web analytics

Car Free Day Harus Dievaluasi

engunjung memadati arena car free day (CFD) Dago, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung

engunjung memadati arena car free day (CFD) Dago, Jalan Ir H Djuanda, Kota Bandung

Hari tanpa polusi kendaraan bermotor atau car free day (CFD) setiap minggunya ternyata menimbulkan banyak masalah baru.

Seperti terpantau pada pelaksanaan CFD Dago di Jalan Ir H Djuanda kemarin pagi, jalanan Dago dipenuhi pengunjung dan juga pedagang kaki lima (PKL). Kondisi semakin semrawut di sudut pertigaan Cikapa yang di beberapa halaman factory outlet terdapat mobil dengan sound system bervolume besar. Ironisnya, di kawasan tersebut terdapat sebuah rumah sakit berkapasitas pasien cukup banyak.

Hal itu turut menjadi perhatian Ketua Komisi C DPRD Kota Bandung Entang Suryaman. Dia mendesak Pemkot Bandung segera mengevaluasi total CFD Dago. “Harus dievaluasi secara menyeluruh. Sebab, selain dipenuhi PKL, car free day juga sudah terlalu bising,” kata Entang di lokasi CFD, kemarin.

Menurut dia, penyelenggaraan CFD yang semula dimaksudkan untuk mengurangi emisi gas buang dan polusi kendaraan ternyata mulai bergeser. Indikatornya, kawasan CFD menjadi bising dengan kegiatan yang menggunakan sound system dengan volume terlampau besar. “Memang polusi kendaraan tidak ada, tetapi polusi suara justru mengganggu kenyamanan warga yang datang ke CFD,” ujarnya.

Entang menuturkan, keberadaan mobil operasional sejumlah stasiun radio serta banyaknya kegiatan yang menggunakan pengeras suara sesungguhnya menjadi daya tarik tersendiri areal CFD. Akan tetapi, ada baiknya jika hal ini pun dievaluasi, misalnya Pemkot Bandung harus mulai mempertimbangkan pembatasan atau pengaturan terkait hal tersebut, termasuk pembatasan dan pengawasan PKL di area CFD.

Ketua DPRD Kota Bandung Erwan Setiawan mengakui CFD Dago semakin semrawut dan bising, padahal masyarakat yang datang ingin menikmati kenyamanannya. “Kami sepakat jika CFD Dago perlu dievaluasi total agar warga kota yang menikmati CFD tetap merasa nyaman. Jadi bebas polusi kendaraan, polusi mata karena berserakan sampah, dan polusi suara karena kebisingan berbagai sound system,” tutur Erwan.

Para PKL di CFD Dago sebagian besar adalah dadakan. Seperti seorang mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Andri, 22, yang ikut berjualan susu murni. Dia mengaku selalu mendapat untung cukup lumayan.

Andri pun harus membayar retribusi Rp3.000 kepada seseorang pengelola PKL tidak berseragam. “Setiap berjualan saya harus bayar Rp4.000, yakni Rp3.000 buat biaya jualan dan Rp1.000 buat biaya kebersihan,” ucap Andri. gita pratiwi/CR-1

sumber+foto:koran-sindo.com