Obama-Romney Saling Kejar

by -10 views
Foto:seputar-indonesia.com

Debat calon presiden (capres) Amerika Serikat (AS) terakhir yang digelar Senin (22/10) waktu setempat bakal menentukan hasil pemilu yang bakal digelar 6 November mendatang.

Dalam debat yang disiarkan langsung secara nasional pada pukul 21.00 waktu setempat atau pukul 08.00 WIB tadi pagi dari Lynn University di Boca Raton, Florida, dengan moderator Bob Schieffer dari CBS itu, masing-masing capres, incumbent Presiden Barack Obama dan capres Republikan Mitt Romney, saling berusaha menarik simpati para pemilih saat polling menunjukkan keduanya bersaing secara ketat.

Hasil polling terakhir yang bakal memanaskan debat itu menunjukkan baik Obama dan Romney saling berbagi angka 47% dari jajak pendapat yang digelar NBC/Wall Street Journal. Beberapa jajak pendapat lain memperlihatkan Romney mengungguli Obama. Dalam polling Gallup, Romney memimpin 7 angka dengan 52:45. Sedangkan, polling Politico/ George Washington University menunjukkan mantan gubernur Massachusetts itu memimpin 2 angka atas sang presiden dengan 47:45.

Tapi, Obama masih unggul di Ohio. Dalam jajak pendapat Quinnipiac/CBS, Obama memimpin dengan perolehan 50:45. Dengan hasil seperti itu, tidak heran jika debat terakhir Obama dan Romney bakal berlangsung seru. Apalagi, pada debat ini mereka akan memfokuskan pada kebijakan luar negeri.

Bahasan mengenai keamanan di Libya, bagaimana membendung Iran, krisis di Suriah, kebangkitan China, dan mengakhiri perang Afghanistan diperkirakan mendominasi debat tersebut. Romney tentunya tak akan menyia-siakan kesempatan ini untuk mendulang suara pemilih pada pemilu yang digelar 16 hari mendatang itu.

Debat itu juga akan menjadi kesempatan terbaik Romney untuk memulihkan diri setelah mengkritik penanganan Obama terhadap serangan 11 September di Konsulat AS di Benghazi yang menewaskan empat warga Amerika. Romney jelas bertujuan menggunakan debat itu untuk menekankan pandangannya bahwa serangan Libya dan kekerasan anti-AS di Timur Tengah adalah tanda bahwa kebijakan luar negeri Obama luruh di depan mata.

Kebijakan luar negeri dipandang sebagai titik lemah Romney, yang seorang mantan pengusaha yang tampaknya lebih nyaman dalam menyelesaikan masalah ekonomi. Sementara, tur luar negeri terakhirnya sebelum pemilu justru mendatangkan banyak kritikan. Dalam beberapa kasus, debat menandai titik balik dalam pemilu pendahuluan Republikan. Usaha Gubernur Texas Rick Perry untuk meraih tiket partai ke pemilu berakhir setelah gagal mengingat satu dari tiga lembaga federal yang akan dia tutup, dalam momen terkenal “oops”-nya pada sebuah debat.

Sementara, Newt Gingrich memberikan tantangan serius terhadap Romney saat pemilu pendahuluan, karena penampilan debatnya yang kuat.Mantan ketua DPR itu memenangkan hati para pendukung Republikan setelah menyerang moderator Larry King dari CNN yang menanyakan kepadanya mengenai perselingkuhannya di masa lalu dalam sebuah debat di South Carolina. Gingrich memenangkan pemilu pendahuluan di negara bagian itu beberapa hari setelahnya.

Di sisi lain, Obama tampak lebih siap dalam memberikan argumentasi mengenai kebijakan luar negeri berkat posisinya sebagai presiden.Dia mendapatkan pujian atas misi yang menyebabkan tewasnya Osama bin Laden dan menarik pasukan dari Irak. Tapi,itu bukan berarti Obama tak punya masalah.

Jajak pendapat akhir yang dirilis Pew Research Center menunjukkan kebijakan luar negerinya tenggelam dan hanya memimpin 4 poin dari Romney setelah sebelumnya memimpin 15 poin bulan lalu. Dalam debat itu,misi Obama adalah mengingatkan rakyat atas kesuksesannya sebagai panglima tertinggi seperti mengakhiri perang Irak dan menyingkirkan Osama bin Laden, sementara meyakinkan bahwa rivalnya tak jauh berbeda dengan era George W Bush yang tidak punya pengalaman menyelesaikan masalah negara.

Menurut Direktur Saul Simon Public Policy Center di Southern Illinois University David Yepsen, Obama punya dua tujuan, yaitu menunjukkan bahwa dia tidak perlu meminta maaf atas caranya menangani kebijakan luar negeri dan mempertanyakan Romney yang tidak berpengalaman terhadap urusan luar negeri. Dengan Romney mendominasi debat pertama dan Obama unggul pada debat kedua, debat ketiga ini dipandang penting. ●alvin

Sumber:seputar-indonesia.com