Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sangat percaya diri dengan potensi peningkatan perekonomian Indonesia di semester I tahun 2025. Beberapa petunjuk ekonomi telah mengindikasikan perkembangan positif, seperti adanya surplus dalam neraca perdagangan serta indeks Manajer Pembelian atau PMI yang masuk ke area pertumbuhan.
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus senilai USD 3,12 miliar di bulan Februari 2025, meningkatkan angka dengan jumlah USD 2,28 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan keuntungan kelima puluh delapan berkelanjutan sejak pandemi dimulai pada Mei 2020.
“Berita penting ini mungkin tenggelam di balik kabar-kabar lain. Neraca perdagangan Indonesia telah menunjukkan defisit selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 dan masih berlanjut hingga saat ini,” ungkap Sri Mulyani pada konferensi pers, Selasa (18/3).
Pada intinyanya, mengingat situasi global yang ada di mana berbagai negara telah menetapkan rintangan dalam perdagangan seperti peningkatan tariff, serta beberapa institusi internasional meramalkanperlambatan perekonomian dunia, Indonesia berhasil mempertahankan status surplus neraca perdagangannya secara kontinu selama 58 bulan berturut-turut.
“Bulan Februari lalu menunjukkan pertambahan tahun-ke-tahun sebanyak 2,28 miliar hingga mencapai 3,12 miliar, ini poin pertama. Poin kedua, Indeks Manufaktur Indonesia kami berada di atas 53,6. Kemarin saya jelaskan dalam diskusi konsensus bahwa nilai 53,6 tersebut merupakan pemulihan atau rebound dari posisi awal yang di bawah 50, artinya berganti dari kondisi kontrakturnya ke arah perluasan,” jelasnya.
Sri Mulyani juga menggarisbawahi tiga elemen penting yang dianggap mendukung ekonomi, yaitu pengeluaran keluarga, invesitas, serta perdagangan luar negeri, sambil menyatakan harapan agar perkembangan positif ini bisa bertahan.
” Kami menginginkan agar pertumbuhan ekonomi pada kuarter I bisa dipertahankan dan berlangsung secara kontinu sampai dengan penghujung tahun,” demikian katanya.









