Tren Antre Foto di Hotel A Banjarmasin: Misteri di Balik Dini Hari

by -135 views
by
Tren Antre Foto di Hotel A Banjarmasin: Misteri di Balik Dini Hari

Tren Baru di TikTok Banjarmasin, Foto di Depan Hotel A

Di tengah kehidupan kota Banjarmasin yang dinamis, muncul sebuah tren baru yang menarik perhatian para pengguna media sosial, khususnya di aplikasi TikTok. Mereka ramai-ramai membagikan foto dengan latar belakang Hotel A atau Hotel Arum Banjarmasin. Uniknya, aksi ini dilakukan pada dini hari ketika jalan-jalan di sekitar Jalan Lambung Mangkurat sedang sepi.

Para remaja dan pemuda Banjarmasin tampak antre untuk bisa berfoto dengan latar belakang bangunan tersebut. Antrian ini menjadi sorotan karena banyaknya pengguna TikTok yang mengunggah video tentang aktivitas ini. Video yang diunggah oleh akun @akhmad_s4f11 pada Minggu (20/7/2025) menunjukkan sejumlah remaja yang berkumpul di dekat lampu merah Gereja Katedral Keuskupan Banjarmasin. Mereka menunggu sambil berada di atas kendaraan bermotor masing-masing.

Dalam unggahan tersebut, terdapat tulisan “Antri dulu mau bikin trend,” yang menunjukkan bahwa mereka sedang menciptakan sebuah tren baru. Para remaja ini satu per satu berpose di garis pembatas lampu lalu lintas depan Kantor Pos Banjarmasin. Mayoritas foto yang diambil menampilkan mereka menaiki sepeda motor yang sedang berhenti mengikuti rambu lalu lintas.

Baca Juga:  Soal Aceng Fikri, DPRD Garut Tunggu Putusan MA

Selain menunjukkan ikon dan bangunan Hotel A yang menjulang tinggi, tren ini juga menekankan suasana jalan Banjarmasin yang sepi tanpa adanya pengendara lain. Dalam keterangan foto, tercantum jam dan kondisi kota, seperti “Banjarmasin at 03.00.” Tak tanggung-tanggung, antrian ini sudah ramai sejak pukul 00.00 WITA hingga menjelang subuh sekira pukul 05.00 WITA. Puluhan pengguna sepeda motor pun bergantian mengantri di pinggiran Jalan Lambung Mangkurat.

Tren ini mulai viral setelah seorang influencer membagikan posenya berlatarkan Hotel A Banjarmasin dengan suasana sepi kala dini hari beberapa waktu lalu. Hal ini menunjukkan bagaimana budaya digital kini mulai memengaruhi cara masyarakat dalam membangun identitas dan menyampaikan pesan melalui media sosial.

Saksi Bisu Tragedi Jumat Kelabu

Di tengah keramaian kota Banjarmasin, Masjid Noor tetap berdiri megah sebagai saksi bisu dari peristiwa kelam yang terjadi 28 tahun silam. Tragedi Jumat Kelabu, yang terjadi pada 23 Mei 1997, adalah momen pahit dalam sejarah kota ini. Saat itu, umat Islam sedang khusyuk salat Jumat, namun iring-iringan pawai politik melintas di depan masjid, memicu ketegangan yang berubah menjadi amarah.

Baca Juga:  MRT Jakarta Bakal Tembus ke Tangsel, Ini Bocoran Rutenya!

Kerusuhan menyebar ke seluruh penjuru kota, meninggalkan duka yang masih terasa hingga saat ini. Meskipun warga tidak sering membicarakan peristiwa tersebut, luka yang tercipta tetap ada dalam ingatan kolektif. Masjid Noor tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial, terutama bagi para pedagang dan pembeli dari Pasar Sudimampir, Pasar Lima, dan sekitarnya.

Sejumlah warga masih mengunjungi masjid ini setiap Jumat. H. Mukhlis (58), seorang pedagang pakaian, mengatakan bahwa ia selalu merasa teringat akan kejadian lalu setiap kali datang ke sini. Ia mengingat suara takbir dan pecahan kaca yang campur aduk, meski tidak sering dibicarakan.

Rahmat (35), warga lainnya, menyebut Masjid Noor sebagai penyejuk sekaligus pengingat. Ia mengatakan bahwa orang tuanya pernah cerita bahwa mereka juga sedang salat Jumat di sini saat peristiwa terjadi. Setiap lewat, ia selalu menunduk hormat, karena menilai masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga saksi sejarah.

Bangunan yang Menyimpan Kenangan

Bergeser sedikit ke arah barat dari Masjid Noor, berdiri bangunan lain yang juga menjadi saksi peristiwa penting. Bangunan tersebut adalah Hotel A, yang dulunya bernama Junjung Buih Plaza. Di masa lalu, bangunan ini memiliki Hotel Kalimantan, salah satu hotel elit di Kalimantan Selatan yang sering dikunjungi pejabat dan tokoh ternama.

Baca Juga:  Demokrat:Timwas Century ke Rumah Anas Berlebihan

Plaza Junjung Buih, yang merupakan salah satu bangunan modern di Kota Banjarmasin saat itu, turut menjadi sasaran dalam tragedi Jumat Kelabu. Kini, bangunan Hotel A terbengkalai dan semakin sunyi. Cat bangunan mulai mengelupas, jendela-jendela kaca banyak yang pecah, dan tanaman liar menjalar di dinding. Tangga depan tampak keropos, sedangkan pintu masuknya sudah tidak bisa dibuka lagi.

Imran (40), warga sekitar, mengatakan bahwa bangunan ini kini menjadi sarang kelelawar dan tempat nongkrong anak-anak. Beberapa warga menyebut bahwa bangunan ini pernah ingin dijual atau dipugar, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Kacang (35), seorang pedagang di seberang hotel, mengatakan bahwa tidak ada aktivitas sama sekali di sana, sehingga akhirnya terbengkalai.

Meski tidak ada peringatan resmi dari pemerintah, setiap 23 Mei, masyarakat Banjarmasin diam-diam kembali mengingat peristiwa kelam tersebut. Dari masjid yang tetap ramai hingga hotel yang semakin sunyi, semua menjadi penanda bisu bahwa sejarah kelam itu pernah benar-benar terjadi.

About Author: Oban

Gravatar Image
Damar Alfian adalah seorang penulis dan kontren kreator di Bandung, Jawa Barat. Dia juga sebagai kontributor di beberapa media online.