Sunda-Jawa Itu Bersaudara

PARA raja, sultan, dan lembaga adat Nusantara berfoto bersama pada acara HUT ke-3 Pengakuan Eksistensi Padjadjaran di Hotel Grand Royal Panghegar, Jln. Merdeka Bandung, Kamis (25/4).

PARA raja, sultan, dan lembaga adat Nusantara berfoto bersama pada acara HUT ke-3 Pengakuan Eksistensi Padjadjaran di Hotel Grand Royal Panghegar, Jln. Merdeka Bandung, Kamis (25/4).

ANDA warga Kota Bandung? Bisakah Anda menunjukkan di mana Jln. Majapahit, Jln. Hayam Huruk, atau Jln. Gajah Mada?

Ketiga nama jalan itu memang tidak ada di Kota Bandung atau juga di beberapa kota/kabupaten di Jawa Barat. Ketiga nama tersebut seperti “tabu” berada di tanah Sunda.

Konon, hal ini merupakan buntut dari peristiwa Perang Bubat. Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14, yaitu di masa pemerintahan Raja Majapahit Hayam Wuruk. Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri Putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Perang terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Singkat cerita, tewasnya rombongan inilah yang membuat orang Sunda “membenci” orang Jawa. Dan hal itu yang berlangsung lama hingga ratusan tahun.

“Peristiwa itu sebenarnya belum tentu benar. Itu cerita yang dibuat untuk memecah belah Jawa dan Sunda. Jika melihat kultur orang Sunda, tidak akan seperti itu. Oleh karenanya itu harus kita sudahi. Jika semua bersaudara,” kata Ketua Lembaga Adat Keraton Pajajaran, Rd. Ir. Roza Racmadjasa Mintredja Sri Paduka Wangsanata Kusumah, di sela-sela acara Dirgahayu III Pengakuan Eksistensi Pajajaran di Hotel Panghegar, Kamis (25/4).

Hal itu pun telah dipahami oleh kedua belah pihak. Maka pada 11 November 2012 di Pendopo Agung, Trowulan, Mojokerto, 11 November 2012, di pusat kerajaan Majapahit, raja-raja Jawa dan Bali berkumpul dan telah mengukuhkan janji perdamaian.

Salah satu misi pertemuan tersebut adalah memperbaiki hubungan trah Kerajaan Pajajaran dan Majapahit yang “renggang” selama 500 tahun. Menurut kepercayaan, keturunan kedua kerajaan tersebut dilarang menikah akibat peristiwa Bubat.

“Di sana kita telah bertemu dan berikrar saling memaafkan ketidaksempurnaan para leluhur. Karena hal itu (kesalahpahaman, red) bagaikan api dalam sekam. Itu tidak boleh lagi dilanjutkan karena hanya memecah belah persaudaraan kita,” tegasnya.

Hal itu juga ditegaskan oleh Shri Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III, sebagai Abhiseka Raja Majapahit Bali, Shri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan XIX yang hadir dalam acara tersebut.

“Waktu itu (pertemuan di Trowulan, red) jadi waktunya untuk memaafkan sejarah. Kami yakin, ruh leluhur Majapahit dan Pajajaran bersalaman, tersenyum di Indraloka dan di Swargaloka,” ujar Wedakarna.

Jadi, kapan akan ada nama Jln. Majapahit, Jln. Hayam Huruk, atau Jln. Gajah Mada di Kota Bandung?

(brilliant awal/”GM”)**
sumber+foto:klik-galamedia.com