Mudik Kereta: Perjalanan dari Masa Lalu hingga Sekarang

by -108 views
by
Mudik Kereta: Perjalanan dari Masa Lalu hingga Sekarang

Mudik merupakan saat yang sangat ditunggu-tunggu. Menurut pendapatku, mudik tidak hanya berarti melakukan perjalanan untuk kembali ke tempat asalmu, melainkan juga sebuah ekspedisi yang dipenuhi oleh banyak kisah. Kereta api senantiasa jadi opsi nomor satu dalam hal ini. Mulai dari menggunakan kereta “sapu jagat” pada masa lampau hingga mengendarai kereta canggih sekarang, tiap kali bepergian selalu menciptakan ingatan yang ngga akan dilupakan begitu saja. Mari kita intip cerita menarik serta aneh soal pengalaman mudik lewat jalannya kereta api!

Kereta Sapu Jagat: Kenangan yang Kaya akan Kisah

Pada masa lalu, tepatnya di era 80-an hingga 90-an, melakukan perjalanan pulang kampung menggunakan kereta api merupakan suatu tantangan tersendiri. Membeli tiket untuk mudik sangatlah susah, oleh karena itu banyak orang yang hanya bisa mendatangi stasiun secara spontan sambil berharap bisa menaiki gerbong kereta ekonomi populer yang dikenal sebagai “kereta penyedot manusia”. Sebutan tersebut sebenarnya mencerminkan bagaimana padat dan sempit penumpang dalam kereta ini. Namun disinilah terdapat keseruan tersendiri! Kereta ini menjadi tempat bagi mereka yang belum berhasil memperoleh tiket resmi, dengan prinsip ‘siapa yang lebih sigap akan mendapatkan kursi’. Coba bayangkan betapa hebohnya suasana saat bepergian dengan moda transportasi semacam ini.

Memasuki melalui jendela? Tentu Saja!

Satu momen tak terlupakan bagi saya adalah saat kereta sampai di stasiun dan para penumpang berebut untuk naik. Pintu gerbong sudah dipadati oleh penumpang lain, tetapi tenang saja—ada cara lain: lewat jendelanya! Saya telah mengamati (bahkan turut serta melakukan hal serupa), beberapa penumpang memanjat masuk melalui jendela. Untuk mereka yang baru pertama kali merasakannya, tentunya tampak cukup keras, namun pada waktu itu, itu menjadi langkah paling bijaksana. Setiap orang harus menekan agar mendapat tempat, sambil sekaligus saling bahu-membahu memberikan dukungan, hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam kereta. Walaupun sedikit melelahkan, suasana semacam ini malah menciptakan nuansa dinamis dalam petualangan tersebut. Mungkin rasanya agak getir kala dilakukan, tetapi sungguh manis apabila kemudian dilihat dari masa depan sebagai kenangan tersendiri.

Baca Juga:  KPK Sita Dokumen Dan Bukti Elektronik Dari Geledah Kantor Kemensos

Sahur di Tengah Keramaian

Pada bulan Ramadhan, kembali menggunakan kereta api untuk perjalanan panjang memiliki keseruan sendiri. Menyahur di dalam gerbong yang ramai merupakan kenangan yang tidak akan dilupakan. Coba bayangkan, ratusan penumpang menempati tempat duduk mereka secara berdampingan, sementara beberapa lainnya harus berdiri di koridor atau malahan duduk di lantai. Ketika waktunya menyahur datang, setiap orang mulai mengingatkan satu sama lain. Beberapa membawa kurma untuk dibagikan, sementar yang lain memberikan makanan siap saji. Walaupun situasinya kurang nyaman, semangat gotong royong dan pembagian antarpengguna ternyata menjadikan saat-saat itu menjadi lebih berkesan.

Pedagang Gerobak: Kesenian diatas rel

Hal yang paling aku rindukan dari kereta sapu jagat ini ialah pedagang asongan tersebut. Selain berjualan makanan dan minuman, mereka juga menjadi hiburan tersendiri bagi para penumpang. Menggunakan nada khas, mereka bernyanyi dengan lirih sambil mempromosikan dagangan seperti “kopi panas, teh manis, mie instan, ada nasi kotak!” seraya bergeser-geser di lorong gerbONG. Sesekali, mereka pun memberitahu cerITA atau lempar-jabaran joke yang selalu berhasil meramaikan suasana dengan tawa penghuni KERETA. MereKA merupakan ‘sulap jalan’ yang membikIN perjalAN tampAK selesai dalam waktu SEKEjAP.

Pulangan Mudik Bersama KAI Saat Ini: Menyenangkan dan Tetap Menghadirkan Cerita

Sepanjang bertahun-tahun, KAI terus melakukan perbaikan. Kereta sapu jagat telah hilang begitu saja. Setiap penumpang kini harus memegang tiket untuk dapat menaiki kereta atau pun masuk ke dalam stasiun. Meski demikian, liburan lebaran menggunakan kereta masih menjadi suatu petualangan yang mengasyikkan serta dipenuhi kenangan. Perbedaannya adalah saat ini layanan semakin baik dan fasilitasnya mewah, namun momennya tetap tak kalah menyentuh hati seperti dulu.

Baca Juga:  Ini Dia Kuliner Khas Ceker yang Selalu Diburu Warga Bandung

Beli Tiket Secara Online: Hindari Antri Lama

Dulunya, mengantri untuk membeli tiket kereta api bisa memakan waktu berjam-jam. Namun sekarang segalanya menjadi lebih praktis. Anda cukup membuka aplikasi KAI, memilih jadwal yang diinginkan, lalu melakukan pembayaran. Tak perlu lagi bangun pagi-pagi menuju stasiun. Meski prosesnya sudah sederhana, terkadang masih ada momen lucu ketika bersaing dengan orang lain dalam ‘perang’ beli tiket pada tengah malam saat dimulainya penjualan. Kadang-kadang koneksi internet lambat membuat kita gagal mendapatkan tiket sesuai kehendak. Ceritanya tak hanya itu saja.

Kereta Canggih Berfasilitas Komplit

Kereta api kini menjadi tempat perjalanan yang jauh lebih menyenangkan. Dengan adanya kursi empuk, pendingin udara yang sejuk, stop kontak pada masing-masing bangku, dan bahkan layanan Wi-Fi tanpa biaya tambahan. Walaupun dilengkapi dengan fitur-fitur canggih tersebut, semburan atmosfer persaudaraannya masih terasa kuat. Misalkan saja selama bulan Ramadhan, sering kali para penumpang saling berbagai buka puasa bersama-sama menggunakan takjil mereka. Terkadang pula beberapa orang sibuk menghidupkan teman-temannya untuk sahur. Semua momen hangat itu menjadikan pulang kampung lewat KA Indonesia benar-benar luar biasa.

Pemandangan yang Tetap Memukau

Hal yang tak pernah berubah ialah panorama di sepanjang rute ini. Melalui jendela gerbong kereta, saya tetap dapat mengagumi luasnya ladang hijau, gunung-gunung tinggi, serta kawasan permukiman nan damai. Ketika matahari terbit maupun tenggelam, lanskap tersebut tampak layaknya gambaran alami yang memesona. Inilah saat-saat yang senantiasa aku nanti ketika pulang ke desaku menggunakan kereta api.

Baca Juga:  Hadapi Cuaca Ekstrem, Tagana Tasikmalaya Siaga Hadapi Bencana

Kisah Menarik Berikutnya: Dari Penumpang yang Ketiduran Hingga Lalai untuk Turun

Pergi mudik menggunakan KA selalu memiliki berbagai cerita menarik dan tidak terduga. Satu hal yang masih saya kenang yaitu pengalaman seorang penumpang yang tidur dalam perjalanan dan hanya bangun setelah kereta tiba di terminal akhir. Ia menjadi sangat khawatir hingga memaksanya untuk melanjuti perjalanannya dengan naik kereta lain menuju tempat aslinya. Selain itu ada juga kisah mengenai seseorang yang membawa begitu banyak oleh-oleh sehingga ia merasa kesulitan untuk membawanya keluar dari gerbong kereta tersebut. Namun pada akhirnya, para penumpang lainnya bersama-sama membantunya, menciptakan suasana yang membuat semua orang tertawa.

Mengapa Perjalanan Mudik dengan Kereta Api Selalu Spesial?

Pulang kampung menggunakan KA (Kereta Api), entah dahulu atau saat ini, tetap menjadi pengalaman luar biasa karena petualangan itu bukan hanya soal mencapai destinasi akhir. Hal tersebut melibatkan rasa persaudaraan, berbagi cerita sederhana yang membuat kita tertawa, serta menghadapi momen mendadak yang memberikan semburat vitalitas pada perjalanan. Baik dari kereta ramai seperti sapu jagat hingga gerbong mewah nan nyaman, tiap kali berkendara pasti menyisakan ingatan abadi dalam hati.

Hei, gimana sih pengalaman pulang kampung kamu menggunakan Kereta Api Indonesia (KAI)? Ada nggak cerita seru ataupun moment istimewa yang mau dishare? Ayo, bagi pengalamannya di kotak komentar ya! Semoga perjalanan mudiknya lancar dan bisa merayakan Idul Fitri dengan keluargamu tersayang!

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.