web analytics

Foto:(Reuters/Morteza Nikoubazl)

Iran punya macam-macam cara dalam menghadapi berbagai tekanan dari negara-negara yang memblokade perdagangannya terkait soal krisis nuklir. Ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai jalur distribusi dan perdagangan minyak dari Timur Tengah ke pasar internasional ternyata bukanlah opsi utama strategi pertahanan Iran saat ini.

Ketua Organisasi Pendekatan Antara Mazhab-mazhab Islam asal Iran, Ayatullah Mohammad Ali Taskhiri, mengungkapkan negaranya mempunyai opsi lain selain blokade tersebut. Salah satunya memaksimalkan kekuatan pasukan Iran yang sangat besar jumlahnya saat ini.

“Itu yang akan kami manfaatkan terlebih dahulu,” ujar Ali ketika ditemui di kediaman Duta Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Minggu 4 November 2012.

Namun, hal tersebut belum akan dilakukan dengan pertimbangan akan berdampak besar bagi stabilitas khususnya ekonomi dunia nantinya. “Kami lebih memilih opsi lain untuk saat ini,” tambahnya.

Meski demikian, Ali Taskhiri dirinya menegaskan opsi tersebut masih terbuka jika memang para pejuang Iran tidak memiliki cara lain untuk mempertahankan kedaulatan negaranya.  “Itu merupakan hal sangat mudah bagi kami,” ungkapnya.

Ali Taskhiri  pun mengaku, Iran  telah memiliki informasi terkait lokasi pangkalan-pangkalan perang zionis Israel dan sekutunya yang terdapat di beberapa lokasi di sekitar Iran. “Mereka ingin  berperang kami balas. Kami siap 100 persen,” tegasnya.

Sementara, kondisi Iran saat ini, khususnya bidang ekonomi sedang mengalami tekanan yang cukup besar, akibat embargo ekonomi yang dikeluarkan Amerika dan negara-negara barat lainya terhadap negara tersebut. Iran ditudung mengembangkan nuklir sebagai senjata perang.

Ali menceritakan, setelah embargo tersebut, negaranya tidak diperbolehkan untuk menjual produksi minyak yang dihasilkan ke dunia Internasional. Hal tersebut membuat kekuatan fiskal Iran terganggu saat ini. “Walaupun berhasil menjual minyak hasilnya tidak 100 persen dimiliki,” ungkapnya.

Embargo tersebut juga menutup akses, perbankan di negara tersebut di dunia Internasional. Sektor perbankan di Iran seakan mati suri dengan kebijakan Amerika dan negara-negara sekutunya, seperti Ingris, Jerman Prancis, Rusia dan China.

Dari segi pemerintahan, dirinya pun mengaku terus diawasi negara barat. IAEA (International Atomic Energi Agency)  selaku badan pengawas pengembangan nuklir dunia, memasang ratusan camera pengintai di seluruh kantor instansi pemerintahan di Iran. “Itu guna memastikan kami tidak membangun senjata nuklir,” tambahnya.

Ali mengatakan, padahal Iran mengembangkan energi nuklir tersebut sebagai energi alternatif yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. “Nuklir kami untuk damai.”

Terus Maju

Namun, ia menegaskan, hal tersebut tidak menandakan kehancuran Iran. Ali Taskhiri mengaku, saat ini negaranya terus bergerak maju dalam mengembalikan stabilitas baik ekonomi, sosial dan politik.

“Ada kerjasama yang baik, di dalam antara pemerintah dan rakyat Iran untuk mencari jalan lain,” ujarnya salah satu penasihat negara Iran tersebut.

Sebagai Informasi, Ayatullah Mohammad Ali Taskhiri merupakan salah satu guru besar Islam di Iran. Sebagai negara Islam, kebijakan yang dikeluarkan masih dipengaruhi oleh para ulama besar di negara tersebut.

Dalam kunjungannya ke Ali  akan bertemu dengan  beberapa cendikiawan muslim maupun non muslim di Indonesia. Dirinya mengaku akan terus mengadakan dialog dengan seluruh kalangan di dunia. Agar dapat menyamakan pandangan dan bekerjasama memajukan peradaban dunia kedepanya.

“Saya senang sekali kita bisa ketemu dan datang ke Indonesia dan bertemu cendikiawan dan bertukar pikiran antara Indonesia dan Iran,” tandasnya. (ren)

Sumber:viva.co.id