Mengapa Drama “When Life Gives You Tangerines” Sukses Memikat Hati Tanpa Plot Twist atau Konflik Berat?

by -114 views
by
Mengapa Drama “When Life Gives You Tangerines” Sukses Memikat Hati Tanpa Plot Twist atau Konflik Berat?

Drama “When Life Gives You Tangerines” telah merilis babak keempat minggu lalu pada hari Jumat. Seri ini, yang diperankan oleh Park Bo Gum dan IU, sukses menguras air mata para pemirsa melalui empat episodenya terakhir.

Bagian akhir dari cerita ini sukses membuat penonton berlinang air mata di tiap episodenya. Tanpa disadari, saya sendiri ikut meneteskan airmata lantaran merasakan keterkaitannya dengan kehidupan sebenarnya.

Sesungguhnya bukan cuma di bagian akhir saja yang bikin penonton ikutan berlinang air mata, tapi bahkan dari episode awal sudah begitu. Drama ini memang sukses meracau perasaan para pemirsa lewat kisah yang amat dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Meskipun tanpa plot twist atau konflik yang sangat signifikan, drama ini berhasil melalui kisahnya yang amat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Drama tersebut bahkan menerima apresiasi besar baik dari kalangan media maupun penonton Korea, dan dikenali sebagai salah satu produksi dramatis terbaik dalam sejarah.

Saya sependapatan dengan pandangan itu, lantaran walaupun tidak ada perselisihan berarti ataupun twist dramatis, cerita dalam tayangan ini berhasil menggiring minat para pemirsanya melalui alur yang biasa saja tetapi amat terasa berkaitan erat dengan realitas hidup.

Bukan hanya pemirsa dalam negeri, bahkan audiens internasional pun terpesona oleh kisahnya yang sederhana tapi masih menarik.

Menjelaskan mengenai ikatan keluarga, persekitaran seputar rumah, serta persaudaraan yang amat dekat dengan kehidupan.

Serial ini tak sekadar menggambarkan ikatan antara anak dan orang tua, namun juga relasi di antara saudara kandung, warga setempat, ibu mertua, putri tiri, serta keluarga berbeda. Seluruh aspek tersebut tersaji dalam cerita ini. Penonton dapat menyaksikan pertumbuhan interaksi karakternya dengan sangat realistis dan mungkin bahkan telah dirasakan oleh sejumlah besar pemirsa.

Menjelaskan kehidupan tiga generasi dimulai dari Ibu Oh Ae Sun sampai Yang Geum Yeong. Ketiganya diperlihatkan dalam gambaran sangat indah. Mereka harus berurusan dengan hidup yang sulit dan penuh tantangan, sambil terus memberikan dukungan satu sama lain agar bisa bertahan saat mengalami kesulitan.

Baca Juga:  Pengenalan TBC dari Suara Batuk Menggunakan Pembelajaran Mesin Mahasiswa ITS

Oh Ae Sun (IU), seorang anak tanpa orang tua dan bermimpi menjadi penyair terkenal, dipaksa menikah pada usia 18 tahun dengan Yang Gwan Sik (Park Bo Gum), temannya dari masa kecil. Mereka berdua sama-sama memberi dukungan satu sama lain walaupun hidup mereka serba kurang namun tetap optimis.

Kemudian mereka dikaruniai tiga buah hati bernama Yang Geum Myeong, Yang Eun Myeong, dan Yang Dong Myeong. Sayangnya, sang anak termuda wafat pada umur empat tahun akibat badai lautan.

Sudah pasti mereka merasa terpukul, tapi mereka perlu mengambil langkah selanjutnya untuk kelangsungan hidup karena masih ada dua anak lagi yang bergantung pada mereka. Untunglah, para individu di sekeliling mereka menyediakan bantuan sehingga pasangan itu bisa terus berjalan tanpa tenggelam dalam duka.

Mereka sukses mengasuh dua orang anak sampai mereka tumbuh menjadi dewasa. Tercapainya hal itu semakin dirayakan dengan lulusnya Kim Myeong dari seleksi penerimaan Universitas Seoul. Ini tentunya membawa rasa bangga yang istimewa sebab putranya dapat masuk ke salah satu perguruan tinggi terkemuka di Korea.

Kehidupan menjadi orangtua bagi An Jae Wook dan Shin Se Kyung semakin rumit karena putranya, Yoo Gun, telah tumbuh dewasa. Mereka harus mengatasi sejumlah tantangan termasuk ketika Yoo Gun terjerumus dalam berbagai masalah di sekolah hingga kemudian memutuskan untuk menikahi gadis yang dia hamilinya; ia adalah anak dari Bupati Gil. Hal ini pada gilirannya menyebabkan pasangan tersebut menikahkan kedua remaja itu di usia yang masih sangat belia.

Selanjutnya, mereka pun perlu menangani tantangan saat Yang Geum Yeong harus melanjuti pendidikan tinggi dan membutuhkan dana. Tetap saja, keduanya terus saling membantu dan bekerja keras demi memberikan hal terbaik bagi putra-putrinya.

Walaupun kondisi hidup mereka serba kekurangan, tetapi keduanya berusaha dengan maksimal untuk menyediakan gaya hidup yang pantas dan lebih baik bagi dua orang anak mereka.

Baca Juga:  Prabowo: Sekolah Terintregrasi Akan Punya Fasilitas Modern Setara Negara Lain

Kehidupan perkawinan Oh Ae Sun dan Yang Gwan Sik penuh tantangan. Mereka menghadapi berbagai kesulitan seperti penipuan oleh agen properti, anak keduanya masuk penjara, serta urusan pembatalan pernikahan putrinya, Yang Geom Yeong, yang gagal karena kurangnya restu orang tua. Meski begitu, pasangan ini selalu bersama-sama untuk memberikan dukungan satu sama lain dalam setiap ujian hidup.

Pada titik di mana kehidupan mereka mulai membaik, tantangan besar melanda; Yang Gwan Sik terserang penyakit serius yang menyebabkannya mengidap gagal ginjal. Meskipun Yang Geom Yeong mencoba melakukan segala upaya demi sang ayah, nasib telah ditentukan begitu saja. Sayang sekali, Yang Gwan Sik tidak dapat bertahan hidup.

Sesudah kematian sang bapak, barulah semua pihak mengetahui bahwa sebenarnya Yang Gwan Sik sudah merencanakan segalanya bagi buah hatinya. Ia tak pernah menggunakan dana yang dikirim oleh Yang Geom Yeong tiap bulannya; malahan ia menyisihkannya dan nantinya akan diserahkan ke Yang Geom Yeong.

Kehilangan Yang Gwan Sik pasti sangat memukul Oh Ae Sun dan putra-putrinya, membuat mereka sangat terpukau. Baru pada saat-saat mendekati kematian sang suami dan bapak itu, mereka mulai melihat betapa besar usaha serta pengabdian yang telah ia berikan. Keadaan ini membawa rasa penyesalan kepada para anaknya sebab mereka merasakan bahwa selama ini mereka kurang baik dalam memberikan apresiasi kepada ayah mereka.

Dalam cerita ini, kita dapat menyaksikan petualangan kehidupan Oh Ae Sun dan Yang Gwan Sik yang tak selalu mulus. Walau begitu, kedua tokoh tersebut berhasil bertahan dan memberi dukungan bagi satu sama lain. Walaupun kondisi ekonomi mereka terbatas, tetapi mereka masih bisa bersama-sama membangkitkan semangat demi kelangsungan hidupnya.

Para penonton pasti merasakan haru menyaksikan perjuangan Oh Ae Sun, seorang anak yatim piatu sejak umur 10 tahun, yang hidup dalam kesulitan. Untunglah ada Yang Gwan Sik yang senantiasa menemaninya dan membantu dia.

Tokoh Yang Gwan Sik berhasil menarik perhatian para penonton melalui karakteristiknya yang sangat menginspirasi. Dengan demikian, ia menjelma menjadi sosok ideal tersier dalam pandangan audiens. Perannya sebagai suami serta bapak mampu menyentuh emosi penonton hingga meraih kekaguman mereka.

Baca Juga:  Suriah Terima Usulan Rusia, AS Tambah Frutasi

Kim Gwan-sik tampil sebagai model suami dan bapak yang sempurna. Dia senantiasa mengabdikan diri demi menyediakan hal-hal terpenting bagi buah hatinya. Baginya, kebahagiaan istrinya serta keluarganya lebih penting daripada kenyamanannya pribadi.

Tokoh tersebut sukses menawan perhatian para pemirsa. Terlebih lagi ketika dia jatuh sakit dan mengharuskan dirinya untuk mendapatkan perawatan medis. Pemirsanya sungguh tersentuh hingga turut merasakan kesedihan yang dialaminya.

Drama “When Life Gives You Tangerines” sukses menarik perhatian penonton melalui jalannya cerita yang sederhana tapi masih tetap mengundang minat. Tanpa adanya kejutan atau belokan dramatis dalam narasinya, drama ini mampu menyentuh emosi para pemirsa.

Kisah yang mudah dipahami serta relevan dengan kehidupan nyata membuat drama ini menarik secara unik bagi penonton. Seolah menjadi bagian dari ceritanya, para pemirsa mengalami sendiri berbagai tantangan dalam hidup Oh Ae Sun dan Yang Gwan Sik.

Cerita konflik di dalam drama ini semudah masalah-masalah sehari-hari. Misalnya saja perselisihan antara anak dengan orang tua karena salah paham atau berbeda pandangan. Lalu ada juga ceritanya tentang hubungan ibu mertua dan menantunya yang pada mulanya kurang serasi tetapi lama kelamaan menjadi lebih mendukung satu sama lain. Para penonton tentu akan merasakannya sendiri dan bahkan kemungkinan besar sudah pernah alami hal tersebut.

Dari cerita ini pula dapat dipelajari bahwa prinsip “segaran mencapai” memang benar adanya. Pada akhirnya, kita akan mendapatkan hasil dari tindakan yang telah dilakukan. Bila kita menyebarkan kebaikan, pada gilirannya kita pun akan menerima kebaikan tersebut. Begitupun sebaliknya. Oleh karena itu, jangan pernah bosan untuk melakukan hal-hal positif. Sebab, kebaikan yang ditanamkan pasti suatu hari kelak akan terkumpul balasannya meski belum tentu dalam waktu dekat.

Terima kasih

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.