Bagaimana Obama Kembali Menang Pemilu

by -1 views
Foto:(REUTERS/Kevin Lamarque )

Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi, Kamis 7 November 2012, namun puluhan ribu orang di Kota Chicago masih belum terlelap. Mereka bersorak-sorai menyambut Barack Obama, yang terpilih lagi sebagai presiden AS setelah dinyatakan menang pemilu atas Mitt Romney dalam hitung cepat sejumlah stasiun televisi terkemuka.

Dalam pidato kemenangan yang dinanti-nanti para pendukungnya, Obama menyatakan bahwa saat ini dia tidak hanya berbicara untuk para pendukung Partai Demokrat yang mencalonkannya, namun juga kepada seluruh rakyat AS, termasuk para pendukung Romney dari Partai Republik. Dia ingin semua rakyat Amerika kembali bersatu membawa bangsa bangkit dari krisis ekonomi dan masalah-masalah lain.

“Kita adalah suatu keluarga Amerika. Kita tumbuh dan jatuh bersama sebagai satu bangsa,” kata Obama dalam pidato kemenangannya, yang menggugah hati, seperti dikutip stasiun berita BBC. Sebelumnya, Romney secara pribadi sudah menelpon langsung kepada Obama sambil mengucapkan selamat atas kemenangannya di Pemilu 2012. Ini salah satu ciri khas demokrasi Amerika.

Di Kota Boston, di tengah suasana yang tidak seramai Chicago, Romney kepada para pendukungnya mengaku bahwa perjuangannya sudah usai. “Saya begitu berharap bisa memenuhi harapan kalian untuk memimpin negeri ini dalam arah yang lain. Namun bangsa memilih pemimpin yang lain sehingga saya bergabung bersama kalian untuk bersama-sama berdoa bagi beliau [Obama] dan bagi bangsa yang besar ini,” kata Romney.

Kemenangan Obama di Pemilu 2012 ini terbilang fenomenal. Dia bisa menjungkirbalikkan perkiraan banyak kalangan, baik dari media hingga diplomat Amerika sendiri, bahwa Pemilu kali ini berjalan sangat ketat. Scot Marciel, Duta Besar AS untuk Indonesia bahkan sempat mengira demikian di tengah proses penghitungan suara.

“Saya pikir hasilnya akan sangat ketat. Namun yang penting persaingan di Pemilu AS ini tetap berjalan secara demokratis,” kata Dubes Marciel saat memantau hasil Pemilu Presiden AS 2012 bersama dengan para diplomat Amerika dan sebagian masyarakat Indonesia di suatu hotel di Jakarta pada Rabu pagi WIB.

Dubes Marciel memang benar. Hingga Rabu pagi WIB, berdasarkan penghitungan langsung yang disiarkan stasiun berita CNN, Mitt Romney sementara ini unggul tipis atas Presiden Barack Obama, baik secara perolehan suara paling banyak (popular vote) maupun secara proporsional (electoral college). Jelang hari Pemilu pun sejumlah jajak pendapat  mengungkapkan bahwa Obama hanya unggul sangat tipis dari Romney, dengan hanya selisih satu persen.

Di AS, pemenang Pemilu bukan ditentukan dari jumlah suara populer terbanyak, namun melalui mekanisme penghitungan khusus yang disebut electoral college. Berdasarkan mekanisme itu, setiap negara bagian diberi sejumlah suara elektoral (electoral votes) dalam komposisi yang berbeda, sesuai dengan proporsi penduduk masing-masing.

Makin banyak warga yang punya hak pilih, makin besar pula porsi suara elektoral di suatu negara bagian. Pemenang ditentukan bila berhasil meraih sedikitnya 270 electoral votes. Menurut perhitungan sementara, Obama telah mengantongi 303 suara elektoral sedangkan Romney 206, lebih dari cukup untuk menyatakan diri sebagai pemenang.

Suara elektoral lebih banyak didapat di negara-negara bagian yang padat penduduk. Namun, kunci kemenangan Obama adalah saat dia berhasil menguasai wilayah-wilayah pemilik suara elektoral yang besar namun selama ini cenderung netral – seperti Ohio, Iowa, Michigan, dan lain-lain. Wilayah-wilayah ini memiliki banyak pemilih dari kalangan kelas menengah ke bawah dan para pekerja.

Kalangan media massa AS yakin bahwa salah satu kunci kemenangan Obama kali ini adalah dia berhasil memberdayakan pasukan relawan, seperti saat dia unggul pada Pemilu 2008. Terorganisir dengan baik, para relawan ini tak henti-henti bekerja bukan saja untuk mengumpulkan dukungan, namun mereka menjalankan tugas yang lebih strategis, yaitu mengajak warga AS untuk menggunakan hak pilih.

Mereka menggunakan berbagai cara. Mulai dari cara konvensional, seperti datang dari rumah ke rumah, bertelepon, hingga menggunakan jejaring media sosial, seperti Twitter dan Facebook. Bisa dibilang kubu Obama ini termasuk tim sukses pertama yang memanfaatkan jejaring media sosial di Internet pada masa kampanye Pemilu 2008. Ini mereka ulangi lagi di Pemilu 2012.

“Kami merasa percaya diri bakal mendapat banyak pemilih untuk menang. Ini tergantung seluruhnya pada sikap mereka, apakah akan menggunakan hak pilih,” kata Obama, seperti dikutip USA Today, saat mengunjungi suatu kantor tim kampanyenya.

Selamatkan Pekerja

Menjelang Hari Pemilu, Obama mendapat serangan kampanye bertubi-tubi dari Romney, apalagi sejak debat putaran pertama beberapa pekan lalu. Saat itu Romney unggul telak atas Obama saat habis-habisan mengritik dia atas ketidakmampuannya memulihkan ekonomi AS dari resesi. Isu ekonomi menjadi senjata andalan kubu Romney untuk menghantam Obama bertubi-tubi, baik selama tiga kali putaran debat, iklan-iklan kampanye, hingga acara tatap muka dengan para pendukungnya.

Stasiun berita BBC pun mencatat bahwa sejak zaman Presiden Franklin Delano Roosevelt lebih dari 70 tahun yang lalu, belum ada kandidat incumbent yang berhasil terpilih lagi saat perekonomian di negaranya tengah carut marut. Saat Obama, mencalonkan diri, tingkat pengangguran di AS masih tergolong tinggi, yaitu 7,9%.

Sejak era Roosevelt, tidak ada satupun calon incumbent berhasil terpilih kembali pada Pemilu berikut, seperti Gerald Ford, Jimmy Carter, maupun George H.W Bush. Namun Obama berhasil mendobrak “kutukan para incumbent” itu.

Hanya beberapa hitungan jam, Obama berhasil menjungkirbalikkan keadaan. Dia tidak perlu memenangkan dukungan di sebagian besar wilayah AS, namun cukup menguasai beberapa wilayah kunci. Inilah yang disebut sebagai sistem perhitungan proporsional khas AS.

Kendati ekonomi masih sulit, para pekerja di wilayah-wilayah pemilihan strategis masih menaruh kepercayaan kepada Obama untuk meneruskan kepemimpinannya selama empat tahun lagi. Mereka sadar bahwa krisis ekonomi yang harus diatasi Obama adalah warisan pemerintahan sebelumnya.

Menurut Philips Vermonte, pengamat dari Center for Strategic and International Studies di Jakarta, kemenangan Obama menandakan mayoritas rakyat di AS masih memberi kepercayaan lagi kepada Obama untuk membawa negeri mereka keluar dari krisis ekonomi.”Rakyat sudah melihat kinerja ekonomi di Amerika mulai membaik walau pengangguran masih tinggi.

“Di masa sulit ini, banyak warga yang masih membutuhkan bantuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Itulah yang diperjuangkan Obama,” kata Vermonte dalam acara “Nonton Bareng Hasil Pemilu AS” di suatu hotel di Jakarta, Rabu 7 November 2012.

Lagipula, dalam beberapa survei, ada beberapa faktor krusial yang mulai membaik. Kendati masih tinggi, dalam beberapa bulan terakhir tingkat pengangguran di AS sudah di bawah 8 persen. Begitu pula dengan tingkat kepercayaan konsumen mulai perlahan-lahan naik. Dua faktor itu menjadi penentu bagi bangkitnya ekonomi AS.

Kelas pekerja ini banyak berada di Ohio, salah satu negara bagian yang strategis diperebutkan dua kandidat. Tim sukses Obama, seperti dikutip USA Today, yakin bahwa bila Ohio bisa dikuasai – seperti pada Pemilu 2008 – maka menjadi kemenangan menentukan bagi calon incumbent itu.

Maka, bukan selama masa kampanye saja Obama mengambil hati para pemilih di Ohio. Jauh-jauh hari pemerintahan Obama sudah mengupayakan penyelamatan lapangan kerja di sana.

Itulah sebabnya, dengan dana pemerintah, Presiden Obama membantu dua perusahaan otomotif Amerika yang terancam krisis, seperti Chrysler dan General Motors, untuk tetap beroperasi di Ohio. Apalagi, satu dari delapan pekerjaan di Ohio sangat bergantung pada industri otomotif.

Satu faktor lain yang membuat masih banyak rakyat Amerika mempercayakan Obama sebagai pemimpin mereka adalah rasa empati dan tanggungjawabnya yang dia perlihatkan saat negerinya ditimpa bencana. Pekan lalu, Obama memilih membatalkan jadwal kampanye di beberapa wilayah saat pesisir timur AS dihantam Topan Sandy demi berkonsentrasi dalam tugasnya sebagai presiden untuk berkoordinasi dengan para pejabat terkait.

Padahal, saat itu, Obama dijadwalkan berkampanye di beberapa kota di wilayah strategis. Sebaliknya, di saat yang bersamaan, Romney meneruskan jadwal kampanye kendati format acaranya diubah menjadi lebih terkesan penggalangan bantuan untuk para korban Topan Sandy di Kota New York dan sekitarnya.

Pulangkan Tentara

Dalam kebijakan luar negeri pun, Obama lebih diterima rakyat AS, karena konsisten dengan janjinya saat berkampanye pada Pemilu 2008. Salah satunya adalah pemulangan para tentara Amerika dari Irak dan Afganistan.

“Di bawah Obama, strategi Amerika dalam perang melawan teror pun berubah. Tidak lagi membawa banyak tentara. Namun, cukup dengan operasi khusus dengan teknologi seperti pesawat nirawak,” kata Vermonte.

Ini terlihat dalam operasi militer AS memburu para teroris dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya adalah operasi pembunuhan gembong teroris al-Qaeda, Osama bin Laden di Pakistan pada Mei 2010. Cukup dengan operasi pasukan khusus dan intelijen dengan personel yang terbatas.

Ini sama sekali berbeda dengan kebijakan presiden sebelumnya, George W. Bush, yang mengerahkan bala tentara besar-besaran dalam perang melawan teroris dan rezim pendukungnya di Afganistan dan Irak, walau yang terakhir ini masih kontroversial. Dua kampanye militer ini tidak hanya menghabiskan triliunan dolar, namun juga merenggut banyak nyawa warga AS yang bertugas di sana.

“Membunuh Osama bin Laden dan menghidupkan kembali General Motors,” demikian pesan kampanye tim sukses Obama seperti dikutip USA Today. Dua faktor itu menjadi salah satu penentu kemenangannya di Pemilu 2012.

Dukungan Perempuan

Peran perempuan pun turut memberi dukungan signifikan bagi kemenangan Obama. Sejumlah hitung cepat menunjukkan bahwa mayoritas perempuan pemilih cenderung lebih suka kepada Obama ketimbang Romney.

Menurut pantauan BBC atas sejumlah hasil hitung cepat, Obama mendapat rentang dukungan 55% hingga 43% dari kaum perempuan. Ini juga tidak lepas dari pernyataan kontroversial sejumlah politisi dari Partai Republik yang mendukung Romney, yang membuat marah kaum perempuan soal isu-isu sensitif, seperti perkosaan dan aborsi. Untuk soal itu sikap Partai Demokrat dianggap lebih mendukung dan memperhatikan aspirasi kaum perempuan.

Sementara itu, Obama berjanji akan bekerjasama dengan para politisi Demokrat dan Republik di parlemen untuk mengatasi beberapa tugas besar yang harus segera dibereskan, yaitu memangkas defisit anggaran pemerintah, memperbaiki sistem perpajakan, mereformasi kebijakan imigrasi, dan mengurangi ketergantungan Amerika atas minyak produksi asing.

“Harapan dan mimpi bersama yang kita miliki tidak akan mengakhiri semua hambatan atau mengatasi semua masalah, maupun menggantikan beratnya tugas dalam membangun konsensus,” kata Obama seperti dikutip kantor berita Reuters.

Dia mengingatkan bahwa pemerintah dan parlemen (Kongres) kini punya waktu kurang dari dua bulan untuk mengatasi masalah berat yang melanda ekonomi AS, yaitu pemotongan anggaran dan kenaikan pajak besar-besaran, yang bakal mulai berlaku akhir 2012. Di Amerika, masalah itu disebut sebagai “jurang fiskal.”

Dengan mempertaruhkan pemulihan ekonomi AS yang masih terseok-seok, Obama dan pemerintahannya akan dipaksa untuk mengesampingkan perbedaan-perbedaan partisan dan harus bekerjasama dengan kubu Republik yang beroposisi untuk mencari cara untuk mengurangi beban penghematan bagi rakyat sekaligus menyelamatkan ekonomi nasional.

Kekuatan politik di parlemen pun masih belum solid. Ini mengingat, berdasarkan hasil Pemilu, lagi-lagi kubu Republik mendominasi DPR, sedangkan Demokrat masih menjadi mayoritas di Senat.

“Saya menanti untuk menghubungi dan bekerja dengan pimpinan kedua partai untuk memenuhi berbagai tantangan yang hanya kita selesaikan bersama,” kata Obama.

Dia pun juga akan menghubungi Romney dan berbicara bersama-sama. “Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk memajukan bangsa ini,” kata Obama.

Sumber:viva.co.id