Profil Bernardus Prasodjo: Sang Kreator Di Balik Seni Khong Guan, Alumni Terkenal ITB

by -132 views
by
Profil Bernardus Prasodjo: Sang Kreator Di Balik Seni Khong Guan, Alumni Terkenal ITB


JABARMEDIA

– Ketika disebutkan merek biskuit Khong Guan, kebanyakan orang di Indonesia tentu akan terbayang gambar ikonis dari seorang ibu bersama kedua anaknya sambil menikmati secangkir teh dan camilan biskuit. Akan tetapi, jarang ada yang mengenal kalau lukisan tersohor itu merupakan kreasi seorang pelukis handal dengan nama Bernardus Prasodjo.


Profil Bernardus Prasodjo

Bernardus Prasodjo dilahirkan pada tanggal 25 Januari 1945. Orang pria berumur 79 tahun saat ini terkenal sebagai seorang artis yang ada dibalik ilustrasi untuk beberapa produk populer, antara lain Khong Guan, Monde, dan Nissin Wafer, juga dia menciptakan logo Sirup Marjan.

Menurut Tribun Medan, Bernardus adalah seorang alumni dari Fakultas Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Akan tetapi, dia memilih untuk keluar dari kampus dikarenakan kesibukan dalam menangani banyak penawaran kerja seninya.

Pada saat itu, profesi sebagai ilustrator belum umum, oleh karena itu dia menerima banyak pesanan ilustrasi dari beragam klien. “Saat itu saya tinggal di Jalan Lengkong Kecil, Bandung.”

“Di samping itu terdapat percetakan redaksi majalah Aktueil, sebuah publikasi Musik yang populer. Aku sering mengunjunginya dan suatu hari ada orang memesan agar membuatkan komik, namun hal tersebut pada akhirnya membuatku telat masuk kuliah,” jelasnya.

Baca Juga:  Demi Nama Baik Partai, Demokrat Desak TVRI Minta Maaf

Di samping berprofesi sebagai seorang ilustrator, Bernardus juga sempat meluangkan waktunya untuk mengajarkan mata pelajaran Tipografi dan Digital Studio di LPKT Kompas sebagai dosen. Akan tetapi, selama beberapa tahun belakangan ini, dia telah menekuni bidang pengajaran tentang penyembuhan prana, yakni suatu metode pengobatan alternatif yang tidak memerlukan obat-obatan serta tidak terikat dengan keyakinan atau ritual khusus apapun.

Walaupun telah lebih dari lima tahun tidak menciptakan seni lukisan dengan cara tradisional, semangat Bernardus untuk berkreasi belum sepenuhnya surut. Kini ia cenderung lebih banyak membuat sketsa memakai perangkat lunak digital seperti Photoshop.

“Di zaman modern ini saya masih terus melukis, namun dengan menggunakan perangkat lunak, bukannya kanvas seperti dulu. Konsep ide selalu ada, kadang-kadang saya gambarkan pasaran, ikan, bunga, dan berbagai hal lainnya,” jelasnya.

Meskipun ilustrasinya sekarang sangat populer dan menjadi topik pembicaraan di media sosial, Bernardus menyatakan bahwa dia belum pernah bertemu secara langsung dengan pemilik Perusahaan Khong Guan. Ini disebabkan oleh fakta bahwa penawaran untuk melukis datang daripada pihak ketiga; yaitu sebuah perusahaan spesialisasi dalam proses penyekatan warna berlokasi di Jl. Biak, Menteng, Jakarta Pusat.

Baca Juga:  Hujan Ringan Hingga Sedang di Jabodetabek

Pada suatu percakapan, Bernardus menyatakan bahwa dia menandatangani pekerjaan ini sebagai kontrak jangka pendek. Ini berarti dia tak akan memperoleh royalti dari buah kreativitasnya meski ilustrasi itu masih dipergunakan selama bertahun-tahun lamanya.


Asal Usul Menggambar Kaleng Khong Guan

Menurut artikel Intisari, Bernadus memperoleh tugas melukis kaleng Khong Guan saat usianya sekitar 24 tahun. Di era 1970-an, dia diharapkan untuk menciptakan beberapa sketsa yang nantinya bakal dipakai menjadi desain pada kaleng biskuit Khong Guan.

Ia hanya mengikuti arahan dari pihak pemesan dan membuat komposisi gambar yang sesuai dengan contoh yang diberikan. Meski begitu, ada sedikit modifikasi pada hasil akhirnya, seperti perubahan warna baju dan posisi anak-anak yang memegang biskuit.

Meskipun demikian, secara umum, tampilan yang kita kenali saat ini tidak banyak berubah dari draft pertamanya. Di luar Khong Guan, terdapat dua karya lain oleh Bernardus yang masih dipakai sampai hari ini, yaitu ilustrasinya di kemasan Monde dan Nissin Wafer.


Mengapa Tak Terdapat Gambar Ayah dalam Ilustrasi?

Salah satu pertanyaan yang kerap ditanyakan orang tentang gambar pada kaleng Khong Guan adalah kenapa hanya ada ibu bersama anak-anaknya tanpa kehadiran figur bapak?

Baca Juga:  PT PP Siap Pasok Tiang Pancang Jembatan Selat Sunda

Bernardus sendiri belum tahu alasannya secara pasti, tetapi dia berpendapat bahwa keputusan itu mungkin terkait dengan strategi pemasarannya. Dalam pandangannya, perusahaan pembuat produk tersebut ingin mengarahkan fokus pada ibu-ibu rumah tangga sebagai pasar sasaran untuk biskuit ini.

“Menurut pendapatku, ini adalah strategi untuk menarik perhatian ibu-ibu agar berbelanja. Yang terpenting adalah kehadiran sang ibu dalam acara tersebut karena biasanya mereka lah yang melakukan pembelian,” jelasnya seperti dilansir Kompas.com pada hari Minggu, 30 Maret 2025.

Bisa jadi Bernardus Prasodjo tak sempat mengira bahwa lukisan yang diciptakannya di atas lima dekade silam bakal menjelma sebagai simbol yang terpatri kuat dalam benak orang-orang Indonesia. Walaupun tanpa hak royalti untuk kreasi tersebut, sketsa sang ibu bersama kedua putranya itu sudah menyatu dengan nalar serta kebudayaan massa negeri ini.

Sampai saat ini, kaleng biskuit Khong Guan yang terkenal dengan gambarnya masih memenuhi meja pada setiap perayaan Lebaran tahun 2025. Ini menunjukkan betapa karyaanak seni bisa bertahan dan dikenang sepanjang zaman.

(*)

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.