M. Apipudin – Dari Kecil Berusaha Hidup Mandiri

by -10 views

mapipMuhammad Afifudin lahir di Desa Cibitung Ciampea Bogor. Beliau adalah anak dari ibu Masna’ah binti KH. Ghazali (H. Abing) bin Ratu Iyok bin K.H. Syeikh Romdhon. Semasa hidup, aktivitas beliau adalah seorang petani, guru agama, dan tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) I Cinangneng. Pendidikan beliau di antaranya: Sekolah Rakyat (SR) Cibitung, MTs Malnu Menes Pandeglang (pada saat kepala sekolah H. Adung), kelas paket dan ujian persamaan Pendidikan Guru Agama (PGA) Nurul Ummah Nagrog.
Beliau mendapatkan pendidikan Pondok Pesantren (Ponpes) di antaranya: di pesantren asuhan kakeknya KH Ghazali Cibitung, Ponpes Bunar Jasinga Bogor, Ponpes Garisul Jasinga, Ponpes Kananga Menes Pandeglang Banten, dan ponpes lainnya yang tidak sempat diketahui keluarga. Beliau mendirikan pengajian Majelis Ta’lim Al-Hikmah di desa Cibitung (Rt./Rw. 11/03) Ciampea Bogor.
Dalam gerakan Islam, beliau sempat aktif di gerakan pemuda Anshor pada zaman pendudukan Jepang. Beliau juga sering mengikuti loka karya dan pelatihan-latihan kewirausahaan. Almarhum yang dikenal sebagai guru (mu’alim) yang mempunyai wibawa dalam memimpin masyarakat, sering mengisi kegiatan keagamaan seperti ceramah, acara Hari-Hari Raya Besar Islam (HBI), kegiatan sosial dan mengisi pengajian di beberapa desa masyarakat sekitar terutama Ciampea Bogor bagian Selatan.
Ayahnya meninggal ketika beliau masih dalam kandungan ibunya yang baru menginjak enam bulan. Saat usia enam bulan dari semenjak beliau lahir, ibunya meninggal dunia. Kondisi itu, menyebabkan beliau menjadi anak yatim piatu.
Oleh karena itu, sewaktu kecil ia banyak diasuh oleh kakeknya H. Abing dan diakui sebagai anaknya sendiri, sehingga Apip kecil menyangka H Abing adalah ayahnya. Hal ini, membekas sampai dewasa ketika beberapa identitasnya seperti Kartu Tanda Pengenal (KTP), atau ijazahnya banyak mencantumkan nama kakek sebagai orang-tua (M. Afifudin bin H. Abing). Begitu juga menurut penuturan keluarga terutama isterinya Ny Oyeh semasih hidup, anak-anaknya dan masyarakat sekitar.
Semula beliau hidup di suatu perkampungan kecil (di desa Cibitung) pinggir kali Cinangneng yang berseberangan dengan desa Situdaun. Suatu perkampungan yang berpenghuni hanya sekelompok keluarga, satu masjid dan satu pondok pesantren. Ketika itu, desa Cibitung belum begitu banyak penghuni dan keadannya bisa dikatakan masih seperti hutan (Sunda: leuweung). Tidak nampak lampu penerangan ketika malam tiba, apalagi penerangan dari listrik seperti keadaannya sekarang.
Beliau mempunyai satu paman (adik ibunya dari keluarga H Abing) yang berusia lebih muda darinya bernama M. Khotib Ghazali (pimpinan Yayasan Al-Ghazali, tokoh masyarakat Cibitung Tengah dan Imam Besar Masjid An-Nur Cibitung Kaum Ciampea Bogor).
Sebagaimana layaknya anak-anak lain seusianya, saat usia muda, M Afif sering bermain dengan teman-teman di kampung halaman sambil mengasuh paman yang usianya lebih muda. Pergi ke sawah, membantu kakek sampai menangkap ikan di sungai Cinangneng. Namun, sifat gemar bermainnya lebih banyak dihabiskan waktunya untuk belajar mengaji dan membaca al-Qur’an kepada sang kakek.
Menurut penuturan Alm. Bapak Eman (teman akrab M Apip semasa hidup saat berbincang-bincang dengan penulis di sela-sela usianya yang sudah tua), bahwa dengan memakai sarung dan peci hitam M Afifudin senantiasa membuntuti kakeknya kemanapun pergi, sehingga masyarakat sering menganggap bahwa Apip adalah putra H Abing.
Seringkali ketika Apip dan H Abing sedang berjalan berdua, teman-temannya dan orang sekitar sering menyebutnya “buntut” (buntut KH Abing). Maklum anak kecil, terkadang beliau marah terhadap orang yang menyebutnya “buntut”. Sejak kecil beliau sangat rajin dan gemar membaca al-Qur’an dan kitab kuning.
Kakeknya adalah orang yang pertama kali mengajarkan beliau pendidikan agama melalui pengajian al-Qur’an dan kitab kuning. Saat itu, untuk mendapatkan kitab kuning sangat sulit, bahkan dapat dikatakan belum ada di sekitar wilayah itu, karena keberadaan percetakan masih langka. Di bandingkan sekarang kitab kuning sudah go public, bahkan sudah merebak versi terjemah dalam berbagai bahasa. Sehingga kini, banyak saduran-saduran yang dapat memudahkan pembaca untuk mengerti tentang agama dan menjadikan kembali sebuah buku best seller di pasaran.
Meski demikian, beliau tidak gampang menyerah dalam belajar agama Islam. Kondisi yang serba terbatas itu, justru merupakan tantangan besar yang harus beliau lewati untuk berusaha belajar dengan keras melalui menghapal dan menulis.
Sambil berbakti kepada sang kakek yang secara kebetulan kakeknya itu adalah seorang tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat sekitar. Mungkin kegemaran beliau dalam membaca kitab kuning sepertinya sudah mendarah daging, sehingga lebih leluasa untuk memahami Islam. Padahal, usianya masih sangat muda belia.
Salah satu keunikannya adalah beliau sangat rajin dan selalu berusaha untuk mandiri. Bahkan, saat usianya masih muda beliau sudah dapat dipercaya mengajarkan kitab kuning kepada santri yang usianya lebih dewasa.
Dilihat dari keturunannya, Apipudin merupakan keturunan dari lingkungan keluarga yang mempunyai latar belakang pesantren. Hal ini dapat dilihat dari silsilah beliau yang memiliki pertalian dengan KH Syeikh Romdhon dari Banten.

Sumber : http://dulur.wordpress.com