JABARMEDIA.COM – Konsumen listrik di Leuwiliang menjerit. Bukan karena tagihan yang membengkak, melainkan terjadi penurunan daya listrik yang sangat ekstrem. Akibatnya, alat-alat elektronik seperti AC, kulkas tidak berfungsi dengan baik dan normal.
“Kami sangat kecewa dengan PLN. Keluhan kami ini sudah setahun lalu disampaikan. Kami datang ke PLN Unit Leuwiliang di Cibungbulang, tapi sampai saat ini, tidak ada reaksi apapun dari PLN, ” Ujar Mas’ud, warga Kampung Tegal RW 11, Desa Leuwiliang kepada wartawan.
Mas’ud mengungkapkan penurunan daya listrik di wilayahnya dan di rumahnya hanya menyisakan 150 Kwh. Akibatnya lampu-lampu penerangan dan alat elektronik tidak bekerja dengan maksimal.
Mengetahui kondisi tersebut, masyarakat sepakat membuat surat permohonan pembuatan dapur listrik di sekitar lokasi ke PLN. ”Kami datang ke PLN di Cibungbulang. Alhamdulillah, belum ada respon dari mereka, ” cetus Mas’ud.
Mas’ud menambahkan, listrik di wilayahnya sudah ada sejak 1979-1980. Saat itu di wilayahnya belum banyak rumah dan bangunan lain yang berdiri. Seiring pertumbuhan ekonomi di Leuwiliang dan jumlah penduduk makin banyak, konsumen PLN pun semakin banyak.
”Harusnya PLN melakukan riset ke semua titik jangkauan listrik. Mereka mengevaluasi dan membuat rencana kerja untuk wilayah yang sudah padat konsumen listriknya. Jangan hanya mengejar target pembayaran listrik bulanan dari masyarakat saja. Kami telat saja PLN denda. Nah.. Ini kami dirugikan spaning, PLN nya diam saja, ‘ pungkasnya.
Di lain pihak, Humas PLN APJ Bogor, Susan Khaerany mengaku belum mengetahui perihal keluhan warga Leuwiliang tersebut. ”Nanti saya cek ke bagian teknis ya, karena itu bukan bidang saya, ” ujar Susan yang belum lama ini menjadi Humas itu. (aan)
(Radarbogor/idram)








