10 Ciri Orang dengan Sifat Perfeksionisme Ekstrim di Indonesia

by -117 views
by
10 Ciri Orang dengan Sifat Perfeksionisme Ekstrim di Indonesia





,


Jakarta




Perfeksionis

Yaitu mentalitas yang mengharuskan semua tugas diselesaikan secara utuh dan teliti, biasanya dianggap sebagai motivator untuk mendapatkan output terunggul. Akan tetapi, apabila ciri tersebut menjalar hingga ke titik ekstrem, akibatnya dapat membawa kerugian.

Oleh karena itu, apakah Anda tahu gejala-gejala yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki ciri-ciri perfeksionisme yang sangat berlebihan atau ekstrim?

Perfeksionisme bisa berdampak ganda; di satu pihak, ia memacu seseorang mencapai keberhasilan luar biasa, namun di sisi lain, juga bisa menjelma sebagai bebannya sendiri. Hal itu semua bergantung pada seberapa baik kita mengontrol sifat tersebut.

Banyak orang mungkin sudah menyadari atau pernah mengamati tentang hal ini, yaitu adanya seseorang
perfeksionis
Akan mempunyai standar personal yang amat tinggi sampai-sampai tak masuk akal dan cenderung bersikap kritis pada dirinya dengan berlebihan. Mereka mendambakan ketepatan total dalam semua aspek dan sulit sekali merelakan apabila hasilnya belum mencapai kesempurnaan tersebut. Ini biasanya nampak melalui sikap mereka menuju penilaian atas diri sendiri ataupun orang lain, juga dorongan kuat untuk menjaga kendali atas kondisi dan individu di lingkaran sosialnya.

Merujuk pada laman


Very Well Mind


Berikut ini adalah 10 ciri-ciri orang dengan sifat perfeksionisme ekstrim:


1. Pola Pikir Hitam-Putih

Sama seperti orang dengan prestasi luar biasa, para perfeksionis pun menentukan standar tinggi dan menghabiskan banyak usaha untuk mewujudkannya. Tetapi bedanya ialah bahwa individu yang sangat berhasil bisa senang ketika mereka telah memberikan segalanya dan mencapai target mereka. Di sisi lain, pada seorang perfeksionis, hanya hasil akhir yang tanpa cela saja yang akan disyukuri; jika tidak demikian, itu diartikan sebagai sebuah kekalahan.


2. Terlalu Sombong dengan Dirinya Sendiri dan Orang Lain

Perfeksionis biasanya lebih ketat saat mengkritik baik dirinya sendiri ataupun orang lain daripada mereka yang memiliki prestasi luar biasa. Orang dengan capaian gemilang bisa saja bersyukur atas hasilnya dan mendorong sesama manusia, namun perfeksionis malah cenderung terus-menerus memusatkan perhatian pada kelalaian serta keterbatasan.

Baca Juga:  10 Tip Hindari Kecamatan Anak, Pas Untuk Ortus yang Sering Meledak

Mereka kesulitan untuk mencermati aspek positif dalam situasi apapun dan jauh lebih mudah menyingkap kekurangan. Ketika segala sesuatunya tak berlangsung sebagaimana yang diharapkan, mereka cenderung bertindak semakin tegas serta memvonis baik diri sendiri ataupun pihak lainnya.


3. Dipacu Oleh Ketakutan

Seseorang dengan pencapaian luar biasa umumnya dipacu oleh dorongan untuk menuntaskan sasarannya dan dapat merasa senang atas setiap langkah maju, meski hanya sedikit. Di lain pihak, orang-orientasi sempurna cenderung beraksi lebih dikarenakan ketakutan akan kegagalan daripada hasrat untuk sukses. Mereka selalu menghadapi tekanan untuk mencapai kinerja ideal dan sulit sekali mentolerir output yang kurang memadai.


4. Mengusung Harapan yang Tak Terjangkau

Perfeksionis cenderung menetapkan target yang terlalu tinggi dan sulit dicapai. Sementara individu berprestasi tinggi menikmati proses dan menantang diri mereka untuk melangkah lebih jauh setelah mencapai satu tujuan, perfeksionis justru menetapkan standar awal yang tidak realistis.

Mereka kerap kali tak merasa puas dengan prestasi dirinya karena harapan yang sangat besar. Meski telah mencapai suatu kesuksesan, rasa kurang memadainya masih muncul.


5. Cuma Memusatkan Pada Hasil akhir

Orang yang memiliki prestasi luar biasa mungkin dapat merasakan kenikmatan dalam menjalani proses untuk mencapai impian mereka, kadang-kadang bahkan melebihi rasa puas ketika sudah sampai di titik tersebut. Sementara itu, seseorang yang bersifat perfeksionis cenderung sangat fokus pada hasilnya saja. Mereka menjadi terlalu obsesi dengan kesempurnaan target serta takut gagal sehingga sering kali melupakan betapa pentingnya menikmati petualangan dan pertumbuhan sepanjang jalan menuju sukses.


6. Mengalami Kecaman Berat karena Kegagalan

Baca Juga:  DAM Hadirkan Kreativitas Tak Terbatas di HMC 2025 Bandung

Perfeksionis umumnya lebih kesulitan untuk menerima kekalahan daripada orang dengan prestasi tinggi. Bila individu bermutu tinggi dapat cepat pulih usai merasakan kekecewaan, perfeksionis malah akan terperangkap dalam emosi negatif serta bersalah atas dirinya sendiri saat tujuan mereka tak mencapai hasil sesuai ekspektasi.

Di luar perasaan ketidakbahagiaan, orang dengan sifat perfeksionis cenderung memiliki risiko lebih besar untuk menghadapi kecemasan berlebihan serta kualitas hidup mental yang lebih rendah.


7. Takut Gagal

Perfeksionis biasanya punya rasa takut akan kegagalan yang jauh lebih besar daripada orang dengan prestasi luar biasa. Sebab mereka sangat mementingkan hasil akhir dan bisa merasakan kekecewaan bila semuanya ngga berlangsung mulus, maka kegagalan di sini bakal terlihat amat menyeramkan. Lebih-lebih lagi, mereka sering kali melihat apapun yang belum mencapai kesempurnaan sebagaimana kekalahan, membuatnya agak susah buat perfeksionis ini dalam memulai proyek atau usaha baru.


8. Menunda Pekerjaan (Prokrastinasi)

Walaupun perfeksionisme biasanya dihubungkan dengan hasil kerja yang banyak dan baik, karakteristik tersebut justru bisa menyebabkan seseorang menjadi lebih cenderung untuk membelakangi tugas-tugas mereka. Studi telah membuktikan bahwa orang-orang yang menerapkan standar sempurna tanpa kemampuan beradaptasi dengan kondisi tertentu – atau dikenal sebagai perfeksionisme non-adaptatif – umumnya lebih sering terlibat dalam perilaku penundaan.

Ini terjadi karena mereka sangat khawatir untuk melakukan segala hal dengan kurang dari sempurna sehingga pada dasarnya tidak melakukan apapun. Dengan bertambah lamanya waktu penundaan, rasa kegagalan menjadi lebih berat dan menghasilkan siklus buruk yang susah diputus.


9. Sulit Menerima Kritik

Untuk orang-orang yang mengidamkan kesempurnaan, hasil yang belum mencapai standar dapat dirasakan sebagai penderitaan dan ketakutan. Sebagai akibatnya, mereka lebih condong menjadi bertahan terhadap komentar negatif, termasuk kritikan konstruktif. Sementara itu, individu yang memiliki prestasi luar biasa menerima kritik sebagai peluang untuk pertumbuhan personal; di sisi lain, para perfeksionis umumnya menginterpretasikan kritik tersebut sebagai bukti dari kekurangan diri sendiri dan cenderung menolakkannya.

Baca Juga:  PERJUSAMI SAMBIL BERLIBUR DI PONDOK HALIMUN SUKABUMI


10. Rendahnya Harga Diri

Orang yang berhasil umumnya mempunyai rasa percaya diri yang kuat, tetapi hal itu tak selalu terjadi pada para perfeksionis. Walaupun perfeksionisme kerap dihubung-hubungkan dengan peningkatan rasa percaya diri, individu bertipe perfeksionis cenderung mengkritik dirinya sendiri, sehingga malahan merendahkan nilai diri mereka.

Perfeksionis sering kali mengalami perasaan kesepian atau isolasi akibat sikap kritis dan rigidnya, hal ini justru mendorong orang lain menjauh. Kondisi tersebut bisa menurunkan rasa percaya dirinya lebih lanjut dan mempengaruhi pandangan tentang diri sendiri serta tingkat kebahagiaannya dalam hidup, termasuk aspek interaksi sosialnya.


Kelemahan Perfeksionisme

Sangat penting untuk memahami bahwa perfeksionisme yang positif dapat mendorong seseorang untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Akan tetapi, perfeksionisme yang negatif, khususnya ketika didominasi oleh kebutuhan pengendalian ekstrim, cenderung menimbulkan dampak merugikan.

Seseorang yang memiliki sifat perfeksionis dapat menjadi sangat selektif serta terlampau khawatir untuk menjamin semuanya mencapai kesempurnaan, sehingga pada akhirnya mereka berupaya keras dalam mengendalikan keadaan maupun individu lain. Hal tersebut bisa memberi pengaruh buruk pada interaksi sosial. Selain itu, perilaku perfeksionis ini pun dapat meningkatkan derajat stres. Tingginya tekanan karena bersikap perfeksionis ini dapat memancing perasaan gelisah dan berkaitan erat dengan sejumlah efek merugikan seperti masalah pola makan, insomnia, hingga beban emosional.

Apabila Anda mencatat adanya ciri-ciri tersebut
perfeksionis
Di dalam dirimu, jangan menyerah. Mengerti bahwa adanya perubahan mungkin dibutuhkan merupakan tahapan awal yang amat signifikan. Usai menyaksikan dampak buruk dari sifat tersebut, kamu dapat beralih menggunakan cara yang lebih baik, satu yang masih membantumu meraih ambisi tanpa terbebani tekanan atau hal-hal negatif.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.