Laut Pasifik Kini Disebut Samudera Sampah

by -8 views

pacific-gyre-underwater-plastic-garPlastik merupakan limbah yang sangat berbahaya. Apalagi bila sampah plastik dibuang ke lautan. Hal itu akan berpotensi membahayakan ikan dan satwa lainnya, serta menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sekitar 10-20 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahunnya. Berdasarkan perhitungan, sekitar 80 persen sampah itu berasal dari laut dan pantai.

“Plastik yang berada di lautan terbuka berasal dari tempat pembuangan sampah yang dikelola dengan buruk. Bisa menghalangi aktivitas pariwisata dan perikanan,” ungkap pihak United Nation Environmental Program (UNEP), dilansir dari laman Take Part, Senin, 1 Juli 2014.

Menurut UNEP, sampah yang menumpuk di lautan terbuka itu sudah seperti ‘Great Pacific Garbage Patch’ atau Samudera Sampah.

Sampah-sampah yang mengambang di laut tentu akan memiliki dampak lain selain pencemaran lingkungan. Hal itu berpotensi membahayakan ekosistem di laut.

“Plastik dapat menyebabkan kematian atau sakit ketika ditelan oleh makhluk laut seperti penyu, lumba-lumba, ikan paus, dan terumbu karang,” ucap UNEP.

Tak hanya itu, masalah ini juga akan merembet pada polusi kimia dan kerusakan ekonomi karena ikan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi manusia, dan mengganggu industri pariwisata.

Pendiri Aliansi Pemulihan Samudera, Doug Woodring mengatakan untuk memulihkan seperti semula dibutuhkan dana sekitar US$13 triliun.

“Itu tergantung seberapa luas daerah luar yang terkena dampak akibat sampah. Sampah-sampah itu mempengaruhi kesehatan manusia, pariwisata, gas rumah kaca, dan satwa liar,” ungkap Woodring.

Biaya pembersihan ini tidak mengejutkan, ucap Woodring, karena California, Oregon, dan Washington saja sudah menghabiskan US$500 juta setahun untuk memindahkan sampah dari pantai Pasifik.

Untuk mengakali dana yang melambung tinggi tersebut, Woodring menyarankan agar banyak pihak seperti toko mencanangkan program daur ulang bahan plastik kepada konsumennya. Selain itu juga, masih kata Woodring, industri bisa beralih ke plastik nabati.

Polusi plastik yang dianggap berbahaya adalah berasal dari polimer kecil microbeads dalam pasta gigi, gel, serta pembersih wajah dan tubuh.

Woodring mengungkapkan perubahan iklim tak selalu soal karbondioksida, melainkan dari plastik yang kita gunakan sehari-hari.

“Semua orang bersalah tapi kita bisa membuka bab baru untuk bisa berpikir tentang bagaimana mengelola sampah, khususnya sampah plastik,” ujarnya. (viva.co.id)