Muhammadiyah Kecewa: Trend Kartu Lebaran Tanpa “Mohon Maaf” Lahir dan Batin

by -105 views
by
Muhammadiyah Kecewa: Trend Kartu Lebaran Tanpa “Mohon Maaf” Lahir dan Batin


JABARMEDIA

, SEMARANG – Ketua Cabang Muhammadiyah Jawa Tengah (Jateng), Tafsir, mengkritik pola pemberian kartu ucapan tersebut.
Idulfitri
kini cenderung menghapus ungkapan tradisional seperti “Mohon Maaf Lahir, dan Batin” serta “Minnal Aidin Wal Faizin”.

Berdasarkan interpretasi tersebut, kejadian ini mencerminkan regresi budaya dalam praktik agama Islam di tanah air kita.

“Saya memperhatikan bahwa kartu lebaran saat ini jarang menyertakan frasa ‘Mohon Maaf Lahir, dan Batin’, bahkan ungkapan ‘Minnal Aidin Wal Faizin’ pun sudah tak terlihat. Kini hanya tertulis ‘Selamat Idulfitri’. Hal tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat Muslim Indonesia tampaknya mulai meragukan warisan budaya agamanya dari generasi-generasi sebelumnya,” jelas Tafsir kepada
JABARMEDIA
, Senin (31/3).

Penjelasan kitab suci menggarisbawahi bahwa kalimat itu mempunyai arti yang sangat berarti di saat menyambut hari raya Idulfitri.

Ramadhan merupakan masa keramat di mana pembersihan dosa antara insan dan Tuhan terjadi, sedangkan Bulan Syawal memberikan peluang bagi kita untuk menghapus dosa-dosa pada sesama manusia lewat tindakan saling bermaaf-memaafkan.

“Kita tidak akan dimaafkan oleh Allah sampai kita membersihkan diri dari segala keburukan terhadap sesama. Oleh karena itu, pada akhir Ramadan, kita berusaha memohon ampun baik secara fisik maupun spiritual di bulan Syawal,” ungkapnya yang merupakan seorang tokoh pluralisme serta multikultur.

Baca Juga:  Hasil Undian Liga Champions Eropa

Penjelasan tersebut mengatakan bahwa budaya halalbihalal termasuk menjadi bagian dari tradisi yang sudah melekat secara mendalam di kalangan masyarakat Indonesia.

Menurutnya, halalbihalal tidak hanya merupakan suatu ritual keagamaan, melainkan sudah berkembang menjadi sebuah praktek sosial yang dapat dijalankan oleh semua orang, terlepas dari agamanya.

“Salat Id merupakan suatu ibadah khusus untuk umat Muslim. Namun, bermaaf-maafan baik secara lahiriah atau bathin serta menggelar halalbihalal adalah perilaku sosial yang dapat dijalankan oleh semua orang,” jelasnya sebagai seorang dosen dari UIN Walisongo Semarang.

Tafsiran ini menekankan bahwa Idulfitri seharusnya tidak dipandang terlalu ekstrim dalam hal tindakan boros atau gaya hidup serba menyenangkan.

Dia menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara kegembiraan di dunia dan urusan akherat saat merayakan Idulfitri.

“Harap jangan biarkan perayaan Lebaran menjadi sarana untuk menampilkan keruwetan atau bahkan hal-hal yang tidak senonoh. Mari kita kembali kepada aslinya, menyambut kemenangan setelah satu bulan berpuasa,” katanya.

(wsn/jpnn)


Apakah Kamu Telah Melihat Videonya Yang Baru Ini?

Baca Juga:  SBY Berkicau Soal Kecelakaan Lion Air

Muhammadiyah Jakarta Memohon Persetujuan ke Pramono Tentang Pencarian Rekomendasi untuk Membangun Universitas

Yandri Mendes Berkerja Sama dengan PP Muhammadiyah untuk Memperkuat Perekonomian dan Dakwah di Desa

8.065 Narapidana di DKI Jakarta Mendapatkan_remisi_Saat_Nyepi_dan_Idul_Fitri

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.