Bisnis Pakaian Thrifting yang Menjanjikan di Kalimantan Selatan
Bisnis pakaian thrifting kini semakin menarik minat para pelaku usaha. Banyak dari mereka mengungkapkan bahwa bisnis ini bisa memberikan keuntungan besar dengan modal yang relatif kecil. Salah satu contohnya adalah Gusti Tajudinor, seorang pedagang pakaian thrifting di Kalimantan Selatan yang telah menjalani usaha ini selama enam tahun.
Tajudinor membuka lapaknya di emperan toko Jalan Ahmad Yani di kawasan Simpang Empat Kota Banjarbaru. Ia juga berkelompok dengan pedagang lain untuk memperluas pasar. Selain itu, ia juga memiliki lapak di Pasar Subuh Jalan Pasar Baru Kota Banjarmasin setiap hari Minggu.
Menurutnya, barang yang dibawa ke Banjarbaru biasanya lebih berkualitas dibandingkan barang yang dijual di kawasan lain. Ia menjelaskan bahwa modal pembelian pakaian thrifting bervariasi tergantung jenisnya. Misalnya, celana jeans bisa mencapai harga Rp 9 juta per bal, sedangkan celana cargo mencapai Rp 11 juta per bal. Untuk kaos, harga per bal mencapai Rp 10 juta dengan isi sekitar 500 lembar.
“Modal untuk kaos sekitar Rp 20 ribu per lembar, dan kami menjualnya antara Rp 100 hingga Rp 150 ribu,” ujarnya.
Tajudinor menyebut bahwa bisnis ini cukup menguntungkan dan masih diminati oleh banyak orang. Ia mengambil barang dari Banjarmasin, meskipun barang tersebut berasal dari luar negeri. Keuntungan yang diperoleh bisa mencapai separuh dari modal awal.
Dalam sehari, ia bisa mendapatkan omset hingga jutaan rupiah. “Seringkali dalam semalam saya bisa mendapat Rp 3 juta hingga Rp 4 juta,” katanya.
Selain Tajudinor, ada juga Nur Camelia, seorang mahasiswi berusia 25 tahun asal Banjarmasin yang memiliki hobi berburu barang bekas baik impor maupun lokal. Ia sering mengunjungi pasar loak di Banjarmasin seperti di Jalan Pasar Baru, Banjarmasin Tengah, dan tempat-tempat lain yang buka setiap hari Minggu.
Camelia menggambarkan hobi ini sebagai berburu harta karun di tumpukan barang bekas. Ia harus teliti dalam memilih pakaian yang berkualitas dan masih layak pakai. Tak jarang, ia berhasil menemukan barang bermerk dengan harga murah.
“Saat berburu thrifting, saya bisa menghabiskan waktu 3 hingga 4 jam jika barangnya baru saja dibuka dari bal,” katanya.
Menurut Camelia, berburu thrifting bukan hanya sekadar membeli barang bekas. Ada tantangan tersendiri dalam proses pencarian, dan itulah yang membuatnya menyukai hobi ini. Selain itu, harga yang murah dan kondisi barang yang masih layak pakai juga menjadi alasan utamanya.
Manfaat dan Tantangan Berbisnis Thrifting
Bisnis thrifting tidak hanya menawarkan keuntungan finansial, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menjual produk dengan nilai tambah. Pelaku usaha seperti Tajudinor dan Camelia menunjukkan bahwa bisnis ini bisa menjadi pilihan yang menjanjikan, terutama bagi yang ingin memulai usaha dengan modal terbatas.
Beberapa manfaat dari bisnis ini antara lain:
- Harga barang relatif murah, sehingga memungkinkan penjual untuk menjual dengan margin keuntungan yang tinggi.
- Minat pasar yang stabil, karena banyak orang mulai tertarik pada konsep ramah lingkungan dan penggunaan barang bekas.
- Ketersediaan barang yang beragam, baik dari dalam maupun luar negeri.
Namun, bisnis ini juga memiliki tantangan, seperti:
- Persaingan yang ketat karena semakin banyak pelaku usaha yang masuk ke bidang ini.
- Pemilihan barang yang tepat, agar bisa menarik minat pembeli.
- Pemeliharaan kualitas barang, agar tetap layak jual.
Dengan strategi yang tepat, bisnis thrifting bisa menjadi pilihan yang sangat menjanjikan, baik untuk pelaku usaha maupun penggemar barang bekas.








