web analytics

Bisnis Ikat Kepala Sekaligus Melestarikan Budaya Bangsa

Hadi

Hadi (30), pedagang ikat kepala di Jl. Diponegoro Bandung

Bandung (Jabarmedia) – Anda tak usah jauh-jauh pergi ke Baduy di pelosok kabupaten Lebak Rangkasbitung atau Kampung Naga di Tasikmalaya untuk memiliki pakaian adat lengkap ikat kepala tradisi-tradisi Sunda. Kini, di sekitar pinggir-pinggir jalan Kota Bandung sudah banyak yang menjajakan dagangan tradisi Sunda seperti pakaian, aksesoris lengkap dengan ikat kepalanya.

Tapi, menurut Hadi (30), salah satu pedagang ikat kepala di Jl. Diponegoro mengatakan, “Inti dari berdagang (ikat kepala) ini adalah untuk melestarikan tradisi budaya bangsa karena sekarang tradisi budaya Indonesia sudah banyak yang dicuri negara lain”, ujar alumni SMK Prakarya Internasional Bandung, saat diwawancara Jabarmedia.com, Selasa (03/08).

Di sekitar lapangan Gasibu Bandung setiap hari hampir lima pedagang nampak terlihat menjajakan pakaian adat suku Sunda.

Selain hari-hari biasa, pada hari libur pun saat lapangan Gasibu dan sebagian ruas Jl. Dipenogoro ramai dipadati para pedagang, pakaian adat pun ikut terlihat, seperti di sekitar depan Gedung Museum Geologi, Jl. Cimandiri dan Jl. Pasupati sebelum Jl. Layang Pasupati.

Pedagang ikat kepala tradisi Sunda juga dapat ditemui di Jl. Cihampelas, Jl. Buah Batu, alun-alun Soreang, Banjaran, di sekitar Monumen Perjuangan (Bandung Lautan Api) Tegallega, Lembang, dan pinggir-pinggir jalan di Bandung dan sekitarnya.

Mereka bejualan sejak sekitar pagi pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Kain-kain ikat kepala dan aksesoris tradisi Sunda lainnya digantungkan pada tali tambang yang diikat pada batang pohon di pinggir ruas jalan.

Sebagian pedagang ikat kepala membeli barang (ikat kepala) dari toko-toko yang menjual pakaian adat Sunda di Pasar Baru. Sedangkan untuk tas dari tikar daun pandan dan alat musik kesenian tradisional seperti Kadinding bisa dibuat dengan karya tangannya sendiri.

Keuntungan dari menjual ikat kepala dan aksesoris tradisi Sunda diakuinya bisa mencapai keuntungan 20 %. Ia sendiri mampu mendapatkan omzet 200.000 hingga 250.000 dari hasil jualan setiap harinya.

Harga barang dari berbagai jenis aksesoris tradisi Sunda berbeda per itemnya, mulai harga Rp. 15.000 hingga Rp. 45.000 per jenis.

Ikat kepala biasa dijual seharga Rp. 15.000 hingga Rp. 25.000 tergantung jenis kain yang digunakan. Kalung kuningan yang berbentuk alat musik dijual Rp. 10.000, adapun kalung yang terbuat dari tulang hewan dijual Rp. 25.000. Baju pangsi untuk anak-anak dijual Rp. 70.000 sedangkan untuk baju pangsi dewasa biasa dijual Rp. 90.000.

Pangsa pasar dari ikat kepala dan aksesoris pakaian tradisi suku Sunda bukan saja dari kalangan biasa yang melintas di sepanjang jalan-jalan utama di kota Bandung tapi juga para artis dan pejabat.

Di Bandung sendiri pengenaan baju pangsi dan ikat kepala sudah mulai diterapkan setelah Bupati Bandung H. Dadang M. Naser, meminta para pejabat mengenakan pakaian pangsi tiap Sabtu dan Minggu saat ada acara formal di Gedung M. Toha, Kamis (17/1), tahun ini.

Selain di Bandung, pakaian dan ikat kepala tradisi Sunda pun banyak dijual di berbagai daerah Jawa Barat. Pilihan lokasi untuk menjual pakaian dan ikat kepala pun sangat penting.

Untuk lokasi yang strategis tentu di daerah yang masih hidup kesenian dan tradisi budaya Sunda, seperti Garut, Purwakarta, Cianjur, Sukabumi, Bogor dan daerah yang masih melestarikan tradisi dan budaya Sunda di Jawa Barat.

Tapi, kata Hadi, “ada juga pembeli dari luar Jawa Barat seperti Papua yang sengaja memesan Kujang, senjata khas Jawa Barat untuk souvenir dan aksesoris”.

Laki-laki asal Ciamis yang ikut bergabung dengan Paguyuban Urang Lembur di Cikaso Bandung ini pun sengaja berdagang ikat pinggang dengan memakai pakaian adat Sunda sambil memperkenalkan tradisi Sunda kepada anak-anak muda yang kini hampir tidak mengenali budayanya sendiri.

Ditemani salah seorang pedagang ikat kepala lainnya Utay (18), Hadi pun memainkan Kadinding, alat musik tradisional dari bambu berukuran 40 cm. Ia pun mengaku mulai belajar menulis dan membaca bahasa Sunda buhun.

Di Bandung sendiri telah berdiri beberapa komunitas Sunda yang turut mensosialisasikan tradisi pakaian Sunda lengkap ikat kepala, aksesoris, alat musik dan permainan dan tradisi Sunda lainnya.

Di antara komunitas Sunda yang berada di Bandung, misalnya Paguyuban Urang Lembur, Sunda Kiwari, Jorowok Sunda, Bedog Cepot, Batur Ulin, Padepokan Dayang Sumbi dan padepokan lainnya.

Setiap pakaian adat Sunda yang dikenakan mempunyai ciri dan arti tersendiri buat pemakainya. Seperti Ikat kepala Mahkota Wangsa dan Mahkota Dewa biasa dipakai untuk para bangsawan, “Berengkos” untuk kalangan ulama, “Hanjuang Nangtung” untuk rakyat biasa yang kadang digunakan kalangan pendekar, adapun “Barangbang Semplak” dipergunakan saat kegiatan pencak silat.

“Berkat jualan ikat kepala ini saya sudah mempunyai rumah, dan menghidupi istri dan anak”, tutur Hadi.

Sebagian besar para pedagang ikat kepala tradisi adat Sunda adalah mereka yang ikut dalam paguyuban-paguyuban masyarakat Sunda. Hadi, mengharapkan “tradisi adat Sunda harus tetap dilestarikan dari sekarang yang muda-muda, karena kalau tidak kapan lagi”, ujarnya.

Ia pun mengharapkan bahwa pelajaran bahasa Sunda jangan hanya diajarkan di sekolah saja, tapi juga perlu diajarkan di luar sekolah seperti keluarga dan masyarakat.

Keliling Kampung Adat untuk Teliti Filosofi Iket

May 11, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Pariwisata

foto:tripadvisor.com

foto:tripadvisor.com

Iket saat ini semakin populer di masyarakat perkotaan, tidak hanya orang tua, anak muda pun tak segan untuk menggunakan tutup kepala dari kain tersebut. Iket jugalah yang membuat Mochamad Asep Hadian Adipraja penasaran.

Sejak 2006, Asep mendalami berbagai informasi tentang iket. Dari kajiannya tersebut dia baru menemukan bahwa sekitar 26 pola iket di berbagai kampung adat di Jawa Barat. “Mulai dari pola iket baheula (zaman dulu) hingga pola iket kiwari(saat ini) ada di kampung adat. Ada yang ditemukan nama dan pola ikatannya, ada pula hanya berupa nama. Ada yang berupa pola ikatan namun tidak diketahui nama pola tersebut,” ungkap Asep kepada KORAN SINDO, belum lama ini.

Alumnus Sekolah Tinggi Inten Jurusan Arsitektur ini juga menciptakan beberapa pola iket. Awalnya anak pertama dari empat bersaudara ini tidak memiliki ketertarikan khusus, namun setelah mengunjungi kampung halamannya di Kampung Adat Cikondang, Banjaran, Kabupaten Bandung, ketertarikannya pun mulai muncul. “Waktu itu, saya lihat foto buyut saya pakai iket dan baju adat. Dari situ saya penasaran dan banyak bertanya mulai ke nenek hingga ke sesepuh yang ada di lembur(kampung halaman). Tapi saya enggakpuas dengan jawabannya. Jadi saya mencari sendiri,” tutur Asep.

Secara Asep pun pergi ke beberapa kampung adat untuk mendalami iket, seperti Kampung Naga, Kampung Dukuh, Kampung Pulo, Kampung Cirendeu, Kampung Ciptagelar, Kanekes Luar dan Kanekes Dalam, dan Rancakalong Sumedang. “Sebenarnya masih banyak yang belum saya kunjungi karena memang membutuhkan waktu yang cukup panjang,” ucapnya. Dari perjalanan itulah Asep mendapat jawaban dari apa yang membuatnya penasaran.

Semula hasil kajiannya ke kampung adat itu hanya untuk konsumsi pribadi, namun lama-kelamaan banyak teman yang juga memiliki ketertarikan sama hingga menjadi penelitian bersama mulai dari rupa-rupa pola iket, sejarah, dan filosofinya.

“Banyak orang yang ahli di bidangnya, seperti mainan tradisional, kujang, dan sejarah. Tapi apa yang bisa saya kontribusikan merupakan hasil saya sendiri. Kalau saya hanya ngikutin saja enggakada kepuasan, sehingga saya khususkan pada iket. Saya akan mencari terus selama saya mampu,” ungkap arsitek ini.

“Semakin banyak orang yang menggunakan iket itu sangat positif. Saya berharap lewat iket bisa membuat orang tahu dan cinta serta kenal pada jati dirinya. Dan orang yang berasal dari kampung juga tidak malu karena ternyata banyak nilai-nilai budayanya yang membanggakan,” tutur Asep. MASITA ULFAH Kota Bandung

sumber:koran-sindo.com