Indra M Tohir : Transisi Maung Bandung

by -5 views
Foto : seputar-indonesia.com
Foto : seputar-indonesia.com

Penasihat Teknis Persib Bandung Indra Mochamad Thohir meyakini Maung Bandung sedang dalam masa transisi mengembalikan kebesaran mereka seperti di era 1980-an dan 1990-an. Pasang surut prestasi Persib hampir dua dekade terakhir, bagi Thohir,adalah sebuah proses yang biasa dialami sebuah tim sepak bola.Bagi dia, setiap tim pasti memiliki saat-saat berada di puncak dan masa-masa sulit.

Jika dianalogikan, Maung Bandung saat ini dalam proses melepaskan diri dari masa sulit. Sepak bola memang permainan sederhana. Tapi,untuk memainkannya tidak sesederhana yang dipikirkan banyak pihak. Butuh banyak hal bagi sebuah tim dalam mencapai kemapanan.“Sepak bola itu bicara proses,”ucap Thohir. Pemahaman sepak bola yang luas memang diperlukan semua pihak, termasuk suporter.

Hal itu diperlukan untuk menumbuhkan sikap saling pengertian jika membentuk sebuah tim tidak cukup dilakukan dalam satu hari. Butuh waktu bahkan mungkin tidak cukup satu atau dua tahun. Fakta itu juga yang mendukung Persib bisa menjadi klub yang disegani di era 1980-an dan 1990-an.Karena memiliki keleluasaan waktu dalam proses pembentukan tim,Maung Bandung menjadi klub di Kompetisi Perserikatan yang rutin bolak-balik ke Senayan atau SUGBK untuk menjalani fase 12 besar,8 besar,ataupun 6 besar.

Di era Perserikatan, SUGBK bukan sekadar jadi arena pertandingan, tapi juga simbol adu gengsi klub-klub semiprofesional.Mereka yang lolos ke Senayan untuk menjalani putaran final yang kadang dikemas dengan aturan 6 besar,12 besar,ataupun 8 besar masuk dalam kategori elite. “Tidak ada tim yang sangat lengkap (sempurna). Prinsip sepak bola itu,di mana pun adalah mengatasi kelemahan sendiri.

Tapi,sulit menemukan tim yang tidak memiliki kelemahan. Jadi,untuk bisa meminimalisasi semua kelemahan tersebut memang butuh waktu,”kata Thohir. Karena itu, secara tidak langsung Thohir menilai lebih baik membiarkan Persib berkembang secara alamiah tanpa banyak melakukan perubahan. Melengkapi kekurangan dengan mendatangkan pemain bintang bukan jaminan untuk mengatasi kelemahan tim.

Hal itu ditunjukkan Maung Bandung dalam kasus kegagalan mengontrak striker asal Brasil Alberto Goncalves yang memilih berkarier di Arema Cronus. Karena gagal mendapatkan Beto, Persib kemudian mengalihkan perhatian untuk menggaet Herman Dzumafo Epandi. Meski sempat diragukan karena kualitasnya di atas kertas dianggap kalah dibandingkan Beto,selama persiapan pramusim, striker asal Kamerun itu mampu membuktikan diri bisa menjadi salah satu pemain penting bukan karena ketajamannya dalam membobol gawang lawan, melainkan karena sikapnya yang jauh dari kesan egois.

Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman pun memuji kinerja Dzumafo. Menurut dia,Dzumafo mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai striker yang bisa membuka ruang buat pemain lain. “Tipikal dan karakter bermainnya dibutuhkan untuk kolektivitas tim.Sebab, Dzumafo adalah seorang striker pekerja yang mau bekerja buat tim,”tandas Djadjang. ● mohamad taufik

Sumber:seputar-indonesia.com