Pembelot: Assad Gunakan Senjata Kimia jika Terdesak

by -2 views

LONDON,— Presiden Suriah Bashar al-Assad akan menggunakan senjata kimia terhadap kekuatan oposisi dan diduga sudah melakukannya. Hal itu dikatakan Nawaf Fares, mantan duta besar Suriah untuk Irak yang membelot, dalam wawancara dengan BBC, Senin (16/7/2012).

Fares, merupakan politisi paling menonjol yang membelot sejak pecahnya pemberontakan terhadap Presiden Assad. Menurutnya, sebagai presiden, Assad tinggal menghitung hari dan bersiap “memusnahkan semua orang Suriah” demi mempertahankan kekuasaan.

Ketika ditanya Frank Gardner dari BBC, apakah itu (pemusnahan rakyat Suriah) berarti Assad akan menggunakan senjata kimia, Fares menjawab, “Saya yakin jika rezim Bashar al-Assad semakin disudutkan oleh rakyatnya, dia akan menggunakan senjata semacam itu (senjata kimia).”

“Ada informasi, yang belum terkonfirmasi, bahwa senjata kimia itu sudah digunakan di Homs,” kata mantan duta besar itu.

Suriah memang memiliki persediaan senjata kimia dan negara-negara tetangganya semakin khawatir jika rezim itu terguling.

Menurut Fares, akibat (kejatuhan Assad) itu tidak bisa “dihindari”. “Pemerintahan ini akan jatuh tak lama lagi,” kata Fares dalam wawancara dengan BBC di tempat perlindungannya di Qatar. “Kami berharap waktu itu tidak terlalu lama. Dengan demikian, pengorbanan bisa dikurangi.”

Fares mengumumkan pembelotannya pada 11 Juli. Selama ini dia dikenal sebagai tokoh garis keras di pemerintahan Assad dan keputusannya untuk meninggalkan Assad menimbulkan kecurigaan di kalangan para aktivis oposisi.

Sejumlah pembangkang mengatakan Fares kemungkinan besar disiapkan oleh Barat untuk mengambil peran dalam pemerintahan transisi, sementara kalangan lainnya membicarakan “kejahatan” masa lalunya.

Fares pernah menjadi gubernur di sejumlah provinsi di Suriah dan memegang jabatan senior keamanan serta Partai Baath, partai berkuasa di Suriah. Dia berasal dari suku Sunni Oqaydat di wilayah timur Suriah. Suku ini juga tersebar hingga di Irak, Jordania, dan Arab Saudi.

Mantan polisi itu memiliki hubungan dekat dengan badan intelijen yang ditakuti sebelum menjadi gubernur dan kemudian ditunjuk menjadi dubes pertama Suriah untuk Irak, setelah kedua negara memperbaiki hubungan yang buruk selama 30 tahun.

Militer Suriah mengerahkan kendaraan bersenjata di dekat pusat kota Damaskus, Senin, untuk memerangi para pemberontak yang berada di sekitar ibu kota negara itu. Para aktivis menyebut hal ini merupakan titik balik dalam pemberontakan yang sudah berlangsung 16 bulan itu.

Fares mengatakan, meluasnya pertempuran di ibu kota membuktikan bahwa “perluasan dan kekuatan revolusi terus meningkat dari hari ke hari.”

Sumber : www.kompas.com