Cinta yang Berkembang dari Kebiasaan dan Ketulusan

by -115 views
by
Cinta yang Berkembang dari Kebiasaan dan Ketulusan

Terdapat satu lagu dengan lirik sekitar begini: Saya tidak terbiasa ketika kamu tidak berada di samping saya. Saya juga merasa aneh jika tak lagi mendengar suara Anda. Itulah kebenaran sesungguhnya, dan pengalaman itu telah saya rasakan secara langsung.

Sulit, mudah, berselisih, kemudian membaik kembali. Jika jauh maka dituju, jika dekat terkadang diremehkan. Hahaha… Apakah itu cinta? Mari kita uraikan sedikit demi sedikit menurut pandangan saya yang bukan pakarnya.

Dalam pernikahan lalu membentuk suatu keluarga, diperlukan komitmen yang kuat. Jika diharapkan untuk bersungguh-sungguh, maka sungguh-sungguhlah. Namun ketika melakoninya, tidak harus selalu dalam keadaan sangat kaku atau tegas. Coba belajar sambil melakukan, ikuti arusnya dengan santai.

Terkadang arusnya melalui celah yang dipenuhi duri-duri, namun terkadang pula mengalir lewat jalanan yang tenang, menyenangkan, teratur, dan memesona. Perubahan dalam aliran ini tidak dapat diprediksi. Mirip dengan perasaan kita ketika memulai hal-hal baru dalam hidup; rasa cemas bisa datar atau naik turun. Terkadang bersemangat seperti rock, funky layaknya jazz, bergaya sebagaimana dangdut, hingga romantis bak keroncong. Berbagai variasi membuatnya menarik. Ini adalah hal biasa lho sahabat-sahabat sekalian!

Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai jalan yang sungguh tenang, nyaman, tertib, dan cantik tanpa ada konflik atau persetujuan bersama. Dia berkata, “Sayangku, aku ingin hal semacam itu. Oke, bukan?” Ia menjawab, “Tidak apa-apa Sayang. Namun kita harus menunggu sampai memiliki cukup uang, oke? Mari berdo’a agar segera terealisasi.” Kemudian, doanya ‘amin’ ikut keluar dari mulut pasangannya. Ya, memang begitu adanya; mereka sama-sama setuju dengan doa tersebut.

Baca Juga:  Mendagri Hentikan e-KTP karena Server Chip Ada di Negara Lain

“Orang-orang memandang kita sebagai sepasang kekasih romantis, tetapi, hahaha…” Gelakkannya terdengar jelas dari kedua bibir kami. Bagaimanakah bisa dikatakan romantis kalau sering kali berselisih pandangan dan bermuka masam satu sama lain? Namun perbedaan pendapat itu tidak berlangsung lama, sebab keduanya sadar akan kekurangan masing-masing yang pada akhirnya dapat melelehkan hati. Sebagai contoh, ajakan nakal untuk menikmati hidangan bakso bersama-sama. Dari wajah-wajah galak tadi, berganti menjadi sederet senyuman bahagia hanya karena secawan kuah hangat tersebut.

Biasanya bertemu setiap harinya, senantiasa bersama-sama, memandangi pasangan tanpa henti, ia tetap, ia terus. Bila tidak ada rasa cinta, bisa jadi segalanya menjadi lain. Mungkin akan merasakan kebosanan, apabila bukan pada orang yang tepat. Dia pun menanyakannya, “Apakah kau sudah merasa bosan?” Namun balasan dari diri itu adalah, “Tidak sama sekali, malahan semakin sayang,” Kemudian dilanjutkan dengan kata-kata lainnya.

Hai, bisa tolongambilkan ini untukku?

“Baik, Darling,”

Membuat permohonan bantuan pada pasangan adalah hal biasa—sekali atau dua kali tidak masalah. Tapi bagaimana kalau ribuan kali? Apakah dia seperti seorang pembantu? Namun ketika menghadapi orang yang kita kasihi sebagai pasangan, justru menjadi mudah dan tulus untuk membantu mereka. Itu baik-baik saja asalkan kita dapat melakukannya dengan kemampuan kita sendiri. Selama masih ada waktu serta kesempatan bersamanya, kenapa tidak? Benarkah begitu? Karena ini tentang perasaan cinta antara kita berdua.

Baca Juga:  UCL : Atletico Madrid 0-0 Chelsea

Cinta merupakan karunia dari Sang Pemilik Kasih Sayang. Kebiasaan berbagi kasih sayang antara pasangan menjadi kunci utama untuk menjadikan hubungan pernikahan bertahan lama. Cinta harus terus dirawat dan dilestarikan supaya selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Sering kali menginginkannya disisiku, terutama ketika membutuhkan dukungan, terlebih saat suasana hati sedang kurang baik. Biasanya pada akhirnya ia ingin bersandar di bahu pasangannya.

Aku butuh kamu, sayang. Entah kenapa rasanya ingin diajak teman terus.

Apa yang terjadi denganmu? Apakah kamu sedang tidak sehat, Darling?

Tidak, aku cuma ingin digendong,

“Oh, kirain.”

Seperti itulah kira-kira. Ketika merasakan kesedihan akibat sebuah permasalahan, orang cenderung ingin berbagi dengan pasangannya. Membutuhkan seorang sahabat yang dapat memberikan saran tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Sebaliknya dari rasa kagum, yang seharusnya membuat pasangan menjadikanmu seperti pahlawan karena kesanggupan dan keberhasilan dalam mendukung mereka. Malahan, hal itu malah menambah perasaanku padamu.

Selama masa perkawinan dengan pasanganku, kami telah melalui berbagai pelajaran kehidupan. Kami belajar untuk sama-sama menghormati satu sama lain, mencintai serta memahami. Memang dalam teorinya sangat sederhana jika kita menyebutnya demikian. Namun ketika menerapkannya di kehidupan sehari-hari, diperlukan usaha yang tak kenal lelah layaknya aliran sungai yang terus mengalir. Bukan sesuatu yang instan atau mudah dilakukan.

Menggabungkan dua jiwa dalam perkawinan tidak secepat menyusun kisah khayalan. Dibutuhkannya kesetaraan, tindakan yang memuliakan satu sama lain serta adanya kasih sayang.

Cinta dapat senantiasa hadir lantaran kebiasaan serta tetap eksis dalam genggaman kita. Ini bukan bermakna perlu jumpa setiap saat sepanjang waktu, loh. Adanya komunikasi menjadi penghubung dan pastikan tidak lepas begitu saja. Berbalas hormat satu sama lain juga merayakan kedua belah pihak. Meski tak semudah membalik telapak tangan, namun hal tersebut masih mungkin dicapai.

Baca Juga:  Puncak Kemacetan di Nagreg Diprediksi Jumat

Jika pernikahan saya bersama pasangan telah berjalan selama 27 tahun dengan naik turunnya tantangan yang tak mudah dan penuh warna, bayangkan kehebatan orangtua saya, Pak Tjitpa dan Bu Rosie, yang sudah mencapai 60 tahun dalam rumah tangga mereka. Tentu saja itu luar biasa dan sangat mengagumkan. Sungguh sulit dibayangkan. Wah, sungguh menakjubkan.

Bapak Tjipta dan Ibu Rose dapat dijadikan teladan luar biasa untuk pasangan muda dalam menghadapi perkawinan. Terdapat sebuah kesalingmelengkapan yang tercipta antara mereka berdua. Pengalaman hidup kedua orang tersebut sangat bermanfaat sebagai pelajaran serta model ideal yang bisa kita ikuti saat membangun rumah tangga, baik itu diri Anda maupun teman-teman lainnya.

Salam hangat dari saya: “Selamat Ulang Tahun Berlian ke-40 buat Ayah Tjipta dan Bunda Rose. Semoga berjalan dengan lancar selalu. Teruslah bergairah dalam menghadapi hidup ini. Selalu jaga kesehatan serta tetap bersukacita. Lanjutkan menjadi panutan dan sumber motivasi bagi para pasangan muda di dunia.”

Salam penuh kasih sayang serta doa tulus buat Ayah Tjipta dan Bunda Rose dari keluarga besar kami di Semarang. Kami sangat mencintai kalian berdua.

Wahyu Sapta.

Semarang, 28 Oktober 2024.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.