Pengembangan Observatorium Nasional Timau dengan Mobil EKUATOR
Mobil EKUATOR, sebuah inisiatif yang dirancang untuk mendukung pendidikan dan literasi sains di Pulau Timor, kini menjadi perhatian utama bagi para akademisi dan peneliti. Dosen Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana (Undana), Chornelis Eston Anin, mengajak penggunaan mobil ini sebagai sarana pembelajaran keliling yang bisa mencapai wilayah terpencil.
Mobil EKUATOR memiliki berbagai fasilitas seperti planetarium portabel, teleskop, serta alat penunjang lainnya yang dirancang untuk memudahkan proses belajar astronomi. “Ini seperti perpustakaan mobile yang bisa membawa fasilitas pembelajaran ke berbagai daerah,” jelas Eston saat berbicara dalam sebuah wawancara.
Dengan adanya mobil ini, siswa dan guru di daerah terpencil dapat mengakses pengalaman belajar astronomi yang lebih menarik. Fasilitas yang tersedia termasuk film planetarium dan simulasi pergerakan benda langit dalam kubah portabel yang bisa dipasang dan dibongkar kapan saja.
Eston juga berharap mobil EKUATOR dapat dimaksimalkan dalam kerja sama antara Undana dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia menilai Observatorium Nasional Timau harus menjadi pusat sains yang tidak hanya melayani peneliti, tetapi juga masyarakat luas.
“Sedang dibicarakan dengan BRIN bagaimana bentuk kolaborasi untuk mendukung keberadaan observatorium dalam bidang pendidikan,” ujarnya. Selain fokus pada edukasi, Eston yang juga seorang peneliti dari Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, menyebutkan beberapa rencana riset yang bisa dikembangkan di Timau. Misalnya, pengamatan sampah antariksa hingga studi orbit asteroid.
Menurut Eston, keberadaan Observatorium Nasional Timau sangat strategis karena kualitas langit yang baik. Lokasi ini akan memiliki teleskop 3,8 meter yang memungkinkan pengamatan astronomi kelas dunia. “Tentu bisa menghasilkan tulisan maupun penelitian berkualitas, untuk kemajuan astronomi dan sains di Indonesia,” tambahnya.
Tantangan dalam Peresmian Observatorium Nasional Timau
Meski memiliki potensi besar, Observatorium Nasional Timau hingga kini masih belum bisa dinyalakan. Konstruksi yang direncanakan rampung dalam tiga tahun terus tertunda oleh berbagai tantangan. Koordinator Observatorium Nasional Timau, Abdul Rachman, menjelaskan bahwa kendala paling krusial datang dari kondisi infrastruktur dasar dan pandemi Covid-19.
“Jalanan dari Kupang ke Timau selama beberapa tahun menjadi kendala,” kata Abdul saat berbicara dalam wawancara. Jalan yang tidak layak membuat komponen seperti kubah teleskop, cermin, dan alat berat untuk instalasi sulit dikirim ke lokasi hingga 2022. Berbagai hambatan dalam pengoperasian proyek penyokong sains tersebut bisa dilihat lebih lengkap dalam laporan terkait.
Hingga pertengahan 2025, progres proyek disebut baru mencapai 75 persen. Pembangunan teleskop oleh Nishimura Co, kontraktor dari Jepang, ternyata baru mencapai 70-80 persen. Meskipun instrumen pengamatan lain seperti cermin utama atau primer yang terdiri atas 18 bagian, cermin kedua, dan cermin ketiga sudah terpasang pada Maret 2025.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, menargetkan Observatorium Nasional Timau dapat beroperasi penuh sebelum akhir 2026. Menurut dia, pembangunannya memakan waktu karena didedikasikan untuk pengamatan antariksa langit selatan, dengan target pemakai dari nasional dan internasional. “BRIN telah menetapkan Observatorium Nasional Timau dan program pengamatan langit selatan menjadi salah satu platform kolaborasi baik dari Indonesia maupun mancanegara.”








