Pagih Sore di Simpang Raya: Hindari Kesalahan dalam Memilih

by -121 views
by
Pagih Sore di Simpang Raya: Hindari Kesalahan dalam Memilih

Restoran Padang, yaitu tempat makan yang menawarkan hidangan khas Padang, tersebar di seluruh wilayah negara ini dan sangatlah banyak hingga sulit untuk menghitung pastinya.

Namun, kelas premium yang bertujuan untuk menjangkau konsumen dari kalangan menengah hingga atas pastinya memiliki batasan jumlahnya, dan hal ini hanya tersedia di kota-kota besar saja.

Saat ini, setidaknya terdapat 3 Restoran Minang yang memenuhi standar kelas premium. Semuanya sudah berjalan cukup lama dengan sistem waralaba, menjadikan jumlah cabang mereka cukup banyak.

Tiga restoran tersebut adalah Sederhana, Simpang Raya, dan Pagi Sore. Oleh karena itu, agar terlihat serasi, judul artikel ini diberikan sebagai berikut: “Pagi Sore di Simpang Raya yang Sederhana, Jangan Sampai Keliru Memilih”.

Oke, mari kita bahas dulu tentang Rumah Makan Sederhana, yang awal mula berdirinya berasal dari Pasar Benhil Jakarta Pusat dan dibangun oleh seseorang perantauan dari Minangkabau, tepatnya orang Lintau yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Pada tahun 1972, seorang perantau bernama Bustaman memperkenalkan sentuhan spesial dari masakan Padang di pusat kota. Namun, hidangan tersebut dimodifikasi untuk menyesuaikan selera penduduk Jakarta, dengan pengurangan tingkat kepedasan.

Di tahun 1997, Bustaman meng/Register merk “Sederhana” dan kemudian memulai proses waralaba-nya. Sehingga, gerai Sederhana terbentuk di berbagai tempat di Jakarta serta kota-kota penting yang lain.

Setelah itu, Bustaman terlibat dalam perselisihan hak cipta dengan teman dekatnya, Djamilus Djamil, yang juga mengadopsi nama “Sederhana” untuk usahanya di bidang kuliner.

Akhirnya Bustaman meraih kemenangan dalam perselisihan tersebut, dan Djamil menamakan kembali rumah makan miliknya sebagai “Sederhana Bintaro”. Tambahan pula, jika pelanggan Sederhana cukup peka untuk melihat, terdapat tiga jenis atau kategori di tempat ini.

Baca Juga:  Gempa di Tasikmalaya Terasa Sampai Ciamis, Banjar dan Garut

Pertama, ada Rumah Makan Padang Sederhana berlogo SA, yang menandakan bahwa tempat makan ini mengaplikasikan racikan khusus dari keluarga pendirinya sendiri, serta pengelolaan resto diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluaga pembuatnya.

Kedua, ada Rumah Makan Padang Sederhana yang memiliki logo SB. Ini menunjukkan bahwa restoran ini mengikuti resep resmi dari tempat makan bergambar SA. Namun, operasionalnya dikelola oleh pihak lain melalui skema franchise atau waralaba.

Ketiga, terdapat logo SC di Rumah Makan Padang Sederhana. Bedanya dengan logo SA dan SB, logo SC menandai bahwa rumah makan tersebut tidak melibatkan keluarga dalam pengelolaannya dan mengaplikasikan resep yang bukan berasal dari warisan keluarga.

Maka, jika ada pembeli yang mengeluh bahwa rasanya beda antara Sederhana satu dan yang lainnya, sudah paham kan jawapannya?

Masyarakat Sumatera Barat baru-baru ini dapat merasakan kehadiran Rumah Makan Sederhana setelah cabang-cabangnya dibuka di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

Selanjutnya, mari kita bahas tentang Rumah Makan Pagi Sore yang dibuka untuk pertama kalinya di Kota Palembanng, Sumatera Selatan. Di balik pendiriannya terdapat dua orang teman dari Bukittinggi, Sumatera Barat, yaitu H. Lismar dan H. Sabirin.

Kedua orang tersebut pindah ke Palembang dengan mengandalkan keterampilan mereka dalam dunia masak-memasak. Restoran pertama mereka dibuka pada tahun 1973 dan diberi nama Rumah Makan Pagi Sore di jalur Jenderal Sudirman, Palembang.

Dimulai dari lokasi sederhana, lalu tumbuh dengan mendirikan cabang di berbagai titik di Palembang sampai akhirnya merambah ke beberapa daerah di Sumatera Selatan.

Baca Juga:  Mobil 'Ferrari' Dahlan Iskan Akan Diproduksi Dalam Negeri

Di tahun 2003, kepemilikan Pagi Sore dibelah menjadi dua bagian antara keluarga H. Lismar dan H. Sabirin. Walau begitu, mereka masih mempertahankan nama Pagi Sore.

Kedua pengelolaan itu pun tak menjadikan warung ini ludes popularitasnya. Malahan kian maju dengan mengembangkan pasarnya ke Jakarta, Bangka Belitung, serta Bandung.

Cabang di Jakarta dimulai pada tahun 2006 yang terletak di Rawamangun, Jakarta Timur, dan saat ini jumlahnya telah melebihi 10 cabang hanya di Jakarta.

Restoran Pagi Sore yang dimiliki oleh H. Sabirin terkenal dengan slogan “Penguasa Rendang” serta menggunakan logo dalam warna merah, kuning, dan hijau. Bisnis restorannya selanjutnya dijalankan oleh putranya, H. Armaidy.

Pada saat yang sama, H. Lismar mengawali perluasannya ke Lubuk Linggau dan Bangka Belitung sebelum pada akhirnya merambah pula ke Jakarta dengan mendirikan sebuah cabang baru.

Restoran Pagi Sore yang dimiliki oleh H. Lismar terkenal karena logonya berwarna putih, hijau, dan kuning, serta bertuliskan “Rumah Makan Padang Pagi Sore Khas Minang.”

Perbedaan antara kedua logo tersebut sangat jelas bagi para pembeli, sehingga kemungkinan tersesat atau memilih yang salah hampir mustahil. Sebaliknya, kode SA dan SB di Sederhana bisa saja terlewatkan oleh konsumen karena kurang mencolok saat diperhatikan singkat.

Ironisnya, warga yang bertempat di kota Padang belum dapat merasakan nikmatnya Pagi Sore, sebab belum tersedianya gerainya disana. Sedangkan, di provinsi bersebelahan yakni di Kota Pekanbaru, Riau, telah terdapat cabang dari usaha tersebut.

Yang terakhir, kita sampaikan tentang Rumah Makan Simpang Raya yang awalnya dibuka pada tahun 1969 di Bukittinggi, Sumatera Barat, oleh tiga orang yaitu Muhammad Noor Datuk Maharajo, H. Safar St. Mangkuto, dan H. Usman St. Bangso.

Baca Juga:  Menikmati Keindahan Purwakarta dari Gunung Bongkok

Setelah mendapatkan popularitas di Bukittinggi dan Padang, khususnya berkat hidangan ayam pop-nya, Rumah Makan Simpang Raya kemudian memperluas jangkauannya ke Pulau Jawa.

Ekspansi itu dimulai pada tahun 1976 saat adik dari Muhammad Noor, yakni Noersal Z. Bagindo, merintis cabang pertama mereka di Cipanas, Puncak, Jawa Barat.

Di awal tahun 1980-an, Rumah Makan Simpang Raya memulai ekspansi dengan pembukaan cabang pertama di Jakarta serta daerah sekitarnya seperti yang ada di Jalan Kramat Raya dan Ancol, Jakarta Utara, sebelum kemudian berkembang merata ke seluruh wilayah Jabodetabek.

Taglinenya adalah “Istana Ayam Pop”. Menurut kabar beredar, Simpang Raya lah pencipta racikan ayam pop yang kini dapat ditemukan di berbagai restoran Padang lainnya.

Di daftar hidangan Padang klasik (yang berasal dari sebelum tahun 1970-an), masih tidak terdapat ayam pop; oleh karena itu, sajian ini merupakan hasil kreativitas modern dan unik dibandingkan dengan rendang ataupun pilihan masakan tradisional Minang lainnya.

Demikianlah cerita tentang ketiganya yang merupakan restoran ternama dan berkelas premium. Dikenali sebagai kelas premium dikarenakan harga di sana cukup tinggi. Jika ada konsumen yang memesan nasi lengkap dengan dua pilihan lauk serta tambahan minuman seperti jus, mereka harus merogoh kocek sebesar kurang lebih seratus ribu rupiah.

Beberapa rumah makan Minang berkelas premium yang ada di Jakarta antara lain Rumah Makan Merdeka, Rumah Makan Payakumbuah, dan seterusnya; namun, masih sulit dikatakan sebagai ikon karena umur mereka yang terbilang baru.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.