Legenda Gunung Pawitra dari Naskah Tantu Panggelaran

by -12 views

gunungKabut putih silih berganti menyelimuti puncak Gunung Penanggungan. Meski sinar mentari sudah terasa di kulit, namun kabut seakan tak pernah berhenti menyelimuti puncak gunung setinggi 1.653 mdpl ini. Tak heran jika dulu gunung ini disebut Gunung Pawitra yang juga berarti kabut.

Legenda gunung ini berasal dari salinan naskah {Tantu Panggelaran} bertarikh Saka 1557, atau 1635 M. Diceritakan dalam salinan naskah itu, kata Kusworo, anggota tim Ekspedisi Penanggungan Ubaya, Pulau Jawa pada jaman dahulu tanahnya senantiasa bergetar. Tidak ada bukit maupun manusia. Karenanya, Bhatara Guru mengumpulkan semua dewa dan makhluk Kahyangan dan menugaskan mereka ke pegunungan Himalaya di Jambudwipa (India).

Para dewa-dewa ini mendapat tugas memindahkan gunung suci Mahameru ke Jawa agar tanahnya menjadi stabil dan berhenti bergoyang-goyang. Setelah pamit, para dewa pergi ke Himalaya dan melihat Sang Hyang Mahameru yang tingginya sampai menyentuh langit. Puncaknya lalu dipotong dan diusung beramai-ramai ke Jawa.

Sesampai di Jawa, potongan puncak Mahameru itu mulai runtuh dan beberapa bagiannya jatuh dalam perjalanan ke timur. Reruntuhan ini kemudian menjadi gunung Wilis, diikuti gunung Kelud, Kawi, Arjuna dan Welirang. Sisanya lalu diletakkan di daerah Lumajang dan dikenal sebagai Gunung Semeru hingga sekarang. Adapun puncak tertinggi melepas dan berdiri sendiri yang disebut Pawitra (kini Penanggungan), yang berarti bersih, murni, keramat atau suci, bebas dari bahaya.

Selain naskah kuno itu, nama Pawitra juga disebutkan dalam beberapa sumber sejarah seperti prasasti batu dari Dusun Sukci, di kaki timur Gunung Penanggungan. Prasasti itu, seperti yang disebutkan dalam buku tim Ekspedisi Penanggungan Ubaya, dikeluarkan atas nama Raja Mpu Sindok pada tahun Saka 851 (929 M), dan menunjuk kepada sebuah pertapaan (dharmasrama) serta sumber air (pancuran) di Pawitra.

Menurut buku ini, rupanya pertapaan di Pawitra yang disebutkan dalam Prasasti Sukci dikenal juga pada masa Majapahit, bahkan penduduknya pernah menerima kunjungan dari Raja Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk). Peristiwa tersebut diabadikan dalam kakawin Desawarnana, Karya Mpu Prapanca yang selesai ditulis pada tahun 1365 M.

Gunung Pawitra juga digambarkan alam sebuah karya tulis dari Tanah Sunda yang dikarang sekira tahun 1500 M. Ceritanya mengenai seorang pangeran dari Pakuan bernama Bujangga Manik, yang meninggalkan keluarganya untuk mencari ilmu di Jawa. Dalam perjalanannya ke arah timur disebutkan bahwa ia melewati Kota Majapahit dan mendaki Gunung Pawitra, sekaligus berkunjung ke ‘Gunung Gajahmungkur yang suci’. Gunung Gajah Mungkur ini juga dikenal sebagai salah satu dari empat bukit yang mengelilingi Puncak Penanggungan.

Di masa kerajaan Mataram Islam, juga ada naskah berjudul Babad Sangkala, atau ‘daftar tahun peristiwa Jawa’, yang mencatat 1543 M sebagai tahun jatuhnya gunung keramat Penanggungan di bawah kekuasaan Kesultanan Demak. Sehingga Gunung Penanggungan ini menjadi saksi bisu kerajaan-kerajaan di masa lalu mulai Mataram kuno hingga Majapahit akhir. “Ada tujuh abad peradaban masa lalu yang peninggalannya di Gunung Penanggungan,” ucap Kusworo.

(Okezone)