APDASI: Pasokan Daging Sapi Jabar Rawan

by -7 views

Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) Jawa Barat (Jabar) mendesak pemerintah segera melakukan operasi pasar dengan menyediakan sapi siap potong, untuk mengantisipasi kenaikan harga daging yang dinilai tidak logis. Mereka menilai, saat ini pasokan sapi di Jabar dalam kondisi rawan.

“Kalau pemerintah tidak segera bertindak, harga daging sapi akan terus melambung dan sulit terjangkau masyarakat. Untuk Kota Bandung, pada Munggahan harganya mungkin bisa mencapai Rp 90.000 per kg,” ujar Ketua Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia (Apdasi) Jabar, Drs. H. Dadang Iskandar, M.M. di Kantor Apdasi Jabar, Jln. Mutumanikam, Bandung, Kamis (12/7).

Kondisi itu dipicu kebijakan pembatasan impor sapi yang dilakukan pemerintah sejak beberapa bulan lalu. Menurut Dadang, kondisi itu sangat merugikan pedagang daging sapi. Pasalnya, sejak dua bulan terakhir harga sapi potong naik hingga Rp 2 juta-Rp 2,5 juta per ekor, timbang hidup.

“Populasi sapi potong di Indonesia memang mencapai 14,3 juta ekor. Akan tetapi, apakah semua siap potong? Berapa yang betina dan berapa yang produktif? Kemungkinan besar jumlah populasi yang siap potong hanya 30% dan itu artinya tidak bisa mencukupi permintaan,” katanya.

Kondisi itulah, menurut dia, yang membuat harga daging sapi terus melonjak dan diperparah dengan aksi spekulasi para importir besar yang mulai beralih membeli sapi lokal untuk menutupi kekurangan sapi impor. Akibatnya, lanjut Dadang, harga daging sapi berada di tangan segelintir importir besar.

“Kuota para bandar dibatasi. RPH nyaris kosong. Kalaupun ada, jumlahnya tidak lebih dari 10 ekor per RPH. Padahal, kebutuhan menjelang Ramadan sangat tinggi,” ujarnya.

Untuk Kota Bandung saja, menurut dia, kebutuhannya bisa mencapai 1.000 ekor per hari. Pada hari normal rata-rata kebutuhan 200-250 ekor, sedangkan pasokan saat ini hanya sekitar 180 ekor. Sementara kebutuhan Ramadan untuk Kab. Bandung diprediksi mencapai 500 ekor per hari dan Tasikmalaya 750 ekor.

“Jumlah sapi yang ada di salah satu pembibitan di Jabar hanya sekitar 4.800 ekor. Itu pun pasarnya bukan hanya untuk Jabar, tapi ke Jakarta, Sumatera, Tangerang. Ironisnya, pasar Jabar kerap kalah oleh Jakarta karena harga di sana lebih tinggi,” tuturnya.

Keua Apdasi Kota Bandung Endang Mubarak menegaskan, stok sapi untuk Ramadan di Jabar tidak aman. “RPH nyaris kosong. Coba saja, dinas terkait langsung mengontrolnya, jangan hanya menerima laporan yang belum tentu sesuai dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Ia mengatakan, jika pemerintah melakukan operasi pasar dalam bentuk sapi siap potong, Apdasi siap membelinya untuk kemudian menyalurkannya kepada masyarakat. Dengan demikian, menurut Endang, diharapkan harga daging sapi bisa ditekan, setidaknya tidak sampai menyentuh angka Rp 90.000 per kg ke atas.

Sementara itu, Ketua Apdasi Kab. Bandung, Yayat Sumirat mengatakan, jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya harga, populasi sapi perah juga terancam. Saat ini saja, menurut dia, sudah banyak peternak yang menjual sapi perahnya untuk kemudian dipotong.

“Ini berbahaya karena akan berimbas pada penurunan produksi susu. Bahaya lainnya adalah ancaman masuknya sapi glonggong dari Jateng, yang sudah mulai masuk ke Jabar sejak dua bulan lalu,” ujar Yayat.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif DPP Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi), Thomas Sembiring, juga memprediksi bahwa krisis daging sapi menghantui negara ini, termasuk Jabar.

Dia menilai, rencana pemerintah untuk melakukan impor sapi sebanyak 8.300 ton guna memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan tetap tidak dapat mencukupi. “Itu karena permintaannya lebih besar daripada kondisi normal,” tuturnya.

Menurut dia, impor daging sapi menjelang Ramadan pada dasarnya adalah alokasi untuk semester II/2012. “Itu berarti, alokasi impor sapi semester II beralih pada semester I. Jadi, berkurang 5.600 ton,” katanya. Rencana impor semester II sebanyak 30 ribu ton. (A-150/A-89)***

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/195765