).

“Tapi, ada penurunan (1,24 juta) di sektor pertanian karena masa paceklik pada Agustus. Musim panen juga bergeser ke Maret dan April. Agustus juga ada puasa sehingga ibu-ibu yang bekerja itu berhenti,” tutur Kepala BPS Suryamin saat memaparkan Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia, di kantornya, di Jakarta, kemarin. Jika pertanian menjadi satusatunya sektor yang mengalami penurunan jumlah tenaga kerja pada setahun terakhir, sebaliknya sektor industri, konstruksi, perdagangan, keuangan, jasa masyarakat, transportasi, pergudangan, dan komunikasi seluruhnya meningkat.

Sektor konstruksi dan perdagangan menyerap tenaga kerja terbanyak dengan jumlah masingmasing 790.000. “Ada perpindahan pekerja dari sektor pertanian ke industri,” ungkap Suryamin. Sementara, jumlah pekerja di sektor informal masih jauh lebih besar bila dibandingkan dengan formal. Pada Februari 2013 sektor formal sebanyak 45,6 juta orang (39,98%), sementara di sektor informal sekitar 68,4 juta (60,02%).

Dalam setahun terakhir, pekerja formal bertambah sebanyak 3,5 juta orang, sementara pekerja informal berkurang 2,3 juta orang. Penyerapan tenaga kerja juga masih didominasi pekerja dengan tingkat pendidikan rendah (SMP ke bawah) yakni sekitar 74,9 juta (65,7%), sementara yang berpendidikan tinggi (diploma dan universitas) hanya 11,2 juta orang (9,79%). “(Jumlah pegawai) Sektor formal tambah, kualitas pertumbuhan ekonomi kita tambah baik, informal kurang. Yang bagus, jika banyak pekerja sektor formal berusaha menciptakan pekerjaan, tidak bergantung orang lain,” kata Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Wyandin Imawan.

Kendati jumlah angkatan kerja maupun penduduk yang bekerja membaik, jumlah wirausahawan justru terus mengalami penurunan. Mereka yang masuk dalam kelompok wirausahawan yakni yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, dan berusaha dibantu buruh. Bila pada Februari 2011 jumlah wirausahawan mencapai 46,05 juta orang, sementara pada Februari 2012 sebesar 43,84 juta orang dan Februari 2013 sekitar 42,55 juta orang.

Dari segi rasio, kelompok wirausahawan dibandingkan penduduk usia 15 tahun ke atas juga terus turun. Bila pada Februari 2012 rasionya sebesar 0,25 maka pada Februari 2013 sekitar 0,24. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menuturkan, penurunan jumlah wirausahawan terjadi karena banyak pengusaha yang memilih untuk beralih menanamkan saham, membeli obligasi, atau menjadi importir daripada membangun usaha.

Persoalan infrastruktur, kepastian hukum, serta kebijakan pemerintah terkait upah minimum regional (UMR) menambah risiko berusaha di Indonesia sehingga mengurangi minat berwirausaha. ●maesaroh

sumber+foto:koran-sindo.com

Teh Indonesia Terancam Punah

April 3, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Pertanian

daun-tehIndonesia yang memiliki jumlah penduduk besar memiliki potensi untuk menjadi importir teh terbesar bila tidak segera memperbaiki kualitas dan kuantitas produktivitas tehnya.

Sebabnya, dalam kurun waktu 6 – 7 tahun terakhir, ketergantungan Indonesia terhadap teh impor telah naik hingga 3000 persen, yakni dari 500 ton/ tahun menjadi 20 ribu ton/ tahun.

Hal itu juga diperparah dengan terus berkurangnya lahan perkebunan teh sebesar 3 ribu hektare (ha)/ tahun pada 10 tahun terakhir.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Badruddin pada Seminar Bertajuk Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia di Aula Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno Hatta, Bandung pada Rabu (3/4).

“Tidak mustahil teh di Indonesia akan punah dan anak cucu kita hanya bisa mengonsumsi teh impor. Padahal, komoditas ini pada masa penjajahan Belanda merupakan salah satu sumber utama pendanaan pembangunan,” katanya.

Ia menjelaskan, potensi ekonomi yang besar tersebut mestinya tidak hanya berhenti pada masa penjajahan saja, karena hingga saat ini pun peluang komoditas tersebut dari sisi ekonomi masih tinggi.

“Namun demikian, memang perlu upaya serius untuk mewujudkan hal tersebut. Yakni dengan dua cara yang mesti dilakukan secara beriringan, pertama melakukan promosi untuk meningkatkan konsumsi teh dan selanjutnya melakukan rehabilitasi yang diiringi peningkatan nilai tambah komoditas teh,” kata Rachmat.

Menurutnya, konsumsi teh di Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan India, Srilanka, Cina, dan Inggris.

“India, Srilanka, dan Cina sudah di angka 650 gram/ kapita dalam setahun. Bahkan Inggris sudah mencapai 2,2 kg/ kapita dalam setahun, sementara Indonesia masih 300 gram/ kapita dalam satu tahun. Promosi mesti dilakukan agar konsumsinya bisa naik setidaknya dengan menyamai pencapaian India, Srilanka, dan Cina,” katanya menjelaskan.

Menurut Rachmat, bila promosi berhasil dilakukan, maka dari pasar lokal saja potensi komoditas tersebut akan sangat luar biasa.

Cara berikutnya adalah dengan melakukan rehabilitasi terhadap lahan perkebunan teh. “Terkait hal ini, kami sangat bersyukur pihak kementerian pertanian siap membantu program rehabilitasi tersebut dengan dana sebesar Rp 100 miliar. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk merehabilitasi lahan perkebunan teh secara nasional dengan luas 47 persen dari total luas perkebunan teh yang ada di Indonesia atau sekitar 56 ribu ha dari total 120 ribu ha. Rehabilitasi akan dilakukan pertama kali di Jabar karena para petani teh terkonsentrasi di daerah tersebut dan karena itu pula 85 persen program rehabilitasi dilaksanakan di Jabar,” katanya.

Program rehabilitasi tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada Tahun 2014 mendatang. “Dana akan langsung disalurkan melalui dinas perkebunan setempat kepada para petani,” kata Rachmat. Dirinya mengatakan, dengan adanya rehabilitasi, diharapkan lahan perkebunan teh yang saat ini telah mengalami kerusakan atau tidak efektif akan memiliki setidaknya 10 – 12 ribu pohon/ ha.

Bila program rehabilitasi sudah berlangsung dengan baik, selanjutnya adalah mengundang investor untuk proses lebih lanjut, yakni meningkatkan nilai tambahnya sehingga margin keuntungan menjadi besar dan dapat mensejaterakan para petani.

“Klaster – klaster dibangun per 300 ha dan diharapkan para petani bisa membangun pabrik untuk proses pengolahan teh. Selain meningkatkan produksi, keberadaan lahan teh yang produktif juga akan menyerap tenaga kerja yang tinggi. Sebabnya, 10 ha lahan teh bisa memperkerjakan rata – rata 17 orang,” katanya. (A – 207/A-89)***

Sumber : pikiran-rakyat.com

Menuju Jabar 1: Dikidik, “Saya Optimistis Bisa Ikut Pilgub Jabar”

Pasangan calon perseorangan Dikdik Muliana Arief Mansur-Cecep Nana Suryana Toyib melanjutkan proses pengumpulan berkas dukungannya yang harus ditambah sebanyak 1,4 juta. Meski begitu, pasangan yang menjadi pendaftar pertama ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat itu optimistis bisa memenuhi syarat untuk ditetapkan menjadi peserta Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Jabar.

“Saya optimistis bisa ikut pilgub, kenapa tidak? Proses ini harus kita trima secara sakinah. Kita harus menghargai dinamika ini sebagai mekanisme yang disepakati UU, kita harus taat,” katanya sebelum melakukan proses pendaftaran di kantor KPU Jabar, Jl. Garut Kota Bandung, Selasa (6/11).

Ia pun mengatakan, calon perseorangan memang dihadapkan dengan tantangan sulitnya mengumpulkan berkas dukungan yang minimal tiga persen dari jumlah penduduk. Namun, partai politik pun mengalami kesusahannya sendiri saat ingin membangun partainya. “Jadi, semua prosesnya jangan diterima sebagai sesuatu yang membuat frustasi,” katanya.

Saat proses penyerahan berkas awal Oktober lalu, Dikdik yang sudah mundur dari jabatan Kapolda Sumatera Selatan itu mengatakan, ia memiliki dukungan sebanyak 3,1 juta. Namun, yang diserahkan ke KPU Jabar hanya 1,8 juta. Dari proses verifikasi administrasi, dukungan yang tercoret mencapai 300 ribu dan dari proses verifikasi faktual tercoret 700 ribu.

Untuk menambah dukungan itu, ia mengatakan, sudah mengantongi 1,3 juta dukungan sehingga cukup dicari sekitar 200 ribu. Ia pun mengakui proses input data bukan hal yang bisa dilakukan mudah dan cepat.

“Hikmahnya, stok dan spontanitas yang sekarang datang malah makin bertambah. Seluruh yang diperlukan diusahakan sudah diserahkan 2 Desember, syukur-syukur bisa antara 20-25 November supaya ada waktu lagi kalau ada yang kurang. Pokoknyaa kami akan berikan sebanyak-banyaknya,” tuturnya. (A-160/A-107)***

Sumber:pikiran-rakyat.com

Pembangunan Museum Jatigede Masih Rencana

SUMEDANG, -Rencana pembangunan Museum Jatigede Sumedang (MJS) di daerah sekitar genangan Waduk Jatigede, hingga kini masih dalam proses perencanaan maupun pembahasan.

Proses tersebut dilakukan oleh Direktorat Kepurbakalaan, Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional (BPKSNT) Jabar serta Satuan Kerja (Satker) projek Waduk Jatigede, Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

“Jadi rencana pembangunan museumnya sampai sekarang masih dalam proses. Namun, diharapkan tahun 2013 nanti sudah ada penetapan lokasinya,” kata Ketua Museum Prabu Geusan Ulun (MPGU) Yayasan Pangeran Sumedang (YPS), Achmad Wiriaatmadja ketika ditemui di kantornya, Minggu (22/7).

Menurut dia, rencana pembangunan MJS itu, pertama kali digagas oleh dirinya sendiri ketika menjabat Anggota Komisi A DPRD Kab. Sumedang, tahun 1990-an.

Setelah gagasan itu diusulkan kepada beberapa instansi terkait terutama Satker Waduk Jatigede, akhirnya usulannya diterima dan disetujui Satker.

“Bahkan sempat diadakan studi perencanaan pendirian MJS, pada 22 Mei lalu di Hotel Jatinangor. Studi ini menjadi salah satu komitmen Pemprov Jabar dalam penyelamatan potensi budaya dan alam di Jatigede,” kata Achmad.

Rencananya, kata dia, di dalam museum itu akan disimpan berbagai data dan dokumentasi tentang riwayat dan proses perjalanan pembangunan projek Waduk Jatigede. lengkap dengan berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Berbagai data dan dokumentasi itu, dari mulai jumlah penduduk di daerah genangan yang dipindahkan atau direlokasi, permasalahan pembebasan lahan serta penggantian kompensasinya, hingga data puluhan situs yang akan tergenang.

“Jadi, data-data terkait proses perjalanan pembangunan Waduk Jatigede semuanya akan ada di museum tersebut. Sebab, proses pembangunan Waduk Jatigede ini paling lama sedunia. Bayangkan, sampai sekarang sudah berlangsung 49 tahun,” tuturnya.

Lebih jauh Achmad menjelaskan, di dalam museum itu, nantinya akan ada pula data dan dokumentasi puluhan situs yang ada di daerah genangan.

Sebab, dulu di daerah genangan di Kec. Darmaraja merupakan lokasi awal Kerajaan Sumedang Larang. “Ini lah yang membedakan dengan bendungan lainnya, khususnya di Jawa Barat. Seperti halnya, Jatiluhur, Cirata dan Saguling. Sehubungan dulunya bekas lokasi kerajaan, sehingga banyak situs yang sampai sekarang dihormati masyarakat sekitar. Situs ini, di antaranya berupa makam para raja dan leluhur, ” tuturnya.

Ia menyebutkan, di lokasi genangan Waduk Jatigede itu terdapat 94 situs. Puluhan situs itu, di antaranya situs Tanjungsari berupa komplek makam kuno Embah Dalem Santapura bin Betara Sakti, penyebar Agama Islam di Darmaraja. Lokasinya di Dusun Kebontiwu, Desa Cibogo, Kec. Darmaraja. Bahkan di lokasi itu, terdapat sumur kuno Cikahuripan.

Selain itu, situs Astana Gede Cipeueut di Dusun Cipeueut, Desa Cipaku, Kec. Darmaraja, berupa makan Raja Sumedang Larang, Prabu Lembu Agung. Begitu pula situs keramat Aji Putih, terdapat makam Prabu Aji Putih, Ratu Ratna Inten Nawangwulan dan Resi Agung.

“Pembangunan MJS ini, harus berupa kawasan. Nah, di dalam kawasan itu, tak hanya ada museum saja, melainkan ada kampung adat, kebun binatang mini dan kebun tumbuh- tumbuhan langka yang berasal dari daerah genangan. Kawasan itu harus menjadi potensi pariwisata. Makanya ketika saya ditawari lahan dua hektare, saya tolak karena terlalu kecil untuk seukuran kawasan,” kata Achmad. (A-67/A-89)***

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/196935

Profil Provinsi Jawa Barat

April 28, 2012 by  
Filed under Berita Jawa Barat, Jawa Barat Terkini

Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini.[6][7] Namun hal ini mendapatkan penentangan dari wilayah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon dimana tokoh masyarakat asal Cirebon menyatakan bahwa jika nama Jawa Barat diganti dengan nama Pasundan seperti yang berusaha digulirkan oleh Bapak Soeria Kartalegawa tahun 1947 di Bandung maka Cirebon akan segera memisahkan diri dari Jawa Barat[8], karena nama “Pasundan” berarti (Tanah Sunda) dinilai tidak merepresentasikan keberagaman Jawa Barat yang sejak dahulu telah dihuni juga oleh Suku Betawi dan Suku Cirebon serta telah dikuatkan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 yang mengakui adanya tiga suku asli di Jawa Barat yaitu Suku Betawi yang berbahasa Melayu dialek Betawi, Suku Sunda yang berbahasa Sunda dan Suku Cirebon yang berbahasa Bahasa Cirebon (dengan keberagaman dialeknya).

Sejarah

Temuan arkeologi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.[rujukan?]Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara.[rujukan?] Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.[rujukan?]

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda[rujukan?]. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).[rujukan?]

Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa, kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung.

Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon – Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan, menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon – Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.

Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.

Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB. Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Perekonomian

Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 milyar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).

Geografi

Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.

Kawasan pantai utara merupakan dataran rendah. Di bagian tengah merupakan pegunungan, yakni bagian dari rangkaian pegunungan yang membujur dari barat hingga timur Pulau Jawa. Titik tertingginya adalah Gunung Ciremay, yang berada di sebelah barat daya Kota Cirebon. Sungai-sungai yang cukup penting adalah Sungai Citarum dan Sungai Cimanuk, yang bermuara di Laut Jawa.

Penduduk

Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di beberapa kota di pesisir utara, dituturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Sebagian Kabupaten Karawang dan sebagian Kota Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara dituturkan Bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah JABOTABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi.Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun. Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang Menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da’wah yang diterbitkan oleh Dewan Da’wah Jawa Barat.

Iklim

Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di beberapa kota di pesisir utara, dituturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Sebagian Kabupaten Karawang dan sebagian Kota Depok, dan Kabupaten Bogor bagian utara dituturkan Bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah JABOTABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi.Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun. Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang Menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da’wah yang diterbitkan oleh Dewan Da’wah Jawa Barat.

Topografi

Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.

Demografi

Penduduk asli Jawa Barat adalah suku Sunda.  Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tingga di wilayah JABOTABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa. Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi.  Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Propinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.

 

Manufaktur

Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk manufaktur termasuk diantaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan, tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional, berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari total ekspor jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur, rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.

Pertanian

Dikenal sebagai salah satu ‘lumbung padi’ nasional, hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak dipungkiri lagi, Jawa Barat merupakan ‘Rumah Produksi’ bagi ekonomi Indonesia, hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.

Kelautan dan Perikanan

Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km. Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta, maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air / DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air tawar.

Sumber Daya Manusi (SDM)

Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh sangat cepat, khususnya disekitar JABOTABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun 2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor pelayanan (29%).

Minyak-Mineral dan Geothermal

Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat. Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.

Pendidikan dan Kebudayaan

Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat.

Pendidikan Bahasa Cirebon

Keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Jawa Barat sempat diuji ketika Kongres Jawa Barat yang ketiga diadakan. Tepatnya di Kota Bandung tanggal 28 Februari 1948, pada saat tersebut salah satu perwakilan masyarakat Jawa Barat dari Suku Sunda yaitu Bapak Soeria Kartalegawa yang juga ketua Parta Rakyat Pasundan (PRP) mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan perwakilan tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan menggunakan Bahasa Sunda, namun kemudian usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakt Jawa Barat lainnya dari Suku Cirebon yaitu bapak Soekardi, bapak Soekardi menyatakan

Kemudian pada periode sebelum tahun 1970-an Pemerintah memasukan Pelajaran Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) untuk wilayah Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat dimana mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) di wilayah Cirebon-Indramayu. Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukan pelajaran bahasa daerah Bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon – Indramayu adalah Bahasa Sunda karena dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon[9], kemudian pada periode tahun selanjutnya pengajaran Bahasa Cirebon ini mulai untuk diajarkan di wilayah “Pakaleran Majalengka” yaitu wilayah utara kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit Majapahit, pada wilayah Pakaleran ini kosakata Bahasa Jawa diaek Banyumasan, Bahasa Jawa dialek Bumiayu serta Bahasa Jawa dialek Tegal lebih terasa, contohnya pada penyebutan kata “saya” yang menggunakan sebutan “Nyong” dan bukannya “Ingsun” ataupun “Reang” seperti yang dituturkan di wilayah Cirebon – Indramayu. Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda, dengan mayoritas suku sunda yang bertutur bahasa sunda, baru setelah tahun 2003 dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Perlindugan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa di Jawa Barat yang mengakui adanya tiga suku asli jawa barat yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon, pengajaran bahasa daerah non-sunda memiliki perlindungan payung hukumnya, adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri yang terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda dilakukan dengan sebuah Metode yang disebut dengan “Metode Guiter” namun pada perhitunganya metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya, sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya[10]. namun secara nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan “Bahasa Cirebon” dan bukannya “Bahasa Jawa dialek Cirebon” seperti yang dilakukan pada penerbitan “Kamus Bahasa Cirebon” oleh Almarhum Bapak TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan “Wykarana – Tata Bahasa Cirebon” oleh Bapak Salana tahun 2002.

Pengembangan Pendidikan Bahasa Cirebon

Pengembangan dan Perlindungan Bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian wilayah Kabupaten Kuningan) sementara wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang di Pesisir Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap Kabupaten / Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada diwilayahnya.

Pendidikan Bahasa Melayu dialek Betawi

Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa cirebon, pendidikan bahasa betawi di wilayah Provinsi Jawa Barat mengalami hal yang lebih parah dari masalah yang dialami oleh bahasa cirebon, pendidikan Bahasa Betawi hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan sama sekali belum dilakukan di wilayah yang didiami oleh suku betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, sebagian Kabupaten Bogor wilayah Utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang sebelah barat, padahal penelitian tentang Bahasa Betawi telah cukup banyak dilakukan, diantaranya :

  1. K. Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
  2. S. Wallace (1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
  3. Klarijn Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN-10: 90-6718-279-6. Penerbit: The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies at Leiden.
  4. Lilie M. Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden.

Pengembangan Pendidikan Bahasa Melayu dialek Betawi

Hingga tahun 2011 Pemerintah Daerah yang wilayahnya didiami oleh Suku Betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang masih belum mengadakan pendidikan bahasa daerah Bahasa Melayu dialek Betawi dan hanya mengajarkan pendidikan bahasa daerah Bahasa Sunda.

Pemerintahan

Jawa Barat terdiri atas 17 kabupaten dan 9 kota. Kota-kota hasil pemekaran sejak tahun 1996 adalah:

  • Kota Bekasi, dimekarkan dari Kabupaten Bekasi pada tahun 1996
  • Kota Depok, dimekarkan dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999
  • Kota Cimahi, dimekarkan dari Kabupaten Bandung pada tahun 2001
  • Kota Tasikmalaya, dimekarkan dari Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2001
  • Kota Banjar, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2002
  • Kabupaten Bandung Barat, dimekarkan dari Kabupaten Bandung tahun 2007

Kabupaten dan Kota

No Kabupaten/Kota

Ibu kota

1 Kabupaten Bandung Soreang
2 Kabupaten Bandung Barat Ngamprah
3 Kabupaten Bekasi Cikarang
4 Kabupaten Bogor Cibinong
5 Kabupaten Ciamis Ciamis
6 Kabupaten Cianjur Cianjur
7 Kabupaten Cirebon Sumber
8 Kabupaten Garut Garut
9 Kabupaten Indramayu Indramayu
10 Kabupaten Karawang Karawang
11 Kabupaten Kuningan Kuningan
12 Kabupaten Majalengka Majalengka
13 Kabupaten Purwakarta Purwakarta
14 Kabupaten Subang Subang
15 Kabupaten Sukabumi Pelabuanratu
16 Kabupaten Sumedang Sumedang
17 Kabupaten Tasikmalaya Singaparna
18 Kota Bandung Bandung
19 Kota Banjar Banjar
20 Kota Bekasi Bekasi
21 Kota Bogor Bogor
22 Kota Cimahi Cimahi
23 Kota Cirebon Cirebon
24 Kota Depok Depok
25 Kota Sukabumi Cisaat
26 Kota Tasikmalaya Tasikmalaya

Daftar Gubernur Jawa Barat

No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. Mas Sutardjo Kertohadikusumo 1945
2. Datuk Djamin 1945 1946
3. Murdjani 1946
4. R. Mas Sewara 1946 1948
5. Ukar Bratakusumah - resize.jpg Ukar Bratakusumah 1948 1950 Masa PDRI
6. R. Mas Sewara 1950 1951
5. 27 sanusihardjadinata.jpg Sanusi Hardjadinata 1951 1956
6. Ipikgandamana.jpg Ipik Gandamana 1956 1959
7. Mashudi.jpg Mashudi 1960 1970
8. Solihin GP.jpg Solihin G.P. 1970 1974
9. Ambassador aang kunaefi 86-89.jpg Aang Kunaefi 1975 1985
10. Yogi Suardi Memet.jpg Yogie Suardi Memet 1985 1993
11. R. Nuriana 1993 13 Juni 2003
12. Danny setiawan.jpg Danny Setiawan 13 Juni 2003 2008
13. AhmadHeryawan.jpg Ahmad Heryawan 2008 2013

Perwakilan

Jawa Barat memiliki 91 wakil di DPR RI dari 11 daerah pemilihan dan empat wakil di DPD.

DPRD Jawa Barat hasil Pemilihan Umum Legislatif 2009 tersusun dari 10 partai, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi  %
Partai Demokrat 38 34,9
Partai Golkar 16 14,7
PDI-P 15 13,8
PKS 13 11,9
PPP 8 7,3
Partai Gerindra 8 7,3
PAN 5 4,6
Partai Hanura 3 2,8
PKB 2 1,8
PKPB 1 0,9
Total 109 100,0

 

Pariwisata, Seni dan Budaya

Objek Wisata yang ada di Jawa Barat :

  1. Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung
  2. Situ Patenggang, Rancabali, Kabupaten Bandung
  3. Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
  4. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
  5. Kebun Raya Bogor, Kota Bogor
  6. Talaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor
  7. Taman Safari Indonesia,Cisarua,Kabupaten Bogor
  8. Taman Wisata Mekarsari, Kabupaten Bogor
  9. Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis
  10. Curug Cibeureum, Cipanas, Kabupaten Cianjur
  11. Puncak, Kabupaten Bogor – Kabupaten Cianjur
  12. Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur
  13. Taman Bunga Nusantara, Kabupaten Cianjur
  14. Taman Wisata Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Cianjur, Kabupaten Cianjur
  15. Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur
  16. Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon
  17. Keraton Kanoman, Kota Cirebon
  18. Keraton Kacirebonan,Kota Cirebon
  19. Keraton Kaprabonan, Kota Cirebon
  20. Taman Air Sunyaragi, Kota Cirebon
  21. Plangon, Kabupaten Cirebon
  22. Belawa, Kabupaten Cirebon
  23. Trusmi, Kabupaten Cirebon
  24. Wanawisata Ciwaringin, Kabupaten Cirebon
  25. Cikalahang, Kabupaten Cirebon
  26. Cipanas, Kabupaten Garut
  27. Bendungan Walahar, Klari, Kabupaten Karawang
  28. Curug Bandung, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  29. Curug Cigeuntis, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  30. Curug Cipanundaan, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  31. Pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang
  32. Pantai Pakis Jaya, Pakis Jaya, Kabupaten Karawang
  33. Pantai Samudera Baru, Pedes, Kabupaten Karawang
  34. Pantai Tanjung Baru, Tempuran, Kabupaten Karawang
  35. Pantai Tirtamaya, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu
  36. Linggarjati, Kabupaten Kuningan
  37. Candi Jiwa, di Percandian Batujaya, Karawang
  38. Candi Blandongan di Percandian Batujaya, Karawang
  39. Waduk Darma, Kabupaten Kuningan
  40. Curug Putri, Kabupaten Kuningan
  41. Lembah Cilengkrang, Kabupaten Kuningan
  42. Liang Panas, Kabupaten Kuningan
  43. Sidomba, Kabupaten Kuningan
  44. Curug Landung, Kabupaten Kuningan
  45. Situ Cicerem, Kabupaten Kuningan
  46. Paseban, Kabupaten Kuningan
  47. Cigugur, Kabupaten Kuningan
  48. Hutan Kota, Kabupaten Kuningan
  49. Kebun Raya Kuningan, Kabupaten Kuningan
  50. Paniis, Kabupaten Kuningan
  51. Palutungan, Kabupaten Kuningan
  52. Curug Muara Jaya, Kabupaten Majalengka
  53. Situ Sangiang, Kabupaten Majalengka
  54. Taman Buana Marga, Kabupaten Majalengka
  55. Tirta Indah, Kabupaten Majalengka
  56. Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta
  57. Ciater, Kabupaten Subang
  58. Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Subang
  59. Pantai Blanakan, Blanakan, Kabupaten Subang
  60. Pantai Pondok Bali, Legon Kulon, Kabupaten Subang
  61. Penangkaran Buaya, Blanakan, Kabupaten Subang
  62. Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi
  63. Pantai Ujung Genteng, Ciracap, Kabupaten Sukabumi
  64. Kampung Toga, Kabupaten Sumedang
  65. Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang
  66. Situ Gede, Kota Tasikmalaya
  67. Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya
  68. Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya
  69. Situ Bagendit, Kabupaten Garut
  70. Pantai Santolo, Kabupaten Garut
  71. Pantai Rancabuaya, Kabupaten Garut
  72. Curug Cimahi, Kabupaten Bandung Barat
  73. Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat
  74. Masjid Dian Al-Mahri, Kota Depok

Jenis Kesenian Jawa Barat

  1. Pencak silat
  2. Jaipong
  3. Gamelan
  4. Wayang Golek
  5. Kuda Renggong
  6. Sisingaan
  7. Kuda Lumping
  8. Angklung
  9. Tari Topeng
  10. Tarling
  11. Degung
  12. Calung
  13. Tayub
  14. Cianjuran
  15. Kiliningan
  16. Tari Ketuk Tilu
  17. Rampak Kendang
  18. Yanuar Wita
  19. Lagu Manuk Dadali
  20. Lagu Cing Cang Keling

 Jenis Makanan Khas Jawa Barat :

  1. Batagor
  2. Cireng
  3. Comro
  4. Misro
  5. Tape singkong (Peuyeum)
  6. Oncom
  7. Ubi Cilembu
  8. Mochi
  9. Dodol Garut
  10. Empal Gentong
  11. Sega Jamblang
  12. Kecap Majalengka
  13. Kalua Jeruk
  14. Opak
  15. Tahu Sumedang
  16. Gula Cakar
  17. Wajit
  18. Rengginang
  19. Combro
  20. Gehu
  21. Cimol
  22. Bala-Bala
  23. Gulali
  24. Sele Pisang
  25. Asinan Bogor
  26. Tutug Oncom atau biasa disingkat T.O.
  27. Manisan Cianjur

 Sumber : http://id.wikipedia.org