Ternyata, cerita-cerita menginspirasi bisa berasal dari lingkungan kita sendiri tanpa disadari. Orang-orang ini umumnya tidak kaya raya, bergelar akademik tingkat tinggi, atau memiliki posisi penting. Hanya saja mereka adalah individu sederhana dan biasa.
Senyum sang pedagang bubur terbuka lebar. Cepat mengejarnya untuk menyambut dan mengundangku duduk di bangku yang tak disangka-sanga masih tersedia.
Kursi-kursi lainnya telah dipenuhi oleh para pembeli pada awal hari. Mereka kelihatan tengah menikmati semangkuk bubur ayam hangat yang tersaji di atas meja berlapiskan kain plasti.
Sama seperti para pelanggan bubur lainnya, saya juga terpikat oleh Bubur Nisa. Meskipun sebenarnya buburnya tidak berlabel sebagai bubur ayam, kita menamainya demikan karena sang suami memiliki putri bernama Nisa.
Menurut saya, buburnya ini unik karena dinamai menurut nama anak si pembuatnya. Konsistensinya lebih padat, rasanya lezat, topping daging ayam-nya juga melimpah dan autentik. Belum lagi harganya yang terjangkau hanya sebesar Rp. 13.000 saja.
Buatku, tidak ada yang seenak dan semurah bubur ayam Nisa.Jika menyantap satu mangkuk bubur, aku sudah bisa anteng beraktivitas di pagi hari. P
Saatku merasakan kepuasan setelah makan bubur ayam. Bila saya mencicipi bubur ayam dari pedagang lain, sekitar jam sepuluh perut mulai tidak nyaman dan terasa lapar lagi.
Bubur Nisa berhasil menyimpan perut saya sampai waktu makan siang. Dia langsung menanyakannya, “Berapa banyak bungkusan yang Anda ingin pesan?”
Muka yang berseri-seri. Sejak aku mengenali pria tersebut selama bertahun-tahun, sang ayah dari Nisa tak pernah terlihat dengan muka muram.
Setiap pagi dia berdagang bersama istrinya yang dengan sigap membungkus bubur ayam sesuai permintaan pelanggan. Saya berkata, “‘Yang satu campur saja tidak apa, satunya lagi pisahkan karena akan dikonsumsi nanti saat makan siang.”
Saya belum pernah mencoba makan di warung buburnya yang berdiri lama. Rasanya agak tak enak karena mejanya hampir sama dengan milik Amigos (sedikit menjauh dari selokan).
Lebih baik aku minta untuk dibungkus saja, lalu kusantap bubur ayam dari d’Ibelin ketika sudah sampai di rumah.
Juga lebih tenang saat memakannya tanpa tergesa-gesa karena di area tersebut, bangku-bangku dengan cepat akan terisi kembali oleh pengunjung lain.
Di luar kejujuran, saya sebenarnya tidak begitu menyukai tempat parkir milik Amigos di dekat pasar induk. Akan tetapi, karena saya sudah mengetahui bahwa Bubur Nisa lezat, murah, dan sesuai dengan selera saya, pada akhirnya saya tidak bisa menghindarinya.
Saya paham bahwa sang ayah pedagang sangat memperhatikan kebersihan lingkungan. Sebab, dia dulunya berjualan bubur dengan cara mondar-mandir di dalam kawasan perumahan sebelum menetap di lokasi yang ada di sisi pasar tersebut.
Seringkali saya pun telah melakukan hal tersebut. Bagiku, ibuku amat menyukai bubur ayam ini karena rasanya berbeda dibandingkan dengan bubur ayam lain di pasaran. Bubur ayam di tempat lain biasanya terlalu cair dan daging ayamnya sedikit, meskipun harga jualnya sama.
Antarkan anak jadi sarjana
Selagi menanti, saya melihat sejumlah pengendara sepeda motor berhenti untuk membeli sesuatu. Tidak berselang lama, bubur ayam pesananku telah siap.
Itulah yang disampaikan sang bapak. Dia berkata, “Nisa sudah ingin diwisuda menjadi sarjana.”
Ekspresi kebanggaannya sangat jelas terlihat. Tentu saja itu wajar karena berhasil mendidik putranya hingga menyelesaikan studi Sarjananya merupakan suatu prestasi besar untuk seorang penjual bubur dari gerobak seperti dirinya.
Lagipula, gelar sarjananya sungguh mengesankan. Dia adalah seorang sarjana ekonomi lulusan dari salah satu universitas terkemuka di Depok dalam bidang ilmu ekonomi.
Satu waktu, sesuatu yang dahulunya dianggap sukar oleh orang awam yang menghidupi dirinya sendiri melalui berjualan bubur ayam.
Pria tersebut sangat menginginkan agar putranya dapat meraih kesempatan yang lebih baik dalam kehidupannya. Meskipun dia sendiri hanya seorang pedagang bubur ayam, ia berharap bahwa putranya akan memiliki kualitas hidup yang jauh lebih baik daripadanya.
Pendidikan merupakan jalan menuju kesempatan tersebut. Oleh karena itu, saat sang buah hati dapat melanjutkan studinya di fakultas pilihan di universitas terkemuka di Depok, orangtuanya merasa sangat bersyukur dan bangga.
“Wah bagus sekali, Pa. Saya ikut bahagia,” ucapku yang tiba-tiba teringat akan Nisa gadis kecil waktu SD yang menanti di sebuah mesjid setelah les mengaji.
Setelah bertahun-tahun lamanya, segalanya telah berbeda. Nisa tumbuh menjadi seorang remaja perempuan yang cantik dan cerdas. Dia kini merupakan sumber kebahagiaan serta asa bagi kedua orangtuanya guna meraih kehidupan yang lebih sejahtera.
Dari situ, saya mempelajari tentang kehidupan. Kehidupan individu dapat bertransformasi apabila terdapat upaya yang sungguh-sungguh.
Kehidupan yang lebih baik merupakan hak bagi semua orang tanpa terkecuali. Mungkin ini jawabannya dari doa-doanya sang ayah, Nisa, serta usaha keras Nisa dalam berbelajar.
Tiap kali memikirkannya, ku rasakan diriku sangat diberkahi. Kehidupan yang kutempuh senantiasa menyenangkan walaupun tidak semua hal terjadi sebagaimana yang kuharapkan.
Menurutku, sikap tidak mudah menyerah akan membawa seseorang menuju kesuksesan apapun tantangan yang dihadapi.
Sambil menyantap bubur ayam panas dengan daging yang masih berlimpah, di dalam hatiku bergumam, bila Si Nisa dapat menghadapi menjalani hari hanya dengan bubur ayam, maka aku juga mampu meraih pandangan akan kehidupan yang lebih positif.
Satu inspirasi datang dari secangkir bubur ayam… Saya dapat menemukan cerita penuh motivasi dari orang-orang biasa. Bukan mereka yang berkelimpahan harta atau para pejabat. Melainkan dari seseorang pedagang bubur ayam yang berhasil membimbing anaknya menjadi seorang sarjana.
-Jakarta, 1903dhu25–







