Protes Washington, China Latihan Perang di Selat Taiwan

oleh

Presiden China Xi Jinping memerintahkan militer untuk menggelar latihan perang atau live-fire exercise di Selat Taiwan. Latihan yang rencananya berlangsung pada Rabu (18/4) dilakukan sebagai pesan tegas Beijing atas relasi Amerika Serikat dan Taiwan yang kian erat.

Simulasi perang yang melibatkan latihan tembak-menembak dengan amunisi tajam ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan Angkatan Laut China di perairan itu sejak 2015 lalu.

“China ingin mempertegas bahwa militer kami selalu siap. Kedua, latihan ini memberi sinyal kepada pemerintahan di Taipei untuk tidak melakukan hal yang tidak semestinya lebih jauh lagi,” kata seorang peneliti dari program studi keamanan maritim S. Rajaratnam School of International Studies, Collin Koh, Senin (16/4).

Hubungan China dan Taiwan terus merenggang terutama setelah Presiden Tsai-ing Wen menjabat pada 2015 lalu. Di tangan Tsai, Taiwan terus berupaya memerdekakan diri dari China dengan mencoba mendapat pengakuan dari negara lain termasuk AS.

Sejak Trump duduk di Gedung Putih pada Januari 2017 lalu, AS juga terus memperkuat hubungannya dengan Taiwan. Washington dan Taipei bahkan menandatangani perjanjian yang memperbesar peluang bagi pejabat publik keduanya untuk saling berkunjung.

Awal April pemerintahan AS juga sepakat menjual teknologi kapal selamnya kepada Taiwan. Menteri luar negeri AS yang baru, Mike Pompeo, bahkan menekankan pentingnya mempertahankan kebijakan penjualan senjata ke Taiwan saat berbicara kepada Kongres pada Kamis (12/4).

Hal itu membuat geram China yang selama ini menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang. China juga kerap memprotes negara-negara yang memiliki hubungan dengan Beijing tapi juga berupaya menjalin kedekatan dengan Taiwan.

Presiden Xi bahkan tak segan merespons setiap upaya separatis dengan agresi militer.

“Latihan ini merupakan peringatan yang sangat berguna terhadap Taiwan dan AS untuk tidak menantang kepentingan China terkait kedaulatannya. Simulasi perang ini juga memperingatkan agar semua pihak tidak melewati batas ketika berhubungan dengan Taiwan,” ucap Direktur China Power Project CSIS, Bonnie Glaser kepada CNN.

Tentara Taiwan dalam sebuah latihan perang.Foto: Reuters/Tyrone Siu
Tentara Taiwan dalam sebuah latihan perang.

Simulasi perang pekan ini juga dilakukan setelah China menggelar latihan militer terbesar di Laut China Selatan pada 10 dan 11 April lalu. Presiden Xi bahkan turun langsung meninjau latihan tersebut dari dek kapal penghancur Changsha.

Sehari setelahnya, Presiden Tsai dikabarkan langsung meninjau latihan angkatan lautnya. Menurut media pemerintah Taiwan, CNA, itu merupakan pertama kalinya Tsai menaiki kapal perang dan ikut serta dalam latihan militer sejak menjabat sebagai presiden.

Menanggapi latihan militer China pekan ini, Kementerian Pertahanan Taiwan meyakinkan warganya untuk tidak panik karena simulasi perang itu berlangsung di zona militer rutin.

Taipei juga meyakinkan bahwa pasukan militer nasionalnya mampu melindungi warga dari segala ancaman apapun, termasuk China.”Kepada warga kami, mohon untuk tetap tenang,” bunyi pernyataan kementerian pertahanan Taiwan.

(CNN Indonesia)