Perkembangan Digital dan Pengaruhnya pada Bahasa Indonesia
Perkembangan teknologi digital semakin memengaruhi cara generasi muda berkomunikasi, termasuk dalam penggunaan bahasa. Akibatnya, penggunaan Bahasa Indonesia yang baku semakin terpinggirkan. Hal ini menjadi perhatian serius dari berbagai pihak, khususnya di kalangan pendidik.
Dinas Pendidikan Jawa Timur mengadakan Bimbingan Teknis Modul Ajar Bahasa Indonesia dan Sastra bagi 114 guru SMA se-Jatim. Acara ini digelar sebagai respons terhadap tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi digital. Generasi muda, terutama generasi Z, cenderung lebih akrab dengan bahasa tidak baku, bahasa gaul, serta mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga pada budaya berbahasa. Ia menyoroti bagaimana gaya bahasa anak-anak kini cenderung singkat dan informal, seperti kata “mantul” yang merujuk pada “mantap betul”. Menurutnya, bahasa adalah seni berdiplomasi yang penting untuk menghormati lawan bicara dan orang yang lebih tua.
Aries juga menyampaikan bahwa budaya instan yang ditimbulkan oleh media sosial membuat anak-anak semakin jauh dari penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia menekankan peran penting para pendidik dalam mengembalikan semangat kebahasaan yang bermartabat dan berakar pada nilai-nilai budaya.
Ia mengambil contoh dari negara seperti Jepang, yang sangat menjaga bahasanya meskipun menghadapi arus globalisasi. Ia berharap hal serupa dapat diterapkan di Indonesia agar jati diri bangsa tidak terkikis.
Dalam forum bimtek tersebut, Aries menekankan pentingnya sejarah bahasa dan sastra Indonesia yang lahir dari perjuangan para tokoh bangsa. Setiap kata yang disusun menjadi pedoman berbahasa hingga kini. Peran guru dinilai sangat vital sebagai penjaga sekaligus penerus nilai luhur bahasa nasional.
Menurutnya, jika bukan guru yang memulai, siapa lagi yang akan membentuk generasi muda? Karena anak-anak kini lebih suka melihat daripada mendengar, maka guru perlu menyusun bahan ajar yang menarik dan sesuai dengan karakter belajar mereka.
Aries juga menekankan bahwa bahasa dan sastra merupakan pondasi kebudayaan bangsa. Hal ini diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Ia menegaskan bahwa jangan sampai kita lebih menghormati bahasa asing dibanding bahasa sendiri.
Ia menyampaikan bahwa kini bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini menjadi kebanggaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia berharap dari forum bimtek ini lahir modul ajar yang relevan dengan tantangan zaman.
Bahasa Indonesia, menurut Aries, harus menjadi kebanggaan, budaya komunikasi yang sehat dan cerdas, serta sarana berpikir dan berkarier. Ia ingin bahasa Indonesia menjadi motivasi dan kebanggaan saat diucapkan dengan benar.







