Kehidupan yang Penuh Tekanan di Balik Kesuksesan
CEO Nvidia, Jensen Huang, mengakui bahwa ia tidak memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Istilah work life balance tampaknya tidak relevan bagi orang-orang yang telah mencapai puncak kesuksesan dalam karier mereka. Sebagai pemimpin perusahaan teknologi terbesar dunia dengan nilai 4,2 triliun dolar AS, Huang bekerja hampir setiap jam sehari, tujuh hari seminggu.
“Saat saya tidak bekerja, saya tetap memikirkan pekerjaan. Saya menonton film, tapi saya tidak ingat ceritanya karena pikiran saya selalu tertuju pada pekerjaan,” ujarnya. Meski terdengar ekstrem, kepemimpinan Huang berhasil membawa Nvidia menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Harga sahamnya melonjak 1.600% dalam lima tahun terakhir.
Meskipun bekerja tanpa henti, Huang tetap manusia. Ia juga menyisihkan waktu untuk “bengong” dan merencanakan masa depan perusahaan. “Terkadang kita membayangkan masa depan. Dan, wah, kalau kita melakukan ini dan itu. Itu berhasil, kamu sedang berfantasi, kamu sedang bermimpi,” kata Huang.
Salah satu impian besar Huang adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam semua lini bisnis perusahaan. Dengan AI, bisnis bisa berkembang lebih cepat, sementara dirinya dan karyawan mendapatkan fleksibilitas tambahan. Dengan begitu, ia berharap bisa menemukan sedikit keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Budaya Kerja yang Intensif di Nvidia
Kerja keras yang dilakukan oleh Huang tampaknya menular kepada karyawan. Menurut mantan karyawan Nvidia, banyak dari mereka bekerja tujuh hari seminggu dengan tugas yang menumpuk. Bahkan, ada yang harus bekerja hingga larut malam, sampai pukul 1 atau 2 pagi.
Departemen Teknik sering kali memiliki jam kerja yang lebih panjang. Saat rapat, tekanan tinggi sering memicu perdebatan. Namun, meski jadwalnya sangat padat, banyak karyawan enggan mengundurkan diri karena kompensasi yang ditawarkan sangat tinggi.
Huang sendiri mengakui bahwa bekerja di Nvidia bukanlah hal mudah. Banyak rencana besar yang ingin diwujudkan oleh perusahaan. Hal ini ia ungkapkan dalam wawancara bersama 60 Minutes pada 2024.
“Jika Anda ingin melakukan hal-hal luar biasa, itu seharusnya tidak mudah,” katanya.
Keseimbangan yang Sulit Dicapai
Bekerja keras untuk mengembangkan sebuah perusahaan tidak hanya dilakukan oleh Huang saja. Nyaris semua pemimpin perusahaan telah meninggalkan prinsip work life balance yang kini banyak diadopsi oleh generasi muda. Mereka percaya bahwa kerja semaksimal mungkin akan menghasilkan hasil nyata.
Pendiri dan CEO perusahaan makanan ringan dan minuman buah, Lior Lewensztain, juga mengakui kesulitan dalam mencapai keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Bahkan setelah bisnisnya sukses meraih laba jutaan dolar, ia masih sulit untuk benar-benar liburan.
“Bahkan saat saya sedang liburan, saya tetap bekerja 24 jam sehari. Saya tidak akan pernah benar-benar bisa pergi,” ujarnya.
Hal ini juga disetujui oleh mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Ia pernah mengatakan bahwa untuk menjadi hebat, akan ada saat-saat dalam hidup di mana Anda tidak memiliki keseimbangan.
“Jika Anda ingin menjadi orang hebat, dalam hal apa pun baik itu olahraga, musik, bisnis, dan politik, akan ada saat-saat dalam hidup Anda tidak seimbang, di mana Anda hanya akan bekerja dan terus memikirkan pekerjaan,” ujar Obama dalam The Pivot Podcast.







