AS Peringatkan RI Bahaya Terorisme

by -4 views

Amerika Serikat (AS) memperingatkan Indonesia terhadap bahaya ancaman terorisme. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia menjadi target aksi terorisme. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton meminta Indonesia meningkatkan kewaspadaan atas aksi-aksi terorisme yang terjadi di berbagai negara. “Banyak negara juga menjadi sasaran,bahkan ada tujuan politik di dalamnya.

Di negara demokrasi yang besar seperti Indonesia, peluang itu ada,” ucap Hillary dalam joint press briefing bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa di Kementerian Luar Negeri Indonesia,Jakarta, tadi malam. Hillary tiba di Bandara Halim Perdanakusumah,Jakarta, pukul 18.00 WIB, menggunakan pesawat bertuliskan United States of America, untuk kunjungan kerja di Indonesia. Hillary langsung menuju Kantor Kementerian Luar Negeri di Jalan Pejambon untuk bertemu Marty Natalegawa.Mobil yang ditumpangi Hillary berjalan beriringan dengan pengawalan ketat.

Kedatangan mantan Ibu Negara AS ini hanya berselang tiga hari pascapenyergapan terhadap kelompok teroris oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri di Solo dan Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam penyergapan itu,dua terduga teroris tewas dan satu orang ditangkap. Sejumlah kalangan mengaitkan penyergapan kelompok teroris itu dengan kunjungan Hillary ke Indonesia. Menlu Marty Natalegawa mengatakan, Indonesia akan terus bekerja sama dengan AS dalam upaya pemberantasan terorisme.

“Kita saling mendukung baik dalam melakukan penyelidikan maupun penindakan,” ujarnya. Di bagian lain, Hillary Clinton memandang ada peningkatan dalam hubungan antara AS dan Indonesia. Dia menegaskan,Indonesia akan selalu mendapat perhatian dunia karena merupakan negara yang memiliki demokrasi tinggi dan selalu berupaya untuk menjaga kesatuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

“Kita telah melihat perkembangan hubungan bilateral dan kemitraan komprehensif sangat penting bagi perkembangan Asia-Pasifik. Saya akan menyambut delegasi Indonesia yang datang ke Washington,”katanya. Dalam pembicaraan bilateral, kedua negara menekankan kemitraan komprehensif termasuk pada bidang kerja sama ekonomi dan pembangunan, sosial budaya, pendidikan, dan iptek. “AS akan menginvestasikan USD83 juta untuk pendidikan dan beasiswa sebesar USD20 juta untuk mahasiswa pascasarjana di AS,”ungkap Hillary.

“Bantuan ini sejalan dengan model kemitraan yang selama ini dijunjung kedua negara yaitu berbagi nilai yang sama dan memiliki keuntungan yang konkret.” Khusus sengketa Laut China Selatan, Hillary berharap segera ditemukannya jalur diplomasi dan damai tanpa ada intimidasi dan kekerasan, serta persatuan ASEAN. Hillary menekankan bahwa AS tidak memihak siapa pun dalam sengketa itu. Dia meminta semua pihak agar menahan diri dari ancaman atau paksaan yang membuat ketegangan di kawasan itu.

Sementara itu,Marty menegaskan keyakinannya bahwa negara-negara ASEAN sekarang bekerja sama untuk menyelesaikan masalah Laut China Selatan. Dia juga mengungkapkan telah menggelar diskusi “buka-bukaan” mengenai masalah itu dengan Menlu China Yang Jiechi. “Saya kira jalannya cukup terang di depan kita,”ujar Marty. “Ketiadaan proses diplomatik membuat kita yakin bakal terjadi insiden dan ketegangan lebih lanjut di kawasan.

” Dalam kunjungannya ke Indonesia hari ini Hillary dijadwalkanbertemuPresidenSusilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu Hillary dijadwalkan akan berkunjung ke China, Timor Leste, dan Brunei Darussalam. Kunjungan ke Brunei ini membuat Hillary menjadi Menlu AS pertama yang mengunjungi 10 negara anggota ASEAN.Hillary kemudian akan menghadiri KTT Kerja Sama Ekonomi Asia- Pasifik (APEC) di Vladivostok, Rusia pada 8-9 September.

Butuh Dukungan Indonesia

Dekan Paramadina Graduate School of Diplomacy Dinna Wisnu mengatakan,kunjungan Hillaryke Indonesia adalah bukti konkret Negeri Paman Sam tersebut menganggap Indonesia sebagai negara penting di kawasan Asia-Pasifik.Kunjungan ini sekaligus menunjukkan AS sangat membutuhkan dukungan Indonesia sebagai mitra penting dalam menghadapi tantangan politik dan ekonomi global. “Untuk kawasan Asia-Pasifik, Indonesia adalah yang sangat diperhitungkan selain India dan Taiwan.

Makanya, posisi tawar yang kuat di mata AS harus bisa membuat pemerintahkitapercaya dirimenyampaikan kepentingan negara kita.Termasuk menyampaikan sikap tentang apa yang boleh danapayangtidakbolehkepada Pemerintah AS,”ujar Dinna. Adapun guru besar hukum internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan, kunjungan Hillary harus dijadikan kesempatan untuk menunjukkan sikap Indonesia terhadap berbagai persoalan regional, internasional, maupun nasional. Dia menduga Hillary akan membujuk Presiden SBY agar bersedia memperpanjang kontrak kerja perusahaan tambang Freeport. “Indonesia harus tegas menolak,”ujarnya. wenny juanita/ mohammad sahlan/ fefy dwi haryanto.

Sumber : wwww.seputar-indonesia.com