P3JB Ancam Kembali Geruduk Gedung Sate
Pekan lalu, kelompok Pekerja Pariwisata Jawa Barat (P3JB) kembali menunjukkan ketidakpuasan terhadap kebijakan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, yang melarang kegiatan study tour. Mereka menyatakan akan kembali melakukan aksi demonstrasi dengan jumlah peserta yang lebih besar, serta meminta gubernur mencabut larangan tersebut.
Koordinator P3JB, Herdi Sudardja, mengatakan bahwa mereka tidak hanya akan melakukan aksi di Gedung Sate, tetapi juga akan mencari solusi lain melalui jalur legislatif. “Kita akan berupaya melalui DPRD Jabar atau bahkan DPR RI,” ujarnya. Ia menilai kebijakan ini sangat merugikan sektor pariwisata, yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama masyarakat.
Herdi menegaskan bahwa kegiatan study tour selama ini tidak pernah dilarang. “Sejak dulu, program ini tidak pernah dilarang oleh kepala daerah. Bahkan, tidak ada aturan resmi yang melarang kegiatan itu,” katanya. Ia menyarankan adanya alternatif lain untuk mengurangi beban orang tua siswa, seperti subsidi silang atau dana sekolah.
Kritik Terhadap Keputusan Tanpa Kajian
Herdi menilai keputusan Dedi Mulyadi diambil tanpa kajian matang dan dialog dengan pelaku usaha. “Peraturan ini diterbitkan tiba-tiba, tanpa melihat dampak ekonomi maupun sosial terhadap sektor lainnya,” ujarnya. Ia juga menyayangkan sikap gubernur yang tidak pernah bertemu langsung dengan peserta aksi. “Beliau selalu menjawab kritikan lewat media sosial. Bahkan saat kejadian meninggal hajatan anaknya pun, jawabannya hanya melalui medsos,” tambahnya.
Dedi Mulyadi Jawab Protes Lewat TikTok
Saat diminta komentarnya terkait aksi demonstrasi sopir bus pariwisata, Dedi Mulyadi hanya menjawab singkat. “Tadi pagi sudah ada pernyataan saya di TikTok,” katanya. Ia menegaskan bahwa larangan hanya berlaku untuk study tour, bukan seluruh industri pariwisata. “Yang diprotes adalah jasa kepariwisataan. SK saya adalah SK study tour, yang dilarang itu kegiatan study tour,” ujarnya dalam video TikTok.
Menurut Dedi, demonstrasi justru membuktikan bahwa study tour hanyalah kegiatan rekreasi. “Dengan demonstrasi itu, semakin jelas bahwa kegiatan study tour sebenarnya kegiatan piknik,” tegasnya. Bahkan, dukungan dari asosiasi Jeep Yogyakarta yang biasa melayani wisata Gunung Merapi juga disebutkan. “Bukan hanya dari orang Jawa Barat yang demo, tetapi juga dari Yogyakarta,” kata Dedi.
Menjaga Ketenangan Orang Tua Siswa
Dedi Mulyadi tetap mempertahankan pendiriannya untuk menjaga ketenangan orang tua siswa dan meminimalkan biaya pendidikan. “Insya Allah saya tetap berkomitmen menjaga ketenangan orang tua siswa agar tidak terlalu banyak pengeluaran di luar kebutuhan pendidikan,” tuturnya. Ia berharap industri pariwisata tetap berkembang, tetapi diarahkan pada wisatawan yang memiliki kesiapan finansial.
“Semoga industri pariwisata tumbuh, sehingga yang datang berwisata itu orang luar negeri, atau orang-orang yang memang punya uang, bukan orang yang dipaksa ikut piknik dengan alasan study tour,” pungkasnya.






