Kehidupan dan Perjalanan Ozzy Osbourne, Legenda Rock Dunia
Ozzy Osbourne, salah satu ikon legendaris musik rock dunia, meninggal pada usia 76 tahun. Dalam pernyataan keluarga, ia menghembuskan napas terakhir dalam keadaan tenang, dikelilingi oleh orang-orang yang dicintainya. Kepergiannya terjadi beberapa minggu setelah penampilan terakhirnya bersama Black Sabbath dalam konser Back to the Beginning, sebuah momen yang menjadi penutup kariernya yang luar biasa.
Dikenal dengan julukan “Prince of Darkness”, Ozzy tidak hanya menjadi seorang musisi biasa. Ia adalah sosok yang membentuk genre heavy metal, menciptakan kesan mendalam di atas panggung, serta menjadi bintang dari acara realitas. Meski sering dikaitkan dengan kontroversi, ia tetap menjadi sosok yang penuh cinta dan pengaruh besar dalam sejarah musik.
Dari Birmingham ke Panggung Dunia
Lahir dengan nama John Michael Osbourne di kawasan industri Aston, Birmingham, pada tahun 1948, Ozzy lahir dari keluarga pekerja pabrik. Masa kecilnya penuh tantangan, termasuk hidup dalam kemiskinan dan trauma akibat pelecehan seksual. Ia juga pernah dipenjara karena pencurian, meskipun ia mengakui bahwa dirinya “sangat buruk dalam kejahatan”. Pengalaman-pengalaman ini menjadi dasar emosional dari karyanya.
Lingkungan keras inilah yang membentuk identitas Black Sabbath. Bersama Tony Iommi, Geezer Butler, dan Bill Ward, Ozzy memperkenalkan dunia pada suara gelap dan berat yang kemudian dikenal sebagai heavy metal. Album seperti Paranoid dan Master of Reality menjadi fondasi penting dalam sejarah musik rock.
Black Sabbath, Skandal, dan Karier Solo yang Fenomenal
Setelah dipecat dari Black Sabbath pada 1979 akibat masalah narkoba dan alkohol, Ozzy justru melanjutkan kariernya dengan karier solo yang sukses. Album debutnya, Blizzard of Ozz (1980), menjadi hits besar dengan lagu-lagu seperti Crazy Train. Selama kariernya, ia merilis 13 album solo, termasuk Patient Number 9 pada tahun 2022.
Namun, Ozzy juga dikenal karena insiden-insiden unik dan nyentrik. Salah satunya adalah saat ia menggigit kepala kelelawar di atas panggung pada 1982. Ia juga pernah menggigit kepala burung merpati dalam pertemuan dengan label rekaman. Semua kekacauan itu justru memperkuat citranya sebagai rocker yang tak terduga dan selalu out of control.
Cinta, Kekerasan, dan Keluarga yang Bertahan
Kehidupan pribadi Ozzy tidak kalah menarik. Setelah pernikahannya dengan Thelma kandas akibat alkoholisme, ia menikah dengan Sharon pada 1982. Sharon bukan hanya istri, tapi juga manajer yang membantu mengarahkan kariernya. Meski hubungan mereka penuh konflik, termasuk saat Ozzy pernah mencoba membunuh Sharon dalam kondisi mabuk, keluarga ini tetap bertahan.
Melalui acara realitas The Osbournes (2002–2005), keluarga ini menampilkan dinamika antara kekacauan rock dan kehidupan rumah tangga. Ozzy, yang awalnya dikenal sebagai rocker liar, tampil sebagai ayah yang kikuk dan lucu, membuat publik jatuh cinta.
Kesehatan yang Menurun dan Panggung Terakhir yang Berkesan
Selama dua dekade terakhir, Ozzy menghadapi berbagai masalah kesehatan serius. Ia mengalami kecelakaan quad bike parah, didiagnosis mengidap Parkinson’s, dan menjalani operasi tulang belakang. Pada 2023, ia membatalkan tur Eropa karena kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Meski begitu, semangatnya kembali hidup ketika ia tampil dalam konser perpisahan Back to the Beginning pada 5 Juli 2025.
Konser ini digelar di Villa Park, Birmingham, dengan Ozzy duduk namun tetap membara. Ia membawakan lagu-lagu ikonik untuk terakhir kalinya, dengan ucapan: “I am Iron Man! Go f*cking crazy!” Momen ini menjadi penutup yang tak terlupakan.
Warisan Sang Legenda
Setelah kepergiannya, dunia musik mengenang sosok Ozzy yang begitu mencolok dan tulus. Elton John menyebutnya sebagai “teman yang dicintai dan pelopor besar yang akan sangat dirindukan”. Ozzy bukan hanya dewa rock, tapi juga manusia yang belajar, jatuh, bangkit, mencintai, dan menertawakan hidup yang kacau.
Dari panggung dunia hingga ruang keluarga yang penuh kamera, Ozzy Osbourne adalah satu dalam sejuta. Ia membuat kegelapan jadi menarik, dan menjadikan metal bagian dari budaya pop. Lagu-lagunya akan terus diputar, kisahnya akan terus diceritakan, dan semangatnya akan terus membakar semesta rock.






