Irigasi Citengah Tertimbun Longsor

April 15, 2014 by  
Filed under Bogor, Jawa Barat Terkini

cimandeCaringin | Puluhan hektar area pesawahan milik warga Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, terancam gagal panen. Irigasi Citengah yang mengaliri sawah maupun ladang palawija di sana tertimbun longsoran tanah beberapa waktu lalu.
Udin (42), petani di Kampung Nangoh RT 03/01, Desa Cimande, mengatakan, lahan sawah sebagai mata pencahariannya saat ini kekeringan akibat aliran kali dari irigasi utama tertimbun tanah longsor.
“Sudah satu minggu setelah terjadinya longsor, kali kecil yang bersumber dari irigasi untuk mengaliri sawah kami kering. Jadi area sawah kami tidak teraliri air sama sekali,” akunya, saat di Kantor Desa Cimande, Senin (14/4).
Hal senada dikatakan pengurus Irigasi Citengah, Uci Sanusi (53). Terputusnya aliran kali untuk mengaliri area sawah milik warga akibat longsor tanah di atas irigasi utama. Kejadian longsor itu, ketika cuaca hujan deras yang disertai angin kencang minggu lalu. “Longsoran tanah yang menutupi aliran kali kecil di lokasi Irigasi Citengah bisa menyebabkan pesawahan petani gagal panen. Terlebih pasokan air sawah mereka berasal dari aliran kali irigasi itu,” kata Uci.
Saat ini, warga dengan alat seadanya melakukan perbaikan dengan cara mengeruk tanah yang menutupi irigasi. Bahkan, warga membuat penahan tebingan agar tidak terjadi longsor susulan dengan cara menumpuk karung berisi tanah. “Upaya warga selama satu minggu dengan melakukan perbaikan belum maksimal. Sebab cuaca hujan menjadi kendala warga memperbaiki irigasi dengan alat seadanya,” ungkap Uci.
Agar tidak terjadi longsor susulan akibat kondisi tanah labil di sekitar irigasi utama, Uci meminta Pemkab Bogor melalui Dinas Bina Marga dan Pengairan (DBMP) segera melakukan perbaikan. “Kami berharap pemerintah membangun tembok penahan tebing (TPT) di tebingan sekitar lokasi irigasi ini,” imbuhnya.
Sementara, Kepala Desa (Kades) Cimande, Sudarjat, menjelaskan, dampak tertutupnya irigasi itu membuat kekeringan bagi petani dan warga di dua RW. “Air yang mengalir dari irigasi selama ini digunakan warga untuk mengaliri area pesawahan, mushola serta mandi, cuci dan kakus (MCK). Air kali ini juga dimanfaatkan warga di RT 01 sampai 04 dan RW 01-02,” jelasnya.
Kades mengaku, pihaknya sudah melaporkan kejadian itu ke UPT Teknik Pengairan Wilayah Ciawi satu hari setelah terjadinya longsor. Namun, sampai saat ini belum ada informasi dari pihak UPT terkait hasil pengecekan yang dilakukan petugasnya.
“Keinginan kami, irigasi itu segera diperbaiki pemerintah. Kami di desa tidak akan mampu memperbaiki seperti semula, karena terbentur anggaran yang diperkirakan cukup besar. Apalagi, selama ini upaya warga memperbaiki irigasi itu sudah dilakukan,” pungkasnya.

(Jurnal Bogor)

Masalah TPA Galuga Cibungbulang Pemda Didesak Profesional

September 27, 2013 by  
Filed under Berita Daerah, Jawa Barat Terkini

sampah-galugaTempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Galuga, kembali dikeluhkan masyarakat, sebab menimbulkan berbagai masalah. Ketua Paguyuban RT se-Desa Galuga, Toni mengatakan, jalan yang dilalui truk dari kabupaten maupun Kota Bogor terlalu sempit karena setiap hari dilalui sekitar 300 unit truk.

Tak hanya itu, kata dia, kesehatan warga setempat terganggu karena polusi sampah makin banyak. ”Pernah longsor, akibatnya lahan pertanian seluas 6 hektare tercemar,” katanya. Ia mendesak, pemkab dan pemkot lebih profesional agar tak ada masyarakat yang dirugikan. ”Program kesehatan keliling masih minim,” keluhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, banyak warga menderita penyakit gatal karena air tercemar limbah sampah. Terlebih, beberapa kampung masih ada yang kesulitan air bersih, seperti di Sinar Jaya dan Kampung Baru.

Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Galuga, Iding Suwito menambahkan, alat berat pengeruk sampah beroperasi tak sesuai jadwal. ”Pemerintah jangan menutup mata, seharusnya ikut memikirkan masalah masyarakat,” tegasnya.

Leader Operator Alat Berat, Oman Yohanda mengakui, beberapa kali permasalahan antrean kendaraan sering menjadi sorotan, tetapi bukan karena dari pengerukan sampah yang lambat. Lebih kepada volume sampah yang banyak masuk. ”Kadang ada beberapa sopir nakal yang lewat seenaknya, seperti pada Jumat, padahal sudah sering disosialisasikan,” tuturnya.

Menurut dia, alat berat pukul 12:00 selalu diistirahatkan, sehingga kadang terjadi pengantrean turk. Jadi, solusinya harus ada jalur sendiri. Ia menambahkan, ada sekitar 400 orang pe mulung yang setiap harinya masuk ke dalam TPA. ”Berbagai upaya akan terus dila kukan agar bisa mengurangi kepadatan,” tandasnya.(rp10/b)

sumber: radar-bogor.co.id

Respons Presiden Atas Tragedi Freeport

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Biro Pers Istana/Abror Rizky)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Biro Pers Istana/Abror Rizky)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya menggelar rapat bencana longsor di kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia, Senin 20 Mei 2013. Ini merupakan rapat pertama Presiden pasca longsornya tambang emas bawah tanah Big Gossan di Tembagapura, Papua, pada Selasa 14 Mei.

Rapat dadakan itu dihadiri Menteri Tenaga Kerja dan Tranmigrasi Muhaimin Iskandar, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif, dan Kepala Badan SAR Nasional Mayor Jenderal TNI Marinir Alfan Baharuddin, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, dan Menteri Energi Jero Wacik.

“Hari ini kami memberikan laporan tentang kondisi terakhir,” ujar Muhaimin di kantor Presiden, Jakarta.

Usai rapat, SBY mengatakan bahwa proses evakuasi korban diharapkan selesai dalam waktu paling lambat dua hari ke depan. Ukuran penuntasan proses pencarian korban, yaitu adanya kepastian mengenai nasib 38 korban.

“Yang masih bisa diselamatkan ya diselamatkan, dan kalau memang sudah tidak bisa diselamatkan, tentu dievakuasi dengan baik,” kata SBY.

SBY, katanya, terus memantau perkembangan evakuasi korban yang tertimbun reruntuhan terowongan bawah tanah itu. SBY mengaku berbicara langsung dengan Direktur Utama PT Freeport Indonesia Rozik B Soetjipto dan tim Basarnas. “Mereka langsung melaporkan kepada saya,” katanya.

Sampai saat ini SBY menerima laporan bahwa ada 14 orang yang sudah tidak dapat diselamatkan atau meninggal dunia akibat musibah longsor Freeport itu. Sementara 10 orang lainnya berhasil diselamatkan, dengan kondisi 5 orang baik dan 5 lainnya dalam perawatan intensif.

Korban itu antara lain Retno Arung Bone, Artinus Magal, Hengky Ronald Hendambo, Aris Tikupasang, Victoria Sanger, Mateus Marandof, Selpianus Edowai, Yapinus Tabuni, Aan Nugraha, Joni Tulak, Rooy Kailuhu, Makmur, dan Petrus Rangko.

PT Freeport Indonesia secara terpisah mengatakan, total ada 13 korban tewas yang jasadnya telah berhasil dievakuasi dari reruntuhan terowongan Big Gossan. Sementara 10 korban lainnya ditemukan dalam kondisi hidup. Lima di antara korban yang ditemukan selamat kini dirawat di Tangerang karena membutuhkan perawatan intensif.

“Sisanya masih tertimbun di lokasi,” kata Muhaimin. Menurutnya, saat ini para ahli baik dari dalam maupun luar negeri sedang berkonsentrasi untuk menyelamatkan sisa korban lewat teknik pengiriman oksigen dari luar ke dalam reruntuhan terowongan.

Terjebak di kedalaman 500 M

Proses evakuasi karyawan yang tertimbun hingga hari keenam masih terus dilakukan. Vice President Corporate Communication Freeport Indonesia, Daisy Primayanti menjelaskan longsor terjadi di fasilitas pelatihan seluas 5×10 meter dengan kedalaman 500 meter dari atas permukaan tanah.

Saat longsor pertama terjadi, sekitar 38 orang sedang berada di ruangan tersebut. Sekitar 10 orang selamat, karena saat longsor terjadi mereka terperangkap dan tim berhasil membuka daerah longsoran dengan peralatan manual.

Namun, nahas, longsoran susulan kembali terjadi akibat kondisi tanah yang belum stabil dan membuat sisanya tertimbun oleh tanah longsor.

“Awalnya yang longsor itu ruangan seluas 15 meter persegi, namun terjadi longsor susulan sehingga satu ruangan seluas 5×10 meter atapnya roboh semua tertimpa batuan,” kata Daisy saat dihubungi VIVAnews.

Tim evakuasi menunggu tanah stabil terlebih dahulu sambil membuat penyangga terowongan agar tidak kembali longsor. Alat berat baru bisa masuk pada hari ketiga setelah tanah stabil dan penyanggah terpasang kokoh.

Akses menuju daerah longsoran, menurut dia, dari arah barat jalan selebar 2-3 meter dan arah timur yang sedikit lebih luas. “Pada hari Jumat, sekitar dua alat berat mulai masuk, makanya korban lebih banyak ditemukan,” katanya.

Ia menegaskan, Freeport Indonesia tidak akan berhenti untuk mencari korban hingga seluruhnya ditemukan. “Ini masalah kemanusiaan dan kami tidak akan berhenti hingga seluruh keluarga korban mendapatkan kepastian,” katanya. (sj)

sumber+foto:vivanews

Longsor di Majalengka, Dua Desa Terisolir

Foto :portalkbr.com

Foto :portalkbr.com

Dua desa Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, hingga kini masih terisolir akibat bencana longsor yang melanda daerah tersebut.

Salah seorang warga warga Desa Cimuncang Majalengka, Nana menuturkan, ratusan rumah terpaksa ditinggalkan oleh pemiliknya karena pergerakan tanah akibat longsor terus terjadi, hingga kini dua desa karena semua jalan menuju daerah tersebut putus.

Pergerakan tanah di desa Cimuncang, kata dia, terjadi sekitar tiga pekan lalu, jalan amblas dan rumah banyak yang rusak.

Ribuan korban bencana longsor masih bertahan ditempat pengungsian, sedangkan sebagian memilih tinggal bersama saudara mereka.

Johan, warga lain mengaku, dua desa masih terisolir akibat bencana longsor di Kabupaten Majalengka, ribuan korban terpaksa meninggalkan rumah mereka karena sulit menembus kampung mereka, setelah jalan terputus.

Kepala BPBD Jabar, Sigit, menuturkan pihaknya berencana akan membawa contoh tanah untuk bahan penelitian. Selain itu tim geologi langsung meneliti struktur tanah dilokasi longsor tersebut.

sumber:tribunnews.com

Bupati Majalengka Janji Segera Relokasi Warga Korban Longsor Cigintung

Bupati Majalengka, H.Sutrisno (Foto: universitas-majalengka.ac.id)

Bupati Majalengka, H.Sutrisno
(Foto: universitas-majalengka.ac.id)

Bupati Majalengka, Sutrisno berjanji segera mencari tempat untuk relokasi warga korban longsor di Kampung Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka.

“Memang sampai sejauh ini tempat relokasi itu belum ada, tapi kita akan secepatnya segera sediakan tempatnya,” kata Sutrisno, Kamis (2/5).

Menurut Sutrisno, relokasi warga bukan perkara mudah, karena tempat bagi penduduk yang mencapai 2000 jiwa ini akan menjadi desa baru mereka, selain itu relokasi sendiri akan dibuat dengan sebaik mungkin jangan sampai menjadi masalah baru.

“Pekan ini rencana Pak Gubernur mau ke lokasi. Saya juga akan meminta pertimbangan dari beliau bagaimana baiknya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Majalengka, Bayu Jaya mengatakan, kondisi pergerakan tanah ini berawal dari adanya longsor di gunung Puncak Jati yang terletak sekitar 2 km dari pemukiman warga dua pekan yang lalu. Akibat adanya longsor di gunung tersebut, sering terjadi getaran yang diduga akibat pergerakkan tanah di kawasan tersebut.

“Ini berawal dari longsor di gunung beberapa waktu lalu akibat curah hujan yang masih tinggi. Dan dampaknya, hingga hari ini masih terjadi pergerakkan lahan yang menyebabkan kerusakan bangunan milik warga dan jalan ambles,” kata Bayu. (JAT)

sumber+foto:fokusjabar.com

Sejak Awal 2013, Bencana Alam di Jabar Renggut 25 Korban Jiwa

peta lokasi rawan bencana alam longsor jawa baratSekitar 35 orang meninggal akibat bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah Jawa Barat (Jabar) pada 2013. Bencana alam tersebut disebabkan oleh pengrusakan dan penghancuran alam yang dilegalisasi aturan dan dilegitimasi para kepala daerah dan parlemen.

Demikian kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar Dadan Ramdan melalui pers rilisnya memperingati Hari Bumi, Minggu (21/4/13). Menurutnya, 35 korban jiwa akibat bencana alam tersebut berdasarkan catatan Walhi Jabar pada longsor dan banjir di Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Bogor, Tasikmalaya dan Garut.

“Sangat memprihatinkan, ketika setiap 22 April diperingati sebagai hari bumi, namun pengrusakan bumi, air, udara dan hutan terus berlangsung secara sistemastis, masif dan cepat setiap detik. Bumi sebagai tempat mahluk hidup tumbuh dan berkembang tidak lagi menjadi tempat yang selayaknya mahluk hidup tumbuh,” katanya.

Begitu pun yang terjadi di Jawa Barat, Dadan menuturkan, realitas pengrusakan bumi dan alam Jabar terus berlangsung. Walhi Jabar memandang bahwa aktor utama perusak lingkungan hidup adalah pengusaha dan pemerintahan.

Kenyataan pengrusakan yang nyata dan semakin kronis terjadi di Bumi Jabar diantaranya berupa pembuangan limbah pabrik terus menerus secara sembarangan ke sumber-sumber air, mata air, sungai, embung yang semestinya dijadikan sumber kehidupan,” katanya.

Selain itu, Dadan menambahkan penambangan mineral dilakukan terus menerus tanpa henti di kawasan pesisir, pantai, hutan dan kawasan geologi karst yang menimbulkan pencemaran. “Alih fungsi lahan di kawasan resapan dan lindung menjadi lahan industri serta sarana wisata dan pemukiman mewah skala besar dan pengrusakan dan penghancuran bumi lainnya di Jabar juga terus berlkangsung,” ucapnya.

Dikatakan Dadan, selama kurun waktu lima tahun, dari 2007- 2011, total produksi tambang mineral perak, emas, galena, pasir besi, karst dan pasir sudah mencapai 8,5 juta ton dengan kerugian lingkungan hidup mencapai Rp 1,58 Trilyun. “Artinya biaya pemulihan lingkungan hidup mencapai Rp 231, 56 milyar setiap tahun. Pertambangan panas bumi juga berdampak pada rusaknya ekosistem hutan,”ujarnya. (A-201/A-108)***

sumber:pikiran-rakyat.com

Tol Cisumdawu, Jalur Sumedang Kota Jadi Prioritas Tahap Pertama

20130422 jbr hal 13 (Jalur Sumedang Kota Jadi Prioritas Tahap I)Percepatan pembangunan jalan bebas hambatan Cileunyi – Sumedang – Dawuang (Cisumdawu) dari Tanjungsari hingga ke Sumedang Kota menjadi prioritas tahap pertama pembangunan.

Percepatan tersebut diharapkan bisa menyelamatkan Jalur Cadas Pangeran dari kerusakan. Jalur Cadas Pangeran yang dibangun di sepanjang jalur tebing dinilai sudah sangat tua untuk menahan beban kendaraan- kendaraan berat. Dengan demikian, pembangunan tol ini diharapkan bisa mengurangi beban Cadas Pangeran melalui pengalihan kendaraan ke jalur bebas hambatan tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sumedang Sujatmoko mengatakan, percepatan pembangunan jalan bebas hambatan Tanjungsari hingga Sumedang Kota untuk melindungi Jalan Cadas Pangeran dari kerusakan. “Jalan tol Tanjungsari – Sumedang Kota didahulukan supaya kegiatan kendaraan bisa dialihkan ke tol. Pusat tentu sudah mengukur (prioritas) itu,” kata Sujatmoko.

Sementara, Kasat Lantas Polres Sumedang AKP Adanan Mangopang berpendapat, meskipun Jalur Cadas Pangeran tidak menimbulkan kemacetan dibandingkan dengan di Tanjungsari, Jalur Cadas Pangeran dinilai sudah tidak layak. Kendaraan- kendaraan yang melewati jalur rawan longsor tersebut menimbulkan getaran yang cukup kencang. “Jangankan dilewati kendaraan yang bermuatan berat, kendaraan kecil saja sudah menimbulkan getaran yang keras.

Kalau dari segi kelayakan, jalur Cadas Pangeran tidak layak karena jalur sudah dari zaman dulu,” kata Adanan. Kepala Satker Pelaksana Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Cismudawu Subagus Dwi Nurjaya mengatakan, percepatan pembangunan jalan bebas hambatan Cisumdawu adalah untuk menyelamatkan jalur Cadas Pangeran mengingat jalan tersebut banyak menimbulkan kecelakaan dan sudah overload.

“Jalan Cadas Pangeran banyak dilintasi truk-truk besar. Anggaran dari APBN masuk ke situ lagi, ke situ lagi,” kata Dwi. Prioritas pembangunan jalan bebas hambatan seksi I Cileunyi – Rancakalong bertujuan untuk menghindari kemacetan yang semakin parah di wilayah Tanjungsari, sedangkan percepatan di seksi II Rancakalong – Sumedang Kota untuk melewati Jalur Cadas Pangeran. “Secara teknis memang pembangunan tol Cisumdawu menyulitkan dengan georgrafis pegunungan. Namun, ada teknologi yang bisa mempermudah perkerjaan sulit,” kata Dwi. ● zulfikar

sumber+foto:koran-sindo.com

TPA Caringin Subang, Rawan Longsor

March 29, 2013 by  
Filed under Jawa Barat Terkini, Subang

tpaDinas Tata Ruang Pemukiman dan Kebersihan (Distarkimsih) Kabupaten Subang menyatakan lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di Kampung Caringin, Desa Parung, rawan longsor.

Kepala Distarkimsih Kabupaten Subang Sumasna menyatakan, TPA tersebut sudah semestinya di relokasi ke lokasi yang lebih aman. Pasalnya, sejak awal kawasan tersebut memang sudah tidak dianggap layak sebagai tempat pembuangan sampah.

Dari hasil kajian geologi, jelas Sumasna, lokasi TPA itu berada di zona patahan sehingga daerah itu rawan terhadap bencana longsor. ”Tanah di lokasi TPA sering bergerak karena ada patahan. Ditambah lagi, saat ini, hujan sering turun dengan deras sehingga potensi terjadinya longsor semakin memungkinkan. Ini sangat berbahaya,” ucap saat ditemui seusai acara gerak jalan kemarin.

Dia mengakui, pada 2012 lalu Kementerian Pekerja Umum (PU), telah memberikan solusi mencegah terjadinya longsor di TPA yang memiliki luas 6 hektare tersebut, dengan membuat tanggul penahan longsoran, dan wadah penampung air limbah sampah dengan nilai anggaran sekitar Rp6 miliar. ”Keberadaan lokasi TPA di Kampung Caringin itu sudah berusia lebih dari 30 tahun. Bahkan, di kawasan itu sering terjadi longsor,” kata Sumasna.

Atas kondisi tersebut, Sumasna mengaku, telah melakukan studi relokasi untuk mencari lokasi TPA yang sesuai. Menurut dia, langkah yang diambil tersebut sudah dikomunikasikan kepada pihak Kementerian Pekerjaan Umum (PU) agar menjadi pertimbangan. ”Kami sudah memproses usulan relokasi tersebut, namun kondisi TPA di kawasan itu tentunya harus tetap dibenahi, agar longsoran sampah yang jatuh ke badan Sungai Cileuleuy yang bermuara ke laut Jawa tidak semakin parah,” paparnya.

Warga di kampung Caringin, Kelurahan Parung, Kecamatan Subang, Dawang, 27, menyatakan, sampah yang berada di TPA tersebut sudah memasuki aliran sungai Cieleuy. Kondisi ini harus segera diantisipasi agar sungai tidak lagi tercemar oleh limbah sampah yang berasal dari TPA tersebut.

”Kalau hujan deras sampah-sampah di bibir sungai akan terbawa arus sungai yang melintasi kampung Curug Lima, Cimerta, dan beberapa kampung di Subang Kota.” heru muthahari

Sumber + Foto : koran-sindo.com

Longsor Cililin, 5 Korban Belum Ditemukan

koban-longsor130329bTim SAR gabungan melanjutkan proses evakuasi korban longsor di Kampung Mukapayung, Desa Nagrog, Kecamatan Cililin, Bandung Barat, Jawa Barat. Pencarian dilakukan untuk menemukan 5 korban yang masih hilang.

Pantauan Liputan 6 SCTV di lokasi longsor, Jumat (29/3/2013), proses pencarian dan evakuasi tim SAR gabungan sudah memasuki hari ke 5. Evakuasi sempat terkendala cuaca dan longsor susulan yang masih saja terjadi.

Evakuasi yang dilakukan secara manual tanpa alat berat juga menyulitkan tim SAR menemukan korban. Jalan yang terjal dan sempit menuju lokasi longsor, membuat kendaraan tak bisa masuk. Lokasi hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor atau berjalan kaki.

Dari 17 korban longsor, tim gabungan menemukan 12 jenazah. Jenazah terakhir yang ditemukan adalah seorang ibu yang sedang menggendong bayinya, Kamis 28 Maret 2013 kemarin. Untuk menemukan titik lokasi korban yang hilang, tim gabungan mengandalkan anjing milik warga setempat.(Adi)

Sumber + Foto : liputan6.com

Longsor Susulan, Pencarian Distop

March 28, 2013 by  
Filed under Berita Daerah, Jawa Barat Terkini

20130328 jbr hal 1b (Longsor Susulan, Pencarian Distop)Proses pencarian korban longsor di Kampung Nagrog, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dihentikan setelah kemarin terjadi tiga longsor susulan.

Ketiganya terjadi di Kampung Poponcol dan Cikoneng yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Kampung Nagrok. Akibatnya, warga yang rumahnya terancam memilih mengungsi ke pos pengungsian warga di SD Lembang. Pengungsi di tempat ini jumlahnya pun terus bertambah. Bila awalnya 98 jiwa, pada hari ketiga melonjak menjadi 198 jiwa.

Walau hanya melakukan aktivitas pencarian korban kemarin cukup singkat yakni, sejak pukul 07.00 hingga 10.30 WIB, tim gabungan SAR dan warga berhasil menemukan potongan tubuh yang kepalanya ditemukan Selasa (26/3) siang. Potongan tubuh tersebut, diidentifikasi milik Taryati ,26, yang sebelumnya disebut sebagai Imas, 55. Seorang warga mengenali ciri-ciri pada tubuh Taryati.

”Faktor cuaca ini tentunya menjadi kendala bagi tim evakuasi gabungan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat Sigit Udjwalaprana. Salah identifikasi juga terjadi pada jenazah Tuti, 48, yang sebelumnya disebut Iis, 18. Ini berarti, hingga kemarin, korban meninggal tercatat 10 orang, 7 lainnya masih tertimbun dan 98 warga terpaksa mengungsi. Mereka yang telah teridentifikasi adalah Tedi, 13; Dedi, 27; Agus, 5; Tika, 26; Fitri, 8; Aditia, 3; Teten, 28; Safaat, 8; Tuti, dan Taryati. Dengan begitu, kini tim gabungan fokus mencari tujuh orang yang masih tertimbun.

Mereka adalah Entis, 55; Iis; Jesica Aulia, 3 bulan; Imas; Cecep Hadiansyah, 22; Ros, 32; dan Resti, 3. Sementara itu, Kepala Pengendali Lapangan longsor Cililin, KBB, Kapten Infanteri Budi Rahman menyatakan, lokasi zona rawan diperlebar 100 meter dari area longsor awal. Hal itu dilakukan karena kondisi tanah yang terus bergerak, dan terbentuk teras dari hasil longsoran susulan. Potensi akan kembali pun terjadinya longsor sangat besar.

Ini lantaran kemarin sore wilayah KBB hujan turun sangat deras. Diduga longsor akan terjadi pada proses pencarian hari ini. ”Tadi tim survei menemukan titik tanah retakan dan tanah bertendon air yang dikhawatirkan akan menimbulkan longsor susulan,” ungkap Budi di lokasi longsor kemarin. Keluarga korban longsor mengaku pasrah. Namun, mereka sangat berharap seluruh korban bisa ditemukan dan dikuburkan secara layak.

”Kami meminta dan memohon proses pencarian terus dilakukan. Saya pasrah apa pun nanti hasilnya, yang penting keluarga saya bisa ditemukan,” ujar Uden, 29, seusai menerima bantuan pakaian dan sembako dari Wakapolda Jabar Brigjen Pol Rycko Amelza di posko pengungsian kemarin. Uden belum mengetahui nasib kedua orang tuanya kedua orang tuanya, Entis, 55, dan Imas, 55.

Merespons permintaan keluarga korban, Rycko menyatakan siap mencari korban sampai semuanya ditemukan. Untuk itu aparat kepolisian terus berkoordinasi dengan petugas BPBD, TNI, Basarnas, dan para relawan untuk terus mencari korban. Kebutuhan logistik dan pakaian akan diupayakan dengan bekerja sama Polres Cimahi yang menyumbangkan sembako, mi instan, dan pakaian untuk keperluan pengungsi. ”Yang jadi prioritas adalah kebutuhan anak-anak agar mereka harus tetap bisa sekolah. Karenanya evakuasi dan penataan pemukiman warga harus diperhatikan,” ujarnya. adi haryanto/ ant

Sumber + Foto : koran-sindo.com

Next Page »